• Tidak ada hasil yang ditemukan

Debit dan Volume Air

Dalam dokumen Memelihara Larva Ikan Di Bak Fiberglass (Halaman 28-43)

4. Parameter biologi air a. perhitungan

5.1 Debit dan Volume Air

Debit (discharge) dinyatakan sebagai volume yang mengalir pada selang waktu tertentu, biasanya dinyatakan dalam satuan m3/detik. Pengukuran debit air dapat dilakukan dengan alat current meter atau dengan cara matematis dan pengukuran langsung. Perhitungan debit ditentukan dengan persamaan :

D = V x A Keterangan : D = debit air (m3/detik)

A = luas penampang saluran air (m2)

Dengan meningkatnya debit air, kadar bahan-bahan alam yang terlarut ke suatu badan air akibat erosi meningkat secara eksponensial. Namun konsentrasi bahan-bahan antropogenik yang memasuki badan air tesebut mengalami penurunan karena terjadi proses pengenceran.

Debit air berfungsi sebagai penyuplay air segar dan oksigen pada wadah pemeliharaan larva di bak, akuarium dan fiberglass dapat diukur pada saat pergantian air. Perhitungan debit air pada bak, akuarium dan fiberglass relatif lebih mudah karena ukuran wadah yang relatif lebih kecil sehingga tidak membutuhkan jumlah air yang banyak. Pada beberapa wadah pemeliharaan larva dan benih ada yang diracang dengan menggunakan sistem resirkulasi untuk penghematan air, sehingga air yang masuk dan keluar dari dalam wadah pemeliharaan tetap. Pergantian air pada pemeliharaan larva atau benih di bak, akuarium atau fiberglass tidak dapat dilakukan dengan debit air yang besar sekaligus, hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan stres pada larva.

Gambar 5. Akuarium dengan Filter sebagai Resirkulasi Air Sederhana

Debit air yang masuk ke dalam wadah pemeliharaan larva hendaknya menempel pada tepian wadah atau dimasukkan sedikit demi sedikit untuk menghindari stress pada larva. Pemasukan air ke dalam wadah pemeliharaan larva dengan menggunakan sistem resirkulasi dapat membantu menambah kandungan oksigen pada air karena dengan adanya gelembung-gelembung air dari percikan air yang masuk ke dalam air mampu berdifusi dengan oksigen di udara.

Volume air wadah pemeliharaan larva harus disesuaikan dengan kebutuhan hidup larva dan benih ikan yang dibudidayakan. Pada umumnya volume air pada wadah pemeliharaan larva menyesuaikan dengan kondisi larva antara lain sifat

hidup dan kepadatan larva yang akan dipelihara pada wadah budidaya untuk menghindari perebutan oksigen dan pakan.

Volume air juga perlu didukung dengan titik aerasi, semakin banyak volume air atau semakin besar wadah pemeliharaan larva maka jumlah titik aerasi juga harus banyak atau besar karena berpengaruh terhadap sebaran oksigen terlarut dan pakan dalam air.

Pengukuran volume air pada wadah pemeliharaan tergantung pada bentuk wadah, dapat menggunakan perhitungan sebagai berikut :

Pada wadah pemeliharaan yang berbentuk segi empat dapat digunakan rumus : V = P x L x T

Keterangan : V = volume (m3) P = panjang (m) L = lebar (m) T = tinggi (m)

Sedangkan wadah pemeliharaan yang berbentuk lingkaran dapat menggunakan rumus :

V = 3,14 x R2 x T Keterangan : V = volume (m3)

R = jari-jari lingkaran (m) T = tinggi permukaan air (m) 5.2 Parameter fisika air :

a.Suhu

Air mempunyai kapasitas spesifik terhadap panas. Artinya perubahan suhu dapat ditahan terjadi relatif lambat. Pada lingkungan perairan fluktuasi berkisar antara 3 – 5 °C. Kepadatan air tergantung pada suhu. Pada suhu rendah, air akan cenderung lebih padat sehingga akan lebih tenggelam atau dibawah.

Suhu merupakan faktor kontrol proses kimia, fisika dan biologi dalam perairan, sehingga dengan berubahnya suhu hampir semua proses dalam perairan berubah. Peningkatan suhu menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air, sehingga mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen.

