• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 1 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

PUTUSAN

Nomor 514/B/PK/PJK/2017

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG

Memeriksa permohonan peninjauan kembali perkara pajak telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, tempat kedudukan di Jalan Jenderal Gatot Subroto Nomor. 40-42 Jakarta, dalam hal ini memberi kuasa kepada :

1. Catur Rini Widosari, Direktur Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak;

2. Budi Christiadi, Kasubdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

3. Dani Koesworo, Pj. Kepala Seksi Peninjauan Kembali, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

4. Anndy Dailami, Penelaah Keberatan, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;

Keempatnya berkedudukan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 40-42 Jakarta, berdasarkan Surat Kuasa Khusus No. SKU-2169/PJ./2013 tanggal 7 Oktober 2013;

Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Terbanding;

melawan:

PT SUMITOMO ELECTRIC WINTEC INDONESIA, beralamat di Blok T-7 Kawasan Industri MM 2100, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat 17530;

Termohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding;

Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Terbanding, telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put-46090/PP/M.III/15/2013, tanggal 4 Juli 2013 yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Banding, dengan posita perkara sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 2 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

Bahwa Pemohon Banding dalam Surat Banding Nomor: 01/11/11/TAX tanggal 07 November 2011, pada pokoknya mengemukakan hal-hal sebagai berikut:

Bahwa dengan surat ini Pemohon Banding hendak menyampaikan permohonan banding sesuai dengan Pasal 27 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak sebagai berikut:

A. Rincian Koreksi Menurut KEP-1973/WPJ.07/2011

Bahwa Pemohon Banding menerima KEP-1973/WPJ.07/2011 pada tanggal 15 Agustus 2011 sehubungan keputusan keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar dengan rincian sebagai berikut:

Uraian Semula

(USD)

Ditambah/

(Dikurangi) (USD)

Menjadi (USD)

Penghasilan/(Rugi) Netto (2,804,464.56) (133,247.00) (2,937,711.56)

Kompensasi Kerugian 0.00 0.00 0.00

Penghasilan Kena Pajak (2,804,464.56) (133,247.00) (2,937,000.00)

PPh Terutang 0.00 0.00 0.00

Kredit Pajak 722,884.86 0.00 722,884.86

PPh Kurang (Lebih) Bayar (722,884.86) 0.00 (722,884.86)

Sanksi Administrasi 0.00 0.00 0.00

Jumlah PPh yang Masih

Harus (Lebih) Dibayar (722,884.86) 0.00 (722,884.86)

B. Pemenuhan Ketentuan Formal Pengajuan Banding

Bahwa KEP-1973/WPJ.07/2011 diterima oleh Pemohon Banding pada tanggal 15 Agustus 2011, dimana Surat Banding disampaikan dalam bahasa Indonesia dan diajukan tidak lebih dari 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterima Keputusan yang diajukan banding. Dengan demikian permohonan banding ini memenuhi ketentuan sebagaimana diatur pada Pasal 35 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak;

Bahwa permohonan banding diajukan terhadap satu Keputusan, disertai dengan alasan yang jelas dan dicantumkan tanggal diterimanya Keputusan yang dibanding, dilampirkan salinan Keputusan yang dibanding. Dengan demikian permohonan banding ini memenuhi ketentuan sebagaimana diatur pada Pasal 36 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 3 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

Bahwa permohonan banding telah ditandatangani oleh Yukihide Ito yang menjabat sebagai Presiden Direktur berdasarkan Akta Notaris Ninik Sukadarwati, S.H. Nomor: 06 tertanggal 29 April 2010. Dengan demikian permohonan banding ini memenuhi ketentuan sebagaimana diatur pada Pasal 37 Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak;

Bahwa dengan dipenuhinya persyaratan formal sebagaimana telah dikemukakan Pemohon Banding di atas, maka seharusnya sengketa pajak ini dapat diproses lebih lanjut dalam persidangan material oleh pihak Majelis Hakim Pengadilan Pajak;

C. Uraian Banding

Koreksi positif atas Biaya Usaha Lainnya: Biaya Royalty

Bahwa berdasarkan Pasal 18 ayat (3) Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 17 Tahun 2000 disebutkan bahwa:

“Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi wajib pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan wajib pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa”;

Bahwa sesuai dengan Pasal 16 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007 disebutkan bahwa:

“Dalam hal Wajib Pajak melakukan transaksi dengan para pihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak, kewajiban menyimpan dokumen lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi dokumen dan/atau informasi tambahan untuk mendukung bahwa transaksi yang dilakukan dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa telah sesuai dengan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha”;

Bahwa atas transaksi sehubungan dengan royalty tersebut, Pemohon Banding telah menyerahkan perjanjian sebagai dasar penagihan dan pembayaran transaksi tersebut, dan jika Terbanding berpendapat bahwa dasar penentuan royalty yang digunakan tidaklah sesuai dengan prinsip kelaziman usaha, maka seharusnya Terbanding juga dapat menunjukkan dasar penentuan yang digunakan untuk dapat menjustifikasi bahwa dasar penentuan royalty yang Pemohon Banding lakukan tidaklah lazim ataupun wajar;

