BAB IV. RELASI KUASA
A. Negara dan Kedaulatan
3. Pergeseran Kuasa Jawa
Jika dilihat dengan sudut pandang kuasa Jawa, vasalisasi meruntuhkan daya kuasa yang terepresentasikan dalam pribadi raja. Gagasan kuasa Jawa menunjukkan bahwa keberadaan seorang raja sangat sentral dalam pemerintahan. Salah satu ciri dalam pemerintahaan kerajaan yaitu mekanisme suksesi turun-temurun. Jadi, kekuasaan itu tunggal, memusat, serta diturunkan ke generasi selanjutnya.75
Pusat kestabilan ini saling berkelindan. Ia tidak boleh berdiri pada satu dimensi saja. Bukan sekedar pemimpin politik. Bukan sekedar pemimpin tradisi atau ritual. Pemimpin dalam gagasan kuasa Jawa adalah pemimpin yang membawa kendali dalam berbagai dimensi kehidupan masyarakat. Dalam prakteknya, pusat kuasa ini terwujud dalam pribadi seorang Sultan yang menjadi pemimpin yang multi dimensi. Gelar seorang Sultan yaitu Sayidin Panatagama Kalifatullah, merepresentasikan kuasa total atas dimensi-dimensi tersebut. Seperti diketahui bersama dalam rangkaian sejarah kebudayaan Jawa, ihwal raja dan kekuasaannya memiliki peran yang sentral. Perjalanan hidup-mati sebuah kerajaan mempengaruhi konstruksi budaya masyarakat dan bagaimana mereka mengindentifikasi dirinya. Menjadi sebuah kewajaran, karena kerajaan adalah tempat dimana nilai-nilai dibangun dan disebarkan kepada rakyat, sehingga menjadi kepercayaan yang mengakar.
75Tentang gagasan kuasa jawa, lihat penulisan Anderson (2000) dan Moedjanto (1987) yang menjabarkan bagaimana gagasan tentang kuasa beroperasi dalam kepemimpinan seorang raja. Secara sederhana kuasa Jawa dijabarkan sebagai kuasa tunggal yang dimiliki oleh seorang raja. Oleh karena itu, menjadi wajar ketika kepemimpinan seorang raja menjadi sangat sentral terhadap dimensi-dimensi kehidupan rakyat.
Pada prakteknya, kuasa raja yang sentralistis ini sebenarnya sudah runtuh. Walaupun di hadapan rakyat pribadi seorang raja maupun institusinya (kraton), otoritas raja sebenarnya semu. Hak dan wewenangnya untuk memerintah tidak sah jika tidak direstui oleh pemerintah kolonial sebagai atasannya. Namun, imaji kekuasaan raja masih terus dipertahankan di mata rakyat dengan menghidupkan kisah-kisah tentang hubungan raja dengan hal-hal magis seperti hubungan raja dengan kekuatan imajiner dari gunung Lawu, gunung Merapi atau Laut Jawa.
Kisah-kisah mengenai hubungan-hubungan khusus antara raja dengan Tuhan atau dunia transendental seperti Nyi Roro Kidul, menjadi cara pembentukan legitimasi kedaulatan raja di mata rakyat. oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa kuasa yang dimiliki oleh seorang raja adalah kuasa yang diturunkan dari Tuhan. Bentuk kuasa ini tunggal dan tidak terbagi, dalam tradisi Jawa disebut wahyu. Dan kuasa ini bisa berpindah melalui jalur keturunan, yaitu melaui suksesi raja kepada putra mahkota.
