Badan Pusat Statistik
SURVEI
SEKTOR INFORMAL
TAHUN 2014
PEDOMAN PENCACAH SSI-1 DAN SSI-2
KATA PENGANTAR
Buku pedoman ini ditujukan bagi petugas pencacah yang akan melaksanakan Survei Sektor Informal. Survei ini akan dilaksanakan oleh yang melibatkan tiga direktorat di BPS yaitu Direktorat Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan, Direktorat Neraca Produksi, dan Direktorat Pengembangan Metodologi Sensus dan Survei. Survei akan dilakukan di seluruh provinsi di Indonesia dan diharapkan dapat memberikan statistik tentang sektor informal dan pekerja informal. Hasil survei juga diharapkan dapat mengukur kontribusi sektor informal terhadap produk domestik bruto (PDB) secara nasional. Selain itu, hasil survei juga diharapkan dapat mendukung keperluan analisis kebijakan.
Buku Pedoman ini menyajikan konsep-konsep dan petunjuk rinci untuk mengisi kuesioner Survei Sektor Informal. Pemahaman buku pedoman yang baik merupakan faktor utama dalam menghasilkan data yang berkualitas tinggi. Kami berharap bahwa petugas pencacah dapat menggunakan buku pedoman ini untuk meningkatkan pemahaman mereka dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan. Oleh karena itu, para pencacah diharapkan mempelajari buku pedoman ini dengan sebaik-baiknya.
Jakarta, Mei 2014
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI ... iii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Umum ... 1
1.2 Konsep/definisi Sektor Informal, Usaha Informal, dan Pekerja Informal ... 3
1.2.1 Sektor Informal ... 3
1.2.2 Usaha Informal ... 3
1.2.3 Pekerja Informal ... 4
1.3 Tujuan ... 5
1.4 Ruang Lingkup dan Cakupan ... 5
1.5 Data yang Dikumpulkan ... 5
1.6 Jadwal Kegiatan ... 6
1.7 Jenis Instrumen yang Digunakan... 7
BAB II. METODOLOGI ... 9
2.1 Metode Pengumpulan Data ... 9
2.2 Rancangan Sampel ... 9
2.2.1 Rancangan SSI-1 (Pendekatan Rumah Tangga/Individu) ... 9
2.2.2 Rancangan SSI-2 (Pendekatan Usaha Rumah Tangga) ... 9
2.2.3 Kerangka Sampel ... 10
2.3 Stratifikasi Blok Sensus Survei Usaha Sektor Informal ... 10
2.4 Desain Sampel ... 10
2.5 Waktu Referensi Survei ... 11
BAB III. ORGANISASI LAPANGAN ... 13
3.1 Penanggung Jawab Pelaksanaan di Pusat dan Daerah ... 13
3.2 Petugas Lapangan ... 13
3.3 Prosedur Pencacahan ... 15
3.4 Tahapan Kegiatan Survei Sektor Informal ... 16
3.5 Arus Dokumen ... 17
BAB IV. KUESIONER SSI-1 DAN SSI-2 ... 19
4.1 Daftar SSI-1.RKP ... 19
4.1.1 Cara Pengisian Daftar SSI-1. RKP ... 19
4.2 Daftar SSI-1 ... 21
4.2.2 Tata Cara Pengisian Daftar SSI-1 ... 23
4.2.3 Blok I. Pengenalan Tempat ... 23
4.2.4 Blok II. Keterangan Petugas ... 24
4.2.5 Blok III. Keterangan ART Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu ... 25
4.2.6 Blok IV. Pengeluaran Rumah Tangga ... 633
4.2.7 Blok V. Keterangan Bangunan dan Rumah Tangga ... 64
4.3 Daftar SSI-2 ... 69
4.3.1 Petunjuk Umum ... 711
4.3.2 Blok I. Pengenalan Tempat dan Informasi Lain ... 711
4.3.3 Blok II. Keterangan Petugas ... 722
4.3.4 Blok III. Keterangan Usaha ... 722
4.3.5 Blok IV. Profil Pekerja Seminggu Yang Lalu ... 744
4.3.6 Blok V. Produksi dan Pendapatan ... 755
4.3.7 Blok VI. Pengeluaran ... 877
4.3.8 Blok VII. Permodalan ... 889
4.3.9 Blok VIII. Permasalahan dan Prospek ... 944
4.3.10 Blok IX. Catatan ... 955
LAMPIRAN
Lampiran 1... 99 Lampiran 2...101 Lampiran 3...109 Lampiran 4...111 Lampiran 5...117BAB I. PENDAHULUAN
1.1
Umum
Kegiatan pengumpulan data khusus statistik sektor informal pertama kali diujicobakan oleh Badan Pusat Statistik bekerjasama dengan ADB (Asean Development Bank) pada tahun 2009. Pada pilot Survei Sektor Informal (SSI) 2009 tersebut cakupan wilayahnya hanya dua provinsi yaitu Banten dan DI Yogyakarta. Mulai tahun 2014 pengumpulan data SSI dilakukan di seluruh wilayah Republik Indonesia yang diharapkan dapat menghasilkan statistik sektor informal secara nasional. Survei Sektor Informal (SSI) 2014 ini merupakan kelanjutan dari Pilot SSI tahun 2009. SSI adalah mixed survei yaitu survei yang menggabungkan pendekatan rumahtangga dan pendekatan usaha. Biasanya survei dengan pendekatan rumahtangga ditujukan untuk menggali informasi sosial kependudukan, sedangkan survei dengan pendekatan usaha (establishment) digunakan untuk mencari informasi perilaku ekonomi suatu usaha/perusahaan. Unit statistik pada SSI tahap 1 adalah rumahtangga dan unit statistik SSI tahap 2 adalah usaha sektor informal. Pencacahan SSI tahap 1 dilakukan berbarengan/setelah pencacahan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Modul yang digunakan adalah kuesioner SSI-1 yang berisikan pertanyaan-pertanyaan untuk menjaring informasi masing-masing anggota rumah tangga (ART) berumur 10 tahun ke atas yang bekerja seminggu yang lalu tentang status pekerjaannya, indikator pekerja layak (decent work), dan identifikasi usaha sektor informal. Dari kuesioner SSI-1 dapat diturunkan statistik tentang pekerjaan informal, pekerja di sektor informal, dan indikator lainnya terkait kebijakan di bidang ketenagakerjaan. Disamping itu, pada kuesioner SSI-1 juga terdapat pertanyaan untuk menyaring (identifikasi) usaha sektor informal yang nantinya akan menjadi responden SSI tahap 2. Pencacahan SSI tahap 2 dilakukan setelah SSI tahap 1 selesai dicacah untuk satu rumah tangga. Seperti dijelaskan diatas, unit statistik SSI tahap 2 adalah usaha sektor informal. SSI tahap 2 dilakukan dengan kuesioner SSI-2 dan bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang usaha sektor informal, data nilai produksi atau pendapatan usaha, struktur pengeluaran usaha, dan indikator terkait kebijakan terkait sektor informal. Dari informasi yang digali melalui kuesioner SSI-2 ini dapat diturunkan indikator makroekonomi berupa Produk Domestik Bruto (PDB) sektor informal menurut lapangan usaha dan kontribusi sektor informal dalam perekonomian Indonesia.
Konsep informal yang digunakan dalam SSI ini mengacu pada kesepakatan dalam ICLS ke-17 (17th International Conference on Labor Statisticians) tahun 2003. Sektor informal adalah sekelompok unit produksi yang merupakan bagian dari sektor rumah tangga, atau
apa yang disebut sebagai usaha rumah tangga tidak berbadan hukum (Household Unincorporated Enterprise). Usaha rumah tangga dibedakan dari korporasi dan kuasi korporasi. Ciri korporasi adalah organisasi legal dan memiliki set catatan keuangan/pembukuan, sedangkan usaha rumah tangga bukan merupakan entitas legal yang terpisah dari rumah tangga atau anggota rumah tangga yang memiliki usaha tersebut. Usaha rumah tangga tidak memiliki pembukuan yang terpisah dari rumah tangga. Usaha kemitraan tidak berbadan hukum yang dibentuk oleh beberapa rumah tangga juga termasuk dalam klasifikasi sektor informal.
Istilah sektor dalam kata “Sektor Informal” tidak sama dengan penggunaan kata sektor dalam arti lapangan usaha. Dalam konteks sektor informal, hanya memperhatikan rumah tangga yang melakukan aktivitas produksi. Anggota rumah tangga yang tidak memiliki aktivitas produksi tidak termasuk ke dalam cakupan sektor informal.
Dari sudut pandang System of National Account (SNA) 2008 paragraf 25.45, yang mengacu dari konsep sektor informal ILO, unit produksi sektor informal didefinisikan sebagai enterprise rumah tangga dengan setidaknya sebagian dari hasil produksi untuk dijual atau dibarter dengan batasan usahanya tidak teregistrasi atau terdaftar di instansi/lembaga manapun. Identifikasi sektor informal dari institusi yang lain dapat dilihat dari Tabel 1.
