• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

PUTUSAN

Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa permohonan peninjauan kembali perkara pajak telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, tempat kedudukan di Jalan Jenderal Gatot Subroto Nomor 40-42, Jakarta 12190, dalam hal ini memberi kuasa kepada:

1. Peni Hirjanto, Direktur Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak;

2. Dayat Pratikno, Kasubdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

3. Farchan Ilyas, Kepala Seksi Peninjauan Kembali, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

4. Devri Oskandar, Penelaah Keberatan, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

Semuanya berkantor di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Nomor 40-42, Jakarta, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-3210/PJ./2016 tanggal 9 September 2016;

Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Terbanding;

melawan:

PT IVO MAS TUNGGAL, tempat kedudukan di Sinar Mas Land Plaza Menara 2 Lt.30, Jalan M.H. Thamrin, No. 51, Gondangdia, Menteng,Jakarta Pusat 10350;

Termohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding;

Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Terbanding telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016, tanggal 6 Juni 2016, yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Banding, dengan posita perkara sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

Bahwa sehubungan dengan telah diterbitkannya Keputusan DJP Nomor KEP- 2359/WPJ.19/2014 tanggal 17 November 2014 tentang Keberatan atas SKPKB Pajak Penghasilan Final Pasal 26 Masa Pajak Desember 2009 Nomor 00001/245/09/092/14 tanggal 09 Januari 2014, berdasarkan Pasal 27 Undang- Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang KUP stdtd Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007, Pemohon Banding mengajukan banding atas Keputusan Nomor KEP-2359/WPJ.19/2014 tanggal 17 November 2014;

Ketentuan Formal Banding;

1. Sesuai dengan Pasal 35 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 menyebutkan:

(1) Banding diajukan dengan Surat Banding dalam Bahasa Indonesia kepada Pengadilan Pajak;

(2) Banding diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterima Keputusan yang dibanding, kecuali diatur lain dalam peraturan perundangundangan perpajakan;

2. Sesuai dengan Pasal 36 ayat (1), (2), (3), dan (4) UU Nomor 14 tahun 2002 menyebutkan:

(1). Terhadap 1 (satu) Keputusan diajukan 1 (satu) Surat Banding;

(2). Banding diajukan dengan disertai alasan-alasan yang jelas, dan dicantumkan tanggal diterima surat keputusan yang disbanding;

(3). Pada Surat Banding dilampirkan salinan Keputusan yang dibanding (dalam lampiran);

(4). Selain dari persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) serta Pasal 35, dalam hal Banding diajukan terhadap besarnya jumlah Pajak yang terutang, Banding hanya dapat diajukan apabila jumlah pajak yang terutang yang dimaksud telah dibayar sebesar 50% (lima puluh persen);

Bahwa untuk memenuhi persyaratan formal banding sesuai Pasal 36 ayat (4) maka, Pemohon Banding telah membayar jumlah pajak yang terutang sebesar Rp750.000.000,00. Di samping itu Surat Banding Pemohon Banding juga telah memenuhi Pasal 35 ayat (1) dan (2) serta Pasal 36 ayat (1), (2) dan ayat (3);

3. Sesuai dengan Pasal 37 ayat (1) bahwa Banding hanya dapat diajukan oleh pengurus yaitu Direksi. Dalam hal ini Surat Banding Pemohon Banding juga ditandatangani oleh Ferdianto Wawolangi;

Kronologis Dan Dasar Koreksi Pemeriksa;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

1. Bahwa pada tanggal 9 Januari 2014, KPP Wajib Pajak Besar Dua menerbitkan SKPKB PPh Final Pasal 23/26 Masa Pajak Desember 2009 Nomor 00001/245/09/092/14 sebesar Rp2.996.128.455,00 dengan perincian sebagai berikut:

Uraian Menurut WP Menurut Fiskus

Penghasilan Kena Pajak/Dasar Pengenaan Pajak - 10.122.055.590

PPH Pasal 23/26 Final Terutang - 2.024.411.118

Kredit Pajak :

a. PPh Ditanggung Pemerintah - -

b. Setoran Masa , -

c. STP (Pokok Kurang Bayar) - -

d. Kompensasi Kelebihan dari Masa Pajak e. Lain-fain

- -

-

f. Kompensasi kelebihan ke Masa Pajak - - -

g. Jumlah Pajak yang dapat dikreditkan - -

Pajak yang tidak / kurang dibayar - 2.024.411.118

Sanksi Administrasi :

Bunga Pasal 13 (2) KUP 971.717.337

Kenaikan Pasal 13 (3) KUP - -

Jumlah PPh yang masih harus dibayar - 2.996.128.455

2. Bahwa atas SKPKB PPh Final Pasal 23/26 tersebut, Wajib Pajak mengajukan permohonan keberatan melalui surat Nomor 028/111- 14/AB.V/IMT tanggal 27 Maret 2014 yang diterima oleh KPP Wajib Pajak Besar Dua dengan Bukti Penerimaan Surat No. PEM:005585\mar\2014 tanggal 28 Maret 2014;

3. Bahwa atas permohonan keberatan tersebut, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan Nomor KEP-2359/WPJ.19/2014 tanggal 17 November 2014, yang isinya menolak keberatan Wajib Pajak, dengan rincian sebagai berikut:

Uraian Semula

(Rp) Ditambah/(Dikurangi) (Rp)

