(F irm a PU D JI)
D j a l a n S l a m e t Ri jadi 1 / 1 0 D j a t i n e g a r a - D j a k a r t a .
Penerbitan & Pertjetakan.
D a g a n g umum:
wtex-insutex, coHiMisUw.~agent, fiasii &umi d.LL
M e n e r i m a p e s a n a n s e g a l a matjam bahan- b a h a n b a n g u n a n .
IlircKsi Rioscoop JiENANGAN"
TAM BUN - BEKASI
kalimat ke 5 dengan suara a, kalimat ke 6 dengan suara i.
Tjontoh lagu „Kinanti” (dikutip dari buku Ramajana):
Anoman malumpat sampun = 8 suku kata dengan achiran u Prapteng witing nagasari = 8 „ „ „ „ i Mulat mangandap katingal = 8 „ „ „ „ a Wanodya’ju kuru aking = 8 „ „ „ „ i Gelung rusak wor lan kisma = 8 „ „ „ „ a Ingkang iga-iga keksi = 8 „ „ „ „ i Artinja :
Anoman telah melompat (melontjat) Sampai pada pohon nagasari Melihat kebawah tampak :
Seorang wanita djelita kurus kering Sanggulnja rusak bertjampur tanah Tulang rusuknja kelihatan.
Lain lagu mempunjai ketentuan lain. Banjaknja kalimat, banjak- nja suku kata, suara terachir, bagi tiap2 lagu ada ketentuan2nja sendiri.
Lagu ini dapat dinjanjikan dengan berbagai-bagai melodie. Maka bermatjam-matjamlah lagu „Kinanti” ini, antara lain ;
„Kinanti Subakastawa”
„ Sandung
>, Pisangbali
„ Teplek Srirahardja dan sebagainja.
Tiap2 matjam melodie dapat dinjanjikan sedikitnja dengan dua matjam nada, pelog dan slendro.
Djika untuk satu lagu sadja berbelit-belit sjarat2nja, betapa sulit-nja untuk mempeladjari semua lagu jang ada, dapat digambarkan.
Saja jakin, tidak hanja lagu2 Djawa sadja jang begitu luas ba
njaknja ketentuan2nja, tetapi djuga lagu2 Bali, Sunda, Sumatra, dan lain2.
Tiap2 daerah telah memiliki kesusasteraan untuk seni^suara ini jang berasal dari beratus-ratus tahun jang lalu, jang ditjiptakan oleh pudjangga2 jang ternama dalam sedjarah masing2 suku bangsa.
Kebanjakan dari literatuur lama memang ditulis dalam bentuk poezie. Dan buku2 itu merupakan sumber2 jang berharga bagi para
Paniai TIDORE di-sendjakala pantas djadi lempal-pelantjongan sambil melihal-lihat keseberangnja
INRN-BRRRT kita
djarah dulu tidak ada muziekleer jang disusun setjara wetenschap- pelijk. Methodiek dan didactiek mengenai seni suara pun tidak ada.
Tjara mempeladjari lagu hanja dengan tjara menirukan suara gu- runja. Sebelum perang dunia ke-II tjara ini masih berlaku.
Sesudah perang dunia ke-II barulah bangsa kita mulai dengan menjusun muziekleer (pedoman musik), Zangleer (pedoman menja- nji), methodiek, didactiek untuk seni suara.
Bagi seni suara Djawa hal ini telah dipelopori oleh Perguruan Taman Siswa, sehipgga para achli „karawitan” sekarang tinggal melandjutkan dan menjempurnakan sadja.
Bagi daerah2 jang seni suaranja menggunakan nada dari musik barat, tidak menemui kesukaran2 seperti Tapianauli (modern), Su
matra Utara, Maluku dan Timor.
Dengan adanja konservatori Karawitan di Surakarta, diharapkan akan tertjiptanja pedoman2 seni suara jang sempurna dari seni su
ara Sunda, Djawa dan Bali.
