• Tidak ada hasil yang ditemukan

A BOOKSHOP FOR BOOKLOVERS

Dalam dokumen c b is i - lson»r ' *'anilunr (Halaman 67-91)

D jakarta : 84 Gunung Sahari — Phone Gbr. 3615 16 Djl. Segara III — Phone Gbr. 6060/75 Jogjakarta : 23 Tuku Kidul — Phone 725

M adiun : 54 Djl. Pasar Besar — Phone 137 Surabaja : 1 Djl. W. R. Supratman

S I M A T U P A N G :

Q b a t i s t i a b a t IScmg

d n b o n c s i a

U p a f j a r a p e r k a w i n a n cji Tapanuli. K e d u a m e m p e l a i m e m a k a i p a k d i a n a d a t M a n d a i I i n g , di T a p a n u l i .

SETIAP orang barat jang datang di Indonesia, lebih2 pada waktu;

permulaannja, senantiasa merasa djanggal dengan keadaan sekitar dan suasana jang meliputinja, jang ditjiptakan oleh masjarakat bang- sa Indonesia. Dan „Adat” di Indonesia itu jang mengendalikan peng- hidupan setiap orang dari semendjak lahir sampai meninggal dunia, bagi para tamu ini merupakan suatu keanehan.

Perkataan „Adat” adalah berasal dari bahasa Arab „shadat”, de­

ngan arti asalnja ialah „kebiasaan, tradisi, dan pusaka”. „Adat” ada­

lah pengutjapan kehormatan didalam kebiasaan2 hidup, seperti mi- salnja dalam upatjara3 kematian, kelahiran, pemberian tanda mata, mengundjungi sesama keluarga, tolong-menolong dan lain2.

Didesa-desa adat tolong-menolong itu selalu didjalankan, misal- nja djikalau ada orang jang mengadakan sesuatu pekerdjaan untuk umum, seperti mengerdjakan djalan desa dan sebagainja. Undang', bisa menekankan dan bisa memaksakan supaja sesuatu dituruti, akan tetapi didalam peraturan adat, ini tidak dapat dilakukan, oleh karena ia djustru adalah peraturan adat. Adalah satu ,,contradic- tio in terminis”, djika adat itu bersifat menekankan atau memak­

sakan.

Mungkin orang barat bisa memperbandingkan adat ini dengan satu hukum kebiasaan, satu hukum jang tidak tertulis.

Hukum adat jang tertulis barulah ada sesudahnja orang barat da­

tang di Indonesia, dan ini adalah merupakan bentuk hukum njata, artinja, jang ditentukan oleh pemerintah, sesudahnja ditimbang de­

ngan teliti (jus scrip turn).

Dengan tidak tertulisnja hukum adat diwaktu jang berabad-abad lamanja itu didalam buku, maka peraturan2 adat selama waktu itu senantiasa bertukar-tukar djuga. Djadi adat itu tidak menetap, akan tetapi berkembang terus.

Nama „adat” ini dibeberapa daerah mempunjai perkataan jang berlain-lainan, seperti ,,bowo” di Nias, ,,bitjara” ditanah Karo, „ugari”

di Tapanuli Selatan, dan sebagainja.

Bagaimana sebetulnja adat ini terdjadi ? Bagaimanakah keadaan masjarakat Indonesia pada waktu pergaulan hidup itu masih seder- hana ?

Manusia itu tidak bisa berdiri sendiri ditengah-tengah alam ; maka oleh karena itu ia memerlukan hidup dalam pergaulan2 dengan lain2 orang. Sebagai akibat orang2 harus bergaul satu sama lain, maka dari faktor ini timbullah berbagai peraturan2 jang harus didjalankan oleh semua orang itu.

Pemerintahan jang berlaku dalam iklim ini berudjud untuk kepen- tingan dan keperluan semua orang, maka oleh karenanja iapun di- sokong oleh seluruh orang.

Anggauta2 pergaulan hidup itu berada dalam kerukunan, oleh ka­

rena mereka mempunjai kepentingan2 jang sama. Kepala pemerin- tahan dianggap sebagai pemimpin mereka oleh sebab ia mempunjai banjak pengalaman dan kepandaian.

Ia tidak mampu memaksa anggauta2 dari puaknja untuk mendja- lankan sesuatu kebiasaan, akan tetapi ia hanja memberikan nasehat2.