Menjadi (Rp)

a.Dasar Pengenaan Pajak 10.122.055.590 - 10.122.055.590

b.Pajak Penghasilan (PPh) Terutang 2.024.411.118 - 2.024.411.118

c.Kredit Pajak - - -

d.Kompensasi Masa Pajak Sebelumnya - - -

e.PPh Kurang /(lebih) Bayar 2.024.411.118 - 2.024.411.118

f.Sanksi Administrasi 971.717.337 - 971.717.337

g.Jumlah PPh yang masih harus dibayar 2.996.128.455 - 2.996.128.455

PERMOHONAN BANDING;

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dan mengajukan banding alas Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-2359/WPJ.19/2014 tanggal 17 November 2014 yang isinya menolak keberatan Pemohon Banding atas SKPKB PPh Final Pasal 23126 Masa Pajak Desember 2009 Nomor 00001/245/09/092/14 tanggal 09 Januari 2014 dengan penjelasan sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

Bahwa Pemeriksa melakukan koreksi atas DPP PPh Final Pasal 23/26 sebesar Rp10.122.055.590,00 dengan dasar koreksi berdasarkan Pasal 26 dan Pasal 11 ayat (4) Undang-Undang PPh No. 36 Tahun 2008, dan P3B antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Belanda terhadap pembayaran bunga pinjaman kepada GFBV yang berkedudukan di Belanda;

Bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan pendapat Penelaah Keberatan yang mempertahankan koreksi Pemeriksa atas koreksi DPP PPh Final Pasal 23/26 sebesar Rp10.122.055.590,00 tersebut, dengan penjelasan sebagai berikut:

 Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) antara Indonesia dan Belanda sudah disetujui dan ditandatangani oleh kedua belah pihak yaitu Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Negara Belanda. P3B ini pun telah diberlakukan melalui Keputusan Presiden (KEPPRES) No. 92 Tahun 2003;

 Berdasarkan Pasal 11 P3B antara Indonesia dan Belanda menyatakan tentang:

Pasal 11 Bunga

(1) Bunga yang timbul di salah satu Negara dan dibayarkan kepada penduduk Negara lainnya dapat dikenakan pajak di Negara lainnya;

(2) Namun demikian, bunga tersebut dapat juga dikenakan pajak di Negara di mana bunga tersebut berasal dan sesuai dengan perundang- undangan negara tersebut; akan tetapi, apabila pemilik manfaat dari bunga tersebut adalah penduduk Negara lainnya, maka pajak yang dikenakan tidak akan melebihi 10% (sepuluh persen) dari jumlah bruto bunga;

(3) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam ayat (2), bunga yang timbul di salah satu Negara hanya akan dikenakan Pajak di Negara lainnya sepanjang bunga tersebut diperoleh:

i. Pemerintah Negara lainnya, termasuk bagian ketatanegaraanya dan Pemerintah daerahnya; atau

ii Bank Sentral Negara lainnya; atau

iii. Lembaga keuangan yang dimiliki atau dikendalikan oleh Pemerintah Negara lainnya, termasuk bagian ketatanegaraannya dan pemerintah daerahnya; atau

iv Setiap Penduduk Negara lainnya sehubungan dengan Piutang yang dijamin oleh Pemerintah Negara lainnya termasuk bagian

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

ketatanegaraannya dan Pemerintah daerahnya, Bank Sentral Negara lainnya, atau setiap Lembaga Keuangan yang dimiliki atau dikendalikan oleh Pemerintah tersebut”;

(4) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam ayat (2), bunga yang timbul di salah satu Negara hanya akan dikenakan pajak di Negara lainnya jika pemilik manfaat dari bunga tersebut merupakan penduduk Negara lainnya dan jika bunga tersebut dibayarkan atas hutang yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari 2 (dua) tahun atau yang dibayarkan sehubungan dengan penjualan kredit perlengkapan industri, dagang, atau ilmu pengetahuan;

(5) Pejabat yang berwenang dari kedua Negara melalui persetujuan bersama akan mengatur cara-cara untuk menerapkan ayat (2), (3), dan (4);

 Sedangkan tata cara penerapan P3B diatur oleh Direktur Jenderal Pajak dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-03/PJ.101/1996 tanggal 29 Maret 1996 mengenai Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang menyebutkan bahwa:

“... untuk memberikan kemudahan bagi semua pihak, penerapan PPh Pasal 26 sesuai dengan P38 dilaksanakan sebagai berikut:

a. Wajib Pajak luar negeri wajib menyerahkan asli Surat Keterangan Domisili kepada pihak yang berkedudukan di Indonesia yang membayar penghasilan dan menyampaikan fotokopi Surat Keterangan Domisili tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat pihak yang membayar penghasilan terdaftar;

b. Asli Surat Keterangan Domisili tersebut menjadi dasar bagi pihak yang membayar penghasilan untuk menerapkan PPh Pasal 26 sesuai dengan yang ditegaskan dalam P3B yang berlaku antara Indonesia dengan negara tempat kedudukan (residence) dari Wajib Pajak luar negeri tersebut ...";

 Bahwa berdasarkan Surat Keterangan Domisili dari Goederhand Finance B.V. (GFBV) yang telah Wajib Pajak sampaikan pada saat proses pemeriksaan, secara tegas dinyatakan bahwa GFBV merupakan penduduk/residen di Negara Belanda. Berikut adalah kutipan dari Surat Keterangan Domisili tersebut:

GOEDERHAND FINANCE B.V.