Ikan merupakan binatang berdarah dingin (poikiloterm) sehingga metabolisme dalam tubuh tergantung pada suhu lingkungannya, termasuk kekebalan tubuhnya. Suhu luar atau eksternal yang berfluktuasi terlalu besar akan berpengaruh terhadap sistem metabolisme. Peningkatan suhu perairan sebesar 10 °C menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen organisme akuatik sebesar 2-3 kali lipat. Konsumsi oksigen dan fisiologi tubuh ikan akan mengalami kerusakan atau kekacauan sehingga ikan akan sakit. Suhu rendah akan mengurangi imunitas (kekebalan tubuh) ikan, sedangkan suhu tinggi akan mempercepat ikan terkena infeksi bakteri.

Pemeliharaan larva cenderung memerlukan suhu yang relatif hangat, karena ukurannya yang kecil dan dengan suhu yang tinggi metabolismenya meningkat sehingga nafsu makan larva juga meningkat maka pertumbuhan larva dapat dikendalikan dengan cepat dengan pemeberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan jumlah dan gizi yang terkandung dalam pakan. Kisaran suhu yang optimal untuk ikan-ikan daerah tropis adalah sekitar 25 – 32 °C.

Pengaruh suhu rendah terhadap ikan adalah rendahnya kemampuan mengambil oksigen (hypoxia). Kemampuan rendah ini disebabkan oleh menurunnya detak jantung. Pengaruh lain ialah proses osmoregulasi terganggu.

Pada suhu yang turun mendadak akan terjadi degenerasi sel darah merah sehingga proses respirasi terganggu. Selain itu, suhu rendah dapat menyebabkan ikan tidak aktif, bergerombol, serta tidak mau berenang dan makan sehingga imunitas terhadap penyekit menurun. Sedangkan pada suhu yang meningkat tinggi akan menyebabkan ikan katif bergerak, tidak mau berhenti makan dan metabolisme cepat meningkat, sehingga kotorannya menjadi lebih banyak yang berpengaruh terhadap menurunnya kualitas air. Alat pengukuran suhu adalah termometer raksa atau pun alkohol dengan skala pengukuran derajat celcius (°C)

b. Kekeruhan

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan

anorganik yang tersuspensi dan terlarut, partikel organik atau meterial tersuspensi dalam air budidaya umumnya berupa material atau partikel halus yang melayang. Bila ukurannya besar, partikel ini dapat mengendap di dalam air, terutama kalau aerasi dihentikan. Partikel organik seperti debu yang erukuran 0,22 – 1,2 mikron dapat mengeruhkan air dan terkadang warnanya menjadi gelap.

Partikel atau bahan yang terlarut dalam air dapat mengganggu sistem pernafasan pada ikan karena partikel akan menempel pada permukaan lembaran insang dan mengurangi penetrasi cahaya ke dalam perairan sehingga mengurangi kelarutan oksigen di dalam air.

Pengukuran kekeruhan pada perairan secara kuantitatif dapat diukur dengan menggunakan secchi disk atau turbidity meter. Pada wadah pemeliharaan larva seperti bak, akuarium dan fiberglass yang hanya memiliki kedalaman rendah nilai kekeruhan berupa padatan tersuspensi dapat diukur dengan cara gravimetrik, yaitu sebagai berikut :

- Siapkan filter (millipore dengan perositas 0,45 µ m) dengan vacuum pump. Saring 2 x 20 ml aquades, biarkan penyaringan berlanjut sampai 2-3 menit untuk mengisap kelebihan air.

- Keringkan kertas saring (filter) dalam oven selama 1 jam pada temperatur 1003-105 °C, dinginkan dalam dessikator, lalu timbang (B mg)

- Ambil 100 ml air sampel dengan gelas ukur, aduk, kemudian saring dengan menggunakan kertas saring (filter) yang telah ditimbang pada prosedur sebelumnya

- Keringkan filter dan residu dalam oven 103-105°C selama paling sedikit 1 jam, dinginkan dalam dessikator, timbang (A mg)

- Perhitungan :

TDS (mg/L) = (A – B) x 1000/ ml sampel A : Berat (mg) filter dan residu

B : Berat (mg) filter c. Salinitas

Salinitas biasa disebut juga kadar garam merupakan jumlah total material terlarut dalam air. Umumnya salinitas dihitung dengan satuan ppt (part per thousand), yaitu gram material terlarut perliter air. Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air, setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan oleh klorida dan semua bahan organik telah dioksidasi. Berdasarkan salinitasnya badan air dibedakan dalam tiga golongan yaitu air tawar (0-3 ppt), air payau (4–20 ppt), dan air laut (lebih dari 20 ppt). Pengaruh salinitas pada ikan terjadi dalam proses osmoregulasi. Ikan air tawar tidak toleran terhadap salinitas. Akibat perubahan fisiologi osmose sel-sel tubuh maka ikan akan mengalami stres.

