Dari gambar dibawah dapat diihat jika BPR ini tidak mengalami kemajuan yang berarti dan selalu mengalami kerugian yang tinggi. Ini berarti kinerja dari BPR ini sangat buruk jika dibandingkan dengan yang lain. BPR ini tidak sehat dan tidak bisa berkembang.
Setelah melakukan analisa disetiap BPR makan didapatkan analisa keseluruhan dari metoda ini. Analisa Keseluruhan dari Matriks BCG dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Tabel 3.36 Pengelompokkan Metoda BDG Matriks
Kelompok Jumlah BPR Nama BPR
Sehat & Bisa Berkembang 2 BPR SMR-1, BDG-3 Cukup/Kurang Sehat namun
Bisa Berkembang
8 BPR BDT-1, BDT-3, BDT-4, SMR-3, SMR-4, YGY-3, YGY-5, YGY-6
Tidak Sehat dan Tidak Berkembang
17 BPR BDT-2, BDT-5, BDT-6, BDT-7, BDG-1, BDG-2, SMR-2, YGY-1, YGY-2, YGY-4, SRK-1, SRK-2, SRK-3, SRK-4, PDG-1, MDN-1, dan MDN-2
3.2.3 Analisis Metode EconomicAddedValue
Selama tiga tahun berturut-turut hampir seluruh EVA BPR-BPR ini memiliki nilai yang negatif. Ini berati hampir seluruh BPR ini tidak memberika added value ke koperasi. Pada tahun 2004 masih cukup banyak EVA yang bernilai postif namun pada tahun berikutnya semua bernilai negatif. Jika dirata-ratakan, nilai eva seluruhnya adalah negatif.
Faktor utama yang membuat EVA negatif adalah banyak BPR-BPR yang mengalami kerugian yang cukup besar selain itu nilai beta yang diambil juga merupakan nilai eva bank yang memiliki asset yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan BPR yang hanya bank kecil dan berasset kecil. Dari analisis metoda EVA ini semua BPR yang dimiliki oleh koperasi dinilai tidak memiliki added value dan sebaiknya koperasi berhenti melakukan investasi pada seluruh BPR-BPR ini. Dalam pengelompokan, seluruh BPR masuk kedalam kelompok tidak sehat dan tidak berkembang. Untuk melihat nilai-nilai EVA disetiap BPR berikut ini adalah tabel nilai EVA:
3.2.4 Kesimpulan
Untuk melihat hasil keseluruhan, berikut ini ditampilkan lagi hasil kesimpulan masing-masing metoda dalam menganalisa kinerja BPR.
Pada Metoda CAMEL, terdapat 2 BPR yang masuk dalam kelompok sehat dan bisa berkembang yaitu BPR BDG-3 dan YGY-1. BPR ini harus tetap dipertahankan oleh Koperasi. BPR-BPR yang masuk ke dalam kelompok selanjutnya, kelompok Cukup/Kurang Sehat Namun Bisa Berkembang, merupakan BPR yang juga bisa tetap dipertahankan oleh Koperasi namun dengan beberapa catatan dimana BPR yang berada di kelompok ini perlu mengalami suatu perbaikan agar kinerja dari BPR ini bisa terus meningkat dan menghasilkan profit yang besar bagi Koperasi. BPR yang masuk ke dalam kelompok terakhir atau kelompok yang paling buruk, merupakan BPR-BPR yang tidak memiliki kinerja terburuk dari seluruh BPR yang dimiliki oleh Koperasi. Oleh karena itu, sebaiknya Koperasi melepaskan penyertaan modal kepada BPR-BPR yang masuk ke dalam kelompok terakhir ini. Berikut ini adalah Tabel Nilai CAMEL Keseluruhan:
Tabel 3.38 Nilai CAMEL Keseluruhan
Kelompok Jumlah BPR Nama BPR