Tabel 1. Mengidentifikasi Unit di Dalam Sektor Informal ILO Sektor institusi Pemerintah umum Korporasi finansial dan non-finansial Rumahtangga Lembaga Non Profit yg melayani Rumah Tangga (LNPRT) Rumah tangga berisi usaha tidak berbadan hukum yang terdaftar dan mempekerja kan sejumlah pekerja Usaha sektor informal
(a) “usaha informal berdiri sendiri” tanpa tenaga kerja tetap (b) “usaha informal” dengan tenaga kerja tetap Institusi rumah tangga bukan usaha, rumahtangga produksi untuk konsumsi akhir sendiri (termasuk jasa sewa rumah milik sendiri dan PRT)
1.2
Konsep/definisi Sektor Informal, Usaha Informal, dan Pekerja Informal
1.2.1 Sektor Informal
Resolusi ICLS ke-17 menjelaskan bahwa sektor informal adalah:
1. Unit-unit yang terlibat dalam produksi barang atau jasa dengan tujuan utama menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan. Unit ini biasanya beroperasi dengan organisasi tingkat rendah atau dalam skala kecil, dengan sedikit atau tanpa pembedaan yang jelas antara tenaga kerja dan modal usaha sebagai faktor produksi. Status tenaga kerja sebagian besar berupa pekerja tidak tetap atau pekerja keluarga dan hubungan majikan-pekerja lebih kepada hubungan pribadi dan hubungan sosial daripada hubungan ketenagakerjaan dengan perjanjian dan/atau jaminan resmi.
2. Unit produksi sektor informal memiliki karakteristik sebagai usaha rumah tangga tidak berbadan hukum (household unincorporated enterprise). Aset tetap dan aset lainnya yang digunakan untuk usaha bukan milik unit produksi tetapi kepunyaan pemiliknya. Unit seperti ini tidak dapat melakukan transaksi atau terlibat kontrak dengan unit lain, atau mendapatkan pinjaman atas nama mereka sendiri. Pemilik harus mencari sumber dana dengan risikonya sendiri dan bertanggung jawab secara pribadi, tanpa batas, untuk hutang atau kewajiban yang timbul dalam proses produksi. Pengeluaran produksi sering kali tidak dapat dibedakan dari pengeluaran rumah tangga. Begitu pula dengan barang-barang modal seperti bangunan atau kendaraan tidak dapat dibedakan antara kepemilikan rumah tangga dan kepemilikan usaha.
3. Kegiatan yang dilaksanakan oleh unit produksi sektor informal tersebut tidak bermaksudsecara sengaja menghindar dari kewajiban pajak atau pembayaran jaminan sosial tenaga kerja, atau tidak secara sengaja melanggar peraturan atau ketentuan administratif ketenagakerjaan lainnya. Dengan demikian, konsep kegiatan sektor informal harus dibedakan dari konsep kegiatan ekonomi yang tersembunyi atau ilegal (hidden/underground economy).
Sektor informal dapat berupa aktivitas ekonomi yang teramati dan yang tidak teramati, berbeda dari aktivitas ilegal dan/atau tersembunyi/dirahasiakan. Sektor informal juga bukan bagian dari produksi rumah tangga untuk konsumsi akhir (contohnya petani subsisten, imputasi jasa sewa rumah milik sendiri, atau rumahtangga yang mempekerjakan pekerja domestik rumah tangga seperti pembantu rumahtangga, tukang kebun, sopir, baby sitter, dll)
1.2.2 Usaha Informal
Usaha informal dapat dibedakan menjadi dua yaitu (1) usaha informal yang berusaha sendiri (informal own-account enterprises) dan (2) usaha informal yang mempekerjakan
pekerja tetap. Jenis pertama usaha informal tersebut kemungkinan mempekerjakan pekerja keluarga dan pekerja tidak tetap tetapi tidak mempekerjakan pekerja tetap dan memiliki karakteristik yang dijelaskan pada dua butir pertama dari definisi sektor informal. Bergantung norma yang berlaku di setiap negara, usaha informal yang berusaha sendiri dapat berupa usaha yang tidak terdaftar seperti disyaratkan oleh aturan atau undang-undang tertentu atau berupa usaha yang dilakukan sendiri. Semua atau setidaknya sebagian dari barang atau jasa yang dihasilkan usaha informal dimaksudkan untuk dijual atau ditukar.
Berdasarkan definisi di atas, pekerjaan di sektor informal mencakup semua pekerjaan atau semua orang yang bekerja pada usaha sektor informal, yang selama periode referensi tertentu bekerja setidaknya pada satu usaha sektor informal tanpa memperhatikan status pekerjaan mereka dan tanpa memperhatikan juga apakah itu merupakan pekerjaan utama mereka (Hussmanns, 2004 seperti dikutip dalam Maligalig, 2008). Selain itu, pekerjaan informal dicirikan oleh ketiadaan kontrak, perlindungan sosial, hak untuk berbagai jaminan dan tidak tunduk pada undang-undang tenaga kerja dan pendapatan pajak, yang mungkin tidak sepenuhnya tertangkap pada pekerjaan di sektor informal. Oleh karena itu, Kelompok Ahli Statistik Sektor Informal PBB (Kelompok Delhi), yang dibentuk pada tahun 1997 untuk menyelaraskan definisi nasional tentang sektor informal untuk meningkatkan keterbandingan internasional, merekomendasikan agar definisi pekerjaan di sektor informal ditambahkan pula dengan definisi pekerjaan informal.
1.2.3 Pekerja Informal
ICLS ke-17 mendefinisikan pekerja informal sebagai "karyawan dianggap memiliki pekerjaan informal jika hubungan kerja mereka tidak tunduk pada undang-undang tenaga kerja, tidak dikenakan pajak pendapatan, minimnya perlindungan sosial atau hak tertentu untuk jaminan kerja (seperti pemberitahuan pemecatan sebelumnya, sistem pembayaran gaji tanpa rincian/nota, atau tiadanya hak cuti, ijin sakit, dll)". Perlu diketahui bahwa definisi ini dibuat untuk konsep pekerjaan dan bukan untuk tenaga kerja karena setiap orang dapat secara bersamaan memiliki dua pekerjaan atau lebih.
Pekerjaan informal dapat diklasifikasikan lebih lanjut menjadi dua: (1) usaha sendiri informal dan (2) pekerjaan upahan informal yang dipekerjakan di usaha formal atau informal yang mencakup karyawan tanpa kontrak resmi, tanpa jaminan ketenagakerjaan atau perlindungan sosial. Adapun yang termasuk usaha sendiri informal adalah pengusaha pada sektor informal, berusaha sendiri pada usaha informal, pekerja keluarga tidak dibayar dan anggota koperasi/kemitraan produksi informal (Chen, 2006 seperti dikutip dalam Maligalig, dkk, 2008). Pembedaan ini menyarankan agar pekerja informal dibagi dalam
seluruh kategori status pekerja: pengusaha, buruh, berusaha sendiri, pekerja keluarga tidak dibayar dan anggota koperasi/kemitraan produksi informal.
1.3
Tujuan
Secara umum tujuan dari SSI 2014 adalah untuk menyediakan data pokok ketenagakerjaan di sektor informal. Secara khusus, SSI bertujuan menyediakan data jumlah pekerja di usaha sektor informal, menyediakan data jumlah pekerja informal, menyediakan data pekerja informal menurut lapangan usaha, menyediakan data pekerja informal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menurut lapangan usaha. Selain itu menyediakan data pekerjaan layak (decent work) untuk sektor informal.
1.4
Ruang Lingkup dan Cakupan
SSI 2014 dilaksanakan di seluruh wilayah Republik Indonesia. Pelaksanaan lapangan diintegrasikan dengan pendataan Sakernas dan dilaksanakan dengan mengambil sampel di blok sampel (BS) terpilih Sakernas. Jumlah sampel SSI 2014 sebanyak 2.500 BS yang terdiri dari 25.000 rumah tangga (RT) di seluruh provinsi baik di perkotaan maupun perdesaan. Rumah tangga korps diplomatik, rumah tangga yang tinggal baik blok sensus khusus dan rumah tangga khusus yang berada di blok sensus biasa tidak dipilih dalam sampel.
Cakupan sektor informal dalam kegiatan ini yaitu: usaha rumah tangga yang hasil produksinya semua atau sebagian dijual atau dibarter (tidak termasuk jasa sewa rumah yang dihuni sendiri dan jasa domestik staf serta produksi barang seluruhnya untuk konsumsi sendiri), status usahanya tidak berbadan hukum, tidak mempunyai catatan pembukuan yang lengkap.
1.5
Data yang Dikumpulkan
Data yang dikumpulkan pada SSI 2014 mencakup:
a. Dalam pendataan SSI-1 yaitu keterangan mengenai sektor dan pekerjaan informal, registrasi dan kriteria jumlah pekerja, identifikasi sektor informal, indikator pekerjaan layak, pengeluaran rumah tangga, dan keterangan bangunan dan rumah tangga, b. Dalam pendataan SSI tahap 2 (SSI-2) berupa data kualitatif dan kuantitatif sektor
informal, antara lain : keterangan usaha, profil pekerja seminggu yang lalu, produksi dan pendapatan, pengeluaran, serta permasalahan dan prospek usaha.