Claude Debussylaan 25 1082 MD AMSTERDAM

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

is a resident of the Netherlands within the meaning of article 4 of the agreement between the Netherland and the Republik of Indonesia for the avoidance of double taxation ...;

Selain itu, berdasarkan sistem perpajakan di Indonesia, Tax Treaty adalah merupakan lex specialis dari Undang-Undang PPh. Sesuai dengan asas lex specialis derogat legi generalis disebutkan bahwa ketentuan di dalam Tax Treaty meniadakan ketentuan yang sama dengan yang terdapat di dalam Undang-Undang PPh. Dengan demikian, ketentuan material mengenai pemajakan terhadap Wajib Pajak Luar Negeri mengikuti ketentuan Tax Treaty yang berlaku;

 Bahwa selanjutnya berdasarkan bukti perjanjian dengan GFBV, disebutkan bahwa jangka waktu peminjaman lebih dari 2 tahun. Berdasarkan keterangan di atas dan mengacu pada Pasal 11 P3B Indonesia - Belanda, maka hak pemajakan atas penghasilan bunga pinjaman tersebut ada di Negara Belanda. Hal ini sudah sesuai dengan Tax Treaty yang telah disahkan di kedua belah negara. Maka Hak pemajakannya berada di belanda bukan di Indonesia;

 Bahwa oleh karena itu menurut Pemohon Banding, koreksi Pemeriksa atas biaya bunga Belanda tersebut seharusnya dibatalkan;

Bahwa sesuai dengan uraian di atas, menurut Pemohon Banding jumlah PPh Final Pasal 23/26 yang masih harus dibayar untuk Masa Pajak Desember 2009 adalah Nihil dengan perincian sebagai berikut:

Uraian Menurut WP

Penghasilan Kena Pajak/Dasar Pengenaan Pajak -

PPH Pasal 23/26 Final Terutang -

Kredit Pajak :

a. PPh Ditanggung Pemerintah -

b. Setoran Masa -

c. STP (Pokok Kurang Bayar) -

d. Kompensasi Kelebihan dari Masa Pajak e. Lain-fain

-

f. Kompensasi kelebihan ke Masa Pajak --

g. Jumlah Pajak yang dapat dikreditkan -

Pajak yang tidak / kurang dibayar -

Sanksi Administrasi :

Bunga Pasal 13 (2) KUP -

Kenaikan Pasal 13 (3) KUP -

Jumlah PPh yang masih harus dibayar -

Menimbang, bahwa amar Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016, tanggal 6 Juni 2016, yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:

Mengabulkan seluruhnya Banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-2359/WPJ.19/2014 tanggal 17 November 2014, tentang Keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

Bayar Pajak Penghasilan Pasal 23/26 Final Masa Pajak Desember 2009 Nomor 00001/245/09/092/14 tanggal 09 Januari 2014, atas nama: PT Ivo Mas Tunggal, NPWP 01.213.128.0-092.000, beralamat Sinar Mas Land Plaza Menara 2 Lt.30, Jalan M.H. Thamrin, No. 51, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350, sehingga jumlah pajak yang harus dibayar menjadi nihil, dengan perhitungan sebagai berikut:

Penghasilan Kena Pajak/Dasar Pengenaan Pajak Rp 0,00

PPh Pasal 26 yang terutang Rp 0,00

Kredit Pajak Rp 0,00

Jumlah Pajak yang masih harus dibayar Rp 0,00 Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yaitu Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016, tanggal 6 Juni 2016, diberitahukan kepada Pemohon Peninjauan Kembali pada tanggal 24 Juni 2016 dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-3210/PJ./2016 tanggal 9 September 2016 diajukan permohonan peninjauan kembali secara tertulis di Kepaniteraan Pengadilan Pajak pada tanggal 21 September 2016 sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Peninjauan Kembali Nomor PKA-3054/PAN.Wk/2016 yang dibuat oleh Wakil Panitera Pengadilan Pajak, dengan disertai oleh alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal itu juga;

Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama pada tanggal 17 April 2017, kemudian terhadapnya oleh pihak lawannya diajukan jawaban yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 17 Mei 2017;

Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, juncto Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, maka permohonan peninjauan kembali tersebut formal dapat diterima;

ALASAN PENINJAUAN KEMBALI

Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan peninjauan kembali pada pokoknya sebagai berikut:

I. Tentang Alasan Pengajuan Peninjauan Kembali;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

Bahwa Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016 tanggal 6 Juni 2016 telah dibuat dengan tidak memperhatikan ketentuan yuridis formal atau mengabaikan fakta yang menjadi dasar pertimbangan dalam koreksi yang dilakukan Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding), sehingga menghasilkan putusan yang tidak adil dan tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku di Indonesia. Oleh karenanya Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016 tanggal 6 Juni 2016 diajukan Peninjauan Kembali berdasarkan ketentuan Pasal 91 huruf e Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak:

“Permohonan Peninjauan Kembali dapat diajukan berdasarkan alasan sebagai berikut:

e. Apabila terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”;

II. Tentang Formal Jangka Waktu Pengajuan Memori Peninjauan Kembali;

1. Bahwa Salinan Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016 tanggal 6 Juni 2016, atas nama PT Ivo Mas Tunggal (Termohon Peninjauan Kembali/semula Pemohon Banding), telah diberitahukan secara patut dan dikirimkan oleh Pengadilan Pajak kepada Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) melalui surat pengiriman Putusan Pengadilan Pajak dan diterima secara langsung oleh Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) pada tanggal 27 Juni 2016 dengan bukti Tanda Terima Tempat Pelayanan Surat Terpadu (TPST) Nomor 201606270358;

2. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 91 huruf e dan Pasal 92 ayat (3) juncto Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Pengadilan Pajak, maka pengajuan Memori Peninjauan Kembali atas Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016 tanggal 6 Juni 2016 ini masih dalam tenggang waktu yang diizinkan oleh Undang-Undang Pengadilan Pajak atau setidak-tidaknya antara tenggang waktu pengiriman/

pemberitahuan Putusan Pengadilan Pajak tersebut dengan Permohonan Peninjauan Kembali ini belum lewat waktu sebagaimana telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah Memori Peninjauan Kembali ini diterima oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

III. Tentang Pokok Sengketa Pengajuan Peninjauan Kembali;

Bahwa yang menjadi pokok sengketa dalam permohonan Peninjauan Kembali ini adalah:

Koreksi Objek PPh Pasal 26 Final Masa Pajak Desember 2009 sebesar Rp10.122.055.590 yang tidak dapat dipertahankan oleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak;

IV. Tentang Pembahasan Pokok Sengketa Peninjauan Kembali;

Bahwa setelah Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) membaca, memeriksa dan meneliti Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016 tanggal 6 Juni 2016, maka dengan ini menyatakan sangat keberatan atas Putusan Pengadilan Pajak tersebut, karena pertimbangan hukum yang keliru dan telah mengabaikan fakta-fakta hukum (rechtsfeit) dan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dalam pemeriksaan Banding di Pengadilan Pajak atau setidak- tidaknya telah membuat suatu kekhilafan baik berupa error facti maupun error juris dalam membuat pertimbangan-pertimbangan hukumnya, sehingga pertimbangan hukum dan penerapan dasar hukum yang telah digunakan menjadi tidak tepat serta menghasilkan putusan yang nyata- nyata tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan (contra legem), khususnya peraturan perundang- undangan perpajakan yang berlaku;

1. Bahwa pendapat Majelis Hakim Pengadilan Pajak atas sengketa peninjauan kembali ini sebagaimana tertuang dalam putusan a quo, antara lain berbunyi sebagai berikut:

Bahwa berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut:

- Bahwa P3B Indonesia - Belanda merupakan perangkat hukum yang berlaku khusus (lex-spesialis) yang mengatur hak-hak pemajakan dari masing-masing negara guna memberikan kepastian hukum dan menghindarkan pengenaan pajak berganda serta mencegah pengelakan pajak (vide Pasal 32 A KUP). Oleh karena itu, kedua negara tidak dapat menerapkan Undang-Undang Domestiknya secara sepihak, apabila Undang-Undang Domestiknya bertentangan atau tidak sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam P3B Indonesia - Belanda;

- Bahwa apabila masing-masing negara akan menerapkan undang- undang domestiknya atas pengenaan pajak terhadap pendapatan yang diatur dalam P3B Indonesia-Belanda, masing-masing pejabat yang berwenang dari kedua negara harus menempuh tata cara

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

yang telah diatur dalam Pasal 28 P3B Indonesia - Belanda, dengan kata lain tidak dibenarkan untuk melakukan tindakan sepihak;

- Bahwa berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 11 Ayat (4) P3B Indonesia-Belanda, pendapatan atas bunga yang diterima oleh GFBV dari Indonesia (dari Pemohon Banding), hak pemajakannya berada di negara Belanda, dan terbukti bahwa pemerintah Belanda telah mengenakan pajak atas pendapatan bunga tersebut;

Bahwa berdasarkan uraian dan pertimbangan tersebut, Majelis berkesimpulan koreksi Terbanding atas Objek PPh Pasal 26 Masa Desember 2009 sebesar Rp10.122.055.590,00 tidak didasarkan pada bukti-bukti yang kuat dan terkait serta tidak berlandaskan pada peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dalam hal ini P3B Indonesia-Belanda jo. Pasal 12 Ayat (3) jo. Memori Penjelasan Pasal 29 Ayat jo. Pasal 32A Undang-Undang KUP, oleh karena itu harus dibatalkan;

2. Bahwa ketentuan perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar pengajuan Peninjauan Kembali dalam perkara a quo adalah sebagai berikut:

2. 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, antara lain mengatur:

Pasal 69 ayat (1):

Alat bukti dapat berupa:

a. surat atau tulisan;

b. keterangan ahli;

c. keterangan para saksi;

d. pengakuan para pihak; dan/atau e. pengetahuan Hakim;

Pasal 76:

Hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian dan untuk sahnya pembuktian diperlukan paling sedikit 2 (dua) alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1);

Pasal 77 ayat (3):

Pihak-pihak yang bersengketa dapat mengajukan peninjauan kembali atas Putusan Pengadilan Pajak kepada Mahkamah Agung;

Pasal 78:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

Putusan Pengadilan Pajak diambil berdasarkan hasil penilaian pembuktian, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang bersangkutan, serta berdasarkan keyakinan Hakim;

Pasal 84 ayat (1) huruf f:

Putusan Pengadilan Pajak harus memuat pertimbangan dan penilaian setiap bukti yang diajukan dan hal yang terjadi dalam persidangan selama sengketa itu diperiksa;

Pasal 91 huruf e:

Permohonan peninjauan kembali hanya dapat diajukan berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:

e. Apabila terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

2.2. Bahwa Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008, mengatur antara lain:

Pasal 26 ayat (1) huruf b:

