• Tidak ada hasil yang ditemukan

Break Even Point (Keripik Biji Nangka)

V- Belt

16. Break Even Point (Keripik Biji Nangka)

500x100% = 32%

Ulangan III

kapasitas alat =Massa Awal

waktu =

500gram

131 detik = 13,55kg/jam

persentase bahan rusak = BBR

BBDx100% =

130

Lampiran 3. Uji Organoleptik Keripik Biji-bijian

Uji organoleptik keripik biji-bijian dilakukan dengan mengamati ketebalan pada hasil cetakan, warna, dan rasa keripik biji-bijian yang dihasilkan. Pada uji organoleptik dilakukan pengambilan beberapa sampel secara acak dan diberikan kepada 10 orang panelis untuk diamati organoleptik keripik biji-bijian.

Tabel 17. Uji organoleptik keripik biji cempedak

No Nama Panelis Warna Ketebalan Rasa

1 Putri Chandra Ayu 3 3 4

2 Nourman Sidabariba 3 3 4 3 Geri Tobing 4 3 5 4 Liztia Dwitami 2 3 3 5 Adita Vitaloka 2 3 3 6 Rizki Angelina 4 4 4 7 Winanda Pardhanu 4 4 4 8 Dea 2 3 3 9 Jonathan 4 3 2 10 Ivan Yolessa 4 2 2 Rata-rata 3,2 3,1 3,4 Kategori

1 = Sangat tidak suka 2 = Tidak suka 3 = Kurang suka 4 = Suka

5 = Sangat suka

Dari rata-rata hasil uji organoleptik keripik biji cempedak yang diberikan kepada 10 orang panelis, diperoleh organoleptik warna yaitu 3,2 ~ 3 (warna keripik biji cempedak yang dihasilkan kurang disukai), organoleptik ketebalan yaitu 3,1 ~ 3 (ketebalan keripik biji cempedak yang dihasilkan kurang disukai) dan untuk organoleptik rasa yaitu 3,4 ~ 3 (rasa keripik biji cempedak yang dihasilkan kurang disukai).

No Nama Panelis Warna Ketebalan Rasa

1 Putri Chandra Ayu 3 2 5

2 Nourman Sidabariba 3 3 4 3 Geri Tobing 4 5 4 4 Liztia Dwitami 3 4 3 5 Adita Vitaloka 4 4 4 6 Rizki Angelina 4 4 4 7 Winanda Pardhanu 3 4 4 8 Dea 4 4 4 9 Jonathan 4 4 4 10 Ivan Yolessa 4 4 3 Rata-rata 3,6 3,8 3,9 Kategori

1= Sangat tidak suka 2 = Tidak suka 3 = Kurang suka 4 = Suka

5 = Sangat suka

Dari rata-rata hasil uji organoleptik keripik biji durian yang diberikan kepada 10 orang panelis, diperoleh organoleptik warna yaitu 3,6 ~ 4 (warna keripik biji durian yang dihasilkan disukai), organoleptik ketebalan yaitu 3,8 ~ 4 (ketebalan keripik biji durian yang dihasilkan disukai) dan untuk organoleptik rasa yaitu 3,9 ~ 4 (rasa keripik biji durian yang dihasilkan disukai).

Tabel 19. Uji organoleptik keripik biji nangka

No Nama Panelis Warna Ketebalan Rasa

1 Putri Chandra Ayu 4 4 4

2 Nourman Sidabariba 3 3 4 3 Geri Tobing 4 4 4 4 Liztia Dwitami 3 2 3 5 Adita Vitaloka 3 4 3 6 Rizki Angelina 4 4 4 7 Winanda Pardhanu 3 4 3 8 Dea 4 3 3 9 Jonathan 3 3 4 10 Ivan Yolessa 3 3 4 Rata-rata 3,4 3,4 3,6 Kategori

1 = Sangat tidak suka 2 = Tidak suka 3 = Kurang suka 4 = Suka

Dari rata-rata hasil uji organoleptik keripik biji nangka yang diberikan kepada 10 orang panelis, diperoleh organoleptik warna yaitu 3,4 ~ 3 (warna keripik biji nangka yang dihasilkan kurang disukai), organoleptik ketebalan yaitu 3,4 ~ 3 (ketebalan keripik biji nangka yang dihasilkan kurang disukai) dan untuk organoleptik rasa yaitu 3,6 ~ 4 (rasa keripik biji nangka yang dihasilkan disukai).