1.6
Jadwal Kegiatan
Berikut ini adalah jadwal kegiatan Survei Sektor Informal yang akan dilaksanakan pada tahun 2014:
NO. KEGIATAN JADWAL
(1) (2) (3)
1. Pembahasan kuesioner dan buku pedoman Maret – April 2014 2. Workshop instruktur utama (Intama) 28 – 30 Mei 2014 3. Pencetakan dokumen di BPS Daerah Juni 2014 4. Pelatihan
a. Instruktur Nasional (Innas) 2 – 7 Juni 2014
b. Petugas Daerah 16 – 27 Juni 2014
5. Pelaksanaan Lapangan
a. Pencacahan Rumah Tangga SSI 8 – 31 Agustus 2014 b. Pengawasan/Pemeriksaan Rumah Tangga SSI 8 Agust – 2 Sept 2014 6. Pengiriman dokumen dari BPS Provinsi ke BPS RI 26 Agust – 17 Sept 2014
7. Pengolahan di BPS RI 2 Sept – 31 Okt 2014
8. Kompilasi Data dan Tabulasi di BPS RI 1 – 22 November 2014 9. Evaluasi dan Pembahasan Hasil di BPS RI 23 Nov – 14 Des 2014
1.7
Jenis Instrumen yang Digunakan
Berikut ini adalah jenis instrumen yang digunakan dalam pelaksanaan Survei Sektor Informal yang akan dilaksanakan pada tahun 2014:
No Jenis Instrumen Kegunaan Petugas Rangkap Disimpan
di 1. Sketsa Peta Blok
Sensus Sketsa wilayah tugas Pencacah 1
BPS kab/kota 2. Daftar SAK14.DSRT Pencatatan rumah
tangga terpilih sampel Pencacah 1
BPS kab/kota 3. Daftar SAK14.SAK Pencacahan rumah tangga terpilih (penduduk 10 tahun ke atas) Pencacah 1 BPS kab/kota
4. Daftar SSI-1.RKP Untuk rekapitulasi anggota rumah tangga Sakernas Agustus 2014 Pencacah 1 BPS RI 5. Daftar SSI-1 Untuk menjaring seluruh pekerjaan anggota rumah tangga berumur 10 tahun keatas Untuk identifikasi sektor informal Pencacah 1 BPS RI
6. Daftar SSI-2 Untuk mencatat kegiatan produksi sektor informal
Pencacah 1 BPS RI
7. Pedoman Kepala BPS Kab/ Kota
Pedoman kerja Kepala
BPS Kab/Kota - 1
BPS kab/kota
8. Pedoman pencacah
SSI-1 dan SSI-2 Pedoman pencacah Pencacah 1
Pencacah dan Pengawas 9. Pedoman pengawas/
pemeriksa SSI-1 Pedoman pengawas Pengawas 1 Pengawas
10. Pedoman pengawas/
BAB II. METODOLOGI
2.1
Metode Pengumpulan Data
Untuk menghasilkan metode yang paling efektif maka Survei Sektor Informal terintegrasi Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) dengan memasukkan pertanyaan tentang pekerjaan informal dan pertanyaan-pertanyaan yang digunakan untuk menyeleksi atau mengidentifikasi Sektor Informal. Pada fase ini diharapkan akan terbentuk kerangka sampel untuk Survei Sektor Informal itu sendiri, dan pada fase kedua seluruh sektor informal yang teridentifikasi pada fase pertama selanjutnya akan menjadi eligible respondent (responden yang layak dicacah). Dengan demikian, metode ini dianggap paling efektif dari segi biaya karena tidak diperlukan listing lagi dalam membentuk kerangka sampel untuk Survei Sektor Informal.
2.2 Rancangan Sampel
2.2.1 Rancangan SSI-1 (Pendekatan Rumah Tangga/Individu)
Jumlah sampel minimum dihitung dengan memanfaatkan data hasil Sakernas triwulan III 2013 dengan harapan memberikan gambaran yang lebih akurat pada level nasional. Jumlah sampel adalah 25000 rumah tangga dengan tingkat presisi relatif terhadap total karakteristik sektor informal 1-2 persen. Rancangan sampel tetap mengikuti rancangan pengambilan sampel Sakernas, yaitu memilih blok sensus, dan setiap blok sensus 10 rumah tangga. Dengan jumlah rumah tangga SSI-1 adalah 25000, maka jumlah blok sensus SSI-1 2500. Blok sensus SSI adalah sub sampel blok sensus Sakernas komplemen.
Untuk seluruh blok sensus terpilih Survei Sektor Informal, seluruh Usaha Sektor Informal yang teridentifikasi dalam daftar SSI-1 akan langsung ditentukan sebagai responden Survei Usaha Sektor Informal. Dengan demikian Sakernas dan SSI dilaksanakan sekaligus dengan pelaksanaan Sakernas Agustus 2014.
2.2.2 Rancangan SSI-2 (Pendekatan Usaha Rumah Tangga)
SSI-2 dirancang untuk suvei pendekatan usaha rumah tangga. Sampel SSI-1 dijadikan sampel pada fase pertama yang identik dengan sampel Sakernas Komplemen. Usaha rumah tangga yang berorientasi produksi pasar yang teridentifikasi dalam fase pertama tersebut akan dicacah dan sekaligus merupakan responden SSI-1. Sehingga sampel SSI-1
akan menjadi kerangka sampel usaha sektor informal untuk SSI-2, melalui identifikasi sektor informal di setiap pekerjaan SSI-1.
2.2.3 Kerangka Sampel
Kerangka sampel SSI-1 dan SSI-2 terdiri dari 2 jenis: 1. Kerangka Sampel SSI-1 (rumah tangga)
a. Kerangka sampel tahap I: daftar sampel blok sensus Sakernas komplemen (Agustus 2013) yang berjumlah sekitar 25000 blok sensus
b. Kerangka sampel tahap II: daftar rumah tangga Sakernas pada blok sensus terpilih SSI-1
2. Kerangka Sampel SSI-2 (usaha)
Daftar usaha berorientasi pasar yang ada di setiap rumah tangga Sakernas pada setiap blok sensus SSI-1. Kerangka sampel ini disebut sebagai kerangka sampel SSI-2, dimana seluruh usaha sektor informal didata.
2.3
Stratifikasi Blok Sensus Survei Usaha Sektor Informal
Untuk memastikan seluruh sektor dalam neraca nasional dapat terwakili dalam Survei Sektor Informal, maka sebelum sampel blok sensus SSI-1 dipilih dari blok Sakernas komplemen, maka blok sensus terpilih Sakernas Agustus 2013 Paket 5, 6, 7 distratifikasi terlebih dahulu berdasarkan jumlah pekerja dengan status berusaha sendiri dan berusaha dibantu dengan pekerja tidak tetap/tidak dibayar karena dua status pekerja ini dianggap berpotensi di Sektor Informal.
2.4 Desain Sampel
1. Desain sampel SSI-1 dan SSI-2 terdiri dari dua jenis yaitu :
a. Desain Sampel SSI-1 (rumah tangga): memilih 2500 blok sensus dari blok sensus Sakernas komplemen (Agustus 2013) secara sistematik sampling. Seluruh rumah tangga Sakernas pada blok terpilih SSI didata.
b. Desain Sampel SSI-2 (usaha) : seluruh usaha berorientasi pasar sektor informal yang teridentifikasi di setiap rumah tangga Sakernas pada blok sensus SSI-1 didata.
2. Distribusi/alokasi sampel blok sensus per strata dilakukan untuk setiap Kab/Kota, dan secara lengkap terlampir. Strata sebagai berikut : (1) Pertanian (2) Pertambangan (3) Industri (4) Listrik (5) Konstruksi (6) Perdagangan (7) Transportasi (8) Lembaga Keuangan (9) Jasa swasta. Alokasi untuk setiap provinsi dapat dilihat di Tabel 3.
2.5
Waktu Referensi Survei
Waktu referensi yang digunakan pada survei ini adalah seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, 6 bulan yang lalu, dan 12 bulan yang lalu dari tanggal pencacahan.
Tabel 2.Alokasi Blok Sensus Sampel SSI-1 2014 Menurut Provinsi dan Lapangan Usaha
Provinsi Lapangan Usaha
1 2 3 4 5 6 7 8 9 Total (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 11 Aceh 14 2 15 1 13 14 15 4 14 92 12 Sumatera Utara 23 8 21 6 21 22 21 11 23 156 13 Sumatera Barat 10 8 11 2 12 12 11 7 12 85 14 Riau 10 1 9 1 8 9 8 6 10 62 15 Jambi 9 3 5 1 7 9 5 2 8 49 16 Sumatera Selatan 14 6 8 1 8 11 11 7 10 76 17 Bengkulu 6 4 5 1 6 7 5 3 5 42 18 Lampung 10 5 9 1 9 12 10 7 9 72
19 Kep. Bangka Belitung 3 5 5 2 4 4 4 2 4 33
21 Kepulauan Riau 5 2 5 2 3 5 5 2 5 34 31 DKI Jakarta 4 - 7 1 8 10 10 9 10 59 32 Jawa Barat 27 14 32 3 31 28 33 20 31 219 33 Jawa Tengah 30 19 36 - 34 27 36 22 34 238 34 D.I. Yogyakarta 3 3 5 - 5 5 5 5 6 37 35 JawaTimur 31 22 39 1 38 32 36 22 37 258 36 Banten 7 4 9 1 8 8 9 8 10 64 51 Bali 6 2 9 1 7 6 7 5 9 52
52 Nusa Tenggara Barat 6 5 8 1 8 5 6 5 7 51 53 Nusa Tenggara Timur 15 7 13 2 9 10 11 4 8 79 61 Kalimantan Barat 13 6 7 1 7 11 7 3 8 63 62 Kalimantan Tengah 9 7 7 1 7 8 7 4 6 56 63 Kalimantan Selatan 9 6 8 2 8 7 8 5 8 61 64 Kalimantan Timur 11 5 8 4 7 10 7 6 8 66 71 Sulawesi Utara 7 6 7 - 9 7 9 5 9 59 72 Sulawesi Tengah 7 5 7 1 6 8 6 3 6 49 73 Sulawesi Selatan 15 9 15 3 14 14 16 9 14 109 74 Sulawesi Tenggara 5 4 7 1 5 8 7 3 7 47 75 Gorontalo 2 3 4 - 4 2 3 1 4 23 76 Sulawesi Barat 3 1 3 1 2 4 3 1 3 21 81 Maluku 8 3 4 - 4 7 6 2 4 38 82 Maluku Utara 7 2 4 - 4 5 4 2 3 31 91 Papua Barat 6 1 4 1 4 5 4 2 4 31 94 Papua 32 5 7 - 7 16 10 4 7 88 Jumlah 367 183 343 43 327 348 345 201 343 2.500
BAB III. ORGANISASI LAPANGAN
3.1
Penanggung Jawab Pelaksanaan di Pusat dan Daerah
Penanggung jawab pelaksanaan Survei Sektor Informal 2014 di BPS RI adalah Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan dan Direktur Statistik Neraca Produksi. Penanggung jawab pelaksanaan di daerah, baik teknis maupun administrasi adalah Kepala BPS Provinsi yang dibantu oleh Kepala Bidang Statistik Sosial dan Kepala Bidang Neraca serta Kepala BPS Kabupaten/Kota yang dibantu oleh Kepala Seksi Statistik Sosial dan Kepala Seksi Nerwilis. Dengan demikian BPS Provinsi dan BPS Kabupaten/Kota bertanggung jawab mulai dari penentuan petugas, termasuk aspek-aspek pelaksanaan lapangan lainnya yang berhubungan dengan survei ini.
