• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kualitas Udara dan Kebisingan

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 53-58)

7. Hess Pangkah Gresik

5.3 Kinerja Lingkungan Implementasi AMDAL Kegiatan Migas

5.3.3 Kualitas Udara dan Kebisingan

Pencemaran udara didefinisikan sebagai masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan/atau komponen lain kedalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udaara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang meyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya. Sedangkan yang dimaksud dengan emisi adalah zat, energi dan/atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk dan/atau dimasukkannya kedalam udara ambien yang mempunyai dan/atau tidak mempunyai potensi sebagai unsur pencemar (PPLH UNSRI, 2003).

Udara adalah media pencampur untuk limbah gas. Limbah gas atau asap yang diproduksi dari sisa pembakaran dan kendaraan bermotor, gas buangan keluar menempati ruang atmosfir yang selanjutnya bercampur dengan asap hasil pembakaran dan udara. Secara alamiah udara mengandung unsur kimia seperti O2, N2, NO2, CO2, H2 dan lain-lain. Penambahan gas kedalam udara melampaui kandungan alami akibat kegiatan manusia khususnya dalam pembukaan lahan, pertambangan dan kegiatan migas dapat menimbulkan polusi yang akan menurunkan kualitas udara.

Zat pencemar melalui udara diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu partikel dan gas. Partikel adalah butiran halus yang masih mungkin terlibat dengan mata telanjang seperti uap air, debu, asap, kabut dan fume, namun yang dikaji dalam penelitian ini hanya partikel debu. Sedangkan pencemaran berbentuk gas hanya dapat dirasakan melalui penciuman (untuk gas tertentu) atau akibat langsung antara lain SO2, Nox, CO, CO2, hidrogen dan lain-lain.

a. Kandungan SO2

Sifat dari gas SO2 adalah gas yang tidak berwarna, namun memiliki bau sangat tajam. Bahan-bahan yang mengandung belerang teroksidasi membentuk sulfur dioksida. Sulfur dioksida dapat berubah menjadi asam belerang (asam sulfat) di atmosfir dan di dalam jaringan tubuh manusia. Sulfur dioksida stabil dalam beberapa hari, di udara teroksidasi menjadi SO3 yang akhirnya membentuk aerosol asam higroskopik H2SO4 lalu akan terjadi hujan asam. Gas SO2 dapat merusak tanaman, menyebabkan korosi pada permukaan logam dan merusak bahan nilon dan lain-lain (PPLH-UNSRI, 2003).

Kandungan SO2 di udara diduga berasal dari bocoran gas alam pada SKG, bocoran dari separator minyak pada stasiun pengumpul, sisa pembakaran pada flare dan genset. Data hasil pemantauan untuk enam lokasi kegiatan usaha migas menunjukkan bahwa nilai kandungan SO2 di lingkungan relatif sangat kecil, jauh di bawah baku mutu (0,365 ppm) berdasarkan peraturan pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara (baku mutu ambien nasional).

Gambar 11 Kandungan SO2 di enam lokasi kegiatan usaha migas b. Kandungan H2S

Senyawa H2S dalam bentuk gas bersifat racun dan berbau busuk, H2S di udara pada musim hujan akan larut dalam air yang merubah sifak fisik air

0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000

1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertamina Plaju CPI Duri Suryaraya Teladan Lapindo Brantas

BP Tangguh ExpanToili Baku Mutu Lingkungan

menjadi hitam, dan dengan senyawa besi membentuk Fe2S. Kandungan H2S dapat berasal dari sisa pembakaran pada flare atau pada genset dan sisa tumpahan minyak mentah yang tercecer maupun pada oil catcher yang menguap akibat dari penguapan oleh panas matahari.

Nilai kandungan dalam udara di lingkungan dari hasil pelaporan relatif sangat kecil dan masih di bawah baku mutu lingkungan yang ditetapkan.

Indikator ini diperkuat dengan tidak adanya keluhan dari pekerja dan masyarakat desa sekitar mengenai gangguan pernafasan. Demikian juga tingkat korosif di lokasi yang dipantau umumnya kurang terlihat.