Lampiran 4. Biaya Pemakaian Alat (Keripik Biji Cempedak)

Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan suatu alat. Dengan analisis ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan.

1. Unsur Produksi

1. Biaya Pembuatan Alat (P) = Rp. 5.000.000 2. Umur ekonomi (n) = 5 tahun 3. Nilai akhir alat (S) = Rp. 500.000 4. Jam kerja = 8 jam/hari 5. Produksi/hari = 88,56 kg/hari

6. Biaya operator = Rp. 80.000/ hari (1 jam=Rp. 10.000) 7. Biaya listrik = Rp. 1.149/ jam

8. Biaya perbaikan = Rp. 22,5/ jam 9. Bunga modal dan asuransi = Rp. 240.000/ tahun 10. Biaya sewa gedung = Rp. 50.000/ tahun 11. Pajak = Rp. 100.000 / tahun

12. Jam kerja alat per tahun = 2400 jam/tahun ( asumsi 300 hari efektif berdasarkan tahun 2015)

Lampiran 5. Biaya Produksi 1. Biaya tetap (BT)

1. Biaya penyusutan (D)

Dt = (P−S)(A F⁄ . i, n)(F P⁄ , i, t−1)

Tabel perhitungan biaya penyusutan dengan metode sinking fund

Akhir Tahun Ke (P-S) (Rp) (A/F, 6%, n) (F/P, 6%, t-1) Dt

0 - - - - 1 4.500.000 1 1 4.500.000 2 4.500.000 0,4854 1,06 2.315.358 3 4.500.000 0,3141 1,1236 1.588.152,42 4 4.500.000 0,2286 1,191 1.225.181,7 5 4.500.000 0,1774 1,2625 1.007.853,75

2. Bunga modal dan asuransi (I)

Bunga modal pada bulan Agustus 6% dan Asuransi 2%

I =i(P)(n + 1) 2n

I =8%(Rp 5.000.000)(5 + 1)

2(5) I = Rp 240.000/tahun

Tabel perhitungan biaya tetap tiap tahun

Tahun D (Rp) I (Rp)/tahun Biaya tetap (Rp)/tahun

1 4.500.000,00 240.000 4.740.000,00

2 2.315.358,00 240.000 2.555.358,00

3 1.588.152,42 240.000 1.828.152,42

4 1.225.181,70 240.000 1.465.181,70

5 1.007.853,75 240.000 1.247.853,75

2. Biaya tidak tetap (BTT)

1. Biaya perbaikan alat (reparasi) Biaya reparasi = 1,2%(P−S)

X

Biaya reparasi = 1,2%(Rp .5.000.000−Rp .500.000)

2400 jam

Biaya reparasi = Rp. 22,5/jam 2. Biaya listrik

Motor listrik 1 HP = 0.75 KW

Biaya listrik = 0.75 KW x Rp. 1532/KWH Biaya listrik = Rp.1.149/H

Biaya listrik = Rp.1.149/jam 3. Biaya operator

Biaya operator = Rp. 10.000/jam

Total biaya tidak tetap = Rp. 11.149/jam

3. Biaya Produksi Pembuatan Keripik Biji Cempedak

Biaya pokok =

[

BT

x + BTT

]

C

Tabel perhitungan biaya pokok tiap tahun

Tahun BT (Rp/tahun) X (jam/tahun) BTT

(Rp/jam) C (jam/kg) BP (RP/kg) 1 4.740.000,00 2.400 11.149 0,09 1181,16 2 2.555.358,00 2.400 11.149 0,09 1099,23 3 1.828.152,42 2.400 11.149 0,09 1071,96 4 1.465.181,70 2.400 11.149 0,09 1058,35 5 1.247.853,75 2.400 11.149 0,09 1050,20

Gambar 2. Grafik Biaya Pokok Alat Pencetak Keripik Biji-bijian 950,00 1.000,00 1.050,00 1.100,00 1.150,00 1.200,00

Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V

Biaya Pokok (Rp/kg)

Lampiran 6. Break even point (Keripik Biji Cempedak)

Break even point atau analisis titik impas (BEP) umumnya berhubungan dengan proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing), dan selanjutnya dapat berkembang sendiri (self growing). Dalam analisis ini, keuntungan awal dianggap sama dengan nol.

