• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

Lampiran 6 Birokrasi Pemerintahan Desa Situ Udik

Sebagai sebuah bentuk birokrasi, Pemerintah Desa Situ Udik mampu memiliki serangkaian bentuk penetapan birokrasi yang diterapkan kepada pegawai. Penetapan birokrasi tersebut tidak terlepas dari adanya peran kepala desa dalam memberikan arahan serta penentuan birokrasi desa. Penetapan birokrasi yang pertama adalah pembagian kerja. Segala bentuk pembagian kerja yang diterima oleh pegawai seluruhnya diberikan oleh kepala desa atau melalui staf kantor desa. Seperti pernyataan bapak SYM yang menyatakan bahwa:

Seluruhnya ditentukan oleh kepala desa. Hal ini karena kepala desa memiliki kuasa penuh di samping BPD. Semua posisi diberikan sesuai dengan kinerja masing-masing pegawai”. Akan tetapi pemberian tugas kerap masih memenuhi kendala dalam perjalanannya. Seperti pernyataan Bapak HAS, yang menyatakan bahwa: “memang sih kalo tugas yang ngebentuk pak lurah. Tapi, kalo ada tugas, saya mah ga pernah dikasih tuh instruksi langsung dari pak lurah. Biasanya mah sama si stafnya aja. Ke wiayah saya aja dia jarang. Saya mah kerjain aja tugasnya karena saya kan dipilih oleh masyarakat sebagai ketua RT, bukan sama

pak lurah”. Kendala-kendala tersebut tidak lepas dari kondisi pegawai terutama Ketua RT/RW yang jarang berkomunikasi langsung dengan kepala desa.

Agar mampu memberikan arahan yang baik, pemerintah dasa harus memiliki struktur organisasi agar mampu memberikan arahan garis perintah atau hierarki yang jelas kepada pegawai. Penetapan hierarki jabatan yang dimiliki Pemerintah Desa Situ Udik detentukan oleh kepala desa. Sesuai dengan pernyataan dari salah seorang pegawai desa, yaitu bapak MIS yang menyatakan bahwa: “pembagian posisi jabatan memang ditentukan oleh pak kades. Akan tetapi, semuanya tetap mengacu kepada Perda dan Perdes. Kalo ada urusan atau kegiatan, biasanya pak lurah selalu memberikan instruksi kepada saya baik lewat telpon atau langsung menghampiri saya di kantor. Nah, terus informasi tadi saya sebarin lagi ke ketua RW dan RT lewat surat edaran atau sms biar mereka

sampaikan lagi ke masyarakat”. Walaupun kepala desa memiliki peran dalam menentukan Hierarki di desa, seluruh penetapan hierarki juga harus sesuai dengan Perda dan Perdes yang telah ditetntukan.

Guna menuntun pegawai dalam bekerja, Pemerintah Desa Situ Udik telah memiliki Tupoksi (Tugas, Pokok, dan Fungsi) yang diberikan kepada pegawai berdasarkan Perdes sesuai dengan posisinya masing-masing. Salah seorang staf kantor desa, Bapak HN yang menyatakan bahwa: “Seluruhnya sudah disesuaikan berdasarkan Tupoksinya masing-masing pegawai”. Akan tetapi tidak seluruhnya pemberian tupoksi mampu diterapkan dengan baik oleh pegawai. Seperti pernyataan bapak IJ yang menyatakan bahwa: “saya sudah jadi RW selama 20 tahun lebih. Selama kepala desa yang baru saya ga pernah dikasih tau tugas- tugas. Kadang kalo ada program atau tamu dari kabupaten aja dia kasih tau, itu juga jarang. Contohnya aja nih kang ya, program listrik masuk desa, saya aja urusin sendiri. Warga saya yang seharusnya dikasih gratis ehh.. malah jadi bayar. Kadang kalo ada info itu dadakan. Itu juga yang ngasih tau bukan pak

lurah, tapi bawahannya”. Pemeberian tugas yang kurang merata terjadi di sebagian Ketua RT/RW. Mereka yang posisinya jauh dari kantor desa sangat minim informasi mengenai tugas. Dengan demikian, para Ketua RT/RW yang

telah menjabat selama lebih dari 20 tahun tetap melaksanakan pelayanan masyarakat yang biasanya telah mereka lakukan sebelumnya.

Pemeberian kontrak kerja mengenai masa jabatan sangat penting diberikan kepada pegawai. Hal ini bertujuan agar pegawai mampu melaksanakan kerja yang harus mereka laksanakan hingga waktu yang telah ditentukan. Pemberian kesepakatan masa jabatan kerja dilakukan di awal masa jabatan, tepatnya ketika pelantikan pegawai desa. Seperti pernyataan bapak HRS yang menyatakan bahwa: “Palingan dengan adanya pelantikan di awal masa jabatan aja. Di situ juga ada SK yang menjelaskan tugas Ketua RT/RW. Durasi kerjanya (periode) 6 tahun kalo ga salah ikutin masa jabatan kepala desa. Kalo kerja sih

ga ada targetan. Yang jelas segala tugas harus selesai aja”. Akan tetapi terdapat sedikit perbedaan dalam kepegawaian di tingkat RT/RW. Bapak ACS

menjelaskan bahwa: “waktu dilantik sih dijelasin peraturan-peraturannya tapi kalo mendadak ada yang mau mengundurkan diri ya silahkan aja asal disetujuin sama masyarakat. Masalahnya kan kalo Ketua RT/RW mah yang milih juga masyarakat, jadi pak lurah juga ga bisa mutusin gitu aja. Ada yang jadi Ketua RT/RW 20 tahun, ada juga yang cuma dua bulan”. Penentuan Ketua RT/RW yang dipilih langsung oleh masyarakat mengakibatkan masa kerja Ketua RT/RW berbeda dengan pegawai staf kantor dan aparatur desa. Masyarakat dapat menaikkan atau menurunkan Ketua RT/RW tanpa ada batasan waktu masa jabatan. Hal ini berbeda dengan kondisi di desa-desa lain yang seluruh Ketua RT/RW ditentukan oleh kepala desa.

