TERHADAP JKN & BPJS KESEHATAN
1. BPJS bukanlah jaminan kesehatan bagi masyarakat.
Banyak masyarakat yang mengira bahwa BPJS adalah jaminan kesehatan dari pemerintah, padahal BPJS itu fungsinya tidak lebih dari asuransi. BPJS didanai dari uang pribadi masyarakat, dimana masyarakat diminta menyetor sejumlah uang untuk dikumpulkan dan nantinya digunakan untuk biaya pengobatan.
BPJS menggunakan prinsip gotong- royong, seluruh uang yang disetorkan oleh seluruh anggotanya kemudian dihimpun oleh PT.BPJS dimana uang tersebut dialokasikan untuk membiayai pengobatan para anggota yang sedang sakit. Ya semacam dana sumbangan dari masyarakat yang dikumpulkan secara massive oleh pemerintah dari rakyat untuk membiayai sebagian kecil rakyat yang sedang sakit.
Ada beberapa hal yang perlu diluruskan dari pernyataan di atas, yaitu:
a. Jaminan kesehatan dan asuransi kesehatan:
Definisi jaminan kesehatan dalam bahasa Indonesia mempunyai beberapa pengertian karena kata jaminan dapat berasal dari guanrantee atau warranty dan dapat berasal dari terjemahan bahasa Inggris insurance atau asuransi. Oleh karena itu, kalau kita berbicara tentang jaminan kesehatan, yang bukan guarantee/warranty, tetapi jaminan dalam arti seseorang yang sakit dapat memperoleh pelayanan kesehatan, meskipun ia tidak memiliki uang atau dalam istilah teknsi disebut asuransi atau jaminan oleh pemerintah, maka secara luas dapat digunakan definisi berikut.
Jaminan kesehatan adalah sebuah sistem yang memungkinkan seseorang terbebas dari beban biaya berobat yang relatif mahal yang menyebabkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar hidup lain (makan, sekolah, bekerja, dan bersosialisasi).
Jaminan dapat diberikan oleh/melalui: 1. Pemerintah (yang biasanya didanai
dari APBN/APBD)
2. Badan asuransi (baik asuransi sosial maupun komersial)
3. Masyarakat (dalam bentuk bantuan oleh masyarakat keagamaan/bakti
sosial)
4. Diri sendiri (dengan memiliki dana sendiri atau tabungan)
Pengertian jaminan sosial luas ini di berbagai negara dikenal dengan berbagai istilah seperti social welfare, social insurance, social security, social services, social activities, dan lainnya. Akan tetapi, karena kurangnya perbendaharaan kata bahasa Indonesia, maka kata jaminan sosial sering digunakan untuk program bantuan orang tidak mampu (bakti sosial), pengurusan anak terlantar, pengurusan orang jompo, pengurusan orang yang dikenal dengan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial).
Atas dasar persepsi ini maka BPJS dianggap jaminan Kesehatan dari pemerintah dalam arti program bantuan pemerintah. Sehingga bagi penulis merasa aneh ketika masyarakat diminta menyetor (membayar iuran).
Secara khusus, Jaminan Sosial (Social Security) sebagaimana yang diatur oleh UU Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) atau yang diatur dengan UU terdahulu, yaitu UU Jamsostek, adalah mekanisme asuransi, tabungan, dan atau bantuan sosial yang diatur khusus dengan undang-undang.
Pilar jaminan sosial: Umumnya terdiri atas (mulai dari yang terbatas dan tidak bersinambung)
1. Bantuan/pelayanan sosial. Sistem ini didanai dari sumber pajak oleh negara atau sumbangan dari pihak yang mempunyai status ekonomi yang kuat; 2. Tabungan wajib. Setiap orang
diwajibkan menabung untuk dirinya sendiri (provident fund) sebagaimana dilaksanakan dalam Jaminan Hari Tua atau jaminan pension;
3. Asuransi sosial. Dimana setiap orang mengiur/berkontribusi atau membayar
premi yang sifatnya wajib. Bisa juga premi/iuran dibayarkan oleh pihak lain atau oleh pemerintah, bagi mereka yang miskin. Sistem asuransi sosial ini paling baik, dana yang terkumpul memadai, tahan lama, dan paling banyak digunakan di dunia.
