4. Parameter biologi air a. perhitungan
5.4 Biologi Air
Parameter biologi air sangat perlu untuk dipahami oleh pembudidaya ikan karena beberapa jasad renik bermanfaat untuk budidaya ikan khususnya larva untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Beberapa faktor biologi air yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan larva dan benih antara lain lumut dan hewan kompetitor.
Plankton didalam air ada dua jenis yaitu zooplankton dan fitoplankton, fitoplankton berupa alga hijau, sangat sering tumbuh pada wadah budidaya yang banyak mendapatkan sinar matahari langsung. Keberadaan fitoplankton dapat diketahui dengan melihat warna air budidaya yang hijau, terkadang tumbuh lumut bila jumlahnya terlalu banyak dan menempel pada dasar wadah.
Untuk zooplankton yang umumnya terdapat di kolam budidaya berasal dari kelompok protozoa. Protozoa berupa biota yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata telanjang. Keberadaannya di wadah budidaya bisa sebagai makanan ikan seperti infusoria, terutama untuk ikan kecil seperto larva dan benih. Namun ada juga protozoa yang menjadi parasit dari ikan seperti Icthyopthyrius. Jenis protozoa dari kelompok yang lebih besar adalah crustacea yang sangat terkenal dengan sebutan kutu air seperti daphnia dan moina. Kutu air ini dijadikan makanan ikan dan sengaja dimasukkan dalam wadah budidaya. Jenis crustacea lain ada yang sebagai hama, yaitu Cyclops. Cyclops umumnya masuk ke wadah budidaya bersama kutu air. Sementara kelompok arthropoda yang erupa larva hewan-hewanan yang terbang di atas perairan umumnya merupakan hama dan parasit ikan.
Jamur dan bakteri memang selalu ada dan akan baik perkembangannya di dalam air kalau terdapat substrat atau tempat yang cocok dan tersedia makanan. Makanan bakteri berupa amonia, nitrit atau sisa bahan organik lain. Bakteri ada dua jenis, yaitu bakteri patogen dan non patogen. Keberadaan bakteri patogen akan merugikan pembudidayaan karena sebagai bibit penyakit. Lain halnya dengan bakteri non patogen, keberadaannya dapat menguntungkan pembudidayaan. Contoh bakteri non patogen adalah nitrosomonas dan
nitrobakter yang merupakan jenis bakteri perombak yang dapat memelihara kualitas air. Sementara keberadaan jamur di dalam media air umumnya merugikan karena menyerang telur ikan atau ikan. Sedangkan perifiton merupakan organisme renik yang hidupnya menempel atau kadang-kadang saja berada dekat substrat di dalam air
Identifikasi parameter biologi air dapat dilakukan dengan cara visualisasi langsung bila lumut atau hewan kompetitor besar atau dapat diamati langsung dengan mata atau lup. Sedangkan pada pengamatan parameter biologi yang tak tampak oleh mata dapat dilakukan dengan cara prinsip kerja menyaring air budidaya dengan menggunakan planktonet pada botol pengumpul kemudian diberi formalin untuk diawetkan. Jumlah plankton atau hewan kompetitor yang tertampung dalam wadah pengumpul setara dengan volume air sampel yang disaring pada alat tersebut. Plankton yang sudah terkumpul dapat dihitung dengan menggunakan haemositometer. Berikut dibawah ini prosedur pengukuran/perhitungan plankton/hewan kompetitor :
- mengambil air sampel dari wadah pemeliharaan sebanyak 50 liter
- gunakan planktonet untuk menyaring dan menampung plankton/hewan kompetitor
- pindahkan plankton/ hewan kompetitor yang tertampung dari planktonet ke botol penampung 25 ml
- berilah formalin 40% sebanyak 2 ml ke dalam botol penampung
- ambilah dengan menggunakan pipet sebanyak ± 1 cc dan teteskan pada permukaan haemositometer (sebelum diambil air sampel harus dikocok terlebih dahulu)
- dengan menggunakan mikroskop, identifikasi plankton/hewan kompetitor serta jumlahnya yang ada dalam kolam
- siapkan potongan papan kayu, kemudian tenggelamkan ke dalam air pada wadah budidaya sedemikian rupa, biarkan tenggelam selama satu minggu
- setelah satu minggu angkat papan, kemudian keruk permukaan kayu tersebut lalu encerkan pada gelas ukur 500 ml - hitunglah individu perifiton pada satuan luas yang diamati menggunakan haemositometer dan mikroskop dengan hasil perhitungan adalah jumlah individu per luas substrat yang diamati
Pengelolaan parameter biologi air pada dasarnya sama dengan pengelolaan parameter fisika dan kimia air karena saling berhubungan. Pengelolan kualitas air yaitu usaha untuk menjaga kualitas air agar tetap pada kondisi optimal untuk pembudidayaan dengan cara pemberian aerasi, sirkulasi air, penggunaan pemanas air, penggantian air segar dan filtrasi.