3.2
Petugas Lapangan
Petugas lapangan SSI terdiri dari: a) Pengawas (PMS), dan b) Pencacah (PCS). Pengawas diutamakan Kepala Seksi (Kasi) Statistik Sosial atau Kasi Nerwilis atau staf senior di BPS Kabupaten/Kota yang telah berpengalaman dalam Sakernas. Atas pertimbangan tertentu, pengawas dapat berasal dari Staf BPS Provinsi atau Kasi selain Kasi Statistik Sosial/Neraca di BPS Kabupaten/Kota yang berpengalaman dalam Sakernas. 1. Tugas Pengawas (PMS)
a. Mengikuti pelatihan petugas lapangan Survei Sektor Informal 2014;
b. Merencanakan pembagian tugas masing-masing pencacah dari masing-masing blok sensus terpilih yang menjadi tanggung jawabnya;
c. Memeriksa kelengkapan dokumen untuk pelaksanaan lapangan, seperti surat tugas;
d. Mendistribusikan dokumen yang akan digunakan di lapangan sesuai dengan kebutuhan masing-masing pencacah serta mengatur alur dokumen;
e. Mengatur kegiatan perjalanan ke lokasi, penggunaan dana, dan bahan-bahan yang dibutuhkan sebelum kegiatan lapangan dimulai;
f. Bersama pencacah mengenali lokasi yang menjadi beban tugasnya;
g. Mengevaluasi kinerja pencacah sejak awal pencacahan dengan cara pengawas bersama-sama pencacah mendatangi rumah tangga terpilih pertama, sehingga kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi bisa dihindari sedini mungkin;
h. Membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ditemui pencacah. Jika menemukan masalah yang meragukan tentang konsep dan definisi, pengawas harus mengacu pada buku pedoman pencacahan atau pencatatan yang diberikan selama pelatihan;
i. Memantau kualitas data dengan melakukan pengecekan langsung dengan cara mengkonfirmasi kuesioner yang diisi pencacah bila isian dalam kuesioner meragukan;
j. Mengumpulkan dan memeriksa kelengkapan dokumen, memeriksa isiannya seperti akurasi, konsistensi, kewajaran serta melakukan koreksi dan memberitahukan kesalahan yang dilakukan pencacah agar clean sebelum ke blok sensus berikutnya;
k. Memberitahukan lokasi petugas dari waktu ke waktu agar mudah dipantau;
l. Menjaga tergalangnya semangat dan kerja sama yang tinggi antara PCS dan PMS;
m. Menepati jadwal yang telah ditetapkan.
2. Tugas Pencacah (PCS)
a. Mengikuti pelatihan petugas lapangan Survei Sektor Informal 2014;
b. Bersama pengawas mengidentifikasi alamat rumah tangga terpilih berdasarkan SAK14.DSRT;
c. Melakukan rekapitulasi dengan menyalin informasi nomor urut dan nama angggota rumahtangga, lapangan pekerjaan utama, jenis pekerjaan utama, status pekerjaan utama, jam kerja serta lapangan pekerjaan tambahan pada SAK14. AK kedalam daftar SSI-1.RKP;
d. Menyalin keterangan yang terkait untuk ART berumur 10 tahun keatas yang bekerja dari daftar SSI-1.RKP kedalam daftar SSI-1;
e. Menjalin kerjasama yang baik dengan semua responden;
f. Memeriksa kembali kebenaran isian daftar SSI-1 dan SSI-2 (konsistensi kedua daftar) dari hasil pencacahan, bila ternyata masih ada kesalahan atau keraguan harus ditanyakan kembali pada responden;
g. Bersama pengawas mendiskusikan kesulitan yang ditemui di lapangan; h. Merahasiakan semua keterangan yang diperoleh dari responden; i. Menepati jadwal yang telah ditetapkan.
3.3
Prosedur Pencacahan
1. Membuat perencanaan dan jadwal pelaksanaan pencacahan untuk setiap blok sensus. Lakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen yang diperlukan dan lainnya. 2. Sebelum melakukan wawancara sebaiknya PCS melakukan penyalinan Identitas
Pengenalan Tempat (Blok I) dari daftar SAK14.AK serta ART 10 tahun ke atas yang bekerja sesuai daftar SSI-1.RKP.
3. Pada hari pertama pencacahan, PMS mendampingi para pencacah dalam melakukan wawancara, pada responden pertama yang menjadi beban tugas setiap PCS.
4. PCS dalam melakukan wawancara dengan ART yang memenuhi syarat menggunakan daftar SSI-1 terlebih dahulu. Setelah selesai dan diketahui ada ART yang melakukan usaha informal, baru wawancara dilanjutkan dengan daftar SSI-2.
5. PMS memeriksa hasil pencacahan rumah tangga di hari pertama pencacahan, serta mendiskusikan permasalahan yang ditemui, memberi petunjuk bagaimana cara menyelesaikannya.
6. PMS memeriksa hasil pencacahan serta konsistensi antara kuesioner pada satu blok sensus di lapangan dan harus clean (isian sudah tepat dan konsisten meliputi proses editing dan coding).
7. Menepati jadwal yang telah ditetapkan.
8. Menjaga tergalangnya semangat dan kerja sama yang tinggi dengan pencacah.
9. Mengumpulkan dan memeriksa kelengkapan instrumen, seperti akurasi, konsistensi kewajaran dan kualitas data hasil pengolahan sebelum ke blok sensus lain.
10. Menyerahkan semua dokumen hasil pencacahan ke BPS Kab/Kota. 11. Menepati jadwal yang telah ditetapkan.
3.4
Tahapan Kegiatan Survei Sektor Informal
TAHAPAN KEGIATAN SSI AGUSTUS 2014 Siapkan Sketsa Peta BS Hasil Listing Sakernas 2014 Melakukan Identifikasi Blok Sensus Terpilih SSI-1
Penyalinan dan
Pencacahan Daftar SSI-1
Identifikasi ART bekerja pada SAK14.AK
Bekerja? Tidak disalin dalam Daftar
SSI-1
Pencacahan Daftar SSI-2
Ya
Tidak
Kolom (44) bertanda checklist
Rekapitulasi pada Daftar SSI-1.RKP
Penyerahan Kuesioner ke BPS RI dari BPS Kab/Kota melalui BPS Provinsi:
1. Daftar SSI-1.RKP 2. Daftar SSI-1 3. Daftar SSI-2
Pemeriksaan isian dan konsistensi Daftar SSI-1 dan Daftar SSI-2
Pengolahan di BPS RI:
1. Editing Coding dan entri Daftar SSI-1 2. Editing Coding dan entri Daftar SSI-2
Kompilasi Data dan Tabulasi SSI di BPS RI
Laporan Hasil SSI 2014 di BPS RI
3.5
Arus Dokumen
BPS RI BPS PROVINSI BPS KABUPATEN/KOTA SSI-1.RKP SSI-1 SSI-2 SAK14.AK SSI-1.RKP SSI-1 SSI-2 Softcopy Sketsa Peta BS SAK+SSI SAK14.P SAK14.DSRT SAK14.AK SSI-1.RKP SSI-1 SSI-2 PENGAWAS PENCACAH Sketsa Peta BS SAK+SSI SAK14.P SAK14.DSRT SAK14.AK SSI-1.RKP SSI-1 SSI-2 SSI-1.RKP SSI-1 SSI-2 SAK14.AK SSI-1.RKP SSI-1 SSI-2 SoftcopyBAB IV. KUESIONER SSI-1 DAN SSI-2
Bab ini membahas petunjuk rinci tentang cara mengisi Daftar SSI-1 dan Daftar SSI-2. Daftar SSI-1 bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai karakteristik populasi yang dituju sedangkan Daftar SSI-2 ditujukan untuk mencacah usaha rumah tangga tidak berbadan hukum yang melakukan proses produksi dengan sebagian atau seluruh outputnya dipasarkan.
4.1
Daftar SSI-1.RKP
Daftar SSI-1.RKP digunakan untuk merekap seluruh anggota rumah tangga yang disalin dari Blok IV dan Blok V.C daftar SAK14.AK. Tujuan Daftar SSI-1.RKP adalah untuk kontrol konsistensi lapangan usaha, jenis pekerjaan dan status pekerjaan untuk setiap anggota rumah tangga yang bekerja yang teridentifikasi dari daftar SAK14.AK.
4.1.1 Cara Pengisian Daftar SSI-1. RKP
Keterangan yang dicatat adalah nama ART, hubungan dengan KRT, Jenis dan Lapangan Pekerjaan Utama, Pekerjaan Tambahan, Status Pekerjaan dan Jumlah Jam Kerja yang disalin dari Daftar SAK14.AK.
Provinsi, Kabupaten/Kota, Nomor Kode Sampel (NKS) Sakernas Agustus dan Nomor Urut Rumah Tangga Sampel.
