BAB IV : Pengelolaan Qardhul Hasan di BMT
B. BMT Al Azhar
BMT Masjid Al-Azhar berdiri pada tanggal 26 Agustus 1995, adapun para pendiri dan penggagas berdirinya BMT Al-Azhar adalah dari pengurus dan pembina Masjid Al-Azhar Pasar Minggu yaitu Bp. H. Moh. Ali Moe'is, Bp. DR. KH. Mas'ud Saiful Alam dan Bp. Arifin. Dukungan juga datang dari seluruh jama'ah pengajian Majelis Ta'lim Al-Azhar Pasar Minggu. BMT Al-Azhar bealamat di Komp. Masjid Al-Azhar Jl. Mujair I No.24A Rt.03/09 Pasar Minggu Jakarta Selatan. Dan mempunyai kantor cabang di Komp. Ruko Tirtayasa Permai Jl. Sultan Ageng Tirtaysa No. 51E Rt.02/03 Sudimara Pinang Tanggerang. Pada awal operasinya (September 1995) BMT Al-Azhar hanya memiliki Asset sebesar Rp.34.284.950 dengan modal dasar pendirian sebesar Rp.19.965.000.11
Pada tahun ke-4 beroperasi, tepatnya bulan September 1999 BMT Al-Azhar menjadi ber-Badan Hukum Koperasi Syari'ah dengan Nomor : 357/BH/KDK.9.4/IX/1999 tertanggal 14 September 1999, dengan sedikit perubahan
11
nama yang terdaftar dalam Lembaran Negara Republik Indonesia melalui Depkop dan PKM menjadi " BMT MASJID AL-AZHAR ". Hal tersebut sudah mendapat persetujuan dari Musyawarah Anggota Tahunan (Pemegang Saham) KS-BMT Masjid Al-Azhar pada tanggal 18 Juli 1999 yang tertuang dalam Notulen Rapat Nomor : 03/NR-RTAT/VII/99 tertanggal 20 Juli 1999.12
Produk-produk yang dimiliki BMT Al-Azhar adalah:13 1. Produk Baitul Tamwil
a. Produk Jasa Simpanan Anggota: 1) Simpanan Amanah
2) Simpanan Pendidikan 3) Simpanan Hari Raya 4) Simpanan Walimah 5) Simpanan Haji 6) Simpanan Wadiah 7) Simpanan Berjangka
b. Produk Jasa Pembiayaan 1) Pembiayaan Murabahah 2) Pembiayaan Mudharabah 12 Ibid 13 Ibid
3) Pembiayaan Ijarah Multi Jasa
4) Pembiayaan Mudharabah Muqayyadah
5) Pembiayaan lain yang sesuai dengan sistem syariah
2. Baitul Maal
a. Penghimpunan dana Zakat, Infaq dan Shadaqah
b. Penyaluran dana Zakat, Infaq dan Shadaqah dalam program : 1) Bantuan modal kerja lewat dana Qhardul Hasan
2) Pemberian beasiswa dan santunan terhadap anak yatim piatu dan anak keluarga miskin
c. Melakukan pembinaan dan pengajian. d. Dan kegiatan sosial keagamaan lainnya.
Latar belakang adanya produk maal khususnya produk bantuan kerja lewat dana qardhul hasan pada prinsipnya untuk membantu masyarakat disekitar lingkungan BMT Al-Azhar.14 Berawal dari kas masjid yang dananya digulirkan untuk membantu masyarakat. Sejalan dengan perkembangannya, masyarakat tidak semestinya selalu dhuafa dengan selalu diberikan dana yang pada akhirnya menjadi hidup konsumtif. Maka BMT membuat produk yang bisa memberdayakan masyarakat agar lebih produktif dan mandiri yaitu dengan produk dana qardhul
14
hasan. Produk ini sudah menjadi produk rutin yang di anggarkan BMT setiap tahunnya.
Para mitra yang mengajukan pembiayaan qardhul hasan mayoritas berasal dari wilayah sekitar BMT, baik kantor pusat ataupun kantor cabang. Biasanya mitra menggunakan pembiayaan ini adalah untuk usaha kecil-kecilan seperti jualan nasi uduk, jualan minuman es, dan lain-lain.