Perkembangan seni suara itu sangat erat hubiingannja dengan seni sastera. Karena seni suara menghendaki susunan kata jang ter- atur dalam bentuk poezie (sja’ir, sadjak). Untuk menggubah sja’ir orang memerlukan kepandaian sastera jang tinggi. Maka tidak di- benarkan pendapat sementara orang jang menghendaki supaja ba
hasa2 daerah dihapuskan disekolah-sekolah, agar bahasa Indonesia dapat lekas meluas.
Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kebudajaan baru itu bersendi pada kebudajaan lama. Djika kebudajaan lama dilenjap- kan, nistjaja kurang sempumalah pertumbuhan kebudajaan baru.
Djika kita perhatikan sungguh2, negara2 jang telah tinggi kebu- dajaannja semuanja masih menaruh perhatian sebesar-besarnja ter
hadap kebudajaan lamanja.
Maka selajaknjalah bahwa bahasa2 daerah masih dibina oleh daerah masing2 djika seni suara daerah akan dipelihara sebaik- baiknja.
SENI BUNJFAN (MUZIEK).
Seni tari, seni suara dan seni bunji-bunjian merupakan tritunggal jang tak dapat dipisah-pisahkan walaupun tidak selamanja diper- tundjukkan atau diperdengarkan bersamaan waktunja.
Maka pertumbuhan dari ketiga kesenian itu selalu paralel. Dima- na seni tari telah djauh pertumbuhannja, seni suara dan seni bu- nji-bunjiannja pun djauh pula.
Ada daerah jang masih menggunakan „gong”, kendang dan se- ruling atau terompet untuk mengiringi tari-tariannja. Tetapi ada beberapa daerah jang memiliki alat- bunji-bunjian jang sangat ba
njak matjamnja, ialah jang disebut „gamelan”, di Djawa, dan
»gong” di Bali.
Seni „gamelan” merupakan suatu ilmu pengetahuan jang memer- lukan waktu jang tidak sedikit untuk mempeladjarinja, djika ingin memiliki pengetahuan dan kepandaian menggunakan semua alat.
Ilmu pengetahuan ini disebut „Karawitan”.
Sajangnja ilmu pengetahuan ini pada umumnja masih diperluas setjara ,,hoofdelijk”, sehingga tidak dapat menarik perhatian ang- katan muda. Lagi pula karawitan ini memang sangat berbelit-belit, . sehingga animo untuk mempeladjarinja setjara persentase lebih
ketjil dari pada seni tari dan suara. Maka banjak sekali penari- atau penjanjia (Djawa, Sunda dan Bali) jang hanja mengerti kara
witan setjara theoretisch tetapi tidak mempunjai kepandaian mem- pergunakan salah satu dari alat gamelan. Mereka hanja dapat mengenal lagu2 jang biasa digunakan untuk mengiringi sesuatu tarian atau njanjian.
Pada zaman pendjadjalian untuk gamelan dilemparkan kata- edjekan : „de eentonige klank van de gamelan” (suara gamelan jang selalu sama). Kata'-' ini hanjalah politik Belanda jang ingin bangsa Indonesia terasing dari Kebudajaannja. Dan mereka djika mendengarkan „gamelan” sudah barang tentu dengan „telinga dan perasaan Barat”.
Muziek Barat dapat menggetarkan djiwa sehingga menimbulkan berbagai matjam perasaan, seperti: sedih, gembira, terharu, dan sebagainja. Atau dapat membajangkan bermatjam-matjam suasana alam sep erti: kesunjian malam, kenangan diwaktu pagi, dan se
bagainja.
Apakah Gamelan tidak dapat menggetarkan djiwa ?
Dapat djuga ! Tetapi tentu sadja djiwa dari bangsa jang memi
liki gamelan itu.
Tidak sedikit „gending2” (lagu2) jang menggetarkan djiwa gem
bira, djiwa sedih, djiwa terharu. Tetapi harus kita ukur dengan temperament bangsa. Telah mendjadi kodrat bahwa temperament bangsa Timur pada umumnja tidak periang seperti bangsa Barat.