Pemberian aerasi dalam kolam atau akuarium sangat besar pengaruhnya terhadap kulitas air. Tanpa aerasi, kualitas air akan cepat menjadi jelek, terutama penurunan kadar oksigen. Gelembung-gelembung udara yang masuk ke air, terutama pada bak atau akuarium yang airnya dalam, akan memudahkan terjadinya difusi ke seluruh kolom air. Makin kecil gelembung udaramaka makin cepat terjadinya difusi. Hal ini disebabkan permukaan udara yang bersinggungan dengan air akan lebih luas.
Sirkulasi adalah upaya untuk perputaran dan pergerakan pada media pemeliharaan yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan biologi dalam air (berkumpulnya ikan atau pakan pada satu tempat), menjaga kestabilan suhu pada saat pemakaian heater, membantu mendistribusikan oksigen ke segala arah serta menjaga akumulasi atau mengumpulnya hasil metabolit beracun sehingga kadar atau daya racun dapat ditekan. Sirkulasi air dapat dibuat dengan bantuan aerasi, head pump atau dengan pengucuran air ke dalam wadah pemeliharaan.
Pemanas air (water heater) digunakan untuk meningkatkan suhu, hal ini sangat efektif dilakukan pada saat musim dingin/hujan maupun membantu memperbaiki vitalitas ikan yang sedang sakit. Penggunaan akan lebih efektif lagi kalau disertai dengan perputaran atau sirkulasi air karena pada dapat menyebar merata ke segala arah.
Pergantian air sebagian atai total sangat berperan pada pengelolaan kualitas air karena mampu menghilangkan kotoran dan mampu memperbaiki kualitas air secara nyata. Mengganti atau mengurangi air dilakukan dengan cara menyifon menggunakan selang, kemudian air segar diisi kembali ke dalam wadah pemeliharaan sebanyak air yang diinginkan. Pergantian air merupakan cara paling sederhana, pasti, praktis dan aman selama dilakukan dengan hati-hati. Penyifonan diawali dengan mematikan aerasi terlebih dahulu agar partikel koloid atau debu mengendap sehingga mempermudah pengambilan oleh selang. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan setiap hari dalam jumlah sedikit atau dengan interval waktu tertentu. air pengganti hendaknya disiapkan terlebih dahulu dengan pengendapan selama semalam untuk menyamakan suhu air baru dengan suhu lingkungan. Pemasukan air ke dalam wadah pemeliharaan secara perlahan dan hati-hati untuk mengurangi goncangan hingga ikan tidak stres akibat pergantian air. Pada pemeliharaan benih pergantian air dilakukan setiap 1 – 2 hari dengan jumlah tidak lebih dari sepertiga bagian. Sedangkan pergantian air pada pemeliharaan larva jangan terlalu sering karena larva rentan terhadap goncangan kualitas air, interval pergantian airnya bisa lebih jarang (3-7 hari) dengan jumlah seperlima sampai seperempat bagian) tergantung kondisinya. Filtrasi merupakan cara penyaringan air menggunakan filter (penyaring). Prinsip dari filtrasi adalah menyaring air yang sudah banyak mengandung kotoran, baik kotoran berbentuk partikel organik maupun anorganik, dengan penggunaan filter air akan layak kembali dapat digunakan. Partikel organik maupun metabolit yang timbul terus menerus dalam air akan cepat diuraikan khususnya hasil pemecahan protein, akan menghasilkan substansi beracun walaupun dalam konsentrasi rendah. Dengan sisten filter substansi beracun dapat diuraikan kembali menjadi substansi tidak beracun. Umumnya filter terdiri dari meterial
berpori atau dapat membentuk pori-pori. Bebrapa jenis bahan sebagai filter antara lain ijuk, spons, kerikil halus, pasir kasar, karang laut, karbon aktif, kain-kain halus dan serat kapas.
