DAFTAR PUSTAKA
2. ValiditasBBVariabelBPupukB TabelB3.3B
2.3.2. BJenis-BJenisBPupukB 1 Pupuk Organik
a. Pupuk hijau. Pupuk hijau didapatkan dari tumbuhan muda, terutama dari jenis
polong-polongan (leguminose), yang dibenamkan di lahan pertanian.
b. Pupuk kandang. Pupuk kandang diperoleh dari kotoran hewan ternak, misalnya
sapi, ayam, kambing, dan lain-lain.
c. Pupuk kompos diperoleh dari bahan organik limbah pertanian, misalnya
jerami, batang jagung, atau sampah yang dibusukkan bersama pupuk kandang. Pupuk kompos lebih banyak digunakan untuk menyuburkan tanaman-tanaman pot atau holtikultura.
Pupuk alam dapat memperbaiki sifat-sifat fisis tanah, yaitu: struktur, tata udara, daya resap air, dan daya tahan terhadap erosi. Selain itu, pupuk alam juga membentuk humus (bunga tanah) sehingga berperan juga dalam memperbaiki sifat biologi. Selanjutnya, peruraian dari humus akan menambah ketersediaan unsur-unsur hara.
2. Pupuk Anorganik (Pupuk Buatan)
Jenis-jenis pupuk anorganik meliputi pupuk nitrogen, pupuk kalium, pupuk fosfor, pupuk, majemuk, dan pupuk daun.
B
2.4. TenagaBKerja
Setiap usaha pertanian yang dilaksanakan pasti memerlukan tenaga kerja. Tenaga kerja juga mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam keberhasilan proses produksi. Tenaga kerja sangat diperlukan dalam menghasilkan produksi dan dalam mengelola hasil produksi usaha tani.
Secara umum tenaga kerja (manpower) didefinisikan sebagai penduduk yang berada pada usia kerja (15-64 tahun) atau jumlah penduduk dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga mereka dan
15
jika mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut. Sedangkan Undang-Undang Tenaga Kerja Tahun 2003 pasal 1 : 2 menyebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
Menurut Hernanto (dalam Muliati 2001 : 6) ”Tenaga kerja adalah individu yang memilki kemampuan bekerja dan tergolong dalam angkatan kerja, bersedia bekerja pada tingkat upah tertentu yang ditujukan untuk menghasilkan benda ekonomis (produksi).” Tenaga kerja tersebut mencakup manusia yang bersedia bekerja untuk menghasilkan barang atau jasa yang memiliki nilai ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dari manusia itu sendiri yang kemampuannya di ukur secara usia.
Kebutuhan tenaga kerja pada setiap cabang usaha akan berbeda berdasarkan jenis, kegiatan, jenis komoditi, tingkat teknologi, serta skala usaha dan waktunya. Pada kegiatan usaha tani sangat memerlukan tenaga kerja dimana kebutuhannya meliputi hampir seluruh proses produksi berlangsung.
Menurut Tohir (2001 : 70) tenaga kerja sangat dibutuhkan dalam usaha tani, yakni dibutuhkan pada usaha:
a. Persiapan tananam
b. Pengadaan sarana produksi pertanian (bibit, pupuk, obat, hama / penyakit yang digunakan sebelum tanam).
c. Penanaman/ Persemaian d. Pemeliharaan Penyiangan
Pemangkasan Pemupukan Pengobatan
Pengaturan air dan pemeliharaan bangunan air e. Panen dan Pengangkutan hasil
16
Agar hasil produksi dapat diperoleh secara maksimal, maka perekrutan pekerjaan
harus dilakukan dengan baik.
Menurut Rahardi (2000:16) perekrutan tenaga kerja didasarkan atas tiga macam golongan yaitu :
1. Tenaga Staf merupakan tenaga ahli degan ingkat pendidikan strata/ sarjana muda. Tenaga kerja ini bertugas sebagai perencana, pengawas dan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan keuangan dan pemasaran hasil produksi. Disamping itu terdapat beberapa tenaga lulusan sekolah menengah atas sebagai tenaga administrasi.
2. Tenaga kerja harian tetap terdiri dari tenaga-tenaga lulusan sekolah pertanian menengah atas dan buruh tani yang yang berdomisili di sekitar lokasi usaha dimana tenaga ini bertugas memelihara tanaman.
