Mahkamah Agung Republik Indonesia
3) Bonafide Transaction Approach;
Bahwa pendirian suatu perusahaan harus dilandasi oleh motivasi bisnis (business profit (motive) dan bukan semata-mata hanya untuk menikmati fasilitas P3B. Melalui pendekatan ini, penerima penghasilan dianggap sebagai beneficial owner apabila pendiriannya dilandasi oleh motivasi bisnis dan tidak semata-mata untuk mendapatkan manfaat P3B yang ditunjukkan dengan memiliki karakteristik yang bonafide, antara lain sahamnya diperdagangkan di bursa efek misalnya;
Bahwa dalam catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2004 Golden Agri-Resources Ltd. halaman 69, terdapat informasi bahwa Goederhand Finance B.V. didirikan pada tanggal 21 April 2004, keterangan lebih lanjut mengenai status GFBV pada tahun 2004 terdapat pada halaman 48, yaitu bahwa GFBV tidak diaudit sebagai subsidiary karena baru didirikan/inactive (“Not Audited as the subsidiary is
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 27
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 28 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017
newly incorporated/inactive”);
Bahwa dalam catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2005 Golden Agri-Resources Ltd. halaman 76, terdapat informasi bahwa Goederhand Finance B.V. tidak diaudit sebagai subsidiary karena baru didirikan/belum memulai kegiatannya ("(“Not Audited as the subsidiary is newly incorporated/has not commenced its operation);
Bahwa dalam catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2006,2007, dan 2008 Golden Agri-Resources Ltd., terdapat informasi bahwa Goederhand Finance B.V. tidak diaudit berdasarkan hukum di negara perusahaan didirikan ("Not Audited to be law in its country of incorporation");
Bahwa berdasarkan informasi di atas tampak jelas bahwa GFBV pada tahun 2004-2008 sebenarnya tidak memiliki kriteria sebagai sebuah entitas yang bonafide karena jangankan sahamnya telah diperdagangkan di bursa efek, GFBV bahkan baru didirikan dan belum melakukan kegiatan atau belum beroperasi;
Bahwa dengan demikian, melalui pendekatan inipun, jelas bahwa GFBV tidak memenuhi kriteria sebagai beneficial owner karena sebenarnya tidak ada kemampuan dari GFBV untuk memberikan pinjaman kecuali hanya sebagai perantara atau conduit dari pihak ketiga untuk memberikan dana kepada Termohon Peninjauan Kembali. Sehingga pemilik manfaat sebenarnya yang menikmati bunga yang diperoleh dari Termohon Peninjauan Kembali bukanlah GFBV;
i. Bahwa dengan demikian, telah secara sah dan meyakinkan terbukti bahwa Goederhand Finance B.V. Belanda bukan merupakan beneficial owner dari penghasilan bunga yang diterimanya dari Termohon Peninjauan Kembali, sehingga tidak berhak atas manfaat P3B Indonesia-Belanda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) P3B Indonesia-Belanda. Dengan demikian, tarif pemotongan PPh atas pembayaran bunga dari Termohon Peninjauan Kembali kepada Goederhand Finance B.V.-Belanda tersebut tunduk
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 28
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 29 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017
sepenuhnya kepada ketentuan domestik Indonesia, yakni Undang-undang PPh dengan tarif sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 26 Undang-Undang PPh, yakni sebesar 20%;
j. Bahwa terdapat kasus-kasus terkait beneficial owner di dunia yaitu sebagai berikut:
a. Indofood (Inggris);
Dalam kasus Indofood yang disidangkan di Pengadilan Tinggi Inggris, PT Indofood Sukses Makmur Tbk mendirikan NewCo di Belanda setelah P3B Indonesia-Mauritius diterminasi pada tahun 2004. Hakim memutuskan bahwa NewCo bukan merupakan beneficial owner atas penghasilan bunga yang diterima dari Indonesia karena Newco tidak mempunyai kuasa atas penghasilan tersebut dengan adanya kewajiban untuk meneruskan penghasilan bunga yang diterima kepada pihak lain;
b. Prevost 2006 (Kanada);
Bahwa dalam kasus Prevost, Hakim memutuskan bahwa Prevost Holdings yang didirikan oleh UKCo dan Volvo di Belanda merupakan beneficial owner atas penghasilan yang dieproleh dari Kanada. Hakim berpendapat bahwa untuk dapat dianggap sebagai beneficial owner, penerima penghasilan harus mempunyai: risk (risiko), use (penggunaan), control (kendali), dan possess (kepemilikan);
c. V. SA Swiss (2001);
V.SA Luxemburg didirikan oleh UKCo I dan kemudian V.SA mendirikan SACo di Swiss dengan penyetoran modal 100% yang dananya berasal adri pinjaman UKCo kepada kepada V.SA. Atas dividen yang diterima V.SA dari SACo diteruskan kepada UKCo untuk membayar bunga kepada UKCo I;