Sistem filtrasi bekerja pada dua prinsip. Prinsip pertama adalah filter yang bekerja dengan membentuk kestabilan ikatan kimia antara material beracun dengan material filter. Contohnya absorbsi, yaitu amonia diikat oleh karbon aktif atau zeolit. Sedangkan prinsip kedua adalah filter yang bekerja sebagai pengurai atau perombak melalui reaksi oksidasi meterial beracun menjadi tidak beracun. Keuntungan sistem filter adalah dapat menghemat air dan tenaga karena tidak perlu mengganti air dalam waktu yang lama, sistem ini juga akan membuat pertumbuhan ikan lebih cepat karena suhu dan pH air lebih stabil. Selain kualitas air dapat terjaga, sistem inimjuga mampu memperpendek waktu panen dan tingkat kelangsungan hidup ikan akan makin tinggi.
Filter dapat dibedakan menjadi 3 berdasarkan cara kerja atau fungsinya, yaitu : a. Filter mekanis atau fisik, bekerja secara mekanis sehingga fungsunya hanya menyaring kotoran, sisa pakan, debu, dan koloid yang berada di dalam air budidaya. Material filter mekanis yang dapat digunakan adalah spons, ijuk atau serat kapas sehingga dapat dibersihkan setiap saat. Filoter mekanis dapat digunakan sebagai filter awal sebelum air masuk ke proses filter biologi atau kimia, hal ini disebabkan partikel besar tidak dapat atau sulit diproses, baik secara kimia maupun biologi.
b. Filter biologi, berfungsi sebagai pengurai senyawa nitrogenus yang beracun menjadi senyawa tidak beracun melalui proses nitrifikasi (oksidasi amonia beracun menjadi nitrit oleh bakteri Nitrosomonas) dan nitratasi (proses oksidasi nitrit menjadi nitrat oleh bakteri Nitrobakter). Material filter dapat berupa kerikil kecil, pasir kasar, serat gelas atau spons. Secara fisik filter biologi berisi bahan yang dapat memperluas permukaan atau membuat area yang besar seperti pori-pori sehingga koloni bakteri perombak dapat tumbuh dan berkembang. Secara tidak langsung filter biologi adalah sesuatu yang hidup sehingga memerlukan oksigen, pakan, dan tempat tinggal serta
dapat mengeluarkan buangan metabolit. Filter disebut hidup karena diperlukan organisme hidup berupa bakteri perombak, pakannya berupa amonia dan nitrit sebagai hasil buangan beracun, sedangkan buangan dari bakteri berupa nitrat yang tidak beracun. Pertumbuhan bakteri sangat dipengaruhi oleh suhu dan pH, dengan nilai optimal 28 – 30 °C dan pH 7,0 – 7,5. pada kondisi di luar nilai pH dan suhu tersebut maka bakteri tidak dapat bekerja optimal sehingga efektifitas filter menurun. Efektivitas filter biologi pun tergantung pada waktu untuk tumbuh dan bekerjanya bakteri secara optimal, sekitar 15 hari sampai 6 minggu.
c. Filter kimia, media filter ini berupa absorben atau bahan kimia penyerap maupun pengikat sisa metabolit beracun yang ada dalam air, filter ini digunakan pada kondisi tertentu dengan reaksi cepat atau memineralisasi substansi organik dengan cepat. Daya kerja dan batas aktif filter ini sangat tergantung pada meterial yang digunakan dan kapasitas daya serapnya. Bahan yang dapat digunakan sebagai filter kimia antara lain arang aktif, ozon dan sinar ultraviolet, resin, zeolit serta peat.
C. Tugas-Tugas
1). Penguasaan Konsep
• Anda akan melakukan pemeliharaan larva ikan bak / fiberglass. Anda akan menghitung kepadatan larva, menghitung daya dukung wadah, ciri-ciri larva yang baik, aklimatisasi, penebaran larva dan perlakuan khusus terhadap larva ikan, jelaskan alasannya
• Apakah yang akan anda lakukan bila dalam pemeliharaan larva, banyak telur yang mati ?
• Prosedur apa yang yang harus diikuti dalam melaksanakan pemeliharaan larva ikan bak / fiberglass ?
• Apakah yang menjadi bahan pertimbangan dalam pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass , jelaskan
• Wadah jenis apakah yang baik digunakan dalam pemeliharaan larva ikan di kolam, jelaskan.