Kebiasaan2 inilah jang kita namai adat. Adat ini dipandang sebagai peraturan jang dibikin oleh dewa2 jang kuasa dan bukan bikinan manusia. Salah satu dari pergaulan2 hidup sematjam ini jaitu per­

gaulan hidup orang Marind-Anim di Irian. Orang Marind-Anim ini hidupnja mengembara dan mendirikan kampung dimana-mana tem- pat jang mereka diami. Mereka tidak memerlukan tanah buat milik sendiri2, akan tetapi tanah itu dianggap kepunjaan umum.

Adat di Indonesia dipengaruhi oleh tiga gelombang kebudajaan jang masih berdjalan hingga sekarang, jaitu kebudajaan Hindu, Islam dan Eropa.

Pengaruh Hindu berasal dari Koromandel dengan perantaraan Saudagar2. Pengaruh kebudajaan Hindu lebih besar diabad ke 4 dan sederhana mendjadi pergaulan jang berlapis. Keradjaan2 ini mem­

ber! sifat kefeodalan pada desa2. Segala kekuasaan ada ditangan radja.

Radja mempunjai banjak pegawai, bupati2, menteri2, dan mereka ini terikat kepada radja karena tanah2 jang dihadiahkan olehnja.

Dahulu kala desa2 bekerdja untuk kepentingan sendiri2 akan te­

tapi sekarang dibawah keradjaan, desa harus bekerdja untuk ke­

pentingan radja dan pegawafnja. Desa harus memberi padjak dan mendjalankan kerdja paksa.

Adat tolong-menolong jang dahulu dikerdjakan untuk kepentingan desa, sekarang digunakan untuk kepentingan radja.

Pengaruh Hindu di Bali menjebabkan masjarakat Bali terbagi dalam dua bagian. Triwangsa terdiri dari Radja2 dan turunannja, kepala adat jang asli dan pegawai tinggi. Rakjat djelata term asuk bagian kewula. Di Djawa sifat keradjaan itu djuga menimbulkan perbedaan antara orang2.

Tjontohnja desa Krendetan. Pegawai radja dinamakan gunung dan turunannja dinamakan kaum kentol. Kaum ini dihormati dalam se­

gala hal oleh rakjat djelata, „wong tjilik” Kaum kentol tidak boleh bekerdja berat, wong tjilik hai'US mendjalankan segala pekerdjaan.

nltH (Japat ITienetapkan, bahwa sebagian besar dari adat" itu se- benarnja untuk meneguhkan kedudukan jang tinggi dari golongan

jang ta ’luk kepada keradjaan Madjapahit memeluk Agama Islam dan dengan pertolongan Saudagar2 besar Islam mereka melepaskan diri dari keradjaan Djawa jang beragama Hindu. Oleh karena Agama muslimin. Pada waktu inilah Islam mulai berpengaruh atas per­

gaulan hidup seluruh rakjat.

R akjat muslimin harus tunduk djuga kepada hukum Islam oleh karena Agama dan Hukum tak dapat dipisah-pisahkan. Islam mero- bah anggapan rakjat terhadap radja. Dahulukala radja disembah se­

bagai dewa, sedang Agama Islam mengatakan dalam sjahadatnja : ,,tak ada Tuhan, melainkan Allah dan Muhammad suruhannja”.

Meskipun begitu dalam hakekatnja masjarakat Indonesia tidak be- robah, oleh karena perobahan masjarakat bukan kepentingan kaum luhur.

Radja tetap bertachta, rakjat tetap bersudjud. Didalam daerah Mandailing, Islam membawa kemadjuan dalam hal perkawinan. Da­

hulu orang terpaksa kawin dengan anggauta semarga. Ini dikatakan kawin berkongsi. Larangan untuk kawin didalam kaum itu djuga diharuskan oleh Islam.

Maka dari itu Agama ini dapat memadjukan perhubungan dan persatuan di Mandailing dan lain2 negeri.

Pengaruh Eropa bermula pada abad 16 ketika kedatangan bang­

sa2 barat ke Indonesia, (diantaranja adalah bangsa Belanda) untuk membeli barang2 rempah dari rakjat.