Bahwa sebagai pertimbangan, Terbanding telah menggunakan berbagai dasar estimasi laba bersih dalam menentukan tarif Pajak Penghasilan Pasal 23, baik dari mulai 15%, 7,5%, 6%, 4,5%, 3%, 2% maupun 1,5% dari pendapatan bruto

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 4 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

sebelum Pajak Pertambahan Nilai, sehingga menurut Pemohon Banding dasar penentuan royalty dengan menggunakan dasar 1,5% dari Net Sales masih merupakan suatu transaksi yang wajar;

Bahwa Pemohon Banding juga tidak setuju jika Terbanding menggunakan dasar peraturan dengan merujuk Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER- 43/PJ./2010 tertanggal 06 September 2010, dimana menurut Pemohon Banding tidaklah relevan jika peraturan tersebut diaplikasikan ke dalam proses ini sehubungan dengan Tahun Pajak 2008;

Bahwa berdasarkan perjanjian yang Pemohon Banding sediakan selama proses pemeriksaan dan keberatan, royalty ini dibayarkan sehubungan dengan penggunaan teknologi know-how dan patent sehubungan produksi atas suatu produk tertentu dengan ketebalan dari 0,013 mm sampai dengan 3,2 mm, yang mana di dalam produk tertentu ini perusahaan memiliki teknologi khusus ataupun hak paten secara khusus, sehingga dengan demikian pendapat yang dikemukakan bahwa Terbanding meragukan keberadaan dan kenyataan dari transaksi ini tidaklah beralasan;

Bahwa dalam perkiraan Royalti tersebut hanyalah merupakan pembayaran atas teknologi know-how dan patent sebagaimana telah Pemohon Banding jelaskan, sedangkan atas pembayaran jasa Technical Fee dicatat Pemohon Banding pada perkiraan yang lain, maka menurut Pemohon Banding dasar koreksi yang dipertahankan oleh pihak Terbanding dengan menghubungkan dengan Technical Fee tidaklah berhubungan (dimana Royalty dan Technical Fee merupakan dua hal yang berbeda walaupun diatur dalam satu perjanjian). Maka Terbanding seharusnya tidak melakukan koreksi atas perkiraan tersebut;

Bahwa selama proses persidangan Pemohon Banding juga bersedia untuk dapat menyediakan dokumen pendukung sehubungan hak paten sebagai pendukung eksistensi dari Royalty tersebut dan tagihan dari Sumitomo Electric Wintec, Inc.;

Koreksi positif atas Biaya Usaha Lainnya: Guarantee Fee

Bahwa pada suatu perjanjian pinjaman merupakan suatu hal yang umum diperlukannya ada suatu jaminan (collateral), baik dalam bentuk asset atau penjamin, khususnya apabila perjanjian pinjaman tersebut dilakukan oleh pihak Bank. Dimana dalam hal ini yang bertindak sebagai bank adalah PT. Bank Sumitomo Mitsui Indonesia yang dalam hal ini tidak merupakan pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan Pemohon Banding;

Bahwa hal tersebut dilihat pada Item 6.A Credit Agreement antara kedua belah pihak, dimana disebutkan:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 5 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

“Item 6. Additional Conditions Precedent:

A. SECURITY DOCUMENTS:

Letter of Undertaking to submit Letter of Guarantee issued by Sumitomo Electric Industries, Ltd to cover of the Short Term Loan (I) Facility amount”;

Bahwa dimana pada bagian perjanjian tersebut jelas bahwa Credit Agreement yang diberikan dengan jelas mempertimbangkan surat jaminan ini. Hal ini juga dipertegas dengan Surat Jaminan yang diterbitkan oleh pihak Sumitomo Electric Industries, Ltd., dimana pada bagian ke 3 disebutkan sebagai berikut:

“Upon the written request of the Bank, SEI agrees to execute and deliver to the Bank a continuing guarantee in form and substance satisfactory to the Bank, pursuant to which it shall, among other things, irrevocably and unconditionally guarantee SEI's obligation to pay 100% of any and all indebtedness incurred by WIN-I to the Bank under the above Facility, together with such evidence as the Bank may require of the authority, due execution and requisite approval of such continuing guarantee”;

Bahwa adalah wajar jika atas pemberian suatu jasa maupun pinjaman diberlakukan suatu timbal balik dalam bentuk bunga ataupun fee, dimana hal ini juga bukanlah merupakan suatu jenis transaksi yang baru dan umum dikenal juga oleh Terbanding, secara khusus melalui penegasan yang pernah diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak;

Bahwa sebagaimana telah Pemohon Banding ungkapkan sebelumnya bahwa pinjaman tersebut Pemohon Banding perlukan sehubungan penunjang atau pendanaan kegiatan operasional perusahaan, dimana penjaminan diperlukan sebagai salah satu syarat pemberian pinjaman ini sehingga Pemohon Banding tidak setuju jika pihak Terbanding meragukan atau menyatakan bahwa pembayaran Guarantee Fee ini tidak berhubungan dengan kegiatan operasional perusahaan;