Di Indonesia, kata asuransi dan jaminan sering digunakan sebagai suatu sistem jaminan yang sama. Namun, sesungguhnya kata asuransi memiliki arti yang lebih khusus ketimbang jaminan. Jaminan dapat berarti garansi yang banyak digunakan dalam bisnis barang-barang. Jaminan atau garansi setahun, dua tahun, dan sebagainya. Jelas, jaminan yang berarti garansi bukanlah asuransi. Konsep jaminan yang merupakan terjemahan dari kata asuransi atau security dalam jaminan sosial merupakan konsep pemindahan risiko dan pengumpulan dana untuk kepentingan bersama.
Konsep asuransi merupakan suatu cara gotong royong yang terorganisir dimana yang menerima pertolongan terbatas pada yang mengiur/berkontribusi. Ini adalah konsep klasik asuransi, yang dalam praktek sistem jaminan sosial (social security) digunakan sedikit bervariasi. Yang membayar iuran disebut peserta. Dalam konsep jaminan sosial, mereka yang miskin tentu tidak boleh diwajibkan membayar iuran. Untuk itu, pemerintah membayarkan iuran atas nama orang miskin. Dengan demikian, orang miskin bisa menjadi peserta asuransi. Konsep gotong-royong yang terorganisir dari sebuah sistem asuransi terjadi dengan mekanisme setiap peserta secara teratur, biasanya tiap bulan, mengiur. Tentu mengiur tiap bulan dalam jumlah yang terjangkau, misalnya 5% pendapatan kita, akan jauh lebih ringan daripada menunggu sakit yang menghabiskan dua tahun pendapatan kita.
Kita akan tenang dan tidak perlu khawatir, jika sewaktu-waktu, kita sakit.
b. “BPJS menjunjung prinsip gotong royong”
Tanggapan:
Meskipun ada dana asuransi yang akan membayarnya, yang merupakan dana bersama semua peserta, tentu kita tidak ingin juga sakit. Jadi kita terbebas dari rasa khawatir, atau kita merasa aman. Itulah sebabnya, dalam bahasa Inggris, jaminan sosial disebut social security, karena kalau kita sudah mengiur untuk jaminan/asuransi sosial, maka kita akan merasa aman terhadap kejadian sakit yang sewaktu-waktu menimpa kita. BPJS Kesehatan sebagai wadah menggerakkan solidaritas nasional atau gotong royong nasional.
Salah satu prinsip utama dalam penyelenggaraan Jaminan Sosial tersebut adalah Gotong Royong, yang sehat membantu yang sakit, yang mampu membantu yang kurang mampu, yang muda membantu yang tua dan sebagainya. Sebagai ilustrasi, dengan asumsi rata-rata iuran per jiwa per bulan sebesar Rp 40 ribu, jika seorang peserta harus menjalani cuci darah dengan biaya berkisar Rp1 juta untuk satu kali cuci darah, maka di saat yang sama, dibutuhkan 25 orang yang sehat untuk secara bergotong royong membantu satu orang yang cuci darah tersebut. Dalam satu bulan, seseorang bisa menjalani cuci darah 8 kali, sehingga di saat yang sama dibutuhkan 200 orang yang sehat untuk mensubsidi orang yang harus menjalani cuci darah tersebut. Artinya, yang sehat memberikan iurannya digunakan oleh orang sakit.
c. “Dana sumbangan dari masyarakat yang dikumpulkan massive oleh pemerintah dan membiayai sebagian
kecil rakyat yang sakit”
Berikut ini disajikan sebuah contoh sederhana dari sebuah kota A. Dalam kota A terdapat 500.000 penduduk yang ternyata setiap tahunnya ada 1.000 orang yang dirawat, dengan rata-rata biaya perawatan mencapai Rp 20 juta per perawatan. Maka Kota A menghabiskan dana 1.000 orang x Rp 20 juta = Rp 20 Milyar setiap bulan. Jika biaya perawatan sebesar itu ditanggung masing-masing yang sakit, maka kebanyakan penduduk kotaA akan jatuh miskin. Akan tetapi, jika seluruh dana tersebut ditanggung bersama oleh semua penuduk, maka tiap penduduk menanggung Rp 20 Milyar dibagi 500.000 orang = Rp 40.000 per penduduk per tahun, atau hanya Rp 40.000/12 = Rp 3.400 per orang per bulan. Jelaslah, jika setiap orang mengiur tiap bulan sebesar Rp 3.400, yang sesungguhnya sangat ringan, maka tidak akan ada keluarga di kota A yang jatuh miskin ketika seorang anggota keluarga sakit dan perlu perawatan. Maka seluruh penduduk kota A akan merasa aman atas kejadian/musibah alamiah penyakit.