Lama kelamaan bangsa Belanda mendapat monopoli dalam per- dagangan. Mereka djuga menaklukkan radja2 Indonesia dan kerap- kali merobah susunan desa, umpamanja di Maluku. Tindakan ini perlu untuk menggampangkan pengambilan rempah. Kompeni Be­

landa tak perlu memperhatikan adat rakjat, oleh karena ia merasa tidak perlu mengadakan perhubungan rapat dengan rakjat. Mereka meminta barang2nja jang ditjari itu dari radja2 dan bupati2 jang telah dita’lukkan. Pengaruh Belanda terhadap adat belum ada. Akan tetapi, meskipun demikian, adanja Kompeni Belanda dipulau Djawa telah menjebabkan perobahan dalam susunan desa.

Penduduk desa terbagi dalam 3 bagian ; mereka jang mempunjai sawah dan rumah, mereka jang mempunjai rumah dan mereka jang hidupnja menumpang sadja. Golongan2 ini dinamakan sekep ngarep, kuli kendo dan wong dempel. Bagian jang kesatu mendjalankan se- gala kewadjiban, akan tetapi mempunjai segala hak2. Golongan jang kedua dan jang ketiga tidak mempunjai kewadjiban terhadap radja akan tetapi djuga tidak mempunjai hak.

Sebelumnja kompeni Belanda datang, maka sekep ngarep itu ha­

rus bekerdja berat buat radja, padjak, pekerdjaan pantjen dan lain2.

Akan tetapi tatkala kompeni datang dan memungut djuga hasil bumi

v Indonesia, maka beban jang dipikul oleh sekep ngarep itu mendjadi lebih berat. Maka dari itu kuli kendo dan wong dempel terpaksa djuga mendjalankan segala pekerdjaan radja. Inilah jang menjebab- kan perobahan besar didalam desa.

Dahulu kala desa mempunjai hak atas tanah. Penduduk desa boleh mengerdjakan hutan dan tanah disekeliling desa. Ini adalah suatu adat jang terdapat diseluruh Indonesia. Pada waktu timbul keradja­

an, maka hak atas tanah ini diambil oleh radja. Pada masa peme- rintah Belanda, maka hak atas .tanah jang ada ditangan r a d j a itu diambil pula oleh pemerintah Belanda dan orang- membajar padjak kepada pemerintah ini.

Kompeni Belanda itu tidak memperhatikan adat-istiadat rakjat.

Akan tetapi pada abad XIX, pada waktu bangsa Belanda hendak mengambil hasil bumi Indonesia lebih banjak, maka m e r e k a p u n

mendirikanlah pabrik2 dan lain2 perusahaan untuk m e n g e r d j a k a n h a s i l bumi itu. Keadaan ini memerlukan peraturan3 dari p e m e r i n t a h .

Maka perlulah sekarang bangsa Belanda mengetahui adat-istiadat dan bahasa rakjat Indonesia.

Hukum adat itu ialah segala adat jang mempunjai „rechtsgevol- gen”. Keterangannja sebagai berikut: kalau orang melanggar adat dan ini menimbulkan perkara jang dapat dimadjukan dimuka hu­

kum, maka adat ini dinamakan adat hukum adat. Jang disebut adat belaka, ialah kebiasaan3 seperti tidak boleh membuka pajung dida­

lam rumah dan lain2 adat keluarga. Pelanggaran ini tidak dapat menghormati orang jang lebih tua sadja.

Boleh dikatakan, bahwa adat itu tumbuhnja didalam m asjarakat jan g susunannja sederhana dan kemudian m endapat b eb erap a p e ­ ngaruh, sehingga kerap kali tumbuh sesuatu adat barii. A d a t in i tidak selalu sesuai dengan keadaan m asjarakat sekarang. A kan t e ­ tapi ada djuga adat' jan g masih bisa ilitcruskan, flSill S3dj3 13 U1T selaraskan dengan sunsana masjflralcflf kini.

Semaiigat toJong-jneriolong itu baik sekali kalau dipelihara. Adat mupaknl dan sepakat dari Minangkabau, djuga baik benar dipeli­

hara.

Kebudajaan Bali sebelum datang kebudajaan Hindu, tarafn ja su- dah tinggi. Orang Hindu datang disana kira2 pada abad 4 dan 5.