Bahwa Pemohon Banding juga tidak setuju atas pendapat pihak Terbanding yang menyebutkan bahwa Pemohon Banding tidak menyediakan Letter of Undertaking atas Tahun Pajak 2008, dimana dokumen tersebut pernah Pemohon Banding sampaikan sebelumnya selama proses keberatan. Pemohon Banding akan menyediakan kembali dokumen tersebut selama proses persidangan berjalan;

Bahwa maka berdasarkan penjelasan dan uraian yang telah Pemohon Banding sampaikan di atas, maka seharusnya koreksi yang dilakukan terhadap biaya Guarantee Fee tidaklah dipertahankan. Sehingga tidak ada koreksi yang perlu dilakukan;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 6 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

Koreksi positif atas Penghasilan/(Rugi) Neto dari Luar Usaha: Selisih Kurs Bahwa Pasal 4 dan 6 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 sehubungan dengan selisih kurs disebutkan bahwa keuntungan/kerugian karena selisih kurs dapat disebabkan fluktuasi kurs mata uang asing yang dikaitkan dengan sistem pembukuan yang dianut oleh Pemohon Banding dengan syarat dilakukan secara taat asas;

Bahwa lebih lanjut pengaturan mengenai pencatatan transaksi dalam mata uang asing diatur melalui Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 10, dimana pada bagian Pendahuluan disebutkan sebagai berikut:

“Tujuan Suatu perusahaan dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta asing (foreign activities) dalam dua cara, melakukan transaksi dalam mata uang asing atau memiliki kegiatan usaha luar negeri (foreign operations). Untuk melakukan transaksi dalam valuta asing pada laporan keuangan suatu perusahaan, transaksi harus dinyatakan dalam mata uang pelaporan perusahaan”;

Bahwa pada bagian penjelasan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan poin 6 dijelaskan bahwa:

“Suatu transaksi dalam mata uang asing adalah suatu transaksi yang didenominasi atau membutuhkan penyelesaian dalam suatu mata uang. asing, termasuk transaksi yang timbul ketika suatu perusahaan:

(a) Membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasi dalam suatu mata uang asing;

(b) Meminjam (hutang) atau meminjamkan (piutang) dana yang didenominasi dalam suatu mata uang asing;

(c) Menjadi suatu pihak untuk suatu perjanjian dalam valuta asing yang belum terlaksana; atau

(d) Memperoleh atau melepaskan aktiva, menimbulkan atau melunasi kewajiban, yang didenominasi dalam suatu mata uang asing;”

Bahwa pada bagian penjelasan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan poin 7 dijelaskan bahwa:

“Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi”;

Bahwa pada bagian penjelasan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan poin 9 dijelaskan bahwa:

“Pada setiap tanggal neraca:

(a) Pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca.

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 7 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca, maka dapat digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang obyektif;

(b) Pos non-moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi; dan

(c) Pos non-moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan”;

Bahwa pada bagian penjelasan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan poin 13 dan 14 dijelaskan sehubungan pengakuan selisih kurs bahwa:

“13 Kecuali untuk hal-hal yang diuraikan dalam paragraf 16 dan 18, selisih penjabaran pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi periode berjalan;

14 Selisih kurs timbul apabila terdapat perubahan kurs antara tanggal transaksi dan tanggal penyelesaian (settlement date) pos moneter yang timbul dari transaksi dalam mata uang asing. Bila timbulnya dan penyelesaian suatu transaksi berada dalam suatu periode akuntansi yang sama, maka seluruh selisih kurs diakui dalam periode tersebut. Namun jika timbulnya dan diselesaikannya suatu transaksi berada dalam beberapa periode akuntansi, maka selisih kurs hams diakui untuk setiap periode akuntansi dengan memperhitungkan perubahan kurs untuk masing-masing periode”;

Bahwa berdasarkan penjelasan dan uraian di atas, maka dengan ini Pemohon Banding dapat mengemukakan sebagai berikut:

Bahwa menurut Pemohon Banding Terbanding seharusnya membedakan antara Pajak Penghasilan dan selisih kurs yang diakibatkan oleh Pajak Penghasilan, dimana kedua hal tersebut merupakan dua hal yang sangat berbeda dan diatur secara terpisah sebagaimana uraian Pemohon Banding di atas;

Bahwa selisih kurs disesuaikan dengan sistem pembukuan yang telah dianut oleh perusahaan dan dilakukan secara taat asas serta diatur secara khusus melalui Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan sebagai acuan standar audit laporan keuangan perusahaan;

Bahwa dimana selisih kurs dari Pajak Penghasilan seyogyanya tidak dipandang

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 8 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

sama dengan Pajak Penghasilan, sebagaimana disebutkan pada uraian Pemohon Banding di atas bahwa selisih kurs tersebut muncul sebagai akibat dari proses pencatatan pembukuan yang Pemohon Banding lakukan sesuai dengan taat asas;