Pengukuran salinitas dapat dilakukan dengan salinometer atau refraktometer. Dengan cara meneteskan air ke dalam alat tersebut maka nilai salinitas air yang dteteskan sudah bisa terbaca pada skala alat.

5.3 Parameter kimia air :

a. Oksigen terlarut (DO)

Oksigen merupakan salah satu gas yang terlarut dalam perairan. Kadar oksigen yang terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air dan tekanan atmosfer. Di perairan tawar, kadar oksigen terlarut berkisar antara 15 mg/l pada suhu 0°C dan 8 mg/l pada suhu 25°C.

Oksigen merupakan zat terpenting dalam kehidupan organisme. Didalam air oksigen bersumber dari tanaman hijau daun, dengan bantuan sinar matahari melalui proses fotosintesis, tanaman memproduksi oksigen. Oksigen dapat larut ke dalam air melalui proses difusi atau persinggungan dengan udara.

Dalam bernafas, organisme memasukkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida, bagi ikan oksigen diperoleh dari air. Oksigen digunakan ikan untuk pernapasan, yaitu pertukaran gas yang dilakukna di dalam insang. Pada proses ini oksigen akan diserap, sedangkan karbondioksida di buang. Oksigen yang masuk tersebut akan diambil atau diterima oleh pigmen dalam darah, yaitu haemoglobin, melalui ikatan sementara sebelum digunakan oleh sel-sel tubuh. Sel-sel tubuh menggunakan oksigen untuk pembakaran bersama dengan bahan

bakar, yaitu makanan. Dari pembakaran ini dihasilkan energi yang akan digunakan untuk aktivitas tubuh seperti bergerak, tumbuh dan bereproduksi atau berkembang biak. Kalau kadar oksigen terlarut rendah maka kehidupan ikan akan terganggu. Jumlah minimal kebutuhan oksigen terlarut setiap jenis ikan berbeda-beda. Ikan yang gesit lebih banyak membutuhkan oksigen dibanding ikan yang tenang. Namun sedikitnya air untuk pemeliharaan ikan harus berkadar oksigen 5 mg/l.

Pengukuran oksigen terlarut pada perairan dapat dilakukan dengan metode titrasi atau DO meter. Penggunaan DO meter diperlukan kalibarasi terlebih dahulu untuk menstandartkan nilai ukuran dengan cara penyelupan DO meter pada media pemeliharaan selama beberapa menit hingga angka terlihat stabil. Sedangkan pengukuran dengan metode titrasi adalah sebagai berikut :

- Pindahkan air sampel ke dalam botol BOD sampai meluap (jangan sampai terjadi gelembung udara), tutup kembali.

- Tambahkan 1 ml Sulfida Acid dengan pipet di bawah permukaan, tutp dan aduk dengan membolakbalik botol.

- Tambahkan 2 ml MnSO4, dan 2 ml NaOH + KI. Penambahan reagen-reagen dengan memasukkan pipet di bawah permukaan air dalam botol. Tutup dengan hati-hati dan aduk dengan membolak-balik botol ± 20 kali. Biarkan bebrapa saat hingga endapan coklat terbentuk dengan sempurna

- Tambahkan 2 ml H2SO4 pekat dengan hati-hati (gunakan ruang asam), aduk dengan cara yang sama hingga semua endapan larut, bila belum terlarut semua tambahkan lagi 0,5 ml H2SO4 pekat

- Ambil 100 ml air dari botol BOD tersebut dengan menggunakan pipet Mohr atau gelas ukur, masukan ke dalam erlemeyer, uasahakan jangan terjadi aerasi

- Titrasi dengan Na-thiosulfat hingga terjadi perubahan warna dari kuning tua ke kuning muda. Tanbahkan 5 – 8 tetes indikator amylum hingga terbentuk warna biru. Lanjutkan titrasi dengan Na-thiosulfat hingga tepat tidak berwarna (bening)

O2 mg/l = (ml titran) (normalitas thiosulfat) (8) (1000)

(ml sampel) (ml botol BOD – ml reagen terpakai) (ml botol BOD)

b. Karbon dioksida (CO2)