Mereka sudah niendjumpai di Bali suatu masjarakat, dimana karn- pung2nja sudah teratur, sudah ada sawah3, sudah ada pengurusnja jang lengkap dan tjakap. Djuga mengerdjakan besi, pelajaran dan pengctahuan jang sederhana tentan^, ;»Htronomi sudah dipaham inja

erat. Sesudah itu datang lagi suatu waktu, dimana Bali ditaklukkan dibawah pemerintah Modjopahit.

Tetapi dipermuiaan abad ke 16, Djawa di Islamkan, dan dengan sendirinja keradjaan Modjopahit lalu runtuh.

Dari waktu inilah mulai kebudajaan Bali berkembang setjara merdeka hingga seterusnja.

Hindu membawa kesana agama, pembangunan puri, pembagian kasta, pembakaran majat, dan kebudajaan.

Hindu-Djawa membawa adat" jang hampir sama dengan jang ber­

laku di Djawa.

Djuga kedudukan „tin g ka ta n usia" didalam adat di Indonesia di- tetapkan. Diwaktu rapat2, upatjara2 adat maka „tingkatan usia” ini njata benar masih dipraktekan. sudah (verplicht) terpaksa memberi kewadjibannja didalam hidup didalam masjarakat, akan tetapi balum dipandang ber- kedudukkan penuh (niet volwaardige burgers).

D ilu af kiit.ogori ini ada djuga golongan, jang oleh karena terlam- pau tua tidak bisa lagi mcncljaiankan kpwaujiban uiuaiam goiongan-nja, pun djuga la k i” a t a u w a n ita j a n g is t e r in j a atau Inldnjn s u d a h

meninggal dunia.

Kita melihat disini, bahwa tingkatan usia tidak tergantung dari tinggi rendahnja usia seseorang. Kritorium didalam pembagian ting­

katan usia itu ialah keadaan:

a. kesanggupan physik untuk kawin, b. dewasa,

c. perkawinan,

d. ketidak mampuan physik untuk mendjalankan kewadjibannja (rechten en plichten) didalam masjarakat itu.

Bahwa kedudukkan „tingkatan usia” ini djuga diperhatikan peme­

rintah, ini bisa kita batja dalam undang2 nomor 7 untuk Pemilihan Anggauta Konstituante dan DPR, ja k n i: „Anggauta Konstituante dan Dewan Perwakilan Rakjat dipilih oleh warganegara Indonesia, jang dalam tahun pemilihan berumur genap 18 tahun atau jang su­

dah kawin lebih dahulu”.

Kedudukan laki2 dan wanita.

Dalam praktek orang barat masih belum ada penjelesaiannja me­

ngenai kedudukan wanita didalam masjarakat. Kedudukan laki an wanita masih dibeda-bedakan, biarpun ini merupakan satu asis jang tidak bisa dipertahankan karena sudah mendjadi satu ,,pnn- cipe” didalam alam pikiran manusia. .

Kedudukan wanita di Indonesia adalah tergan tu n g dan a berikut, dan jang terpenting tergantung dari „verw antschapss e jang berada disesuatu daerah, jakni Patriarchaat, M atnarc aa a au Pdr6ntsdl

Patriarchaat artinja keturunan dianggap dari s u d u t lelaki, archaat adalah dari sudut perempuan, dan Parentaal, ke uiun anggap dari kedua belah pihak, lelaki dan wanita. ^ Bagaimanakah sebetulnja kedudukan wanita di Indonesia . Apabila kita hendak mempersoalkan hubunean antara^ , dang2 perkawinannja memberikan kedudukan jang u g

nangkan bagi kaum wanita. . .

P endjadjahan Belanda, dengan politiknja ’’laissez-faire, laissez- p asser” terhadap nilai2 kebudajaan serta k eb iasaan 3 ja n g ada, p u la tjam pur tangannja dalam penghidupan p erekonom ian, leb ih m en- djelekan kedudukan wanita Indonesia daripada m em p erb aik in ja.

Terketjuali dalam daerah3, misalnja Djawa, dimana pengaruh3

dalam tindakan" langsung serta actif, melainkan terletak dalam pe­

ngaruh jang didjalankannja dibelakang lajar. Dibeberapa daerah, seperti misalnja di Atjeli serta pula didaerah Batak, dimana orang djusteru karena susunan kekeluargaan berdasarkan hukum2 prija (vaderrechtelijk verwantschapsstelsel) mengharapkan suatu kedu- dukan rendah dari kaum wanita, maka pendapat para wanita tetap didengar dalam pembitjaraan3 serta pemilihan3 kepala.