Bahwa Pemohon Banding dalam hal ini melakukan pembukuan dalam mata uang asing, sehingga pencatatan piutang pajak maupun hutang pajak yang dilakukan dalam mata uang rupiah. Hal ini sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dan laporan keuangan perusahaan yang dinyatakan wajar tanpa syarat oleh pihak auditor independen;

Bahwa jika Terbanding melakukan koreksi terhadap perkiraan tersebut, maka seharusnya Terbanding juga seharusnya konsisten menerapkan koreksi tersebut pada periode dimana selisih kurs yang bersangkutan pada posisi sebagai keuntungan selisih kurs pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga juga memberikan keadilan dalam penerapan peraturan perpajakan yang berlaku;

Koreksi positif atas Penyesuaian Fiskal Positif: Biaya Sewa Hotel

Bahwa berdasarkan dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE- 03/PJ.23/1984 dijelaskan bahwa Kenikmatan dalam bentuk natura adalah setiap balas jasa yang diterima atau diperoleh pegawai, karyawan, atau karyawati dan atau keluarganya tidak dalam bentuk uang dari pemberi kerja;

Bahwa sejalan dengan hal tersebut sesuai dengan bagian penjelasan Pasal 9 ayat (1e) Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 17 Tahun 2000 disebutkan

“...selaras dengan hal tersebut, maka dalam ketentuan ini, penggantian ataupun imbalan dimaksud dianggap bukan merupakan pengeluaran yang dapat dibebankan sebagai biaya bagi pemberi kerja,....”;

Bahwa berdasarkan hal tersebut, jelas bahwa penyediaan hotel kepada pihak penyedia jasa Technical Fee (yang merupakan karyawan dari pihak Sumitomo Electric Wintec, Inc.) bukanlah merupakan natura, karena yang bersangkutan bukanlah karyawan dari pihak perusahaan. Hal ini juga jelas disebutkan pada perjanjian (Technical assistance Agreement) dimana akomodasi berupa hotel merupakan beban dari pihak yang menggunakan jasa, sehingga hal ini harus dipandang sebagai satu kesatuan biaya Technical Fee yang bersifat reimbursement dan berhubungan langsung dengan kegiatan operasi perusahaan;

Bahwa dengan demikian seharusnya pihak Terbanding tidak mempertahankan koreksi tersebut, sehingga tidak ada koreksi yang perlu dilakukan sehubungan biaya sewa hotel ini;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 9 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

Kesimpulan

Bahwa berdasarkan uraian dan penjelasan di atas, maka menurut Pemohon Banding besarnya ketetapan pajak seharusnya adalah sebagai berikut:

Uraian Jumlah

(USD)

Penghasilan/(Rugi) Neto (4.003.058,56)

Kompensasi Kerugian 0,00

Penghasilan Kena Pajak (4.003.058,56)

PPh Terutang 0,00

Kredit Pajak 722.884,86

PPh Kurang (Lebih) Dibayar (722.884,86)

Sanksi Administrasi 0,00

Jumlah PPh yang masih harus (Lebih) Dibayar (722.884,86)

Menimbang, bahwa amar Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put- 46090/PP/M.III/15/2013, tanggal 4 Juli 2013 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:

Menyatakan mengabulkan seluruhnya permohonan banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Terbanding Nomor: KEP-1973/WPJ.07/2011 tanggal 10 Agustus 2011, tentang Keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Pajak Penghasilan Badan Tahun Pajak 2008 Nomor: 00169/406/08/055/10 tanggal 28 Juni 2010, atas nama: PT. Sumitomo Electric Wintec Indonesia, NPWP: 01.071.223.0-055.000, beralamat di: Blok T-7 Kawasan Industri MM 2100, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat 17530, sehingga perhitungan Pajak Penghasilan Badan Tahun Pajak 2008 menjadi sebagai berikut :

Penghasilan Neto (Rugi) (USD. 4,003,058.00)

Penghasilan Kena Pajak USD. 0.00 Pajak Penghasilan terutang USD. 0.00

Kredit Pajak USD. 722,884.86

Pajak Penghasilan Kurang/(Lebih) Dibayar (USD. 722,884.86) Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yaitu Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put-46090/PP/M.III/

15/2013, tanggal 4 Juli 2013, diberitahukan kepada Pemohon Peninjauan Kembali pada tanggal 22 Juli 2013, kemudian terhadapnya oleh Pemohon Peninjauan Kembali dengan perantaraan kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-2169/PJ./2013, tanggal 7 Oktober 2013, diajukan permohonan peninjauan kembali secara tertulis di Kepaniteraan Pengadilan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 10 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

Pajak pada tanggal 16 Oktober 2013, dengan disertai alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 16 Oktober 2013;

Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali tersebut

telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama pada tanggal 6 Februari 2015, kemudian terhadapnya oleh pihak lawannya diajukan Jawaban

yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 24 Maret 2015;

Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasanya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang- Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, juncto Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, maka permohonan peninjauan kembali tersebut secara formal dapat diterima;

ALASAN PENINJAUAN KEMBALI

Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan Peninjauan Kembali yang pada pokoknya sebagai berikut:

Tentang Pokok Sengketa Pengajuan Memori Peninjauan Kembali;