3. Tenaga kerja harian lepas umumnya mengerjakan pembukaan lahan, pembuatan kontur awal,penentuan alir dan sebagainya. Pekerjaana ini dilakukan oleh para buruh tani dengan sistem borongan dan di bawah pengawasan tenaga ahli.
Sedangkan menurut Suratiah (2002 : 28) tenaga kerja dalam usaha tani terbagi 2, yakni:
a. Tenaga kerja keluarga petani yaitu tenaga kerja yang bersal dari sekelompok manusia yang hidup dari satu sumber pendapatan.
b. Tenaga kerja luar keluarga, tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga yang pada umumya diberi upah.
Peranan anggota keluarga dalam usaha tani adalah sebagai tenaga kerja disamping mereka juga mempekerjakan tenaga kerja dari luar yang diupah. Dalam menentukan
17
jumlah tenaga kerja luar kelurga yang dibutuhkan umumnya tergantung dari dana yang tersedia untuk membiayai tenaga kerja luar tersebut.
Hermanto (2002:65) berpendapat bahwa ada beberapa cara untuk memperoleh tenaga kerja luar keluarga yakni:
a. Upahan
Tenaga upahan itu bervariasi dari satu tempat ke tempat lainnya. Upah umumnya tidak rasional karena daya mampu tidak diukur secara jelas tetapi dihitung sama untuk setiap tenaga kerja. Upah untuk pria berbeda dengan wanita maupun anak-anak.
b. Sambatan
Tenaga kerja sambatan adalah sistem tolong menolong di anatara para petani. Umumya tidak berdasarkan pertimbangan ekonomi. Sistem ini lebih terikat dengan adat istiadat.
c. Arisan Tenaga Kerja
Setiap peserta arisan akan mengembalikan dalam bentuk tenaga kerja kepada anggota lainnya.
Soekartawi (2002:26) menyatakan bahwa ”Skala usaha akan mempengaruhi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Usaha pertanian skala kecil menggunakan tenaga kerja dalam keluarga dan tidak memerlukan tenaga kerja yang memilki keahlian. Sebaliknya pada usaha pertanian skala besar lebih banyak menggunakan tenaga kerja luar keluarga.”
Mubyarto (2000:123) berpendapat bahwa ”Dalam Usahatani sebagian besar tenaga kerja berasal dari petani sendiri yang terdiri atas ayah sebagai kepala keluarga, istri dan anak-anak petani. Anak-anak berumur 12 tahun misalnya sudah dapat merupakan tenaga kerja yang produktif bagi usahatani. Mereka dapat membantu mengatur pengairan, mengangkut bibit atau pupuk kesawah atau
18
membantu penggarapan sawah".
Pada usaha pertanian dengan skala kecil peranan tenaga kerja dalam keluarga sangat penting. Hal ini menjadi suatu sumbangan dalam keluarga untuk kelancaran kegiatan produksi usahatani mereka. Dalam melakukan kegiatan usahanya tenaga kerja dalam keluarga tidak selalu dinilai dengan uang, ini dilakukan mereka untuk menekan ongkos tenaga kerja yang mestinya dikeluarkan.
2.5.BBModal
Modal merupakan aspek ketiga yang penting dalam kegiatan suatu bisnis. Tanpa memiliki modal, suatu usaha tidak akan dapat berjalan walaupun syarat- syarat lain untuk mendirikan suatu bisnis sudah dimiliki.
Menurut Mubyarto (2000:106) "Modal adalah barang atau uang yang bersama- sama faktor-faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang-barang baru yaitu dalam hal ini hasil pertanian".
Meskipun modal selalu dinyatakan nilainya dalam bentuk uang, namun ada juga penciptaan modal tanpa penggunaan uang. Meskipun demikian, uang masih merupakan alat tukar dan pengukur nilai-nilai dari modal tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa uang adalah alat utama modal. Modal juga termasuk juga peralatan seperti mesin-mesin, alat-alat besar, dan alat-alat penangkutan.
Modal dalam usaha tani dapat bersumber dari modal sendiri dan modal luar usaha tani. Dimana modal sendiri bersumber dari pemberian hadiah, warisan dan menabung. Sedangkan modal dari luar usahatani bersumber dari berbagai jenis hubungan seperti sewa, hutang atau kredit. Berdasarkan sumbernya tersebut, untuk modal sendiri petani bebas menggunakannya. Untuk kredit yang milik orang lain tentunya ada persyaratan. Persyaratan dapat diartikan pembebanan yang menyangkut waktu pengambilan maupun jumlah serta angsurannya. Untuk modal yang bersumber
19
dari warisan/ hadiah tentunya tergantung dari si pemberi.
