• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. RELASI KUASA

A. Negara dan Kedaulatan

2. Bom Waktu Kolonial: Dualisme

Penelusuran eksistensi daerah istimewa ini selanjutnya tertuju pada masa kolonial, saat pemerintah kolonial menjamin berlangsungnya sistem pemerintahan tradisional.70 Dengan skema tata hukum, masyarakat pribumi yang hidup di wilayah tertentu, tetap hidup dengan aturan-aturan hukum adat. Terciptalah dikotomi, ada penerapan hukum positif barat yang dianggap modern, tapi aturan-aturan adat tetap dipertahankan. Masyarakat kolonial juga terbagi dalam dua bagian besar yang hidup dengan dikotomi aturan. Adat menjadi aset yang “dipelihara” sebagai kolaborator efektif untuk mengelola rakyat. Maka. tugas pemerintah kolonial untuk mengatur rakyat menjadi lebih ringan.

Pemerintahan kolonial mempunyai prinsip dualistik dalam menjalankan pemerintahannya. Dualisme ini diaplikasikan dalam sendi-sendi pemerintahan. Kita telah melihat dualisme yang tercipta dibalik dipeliharanya hukum-hukum adat dengan pemahaman Adatrech, tapi corak ini juga diaplikasikan di hal-hal

70Problematika tentang hukum adat ini dibahas secara komprehensif oleh seorang ahli hukum tata negara berkebangsaan Belanda, van Vollenhoven. Kajian tentang tata kelola hukum adat ini kemudian disebut mazhab Leiden. Dengan mazhab Leiden yang menelurkan Adatrech (kajian tentang hukum-hukum adat), yang dianut oleh para indolog, dia menganggap bahwa adat itu juga sebuah gugusan aturan-aturan hukum seperti halnya hukum-hukum positif Eropa.

lain, seperti memberikan otonomi pada masyarakat kampung untuk menyusun sistem keamanan yang mandiri.71 Maka, tidak ada perbedaan yang signifikan antara masa pra kolonial dan kolonial, bahwa tetap ada distribusi otoritas. Otoritas kecil, yaitu ‘raja-raja kecil’ yang memerintah rakyat berhubungan dengan otoritas besar yaitu pemerintahan kolonial.72

Dualisme ini menjamin adanya daerah-daerah Voorstenlanden di Jawa. Lebih dari separuh wilayah Hindia Belanda mengalami dijajah secara tidak langsung ini berbentuk pemerintahan adat dan pemerintahan kerajaan. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah kolonial tidak sepenuhnya mengendalikan secara langsung sejumlah daerah dalam lingkup kekuasaannya

Kelompok kolonial yang segelintir menggunakan penguasa-penguasa lokal untuk memerintah rakyat. Raja-raja di wilayah eks kerajaan Mataram tetap memerintah rakyatnya. Birokrasi kerajaan juga tetap beroperasi. Tapi, tetap ada kerjasama antara birokrasi kolonial dengan birokrasi kerajaan lokal. Maka, di Yogyakarta ada dua pemerintah yang berkuasa. Sebagaimana diungkapkan oleh Onghokham (1983) bahwa salah satu hal signifikan dalam kolonialisme pada kerajaan-kerajaan tradisional di Jawa yaitu terintegrasinya penguasa-penguasa pribumi, baik raja-raja kecil atau para bupati di daerah pinggiran maupun raja dan

71Lihat pemaparan Abidin Kusno dalam Penjaga Memori: Gardu di Perkotaan Jawa, Yogyakarta: Ombak, 2007, hlm. 65 – 66. Walaupun tetap mengawasi wilayahnya secara panaptikon, pemerintah kolonial memberikan keleluasaan pada penguasa-penguasa lokal/pribumi untuk mengambil peran dalam pengendalian atau pengawasan masyarakat. Gardu menjadi contoh, bagaimana pemerintah kolonial mendorong terciptanya sistem keamanan lokal berbasis kampung.

72Ong Hok Ham menuliskan bahwa pemerintah kolonial menjamin tetap hidupnya ‘raja-raja kecil’ yaitu bupati agar mengendalikan keamanan dan bisnis perkebunan tebu. Onghokham. 1983. ”Merosotnya Peranan Pribumi dalam Perdagangan Komoditi,” dlm. PRISMA no 8, Agustus 1983, Tahun XII

institusi kraton di pusat kekuasaan Jawa dengan birokrasi pemerintahan kolonial Belanda.

Dengan pemaparan diatas saya mencoba menunjukkan bahwa hubungan rakyat dengan pemerintah pusat selalu berjarak. Pemerintah lokal menjadi perantara antara rakyat sebagai obyek kekuasaan dengan pemerintah pusat, Walaupun dinamika politik lokal sudah memasuki masa kolonial, pemerintah lokal tetap mendapatkan otoritas untuk mengelola rakyat atas nama pemerintah atasan.