N = BT (R−BTT ) Biaya tetap (BT)

Tahun Biaya Tetap (Rp)/tahun Biaya Tetap (Rp)/jam Biaya Tetap (Rp)/kg

1 4.740.000,00 1975,00 178,41

2 2.555.358,00 1064,73 96,18

3 1.828.152,42 761,73 68,81

4 1.465.181,70 610,49 55,14

5 1.247.853,75 519,94 46,96

Biaya tidak tetap (BTT) = Rp. 11.149/jam (1 jam = 11,07 kg)

= Rp. 1007,13/kg

Penerimaan setiap kg produksi (R) = Rp. 10.000/kg

Alat akan mencapai break even point jika alat telah menghasilkan emping sebanyak :

Tahun Biaya Tetap (Rp)/tahun BEP (kg/tahun)

1 4.740.000,00 527,08

2 2.555.358,00 284,15

3 1.828.152,42 203,28

4 1.465.181,70 162,92

Gambar 3. Grafik BEP Alat Pencetak Keripik Biji-bijian 0 100 200 300 400 500 600

Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V

BEP (kg/tahun)

Lampiran 7. Net present value (Keripik Biji Cempedak)

CIF – COF ≥ 0 ... (6) dimana :

CIF = Cash inflow

COF = Cash outflow

Sementara itu keuntungan yang diharapkan dari investasi yang dilakukan bertindak sebagai tingkat bungan modal dalam perhitungan :

Penerimaan (CIF) = pendapatan x (P/A, i, n) + nilai akhir x (P/F, i, n) Pengeluaran (COF) = investasi + pembiayaan (P/A, i, n).

Kriteria NPV yaitu :

- NPV > 0, berarti usaha yang telah dilaksanakan menguntungkan

- NPV < 0, berarti sampai dengan t tahun investasi usaha tidak menguntungkan - NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan biaya yang

dikeluarkan.

Berdasarkan persamaan (10), nilai NPV alat ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

CIF-COF ≥ 0

Investasi = Rp. 5.000.000

Pendapatan = Rp. 265.680.000/ tahun Nilai akhir = Rp. 500.000

Suku bunga bank = Rp 6% Suku bunga coba-coba = Rp 8%

Tabel perhitungan pembiayaan tiap tahun

Tahun BP (Rp/kg) Kap. Alat (kg/jam) Jam kerja (jam/tahun) Pembiayaan

1 1.181,16 11,07 2400 31.381.058,88 2 1.099,23 11,07 2400 29.198.232 3 1.071,96 11,07 2400 28.479.833,28 4 1.058,35 11,07 2400 28.118.242,8 5 1.50,20 11,07 2400 27.901.713,6 Cash in Flow 6%

1. Pendapatan = Pendapatan x (P/A, 6%,5) = Rp. 265.680.000/ tahun x 4,2124 = Rp. 1.119.150.432/tahun

2. Nilai akhir = Nilai akhir x (P/F, 6%,5)

= Rp 500.000 x 0,7473

= Rp. 373.650 Jumlah CIF = Rp. 1.119.524.082

Cash out Flow 6%

1. Investasi = Rp. 5.000.000

2. Pembiayaan = Pembiayaan × (P/F, 6%,n) Tabel perhitungan pembiayaan

Tahun (n) Biaya (P/F, 6%, n) Pembiayaan (Rp)

1 31.381.058,88 0,9434 29.604.890,94 2 29.198.232 0,89 25.986.426,48 3 28.479.833,28 0,8396 23.911.668,02 4 28.118.242,8 0,7921 22.272.460,12 5 227.901.713,6 0,7473 20.850.950,57 Total 122.626.396,13 Jumlah COF = Rp. 5.000.000 + Rp. 122.626.396,13 = Rp. 127.626.396,13

NPV 6% = CIF – COF

= Rp. 1.119.524.082 - Rp. 127.626.396,13 = Rp. 991.897.685,87

Jadi besarnya NPV 6% adalah Rp. 991.897.685,87> 0 maka usaha ini layak untuk dijalankan.