Atas penghasilan tersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang;

Pasal 32:

Tata cara pengenaan pajak dan sanksi-sanksi berkenaan dengan pelaksanaan Undang-Undang ini dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

Pasal 32A:

Pemerintah berwenang untuk melakukan perjanjian dengan pemerintah negara lain dalam rangka penghindaran pajak berganda dan pencegahan pengelakan pajak;

Dalam memori penjelasannya, antara lain dijelaskan bahwa diperlukan suatu perangkat hukum yang berlaku khusus (lex- spesiahs) yang mengatur hak-hak pemajakan dari masing- masing negara guna mencegah pengelakan pajak. Adapun bentuk dan materinya mengacu pada konvensi internasional dan ketentuan lainnya serta ketentuan perpajakan nasional masing-masing Negara;

2.3. Bahwa Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B) antara Indonesia dengan Belanda, mengatur antara lain:

Pasal 1 - Orang Dan Badan Yang Dicakup Dalam Persetujuan:

Persetujuan ini berlaku terhadap orang dan badan yang menjadi penduduk salah satu atau kedua Negara;

Pasal 4 ayat (1) - Domisili Fiskal:

Untuk kepentingan Persetujuan ini, istilah "penduduk salah satu Negara" berarti setiap orang/badan yang, menurut Perundang- undangan Negara tersebut dapat dikenakan pajak di Negara tersebut berdasarkan domisilinya, tempat sifatnya kediamannya.

tempat kedudukan manajemennya, atau atas kriteria lainnya yang sifatnya serupa;

Pasal 11 Bunga:

(1) Bunga yang timbul di salah satu Negara dan dibayarkan kepada penduduk Negara lainnya dapat dikenakan pajak di Negara lainnya;

(2) Namun demikian, bunga tersebut dapat juga dikenakan pajak di Negara di mana bunga tersebut berasal dan sesuai dengan perundang-undangan Negara tersebut akan tetapi, apabila pemilik manfaat dari bunga tersebut adalah penduduk Negara lainnya, maka pajak yang dikenakan tidak akan melebihi 10%

(sepuluh persen) dan jumlah bruto bunga;

(4) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam ayat (2) bunga yang timbul di salah satu Negara hanya akan dikenakan pajak di Negara lainnya jika pemilik manfaat dari bunga tersebut merupakan penduduk Negara lainnya dan jika bunga tersebut

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

dibayarkan atas hutang yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari 2 (dua) tahun atau yang dibayarkan sehubungan dengan penjualan kredit perlengkapan industri, dagang, atau ilmu pengetahuan;

(5) Pejabat yang berwenang dari kedua Negara melalui Persetujuan bersama akan mengatur cara-cara untuk menerapkan ayat (2), (3), dan (4);

(7) Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) dan (2) tidak akan berlaku apabila penerima bunga tersebut, yang merupakan penduduk salah satu Negara, mempunyai bentuk usaha tetap di Negara lainnya di mana bunga tersebut timbul dan tagihan piutang yang menghasilkan bunga tersebut mempunyai hubungan efektif dengari bentuk usaha tetap tersebut. Dalam hal demikian, ketentuan-ketentuan dalam Pasal 7 akan berlaku;

2.4. Bahwa Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE- 03/PJ.03/2008 tanggal 22 Agustus 2008, tentang Penentuan Status Beneficial Owner sebagaimana dimaksud dalam P3B Indonesia dengan negara mitra, menegaskan sebagai berikut:

Agar manfaat P3B tersebut hanya dinikmati oleh pihak-pihak yang berhak, pada umumnya P3B antara Indonesia dengan negara mitra memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

a. Pasal tentang Orang dan Badan yang Tercakup Dalam Persetujuan;

Pasal 1 P3B Indonesia dengan negara lain mengatur bahwa ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam P3B hanya untuk orang dan badan yang menjadi penduduk (subjek Pajak dalam negeri) dari salah satu atau kedua negara pihak pada persetujuan, yaitu Indonesia dan negara mitra P3B;

Untuk menerapkan hal itu, sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-03/PJ.101/1996 tanggal 29 Maret 1996 tentang Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda, Wajib Pajak luar negeri diwajibkan menyerahkan dokumen Surat Keterangan Domisili (SKD) kepada pihak yang berkedudukan di Indonesia yang membayar penghasilan sebagai dasar bagi pihak yang membayar penghasilan untuk menerapkan PPh Pasal 26 sesuai dengan ketentuan yang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

terdapat dalam P3B:

b. Beneficial Owner;

Khusus untuk penghasilan dividen, bunga, dan/atau royalti, P3B mengatur bahwa negara tempat sumber penghasilan dapat mengenakan pajak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di negara tersebut. Namun dalam hal penerima penghasilan adalah beneficial owner, maka pengenaan pajak di negara tempat penghasilan bersumber tidak boleh melebihi persentase tertentu;

Yang dimaksud dengan beneficial owner adalah pemilik yang sebenarnya dari penghasilan berupa dividen, bunga, dan/atau royalti, yang berhak sepenuhnya untuk menikmati secara langsung manfaat penghasilan-penghasilan tersebut. Dengan demikian, apabila penerimaan penghasilan dividen, bunga dan/atau royalti bukan beneficial owner, maka sesuai dengan ketentuan P3B, negara tempat penghasilan bersumber dapat mengenakan pajak sesuai ketentuan perundang-undangan di negara tersebut:

3. Bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dan berdasarkan hasil pemeriksaan sengketa banding di Pengadilan Pajak sebagaimana yang telah dituangkan dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.71385/PP/M.IA/36/2016 tanggal 6 Juni 2016 serta berdasarkan penelitian atas dokumen-dokumen milik Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dan fakta- fakta yang nyata-nyata terungkap pada persidangan, maka Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) menyatakan sangat keberatan dengan pendapat Majelis Hakim Pengadilan Pajak sebagaimana diuraikan pada Butir V.1. di atas dengan alasan sebagai berikut:

3.1. Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali melakukan Koreksi Dasar Pengenaan Pajak Pajak Penghasilan Pasal 26 Final Masa Pajak Desember 2009 sebesar Rp10.122.055.590,00 karena terdapat pembayaran bunga pinjaman kepada perusahaan afiliasi (Goederhand Finance B.V.) yang berdomisili di Belanda yang bukan beneficial owner dari penghasilan bunga tersebut, sehingga Goederhand Finance B.V. tidak berhak memperoleh manfaat atas P3B Indonesia-Belanda, dan oleh karenanya atas transaksi

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

pembayaran bunga pinjaman yang dilakukan oleh Termohon Peninjauan Kembali harus dipungut PPh Pasal 26 sebesar 20%;

3.2. Bahwa menurut Termohon Peninjauan Kembali, Goederhand Finance B.V. merupakan pemilik manfaat sebenarnya (Beneficial Owner) atas pendapatan bunga yang diterima dari Termohon Peninjauan Kembali, oleh karena itu terhadap transaksi pembayaran bunga pinjaman yang dilakukan oleh Termohon Peninjauan Kembali kepada GFBV pemungutan pajaknya harus tunduk dan didasarkan pada ketentuan yang diatur dalam P3B Indonesia-Belanda;

3.3. Bahwa dengan demikian, sengketa atas Koreksi Positif Dasar Pengenaan Pajak Pajak Penghasilan Pasal 26 sebesar Rp10.122.055.590,00 ini adalah masalah pembuktian dan yuridis yaitu apakah hak pemajakan atas penghasilan berupa Bunga yang diterima oleh Goederhand Finance B.V. berada di negara domisili (Belanda) atau berada di Indonesia sebagai negara sumber, dimana hal tersebut akan ditentukan oleh status dari Goederhand Finance B.V. selaku penerima penghasilan berupa Bunga yang berkedudukan di Belanda apakah merupakan Beneficial Owner dari penghasilan tersebut atau bukan;

3.4. Bahwa pertimbangan Majelis dalam memutus sengketa a quo tidak sesuai dengan ketentuan dan fakta-fakta sebagai berikut:

a. Bahwa alasan Pemohon Peninjauan Kembali melakukan Koreksi Positif Dasar Pengenaan Pajak Pajak Penghasilan Pasal 26 sebesar Rp10.122.055.590,00 karena berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan pada saat pemeriksaan diketahui terdapat pembayaran bunga pinjaman kepada perusahaan afiliasi (Goederhand Finance B.V.) yang berdomisili di Belanda yang bukan merupakan beneficial owner dari penghasilan bunga tersebut, sehingga Goederhand Finance B.V. tidak berhak memperoleh manfaat atas P3B Indonesia- Belanda, dan oleh karenanya atas transaksi pembayaran bunga pinjaman yang dilakukan oleh Termohon Peninjauan Kembali harus dipungut PPh Pasal 26 sebesar 20% sesuai ketentuan undang-undang PPh. Fakta-fakta terkait transaksi pembayaran bunga pinjaman dari Termohon Peninjauan Kembali kepada Goederhand Finance B.V. adalah sebagai

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

berikut:

 Bahwa berdasarkan halaman 38 Laporan Keuangan Tahun 2009 diketahui bahwa salah satu transaksi kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah dengan Goederhand Finance B.V. (GFBV);

 Bahwa Termohon Peninjauan Kembali menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman dengan Goederhand Finance B.V. pada tanggal 31 Oktober 2006. Termohon Peninjauan Kembali memperoleh pinjaman dari GFBV dengan fasilitas sebesar US$40,000,000. Pinjaman ini dikenakan bunga per tahun sebesar 9% pada tahun 2009 dan 7% sampai 9% pada tahun 2008. Bunga dibayarkan setiap tanggal 30 Juni dan 31 Desember. Jatuh tempo pinjaman adalah tanggal 26 Desember 2009;

 Bahwa Termohon Peninjauan Kembali telah melunasi semua pinjamannya dalam berbagai tanggal selama periode Mei sampai Desember 2009;

 Bahwa pada tanggal 31 Desember 2008, saldo pinjaman Termohon Peninjauan Kembali sebesar US$ 15,050,000 (setara Rp164.797.500.000,00) disajikan sebagai bagian dari "Utang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa";

 Bahwa pada tanggal 31 Desember 2008, hutang bunga yang timbul dari transaksi ini sebesar US$581,933 (setara Rp6.372.170.074,00) yang disajikan sebagai “Hutang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa” pada neraca tahun 2008;

b. Bahwa sesuai ketentuan yang diatur dalam Pasal 11 ayat (2) dan Pasal 11 Ayat (4) P3B Indonesia-Belanda serta Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-03/PJ.03/2008 di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembayaran bunga ke Belanda hanya dapat diberikan manfaat atas P3B Indonesia- Belanda apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1 ) Penerima bunga merupakan residen Belanda, yang dibuktikan dengan SKD, dan