Bahwa yang menjadi pokok sengketa dalam permohonan Peninjauan Kembali ini adalah:

Koreksi Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) atas Penghasilan Neto Tahun Pajak 2008 sebesar USD 1,065,347.00 yang tidak disetujui Pemohon Banding, yang terdiri dari:

A Koreksi Biaya Usaha Lainnya: Biaya Royalty USD 911,811.00 B Koreksi Biaya Usaha Lainnya: Guarantee Fee USD 47,042.00 C Koreksi Penghasilan/(Rugi) Neto dari Luar Usaha: Selisih Kurs USD 96,900.00 D Koreksi Penyesuaian Fiskal Positif: Biaya Sewa Hotel USD 9,594.00 USD 1,065,347.00 Tentang Pembahasan Pokok Sengketa Peninjauan Kembali;

Bahwa setelah Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) membaca, meneliti dan mempelajari lebih lanjut atas Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.46090/PP/M.III/15/2013 tanggal 04 Juli 2013 tersebut, maka dengan ini menyatakan sangat keberatan atas putusan Pengadilan Pajak tersebut, karena Majelis Hakim Pengadilan Pajak telah salah dan keliru dengan telah mengabaikan fakta-fakta hukum (rechtsfeit) dan peraturan perundang- undangan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 11 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

perpajakan yang berlaku dalam pemeriksaan Banding di Pengadilan Pajak (tegenbewijs) atau setidak-tidaknya telah membuat suatu kekhilafan baik berupa error facti maupun error juris dalam membuat pertimbangan-pertimbangan hukumnya, sehingga pertimbangan hukum dan penerapan dasar hukum yang telah digunakan menjadi tidak tepat serta menghasilkan putusan yang nyata- nyata tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (contra legem), khususnya peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, dengan dalil-dalil dan alasan-alasan hukum sebagai berikut:

A Koreksi Biaya Usaha Lainnya: Biaya Royalty USD 911,811.00;

1) Bahwa setelah Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) membaca, memeriksa dan meneliti Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.46090/PP/M.III/15/2013 tanggal 04 Juli 2013 tersebut, maka dengan ini menyatakan sangat keberatan atas amar putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak;

2) Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) sangat keberatan dengan amar kesimpulan Majelis Hakim Pengadilan Pajak, yang antara lain berbunyi sebagai berikut:

Halaman 29 alinea ke-6

“Bahwa Majelis berpendapat koreksi Terbanding atas biaya usaha lainnya berupa biaya royalty sebesar USD 911,811.00 tidak dapat dipertahankan;”

3) Bahwa berkenaan dengan amar pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang tertuang dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.46090/

PP/M.III/15/2013 tanggal 04 Juli 2013 tersebut di atas, maka Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) dengan ini menyatakan bahwa Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang telah memeriksa dan mengadili sengketa banding tersebut telah salah dan keliru atau setidak-tidaknya telah membuat suatu kekhilafan (error facti dan error juris) dalam membuat pertimbangan-pertimbangan hukumnya dengan telah mengabaikan fakta hukum, asas hukum dan atau prinsip perpajakan yang berlaku yang berlaku, sehingga hal tersebut nyata-nyata telah melanggar asas kepastian hukum dan ketertiban hukum dalam bidang perpajakan di Indonesia;

4) Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 78 beserta penjelasannya Undang- undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (selanjutnya disebut dengan UU PP) menyebutkan sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 12 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

Pasal 78:

“Putusan Pengadilan Pajak diambil berdasarkan hasil penilaian pembuktian, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang bersangkutan, serta berdasarkan keyakinan hakim”;

Penjelasan Pasal 78

“Keyakinan Hakim didasarkan pada penilaian pembuktian dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan”;

5) Bahwa berdasarkan Pasal 28 ayat (1) dan (3) Undang Undang Nomor 6 tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan beserta perubahan-perubahannya, mengatur bahwa:

Pasal 28 ayat (1) dan (3)

(1) Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib Pajak Badan di Indonesia, wajib menyelenggarakan pembukuan;

(3) Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya;

6) Bahwa Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 (selanjutnya disebut dengan UU PPh) menyebutkan bahwa :

 Pasal 6 ayat (1) huruf a :

“Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalti, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, premi asuransi, biaya administrasi, dan pajak kecuali Pajak Penghasilan”;

 Pasal 9 :

(1) Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan:

a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 13 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;

f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;

 Pasal 18 :

(3) Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa;

(4) Hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan (3a), Pasal 8 ayat (4), Pasal 9 ayat (1) huruf f, dan Pasal 10 ayat (1) dianggap ada apabila:

a. Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada Wajib Pajak lain, atau hubungan antara Wajib Pajak dengan penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada dua Wajib Pajak atau lebih, demikian pula hubungan antara dua Wajib Pajak atau lebih yang disebut terakhir; atau

b. Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau

c. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus dan atau ke samping satu derajat;

7) Surat Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Nomor S-153/PJ.4/2010 tentang Panduan Pemeriksaan Transaksi Afiliasi menjelaskan bahwa

“dalam menilai kewajaran Imbalan jasa harus dilakukan penelitian atas kewajaran penyerahan atau pemanfaatan jasa , meliputi penelitian atas:

