• Tidak ada hasil yang ditemukan

Blok V. Produksi dan Pendapatan

Dalam dokumen SURVEI SEKTOR INFORMAL TAHUN 2014 (Halaman 89-101)

BAB IV. KUESIONER SSI-1 DAN SSI-2

4.3 Daftar SSI-2

4.3.6 Blok V. Produksi dan Pendapatan

Blok ini digunakan untuk mendapatkan keterangan produksi dan pendapatan utama yang dihasilkan oleh perusahaan/usaha baik di lapangan usaha pertanian atau non pertanian. Untuk lapangan usaha pertanian ditanyakan kondisi 6 bulan yang lalu, sedang lapangan usaha lainnya ditanyakan kondisi satu bulan yang lalu. Disamping itu dicatat juga informasi pendukung mengenai fluktuasi nilai produksi/pendapatan.

PENTING!

Isian di Blok V ini adalah salah satu bagian yang penting dalam menyediakan data sebagai dasar untuk menyusun nilai tambah bruto (NTB) usaha sektor informal, dan mengukur kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) di Indonesia. Oleh karena itu, perlu diperhatikan agar semua rincian dalam bagian ini dapat diisi dengan lengkap dan cermat.

Perlu diketahui, bahwa periode referensi untuk pertanian adalah selama 6 bulan yang lalu, sedangkan untuk non-pertanian/lainnya referensinya adalah selama sebulan yang lalu. Perbedaan dalam periode referensi ini diperlukan karena satu siklus produksi tanaman (KBLI pertanian) biasanya mencakup lebih dari satu bulan, dan karena itu, data produksi, dan pendapatan mungkin tidak sepenuhnya tertangkap dalam waktu satu bulan.

Jika ada dua lapangan usaha, maka harus ada 2 kuesioner Survei Usaha Sektor Informal (Daftar SSI-2).

Bagian A. Produksi/pendapatan Utama.

Rincian 1 sampai dengan 10. Tuliskan rincian produk utama barang/jasa yang dihasilkan pada kolom (2). Jika produk utama adalah produk pertanian, pertambangan, industri pengolahan, LGA atau konstruksi maka tuliskan satuan dan volume barang yang dihasilkan pada kolom (3) dan kolom (4), dan isikan nilai dari barang yang dihasilkan dalam Rupiah pada kolom (5). Jika produk utama adalah produk jasa perdagangan, jasa transportasi, jasa telekomunikasi dan jasa lainnya maka isikan nilai pendapatan utama yang dihasilkan dalam Rupiah pada kolom (5).

Rincian 11. Isikan jumlah nilai produksi/pendapatan utama barang/jasa yang dihasilkan dalam Rupiah pada kolom (5).

Jika jumlah produk lebih dari 10 jenis maka yang disalin pada blok V hanya 9 jenis produk terbesar dan jenis ke-10 disalin pada kolom (2) sebagai “lain-lain”

Contoh “lain-lain”: aneka minuman, aneka snack, dan sebagainya.

Bagian B. Pendapatan Sekunder (Masih berhubungan dengan produksi/pendapatan utama).

Rincian 1 sampai dengan 5. Tuliskan rincian pendapatan sekunder (produk barang/jasa) lainnya yang masih berhubungan dengan kegiatan utama, pada kolom (2), tuliskan satuan barang tersebut pada kolom (3), isikan volume barang tersebut pada kolom (4), dan isikan nilai barang/jasa tersebut dalam Rupiah pada kolom (5).

Contoh pendapatan lainnya adalah: pendapatan penjualan listrik, pendapatan sewa (ruangan, gedung, kendaraan, mesin dan peralatan tanpa operator), pendapatan dari keuntungan penjualan barang dalam bentuk yang sama pada waktu dibeli, dan pendapatan jasa lainnya, TIDAK TERMASUK pendapatan bunga dan dividen.