Dan tiada didaerah-daerah itu sadja, melainkan pula didaerah Minangkabau, pada berbagai-bagai suku di Borneo, di Maluku para wanita dahulu dan sekarang mempunjai hak bersuara. Kepala3 kam- pung wanita, radja3 puteri jang pegang pemerintahan didjumpai dalam sedjarah kita. Misalnja ke 4 sultan jang memerintah Atjeh dari 1641 sampai 1699. Djuga di Djawa orang mengenal wanita3 sebagai pemegang kekuasaan. Termasjhur ialah ratu Suhita, jang memegang tampuk pimpinan Modjopahit pada acliir kedjajaannja.

Wanita memegang kedudukan jang sangat penting dalam soal3 Agama.

Didalam masjarakat jang sederhana serta animistis, maka tugas para pemuka Agama didjalankan oleh orang3 jang dapat berhubung­

an dengan djiwa3 nenek-mojang, machluk3 halus atau dewa3, untuk dapat mempergunakan kekuasaan machluk3 jang tidak terlihat itu guna masjarakat atau perseorangan. Pada kebanjakan bangsa maka wanitalah jang mendjadi orang perantara.

Adakalanja tugas ini didjalankan oleh mereka bersama-sama de­

ngan kaum prija, tetapi kebanjakan djuga oleh mereka sendiri.

Maka kami dapat melihat ini di Bali, dimana peranan wanita dalam soal3 Agama adalah sangat penting, karena pekerdjaan kebaktian termasuk penjembahan jang besar ai'tinja itu wanitalah jang me- ngerdjakannja.

Apabila kita menjelidiki kedudukan wanita dalam perkawinan, maka akan kita djumpai mula3 diseluruh Indonesia instituut hukum dari polijgamie, jaitu perkawinan dari seorang lelaki dengan bebe­

rapa wanita. Dalam prakteknja hal ini tidak begitu banjak terdjadi, karena umumnja seorang Indonesia tiada dapat memelihara lebih dari seorang isteri. Hanja radja3, kepala3 serta lain3 orang ter- kemuka terutama mereka jang dalam pandangan orang dianggap ,,kramat”, mempunjai kesanggupan untuk beristeri lebih dari satu orang.

Banjak kali alasan untuk beristeri lebih dari seorang ialah karena isteri jang pertama tiada mendapat anak ataupun tiada melahirkan anak lelaki. Tidak djarang dalam hal ini sang isterilah jang minta sang suami menikah lagi.

Dalam hukum adat, maka bagi wanita tiada kawin ialah suatu noda jang memberi kesan seolah-olah ia seorang wanita berpribadi tidak lengkap. Bernikah ialah suatu kewadjiban terhadap masjara­

kat, terketjuali apabila hal itu terhalang karena tjatjat. Dalam hal perkawinan bagi seorang wanita tidak terdapat suatu batas umur.

Ia sudah dapat dikawinkan ketika masih kanak3, tetapi ia baru

di-\

serahkan pada saat akil-baligh.

Tentang kedudukan wanita berhubung dengan peraturan2 menge- nai kekajaan (vermogensrechtelijke Status), maka diseluruh Indo­

nesia wanita tetap berkuasa atas barang2 serta hartanja dan ia bebas untuk bertindak. Ia mempunjai hak-milik atas hartanja, jang ia bawa dalam perkawinan (tidak diseluruh Indonesia terdapat ke­

biasaan, bahwa seorang wanita membawa harta dalam perkawinan) atau jang ia peroleh dalam perkawinan, karena pemberian atau pembelian.

Hukum adat mengenai warisan adalah berbeda-beda. Dibeberapa daerah anak- lelaki serta anak2 perempuan dapat menerima bagian jang sama besarnja. Didaerah-daerah lain barang2 tertentu hanja dapat diberikan pada anak2 perempuan. Di Atjeh misalnja, wanita kebanjakan kali menuntut hak atas rumah dan kebun2.

Apabila kita hendak membandingkan kedudukan wanita di Indo­

nesia dan dinegeri Barat, maka kita akan sampai pada kesimpulan, bahwa kedudukan wanita di Indonesia dalam banjak hal adalah lebih baik daripada kedudukan wanita dinegeri Barat. Kedudukan wanita Indonesia mungkin rendah didaerah-daerah dimana pengaruh kebu­

dajaan' asing adalah sangat besar, tetapi didaerah-daerah, dimana masjarakat masih didasarkan pada hukum3 adat jang asli, maka wa­

nita mendapat tempat jang lebih terhormat dari pada di Barat.