Keberadaan karbondioksida di perairan terdapat dalam bentuk gas karbondioksida bebas (CO2), ion bikarbonat (HCO3-), ion karbonat (CO32-) dan asam karbonat (H2CO3). Proporsi dari keempat bentuk karbon tersebut berkaitan dengan nilai pH perairan. Karbondioksida yang terdapat di perairan dapat berasal dari :

- difusi dari atmosfer secara langsung

- air hujan, secara teoritis air hujan yang jatuh ke permukaan bumi memiliki kandungan karbondioksida sebesar 0,55 – 0,60 mg/l

- air yang melewati tanah organik dari proses dekomposisi

- respirasi tumbuhan, hewan, dan bakteri aerob maupun anaerob

Karbondioksida dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan atau fitoplankton pada perairan untuk fotosintesis sehingga menghasilkan oksigen. Istilah karbondioksida bebas digunakan untuk menjelaskan CO2 yang terlarut dalam air, juga menggambarkan CO2 di perairan yang membentuk kesetimbangan dengan CO2 di atmosfer. Di perairan tawar, ion bikarbonat berperan sebagai sistem penyangga (buffer) dan penyedia karbon untuk keperluan fotosintesis. Kadar karbondioksida di perairan dapat mengalami pengurangan, bahkan hilang, akibat proses fotosintesis, evaporasi dan agitasi air.

Karbondioksida sangat mudah larut dalam pelarut, termasuk air. Dalam jumlah atau kadar tertentu, karbondioksida dapat merupakan racun. Ikan mempunyai naluri yang kuat dalam mendeteksi kadar karbondioksida dan akan berusaha menghindari daerah atau area yang kadar CO2nya tinggi. Dengan kadar CO2 mencapai lebih dari 10 mg/l sudah bersifat racun bagi ikan karena ikatan atau kelarutan oksigen dalam darah terhambat. Pada kondisi ini ikatan CO2 dalam darah menjadi lebih kuat dibanding ikatan O2. tanda visual pada ikan budidaya

yang kadar CO2 dalam air tinggi adalah berkumpulnya ikan dengan kondisi susah bernafas. Perairan yang diperuntukan bagi kepentingan perikanan sebaiknya mengandung kadar karbondioksida bebas < 5 mg/l. Kadar karbondioksida bebas sebesar 10 mg/l masih dapat ditolerir oleh organisme akuatik, asal disertai dengan kadar oksigen yang cukup.

c. pH air

pH adalah derajat keasaman yang manggambarkan konsentrasi ion hidrogen pada perairan. pH bekaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas. Semakin tinggi pH maka semakin tinggi nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida bebas. Larutan yang bersifat asam (pH rendah) bersifat korosif. pH juga mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia. Senyawa amonium yang dapat terionoisasi banyak ditemukan pada perairan yang memiliki pH rendah. Amonium bersifat tidak toksik, namun pada suasana alkali (pH tinggi) lebih banyak deitemukan amonia yang tak terionisasi dan bersifat toksik. Amonia tak terionisasi ini lebih mudah terserap ke dalam tubuh organisme akuatik dibandingkan dengan amonium.

Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7–8,5. Proses reproduksi atau perkembangbiakan ikan biasanya akan baik pada pH 6,5. hubungan keasaman air dengan kehidupan ikan sangat besar. Titik kematian ikan pada pH asam adalah 4 dan pada pH basa adalah 11. Ikan dewasa akan lebih baik toleransinya terhadap pH dibandingkan ikan ukuran kecil, larva atau telur. Perubahan pH secara mendadak akan menyebabkan ikan meloncat-loncat atau berenang sangat cepat dan tampak seperti kekurangan oksigen hingga mati mendadak. Sementara perubahan pH secara perlahan akan menyebabkan lendir keluar berlebihan, kulit menjadi keputihan dan mudah kena bakteri. Biasanya bakteri akan tumbuh baik pada pH basa, sedangkan jamur tumbuh baik pada pH asam. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Toksisitas logam memperlihatkan peningkatan pada pH rendah.