Bukannja bangsa Timur tidak dapat bersuka r ia : Hanja tjaranja berlainan.
Djika pada suatu pertemuan dimana digunakan gamelan sebagai alat bunji-an, dan djika diperdengarkan lagu: ,,kebogiro” (kerbau berlari-lari) umpamanja, nampak pada wadjah para hadlirin kegem- biraan. Dalam bergembira ini bagi orang Timur tidak perlu ikut berlontjat-lontjat atau menari-nari atau bertepuk tangan.
Dalam pokoknja seperti muziek Barat, gamelan-pun dapat mem
punjai functie sebagai penggetar djiwa, hanja effeknja jang ber
lainan karena temperament jang digetarkan djiwanja berlainan.
Sekarang tinggal terletak kepada para achli karawitan untuk
menggubah „gending” (lagu2) jang sesuai den^ f t bann ia' Dalam hal ini para achli karawitan telah meme j hanja sadja belum sempurna. , _ . , . ,
Kursus2 dan latihan2 mempergunakan gamela
Jang mendjadi penghalang lagi2 ialah soal ekonomi. Untuk me miliki satu stel gamelan jang sempurna orang harus mempunjai sedikitnja Rp. 10.000,— s d Rp. 25.000,—. Gamelan jang sehaig itu belum dapat dikatakan baik kwalitetnja. Sedangkan kebanjakan dari bangsa kita finansieel lemah. , . „ Pada waktu ini jang dapat membantu perkembangan karawitan ialah anggota masjarakat jang beruang dan Pemenn ai.
Tetapi djika gamelan perlu mengiringi satu barisan, terpaksa alat2nja dipikul sedikitnja masing2 oleh dua orang. a am pan ang an tidak dapat rapi/indah nampaknja, dan pemukulnja tidak bebas.
Untuk merobah bentuk masih memerlukan waktu dan s u 1
Seorang architect Djerman, Otto Hierholzer namanja, jang sa
ngat tertarik pada gamelan telah berhasil mentjiptakan mondiai- monica Pelog dan Slendro jang sama dengan harmonica Barat dengan suara, A, C, D, dan G. TT i T 1
Mondharmonica itu dinamakan Pelog/Slendio o ner- n onesia
Mondharmonica. . .
Dalam waktu setengah orang dapat mempeladjari mengguna an- nja, apakah mondharmonica itu dapat diperbanja ingga aPa dimiliki oleh kebanjakan dari penggemar gending, masih mendjadi
pertanjaan. . , , 3
Daerah2 jang tidak menggunakan gamelan, menggunakan a a jang lebih sederhana atau alat2 jang terdiri dan tjampuran an aia alat2 asli dan alat2 muziek Barat. Alat2 jang m asn se er ana 1- salnja di Atjeh: gendang dan terbang, didaerah Batak . gendang,
Alat- ini tidak memerlukan pengetahuan tjara mempergunakan- nja seperti gamelan. Jang dipentingkan hanja asal „Eythmisch”.
Dan berlainan dengan gamelan alat- ini tidak dapat memba
wakan lagu- penggerak berbagai matjam perasaan, ketjuali rasa gembira.
Memang functienja hanja untuk mengiringi tarran jang djuga sederhana gerakan'nja, pada umumnja jang bertalian dengan adat.
Alat" bun jran jang tjampuran antara lain di Sumatra Utara, Sumatra Tengah, Sumatra Selatan, Maluku dan Timor. Acliirnja perlu saja sebutkan alat bunjran jang dinamakan: angklung.
Alat ini dibuat dari bambu. Angklung ini dapat membawakan nada- jang ada pada gamelan.
Di Djawa Barat gamelan angklung ini masih digunakan didesa- desa. Atas usaha beberapa achli seni di Bandung, angklung ini telah diperbaharui dan disebut A ngklung modern. Digunakan untuk membawakan lagu= jang biasa dibawakan oleh muziek Barat. Tjara memperdengarkannja berlainan dengan gamelan angklung jang asli.