Pembiayaan qardhul hasan di BMT Al-Azhar sudah menjadi produk rutin setiap tahunnya. Menurut data terakhir pendapatan baitul maal sebesar Rp. 30.000.000 dan untuk pembiayaan qardhul hasan sebesar Rp 4.000.000 dari total pendapatan baitul maal.15 Kebijakan pembagian dana qardhul hasan rata-rata setiap tahunnya sebesar 13% dari total pendapatan dana baitul maal. Sisanya untuk dana bantuan cuma-cuma seperti untuk pemberian beasiswa dan santunan terhadap anak yatim piatu dan anak keluarga miskin, melakukan pembinaan dan pengajian, kegiatan sosial keagamaan lainnya.
Pembiayaan yang dikeluarkan untuk mitra yang meminjam pembiayaan qardhul hasan paling kecil Rp 1.000.000 dan paling besar Rp 6.000.000.16 Permintaan pembiayaan yang jumlahnya di atas Rp 3.000.000, maka BMT menetapkan adanya jaminan sebagai bentuk keseriusan. Biasanya bentuk jaminannya
15 Data berupa laporan keuangan tidak diberikan pihak BMT, hanya menyajikan data dari
hasil wawancara.
16
berupa BPKB motor atau barang berharga lainnya. Jika pembiayaan disetujui maka mitra di kenakan biaya administrasi dan materai sebesar Rp 18.000.17
Jangka waktu pengembalian yang di berikan BMT ke mitra adalah 1 tahun.18 Biasanya dari mitra pun tidak mau lama jangka waktunya. Cicilan perbulannya tergantung kesepakatan antara BMT dan kemampuan mitra untuk membayar cicilan. Kelonggaran ini diberikan karena pembiayaan ini sifatnya tidak memaksa dan ketat, berbeda dengan pembiayaan lain yang sudah ada ketentuannya karena sifatnya komersil. Jika dalam waktu satu tahun mitra tidak bisa melunasi sisa pembiayaan atau pembiayaan macet maka BMT akan melakukan kroscek terlebih dahulu keadaan usahanya, keadaan keuangan keluarganya. Misalnya ada pembiayaan macet, mitra sudah tidak bisa mengembalikan dananya. Tetapi setelah di kroscek perkembangan usahanya dengan cara pendekatan persuasif, ternyata suaminya masih punya penghasilan dari pekerjaannya di luar. Maka BMT menawarkan kembali ke mitra apakah mau di angsur sesuai kesepakatan di awal, atau di potong cicialnnya perbulan atau perminggu tetapi sampai selesai. Misalnya kesepakatan di awal cicilan perbulannya adalah Rp 100.000 lalu di ubah menjadi Rp 50.000 tetapi pembayarannya sampai selesai. Jadi BMT memberikan keringan kembali untuk mitra agar bertanggung jawab atas pinjamannya.
Jika sudah benar-benar total tidak bisa melunasi pembayaran cicilan, usahanya sudah tidak berjalan, anggota keluarga yang lain kerja serabutan dengan
17
Ibid
18
pendapatan yang minim dan tidak menentu, maka BMT akan menutupnya dengan dana talangan, dianggap lunas. Akan tetapi, suatu kasus terjadi pada mitra yang meminjam dana qardhul hasan. Dia seorang mantan pegawai BMT Al-Azhar. Meminjam dana sebesar Rp 6.000.000 untuk usaha istrinya membuat usaha. Lama kelamaan usahanya pun gulung tikar dan tidak bisa lagi membayar cicilan perbulan. Si mantan pegawai BMT pun bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak tentu. Maka untuk sementara pembiayaannya di tutup dan di talangi dengan dana cadangan. Suatu saat si mantan pegawai sudah mendapat pekerjaan yang tetap. Maka BMT membicarakan kembali sisa cicilan yang belum di bayar, ini di karenakan mitra meminjam dananya terlalu besar. Pada prinsipnya dana ini adalah uang dari hasil pengumpulan zakat, infaq dan shadaqah yang merupakan uang amanah.
Jika mitra yang sudah berhasil mengembangkan usahanya dan ingin meminjam kembali untuk menambah modal dalam mengembangkan usahanya. Maka pihak BMT melihat terlebih dahulu kondisi kelayakan keuangannya. Jika sudah lancar dan bisa mandiri, maka BMT akan memberikan pembiayaan yang ada bagi hasilnya yaitu ke produk-produk pembiayaan tamwil yg sifatnya komersil.19 Seandainya mitra kondisi keuangannya masih di bawah terus, maka BMT tetap memberikan pembiayaan qardhul hasan kembali. Jadi BMT mengikuti terlebih dahulu dan mengkontrolnya sampai mitra bisa di katakana sudah bisa mandiri.
19