Rincian 6. Isikan total nilai pendapatan (produk barang/jasa) sekunder dalam Rupiah pada kolom (5).

Bagian C. Total Pendapatan

Isikan total pendapatan yang merupakan penjumlahan rincian A.11. dan B.6. dalam Rupiah pada kolom (5).

Berikut contoh pengisian produksi/pendapatan di beberapa lapangan usaha utama : a. Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan

Nilai produksi Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perikanan merupakan total produksi selama 6 bulan yang lalu, baik yang dijual, disimpan sebagai stok, maupun yang sebagian digunakan sendiri. Termasuk pula output berupa sumber daya biologis yang dibudidayakan (sapi perah, pohon sawit, dan lain-lain).

Output CBR merupakan total biaya yang dikeluarkan terkait penanaman atau pengembangbiakan, sampai tanaman/ternak/hasil perikanan menghasilkan untuk pertama kalinya. Biaya-biaya tersebut meliputi biaya benih/penyisipan, pupuk, zat pengatur tumbuh, pemberantasan hama, pakan ternak, vaksin, obat-obatan,

Contoh 1:

Suatu Usaha Sektor Informal adalah usaha pertanian padi. Usaha tersebut memiliki masa panen 4 bulan sekali. Pada saat bulan pencacahan (Juli) padi belum panen dan masih berumur 2 bulan. Tetapi, petani tersebut sudah mengeluarkan biaya berupa benih, pupuk, pemberantasan hama, biaya tenaga kerja, dan lain-lain sebesar Rp. 10.500.000. Tiga bulan yang lalu (April) petani panen sebanyak 5 ton. Harga padi per ton adalah sebesar Rp. 8.000.000. Dengan demikian, nilai produksi padi selama 6 bulan yang lalu dicatat sebagai berikut:

Nilai Produksi 1 (Januari s/d April) = Nilai produksi padi yang dipanen = 40.000.000 Nilai Produksi 2 (Mei s/d Juni) = Jumlah biaya yang dikeluarkan = 10.500.000 Nilai Produksi Total = Nilai Produksi 1 + Nilai Produksi 2

= 50.500.000 A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA

No. Rincian Produk Yang

Dihasilkan (Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Padi (panen) Ton 5 40.000.000

2 Padi (belum panen) - - 10.500.000

A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 50.500.000 B. PENDAPATAN SEKUNDER

1 2

B.6 Jumlah Pendapatan Lainnya

Contoh 2:

Suatu Usaha Sektor Informal adalah usaha perkebunan kelapa. Usaha tersebut menghasilkan kelapa pada bulan pencacahan (Juli) sebanyak 3 ton. Harga kelapa per ton adalah sebesar Rp. 9.000.000. Dengan demikian, pencatatannya adalah sebagai berikut:

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Kelapa Ton 3 27.000.000

2

A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 27.000.000

B. PENDAPATAN SEKUNDER 1

2

B.6 Jumlah Pendapatan Lainnya

C. TOTAL PENDAPATAN 27.000.000

b. Sektor Pertambangan Dan Penggalian

Contoh:

Suatu Usaha Sektor Informal adalah usaha penggalian batu kapur dan kerikil. Sebulan yang lalu menghasilkan batu kapur sebanyak 100 m3 dan kerikil sebanyak 50 m3. Harga per meter kubik batu kapur adalah Rp. 100.000, sedangkan harga per meter kubik kerikil adalah Rp. 80.000. Disamping itu, usaha ini juga melakukan usaha perdagangan pasir. Marjin yang diperoleh adalah sebesar Rp.4.000.000. Dengan demikian, pencatatannya sebagai berikut:

Nilai produksi Sektor Pertambangan dan Penggalian adalah total produksi selama sebulan yang lalu, baik yang dijual, disimpan sebagai stok, maupun yang sebagian digunakan sendiri.