Apabila kita membuka Buku undang2 hukum sipil dan meneliti persoalan ini, maka kita akan melihat, bahwa kedudukan wanita Eropah tidak begitu baik seperti kedudukan Wanita di Indonesia.

Pasal 106 ajat 1 berbunji: Seorang isteri berkewadjiban m enuruti kehendak sang suami.

Pasal 106 ajat 2 berbunji: Ia berkewadjiban tinggal bersama-sa-ma dengan suaminja dan mengikuti suaminja dimana ia merasa perlu un­

tuk tinggal. ;

Pasal 105 ajat 3 berbunji: Ia (suami) mengatur harta kekajaan jang mendjadi milik isteri, terketjuali bila diadakan perdjandjian2 jang me-njalahinja.

Pasal 108 berbunji : Izin sang suami diperlukan bagi isteri dalam hal tindakan2 berhubungan de­

ngan harta kekajaan (vermogensrech­

PELNI

P. T. „P E L A J A R A N N A S IO N A L IN D O N E S IA "

(Indonesian N ational S hipping Coy. Ltd.) Head O ffice : DJALAN A N G KASA DJAKARTA, INDONESIA

TILPON: GAMBIR 2371, 2351, 2042 Cable Address : PELNI DJAKARTA

F lagship: M.S. „TAM POM AS" All Rooms and Cabins Airconditioned 4133 B.R.T.

SEE BALI THE W O R L D - F A M O U S TOURIST RESORT BY M. S. , J A M P 0 M A S "

S e r v i c e s f o r C a r g o e s a n d P a s s e n g e r s

A g e n ts in a ll im p o rta n t p o rts th r o u g h o u t In d o n e s ia , in S in g a p o r e , P e n a n g , R a n g o o n , B a n g k o k , a n d Bussum ( N e th e r la n d s ) .

A ls o p a r tic ip a t in g in th e s h ip p in g c o n fe re n c e s ' v iz , D ja k a r ta F re ig h t C o n ­ f e r e n c e , J a v a N e w Y o rk Rate A g re e m e n t a n d J a v a P a c ific Rate A g re e m e n t

f o r th e in c o m in g a n d o u tg o in g c a rg o .

s a ^ d o S a 11 3dalah SU3tU Upatjara jang Penting dalam hidup bang- Perkawinan di Indonesia adalah perkawinan meminang.

di Indonesia” meminang (N§lamar = Djawa) umumnja diadakan nif^0in? ain-mem^ aWa Ser^a Perlengkapan2nja, pihak (pada lazim-

J ) e aki meminta kepada pihak perempuan untuk menjelenggara- an sesuatu perkawinan. Peminangan dilakukan dengan perantaraan eorang wakil setjara upatjara. (Pantun2, bunga3 dan sebagainja).

ang menghadapinja ialah pihak keluarga atau bapak dan ibu pihak perempuan.

Djika peminangan itu disetudjui, bukan terus dilangsungkan per- a^ ^ 3n’ f ^ an tetapi terlebih dahulu diadakan pertunangan.

Kadang3 hari pernikahan sudah ditentukan, besarnja mas kawin, uang pelanggaran, (djika pertunangan diputuskan), dan sebagainja ditetapkan djuga.

Perdjandjian ini baru dianggap mengikat, sesudahnja diundjuk (diberikan) tjengkeram (tanda pertunangan), satu tanda pengikat jang njata, jang kadang3 diberikan hanja dari pihak silelaki, dan Kadang2 dari pihak kedua-duanja (Batak, Minangkabau, kebanjakan di Daya, beberapa Toradja).

Tjengkeram ini namanja d i :

a- Atjeh (Tanda kong narit = tanda dimana perdjandjian sudah sjah).

b. Nias (Bobo miboe = pengikat rambut).

c. Pulau Mentawai (Sosere = Ikat).

d. Sulawesi Selatan (Passikoq; sikkoq == ikat).

e. Pulau Kei (Mas aje = Mas pengikat).

f- Djawa (Pandjer dan Paningset = djalan untuk mengikat).

g. Sunda (Penjangtjang = djalan mengikat).