Menurut Rahardi (2006:53-54 ), Modal terdiri atas 2 jenis, yakni: a. Modal Investasi
Modal investasi adalah modal yang disediakan untuk pengadaan sarana usaha yang bersifat fisik. modal ini meliputi pembiayaan untuk
pembelian atau penyewaan tanah, pembuatan bangunan gudang dan tempat penjaga lahan, mesin pertanian alat pertanian, biaya perizinan, saluran irigasi, jalan atau jika perlu jembatan, dan lain-lain
b. Modal Kerja
Modal kerja merupakan modal yang diperlukan untuk membiayai semua kegiatan usaha. modal ini digunakan untuk pembiayaan, seperti bibit, pupuk, obat (pembasmi dan atau pencegahan hama, penyakit, dan gulma tanaman), upah tenaga kerja serta biaya pemasaran
Petani yang telah melewati batas kebutuhannya dan dapat menyisihkan pendapatannya, dalam bentuk investasi, berupa alat-alat Pertanian dan mengatur yang memberi kemungkinan memperbesar modal yang dapat digunakan untuk memperbesar pendapatan.
Modal dapat menghasilkan barang baru, dengan demikian akan mendorong minat tumbuhnya pembentukan modal. Pembentukan modal ini menjadi keharusan untuk ditumbuhkan di kalangan petani.
Modal dapat dikatakan produktif apabila dalam penggunannya atau akibat penggunaannya dapat menghasilkan sesuatu hasil yang lebih dari jumlah yang diperlukan untuk menutupi biaya bagi semua faktor produksi.
Menurut Moehar (2001:21) "Kekurangan modal menyebabkan kurangnya masukan yang diberikan sehingga menimbulkan risiko kegagalan atau rendahnya hasil yang akan diterima". Dengan modal yang cukup maka petani dapat memaksimalkan
20
input dalam pertanian seperti pembelian pupuk, penyediaan teknologi. Penggunaan modal yang maksimal akan meningkatkan pendapatan petani serta dapat meminimalisasi kemungkinan kerugian yang terjadi.
2.6. Pendapatan
Kegiatan usaha tani bertujuan untuk mencapai produksi di bidang pertanian. Melalui penjualan produksi pertanian maka akan didapat pendapatan petani. Petani dapat menggunakan pendapatannya untuk berbagai kegunaan seperti biaya produksi selanjutnya, tabungan, dan pengeluaran lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Menurut Tohir (2001 : 176) "Pendapatan petani adalah jumlah sisa dari penghasilan bruto setelah dikurangi dengan biaya untuk imbalan faktor-faktor luar dan bunga modal dari luar".
Hernanto (2002:202) mengatakan bahwa penerimaan usaha tani (farm receipts), yaitu penerimaan dari semua sumber usaha tani meliputi:
a. Jumlah penambahan inventaris. b. Nilai penjualan hasil.
c. Nilai dari penggunaan rumah dan yang dikonsumsi.
Salah satu tujuan dari pengembangan usaha tani adalah meningkatkan pendapatan petani dalam melakukan kegiatan usaha tani tersebut. Pada dasarnya petani menginginkan pendapatan yang sebesar-besarnya dengan biaya yang sekecil-kecilnva. Kegiatan usaha tani dinilai dengan uang yang diperhitungkan dari nilai produksi setelah dikurangi atau memperhitungkan biaya yang telah dikeluarkan. Pendapatan yang besar akan terjadi bila petani memaksimalkan penggunaan faktor-faktor produksi yang telah tersedia.
Soekartawi (2002 - 14) menyatakan bahwa, "Ada dua cara yang sering dipakai Universitas Sumatera Utara
21
oleh seorang pengusaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besamya yaitu: 1) menekan total biaya produksi sekecil-kecilnya dengan mempertahankan total penerimaan (cost minimization), 2) menambah total penerimaan sebesar-besarnya dengan mempertahanakan total biaya (revenue maximization). Kedua konsep ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besamya7.