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Batu kapur m3 100 10.000.000

2 Kerikil m3 50 4.000.000

A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 14.000.000

B. PENDAPATAN SEKUNDER

1 Perdagangan pasir 4.000.000

2 - -

B.6 Jumlah Pendapatan Lainnya 4.000.000

C. TOTAL PENDAPATAN 18.000.000

c. Sektor Industri Pengolahan

Contoh 1:

Suatu Usaha Sektor Informal adalah usaha industri kue. Sebulan yang lalu memproduksi kue sebanyak 500 potong. Sebanyak 400 potong kue laku terjual, 60 kue dimakan sendiri, dan 40 kue belum laku terjual. Harga per potong kue adalah Rp. 2.500, maka pencatatannya adalah sebagai berikut:

Nilai produksi Sektor Industri Pengolahan adalah total produksi selama sebulan yang lalu, baik yang dijual, disimpan sebagai stok, maupun yang sebagian digunakan sendiri. Termasuk pula barang yang masih dalam proses pengerjaan (barang setengah jadi).

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Kue kering potong 500 1.250.000

2

A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 1.250.000

B. PENDAPATAN SEKUNDER 1

2

B.6 Jumlah Pendapatan Lainnya

C. TOTAL PENDAPATAN 1.250.000

Contoh 2:

Suatu Usaha Sektor Informal adalah usaha pembuatan kursi dan meja kayu. Selama sebulan lalu, usaha tersebut mampu memproduksi sebanyak 20 kursi kayu yang semuanya sudah laku terjual. Namun, meja kayu masih dalam proses pengerjaan. Ada 5 meja kayu yang sedang dikerjakan, dengan tahap pengerjaan masih mencapai 75%. Harga setiap kursi kayu adalah Rp. 150.000, sedangkan harga setiap meja kayu adalah Rp. 500.000. Disamping itu, usaha tersebut juga menyediakan jasa perbaikan perabot rumahtangga. Sebulan yang lalu, pendapatan yang diterima dari jasa reparasi tersebut adalah sebanyak Rp. 800.000.

Dengan demikian, pencatatannya adalah sebagai berikut: Nilai Produksi Kursi Kayu = 20 x 150.000 = 3.000.000 Nilai Produksi Meja Kayu = 75% x 5 x 500.000 = 1.875.000 Pendapatan Jasa Reparasi = Rp. 800.000

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Kursi kayu Buah 20 3.000.000

2 Meja kayu Buah 5 1.875.000

A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 4.875.000 No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah) B. PENDAPATAN SEKUNDER

1 Jasa reparasi perabotan 800.000

2

B.6 Jumlah Pendapatan Lainnya 800.000

C. TOTAL PENDAPATAN 5.675.000

d. Sektor Konstruksi

Contoh:

Usaha Sektor Informal A melakukan pembangunan gedung pertokoan dengan nilai kontrak 100 juta rupiah dengan sistem borongan (biaya bahan baku dari usaha Usaha Sektor Informal). Pembangunan dimulai pada bulan April 2014 namun hingga akhir Agustus tahun 2014. Pada saat pencacahan pembangunan baru mencapai 80% dari keseluruhan pembangunan atau senilai Rp 80.000.000, sehingga nilai pekerjaan sebulan yang lalu adalah Rp 16.000.000.

Sehingga, pengisian diblok produksi/pendapatan adalah sebagai berikut :

Pendapatan Sektor Konstruksi adalah nilai pekerjaan dari proyek konstruksi selama sebulan yang lalu.