Lampiran 8. Internal Rate of Return (Keripik Biji Durian)

Internal rate of return (IRR) ini digunakan untuk memperkirakan kelayakan lama (umur) pemilikan suatu alat atau mesin pada tingkat keuntungan tertentu. Internal rate of return (IRR) adalah suatu tingkatan discount rate, dimana diperoleh B/C ratio = 1 atau NPV = 0. Berdasarkan harga dari NPV = X (positif) atau NPV= Y (positif) dan NPV = X (positif) atau NPV = Y (negatif), dihitunglah harga IRR dengan menggunakan rumus berikut :

IRR = p% +

�+� x (q% - p%) (positif dan negatif) dan

IRR = q% +

�−� x (q% - p%) (positif dan positif)

Dimana: p = suku bunga bank paling atraktif q = suku bunga coba-coba ( > dari p) X = NPV awal pada p

Y = NPV awal pada q

Suku bunga bank paling atraktif (p) = 6% Suku bunga coba-coba ( > dari p) (q) = 8%

Cash in Flow 8%

1. Pendapatan = Pendapatan × (P/A, 8%,5) = Rp. 265.680.000 × 3,9927

= Rp. 1.060.780.536

2. Nilai akhir = Nilai akhir × (P/F, 8%,5) = Rp. 500.000 × 0,6806 = Rp. 340.300

Jumlah CIF = Rp. 1.060.780.536 + Rp. 340.300 = Rp. 1.061.120.836

Cash out Flow 8%

1. Investasi = Rp. 5.000.000

2. Pembiayaan = Pembiayaan × (P/A, 8%,5) Tabel perhitungan pembiayaan

Tahun (n) Biaya (P/A, 8%, n) Pembiayaan (Rp)

1 31.381.058,88 0,9259 29.055.722,42 2 29.198.232 0,8573 25.031.644,3 3 28.479.833,28 0,7938 22.607.291,66 4 28.118.242,8 0,7350 20.666.908,46 5 27.901.713,6 0,6806 18.989.906,27 Total 116.351.473,11 Jumlah COF = Rp. 5.000.000 + Rp. 116.351.473,11 = Rp. 121.351.473,11 NPV 8% = CIF – COF = Rp. 1.061.120.836 – Rp. 121.351.473,11 = Rp. 939.769.362,89

Karena nilai X dan Y adalah positif maka digunakan rumus: IRR = q% + � �−� x (q% - p%) = 8% + 991.897.685,87 991.897.685,87−939.769.362,89 × (8% - 6%) = 8% + (19,03 × 2%) = 46,06%

Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan suatu alat. Dengan analisis ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan.

2. Unsur Produksi

13. Biaya Pembuatan Alat (P) = Rp. 5.000.000 14. Umur ekonomi (n) = 5 tahun 15. Nilai akhir alat (S) = Rp. 500.000 16. Jam kerja = 8 jam/hari 17. Produksi/hari = 115,52 kg/hari

18. Biaya operator = Rp. 80.000/ hari (1 jam=Rp. 10.000) 19. Biaya listrik = Rp. 1.149/ jam

20. Biaya perbaikan = Rp. 22,5/ jam 21. Bunga modal dan asuransi = Rp. 240.000/ tahun 22. Biaya sewa gedung = Rp. 50.000/ tahun 23. Pajak = Rp. 100.000 / tahun

24. Jam kerja alat per tahun = 2400 jam/tahun ( asumsi 300 hari efektif berdasarkan tahun 2015)

Lampiran 10. Biaya Produksi (Keripik Biji Durian) 4. Biaya tetap (BT)

3. Biaya penyusutan (D)

Dt = (P−S)(A F⁄ . i, n)(F P⁄ , i, t−1)

Tabel perhitungan biaya penyusutan dengan metode sinking fund

Akhir Tahun Ke (P-S) (Rp) (A/F, 6%, n) (F/P, 6%, t-1) Dt

0 - - - - 1 4.500.000 1 1 4.500.000 2 4.500.000 0,4854 1,06 2.315.358 3 4.500.000 0,3141 1,1236 1.588.152,42 4 4.500.000 0,2286 1,191 1.225.181,7 5 4.500.000 0,1774 1,2625 1.007.853,75

4. Bunga modal dan asuransi (I)

Bunga modal pada bulan Agustus 6% dan Asuransi 2%

I =i(P)(n + 1) 2n

I =8%(Rp 5.000.000)(5 + 1)

2(5) I = Rp 240.000/tahun

Tabel perhitungan biaya tetap tiap tahun

Tahun D (Rp) I (Rp)/tahun Biaya tetap (Rp)/tahun

1 4.500.000,00 240.000 4.740.000,00

2 2.315.358,00 240.000 2.555.358,00

3 1.588.152,42 240.000 1.828.152,42

4 1.225.181,70 240.000 1.465.181,70

5 1.007.853,75 240.000 1.247.853,75

5. Biaya tidak tetap (BTT)

4. Biaya perbaikan alat (reparasi) Biaya reparasi = 1,2%(P−S)

X

Biaya reparasi = 1,2%(Rp .5.000.000−Rp .500.000)