Menurut Hermanto (2002: 203) ada beberapa ukuran pendapatan, yakni:
a. Pendapatan kerja petani (operator's farm income) pendapatan ini diperhitungkan dari: penerimaan dari penjualan hasil ditambah dengan kenaikan nilai inventaris kemudian dikurangi dengan pengeluaran tunai kemudian dikurangi pengeluaran yang tidak diperhitungkan.
b. Penghasilan kerja petani (operator's farm labor earning) diperoleh dari pendapatan kerja petani ditambah dengan penerimaan tidak tunai seperti tanaman dan hasilnya yang di konsumsi keluarga.
c. Pendapatan kerja – ketuarga (family farm labor earning) diperoleh dari penghasilan kerja petani ditambah dengan nilai tenaga kerja dalam keluarga.
d. Pedapatan keluarga (family income) diperoleh dengan menjumlah total pendapatan keluarga dari berbagai sumber.
Menurut Hermanto (2002:208) dalam peningkatan pendapatan petani, ada beberapa hal yang ikut menentukan, yakni:
a.BBJumlah produksi yang dapat dihasilkan oleh satu orang petani
22
yang dapat diperoleh satu unit usahatani. b. Harga penjualan
Harga penjualan yang dapat diperoleh petani ditentukan oleh beberapa faktor yaitu mutu hasil, pengolahan hasil dan sistem pemasaran serta struktur pasar yang dihadapi.
c. Biaya produksi petani
Faktor-faktor yang menentukan biaya produksi adalah ketersediaan modal yang digunakan, produktivitas tenaga kerja dan kemampuan pengelolaan usaha tani untuk meningkatkan efisiensi.
Dapat disimpulkan bahwa peningkatan pendapatan petani adalah hal yang sangat kompleks, dimana banyak sekali faktor-faktor yang menentukan keberhasilannya.
Kegiatan usaha tani bertujuan untuk mencapai produksi di bidang pertanian. Pada akhirnya akan dinilai dengan uang yang diperhitungkan dari produksi setelah dikurangi atau memperhitungkan biaya yang telah dikeluarkan. Penerimaan usahatani atau pendapatannya nantinya akan mendorong petani untuk dapat memanfaatkannya dalam berbagai kegunaan seperti untuk : biaya produksi periode selanjutnya, tabungan, dan pengeluaran lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
2.7.TeknikBPengumpulanBDataB
2.7.1.JenisBdanBSumberBDataB
Prosedur Pengambilan data penelitian menggunakan data primer. Data tersebut diperoleh dari hasil wawancara langsung dan diskusi dengan petani yang menjadi sampel atas kuisioner penelitian. Sedangkan untuk data sekunder, data diperoleh dari instansi yang terkait atau perusahaan setempat, buku – buku ilmiah, media internet, jurnal penelitian maupun dari referensi lain yang berhubungan dengan penelitian ini.
23
2.7.2.BCaraBPengumpulanBDataB
Pengambilan data penelitian dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: a.B Observasi
Observasi yaitu mengamati langsung pada objek yang akan diteliti. Disini yang diamati adalah keadaan yang ada di Desa Huta II Kecamatan Hatonduan Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
b.B WawancaraBdanBDiskusi
Peneliti melakukan wawancara dan diskusi dengan petani, kelompok tani, untuk memperoleh informasi mendalam tentang berbagai hal yang berkaitan dengan usahatani jagung
c.B Angket
Teknik ini dilakukan dengan cara memberikan daftar pertanyaan kepada responder untuk dijawab, kemudian dari jawaban setiap Pertanyaan tersebut ditentukan
skor-nya dengan menggunakan rating scale.
2.8. MetodeBAnalisisBDataB
Suatu penelitian akan menjadi jelas, terarah tujuannya bila didukung oleh organisasi pengolahan data yang baik dan sistematis. Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kuantitatif, yakni menguji dan menganalisis data dengan perhitungan angka-angka dan kemudian menarik kesimpulan dari pengujian tersebut, dengan menggunakan rumus-rumus berikut ini :
2.8.1.BUjiBValiditasBdanBReliabilitasBB a.BUjiBValiditas
Untuk menguji apakah instrumen angket yang dipakai cukup layak digunakan sehingga mampu menghasilkan data yang akurat yang sesuai dengan tujuan ukurannya maka dilakukan uji validitas. Sugiyono (2003, hal. 114) menyatakan bahwa pengukuran validitas internal menggunakan uji validitas setiap butir pertanyaan (content validity) dengan cara mengkolerasikan skor item masing-masing variabel dengan skor total
24
masing-masing variabel sehingga akan terlihat butir instrumen yang layak dan tidak layak. Perhitungan kolerasi antara pernyataan atau pertanyaan ke-1, ke-2 dan seterusnya dengan skor total digunakan alat uji kolerasi Pearson (product moment coefficient of correlation) dengan menggunakan perangkat lunak statistic package for social sciences (SPSS) versi 15. Adapun rumus korelasi Pearson (Sugiyono, 2003. hal 182) adalah :
b.BB UjiBReliabilitasB
Setelah diperoleh item-item soal yang valid maka langkah selanjutnya menguji reliabilitas tes yang sudah valid dengan menggunakan rumus alpha yang bertujuan untuk mengetahui apakah tes yang sudah diberikan sudah layak atau tidak kepada sampel yang telah ditetapkan. Menurut Nugroho (2005, hal. 53) menyatakan reliabilitas atau keandalan merupakan ukuran suatu kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan konstruk-konstruk yang merupakan dimensi suatu variabel dan disusun dalam suatu bentuk kuesioner. Reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbach Alpha > 0,60.