2 ) Penerima bunga merupakan beneficial owner;

c. Bahwa merujuk pada OECD Model Tax Convention on Income

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 17 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

and Capital 2014 (OECD MTC) terdapat beberapa referensi terkait definisi beneficial owner, yaitu:

Commentary on article 11;

Paragraph 9:

"The requirement of beneficial owner was introduced in paragraph 2 of Article 11 to clarify the meaning of the words 'paid to a resident" as they are used in paragraph 1 of the Article. It makes plain that the State of source is not obliged to give up taxing rights over interest income merely because that income was paid direct to a resident of a State with which the State of source had concluded a convention";

Paragraph 9.1:

"Since the term "beneficial owner" was added to address potential difficulties arising from the use of the words "paid to a resident" in paragraph 1, it was intended to be interpreted in this context and not to refer to any technical meaning that it could have had under the domestic law of specify country (in fact, when it was added to the paragraph, the term did not have a precise meaning in the law of many countries). The term “beneficial owner” is therefore not used in a narrow technical sense (such as the meaning that it has under the trust law of many common law countries1), rather, it should be understood in its context, in particular in relation to the words “paid to a resident”, and in light of the object and purposes of the Convention, including avoiding double taxation and the prevention of fiscal evasion and avoidance";

Paragraph 10.2:

“In these various examples (agent, nominee, conduit company acting as a fiduciary or administrator), the direct recipient of the interest is not the "beneficial owner" because that recipient’s right to use and enjoy the interest is constrained by a contractual or legal obligation to pass on the payment received to another person. Such an obligation will normally derive from relevant legal documents but may also be found to exist on the basis of facts and circumstances showing that, in substance, the recipient

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 18 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

clearly does not have the right to use and enjoy the interest unconstrained by a contractual or legal obligation to pass on the payment received to another person";

Bahwa berdasarkan referensi di atas, dapat disimpulkan bahwa terminologi Beneficial Owner digunakan untuk menjelaskan frasa “paid to resident” untuk menghindari terjadinya penghindaran pajak dan penggelapan pajak sesuai dengan tujuan pembentukan P3B. Paragraph di atas juga menjelaskan definisi beneficial owner, yaitu penerima penghasilan tanpa dibatasi adanya kontrak atau kewajiban hukum untuk meneruskan penghasilan yang diterima kepada pihak lain. Dijelaskan pula pada paragraf di atas, bahwa kewajiban untuk meneruskan penghasilan biasanya berupa kontrak tetapi dapat juga dalam bentuk lain yang tidak tertulis tetapi menunjukkan kondisi dan fakta bahwa penerima penghasilan tidak memiliki hak untuk menggunakan atau menikmati penghasilan yang diterima karena adanya kewajiban untuk meneruskan penghasilan yang diterima kepada pihak lainnya;

d. Bahwa berdasarkan kutipan Pasal 11 Paragraph 9 dan 10 OECD Model Tax Convention on Income and Capital 2014 (OECD MTC) tersebut di atas, terkait dengan pembayaran bunga oleh Termohon Peninjauan Kembali kepada Goederhand Finance B.V. Belanda dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1) Indonesia sebagai otoritas pajak dari negara tempat penghasilan bunga bersumber (negara sumber) tidak berkewajiban untuk menyerahkan hak pemajakan atas penghasilan bunga tersebut, yaitu dengan tidak menerapkan tarif pajak 20% sesuai dengan Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang PPh, hanya oleh sebab penghasilan bunga dimaksud diterima oleh resident Belanda, yang menurut Pasal 11 ayat (2) P3B Indonesia- Belanda, Indonesia sebagai negara sumber dapat mengenakan pajak atas penghasilan bunga dengan tarif pajak tidak melebihi 10%;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 19 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

2) Pihak yang memperoleh bunga, yakni GFBV, Belanda, memang telah dapat mengindikasikan bahwa dirinya adalah resident Belanda, yaitu dengan menunjukkan dokumen berupa Surat Keterangan Domisili (SKD) yang dikeluarkan oleh Competent Tax Authority di Belanda;

Namun demikian, dokumen SKD tersebut tidak dapat menunjukkan bahwa GFBVBelanda adalah beneficial owner dari penghasilan bunga tersebut karena informasi yang tersedia dalam SKD hanya menyangkut masalah residency dari GFBV di Belanda. Sementara itu, tarif sebesar 10% baru dapat diterapkan apabila terpenuhi persyaratan bahwa GFBV merupakan beneficial owner dari penghasilan bunga yang diterimanya;

3) Adapun maksud tidak melaksanakan pengenaan pajak atas penghasilan bunga sesuai dengan P3B dalam kasus ini adalah untuk mencapai substansi dari maksud dan tujuan dibuatnya P3B Indonesia-Belanda itu sendiri, yakni untuk menghindari terjadinya pengenaan pajak berganda dan mencegah pengelakan pajak. Bahkan, tidak dilaksanakannya pengenaan pajak dengan tarif sebesar 10% adalah untuk menjalankan amanat Pasal 11 ayat (2) P3B yang mensyaratkan bahwa penerima bunga adalah beneficial owner;

4) Bahwa penolakan Termohon Peninjauan Kembali untuk melakukan pemotongan PPh Pasal 26 dengan tarif 20%

sesuai ketentuan Undang-Undang PPh adalah keliru dan tidak beralasan karena apabila pihak yang dipotong, yakni GFBV merasa diperlakukan tidak sesuai dengan ketentuan dalam P3B, maka GFBV dapat menempuh jalur mutual agreement procedure sebagaimana diatur dalam Pasal 27 P3B Indonesia-Belanda;

e. Bahwa dalam buku berjudul "beneficial ownership of Royalties in Bilateral Tax Treaties" yang ditulis oleh Carl P.