Tuliskan identitas Provinsi, Kabupaten/Kota, NKS Sakernas dan nomor urut rumah tangga sampel, dengan menyalin isian Rincian 1, Rincian 2, Rincian 7 dan 8 dari Blok I Daftar SAK14.AK.
Keterangan Anggota Rumah Tangga
Tujuan dari blok ini untuk menyalin semua anggota rumah tangga pada rumah tangga terpilih agar tidak ada yang terlewat cacah atau tercatat ganda, serta mencatat Jenis, Lapangan, Status dan Jam Kerja Utama serta Lapangan Pekerjaan Tambahan untuk seluruh anggota RT yang bekerja sesuai dengan Daftar SAK14.AK. Selain itu untuk mengetahui banyaknya anggota rumah tangga yang akan diwawancarai dengan daftar SSI1.
Kolom (1). Nomor urut
Nomor urut anggota rumah tangga telah disediakan dari nomor 01 s.d 15. Jika banyaknya anggota rumah tangga lebih dari 15 orang, maka tambahkan daftar baru. Tuliskan kata
"Bersambung" pada sudut kanan atas halaman depan daftar yang pertama dan kata "Sambungan" pada sudut kanan atas halaman depan dari daftar yang berikutnya. Ganti nomor urut anggota rumah tangga 01 menjadi 16, 02 menjadi 17 dan seterusnya sampai semua anggota rumah tangga.
Kolom (2). Nama anggota rumah tangga
Salin sesuai Daftar SAK14.AK Blok IV Kolom (2).
Kolom (3). Hubungan dengan kepala rumah tangga
Salin sesuai Daftar SAK14.AK Blok IV Kolom (3).
Kolom (4). Apakah ART bekerja?
Tuliskan Kode 1 (“Ya”) apabila Daftar SAK14.AK Blok V.B Rincian 2.a.1=1 atau Rincian 3=1. Selain itu tuliskan Kode 2 (‘”Tidak”) pada Daftar SSI-1.RKP.
Kolom (5). Jenis pekerjaan utama
Salin uraian Jenis Pekerjaan Utama sesuai dengan isian Daftar SAK 14.AK Blok V.C Rincian 10.
Kolom (6). Lapangan pekerjaan utama
Salin uraian Lapangan Pekerjaan Utama sesuai dengan isian Daftar SAK 14.AK Blok V.C Rincian 9.
Kolom (7). Status pekerjaan utama
Salin kode status pekerjaan utama yang dilingkari pada Daftar SAK 14.AK Blok V.C
Rincian 12.
Kolom (8). Jumlah jam kerja utama seminggu yang lalu?
Tuliskan jumlah jam kerja utama dalam (dua angka) yang disalin dari Daftar SAK 14.AK Blok V.B Rincian 11.
Kolom (9). Lapangan Pekerjaan Tambahan
Salin uraian lapangan pekerjaan tambahan sesuai dengan isian Daftar SAK 14.AK Blok V.D Rincian 18.
Apabila Kolom (4) = Kode 1 (“Ya”) maka Kolom (5) s.d Kolom
(9) harus ada isian, tetapi jika Kolom (4) = Kode 2 (“Tidak) maka
4.2
Daftar SSI-1
Bagian ini membahas petunjuk mengenai cara pengisian Daftar SSI-1 yang terdiri dari 5 (lima) blok, yaitu:
Blok I : Pengenalan Tempat Blok II : Keterangan Petugas
Blok III : Keterangan ART Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu
Blok IV : Pengeluaran Rumah Tangga
Blok V :Keterangan Bangunan dan Rumah Tangga
Tujuannya untuk mengumpulkan informasi tentang karakteristik populasi yang dituju, serta penjelasan dari usaha tempat mereka bekerja. Blok IV bertujuan untuk mengumpulkan data pengeluaran rumah tangga, yang akan digunakan untuk analisis tingkat kemiskinan pekerja. Sementara Blok V dimaksudkan untuk mengetahui keadaan kesejahteraan rumah tangga (Wealth Index) ditinjau dari kualitas dan fasilitas rumah tempat tinggal.
Daftar SSI-1 adalah daftar yang digunakan untuk tahap 1 Survei Sektor Informal. Tujuan utama dari kuesioner ini adalah untuk menentukan pekerjaan informal, serta mengidentifikasi responden yang mungkin melakukan usaha rumah tangga yang tidak berbadan hukum dengan setidaknya beberapa produksi pasar (usaha sektor informal). Daftar SSI-1 terdiri dari 2 bagian utama, yaitu:
1. Halaman Depan
a. Pengenalan Tempat pada Blok I. Halaman ini berisi tentang fakta-fakta geografis lokasi rumah tangga yang sedang diwawancarai.
b. Keterangan Petugas pada Blok II. Keterangan pencacah dan pemeriksa untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab melakukan pencacahan dan pemeriksaan hasil wawancara (kuesioner), serta keterangan waktu pelaksanaan pencacahan dan pemeriksaan kuesioner.
2. Bagian Pertanyaan Kuesioner
a. Blok III. Keterangan ART Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu
i. Pertanyaan pekerjaan informal [Kolom (8)-(11) dan kolom (13)] – mengumpulkan data tentang karakteristik dari populasi yang dituju.
ii. Pertanyaan usaha informal [Kolom (8)-(9); (13); (30)] – mengumpulkan data karakteristik usaha dan sektor tempat populasi bekerja. Pertanyaan ini akan membantu mengidentifikasi usaha informal.
iii. Pertanyaan pekerjaan layak [Kolom (14)-(28) dan Kolom (38)] – mengumpulkan data mengenai penerimaan jaminan sosial, kecelakaan kerja, dan rata-rata pendapatan bersih sebulan.
b. Blok IV. Pengeluaran rumah tangga – mengumpulkan data pengeluaran rumah tanggayang akan digunakan untuk analisis tingkat kemiskinan pekerja. c. Blok V. Keterangan Bangunan dan Rumah Tangga – dimaksudkan untuk
mengetahui keadaan kesejahteraan rumah tangga (Wealth Index) ditinjau dari kualitas dan fasilitas rumah tempat tinggal.
CATATAN: Perlu diperhatikan bahwa bagian ini untuk seluruh ART berumur 10 tahun keatas yang bekerja
PENTING! Identifikasi Responden Daftar SSI-1
Ikuti instruksi berikut dalam mengisi Daftar SSI-1:
Petugas harus mengidentifikasi anggota rumah tangga yang bekerja terlebih dahulu, dengan menggunakan informasi yang dikumpulkan dari daftar SSI-1.RKP kolom (4) yang berkode 1.
Untuk memastikan, mereka harus merupakan responden untuk pertanyaan R.8 sampai R.18 dari daftar SAK14.AK.
Salin nomor urut dan nama anggota rumah tangga yang bekerja dari daftar SSI-1.RKP ke Kolom (1) dan Kolom (2) pada Daftar SSI-1.
4.2.1 Petunjuk Umum
Petugas harus membawa Daftar SSI-1 dalam jumlah yang cukup untuk pencacahan harian. Pastikan semua halaman (1-6) kuesioner sudah lengkap. Sebelum memulai, petugas harus sudah mengisi Blok I. Pengenalan Tempat. Salin informasi ini dari Blok I. Pengenalan Tempat pada Daftar SAK14.AK.
Petugas baik pencacah maupun pengawas harus mengisi keterangan pada Blok II, setelah setiap kunjungan ke rumah tangga. Blok ini harus diselesaikan setelah kunjungan ke rumah tangga berakhir.
Blok III dari Daftar SSI-1 hanya dapat menampung maksimal 6 (enam) anggota rumah tangga/ responden yang bekerja dengan masing-masing ART hanya memiliki 1 (satu) pekerjaan utama. Oleh karena itu, jika suatu rumah tangga memiliki lebih dari 6 (enam) anggota yang bekerja, atau suatu rumah tangga dengan jumlah pekerjaan utama dan pekerjaan tambahan yang dimiliki ART melebihi jumlah baris yang disediakan, maka
akan ada kuesioner tambahan yang akan diisi untuk rumah tangga ini. Namun, hanya satu lembar kerja Blok IV dan Blok V yang harus diisi oleh satu rumah tangga, tanpa memperhitungkan jumlah anggota rumah tangganya. Jika menggunakan kuesioner tambahan tuliskan kata ‘Bersambung’ pada sudut kanan atas halaman depan daftar yang pertama, dan kata ‘Sambungan’ di sudut kanan atas halaman depan dari daftar yang berikutnya.
4.2.2 Tata Cara Pengisian Daftar SSI-1
Responden SSI tidaklah mengenal/ terbiasa dengan survei ini. Oleh karena itu Anda sebagai pencacah harus mengenalkan SSI kepada responden terlebih dahulu. Seberapa baik petugas dapat menjelaskan tujuan dari survei ini akan menentukan kemudahan dan keterbukaan responden dalam menjawab pertanyaan.
Berikut adalah contoh pengenalan yang dapat digunakan atau dapat dimodifikasi oleh petugas sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
”Tahun ini, bersamaan dengan Sakernas, BPS mengadakan survei baru yang penting bagi Indonesia, yaitu Survei Sektor Informal. Survei ini dilaksanakan dengan tujuan utama mengumpulkan data tentang pekerjaan informal dan usaha di sektor informal untuk membantu dalam memperkirakan jumlah dan persentase pekerjaan dan usaha sektor informal diantara penduduk yang bekerja, dan kontribusinya tehadap perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, kuesioner ini akan kami gunakan untuk menggali karakteristik pekerjaan Anda dan usaha tempat Anda bekerja.
Akan ada pertanyaan tentang pajak dan pendaftaran usaha/perusahaan, selain itu seluruh informasi yang Anda sampaikan kepada kami adalah rahasia dan tidak akan digunakan untuk mendakwa Anda bila muncul masalah di kemudian hari. Seluruh data yang dikumpulkan hanya untuk keperluan analisis.”