Keberadaan penyerahan atau pemanfaatan jasa;

Suatu jasa dikatakan telah diserahkan oleh pihak afiliasi jika jasa tersebut memberi manfaat bagi Wajib Pajak. Untuk memastikan bahwa pemanfaatan jasa dari pihak afiliasi memiliki manfaat, maka jasa tersebut juga bukan:

a) Merupakan duplikasi dari jasa yang telah dilakukan oleh Wajib Pajak;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 14 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

b) Ditujukan untuk kepentingan pemegang saham atau pihak lain dalam kelompok usaha Wajib Pajak (shareholder activity);

c) Merupakan manfaat yang tidak direncanakan oleh Wajib Pajak;

d) Semata mata karena Wajib Pajak adalah anggota suatu kelompok usaha (passive association), tapi pembebanan dilakukan karena adanya fungsi yang dilakukan oleh pihak afiliasi;

e) Kewajaran nilai pembebanan jasa”;

8) Bahwa berdasarkan PSAK 07, mengatur :

Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa adalah pihak-pihak yang dianggap mempunyai hubungan lstimewa bila satu pihak mempunyai kemampuan untuk mengendalikan pihak lain atau mempunyai pengaruh signifikan atas pihak lain dalam mengambil keputusan keuangan dan operasional;

Transaksi antara Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan lstimewa adalah suatu pengalihan sumber daya atau kewajiban antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, tanpa menghiraukan apakah suatu harga diperhitungkan;

Pengendalian adalah kepemilikan langsung melalui anak perusahaan dengan lebih dari setengah hak suara dari suatu perusahaan, atau suatu kepentingan substansial dalam hak suara dan kekuasaan untuk mengarahkan kebijakan keuangan dan operasi manajemen perusahaan berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian;

Pengaruh Signifikan (untuk tujuan Pernyataan ini) adalah penyertaan dalam pengambilan keputusan kebijakan keuangan dan operasi suatu perusahaan, tetapi tidak mengendalikan kebijakan itu. Pengaruh signifikan dapat dijalankan dengan berbagai cara antara lain berdasarkan perwakilan dalam dewan komisaris atau penyertaan dalam proses perumusan kebijakan, transaksi antar perusahaan yang material, pertukaran karyawan manajerial atau ketergantungan pada informasi teknis. Pengaruh signifikan dapat diperoleh berdasarkan kepemilikan bersama, anggaran dasar atau perjanjian. Dengan kepemilikan bersama, pengaruh signifikan dianggap sesuai dengan definisi yang dimuat dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasi;

9) Bahwa berdasarkan Teori Transfer Pricing, mengatur sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 15 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

Dalam sengketa ini terdapat isu Transfer Pricing dimana Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dalam persidangan mengakui memang benar terdapat hubungan istimewa;

Intra group Services (IGS)

Dalam buku “Konsep dan aplikasi cross border transfer pricing untuk tujuan perpajakan” dengan Editor: Darussalam, S.E., Ak., Msi., LLM Int.

Tax dan Danny Septiyadi, S.E., M.Si, LLM Int. Tax di jelaskan sbb:

Menurut OECD guidelines, dalam melakukan analisis transfer pricing intra group services terdapat dua pokok permasalahan sbb:

1. Apakah intra group services benar-benar telah dilakukan atau diserahkan oleh pemberi jasa;

2. Berapa harga pasar wajar yang dapat dibebankan oleh pemberi jasa atas pemberian intragroup services;

10) Bahwa berdasarkan penelitian terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan, Laporan Penelitian Keberatan, Laporan Sidang, Aturan Perpajakan yang terkait serta Putusan Pengadilan Pajak Nomor: Put.46090/PP/M.III/

15/2013 tanggal 04 Juli 2013 dapat disampaikan fakta-fakta sebagai berikut:

 Bahwa pada halaman 4 Technical Assinstance Agreement antara Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dengan pihak Sumitomo Electric Wintec, Inc., Japan diketahui bahwa Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) diharuskan melakukan pembayaran Royalty sebesar 1,5% dari Net Sales of Contract Products kepada Sumitomo Electric Wintec, Inc., Japan.

Selain itu Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) juga harus membayar Technical assistance Fee sebesar:

- JP¥ 65,000/day/person for Senior Engineer and Equivalent;

- JP¥ 55,000/day/person for Engineer;

- JP¥ 45,000/day/person for Technician;

 Bahwa berdasarkan penelitian Laporan Pemeriksaan Pajak, Kertas Kerja Pemeriksaan dan data-data yang diberikan oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) terkait pokok sengketa atas koreksi Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) pada saat pemeriksaan, maka uraian hasil penelitian adalah sebagai berikut:

Komposisi Penjualan pada tahun 2008

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 16 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

 Bahwa Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) membebankan pembayaran royalty sebesar USD 911,811.00 kepada pihak afiliasi dalam hal ini pemegang saham Sumitomo Electric Wintec, Inc., Japan yang dihitung berdasarkan presentase dari Net Sales sebesar 1,5%;

 Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) tidak dapat menyakini keberadaan harta tidak berwujud yang ditunjukkan dengan bukti kepemilikan atas harta tidak berwujud tersebut ataupun keberadaan atas penyerahan jasa Technical assistance tersebut dengan alasan:

- Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) tidak memberikan data bahwa Sumitomo Electric Wintec, Inc., Japan adalah pemilik hak paten sedangkan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) melakukan pembayaran kepada Sumitomo Electric Wintec, Inc., Japan atas Technical Fee yang oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dibebankan dalam Biaya Royalty';

- Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) tidak memberikan TP Documentation baik pada saat pemeriksaan maupun pada saat proses keberatan;

- Bahwa tidak adanya bukti pendukung yang menunjukan adanya karyawan Sumitomo Electric Wintec, Inc., Japan yang berkunjung ke Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) selama tahun 2008, yang dibuktikan dengan Visa, Passport atau dokumen sejenisnya;

- Bahwa tidak adanya bukti pendukung berupa Time Sheet ataupun Job Sheet atas jasa yang diberikan oleh Sumitomo Electric Wintec, Inc., Japan;

- Tidak adanya hasil nyata dari pemberian jasa technical assistance yang berupa laporan hasil penyelesaian pekerjaan di lapangan;

- Tidak terdapat dokumentasi atas kegiatan technical assistance tersebut yang dibuat oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) yang menyakinkan bahwa pembiayaan atas aktivitas tersebut memang benar-benar ada;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 17 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

11) Bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dan berdasarkan hasil pemeriksaan sengketa banding di Pengadilan Pajak sebagaimana yang telah dituangkan dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.46090/PP/M.III/15/2013 tanggal 04 Juli 2013, Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) tidak setuju dengan amar putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak dengan pertimbangan sebagai berikut:

11. 1. Bahwa Majelis telah mengabaikan dan tidak mempertimbangkan fakta yang terjadi yaitu : selama proses pemeriksaan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) tidak dapat menunjukkan sertifikat paten (bukti kepemilikan atas IP) yang dimiliki pihak yang menerima pembayaran dari Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding), yaitu Sumitomo Electric Wintec Inc. meskipun telah diminta secara tertulis oleh Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) yaitu melalui surat nomor: S-124/WPJ.07/0300.III/2009 tanggal 4 Desember 2009. Dengan demikian pembayaran royalty yang dilakukan oleh PB kepada Sumitomo Electric Wintec Inc. tidak mempunyai dasar yang kuat, sehingga dilakukan koreksi oleh Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding). Saat proses keberatan Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) tetap mempertahankan koreksi atas biaya royalty tersebut karena Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) masih belum dapat menunjukkan bukti kepemilikan IP tersebut;

Bahwa atas koreksi Biaya Royalty terkait bukti sertifikat paten (bukti kepemilikan atas IP) yang dimiliki pihak yang menerima pembayaran dari Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) tersebut Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) berpendapat hal itu menjadi menjadi penting karena sebagai berikut:

Bahwa dalam OECD Transfer Pricing Guideline dijelaskan hal-hal sebagai berikut:

Paragraf 6.14:

Arm’s length pricing for Intangible Property must take into account for the purposes of comparability the perspective of both the transferor of the property and the transferee. From the perspective of the transferor, the arm’s length principle would examine the

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 18 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

pricing at which a comparable independent enterprise would be willing to transfer the property;

From the perspective of the transferee, a comparable independent enterprise may or may not be prepared to pay such a price, depending on the value and usefulness of the Intangible Property to the transferee in its business. The transferee will generally be prepared to pay this licence fee if the benefit it reasonably expects to secure from the use of the intangibles is satisfactory having regard to other options realistically available. Given that the licensee will have to undertake investments or otherwise incur expenditures to use the licence it has to be determined whether an independent enterprise would be prepared to pay a licence fee of the given amount considering the expected benefits from the additional investments and other expenditures likely to be incurred;

Paragraf 6.15

This analysis is important to ensure that an associated enterprise is not required to pay an amount for the purchase or use of Intangible Property that is based on the highest or most productive use when the property is of more limited usefulness to the associated enterprise given its business operations and other relevant circumstances. In such a case, the usefulness of the property should be taken into account when determining comparability. This discussion highlights the importance of taking all the facts and circumstances into consideration when determining comparability of transactions;

Paragraf 7.3

Intra-group arrangements for rendering services are sometimes linked to arrangements for transferring goods or Intangible Property (or the licensing thereof). In some cases, such as know-how contracts containing a service element, it may be very difficult to determine where the exact border lies between the transfer or licensing of property and the transfer of services;

Paragraf 7.5

“There are two issues in the analysis of transfer pricing for intragroup services. One issue is whether intra-group services have in fact been provided. The other issue is what the intra-group

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 19 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

charge for such services for tax purposes should be in accordance with the arm’s length principle”;