Sehat & Bisa Berkembang 2 BPR BDG-3 dan YGY-1 Cukup/Kurang Sehat namun
Bisa Berkembang
11 BPR BDT-2, BDT-4, BDT-6, SMR-2, SMR-3, YGY-5, SRK-1, SRK-3, SRK-4, MDN-1, dan MDN-2
Tidak Sehat dan Tidak Berkembang
14 BPR BDT-1, BDT-3, BDT-5, BDT-7, BDG-1, BDG-2, SMR-1, SMR-4, YGY-2, YGY-3, YGY-4, YGY-6, SRK-2, dan PDG-1
Pada Metoda Boston Consulting Group, terdapat dua BPR yang masuk kedalam kelompok BPR yang Sehat dan Berkembang, jumlah sama dengan Metode CAMEL diatas. Namun pada Metoda BCG ini, BPR yang masuk ke dalam kelompok Tidak Sehat dan Tidak Bisa Berkembang lebih banyak dibandingkan dengan metode
Tabel 3.39 Nilai Matriks BCG Keseluruhan
Kelompok Jumlah BPR Nama BPR
Sehat & Bisa Berkembang 2 BPR SMR-1, BDG-3 Cukup/Kurang Sehat namun
Bisa Berkembang
8 BPR BDT-1, BDT-3, BDT-4, SMR-3, SMR-4, YGY-3, YGY-5, YGY-6
Tidak Sehat dan Tidak Berkembang
17 BPR BDT-2, BDT-5, BDT-6, BDT-7, BDG-1, BDG-2, SMR-2, YGY-1, YGY-2, YGY-4, SRK-1, SRK-2, SRK-3, SRK-4, PDG-1, MDN-1, dan MDN-2
Pada metoda Economic Added Value (EVA) seluruh nilai EVA BPR adalah negatif, hal ini menunjukkan buruknya kinerja dari seluruh BPR. Dikarenakan seluruh nilai EVA adalah negatif maka untuk menghasilkan pengelompokkan BPR, metoda EVA tidak menjadi bahan pertimbangan. Namun EVA tetap menjadi suatu analisa tersendiri bagi Koperasi untuk melakukan investasi selanjutnya.
Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa untuk melakukan pengelompokkan akhir dari seluruh BPR ini merupakan kesimpulan analisa dari kedua metoda yaitu metoda CAMEL dan metoda Matriks BCG. Dari kedua metoda ini dapat ditarik kesimpulan, BPR yang memiliki kinerja yang baik serta tetap mengalami keuntungan serta BPR mana saja yang mengalami kerugian terus menerus. Namun jika dilihat lebih teliti, kedua metoda ini tidak memiliki hasil yang sama persis. Untuk melakukan pengelompokan akhir maka digunakan pengelompokan dengan melakukan sistem pengelompokkan irisan. Bagi BPR yang selalu masuk ke dalam kelompok Sehat dan Bisa Berkembang di kedua metoda maka di hasil akhir akan masuk ke dalam kelompok Sehat dan Bisa Berkembang. BPR yang selalu masuk dalam kelompok Tidak Sehat dan Tidak bisa berkembang pada kedua metoda maka di hasil akhirnya nanti akan masuk ke dalam kelompok Tidak Sehat dan Tidak Bisa Berkembang. BPR yang tidak masuk kedalam dua kelompok diatas akan masuk ke dalam kelompok BPR Cukup/Kurang Sehat namun Bisa Berkembang.
BPR BDT-5, BPR BDT-7, BPR BDG-1, BDG-2, BPR YGY-2, BPR YGY-4, BPR SRK-2 dan BPR PDG-1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 3.40 Nilai BPR Akhir
Kelompok Jumlah BPR Nama BPR
Sehat & Bisa Berkembang 1 BPR BDG-3 Cukup/Kurang Sehat namun
Bisa Berkembang
18 BPR BDT-1, BDT-2, BDT-3, BDT-4, BDT-6, SMR-1, SMR-2, SMR-3, SMR-4, YGY-1, YGY-3, YGY-5, YGY-6, SRK-1, SRK-3, SRK-4, MDN-1 dan MDN-2
Tidak Sehat dan Tidak Berkembang
8 BPR BDT-5, BDT-7, BDG-1, BDG-2, YGY-2, YGY-4, SRK-2, dan PDG-1