Aslinja, seorang pemain memegang beberapa „titi swara” (noot suara), sedang pada angklung modern, tiap2 „titi swara” dipegang oleh seorang pemain.
Di Bali masih ada alat2 gamelan jang dibuat dari bambu. Sepei'ti gamelan biasa, gamelan bambu ini djuga dipergunakan pemukul dalam menjuarakannja, berlainan dengan angklung jang1 hanja di- gojangkan sadja. Gamelan bambu di Bali disebut „bumbung”.
Dan ta rrn ja disebut „tari bumbung”. Tarian ini masih dilaku
kan didesa-desa sebagai hiburan rakjat. Dikota-kota tidak diper
tundjukkan lagi, karena tarian ini dipandang dari segi kesopanan tidak sesuai lagi ; seperti halnja dengan pertundjukan „doger”
di Djawa Barat dan „djanggrungan” (marungan) didaerah Banju- mas, dan „andongan” di Djawa Timur.
Tari bumbung, doger, djanggrungan, dan andongan ini serupa sifatnja. Penonton boleh ikut menari ditengah djika sudah mem- bajar setengah rupiah atau satu rupiah.
Pada tari bumbung penonton jang ikut menari hanja seolah- olah mengedjari penari wanita. Dan penari wanitanja selalu meng- hindari penari laki2 tadi. Tiap kali penari wanita itu menghindari para penonton lainnja bersorak-sorak dan berteriak-teriak.
Setelah beberapa menit berhentilah kedua-duanja. Penari dari penonton itu pergi dari tempat itu. Dan penari Wanita itu ber- keliling lagi melalui para penonton. Siapa jang disambit dengan sapu tangannja harus madju ketengah memasukkan uang dalam tem pat jang sudah tersedia dan harus menari. Bagi masjarakat disitu adalah suatu hinaan bila tidak mau menari djika sudah di- tundjuk.
Hiburan rakjat sematjam itu hampir tidak dilakukan lagi di Djawa Barat, Djawa Tengah dan Djawa Timur. Maka pertundjuk
an doger, djanggrungan dan andongan boleh dibilang dikota ham
pir lenjap ditelan masa.
Pada umumnja gamelan dan alat" bunjran lain dari daerah- jang tersebar dikepulauan Indonesia tidak kurang functienja dalam me- nimbulkan kenikmatan batin dan kebudajaan. Jang kurang hanja- lah techniknja. Mungkin dengan mengambil faktor2 jang dapat di-asymilasikan dari muziek Barat, kemudian hari akan ada per
obahan dalam technik itu.
Seperti halnja dengan bahasa, seni bunjranpun dapat mengambil pengaruh- dari luar. Asalkan pengaruh itu tidak dipisahkan.
Dichawatirkan bahwa gamelan ini akan terdesak oleh muziek Barat. Dikota-kota besar nampak sekali meradjalelanja muziek Barat.
Dari bangsa kita sendiripun banjak jang lebih menjukai muziek Barat dari pada musik daerah.
R.R.I. kita sebahagian besar djuga memperdengarkan suara mu
ziek . Barat. Gamelan-musik atau lain" musik daerah hampir2 tidak mendapat tempat. Tiap2 siaran didahului dengan muziek Barat.
(Anehnja siaran bahasa Inggris, Arab dan lain2 siaran asing, me
mulai siarannja dengan gending Bali, Djawa atau Sunda).
SENI DRAMA (SANDIWARA) DAERAH.
Seni Drama jang saja bitjarakan disini bukan Seni-Drama jang sering dipertundjukkan dikota-kota besar, tetapi seni drama jang bersifat kedaerahan asli.
Nama ini tidak dikenal oleh rakjat kita didesa-desa. Masing3 daerah jang memiliki kesenian ini mempunjai nama sendiri2.
Di Bali ada sematjam seni drama jang disebut: „topeng” dan
„ardja”. Di Djawa Tengah dan Djawa Barat ada : topeng, ,,wajang wong” (wajang orang). Dan di Djawa Tengah dan Djawa Timur ada jang disebut: ketoprak, di Djawa Tim ur: ludrug.