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Bangunan Pertokoan Unit 0,16 16.000.000

2

A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 16.000.000

B. PENDAPATAN SEKUNDER 1

2

B.6 Jumlah Pendapatan Lainnya

C. TOTAL PENDAPATAN 16.000.000

Catatan : Ouput = pekerjaan yang sudah diselesaikan (80% x 100 juta)

e. Sektor Perdagangan

Contoh 1:

Suatu Usaha Sektor Informal adalah usaha warung kelontong yang menjual aneka minuman, mie, deterjen, permen, dan rokok. Selama sebulan yang lalu menjual masing-masing 10 krat minuman dengan pendapatan margin Rp 150.000/krat, aneka mie sebanyak 10 pak dengan sebesar Rp 25.000/pak, deterjen 50 pak dengan Rp 4.000/ pak, permen 50 pak dengan Rp 4.000/pak dan aneka rokok 10 pak dengan Rp 15.000/ pak. Pencatatan outputnya adalah sebagai berikut :

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Aneka minuman Krat 10 1.500.000

2 Aneka mie Pak 10 250.000

3 Deterjen Pak 50 200.000

4 Permen Pak 50 200.000

5 Rokok Pak 10 150.000

Pendapatan Sektor Perdagangan adalah pendapatan usaha perdagangan (output/margin) yaitu selisih dari nilai penjualan barang dengan nilai pembelian barang yang terjual, termasuk barang titipan/konsinyasi

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah) A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 2.300.000

B. PENDAPATAN SEKUNDER 1

B.6

C. TOTAL PENDAPATAN 2.300.000

Contoh 2:

Suatu Usaha Sektor Informal adalah usaha warung kelontong yang menjual aneka minuman sebanyak 10 krat dengan pendapatan penjualan sebesar Rp 150.000/krat dan aneka makanan ringan 20 kotak sebesar Rp 50.000/kotak. Selain itu usaha tersebut menerima barang titipan aneka kue basah dari pihak luar sebanyak 30 buah/hari sebesar Rp 3.000/buah dan dalam sehari tersebut barang titipan itu habis. Maka untuk pencatatan output adalah sebagai berikut :

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Aneka minuman Krat 10 1.500.000

2 Aneka makanan ringan Kotak 20 1.000.000

3 Aneka kue basah Buah 900 2.700.000

A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 5.200.000

B. PENDAPATAN SEKUNDER 1

B.6

C. TOTAL PENDAPATAN 5.200.000

f. Sektor Transportasi dan Komunikasi

Pendapatan Sektor Transportasi dan Komunikasi adalah pendapatan dari penyediaan jasa transportasi dan komunikasi.

Contoh:

Suatu Usaha Sektor Informal adalah usaha ojek. Pada bulan yang lalu memperoleh pendapatan sebesar Rp.500.000. Dengan demikian, pencatatannya adalah sebagai berikut:

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Jasa ojek 500.000

2

A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 500.000

B. PENDAPATAN SEKUNDER 1

2

No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah) B.6 Jumlah Pendapatan Lainnya

C. TOTAL PENDAPATAN 500.000

g. Sektor Jasa-Jasa

Contoh 1:

Suatu Usaha Sektor Informal adalah usaha binatu (laundry). Pada bulan yang lalu memperoleh pendapatan sebesar Rp.1.000.000. Dengan demikian, pencatatannya adalah sebagai berikut:

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Jasa Binatu 1.000.000

2

Pendapatan Sektor Jasa-jasa adalah pendapatan dari penyediaan jasa yang diberikan.

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah) A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 1.000.000

B. PENDAPATAN SEKUNDER 1

2

B.6 Jumlah Pendapatan Lainnya

C. TOTAL PENDAPATAN 1.000.000

Contoh 2:

Suatu Usaha Sektor Informal adalah usaha jasa penjahitan. Pada bulan yang lalu memperoleh pendapatan sebesar Rp. 2.000.000. Selain itu usaha tersebut juga menjual kain perca. Pendapatan yang diperoleh dari penjualan kain perca adalah sebesar Rp. 50.000. Dengan demikian, pencatatannya adalah sebagai berikut:

A. PRODUKSI/PENDAPATAN UTAMA No. Rincian Produk Yang Dihasilkan

(Barang/Jasa) Satuan Volume Nilai (Rupiah)

1 Jasa menjahit Stel 20 2.000.000

2

A.11 Jumlah Nilai Produksi/Pendapatan Utama 2.000.0000

B. PENDAPATAN SEKUNDER

1 Penjualan kain perca 50.000

2

B.6 Jumlah Pendapatan Lainnya 50.000

C. TOTAL PENDAPATAN 2.050.000

Bagian D. Bagaimanakah fluktuasi nilai produksi/pendapatan usaha Anda selama 12 bulan yang lalu?