4.2.3 Blok I. Pengenalan Tempat
Blok I. Pengenalan Tempat terdiri dari sembilan (9) rincian, yaitu: 1. Provinsi
2. Kabupaten/Kota 3. Kecamatan 4. Desa/Kelurahan
5. Klasifikasi Desa/Kelurahan (Perkotaan/Perdesaan) 6. Nomor Blok Sensus
7. Nomor Kode Sampel
9. Nama Kepala Rumah Tangga
Cara pengisian: salin semua informasi Blok I. Pengenalan Tempat Daftar SSI-1 Rincian 1 sampai dengan 9 dari Daftar SAK14.AK Blok I. Rincian 1 sampai dengan Rincian 9.
4.2.4 Blok II. Keterangan Petugas
Blok II. Keterangan Petugas terdiri dari tiga (3) rincian, yaitu: 1. Kode dan No HP Pencacah.
Kode pencacah berisi 4 kotak, dengan cara pengisian sebagai berikut:
Kotak 1 mengenai kode pengawas (nomor urut pengawas dalam kabupaten/kota) Kotak 2 mengenai kode pencacah (pencacah 1=1; pencacah 2=2; pencacah 3=3; dan seterusnya)
Kotak 3 mengenai status pencacah
Kotak 4 mengenai keterangan pencacah yang sama sebagai petugas Sakernas atau berbeda dengan petugas Sakernas.
Isikan kode 0 apabila petugas pencacah Sakernas sama dengan petugas pencacah SSI.
Isikan kode 1 apabila petugas pencacah Sakernas tidak sama/berbeda dengan petugas pencacah SSI
Kemudian isikan No HP petugas yang masih aktif digunakan untuk memudahkan komunikasi.
2. Nama Pencacah, Tanggal Pencacahan dan Tanda Tangan.
Isikan nama pencacah yang ditunjuk untuk melakukan pencacahan pada rumah tangga terpilih, tanggal pada saat pencacahan dan setelah selesai bubuhkan tanda tangan.
Kode pengawas
Kode pencacah
Pencacah 1=1 Pencacah 2=2 Pencacah 3=3
Status pencacah 1 = Staf BPS Provinsi 2 = Staf BPS Kab/Kota 3 = KSK
4 = Mitra
0=Pencacah Sakernas dan SSI sama 1= Pencacah Sakernas dan SSI berbeda
3. Nama dan No HP Pengawas, Tanggal Pemeriksaan dan Tanda Tangan.
Isikan nama pengawas, No HP pengawas yang masih aktif, dan tanggal pada saat melakukan pemeriksaan. Sebelum membubuhkan tanda tangan, periksa terlebih dahulu kebenaran dan kelengkapan isian Daftar SSI-1.
4.2.5 Blok III. Keterangan ART Berumur 10 Tahun Keatas yang Bekerja Selama Seminggu yang Lalu
Kolom (1): Nomor Urut ART
Petugas harus mengisi kolom ini setelah petugas mengidentifikasi jumlah anggota rumah tangga yang bekerja yang sudah direkapitulasi pada daftar SSI-1.RKP. Untuk memastikan, mereka juga harus merupakan responden yang sama untuk R.8 sampai R.18 dari daftar SAK14.AK.
Salin nomor urut anggota rumah tangga yang bekerja dari Daftar SSI-1.RKP, dan tulis di Blok III Kolom (1) Daftar SSI-1.
Kolom (2): Nama
Seperti pada Daftar SSI-1 Blok III Kolom (1), salin nama anggota rumah tangga yang bekerja dari daftar SSI-1.RKP kolom (2) dan tulis di Blok III Kolom (2) Daftar SSI-1.
Kolom (3): Nomor urut pekerjaan
Nomor urut pekerjaan sesuai dengan nomor jenis pekerjaan/ jabatan dan lapangan pekerjaan dan yang dilakukan oleh responden. Perlu diketahui bahwa pertanyaan ini terkait dengan Kolom (39) dari kuesioner; untuk lebih jelasnya akan dibahas lebih lanjut di pembahasan Kolom (39).
Beberapa pengertian yang perlu diketahui untuk mengisi rincian ini adalah:
Seminggu yang lalu adalah jangka waktu 7 hari berturut-turut yang berakhir sehari sebelum tanggal pencacahan. Misalnya pencacahan Sakernas Triwulan III dilakukan tanggal 15 Agustus 2014, maka yang dimaksud seminggu yang lalu adalah dari tanggal 8 Agustus sampai dengan 14 Agustus 2014.
Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam dalam seminggu yang lalu. Bekerja selama satu jam tersebut harus dilakukan berturut-turut dan tidak terputus. Penghasilan atau keuntungan mencakup upah/gaji/ pendapatan termasuk semua tunjangan dan bonus bagi pekerja/karyawan/pegawai dan hasil usaha berupa sewa, bunga atau keuntungan, baik berupa uang atau barang bagi pengusaha.
Penjelasan:
a. Melakukan pekerjaan dalam konsep bekerja adalah melakukan kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang atau jasa. Contoh: Pembantu rumah tangga termasuk kategori bekerja, baik sebagai anggota rumah tangga majikannya maupun bukan anggota rumah tangga majikannya.
b. Orang yang memanfaatkan profesinya untuk keperluan rumah tangga sendiri dianggap bekerja.
Contoh: Dokter yang mengobati anggota rumah tangga sendiri, tukang bangunan yang memperbaiki rumah sendiri dan tukang jahit yang menjahit pakaian sendiri.
c. Anggota rumah tangga yang membantu melaksanakan pekerjaan kepala rumah tangga atau anggota rumah tangga yang lain, misal di sawah, ladang, warung/toko dan sebagainya dianggap bekerja walaupun tidak menerima upah/gaji/pendapatan (pekerja tak dibayar).
d. Orang yang melakukan kegiatan budi daya tanaman yang hasilnya hanya untuk dikonsumsi sendiri dianggap tidak bekerja, kecuali budi daya tanaman bahan makanan pokok, yaitu padi, jagung, sagu, dan atau palawija (ubi kayu, ubi jalar, kentang).
e. Pekerja serabutan/bebas baik yang bekerja di sektor pertanian maupun non pertanian yang sedang menunggu pekerjaan, dianggap tidak bekerja.
Pekerjaan utama harus selalu diklasifikasikan sebagai pekerjaan nomor 1 dan isian untuk Kolom (4) dan kolom (5) harus sama dengan jenis pekerjaan utama pada daftar SSI-1.RKP kolom (5) dan daftar SAK14.AK R.10. Sedangkan isian Kolom (6) dan Kolom (7) harus sama dengan lapangan pekerjaan pada daftar SSI-1.RKP kolom (6) dan daftar SAK14.AK R.9.
Pekerjaan utama merupakan pekerjaan yang jumlah jam kerjanya paling banyak. Pekerjaan ini juga merujuk pada aktivitas/kegiatan yang memberikan sumber pendapatan utama bagi orang tersebut. Pekerjaan lain setelah pekerjaan utama dianggap sebagai pekerjaan tambahan. Jika responden memiliki dua pekerjaan tambahan, maka pekerjaan tambahan pertama akan diberi nomor 2 (isian untuk Kolom (6) dan (7) pada nomor urut pekerjaan 2 harus sama dengan isian pada daftar SSI-1.RKP kolom (9) dan daftar SAK14.AK Blok V.D. R.18), dan pekerjaan tambahan yang kedua sebagai pekerjaan nomor 3. Nomor urut akan berakhir dengan pekerjaan tambahan terakhir dari responden tersebut.
Perlu diketahui bahwa orang dapat saja bekerja secara formal di pekerjaan utama, tetapi mungkin juga bekerja secara informal di pekerjaan lain. Terlibat dalam pekerjaan yang
kedua merupakan hal yang tidak aneh di Indonesia, karena kebanyakan orang bekerja di lebih dari satu jenis pekerjaan untuk menambah penghasilan keuangan keluarga mereka. Dengan demikian, untuk mengukur secara efektif pekerjaan informal, pekerjaan lain dari responden harus dicatat dengan benar.
Dalam mewawancarai responden, selesaikan pertanyaan Kolom (3) sampai dengan (39) untuk satu pekerjaan pada satu responden. Apabila responden memiliki pekerjaan lainnya lanjutkan ke Kolom (3) baris ke 2 halaman 2 dan seterusnya untuk pekerjaan selanjutnya. Apabila tidak pekerjaan lain maka lanjutkan ke responden berikutnya
Pekerjaan didefinisikan sebagai jenis kegiatan ekonomi yang biasanya orang dilakukan untuk memperoleh pendapatan dalam bentuk uang tunai atau sejenisnya. Tuliskan jawaban responden pada baris yang bersesuaian. Selalu dimulai dengan uraian pekerjaan utama, diikuti dengan pekerjaan lainnya.
Pertanyaan ini dimaksudkan untuk memperoleh keterangan mengenai pekerjaan utama responden selama seminggu yang lalu. Cara penentuan suatu kegiatan merupakan pekerjaan utama atau bukan adalah sebagai berikut:
• Jika responden pada seminggu yang lalu hanya mempunyai satu pekerjaan, maka pekerjaan tersebut dicatat sebagai pekerjaan utama.
• Jika responden pada seminggu yang lalu mempunyai lebih dari satu pekerjaan, maka pekerjaan yang menggunakan waktu terbanyak dicatat sebagai pekerjaan utama. • Jika waktu yang digunakan sama, maka pekerjaan yang memberikan penghasilan
terbesar dianggap sebagai pekerjaan utama. Jika waktu yang digunakan sama dan penghasilannya juga sama besar, maka terserah pada responden, pekerjaan mana yang dianggap merupakan pekerjaan utama.