Saya mencermati legitimasi kekuasaan raja yang tadinya berasal dari Tuhan, dialihkan menjadi berasal dari rakyat. Dalam gelar Sultan, terdapat frasa Sayidin Kallifatulah Panatagama, gelar ini menampilakan arti bahwa pribadi seorang raja menjadi perwakilan Tuhan di dunia. Dengan pemaknaan lain, karena raja adalah perwakilan Tuhan di dunia, maka raja mempunyai wewenang untuk memerintah rakyat. Jika dicermati lebih lanjut, semenjak pemerintahan Sultan HB IX, muncul semboyan baru yaitu Tahta untuk Rakyat. Tidak bisa dipungkiri bahwa Sultan HB IX adalah pribadi yang sudah mengenal gagasan-gagasan soal demokrasi dan pemerintahan modern. Mungkin raja Yogyakarta ini mencoba
untuk melunturkan kesan feodal. Semboyan ini kemudian diperkuat oleh raja penerusnya, Sultan HB X dengan semboyan Meneguhkan Tahta untuk Rakyat.
Dari semboyan ini saya mencoba mencermati bahwa kekuasaan raja yang tadinya diyakini turun dari Tuhan bergeser menjadi diberikan oleh rakyat. Keberadaan rakyat sangat signifikan untuk posisi raja. Tanpa ada dukungan rakyat, seseorang tidak bisa menjadi raja. Dengan kata lain, tidak ada raja tanpa pengikut. Oleh karena itu menjadi sewajarnya jika beberapa orang yang bergabung di kelompok pro penetapan menyitir pepatah lama vox populi-vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.
Dalam perbincangan argumentatif mengenai Keistimewaan, ada satu semboyan filosofis yang diungkap kembali yaitu manunggaling kawula gusti. Semboyan yang diyakini bersama sebagai jargon perlawanan Pangeran Mangkubumi ini, diungkap kembali dengan pemaknaan bahwa kekuasaan raja di Yogyakarta berasal dari rakyat. Ungkapan simbolik ini ditegaskan kembali dengan Tahta untuk Rakyat.
Mari kita mencermati kembali apa yang diungkapkan oleh para aktivis pro penetapan; “arti demokrasi adalah kehendak rakyat. Jika rakyat menghendaki demikian (dipimpin oleh raja), maka inilah demokrasi.” Bukan tidak mungkin bahwa para pendukung raja ini memperluas kekuatan mereka dengan menarik perhatian masyarakat, sehingga legitimasi wewenang raja tercipta karena besarnya dukungan rakyat. Hal ini berhasil, sebagaimana diungkapkan oleh para aktivis pro penetapan, Manunggaling Kawula Gusti dan Tahta untuk Rakyat diyakini sebagai bentuk demokrasi di Yogyakarta.
Saya akan kembali mencermati peristiwa pada tahun 2007. Sultan HB X mengungkapkan ketidaksediaannya untuk dicalonkan kembali sebagai gubernur DIY. Pernyataan tersebut ternyata membuat dukungan masyarakat untuk penetapan semakin menguat. Sejumlah pengamat pemerintahan menganggap pernyataan tersebut sebagai upaya untuk menjajagi dukungan publik di Yogyakarta. Dari peristiwa ini terlihat bahwa peran rakyat sangat diperhitungkan untuk memperkuat kekuasaan seorang penguasa. Sekaligus hal ini menjelaskan adanya pergeseran tentang legitimasi kuasa seorang raja yang tadinya mendasarkan kuasa dari Tuhan bergerak ke kuasa dari Rakyat. Maka, ungkapan Sultan HB X pada tahun 2011 di sebuah stasiun televisi menjadi sulit terbantahkan; “Tanya saja pada rakyat Jogja.”
Rakyat ditimpatkan dalam posisi yang penting untuk meneguhkan kedudukan raja. Pergeseran yang terjadi tentang legitimasi kekuasaan raja yang tadinya berasal dari Tuhan menjadi berasal dari rakyat, pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama yaitu: penguasaan atas rakyat. Dalam hal ini rakyat sebagai kumpulan orang-orang yang mendiami wilayah tertentu selalu menjadi obyek kekuasaan untuk diarahkan pada kepentingan tertentu, khususnya kepentingan penguasa.