Bukankah ini suatu gotong-royong yang sudah menjadi ciri-ciri bangsa Indonesia? Dalam masyarakat Indonesia sudah berkembang membantu orang sakit. Tetapi JKN membantu secara lebih terstruktur dan dikelola lebih akuntabel oleh BPJS Kesehatan. Sehingga uang gotong royong rakyat denga njelas dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya.
Membayar secara rutin sejumlah uang kepada badan penyelenggara merupakan mekanisme asuransi Kesehatan, sementara penduduk miskin, iurannya dibayarkan oleh pemerintah. Jumlah iuran/premi yang terkumpul merupakan “Dana Bersama” seluruh pesrta asuransi atau disebut Pool, bukan lagi milik perorangan. Dana itu
digunakan sesuai kontrak atau peraturannya, yaitu hanya untuk membiayai manfaat asuransi/jaminan. Dalam jaminan kesehatan, dana bersama tersebut hanya digunakan untuk membayar biaya pengobatan/ perawatan peserta. Jika seseorang peserta tidak sakit selama bertahun-tahun, ia tidak bisa mengambil kembali dana yang ia iur, karena dana tersebut sudah digunakan oleh yang sakit. Jangan tuntut lagi, “saya tidak gunakan, mana uang saya?” Uang anda telah digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah sakit. Anda telah membantu orang lain, tetapi anda juga merasa aman. Disinilah bedanya iuran/kontribusi asuransi dengan iuran tabungan. Dalam iuran tabungan, dana yang terkumpul tetap milik masing-masing penabung yang nantinya tetap menjadi milik penabung/peserta. Bahkan peserta mendapat nilai tambah hasil investasi. Dalam sistem jaminan sosial, jaminan hari tua atau pensiun dapat dilakukan dengan sistem menabung, bukan sistem asuransi. Dalam sistem asuransi ada dua kelompok besar yaitu asuransi komersial dan asuransi sosial.
2. “BPJS adalah kamuflase pemerintah untuk menutupi penyelewengan dana subsidi BBM”.
Tanggapan:
BPJS Kesehatan menerima dana dari Pemerintah teridiri dari dana modal awal, iuran Penerima bantuan Iuran/PBI (masyarakat miskin dan tidak mampu), dan iuran JKN pegawai dan pensiunan pemerintah. Dana Pemerintah bersumber dari berbagai pendapatan Negara termasuk dari pengalihan subsidi BBM. Pada tahun 2014, BPJS Kesehatan mendapatkan dana dari pemerintah dan peserta (masyarakat yang sudah membayar iuran JKN)
sebesar Rp. 40,72 Triliun dan pengeluaran membayar pelayanan Kesehatan Rp. 42,65 triliun, artinya BPJS Kesehatan mengalami deficit atau kekurangan sebesar Rp. 1,83 triliun. Dana BPJS Kesehatan menerima dari Pemerintah sebesar Rp. 19.225 x 86,4 juta x 12 bulan sekitar Rp. 20 triliun. Secara kasat mata dapat dihitung oleh setiap orang bila BPJS dianggap sebagai kamuflase. Dana pencabutan subsisdi BBM dapat dihitung dan dana ke BPJS Kesehatan dapat dihitung, sehingga tidak ada kamuflase atau penyamaran disini. Selain itu, pada tahun 2014 sebelum pencabutan subsidi BBM, pemerintah sudah mengalokasikan sebesar 20 triliun rupiah untuk iuran PBI.
3. “BPJS merupakan sebuah BADAN USAHA yang fungsinya sebagai pengeruk keuntungan bagi Pemerintah, bukannya jaminan kesehatan yang dialokasikan dari dana APBN.”