Penjelasan:
1. Seseorang yang sedang cuti dan pada masa cuti tersebut ia tidak melakukan pekerjaan lain, maka pekerjaan utamanya adalah pekerjaan yang dia cutikan.
2. Seseorang yang sedang cuti dan pada masa cuti tersebut melakukan pekerjaan lain, maka pekerjaan lain tersebut akan pekerjaan utamanya, sementara pekerjaan yang biasanya dilakukan dan sedang dalam status cuti akan menjadi pekerjaan tambahannya.
Contoh dari pekerjaan utama:
a. Seorang manajer pemasaran di perusahaan real estate yang sedang cuti selama seminggu yang lalu dan selama cuti tidak melakukan pekerjaan apapun, maka pekerjaan utama orang tersebut selama seminggu yang lalu adalah sebagai manajer pemasaran di perusahaan real estate.
b. Selama seminggu yang lalu, seorang dokter di Rumah Sakit Budi Asih sedang cuti, dan selama cuti membantu istrinya berdagang alat-alat olah raga, maka pekerjaan utama dokter tersebut selama seminggu yang lalu adalah berdagang alat-alat olah raga. c. Selama seminggu yang lalu seorang petani yang selain menanam padi di lahan sendiri,
juga menanam padi di lahan orang lain dengan menerima upah. Petani tersebut digolongkan mempunyai dua pekerjaan yaitu bertanam padi di lahan milik sendiri dan buruh tanaman pangan walaupun lapangan usahanya sama yaitu pertanian. Salah satu dari pekerjaan tersebut yang menggunakan waktu terbanyak dianggap sebagai pekerjaan utama. Jika waktu yang digunakan sama, maka pekerjaan yang memberikan penghasilan terbesar yang dianggap sebagai pekerjaan utama.
d. Bila seseorang mempunyai pekerjaan menanam padi dan juga menanam jagung, jika pengelolaannya tidak dapat dipisahkan maka dianggap hanya mempunyai satu pekerjaan yang paling dominan.
Kolom (4) – (7) tentang jenis pekerjaan/ jabatan dan lapangan usaha/ bidang pekerjaan responden selama seminggu yang lalu.
Kolom (4): Apakah jenis pekerjaan/ jabatan selama seminggu yang lalu?
Isian Kolom (4) pada pekerjaan nomor urut 1 disalin dari Daftar SSI-1.RKP kolom (5). Untuk pekerjaan nomor 2 dan selanjutnya (apabila responden memiliki pekerjaan tambahan), maka tuliskan jenis pekerjaan dari pekerjaan tambahan selengkap mungkin agar memudahkan dalam pengolahan, khususnya pada waktu pemberian kode (empat angka/digit) oleh pengawas.
Penjelasan :
1. Lapangan usaha/ bidang pekerjaan adalah kegiatan dari instansi/ perusahaan di mana dia bekerja.
2. Jenis pekerjaan/ jabatan adalah pekerjaan apa yang dilakukan responden atau sebagai apa di tempat bekerja.
Jenis pekerjaan adalah macam pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang atau ditugaskan kepada seseorang. Dengan menanyakan apa yang dilakukan oleh responden di tempat bekerjanya.
Klasifikasi jenis pekerjaan menggunakan Klasifikasi Baku Jenis Pekerjaan Indonesia (KBJI) 2002. Dalam KBJI 2002 dasar pengklasifikasian jenis pekerjaan ada dua dimensi/ kriteria dari konsep keahlian, yaitu ”Tingkat Keahlian” dan ”Spesialisasi Keahlian”. Kriteria Tingkat Keahlian ditentukan berdasarkan luas dan kompleksitas dari rangkaian tugas dan jenis pekerjaan. Hal ini diukur dengan jumlah tahun pendidikan formal, pelatihan, ketrampilan dan pengalaman yang relevan. Kriteria Spesialisasi Keahlian berhubungan dengan pengetahuan yang diperlukan, peralatan, perlengkapan yang dipakai, bahan mentah, serta barang dan jasa yang diproduksi sehubungan dengan tugas-tugas jenis pekerjaan. Struktur KBJI 2002 memiliki 4 (empat) tingkat; tingkat pertama disebut golongan pokok yang terdiri satu digit, tingkat kedua disebut golongan yang terdiri dari dua digit, tingkat ketiga disebut sub golongan yang terdiri dari tiga digit dan tingkat ke empat disebut kelompok yang terdiri dari empat digit. Tingkat pertama didasarkan pada Tingkat Keahlian, sedangkan untuk tingkat ke dua sampai dengan ke empat didasarkan pada Spesialisasi Keahlian.
Cara pengisian: Tuliskan jenis pekerjaan dari pekerjaan utama selengkap mungkin agar memudahkan dalam pengolahan, khususnya pada waktu pemberian kode (empat angka/digit). Pengisian kotak dilakukan oleh pengawas.
Berikut ini diberikan contoh-contoh penulisan jenis pekerjaan.
Penulisan yang benar Kode
Operator mesin - Operator mesin pengolah kayu - Operator mesin produk barang
dari karet
8141 8231
Tukang pembuat tekstil - Tukang tenun, rajut
- Tukang jahit, pembuat pakaian - Pembuat pakaian dari bulu
7432 7433 7434 Manajer bagian produksi - Manajer bagian pertanian
- Manajer bagian hotel
- Manajer bagian jasa perusahaan
1221 1225 1227 Manajer umum - Manajer umum usaha industri
pengolahan
- Manajer umum usaha angkutan
1312
1316 Teknisi teknik - Teknisi teknik sipil
- Teknisi teknik kimia
3112 3116 Juru tata usaha - Juru tata usaha akuntansi
- Juru tata usaha pergudangan - Juru tata usaha perpustakaan
4121 4131 4141
Tulis selengkap-lengkapnya jenis pekerjaan utama responden, dengan pendekatan pertanyaan: ”Apa yang dikerjakan oleh responden di perusahaan/ kantor/ tempat kerja”. Gunakanlah istilah dalam Bahasa Indonesia, jangan menggunakan istilah daerah seperti bawon, matun dan sebagainya.
Kolom (5): Kode Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI) dari jenis pekerjaan/ jabatan selama seminggu yang lalu?
Kolom ini harus diisi oleh pengawas, untuk pekerjaan nomor 1, salin dari Daftar SAK14.AK Blok V.C.R10. Apabila responden memiliki pekerjaan tambahan, dengan menggunakan kode KBJI, cari kode yang cocok dengan jawaban responden pada Kolom (4) dan tuliskan kode tersebut pada Kolom (5).
Kolom (6): Apakah lapangan usaha/ bidang pekerjaan selama seminggu yang lalu? Lapangan usaha/ bidang pekerjaan ialah bidang kegiatan dari pekerjaan/ usaha/ perusahaan/ kantor tempat seseorang bekerja, atau yang dihasilkan oleh perusahaan/ kantor tempat responden bekerja.
Klasifikasi lapangan usaha menggunakan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009 yang menggolongkan kegiatan ekonomi di Indonesia berdasarkan golongan pokok yang terdiri dari dua digit, golongan yang terdiri dari tiga digit, sub golongan yang teridiri dari empat digit dan kelompok yang terdiri dari lima digit. Selain penamaan kode KBLI 2009 tersebut, struktur KBLI 2009 mempunyai satu huruf alfabet yang disebut kategori. Kategori tersebut bukan merupakan bagian dari kode KBLI 2009, tetapi kode alfabet ini dicantumkan hanya untuk memudahkan konversi ke klasifikasi lapangan usaha sebelumnya (KBLI 2005).
Cara pengisian Kolom (6):
Jika Kolom (3) = ”1”, maka Kolom (6) disalin dari Daftar SSI-1.RKP kolom (6); untuk responden yang sama, jika Kolom (3) = “2”, maka Kolom (6) salin dari Daftar SSI-1.RKP kolom (9). Apabila responden memiliki pekerjaan tambahan pada pekerjaan nomor 3 dan seterusnya, tuliskan lapangan usaha dari pekerjaan tambahan selama seminggu yang lalu selengkap mungkin agar memudahkan dalam pengolahan, khususnya pada waktu pemberian kode (lima angka/digit) pada kotak oleh pengawas.
Contoh penulisan lapangan pekerjaan/usaha:
Penulisan
yang salah Penulisan yang benar Kode
Perdagangan
Agen/distibutor komputer di Mangga Dua 46511 Menjual komputer dan perlengkapannya di Mangga
Dua secara eceran 47411
Pertanian Pertanian tanaman padi 01120
Penyemprotan hama tanaman padi 01612
Kolom (7): Kode Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) dari lapangan usaha selama seminggu yang lalu?
Kolom ini diisi oleh pengawas dengan menyalin dari Daftar SAK14.AK Blok V.C.R9 untuk pekerjaan nomor 1, dan salin dari Daftar SAK14.AK Blok V.D.R18 pada pekerjaan nomor 2, untuk pekerjaan nomor 3 dan seterusnya, isikan Kolom (7) dengan menggunakan kode KBLI. Cari kode yang cocok dengan jawaban responden di Kolom (6) pada nomor urut pekerjaan 3 dan seterusnya.