Topeng Bali mempertundjukkan tjeritera2 dari zaman keradjaan.
Semua pemain memakai topeng jang menutupi seluruh muka ke- tjuali bibir bawah sampai dagu, sehingga dialoog (pertjakapan) dapat dilakukan sendiri oleh para pemain.
Disamping Topeng ada sematjam wajang orang jang disebut : Ardja. Tjeritera2 diambil dari Mahabarata. Lakon jang sangat di- gemari ialah Ardjuna Wiwaha sewaktu bertapa.
Bedanja dengan wajang orang ialah tjara memainkan peranan.
Dalam wajang wong di Djawa peranan Ardjuna digambarkan se
bagai orang jang lemah lemb'ut, sehingga peranan itu dimainkan oleh seorang wanita.
Dalam Ardja, peranan Ardjuna digambarkan sebagai seorang jang gagah perkasa. Dan Ardja tidak dipimpin oleh seorang dalang seperti wajang-orang.
Seni Drama lain jang masih sering dipertundjukkan di Bali ialah : Barong Landung. Tjeritera dikutip dari zaman radja2 seperti
Bali. I-Iampir tiap malam tentu ada pertundjukan disuatu kam- pung. Dan selui'uli rakjat disekitar kampung itu berdujun-dujun menonton.
Seperti telah saja sebutkan, di Djawa Tengah masih terdapat seni drama jang disebut: Wajang Wong (wajang orang). Nama ini sebetulnja tidak tepat, karena „wajang” berarti bajangan. Padahal apa jang dilihat bukannja gambaran sesuatu bajangan, melainkan orang.
Akan tetapi nama Wajang masih tetap digunakan karena kese
nian ini asalnja dari „Wajang Kulit”. Kata „Wajang” pada wajang kulit adalah tepat, karena wajang itu masing" adalah gambaran bajangan seseorang, maka tangannja pun pandjang sampai kelutut.
Djadi Wajang Oi’ang adalah tiruan dari Wajang Kulit. Dari itu maka pakaiannja djuga meniru wajang-kulit.
Djika dipikir dalam- memang sangat gandjil djika seorang me- makai sajap seperti Gatutkatja, dan diatas kepala ada sematjam lingkaran.
Tetapi karena Wajang Orang itu adalah Wajang Kulit jang di- mainkan oleh orang, maka pakaiannja pun disesuaikan.
Tjeritera" diambil djuga dari Ramajana atau Mahabarata seperti W ajang Kulit.
Untuk memperindah kesenian itu, maka seni tari dan seni suara digabungkan.
M enurut sedjarah, pentjipta Wajang Wong ialah Mangkunegara ke V. Kemudian diperbaiki dan diperlengkapi oleh Mangkunegara"
berikutnja.
W ajang Wong jang kita saksikan sekarang sudah melalui fase perobahan dan perbaikan banjak sekali.
Namun begitu dipandang dari segi technik dialoog dan drama- tisasi, masih djauh terbelakang dari sandiwara2 atau opera" diza- man modern ini.
Dialoog jang dilakukan tidak dapat dirobah mendjadi pertja- kapan biasa karena terikat pada tjeritera jang dimainkan ialah tjeritera Wajang. Tiap" peranan mempunjai tjara berbitjara sen- diri" dan semuanja tjara jpng tidak lazim digunakan oleh orang zaman sekarang.
Dramatisasinja masih terikat pada tari untuk masing" peranan.
Peranan Ardjuna harus halus, peranan denawa harus kasar, pe
ranan puteri ada jang harus serba lambat, dan ada jang harus tangkas seperti peranan : Srikandi dan Banowati.
Dan lagi pertundjukan ini belum dapat terlepas d a ri: dalang jang tiap" kali mentjeriterakan adegan jang akan datang dan mem- bantu membajangkan penonton tentang kesan2 atau perasaan" jang seharusnja dilakukan sendiri oleh para pemain.
Kebebasan hanja diberikan kepada peranan Semar, Gareng dan Petruk, jang boleh bergerak dan berbitjara dengan tjara sesukanja.
Karena tugas mereka terutama ial§h menggerakkan urat2 ketawa (lachspieren) dari penonton.
Tetapi kebanjakan dari pelawak itu sering2 terlalu actief menu- naikan tugasnja membuat ketawa, sehingga tepat atau tidak tepat waktunja mereka djuga melawak. Tidak djarang terdjadi scene jang seharusnja menggambarkan kesedihan, mendjadi katjau dan berganti mendjadi scene „lutju”.
Keadaan sematjam ini terdapat djuga pada Ardja di. Bali dan Wajang Wong Sunda.
Isi tjeriterapun belum dapat terlepas dari dunia perwajang- an.
Sifat dari pertundjukan2 itu benar" masih klassik. Bagi para penggemar kesenian itu rupa'-'nja tidak menginginkan perobahan2 kearah persamaan dengan Sandiwara- berbahasa Indonesia.
Kira-kira dalam tahun 1920 di Djawa Tengah lahir sematjam seni drama jang dinamakan Ketoprak. Nama ini diambil dari bunji-bu- njian jang pertama-tama digunakan, jang hanja terdiri d a ri: terbang, kentongan ketjil, seruling dan gendang. Njanji-njanjian jang dipa
kai ialah njanjian matjapat: Putjung, Midjil, Megatruh, Sinom, Gambuh, Pangkur, Kinanti, Asmarandana, Maskumambang.
Laras jang diambil ialah : Pelog. Semula tjeritera2 diambil dari
„Serat Menak”. Kemudian „Serat Pandji” dan paling achir diambil djuga tjeritera2 biasa, dari Buku Babad seperti Babad Madjapait, Mataram dan tjeritera2 tjabangnja.
Pertundjukan ini adalah suatu seni drama. Banjak sekali digu
nakan seni suara.
Pada mulanja tiap2 pemain harus menjanji, djuga dalam dialoog.
Bedanja dengan Wajang Wong, dialoog dilakukan dengan lagu biasa seperti orang bertjakap-tjakap sehari-hari.
Karena tjeritera2 jang diambil pada mulanja dari tjeritera Menak,
Kemudian dimasukkan alat2 gamelan biasa, hingga achirnja hanja gamelanlah jang digunakan.
Sedjak itu maka sifat Ketoprak jang asli tidak nampak lagi, dan mendjelma mendjadi Sandiwara bahasa Djawa jang diiringi dengan gamelan.
Sesudah tahun 1945 perkumpulan2 ketoprak, jang sebelum itu terdapat dimana-mana baik jang amateur, maupun jang beroep, lenjap dari masjarakat, tinggal beberapa perkumpulan beroep sadja jang bertahan, antaranja Ketoprak Sriwedari Solo dan Ketoprak Mataram di Jogjakarta jang sering main didepan tjorong R.R.I.
Jogjakarta.
Nasib serupa itu menimpa djuga pertundjukan Ludrug di Djawa
pada umumnja ada. Hanja sjarat2 untuk menghidupkan benih itu.
jang tidak terdapat.
Benih2 jang baik antara lain ialah : 1- sebagai hiburan ra k ja t;
2. dialoog sederhana hingga mudah dimengerti;
3. menghidup-hidupkan seni tari, seni suara, dan karawitan ; 4. menanam rasa tjinta kepada kesenian sendiri, jang dapat me-
mupuk djiwa kebudajaan nasional.
Rakjat umumnja tidak menghiraukan sifat dari- pertundjukan2 itu. Sifat feodaal ataukah bukan feodaal tidak mendjadi soal.
Pokoknja sifat hiburan jang mereka butuhkan. 1
Buktinja seperti di Bali, seribu kali pada pertundjukan Ardja dimainkan Ardjuna Wiwaha, seribu kali rakjat menonton. Jang mereka harapkan bukan isi atau sifat pertundjukan itu, tetapi lelutjon jang dibawakan oleh para pengiring Ardjuna.
Berkali-kali Wajang Orang Sri Wedari Solo memainkan lakon Hanoman Duta dan Sembodro Larung dan tiap" kali gedung Sri W edari penuh sesak dengan penonton.
Di Djawa Barat orang gemar sekali melihat tjeritera: Lutung Kasarung.
Sungguh sangat disajangkan bahwa diluar kota perkumpulan2 Sandiwai-a daerah ini tidak begitu banjak lagi seperti sebelum Revolusi.
Perkumpulan2 jang masih dapat bertahan dikota-kota karena keuletan dari pimpinannja.
Berkurangnja perkumpulan2 itu tidak karena kehabisan pengge- mar, tetapi karena rakjat pada umumnja sibuk dengan memper- baiki ekonominja sehabis pertempuran.
Djika sekarang dibangunkan dan diperluas lagi tentu akan dapat sambutan hangat dari rakjat.
IR. R. S A N O E S I :
J 'n b u s t t i a l i s c i t i e i 3rtbcmesm
Pertundjukan T a r i S e d a t i d i K aw edanan Bireuren, A tje h .
KALAU kita mengadakan perbandingan dengan lain- negara, ma
ka m enurut angka" jang dikeluarkan oleh rakjat Indonesia adalah paling miskin diseluruh dunia mengingat penghasilannja rata"
sehari untuk tiap- orang. Dengan lain perkataan taraf hidup rakjat kita adalah paling rendah diseluruh dunia. Sebaliknja tanah air kita adalah kaja-raja penuh dengan kekajaan alam jang dikagumi oleh dunia luaran, akan tetapi kekajaan alam itu sebagian banjak masih terpendam sehingga belum dapat membantu penghidupan rak jat sehari-hari. Ini semuanja disebabkan oleh karena kurang pengetahuan tehniek, pengetahuan, organisasi dan berusaha, kurang pengalaman didalam segala lapangan. Maklumlah dizaman lampau bangsa Indonesia harus hanja mendjadi kuli murah untuk meng- hasilkan barang2 export seperti karet, kopi, copra dan sebagainja dengan harga semurah-murahnja untuk dapat didjual diluar negeri.
dengan keunlungan jang keliwat banjak. Selain daripada itu segala barang keperluan sehari-hari seperti textiel dan sebagainja harus diimport dari luar negeri, sehingga rakjat kita harus memberi un- tung lagi kepada orang asing. Sudah terang bahwa keadaan eko- nomi sematjam ini tidak akan membawa kebahagiaan dan kehidupan jang lajak bagi rakjat.
Selain dari pada itu dengan tidak adanja industri didalam negeri, ekonomi kita hanja ditentukan oleh keadaan export kita. Kalau export baik ekonomi kita baik, kalau export djelek, keadaan rakjat m endjadi katjau penghidupannja. Padahal keadaan export tersebut baik buruknja ditentukan diluar negeri, dipasaran international.
Djadi ekonomi kita dengan demikian amat terombang-ambing.
Djadi sekaranglah untuk mengatasi terutama soal- kcmelaratan rakjat dan ekonomi terombang-ambing adalah kenaikan productie dan kegiatan" ekonomi didalam negeri didalam lapangan-’ jang djauh lebih luas. Sektor pertanian sadja rasanja tidak akan meninggalkan productie jang tjukup memuaskan dan sektor industri jang menurut perhitungan dapat memperlipat gandakan penghasilan nasional kita.
Sesudah tertjapainja kemerdekaan ini kelihatan sekali bahwa ke- butuhan sehari-hari dari rakjat naik. Jang tadinja tidak pakai sandal sekarang membutuhkannja. Semua orang ingin mempunjai sepeda, mengenai pakaian ingin jang pantas dan begitu seterusnja. Akibat peperangan ini keadaan productie ini turun dan sebaliknja dida
lam alam kemerdekaan ini dibutuhkan productie jang djauh lebih
lam alam kemerdekaan ini dibutuhkan productie jang djauh lebih