Hal ini didasari dari jumlah dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat oleh pemerintah yang totalnya lebih dari Rp.50,4 Trilyun, sementara total klaim yang dibayarkan oleh PT.BPJS selama satu tahun cuma Rp.37 Trilyun. http://bandung.bisnis. com/…/bpjs-kesehatan-klaim-setahun- bi… Sementara sisa dana BPJS yang mencapai Rp.13,4Trilyun dikemanakan? Hmm… Ternyata selama ini PT.BPJS untung banyak lho…
Tanggapan:
Penulis kampanye tersebut sepertinya belum mendapatkan informasi Undang- Undang yang mengatur BPJS sehingga semua pernyataan di atas bertentangan dengan UU dan pelaksanaannya. Pertama, BPJS dengan jelas bukan pnegeruk keuntungan bagi pemerintah karena BPJS Kesehatan berbadan usaha Badan
Hukum Publik (pasal 7 ayat (1) UU BPJS) yang tidak mencari keuntungan (nirlaba) dimana hasil pengelolaan dana jaminan sosial dipergunakan SELURUHNYA untuk pengembangan program dan kepentingan peserta (pasal 4 huruf i UU BPJS). BPJS hanya mendapatkan dana operasional saja (Pasal 12 huruf a UU BPJS). Sungguh sangat tidak tepat ada sebutan PT. BPJS. Penulis kampanye ini dapat menyatakan Pemerintah mengeruk keuntungan ketika jaminan Kesehatan dikelola oleh PT. Askes. Sementara PT. Askes sudah bertranformasi menjadi BPJS Kesehatan sejak 1 Januari 2014.
Kedua, Pemerintah hanya mengalokasikan dana jaminan Kesehatan untuk penduduk miskin dan tidak mampu saja (pasal 14 ayat (2) UU SJSN). Pemerintah tidak mengalokasikan untuk orang mampu kecuali konstribusi Pemerintah (2,5%) untuk pegawai pemerintah dan pensiunannya. Konstribusi pemerintah ini karena pemerintah berperan sebagai majikan. Sedangkan penduduk mampu harus membayar sesuai persentase tertentu terhadap upah atau nominal tertentu (Pasa 17 ayat (1) UU SJSN).
Ketiga, sebagaimana diuraikan sebelumnya, BPJS Kesehatan tidak memiliki keuntungan atau kelebihan, bahkan deficit pada tahun 2014. Jadi datanya sungguh tidak akurat.
4. “Dengan adanya BPJS, pemerintah sama sekali tidak pernah memberikan jaminan kesehatan gratis kepada masyarakat.”
Padahal selama ini pemerintah selalu menyebarkan propaganda bahwa BPJS adalah subsidi kesehatan gratis dari pemerintah. Padahal pemerintah tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk
BPJS, dan BPJS itu pyur 100% dana dari masyarakat. Jadi bohong banget kalau pemerintah mengklaim telah memberikan jaminan kesehatan gratis kepada masyarakat.
Tanggapan:
Pertama, pernyataan Pemerintah sama sekali tidak pernah memberikan jaminan Kesehatan gratis kepada masyarakat, tanggapannya sebagai berikut. Seperti diamantakan UU SJSN, pemerintah hanya memberi jaminan Kesehatan gratis kepada penduduk miskin dan tidak mampu dengan membayar iuran JKN kepada BPJS Kesehatan. Pemerintah telah memberikan pelayanan Kesehatan gratis kepada 86,4 juta penduduk miskin kuota pusat dan 9 juta jiwa penduduk miskin tidak mampu di luar kuota pusat dibayarkan iuran oleh 200 pemerintah daerah. Dengan pembayaran iuran penduduk miskin dan tidak mampu kepada BPJS Kesehatan, semua penduduk miskin dan tidak mampu yang terdaftar dalam daftar BPJS Kesehatan akan mendapatkan pelayanan GRATIS. Peserta PBI tidak perlu membayar apapun ketika menggunakan pelayanan Kesehatan. Selain itu, selaku pemberi kerja, pemerintah (pusat dan daerah) juga berkontribusi terhadap sebagian besar pembayaran Iuran utk PNS, TNI, POLRI dan pensiunan PNS, purnawirawan TNI dan POLRI.
Kedua, Pemerintah pusat telah memberikan kontribusi untuk penduduk miskin sekitar 20 triliun rupiah, pemerintah kabupaten/kota sekitar 2 triliun rupiah, dan kontribusi untuk PNS/POLRI/TNI dan pensiunan sekitar 3,6 triliun rupiah. Jadi, Pemerintah telah berkontribusi lebih dari setengah penerimaan BPJS Kesehatan. Jadi, asusi 100% dana masyarakat sangat tidak berasalan.
Rp.25.000,-/bulan seharusnya masyarakat memperoleh kualitas pelayanan kesehatan yang maksimum (First Class Service/VIP Class) di RS.”
Namun karena PT.BPJS kini didaulat untuk menjadi Badan Usaha yang bertugas memberikan keuntungan sebesar-besarnya terhadap pemerintah, maka tidak heran bila pasien peserta BPJS banyak yang dibatasi penggunaan obatnya di RS. BPJS tidak mengcover obat-obatan yang bermutu bagus, alhasil pasien cuma mendapatkan obat-obatan ala kadarnya.