Paragraf 7.6

”Under the arm’s length principle, the question whether an intragroup service has been rendered when an activity is performed for one or more group members by another group member should depend on whether the activity provides a respective group member with economic or commercial value to enhance its commercial position. This can be determined by considering whether an independent enterprise in comparable circumstances would have been willing to pay for the activity if performed for it by an independent enterprise or would have performed the activity inhouse for itself.If the activity is not one for which the independent enterprise would have been willing to pay or perform for itself, the activity ordinarily should not be considered as an intra-group service under the arm’s length principle”;

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, terdapat 3 hal yang harus diperhatikan untuk menilai kewajaran atau kelaziman transaksi pemanfaatan IP yang dipengaruhi oleh hubungan istimewa, yaitu:

- Keberadaan harta tidak berwujud (Intangible Property/IP);

- Keberadaan penyerahan jasa dan hak untuk menggunakan IP (Manfaat yang diperoleh);

- Kewajaran nilai dari IP (Arm’s length Price);

Hal ini sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 17 ayat (2) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-43/PJ/2010 tentang Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha dalam Transaksi antara Wajib Pajak dengan Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa dan sebagaimana ditegaskan dalam Surat Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Nomor S-153/PJ.04/2010 perihal Panduan Pemeriksaan Kewajaran Transaksi Afiliasi;

Penelitian atas Keberadaan (Eksistensi) IP

Bahwa kewajiban pembayaran royalty oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) kepada induk perusahaannya yang berada di Jepang, yaitu sebesar 1,5% dari Net Sales of Contract Product tertuang dalam dalam Article 4 Technical assistance Agreement yang dibuat pada tanggal 1 Juli 2003, dimana disebutkan sebagai berikut:

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Halaman 20 dari 56 halaman Putusan Nomor 514/B/PK/PJK/2017

“In consideration of the license and technical assistance provided in this Agreement, WINI (PT Sumitomo Electric Wintec Indonesia ) shall pay to WIN (Sumitomo Electric Wintec, Inc.) the following amounts during the terms hereof: (1) Royalty fees calculated as follows:

A running royalty: One point five percent (1.5%) of the Net Sales of Contract Products”;

Dalam halaman 1 dan 2 perjanjian tersebut disebutkan juga informasi sebagai berikut:

 PT Sumitomo Electric Wintec Indonesia (WINI) desires to obtain from Sumitomo Electric Wintec, Inc. a license to use Know-how and Patents, technical assistance and staff training upon the terms and conditions set forth hereinafter to manufacture and sell Contract Products;

“Know-how” shall mean the technical information, know-how, data, processes, detailed drawnings and specification, manufacturing processes, production control systems and techniques, quality and inspection standards, engineering and manufacturing, drawings, analysis of materials and reports…..;

“Patents” shall mean (a) all patents relating to or useful for the production or manufacture of Contract Products as of the date hereof and (b) any patents issued in connection with the pending application;

Berdasarkan surat jawaban Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) atas permintaan keterangan dan bukti transaksi afiliasi No.: 01/12/2009/TAX tanggal 10 Desember 2009 disebutkan bahwa IP yang dibayar adalah royalty berupa kompensasi atas lisensi penggunaan (1) pengetahuan (know-how) dan paten untuk membuat barang yang terutama (i) dipakai sebagai komponen elektronik; (ii) barang yang berguna untuk pelanggan dalam rangka mengefisienkan dan mengotomatisasi proses produksinya; (2) trade mark yaitu nama atau merk dagang perusahaan induk; (3) penggunaan atau penunjukan Underwriter’s Laboratories untuk menguji material yang diproduksi perusahaan;

Dengan demikian, kesimpulan yang dapat diambil adalah biaya ini merupakan pembayaran atas penggunaan know-how dan paten dengan disertai pemberian jasa teknik;

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu apabila suatu Undang-Undang atau sistem diadakan serta diberlakukan tidak sesuai dengan prinsip hukum dalam arti tidak sesuai dengan gejala sosial

Pekerjaan analisis butir soal merupakan salah satu jenis kegiatan guru yang sangat bermanfaat dalam menafsirkan hasil belajar siswa dan untuk mengetahui kualitas

Tinggi tumit yang terbaik untuk pegawai wanita dengan berat badan 45-50 kg jika mereka lebih banyak beraktivitas pada bidang datar maka tinggi tumit yang digunakan adalah tt = 3 cm,

Gan, dkk (2011) menyimpulkan bahwa kualitas pelayananlah yang paling berpengaruh terhadap kepuasan nasabah bank dibandingkan nilai dan citra perusahaan. Customer

indicator indicator  penolpthale  penolpthale in in  penolpthalein  penolpthalein  berupa warna  berupa warna ungu ungu  penolpthalein  penolpthalein  berupa warna  berupa

Saat kita ingin menyalin ke dalam bentuk  dokumen (word) gambar yang kita copy tidak akan bisa langsung disalin.. Jika kita tidak  dokumen (word) gambar yang kita copy tidak akan

--- Menimbang, bahwa setelah membaca, meneliti, mempelajari dengan cermat dan seksama surat gugatan, berita acara, bukti-bukti, Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara

Bahkan di penghujung kegiatan pada 21 September 2014, disaksikan ratusan peserta riungan dan ribuan pasang mata pengunjung lainnya ia tampil membacakan sebuah