Hakim memutuskan bahwa V.SA bukan beneficial owner dan dividen yang diterima dari SACo karena V.SA tidak dapat memberikan dokumen untuk membuktikan bahwa V.SA adalah beneficial owner dari dividen sehingga tidak diketahui apakah V.SA menerima dividen untuk diri sendiri
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 29
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 30 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017
atau atas nama pihak lain karena penghasilan yang diterima kemudian diteruskan kepada UKCo sebagai pembayaran bunga;
Bahwa berdasarkan contoh-contoh kasus di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
a. Penerima penghasilan dapat dianggap beneficial owner jika: memiliki (possess), menggunakan (use), mengendalikan (control), mempunyai risiko (risk) atas penghasilan yang diterima;
b. Wajib Pajak yang harus membuktikan status beneficial owner;
c. Penerima penghasilan bukan merupakan beneficial owner jika tidak memiliki kuasa alas penghasilan yang diterima (penghasilan diteruskan kepada pihak lain);
d. Manfaat P3B tidak dapat diberikan jika transaksi di buat dengan tujuan untuk mendapatkan manfaat P3B;
k. Bahwa penekanan dalam sengketa ini adalah pembuktian bahwa penerima bunga dari Termohon Peninjauan Kembali adalah memenuhi syarat atau tidak untuk memperoleh fasilitas P3B Indonesia-Belanda dengan pertimbangan bahwa perlu dicermati usaha untuk menyalahgunakan P3B itu sendiri dalam hal sebagai berikut:
a. Transaksi yang tidak mempunyai substansi ekonomi dilakukan dengan menggunakan struktur/skema sedemikian rupa dengan maksud semata-mata untuk memperoleh manfaat P3B;
b. Transaksi dengan struktur/skema yang format hukumnya (legal form) berbeda dengan substansi ekonominya (economic substance) sedemikian rupa dengan maksud semata-mata untuk memperoleh manfaat P3B; atau;
c. Penerima penghasilan bukan merupakan pemilik yang sebenarnya atas manfaat ekonomis dari penghasilan (beneficial owner);
l. Bahwa sehubungan dengan maksud dan tujuan dibuatnya P3B Indonesia dengan Belanda maka seharusnya dilakukan pembuktian atas status benar tidaknya bahwa penerima bunga adalah beneficial owner;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 30
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 31 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017
Bahwa beneficial owner di dalam P3B mempunyai makna yang tidak berlandaskan kepada pengertian hukum atau formal, melainkan mengandung makna ekonomis yang lebih melihat kepada substansi. Karakter-karakter yang menjelaskan tidak termasuk dalam pengertian beneficial owner secara negatif adalah "agent", "nominee", "mere fiduciary", "administrator" dan "conduit companies". Selain itu secara positif siapa yang dimaksud dengan beneficial owner adalah orang yang bebas memutuskan tentang suatu modal dan harta dan/atau hasil dari harta atau modal tersebut;
m. Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas, menurut Pemohon Peninjauan Kembali seharusnya Majelis Hakim melakukan pembuktian terlebih dahulu kebenaran penerima bunga adalah sebagai beneficial owner atau tidak, sehingga penerapan P3B Indonesia Belanda dapat dilakukan;
Dalam hal ini Majelis Hakim telah mengabaikan fakta-fakta yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali bahwa Goederhand Finance B.V. bukanlah beneficial owner dari bunga yang dibayarkan Termohon Peninjauan Kembali, melainkan hanya merupakan paper company dan pass-through entity atau conduit company, sehingga atas bunga yang dibayarkan oleh Termohon Peninjauan Kembali kepada Goederhand Finance B.V. seharusnya merupakan objek yang terutang PPh Pasal 26 sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku;
n. Bahwa mengenai pendapat Majelis yang menyatakan bahwa berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 11 Ayat (4) P3B Indonesia-Belanda, pendapatan atas bunga yang diterima oleh GFBV dari Indonesia (dari Termohon Peninjauan Kembali), hak pemajakannya berada di negara Belanda, dan terbukti bahwa pemerintah Belanda telah mengenakan pajak atas pendapatan bunga tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Bahwa jawaban EOI dari negara atau yurisdiksi mitra tidak memberikan kesimpulan mengenai status beneficial owner penerima penghasilan karena yang menentukan status beneficial owner adalah negara sumber. Selain itu,
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 31
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 32 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017
beneficial owner ditentukan berdasarkan fakta dan kondisi yang terjadi yang diketahui dari data balk yang dimiliki DJP, Wajib Pajak, database berbayar, data yang diperoleh dari EOI, atau atau data lainnya;