Tujuan utama dari item ini adalah untuk mencatat tren nilai produksi/pendapatan dari usaha yang dapat digunakan untuk memperkirakan tingkat atau bahkan memverifikasi

perkiraan level kegiatan usaha selama 12 bulan produksi. Masukkan salah satu kode nilai produksi/pendapatan yang sesuai. Masukkan Kode 0 jika ”Tidak ada nilai produksi/pendapatan”; Kode 1 jika ”Minimum”; Kode 2, ”Rata-rata”, dan Kode 3 jika jawabannya adalah ”Maksimum”.

Rincian ini mencari tren output bulanan dari Usaha Sektor Informal dalam satu tahun. Selain itu, rincian ini juga akan membantu memperkirakan kinerja pendapatan tahunan dari suatu usaha.

Untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang cara mencatat informasi ini lihat contoh berikut.

Contoh 1 :

Suatu usaha Sektor Informal melakukan aktivitas jasa menjahit. Bahan untuk dijahit disediakan oleh pelanggan dan penjahit mendapatkan bayaran dari jasanya. Pada periode November sampai Januari adalah periode dimana penjahit tersebut menerima paling banyak pesanan, sedangkan bulan Agustus, September, dan Mei, tidak banyak menerima permintaan menjahit. Di bulan Oktober dan April, penjahit tersebut sama sekali tidak menerima order untuk menjahit. Isian untuk Bagian D. Berdasarkan informasi tersebut adalah: Bulan Agt 13 Sep 13 Okt 13 Nov 13 Des 13 Jan 14 Feb 14 Mar 14 Apr 14 Mei 14 Jun 14 Jul 14 Kode Pendapatan 1 1 0 3 3 3 2 2 0 1 2 2

Masukkan dalam kotak jawaban yang disediakan; satu angka numerik per kotak. Jawaban harus dalam rupiah.

Bagian E. Nilai Produksi/pendapatan per bulan dari usaha tersebut selama 12 bulan yang lalu (Rupiah) :

Isikan berapa nilai produksi/pendapatan per bulan dari usaha tersebut selama 12 bulan yang lalu dalam Rupiah.

1. Nilai Produksi/pendapatan minimum 2. Nilai Produksi/pendapatan rata-rata 3. Nilai Produksi/pendapatan maksimum

Produksi/pendapatan minimum merupakan produksi/pendapatan paling kecil selama periode 12 bulan yang lalu.

Produksi/pendapatan rata-rata merupakan produksi/pendapatan yang biasanya diperoleh responden selama periode 12 bulan yang lalu.

Produksi/pendapatan maksimum merupakan produksi/pendapatan paling besar selama periode 12 bulan yang lalu.

Keterangan:

 Untuk usaha perdagangan eceran (produk kecil dalam jumlah banyak) seperti toko kelontong, mungkin akan timbul sedikit kesulitan dalam mencatat isian di Blok V. Produksi/Pendapatan; dan Blok VI. Pengeluaran

Untuk usaha seperti ini, disarankan agar produk-produk digabungkan menurut pengelompokan yang sistematis, seperti:

Berbagai jenis dan merek minuman dalam kemasan, jus, softdrink, dan lain-lain, dapat digabungkan menjadi aneka minuman.

Berbagai jenis dan merk kue kering, biskuit, dapat diklasifikasikan sebagai aneka makanan ringan/snacks.

Dalam dokumen SURVEI SEKTOR INFORMAL TAHUN 2014 (Halaman 89-101)

Dokumen terkait