Gambar 12 Kandungan H2S di enam lokasi kegiatan usaha migas c. Kandungan NOx

Kandungan NOx terbentuk pada temperatur tinggi dan pada kondisi kaya oksigen. Sumber pembentuk NOx dari kegiatan penambangan minyak dapat berasal dari flare pada gas buangan di daerah pengeboran maupun pada stasiun pengumpul dan dapat berasal dari aktivitas kendaraan operasional dari dan menuju lokasi.

Dengan demikian, temperatur tinggi pada pembakaran gas sisa di flare, kendaraan operasional, dari knalpot genset dapat mendorong terbentuknya nitrogen monoksida. Jika pada saat pembentukan pada temperatur tinggi dan pada

0.0000 0.0050 0.0100 0.0150 0.0200 0.0250 0.0300 0.0350

1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertamina Plaju CPI Duri Suryaraya Teladan Lapindo Brantas BP Tangguh Expan Toili Baku Mutu Lingkungan

kondisi oksigen berlebihan. Kehadiran NOx adalah sama seperti kandungan SO2. Hasil pelaporan pemantauan di enam lokasi kegiatan usaha migas menunjukkan bahwa tingkat kandungan NOx dalam udara di lingkungan relatif rendah masih di bawah nilai baku mutu lingkungan. Oleh karena itu wajar, bila pengaruh terhadap lingkungan pada saat ini belum terjadi seperti belum adanya gangguan pertumbuhan vegetasi ataupun kesehatan pekerja.

Gambar 13 Kandungan NOx di enam lokasi kegiatan usaha migas

Hasil pemantuan kinerja lingkungan tampak bahwa kandungan NOx pada enam lokasi pengamatan untuk enam lokasi kegiatan usaha minyak dan gas diperoleh bahwa kandungan NOx terukur tidak melebihi baku mutu lingkungan yang dipersyaratkan. Kandungan NOx dari masing-masing lokasi pengamatan menunjukkan kecenderungan yang menurun dari tahun ke tahun. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pengelolaan lingkungan pada kegiatan usaha migas telah menjadi perhatian utama. Penggunaan teknologi pengelolaan limbah dan buangan serta dampak yang dapat muncul telah menjadi salah satu prioritas utama dalam kegiatan usaha migas.

d. Kebisingan

Pengukuran kualitas udara dan kebisingan dilakukan pada lokasi lapangan minyak dan gas yang sudah beroperasi. Analisis terhadap data kualitas lingkungan

0.0000 50.0000 100.0000 150.0000 200.0000 250.0000 300.0000 350.0000 400.0000 450.0000

1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pertamina Plaju CPI Duri Suryaraya Teladan Lapindo Brantas BP Tangguh Expan Toili Baku Mutu Lingkungan

yang diperoleh dari lapangan akan selalu didasarkan pada baku mutu lingkungan (BML) yang telah ditetapkan. Penilaian untuk kebisingan digunakan baku mutu bagi kawasan industri berdasarkan keputusan menteri LH No. 48 tahun 1996.

Hasil analisis kebisingan pada pemantauan periode 1993-2006 disajikan pada Gambar 14.

Sumber bising pada lokasi pemantauan berasal dari kompresor gas pada booster dan SKG, selain dari genset dan pompa. Pemantauan dilakukan hanya untuk kawasan industri (pusat) dengan baku mutu bising (>70 dBA) berdasarkan keputusan menteri LH No. 48 tahun 1996 untuk kawasan industri.

Berdasarkan Gambar 14 menunjukan bahwa tingkat kebisingan pada enam lokasi kegiatan migas tidak ada yang melampaui baku mutu bising sebagaimana yang telah ditetapkan pada Kepmen LH No. 48 tahun 1996. Hasil ini diperkuat dengan tidak adanya keluhan dari pekerja dan masyarakat sekitar daerah industri.

Tingkat kebisingan merupakan hal yang perlu dicermati karena dapat diukur secara langsung (didengar) oleh pekerja dan masyarakat di sekitarnya. Untuk mereduksi kebisingan dapat dilakukan penanaman pohon-pohon seperti bambu atau pohon-pohon tegakan tinggi di sekitar sumber kebisingan (pompa, genset atau kompresor).

0 10 20 30 40 50 60 70 80

1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006

Pertamina Plaju CPI Duri Suryaraya Teladan Lapindo Brantas BP Tangguh Expan Toili Baku Mutu Lingkungan

Gambar 14 Kebisingan di enam lokasi kegiatan usaha migas

Dalam dokumen V. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 53-58)