Bahwa meskipun SKD menyebutkan bahwa penghasilan yang diterima dari Indonesia di pajaki di Belanda, bukan berarti GFBV serta merta merupakan Beneficial Owner dari penghasilan bunga dan layak mendapatkan manfaat P3B. Beneficial Owner ditentukan berdasarkan fakta dan kondisi yang sebenarnya, apakah GFBV mempunyai hak untuk menggunakan dan menikmati penghasilan yang diterima harus dibuktikan berdasarkan data dan fakta yang sebenarnya;
Bahwa berdasarkan Sistem Perpajakan Belanda sebagaimana diterbitkan oleh IBFD per tanggal 25 Oktober 2015 dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat pemajakan berganda dalam hal Indonesia akan mengenakan pajak atas interest yang diterima oleh residen Belanda karena:
- tidak terdapat pemotangan pajak atas interest yang dibayarkan atau diterima oleh residen Belanda;
- di Belanda, terdapat sistem untuk mengeliminasi pajak berganda berupa exemption with progression method, kredit pajak atau melalui pembebanan sebagai biaya;
o. Bahwa terdapat beberapa Putusan Pengadilan Pajak atas kasus serupa yaitu diantaranya sebagai berikut:
Putusan Pengadilan Pajak RI Nomor Put.13603/PP/M.I/13/-2008:
1) Bahwa Majelis tidak dapat menerima pendapat bahwa Indonesia menganut konsep beneficial owner dengan menggunakan konsep Surat Keterangan Domisili (SKD), menurut pendapat Majelis, SKD sesuai dengan namanya merupakan pengakuan bahwa seseorang atau suatu badan usaha hukum berdomisili di negara yang menerbitkan SKD tapi tidak dengan sendirinya merupakan beneficial owner;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 32
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 33 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017
2) Bahwa perundang-undangan perpajakan Indonesia menganut asas material, oleh karena itu, menurut pendapat Majelis, pengertian beneficial owner harus ditinjau dari kenyataan yang sesungguhnya atau fakta yang terjadi dan bukan hal-hal yang semata-mata bersifat formal;
3) Bahwa pendirian Majelis Hakim mengenai beneficial owner dilandasi oleh doktrin substance over form dan berdasarkan pendekatan ekonomi, beneficial owner adalah pihak yang secara substansial nyata-nyata merupakan pemilik yang sesungguhnya dari suatu penghasilan yang dengan bebas dapat menikmati penghasilan tersebut dan di negara domisili dikenakan pajak atas penghasilan tersebut;
4) Bahwa Majelis Hakim dapat menerima substansi dari surat edaran nomor SE-04/PJ.34/2005 tanggal 7 Juli 2005 tentang pengertian beneficial owner dan Majelis berpendapat bahwa penjabaran mengenai pengertian beneficial owner itu berlaku sejak adanya P3B yang berkenaan dan bukan sejak saat diterbitkannya SE-04/PJ.34/2005;
5) Bahwa pemberlakuan pengertian beneficial owner sesuai SE-04/PJ.34/2005 sejak adanya P3B yang berkenaan sama sekali tidaklah berarti bahwa pengaturan mengenai pengenaan pajak berlaku surut, melainkan memberikan penegasan mengenai ketentuan yang sebenarnya, sesuai dengan tujuan dicantumkannya istilah beneficial owner dalam P3B;
6) Bahwa berdasarkan pendapat Majelis Hakim I Pengadilan Pajak tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsep residency yang direpresentasikan oleh SKD adalah berbeda dengan konsep beneficial ownership sehingga seseorang atau badan yang telah memiliki SKD dari competent authority perpajakan suatu negara tidak dengan sendirinya merupakan beneficial owner, beneficial owner harus ditinjau dari kenyataan yang sesungguhnya atau fakta yang terjadi dan bukan hal-hal yang
semata-Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 33
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 34 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017
mata bersifat legalitas formal, dan hal ini telah sejalan pula dengan perundangan-undangan perpajakan Indonesia yang menganut asas material (substance over form), bahwa ketentuan persyaratan beneficial owner telah tercantum dalam P3B sehingga ketentuan tersebut berlaku sejak P3B yang bersangkutan diberlakukan;
Putusan Pengadilan Pajak RI Nomor Put.15719/PP/M.VIII/-13/2008:
1) Bahwa Majelis sependapat dengan pengertian beneficial owner sebagaimana tercantum dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-04/PJ.34/2005 tanggal 7 Juli 2005 tentang Petunjuk Penetapan Kriteria Beneficial Owner sebagaimana tercantum dalam Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) antara Indonesia dengan negara lainnya;
2) Bahwa kalau Pemohon Peninjauan Kembali sudah mengetahui bahwa yang menerima bukan beneficial owner, fasilitas penurunan tarif tidak perlu diberikan, dan Pemohon Peninjauan Kembali harus membuktikan bahwa yang menerima penghasilan bukan beneficial owner;