Kepala desa tidak dapat menjalankan aktivitas pemerintahan desa sendirian. Diperlukan adanya pendamping yang sesuai dengan persyaratan dan keinginan kepala desa agar mampu menunjang aktivitas desa dalam melayani masyarakat. Kondisi yang terjadi di dalam Pemerintah Desa Situ Udik kurang memperhatikan aspek penyeleksian tersebut. Salah satu pegawai desa, yaitu bapak

ZM, menjelaskan bahwa: “pak lurah mah ga pernah reshuffle (mengubah) pegawai. Alasannya karena melihat pengalaman dan pendampin beliau supaya ada yang bisa ngajarin. Karena rata-rata udah pada lama kerja di sini, jadi pengalaman kita (staf) juga dibutuhin pak lurah buat mempelajari masalah- masalah yang ada di masyarakat”. Kepala Desa Situ Udik tidak melakukan adanya perubahan dalam kepegawaian desa situ udik. Beliau mengaku bahwa pegawai desa pada periode sebelumnya memiliki pengalaman dan kinerja yang baik. Kepala desa juga dapat diberikan informasi dan arahan dari pegawai desa atas pengalamannya tersebut. Kondisi ini baik, akan tetapi memiliki kekurangan dari segi produktivitas. Rata-rata pegawai desa telah berusia 40-50 tahun yang dengan hal ini perlu diperhatikan kembali oleh kepala desa agar pelayanan terhadap masyarakat dapat berjalan secara optimal.

Guna meningkatkan kinerja pegawai, pemerintah desa memberikan beberapa kebijakan mengenai pemberian honor/gaji atau hadiah kepada pegawai. Seluruh pegawai mendapatkan honor/gaji sejumlah Rp 450 000,- per dalam kurun waktu tiga bulan. Seorang Ketua RT, yaitu bapak SAM menyatakan bahwa: “ada, insentip namanya. Itu dikasih oleh pemda, hasil dari kebaikan bapak bupati kepada seluruh pegawai desa. Sebulan itu dapet Rp150.000,- tapi dikasihnya per tiga bulan berbarengan kumpul rutin RT/RW”. Walaupun terdapat pemberian gaji/honor, masih terdapat sedikit rasa ketidak puasa yang dirasakan oleh salah satu Ketua RT, yaitu bapak ZER yang menyatakan bahwa: “kalo bukan dasarnya

dari pengabdian, jumlah segitu mah mana cukup atuh. Bahkan pernah udah hampir empat bulan gaji bapak belum dikirimin ke rumah tapi bapak tetep jadi RW. Seharusnya kan setiap tiga bulan turun. Tapi syukur sekarang mah pemerintah desa bisa ngakalin pake raskin. Jadi Ketua RT/RW dapet jatah raskin gratis buat nambah-nambah insentip dari desa. Biasanya kalo mau lebaran pak

lurah juga suka ngasih sembako sama THR ke setiap Ketua RT/RW”. Walaupun

jumlah yang diberikan sedikit dan tidak mampu memenuhi kebutuhan, seluruh pegawai tetap menjalankan tugasnya karena berlandaskan atas adanya bentuk pengabdian yang mereka berikan kepada masyarakat.

Struktur karir yang diterapkan dalam suatu organisasi pemerintahan desa, seperti jenjang karir, kenaikan pangkat, dan promosi jabatan akan berdampak terhadap adanya inovasi didalam tubuh organisasi tersebut. Struktur karir di Desa Situ Udik ternyata tidak terlalu diterapkan seperti halnya pemerintahan di wilayah perkotaan (kelurahan). Seperti pernyataan Bapak SDQ yang menyatakan bahwa: kalo di desa mah ga ada kayak begituan kang, soalnya kalo Ketua RT/RW kan dipilih masyarakat. Tapi biasanya kalo ada ketua RT yang kerjaannya bagus suka diminta masyarakat naiki jabatan jadi RW diperiode selanjutnya. Terus juga kalo ada RW yang kerjanya bagus, bisa di ajuin jadi Kadus. Tapi yang kayak begituan

juga jarang diterapin”. Pernyataan tersebut mengambarkan bahwa salah satu bentuk struktur karir yang diterapkan adalah kenaikan jabatan di tingkat RT/RW, namun kondisi tersebut juga jarang terjadi. Akan tetapi secara umum Pemerintah Desa Situ Udik tidak menerapkan hal tersebut. Satu-stunya hal yang dilakukan hanya merubah posisi jabatan saja di dalam garis hierarki yang sama. Seperti pernyataan Bapak ZM yang menyatakan bahwa: “kenaikan pangkat ga ada kalo disini, adanya tuker posisi kerja aja. Semua pegawai disini udah pegawai senior,

pengalamannya juga udah dipercaya sama pak lurah”. Walau demikian kondisi

pemerintahan desa tetap stabil. Sedikitnya perubahan yang dilakukan oleh kepala tetap dipatuhi oleh pegawai desa, sehingga tidak terlalu mempengaruhi adanya penurunan aktivitas dan kecemburuan sosial di antara pegawai desa.