Pengukuran nilai pH dapat dilakukan dengan Ph test kit yang berbentuk cairan, dengan meneteskan pada air sampel sehingga air berubah warna yang kemudian dicocokkan dengan komparator standart. Cara lain pengukuran pH dengan menggunakan alat digital (pH meter) yang lebih akurat hingga dapat membeca hingga nilai persepuluhan.

d. Alkalinitas

Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam, atau dikenal dengan sebutan acid netralizing capacity (ANC) atau kuantitas anion di dalam air yang dapat menetralkan kation hidrogen. Alkalinitas juga diartikan sebagai kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH perairan. Kation utama yang mendominasi perairan tawar adalah kalsium dan magnesium. Anion utama pada perairan tawar adalah bikarbonat dan karbonat. Kalsium karbonat merupakan senyawa yang memberi kontribusi terbesar terhadap nilai alkalinitas dan kesadahan di perairan tawar. Kelarutan kalsium karbonat menurun dengan meningkatnya shu dan meningkat dengan keberadaan karbondioksida. Nilai alkalinitas perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 500 mg/l CaCO3.

Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang tinggi. Perairan dengan alkalinitas tinggi lebih produktif daripada perairan dengan alkalinitas rendah. Tingkat produktifitas perairan ini sebenarnya tidak berkaitan secara langsung dengan nilai alkalinitas, tetapi berkaitan dengan fosfor dan elemen esensial lain yang kadarnya meningkat dengan meningkatnya nilai alkalinitas.

e. Kadar amonia

Amonia di perairan dapat berasal dari proses dekomposisi bahan organik yang banyak mengandung senyawa nitrogen (protein) oleh mikroba (amonifikasi), ekskresi organisme, reduksi bakteri oleh bakteri dan pemupukan. Setiap amonia yang terbebas ke suatu lingkungan akan membentuk reaksi kesetimbangan dengan ion amonium.

Amonia merupakan gas buangan terlarut hasil metabolisme ikan oleh perombakan protein, baik dengan ikan sendiri yang berupa kotoran (feces dan

urin) maupun dari sisa pakan. Kelarutan amoniak sangat besar dan merupakan kompetitor kuat dalam ikatannya ke darah dengan O2. substansi inipun sangat beracun, terutama pada pH tinggi. Selain amoniak dan nitrit dalam air juga terdapat nitrat (NO3) yang merupakan hasil oksidasi amoniak dan terutama nitrit yang sangat mudah larut. Hanya saja pengaruh dan daya racunnya terhadap ikan sangat kecil.

Secara kimia, amoniak berada dalam dua bentuk, yaitu Unionized Ammonia atau UIA (NH3) dan Ionized Ammonia atau IA (NH4+). Keberadaan UIA membuat ikan mabuk atau keracunan kalau kadarnya dalam air tinggi. Sementara daya racun IA kurang kuat. Pengukuran amonia tersebut umumnya hanya dapat dilakukan terhadap total amonia (NH3 + NH4+). Makin tinggi pH dan suhu maka makin tinggi konsentrasi NH3 sehingga makin kuat daya racunnya.

Kadar amonia terukur yang dapat membuat ikan mati adalah lebih dari 1 ppm dan nitrit lebih dari 0,1 ppm. Bila kadarnya kurang dari kadar tersebut, tetapi lebih dari setengahnya maka dalam jangka panjang ikan akan stres, sakit dan pertumbuhannya kurang bagus, namun kondisi demikian masih tergantung dari jenis, stadia, dan ukuran ikan. Umumnya ikan dalam stadia telur, larva dan benih lebih sensitif dibanding ikan remaja dan dewasa.

Pengukuran amoniak dan nitrit dapat dilakukan dengan ammonium test kit yang berbentuk cairan. Pengukuran amoniak sebaiknya dilakukan sore hari karena pada saat itu nilai pH dan presentase amonianya paling tinggi. Berikut dibawah ini prosedur pengukuran amonia nitrogen total (metode phenate) :

- saring 25 – 50 ml air sampel dengan kertas saring whatman no 42 (jangan menggunakan vacum pum agar tak ada amonia yang hilang)

- pipet 10 ml air sampel yang telah disaring, masukkan ke dalam gelas piala - sambil diaduk (sebaiknya dengan magnetic stirer), tambahkan 1 tetes MnSO4, 0,5 ml chlorox (oxidizing solution) dan 0,6 ml phenate. Phenate ditambahkan dengan segera menggunakan pipet tetes yang sudah dikalibrasi.