Contoh kasus:
Ubay adalah seorang karyawan tetap di industri batu bata dengan jam kerja dari pukul 08.00 sampai 16.30, dari hari Senin sampai dengan Sabtu. Ubay bekerja disana sebagai sopir truk pengangkut batu bata. Selama seminggu yang lalu, selain bekerja
di industri batu bata, dia juga bercocok tanam jagung dibantu anaknya untuk menambah penghasilan rumah tangga. Dalam seminggu terakhir dia bekerja di kebun selama 4 hari berturut-turut masing-masing selama 2 jam per hari sepulang dari kantornya. Sehari sebelum wawancara Sakernas, Ubay menjaga warung sembako miliknya yang bertempat di rumahnya sendiri dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore dibantu oleh anak sulungnya untuk menggantikan istrinya yang sedang pergi keluar kota. Delon, adik Ubay juga tinggal bersama keluarga tersebut, ia memiliki usaha bengkel sepeda motor yang bertempat di sebuah kios yang dia kontrak tahunan. Dalam seminggu terakhir, dia dibantu oleh seorang karyawan tetap dan seorang karyawan magang yang merupakan siswa SMK yang sedang menjalani praktek kerja di bengkelnya. Karyawan magang tersebut tidak diberi upah atau gaji.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa Ubay memiliki 3 pekerjaan, sementara Delon memiliki satu pekerjaan yaitu:
Nama
No. Urut
Peker-jaan
Jenis pekerjaan/ jabatan KBJI Lapangan Usaha KBLI
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Ubay
1 Sopir truk pengangkut
batu bata 8324
Karyawan industri
batu bata 23921
2 Petani tanaman jagung 6210 Berkebun jagung 01111 3 Tenaga penjualan
sembako di warung 5230
Usaha warung
sembako 47112
Delon 1 Pemilik bengkel motor 1316 Bengkel sepeda
motor 45407
Selebihnya, contoh pengisian kasus di atas pada Daftar Sak14.AK dan Daftar SSI-1 dapat dilihat pada Lampiran 2 dan 4.
Kolom (8): Apakah status pekerjaan selama seminggu lalu?
Pertanyaan ini merupakan satu dari empat pertanyaan kunci untuk menentukan sebuah usaha sektor informal.
Pertanyaan ini sama seperti Blok V.C.R12 di Daftar SAK14.AK. Salin jawaban responden dari Daftar SSI-1.RKP kolom (7) untuk pekerjaan utama (Kolom 3 = “1”). Apabila responden memiliki pekerjaan tambahan (Kolom 3 = “2” dan seterusnya), maka isikan salah satu kode yang sesuai, dari 1 sampai 7. Keterangan kode ini dapat dilihat di bagian bawah pertanyaan.
Catatan:
Seseorang yang menyediakan jasa penyewaan, seperti menyewakan ruang/ tempat di rumahnya kepada orang lain dan menerima pembayaran sewa dari jasa tersebut, dianggap sebagai berusaha sendiri. Jika ditemui responden seperti ini, maka dia harus diperiksa dengan hati-hati jika saja dia layak untuk diwawancarai dengan Daftar SSI-2.
Status pekerjaan adalah jenis kedudukan seseorang dalam pekerjaan, terdiri dari:
a. Berusaha sendiri adalah bekerja atau berusaha dengan menanggung resiko secara ekonomis, diantaranya dengan tidak kembalinya ongkos produksi yang telah dikeluarkan dalam rangka usahanya tersebut, serta tidak menggunakan pekerja dibayar maupun pekerja tak dibayar. Termasuk yang sifatnya memerlukan teknologi atau keahlian khusus.
Penjelasan:
Perusahaan yang didirikan oleh lebih dari satu orang dan tidak memiliki buruh/pegawai maka masing-masing orang berstatus sebagai berusaha sendiri.
Contoh:
Sopir lepas (tidak mendapat gaji) dengan sistem setoran, tukang becak, tukang kayu, tukang batu, tukang listrik, tukang pijat, tukang gali sumur, agen koran, tukang ojek, pedagang yang berusaha sendiri, dokter/bidan/dukun yang buka praktek sendiri, calo tiket, calo tanah/rumah dan lain sebagainya.
b. Berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar adalah bekerja atau berusaha atas resiko sendiri, dan menggunakan buruh/karyawan/pegawai tak dibayar dan atau buruh/karyawan/pegawai tidak tetap.
Buruh/karyawan/pegawai tidak tetap adalah buruh/karyawan/pegawai yang bekerja pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan dan hanya menerima upah berdasarkan pada banyaknya waktu kerja atau volume pekerjaan yang dikerjakan. Contoh:
1. Pengusaha warung/toko yang dibantu oleh anggota rumah tangga/pekerja tak dibayar dan atau dibantu orang lain yang diberi upah berdasarkan hari masuk kerja. 2. Pedagang keliling yang dibantu pekerja tak dibayar atau orang lain yang diberi
upah pada saat membantu saja.
3. Petani yang mengusahakan lahan pertaniannya dengan dibantu pekerja tak dibayar. Walaupun pada waktu panen petani tersebut memberikan hasil bagi panen (bawon), pemanen tidak dianggap sebagai buruh tetap.
c. Berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar adalah berusaha atas resiko sendiri dan mempekerjakan paling sedikit satu orang buruh/karyawan/pegawai tetap yang dibayar.
Buruh/karyawan/pegawai tetap dibayar adalah seseorang yang bekerja pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan dengan menerima upah/gaji secara tetap, baik ada kegiatan maupun tidak ada kegiatan.
Contoh:
1. Pemilik toko yang mempekerjakan satu atau lebih buruh tetap. 2. Pengusaha pabrik rokok yang memakai buruh tetap.
d. Buruh/karyawan/pegawai adalah seseorang yang bekerja pada orang lain atau instansi/kantor/perusahaan secara tetap dengan menerima upah/gaji baik berupa uang maupun barang. Buruh yang tidak mempunyai majikan tetap, tidak digolongkan sebagai buruh/karyawan/pegawai tetapi sebagai pekerja bebas. Seseorang dianggap memiliki majikan tetap jika memiliki satu majikan yang sama dalam sebulan terakhir, khusus pekerja pada sektor bangunan dianggap buruh jika bekerja minimal tiga bulan pada satu majikan.
Contoh:
Rico adalah seorang tukang bangunan, sudah 4 bulan ia memperbaiki rumah pak Bedu. Rico dikategorikan sebagai buruh/karyawan/pegawai.
e. Pekerja bebas di pertanian, adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/majikan/ institusi yang tidak tetap (lebih dari satu majikan dalam sebulan terakhir) di usaha pertanian baik yang berupa usaha rumah tangga maupun bukan usaha rumah tangga atas dasar balas jasa dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang, dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan.
Usaha pertanian meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, dan perburuan, termasuk jasa pertanian.
Majikan adalah orang atau pihak yang memberikan pekerjaan dengan pembayaran yang disepakati.
Contoh: seseorang yang berstatus sebagai majikan:
1. Seorang petani padi yang mempekerjakan buruh tani untuk mengolah sawah dengan upah harian.
2. Seorang pengusaha perkebunan yang mempekerjakan beberapa orang untuk memetik buah kelapa dengan memberikan upah.
Contoh pekerja bebas di pertanian: buruh panen padi, buruh cangkul sawah/ ladang, buruh penyadap karet, buruh panen udang dari tambak, buruh pemetik kopi, kelapa, cengkeh, dan sebagainya.
f. Pekerja bebas di nonpertanian adalah seseorang yang bekerja pada orang lain/ majikan/institusi yang tidak tetap (lebih dari satu majikan dalam sebulan terakhir), di usaha non pertanian dengan menerima upah atau imbalan baik berupa uang maupun barang, dan baik dengan sistem pembayaran harian maupun borongan.
Penjelasan: Usaha non pertanian adalah usaha diseluruh sektor selain sektor pertanian.
Contoh pekerja bebas di nonpertanian:
Kuli-kuli di pasar, stasiun atau tempat-tempat lainnya yang tidak mempunyai majikan tetap, calo penumpang angkutan umum, tukang cuci keliling, pemulung, kuli bangunan, tukang parkir bebas, dan sebagainya.
g. Pekerja keluarga/ tak dibayar adalah seseorang yang bekerja membantu orang lain yang berusaha dengan tidak mendapat upah/ gaji, baik berupa uang maupun barang. Pekerja keluarga/tak dibayar tersebut dapat terdiri dari:
1. Anggota rumah tangga dari orang yang dibantunya, seperti istri yang membantu suaminya bekerja di sawah.
2. Bukan anggota rumah tangga tetapi keluarga dari orang yang dibantunya, seperti saudara/famili yang membantu melayani penjualan di warung.
3. Bukan anggota rumah tangga dan bukan keluarga dari orang yang dibantunya, seperti orang yang membantu menganyam topi pada industri rumah tangga tetangganya.
Seseorang yang berusaha, baik berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar, atau berusaha dibantu buruh tetap/buruh dibayar memiliki beberapa usaha dengan jenis (produk) yang sama, namun pengelolaan/manajemennya dilakukan oleh dia sendiri (orang yang sama), maka dikatakan orang tersebut hanya memiliki 1 jenis usaha. Jadi, konsep usaha menganut prinsip pengelolaan/produk yang sama.
Contoh:
Usaha Pak Yadi adalah berjualan rokok, permen, tisu di depan rumahnya. Selain itu, barang dagangannya juga diasongkan di lampu merah By Pass Jakarta Timur oleh Putranya. Karena usaha ini dikelola oleh Pak Yadi dan sebenarnya produk yang dijual adalah sama, maka dikatakan bahwa Pak Yadi hanya memiliki satu (1) usaha.
Bapak Ghofur memiliki usaha toko klontong di rumah yang sehari-hari dijaga oleh istrinya. Selain itu, ia juga memiliki usaha fotokopi di dekat kampus Universitas Indonesia Depok. Pengelolaan kedua usaha ini dilakukan oleh Pak Ghofur, namun produk yang dijual berbeda maka dikatakan Pak Ghofur memiliki dua (2) jenis usaha.