Kemudian untuk mengetahui tinggi rendahnya nilai reliabilitas dalam penelitian ini, hasil reabilitas dikonsultasikan dengan Tabel interpretasi nilai r, sebagai berikut (Arikunto, 2006, hal. 18) : Tabel.B2.1.BInterpretasiBbesarnyaBnilaiBrB BesarnyaBNilaiBrB InterpretasiB 0,81 – 1,00 Sangat Tinggi 0,61 – 0,80 Tinggi 0,41 – 0,60 Sedang 0,21 – 0,40 Rendah 0,00 – 0,20 Sangat Rendah BSumber:BArikuntoB(2006)B
25
20 B
2.8.2.BAnalisisBRegresiBLinierBBerganda
Analisis regresi yang digunakan untuk menganalisis hubungan kausal antar variabel di mana variabel-variabel bebas mempengaruhi variabel terikat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Model regresi linear berganda secara matematik dinyatakan dalam persamaan berikut :
Dimana :
Y = variabel terikat
X₁, X₂,..Xn = variabel bebas
α = konstanta
b₁,b₂,…bn = koefisien regresi Y atas X Dalam tulisan ini
Y = α
0+ b
1X
1+ b
2X
2+b
3X
3+b
4X
42.8.3.BSampelBdanBTeknikBPengambilanBSampel
Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan Total Sampling. Total Sampling adalah pengambilan sampel dari semua anggota populasi.
Sampel dalam penelitian ini berjumlah 50 KK dengan taraf kesalahan 10% dimana yang dijadikan sampel adalah petani yang memiliki tanaman jagung.
26
2.8.4.BVariabelBPeneltianBdanBDefinisiBOperasional 1.BVariabelBPenelitian
a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor-faktor produksi yaitu - Luas lahan (Ha)
- Tenaga kerja (Orang) - Modal (Rp)
- Pupuk (Ton/Ha)
b. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pendapatan 2.BB DefinisiBOperasional
a. Lahan adalah areal tempat penanaman jagung yang di ukur dengan per satuan luas. Indikator lahan yaitu :
- Luas Lahan (Ha)
b. Pupuk adalah Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non- organik (mineral). Indikator pupuk yaitu
- Jenis pupuk yang digunakan
c. Tenaga kerja adalah efektifitas tenaga kerja untuk mengelola usaha tani jagung baik dalam keluarga maupun luar keluarga. Indikator tenaga kerja yaitu :
- kemampuan tenaga kerja - pengetahuan dan keterampilan - aktivitas
- Jumlah tenaga kerja
d. Modal adalah dana atau biaya yang digunakan atau dikeluarkan dalam mengelola usaha tani jagung. Indikator Modal yaitu:
- Biaya produksi atau usahatani (Rp)
27
e. Pendapatan adalah seluruh hasil yang diperoleh dari penjualan jagung setelah dikurangi dengan dengan biaya-biaya produksi. Indikator Pendapatan yaitu:
- Jumlah Produksi (ton/ Ha) - Harga Jual (Rp/Kg) B
TabelB2.2.BOperasionalBVariabelB
Variabel Indikator Nomor
Lahan (X1) - Luas Lahan 1,2,3,4,
5,6,7
Pupuk (X2) - Biaya Produksi 8,9,10,
11,12, 13,14, 15
Modal (X3) - Biaya Produksi 16, 17,
18, 19, 20, 21, 22 Tenaga Kerja (x4) - Jumlah Tenaga kerja
- Pengetahuan - Keterampilan - Aktivitas 23,24, 25,26, 27,28
Pendapatan (Y) - Jumlah produksi
- Harga jual 29.30, 31.32, 33,34, 35
1
BABB1