• Bagaimana cara anda menebar larva ikan bak / fiberglass, jelaskan alasannya.
2). Mengenal Fakta
• Melakukan observasi, peserta melakukan observasi dikoordinir oleh guru kegiatan observasi ke masyarakat ( pengusaha perikanan / industri perikanan) dalam pemeliharaan larva ikan bak / fiberglass.
• Observasi dilakukan secara berkelompok pada tempat berbeda
• Observasi dilakukan untuk mengetahui bagaimana masyarakat melakukan pemeliharaan larva ikan bak / fiberglass. Dari hasil observasi ini selanjutnya merumuskan kegiatan apa yang dilakukan masyarakat dan mampu memberi kontribusi secara positif tapi belum ada pada konsep dasar, mengidentiikasi apa yang ada pada konsep dasar tapi belum dilakukan oleh masyarakat, dan bila dilakukan akan mampu memberikan kontribusi dalam meningkatkan efisiensi dan produktifitas pemeliharaan larva ikan bak / fiberglass. Saran apa yang bisa diberikan untuk memperbaiki pemeliharaan larva ikan bak / fiberglass.
• Kegiatan mengenal fakta ini dapat dilakukan sekaligus untuk sub kompetensi/kompetensi persiapan wadah pendederan, penetasan telur, pemeliharaan larva bak/fiberglas, pemberian pakan larva, panen dan pasca panen benih ikan
3. Mereleksikan, setelah peserta diklat melakukan penguasaan konsep dan mengenal fakta, selanjutnya peserta diklat melakukan refleksi bagaimana anda akan melakukan pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass berdasarkan konsep dasar dan hasil observasi pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass di masyarakat.
4. Melakuka analisis dan sintesis
• Analisis daya dukung peserta diklat melakukan kegiatan analisis terhadap daya dukung yang tersedia di tempat praktik untuk mengetahui tingkat kesesuaian dalam kegiatan pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass di masyarakat (lahan, iklim mikro, alat dan bahan). Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok.
• Sintesis, peserta diklat melakukan kegiatan sintesis terhadap hasil refleksi pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass dan hasil analisis terhadap tingkat kesesuaian daya dukung, peserta diklat melakukan rekonstruksi/modifikasi terhadap hasil refleksi dalam kegiatan pemeliharaan larva ikan di masyarakat. Kegiatan rekonstruksi ini tetap memperhatikan parameter pemeliharaan larva ikan di masyarakat
5. Menyusun dan melaksanakan rencana kerja
• Peserta diklat secara berkelompok menyusun / membuat alternatif rencana pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass , rencana kerja / proposal memuat metode pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass yang akan dilaksanakan, waktu pencapaian dan jadwal kegiatan serta pembagian tugas kelompok
• Pengambilan keputusan / menetapkan rencana kerja
Secara berkelompok peserta diklat mengambil keputusan/menetapkan alternatif rencana pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass yang akan dilaksanakan, dengan memperhatikan daya dukung dan persyaratan teknis dalam pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass. Apabila ada kesulitan peserta dapat mendiskusikan dengan fasilitator.
• Penetapan peran masing-masing individu dalam kelompok
Kelompok menyusun pembagian tugas dan menentukan peran setiap anggota kelompok
• Melaksanakan rencana kerja, peserta diklat melakukan kegiatan pemeliharaan ikan di bak / fiberglass, mengacu pada rencana kerja pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglassyang telah disepakati
• Proses pengamatan dan pencatatan, peserta diklat melakukan pengamatan dan pencatatan data kegiatan pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass yang dilaksanakan. Lembar pengamatan disiapkan peserta diklat setelah mendapat persetujuan fasilitator
• Evaluasi dan diskusi terhadap hasil kegiatan
Peserta diklat melaksnakan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dan pencapaian standar kerja yang telah ditetapkan dalam perencanaan
• Peserta dilat melakukan diskusi terhadap hasil kegiatan dan hasilnya dibandingkan dengan rancangan kerja dan konsep-konsep yang telah dirumuskan sebelumnya
• Proses penyusunan kesimpulan dan memberikan umpan balik
Peserta secara berkelompok menyusun umpan balik / rekomendasi terhadap metode pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass untuk mendapatkan hasil yang optimal. Perumusan umpan balik ini juga harus mempertimbangkan dasar teori, fakta dan kondisi hasil kerja.
D. Tes