Hal penting dalam prinsip dualistik pemerintahan kolonial adalah soal gaya kolaborasi memerintah. Kolaborasi pemerintahan kemudian memunculkan pembagian kekuasaan. Demikian juga pemerintahan di vorstenlanden di Jawa (Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta). Pemerintah kerajaan mengelola wilayahnya bersama dengan pemerintah kolonial. Seperti halnya papan catur, satu ranah yang sama terdapat sisi putih dan hitam yang tersebar.

Kembali ke bersatunya birokrasi kolonial dengan para penguasa feodal di Jawa, hal ini menunjukkan bahwa pada perkembangannya kedudukan kultural menjadi sama dengan jabatan politik. Pada prakteknya para bupati di daerah pinggiran yang menjadi raja-raja kecil, berperan sebagai pejabat administratif pemerintah. Walaupun hal ini tidak berlangsung di vorstenlanden, dengan adanya pembagian tugas antara raja dan patih, pada masa Sultan HB IX, jabatan patih dihapuskan. Maka, di Yogyakarta, jabatan pemimpin kultural juga menjadi pemimpin birokrasi.

Pada masa Sultan HB IX, birokrasi Kraton tidak lagi mempunyai peranan yang penting. Peranan birokrasi kraton dihapuskan. Pemerintahan sepenuhnya dikendalikan oleh birokrasi pemerintah Republik Indonesia. Satu-satunya posisi yang tidak berubah yaitu kedua raja di Yogyakarta yang tetap memimpin pemerintahan. Hal itu pun tetap dengan penyesuaian yakni dengan menjadi Gubernur dan wakil gubernur.

Dengan perubahan dari monarki ke republik, kesan lama yang masih tertinggal yaitu raja-raja yang menjabat gubernur dan wakil gubernur. Maka, ditengah ketidakjelasan konsep keistimewaan, Yogyakarta tetap terkesan istimewa. Struktur asli pemerintahan di Yogyakarta sudah mengalami banyak perubahan. Penyesuaian gaya pemerintahan ini membuat Yogyakarta memiliki birokrasi pemerintahan yang sama dengan propinsi-propinsi lain. Birokrasi Kraton tidak lagi berlaku dan jabatan-jabatan tertentu harus bertransformasi (Soemardjan, 2009).73

Indonesia sebagai negara penerus (Successor State) cenderung tidak menerapkan corak pemerintahan yang dualistik. Pada perkembangannya, negara ini cenderung menciptakan gaya memerintah yang simetris dan monolitik. Seluruh wilayah dibagi menjadi propinsi-propinsi yang mempunyai struktur sama. Akibatnya, entitas-entitas politik seperti pemerintahan adat dan kerajaan vasal yang dulu mendapatkan porsi pemerintahan pada masa kolonial menjadi terhapuskan. Bom Waktu kolonial meledak saat prinsip dualistik ini tidak lagi

73Selo Soemardjan (2009) dalam Perubahan Sosial di Yogyakarta, menggambarkan bahwa para pejabat Kraton Yogyakarta, yaitu para pamong praja yang terdiri dari para lurah harus menyesuaikan diri dengan perubahan susunan birokrasi pemerintahan. Mereka tidak lagi bertanggung jawab kepada Sultan dan Kraton tapi kepada pemerintah.

dipraktekkan oleh pemerintah baru, Republik Indonesia. Hal inilah yang menimbulkan ‘gagap’ pada paska reformasi.74

Bagian terpenting yang menjadi ‘bom’ dan meledak pada paska kolonial yaitu birokrasi kraton, para bangsawan, dan orang-orang dekat raja. Pada masa kolonial mereka mendapatkan porsi dalam pemerintahan. Sebaliknya, pada masa pemerintahan Republik Indonesia, penentuan struktur birokrasi tidak menempatkan mereka menjadi bagian dari aparatur pemerintahan. Hal ini terlihat pada para perangkat desa. Mereka adalah kelompok massa yang menjadi gelombang pertama Gerakan keistimewaan Yogyakarta. Dengan melakukan dukungan terhadap penetapan, maka ada harapan untuk mengembalikan peran mereka yang lebih kuat dalam birokrasi pemerintahan di Yogyakarta seperti pada masa lalu.

Jadi, pada daerah-daerah bekas vorstenlanden atau bekas vasal, rakyat sudah terbiasa dengan dualisme aturan yang berlaku. Mengingat hanya ada satu bekas daerah vasal di Indonesia, yaitu Yogyakarta, sangat bisa dimengerti bahwa sebagian masyarakat masih ingin tetap mempertahankan bentuk-bentuk aturan tradisional yang berlaku di daerahnya, walaupun tetap menerima aturan-aturan yang digariskan oleh pemerintah pusat.

74Terinspirasi dari Yogyakarta, raja-raja serta masyarakat adat di Indonesia yang terepresentasikan oleh AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) mencoba merebut posisi-posisi dalam politik pemerintahan daerah.