Tjengkeram itu kadang3 djatuh kepada keluarga bapak dan ibu 3 t * ^fPa<^a siwanita jang akan> kawin sendiri.

Tanda rasan di Redjang adalah baharu satu bagian dari Tjeng­

keram itu, jang diperoleh oleh siwanita, sebelumnja dia memberi-

*an persetudjuannja. Ia dikembalikan djika siwanita tidak setudju.

(Kadang3 dinamakan ini gadai).

PERKAWINAN

' Djika pertunangan itu putus dengan perm ufakatan dari kedua fi- hak lalu diselesaikan oleh keluarga atau m asjarakat ditem pat mereka.

Lain halnja djika salah satu fihak memutuskan pertalian pertu­

nangan ini (mungkir), maka disini jang bersalah harus m em bajar

„Tjengkeram ” itu, atau dua kali lipat, atau dengan uang- pelan- garan (Deliktsbetaling), sesuai dengan djumlah jang ditentukan di­

dalam upatjara pem berian Tjengkeram itu.

-Di Minangkabau dinamakan ini „Ketek tando gedang ikatan”.

(Tjengkeram jarig tidak begitu banjak harganja itu mengakibatkan didalam pelanggaran sesuatu denda jang tinggi).

Didalam hukum Islam soal pertunangan ini tidak ada.

Pem bawaan pem berian2 perkawinan (Huwelijkegeschenken) di Su­

lawesi adalah bersamaan dengan satu rombongan (optocht) jang besar dari rum ah silelaki ketem pat tinggal siwanita. Perdjum paan mempelai dilakukan dengan upatjara, djuga bersama2 melakukan sembah, dan bersam a2 makan.

Pem bajaran mas kawin dan sebagainja adalah umum diseluruh Indonesia.

Didalam perkawinan patriarchaat terdapat beberapa djenis perka­

winan, seperti „Perkawinan lari”.

Pentiak Adat, sebagai

samfciutan kepada Tamu

A g u n g di L a m p u n g.

*JPQtiara

PERKAWINAN LARI

P erk aw in an m eiarikan (Schaakhuwelijk).

P e rk a w in a n ini a d alah terd jad i, djika siwanita sudah bertunangan,

djuga anggap (Gajo)j»Semendo ambil anak, nangkon, tjam boer soem- bai, dan sebagainja (Sumatera Selatan), Kawin ambil piara (Ambon), N jem burin (Bali). Didalam perkawinan ini tidak dibitjarakan tentang hal „m as kaw in".

Dalam golongan „Pepadong” di Lampung, djika seorang jang terkemuka didalam hadat (Penjimbang) hanja mendapat anak pe- rempuan dari „bini ratunja” (hoofdervrouw), maka supaja kedudukan jang tinggi itu tetap didalam tangan keturunannja (koeroeng), maka ditjarilah seorang lelaki untuk anak perempuannja itu.

Ini bisa terdjadi sebagai berikut:

a. Kawin dengan seorang misan (neef), ini dikatakan „K a w in tegag tegi".

b. Diambil seorang lelaki jang bukan familie, dan lelaki ini di- .djadikan menantu penuh, dan mendapat pusaka sepenuhnja, untuk kemudian hari mendapat anak dengan wanita jang dia kawini (Kawin ambil anaq).

c. Dikawinkan dengan sesuatu lelaki, akan tetapi ,,kedudukan kehormatan” dan pusaka silelaki hanja mengurus untuk isteri dan anaknja (Djeng mirul) sadja.

d. Dikawinkan, akan tetapi silelaki tidak masuk kedalam golongan keluarga siperempuan, hanja dimaksudkan supaja terdjadi ke­

turunan2 dari siperempuan itu (Memindjam djago).

Anehnja didalam perkawinan ,,Soemondo” ini, bahwa keturunan itu tetap didalam hukum adat „Patriarchaat”. . . .

Sebaliknja didalam „perkawinan” matriarchaat, ditjari seorang wanita untuk silelaki, supaja pusaka itu, oleh karena tidak ada anak

Sebaliknja didalam „perkawinan” matriarchaat, ditjari seorang wanita untuk silelaki, supaja pusaka itu, oleh karena tidak ada anak

Dalam dokumen c b is i - lson»r ' *'anilunr (Halaman 67-91)

Dokumen terkait