Du Toit dikutip tulisan Klaus Vogel (Klaus Vogel on Double Taxation Conventions, 1997) yang menyatakan sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 20 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

"Treaty benefits should not be granted with a view to a formal title to dividends, interest, or royalties, but to the "real" title. In other words, the dispute of "form versus substance" should be decided in favour of "substance"... The "substance" of the right to receive certain yields has a dual aspect. The first is the right to decide whether or not a yield should be realized – i.e., whether the capital or assets should be used or made available for use – the second is the right to dispose of the yield.

Ownership is merely formal, if the owner is fettered in regard to both aspects either in or in fact. On the other hand, recourse to the treaty is justified i.e. is not improper — if he who is entitled under the private law is free to wield at least one of the powers referred to. Hence, the "beneficial owner" is he who free to decide (1) whether or not the capital or other assets should be used or made available for use by others or (2) on how the yields therefrom should be used or (3) both";

Bahwa dari tulisan Vogel tersebut dapat disampaikan bahwa manfaat P3B tidak dapat diberikan hanya dengan mengacu kepada kepemilikan formal dari penghasilan divides, bunga, dan royalti, namun manfaat P3B harus diberikan kepada pemilik yang sebenarnya dari penghasilan dimaksud. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran yang terdapat dalam paragraf 9 dan 10 article 11 OECD Commentary yang telah dibahas di atas;

f. Bahwa fakta-fakta yang membuktian bahwa Goederhand Finance B.V. Belanda bukan beneficial owner adalah sebagai berikut:

1) Bahwa berdasarkan informasi dalam audit report konsolidasi Golden Agri Resources Ltd. Tahun 2008 dan audit report Termohon Peninjauan Kembali, dapat diketahui hubungan antara Termohon Peninjauan Kembali dengan Goederhand Finance B.V. adalah sebagai berkut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 21 dari 39 halaman. Putusan Nomor 2131/B/PK/PJK/2017

Bahwa berdasarkan skema di atas dapat disimpulkan bahwa faktanya Goederhand Finance BV dimiliki 100%

oleh Golden Agri Resources Ltd., melalui anak perusahaannya yakni Golden Agri International Trading Ltd. dan bahwa Termohon Peninjauan Kembali pun dimiliki 100% oleh Golden Agri Resources Ltd. melalui PT Purimas Sasmita, sehingga menunjukkan bahwa skema pinjaman yang dilakukan Termohon Peninjauan Kembali telah dibuat sedemikian rupa sehingga keuntungan pajak, yang dalam hal ini berupa fasilitas yang diberikan P3B Indonesia-Belanda dapat diperoleh;

2) Bahwa dari Laporan Keuangan Konsolidasi Golden Agri Resources Ltd. diperoleh informasi sebagai berikut:

Goederhand Finance BV baru didirikan pada tanggal 21 April 2004 dan di dalam laporan keuangan konsolidasi Golden Agri Resources Ltd.

untuk tahun 2004 dinyatakan secara eksplisit bahwa

"the subsidiary is newly incorporated/inactive"

(Laporan Keuangan Konsolidasi Golden Agri Resources Ltd. tahun 2004, halaman 48),

Dalam laporan keuangan konsolidasi Golden Agri Resources Ltd. untuk tahun 2005 juga dinyatakan secara jelas dan eksplisit bahwa “the subsidiary is newly incorporated/has not commenced its operation" (Laporan Keuangan Konsolidasi Golden Agri Resources Ltd. tahun 2005, halaman 76);

Dalam catatan laporan keuangan konsolidasi Golden Agri Resources Ltd. untuk tahun 2006 mengenai

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian Majelis Hakim Agung berpendapat untuk menguatkan kembali putusan Pengadilan Pajak a quo karena in casu sampai dengan proses persidangan atas gugatan Penggugat

Bahwa setelah membaca dan meneliti secara saksama alasan peninjauan kembali dan jawaban alasan peninjauan kembali para pihak, dihubungkan dengan pertimbangan hukum

Bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi dan kontra memori kasasi dihubungkan dengan pertimbangan Judex

Bahwa dengan demikian menurut Pemohon Peninjauan Kembali, dokumen pembuktian yang diberikan Termohon Peninjauan Kembali pada persidangan sebagaimana dikutip oleh Majelis

13) Bahwa dengan demikian telah terbukti secara jelas dan nyata-nyata bahwa Majelis Hakim Pengadilan Pajak tidak cermat dalam meneliti bukti- bukti yang terkait dengan

Bahwa Majelis Hakim Pengadilan Militer Tingkat Banding dalam memutus perkara ini tidak mempunyai tujuan untuk mendidik agar para Pemohon Kasasi dapat insyaf dan

Bahwa dengan demikian berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan bahwa Majelis Hakim pengadilan Negeri Pontianak maupun Majelis Hakim Pengadilan Tinggi

Menimbang, bahwa berdasarkan dalil-dalil Gugatan, Jawaban, Replik dan Duplik, Majelis Hakim berpendapat bahwa, permasalahan hukum yang harus dipertimbangkan dalam sengketa tersebut