3) Bahwa Majelis berusaha untuk memahami penggertian beneficial owner dari artikel yang ditulis oleh J.D.B. Oliver, Jerome B. Libin, StefVan Weeghel dan Charl Du Toil yang membahas mengenai beneficial owner seperti yang tercantum dalam Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dari OECD Model Tax Convention;
4) Bahwa pendirian Majelis Hakim mengenai beneficial owner dilandasi oleh doktrin substance over form dan berdasarkan pendekatan ekonomi, beneficial owner adalah pihak yang secara substansial nyata-nyata merupakan pemilik yang sesungguhnya dari suatu penghasilan yang dengan bebas dapat menikmati penghasilan tersebut dan di negara domisili dikenakan pajak atas penghasilan tersebut;
p. Bahwa ketentuan Pasal 69 ayat (1), Pasal 76, Pasal 78 dan Pasal 84 ayat (1) Undang-Undang Pengadilan Pajak mengamanatkan kepada Majelis Hakim Pengadilan Pajak
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 34
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 35 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017
untuk menentukan beban pembuktian, melakukan penilaian pembuktian dan penerapan peraturan perundang-undangan perpajakan terhadap sengketa yang terjadi dalam persidangan sebelum mengambil putusan. Faktanya, dalam pengambilan putusan atas sengketa ini, Majelis Hakim telah mengabaikan fakta-fakta sebagaimana yang telah diuraikan di atas mengenai syarat untuk mendapatkan manfaat P3B Indonesia Belanda yaitu penerima bunga sebagai beneficial owner dan hanya mendasarkan putusannya pada ketentuan Pasal 11 ayat (4) P3B Indonesia-Belanda tanpa melihat siapa sebenarnya beneficial owner dari penghasilan bunga tersebut;
q. Dengan demikian, Majelis tidak menilai kebenaran materiil secara objektif atas transaksi yang dilakukan oleh Termohon Peninjauan Kembali dan putusan yang diambil menjadi tidak tepat karena nyata-nyata bertentangan dengan ketentuan Pasal 11 ayat (2) dan Pasal 11 Ayat (4) P3B Indonesia-Belanda serta Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-03/PJ.03/2008 serta pedoman sebagai diatur dalam OECD Model Tax Convention on Income and Capital 2014 (OECD MTC) sehingga ketentuan Pasal 76, 78, dan Pasal 84 ayat (1) huruf f Undang-Undang Pengadilan Pajak tidak sepenuhnya dilaksanakan Majelis Hakim;
4. Bahwa dengan demikian, Putusan Majelis Hakim yang tidak mempertahankan Koreksi Positif Dasar Pengenaan Pajak Pajak Penghasilan Pasal 26 Final Masa Pajak Desember 2009 sebesar Rp10.122.055.590,00 tidak tepat karena tidak sesuai dengan fakta, dan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, sehingga sesuai ketentuan Pasal 91 huruf e Undang-Undang Nomor 14 tentang Pengadilan Pajak, atas Putusan Majelis a quo diajukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung karena Putusan Majelis Hakim ini tidak memenuhi ketentuan Pasal 78 Undang-Undang Pengadilan Pajak;
5. Bahwa berdasarkan fakta-fakta hukum (fundamentum petendi) tersebut di atas secara keseluruhan telah membuktikan secara jelas dan nyata-nyata bahwa Majelis Hakim Pengadilan Pajak telah memutus perkara a quo tidak berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga pertimbangan dan amar Putusan Majelis Hakim pada pemeriksaan sengketa banding di Pengadilan Pajak nyata-nyata
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 35
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 36 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017
telah salah dan keliru serta tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (contra legem), khususnya dalam bidang perpajakan, sehingga putusan Majelis Hakim a quo tidak memenuhi ketentuan Pasal 78 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak. Oleh karena itu maka Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016 tanggal 6 Juni 2016 harus dibatalkan;
V. Bahwa dengan demikian, Putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016 tanggal 6 Juni 2016 yang menyatakan:
Mengabulkan seluruhnya Banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-2359/WPJ.19/2014 tanggal 17 November 2014, tentang Keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Pasal 23/26 Final Masa Pajak Desember 2009 Nomor 00001/245/09/092/14 tanggal 09 Januari 2014, atas nama: PT Ivo Mas Tunggal, NPWP 01.213.128.0-092.000, beralamat Sinar Mas Land Plaza Menara 2 Lt.30, Jalan M.H. Thamrin, No.51, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350, sehingga jumlah pajak yang harus dibayar menjadi nihil, dengan perhitungan menjadi sebagaimana perhitungan tersebut diatas (pada halaman 2);
adalah tidak benar dan nyata-nyata bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku;