• Tidak ada hasil yang ditemukan

BP Tangguh Sorong

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 32-36)

Tim penyusun KA-ANDAL dan ANDAL, RKL, RPL adalah PT. Intersys Kelola Maju, Continental Shelf Associates Inc, Research Institute of Cenderawasih University, PT.Geotek Minergi. Bidang keahlian tim penyusun AMDAL masih belum lengkap karena tidak ada anggota tim yang memiliki keahlian perminyakan. Dokumen KA-ANDAL disahkan pada tahun 2001 sedangkan dokumen ANDAL, RKL dan RPL disahkan pada tahun 2002.

Diperlukan waktu satu tahun dari kerangka acuan ke penyusunan dokumen ANDAL, RKL dan RPL.

Isu pokok dalam dokumen KA-ANDAL yang muncul dari identifikasi;

dampak sosial ekonomi, pemukiman kembali penduduk Desa Tanah Merah, hilangnya hak ulayat masyarakat lokal atas tanah dan daerah perairan dekat pantai, gangguan terhadap lahan, hilangnya kayu, dan hilangnya habitat satwa liar karena pembukaan lahan, dampak terhadap daerah hutan mangrove dari perpipaan dan fasilitas dermaga khusus, dampak terhadap kualitas air akibat pembuangan air terproduksi (produced water), air limbah domestik, dan air buangan lainnya, dan dari sedimen selama konstruksi dan saat pengerukan di dekat pantai dan juga lepas pantai, dampak terhadap perikanan lepas pantai dan dekat pantai serta jalur penangkapan ikan (right of way), limbah yang dihasilkan dari kegiatan industri dan kegiatan masyarakat, dampak kualitas udara selama konstruksi dan operasi dari sumber bergerak dan tidak bergerak, dan dari debu halus lepasan (fugitive dust), dampak kebisingan dan penyinaran (lampu), dampak dari keterbatasan akses untuk daerah penangkapan ikan dekat pantai, daerah pertanian dan perburuan tradisional, dan penggunaan lahan yang lain.

Deskripsi rencana kegiatan meliputi kegiatan pada tahap prakonstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi, pada bagian ini cukup jelas diuraikan secara rinci. Namun penentuan batas wilayah studi keliru, karena batas administrasi dianggap sebagai batas wilayah studi yang seharusnya batas wilayah studi merupakan keseluruhan dari batas proyek, batas ekologis, batas sosial dan batas administrasi.

Metode pengumpulan data cukup jelas, namun untuk metode analisis data untuk komponen sosial kurang jelas lebih banyak menggunakan metode kuantitatif. Dalam metode pengambilan sampel, komponen lingkungan fisik kimiawi dan biologi diukur dengan mengacu pada buku panduan penyusunan AMDAL Kegiatan pembangunan di wilayah pesisir dan lautan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tahun 1996. Untuk komponen fisika:

batimetri, debit sungai, arah dan kecepatan angin, pasang surut, gelombang, arus, suhu, sedimentasi/erosi, tekstur sedimen, komponen kimiawi: salinitas,, kimia sedimen, DO, pH, BOD5, phenol, minyak dan lemak, nutrien, logam berat, muatan parameter tersuspensi, komponen biologi: plankton, benthos, nekton. Dalam uraian metode studi parameter yang diukur pada komponen fisik-kimia dan biologi, sosial, demografi, ekonomi dan kesehatan masyarakat cukup jelas.

Review terhadap kualitas dokumen ANDAL meliputi: rencana kegiatan yang menimbulkan dampak penting yaitu; 1) tahap pra konstruksi, perijinan-perijinan, 2) tahap konstruksi; pengeboran dan pemasangan anjungan lepas pantai, pemasangan transmisi gas (jalur pipa lepas pantai), pembangunan kilang LNG dan fasilitas penunjang, pembangunan pelabuhan khusus (dermaga/jeti), pembangunan bandar udara khusus, 3) tahap operasi; eksploitasi/produksi gas, pemboran sumur-sumur produksi, transmisi gas, pengoperasian kilang LNG, pengeoperasian pelabuhan khusus, dan pengapalan, pengoperasian bandar udara khusus, 4) tahap pasca operasi; penutupan lapangan apabila kegiatan telah berakhir antara lain penutupan sumur-sumur produksi gas, pembongkaran anjungan lepas pantai, penutupan kilang LNG dan pembongkaran fasilitas utama dan fasilitas penunjang, 5) metode prakiraan dampak besar dan penting serta evaluasi dampak penting tidak disebutkan secara spesifik untuk masing-masing komponen lingkungan (biologi, geologi, fisika, kimia dan sosial ekonomi dan budaya).

Dalam prakiraan dampak penting pada aspek biologi, geologi, fisika, kimia seperti; kualitas udara dan kebisingan, ekologi daratan, ekologi lepas pantai dan pantai dinyatakan tidak penting, ternyata di dalam evaluasi dampak penting dikategorikan dampak penting kecuali kebisingan pada tahap operasi adalah; 1) tahap pra konstruksi terdiri atas pembukaan lahan, perataan dan pemadatan tanah dan mobilisasi dan demobilisasi tenaga kerja, 2) tahap konstruksi terdiri atas; a) pengeboran sumur produksi (pembuangan lumpur bor dan serbuk bor), b) potensi tumpahan bahan bakar kondensat, c) pengerukan, d) solid fill cause ways, e) mobilisasi dan demobilisasi tenaga kerja, e) penerimaan tenaga kerja dan peluang ekonomi, f) penempatan pipa transmisi gas di lepas pantai, g) penerimaan tenaga kerja, h) kontrol klan terhadap sumberdaya alam, i) konstruksi dermaga, j) konstruksi kilang LPG, k) mobilisasi dan demobilisasi peralatan/material. 3) tahap operasi terdiri atas; a) potensi tumpahan bahan bakar kondensat, b) pembuangan air ballast, c) potensi tumpahan minyak/bahan bakar, d) operasi penerbangan berjadwal, e) pemukiman liar dan peladangan berpindah, f) kawasan tertutup untuk keselamatan, g) pemasaran LNG, h) operasi kapal tunda, i) penerimaan tenaga kerja. 4) tahap pasca operasi meliputi penanganan lokasi dan instalasi dan penanganan prasarana.

Hal ini terlihat tidak konsisten antara prakiraan dampak dan evaluasi dampak. Metode yang dipakai dalam prakiraan dampak tidak jelas disebutkan.

Seharusnya di dalam memprakirakan dampak penting harus ada matrik identifikasi dampak penting untuk melihat dampak primer, sekunder, tersier dan seterusnya. Dalam menentukan dampak penting negatif penting ataupun positif penting. Dampak-dampak penting tersebut kemudian dilakukan evaluasi dampak penting tersebut antara lain; apakah dampak penting tersebut bisa dikelola dengan teknologi yang tersedia atau sebaliknya. Apakah dampak penting tersebut akan berlangsung terus menerus sampai pasca operasi atau akan terus berlanjut ternyata di dalam dokumen ini antara prakiraan dampak dan evaluasi dampak adalah sama.

Pada evaluasi dampak hanya mengulang yang sudah diuraikan dalam bab prakiraan dampak. Di dalam evaluasi dampak ada dicantumkan matrik identifikasi dampak, matrik prakiraan dampak yang seharusnya matrik-matrik tersebut

dilakukan pada prakiraan dampak. Di dalam dokumen ini tidak ada arahan RKL/RPL.

Rencana kegiatan yang diprakirakan akan menimbulkan dampak lingkungan pada dokumen ANDAL terdiri atas 12 kegiatan. Baik jumlah maupun jenisnya, rencana kegiatan pada dokumen ANDAL tersebut sama dengan apa yang dijelaskan pada dokumen KA-ANDAL. Sebanyak 904 dampak potensial teridentifikasi dalam 6 matrik untuk masing-masing dari ke-6 kegiatan utama proyek. Sebanyak 25 dampak potensial ditambahkan pada matrik berkenaan dengan adanya sedikit revisi pada deskripsi proyek. Sub komponen fisik, kimia dan biologi terdiri atas: kualitas udara dan kebisingan, ekologi daratan (tidak termasuk kualitas udara dan kebisingan), ekologi lepas pantai dan dekat pantai (tidak termasuk kualitas udara dan kebisingan).

Metode studi lebih lengkap atau ada perubahan (antara lain pada komponen biologi, sosek-budaya. Dalam metode prakiraan dampak penting yang dibahas hanya parameter: emisi udara, kebisingan, pembuangan lumpur dan serbuk bor, lintasan tumpahan potensial diesel dan kondesat, pembuangan air terproduksi (di lepas pantai), pembuangan material keruk, pembuangan air dari uji hidrostatik perpipaan, pembuangan air limbah dari kilang LNG, erosi tanah.

Sedangkan, metode prakiraan dampak tidak disebutkan secara kuantitatif.

Deskripsi rencana kegiatan: lebih banyak, kuantitatif dan ilustratif (didukung oleh gambar dan peta-peta). Demikian juga rona lingkungan hidup disajikan dan dideskripsikan lebih lengkap dan didukung oleh hasil analisis data primer (laboratorium).

Berdasarkan hasil review kualitas dokumen RKL menunjukkan bahwa RKL/RPL tidak bersifat operasional, harusnya didalam RKL/RPL ada pendekatan institusional, teknologi dan sosial. Untuk pengelolaan ekologi (biogeofisikkimia) tidak disebutkan peralatan yang dipakai, dimensi, ukuran dan kapasitasnya serta waktu kapan penglolaan dilaksanakan. Teknologi pengelolaan lingkungan masih bersifat naratif seperti teknologi pengelolaan, periode pengelolaan.

Pengelolaan lingkungan masih bersifat alternatif-alternatif. Upaya pengelolaan sosial terdiri atas mengurangi tingkat pengangguran, meningkatkan nilai lahan di lokasi dan di desa-desa sekitarnya, mengganggu kegiatan perikanan,

mengurangi pendapatan keluarga dari perikanan, meningkatkan potensi terjadinya konflik karena adanya daerah-daerah tempat terjadinya kegiatan penangkapan ikan secara berlebihan, mempengaruhi sikap dan persepsi masyarakat terhadap proyek, mengganggu ketertiban masyarakat di desa-desa sekitarnya, dan merubah gaya hidup penduduk di Desa Tanah Merah. Semua upaya yang dilakukan seperti ini namun tidak disebutkan cara pelaksanaannya/teknisnya, waktu/tahapan, lokasi dan siapa yang melaksanakan. Pada tahap operasi, dampak sosial tidak ada dampak penting terhadap lingkungan karena disebutkan pada saat penjualan LNG akan menimbulkan dampak positif ekonomi lokal dan regional.

Hasil review kualitas dokumen RPL menunjukkan bahwa upaya pemantauan tidak jelas pemantauan yang dipantau, teknik pemantauan, frekwensi pemantauan, alat pemantauan, waktu pemantauan, cara pemantauan, parameter yang dipantau. Beberapa pemantauan masih bersifat alternatif, salah satu contoh untuk pemantauan dampak sosial memantau penurunan peredaran uang di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 32-36)