Tanggapan:
Pertama, sesuai dengan perhitungan iuran yang telah dilakukan oleh para ahli asuransi Kesehatan, pembayaran iuran Rp. 25.500/bulan hanyalah untuk kelas 3, sedangkan kelas VIP tidak ada tariff iuran karena maksimum iuran sampai kelas 1 sekitar Rp. 60.000/bulan.
Kedua, pembayaran kelas 3 bukan berarti hak MEDIS peserta kelas 3 berbeda dengan hak peserta kelas VIP atau kelas 1, karena kelas 3 dan kelas 2 atau kelas 1 yang berbeda hanyak privasi saja. Sementara kebutuhan medis (tindakan, obat dan bahan habis pakai) tidak ada perbedaan antar kelas tersebut. Obat yang diberikan sama sesuai dengan Formulasi Nasional dan harga ditentukan melalui e-catalog. Semua obat bermutu bagus karena sudah melalui uji BPOM. Obat bermutu bukan dilihat dari merek dagang tetapi dari efektifitas obat. Walaupun diakui masih banyak RS meminta pasien membeli obat tetapi bukan kebijakan JKN dan BPJS Kesehatan.
6. “BPJS adalah pesan nyata dari Pemerintah yang artinya “Masyarakat miskin tidak boleh
sakit”.
Wajar bila kita berpendapat demikian, sebab tidak bisa kita pungkiri bahwa pelayanan kesehatan bagi peserta BPJS sangat jauh dari kelayakan. Bayangkan saja bila pasien tidak ada uang untuk menebus resep obat yang tidak dicover oleh BPJS, mungkin bukan malah jadi sehat, pasien justru cuma bisa pasrah menahan sakit. Apakah ini yang disebut dengan JAMINAN KESEHATAN..???
Tanggapan:
Pertama, Sesungguhnya sejak JKN, rakyat miskin boleh sakit apa saja. JKN melalui BPJS Kesehatan akan menjamin seluruh penyakitnya kecuali beberapa penyakit yang bersifat kosmetik dan pelayanan yang tidak sesuai prosedur.
Tabel di bawah ini menunjukkan penyakit-penyakit terbanyak yang dilayani rawat jalan dan rawat inap olehJKN/BPJS Kesehatan.
Kedua,Jaminan kesehatan
diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas. Jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan (Pasal 19 ayat (1) dan (2) UU SJSN). Selanjutnya Peserta jaminan kesehatan adalah setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah (pasal 20 ayat (1) UU SJSN). Pemerintah membayar iuran PBI berasal dari pajak (APBN). Karena pemerintah dan masyarakat sudah membayar iuran dan menjadi peserta, maka rakyat sudah mendapatan hak pelayanan Kesehatan sesuai kebutuhan medis termasuk obat, bahan habis pakai dan tindakan-tindakan medis lainnya.
7. “BPJS adalah bentuk pengingkaran terhadap UUD 1945 Perubahan, Pasal 34 ayat 2 yang menyebutkan bahwa negara wajib memberikan jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Tanggapan:
Bunyi pasal 34 ayat (2) adalah :”Negara mengembangkan system jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan”. Tidak ada satu katapun yang menyatakan WAJIB MEMBERIKAN JAMINAN KESEHATAN. Namun itu dapat diartikan wajib karena klausul tersebut diterjemahkan sebagaimana bunyi konsideran UU SJSN yaitu setiap orang berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak dan meningkatkan martabatnya menuju terwujudnya masyarakat
Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. Untuk memberikan jaminan sosial yang menyeluruh, negara mengembangkan Sistem Jaminan Sosial Nasional bagi seluruh rakyat Indonesia. Atas dasar itu dibentuk UU SJSN.
Kata wajib diatas dapat diartikan dari Hak rakyat menjadi kewajiban Negara. UU SJSN mengembangkan jaminan Kesehatan dimana Negara hanya menjamin rakyat miskin dan tidak mampu dari uang Negara. Sementara masyarakat mampu berkontribusi dalam jaminan Kesehatan. Sesungguhnya tidak ada pengingkaran karena kata mengembangkan itu adalah kata yang dapat diterjemahkan dalam bentuk desain. Tidak ada kata wajib untuk memberikan seluruh rakyat.
Oleh: Dr. dr. Mahlil Ruby, MKes Tenaga Ahli Monitoring dan Evaluasi