Diamkan selama ± 15 menit, sampai pembentukan warna stabil (warna akan tetap stabil sampai beberapa jam)

- buat larutan blanko dari 10 ml akuades, lakukan prosedur no 3 - buat larutan standar dari 10 ml larutan standar amonia (0,30 ppm),

- dengan larutan blanko pada panjang gelombang 630 nm, set spektrofotometer pada absorbance 0,000 (atau transmittance 100%), kemudian lakukan pengukuran sampel dan larutan standar - hitung konsentrasi amonia-N total dengan persamaan :

TAN mg/l sebagai N = ppm NH3-N = Cat x Aa Aat

Cat = konsentrasi larutan standar (0,30 mg/l)

Aat = nilai absorbance (transmittance) larutan standar Aa = nilai absorbance (transmittance) air sampel

Konsentrasi amonia yang terukur tersebut dinyatakan dalam kadar nitrogen (N) yang terdapat dalam amonia (NH3). Untuk mengetahui konsentrasi amonia yang dinyatakan dalam mg NH3/l (=ppm NH3), nilai TAN di atas dikalikan dengan faktor seperti pada persamaan berikut :

Mg NH3/l = ppm NH3-N x BM NH3 = ppm NH3-N x 1,216 BA N

BM : Berat molekul BA : Berat atom

Air dari alam atau natural water secara fundamental akan berbeda kondisinya dengan air dari tempat budidaya, terutama sistem tertutup yang menggunakan akuarium atau bak, berdasarkan sifat kimia maupun biologi. Jumlah ikan ditempat budidaya umumnya jauh lebih banyak dibanding jumlah air. Akibatnya material hasil sisa metabolisme (metabolit) yang dikeluarkan ikan (berupa kotoran dan urin) tidak dapat seimbang mengurai. Artinya waktu penguraian metabolit secara alami tidak mencukupi karena jumlahnya cukup banyak. Oleh

karena itu, air tidak dapat atau sulit kembali menjadi baik atau cederung enghasilkan substansi atau bahan metabolit yang berbahaya bagi ikan.

Tingkat penurunan kualitas air dalam pebudidayaan atau kadar material hasil metabolisme ikan tergantung pada beberapa faktor, antara lain :

a. jumlah dan kepadatan ikan, kalau kepadatan ikan lebih besar dari patokan maka ikan akan stres. Hal ini disevbablkan keadaan lingkungan menjadi tidak nyaman ataupun air cepat jelek, kepadatan ikan juga bergantung pada jenis ikan

b. jenis dan stadia ikan, pengeluaran metabolit per satuan waktu oleh masing-masing jenis ikan tidak sama. Ikan yang bergerak aktif penggunaan energi (mengkonsumsi makan) dan menghasilkan metabolit lebih banyak dibandingkan jenis ikan yang tenang sehingga kualitas airpun lebih cepat jelek. Stadia ikan remaja atau dewasa memiliki aktifitas yang lebih banyak dan cenderung mengeluarkan kotoran lebih banyak bila dibandingkan dengan larva atau benih, demikian juga terhadap ketahanan tubuhnya terhadap kualitas air lebih baik. Oleh karena itu , pemantauan atau perawatan kualitas media pada stadia larva dan benih harus secara khusus. Umumnya penggantian air pada stadia larva dan benih dilakukan lebih hati-hati dan lebih sering agar kualitas airnya selalu terjaga.

c. Jumlah dan jenis pakan, pemberian pakan yang terlalu banyak akan cepat mengotori air, karena sisa pakan yang membusuk akan sangat membahayakan kehidupan ikan.

d. Air hujan dan musim, penurunan kua;litas air karena faktor hujan merupakan faktor khusus, umumnya terjadi pada pembudidayaan ikan diluar ruangan seperti bak atau kolam. Hujan yang terus menerus dapat berpengaruh pada perubahan suhu yang drastis yang kemudian berpengaruh terhadap oksigen terlarut pH dan amonia dalam air.

Nilai parameter kualitas air optimal yang dibutuhkan setiap jenis ikan tidak sama, tergantung asal-usul, genetis dan kemampuan beradaptasi, sehingga terkadang

pada suatu nilai tertentu menjadi jelek bagi beberapa ikan tapi belum tentu jelek untuk jenis ikan lainnya. Namun, pada tingkat ekstrim semua jenis ikan akan mendapatkan pengaruh yang hampir sama.

Pengaruh suhu sangat nyata dan umumnya cepat karena berhubungan langsung dengan metabolisme dalam tubuh ikan. Untuk pH, selain dapat menjadikan ikan stres, dapat juga mempengaruhi reaksi air media dalam perombakan amonia, nitrit dan karbondioksida. Daya racun dari substansi tersebut akan makin

Dalam dokumen Memelihara Larva Ikan Di Bak Fiberglass (Halaman 28-43)

Dokumen terkait