2400 jam

Biaya reparasi = Rp. 22,5/jam 5. Biaya listrik

Motor listrik 1 HP = 0.75 KW

Biaya listrik = 0.75 KW x Rp. 1532/KWH Biaya listrik = Rp.1.149/H

Biaya listrik = Rp.1.149/jam 6. Biaya operator

Biaya operator = Rp. 10.000/jam

Total biaya tidak tetap = Rp. 11.149/jam

6. Biaya Produksi Pembuatan Keripik Biji Durian

Biaya pokok =

[

BT

x + BTT

]

C

Tabel perhitungan biaya pokok tiap tahun

Tahun BT (Rp/tahun) X (jam/tahun) BTT

(Rp/jam) C (jam/kg) BP (RP/kg) 1 4.740.000,00 2.400 11.149 0,069 905,55 2 2.555.358,00 2.400 11.149 0,069 842,74 3 1.828.152,42 2.400 11.149 0,069 821,84 4 1.465.181,70 2.400 11.149 0,069 811,40 5 1.247.853,75 2.400 11.149 0,069 805,15

Gambar 2. Grafik Biaya Pokok Alat Pencetak Keripik Biji-bijian 740,00 760,00 780,00 800,00 820,00 840,00 860,00 880,00 900,00 920,00

Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V

Biaya Pokok (Rp/kg)

Lampiran 11. Break even point (Keripik Biji Durian)

Break even point atau analisis titik impas (BEP) umumnya berhubungan dengan proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing), dan selanjutnya dapat berkembang sendiri (self growing). Dalam analisis ini, keuntungan awal dianggap sama dengan nol.

N = BT (R−BTT ) Biaya tetap (BT)

Tahun Biaya Tetap (Rp)/tahun Biaya Tetap (Rp)/jam Biaya Tetap (Rp)/kg

1 4.740.000,00 1975,00 1094,18

2 2.555.358,00 1064,73 589,87

3 1.828.152,42 761,73 422,01

4 1.465.181,70 610,49 338,22

5 1.247.853,75 519,94 288,05

Biaya tidak tetap (BTT) = Rp. 11.149/jam (1 jam = 14,44 kg)

= Rp. 772,09/kg

Penerimaan setiap kg produksi (R) = Rp. 10.000/kg

Alat akan mencapai break even point jika alat telah menghasilkan emping sebanyak :

Tahun Biaya Tetap (Rp)/tahun BEP (kg/tahun)

1 4.740.000,00 513,65

2 2.555.358,00 276,91

3 1.828.152,42 198,11

4 1.465.181,70 158,77

Gambar 3. Grafik BEP Alat Pencetak Keripik Biji-bijian 0 100 200 300 400 500 600

Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V

BEP (kg/tahun)

Lampiran 12. Net present value (Keripik Biji Durian)

CIF – COF ≥ 0 ... (6) dimana :

CIF = Cash inflow

COF = Cash outflow

Sementara itu keuntungan yang diharapkan dari investasi yang dilakukan bertindak sebagai tingkat bungan modal dalam perhitungan :

Penerimaan (CIF) = pendapatan x (P/A, i, n) + nilai akhir x (P/F, i, n) Pengeluaran (COF) = investasi + pembiayaan (P/A, i, n).

Kriteria NPV yaitu :

- NPV > 0, berarti usaha yang telah dilaksanakan menguntungkan

- NPV < 0, berarti sampai dengan t tahun investasi usaha tidak menguntungkan - NPV = 0, berarti tambahan manfaat sama dengan tambahan biaya yang

dikeluarkan.

Berdasarkan persamaan (10), nilai NPV alat ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

CIF-COF ≥ 0

Investasi = Rp. 5.000.000

Pendapatan = Rp. 346.560.000/ tahun Nilai akhir = Rp. 500.000

Suku bunga bank = Rp 6% Suku bunga coba-coba = Rp 8%

Tabel perhitungan pembiayaan tiap tahun

Tahun BP (Rp/kg) Kap. Alat (kg/jam) Jam kerja (jam/tahun) Pembiayaan

1 905,55 14,44 2400 31.382.740,8 2 842,74 14,44 2400 29.205.997,44 3 821,84 14,44 2400 28.481.687,04 4 811,40 14,44 2400 28.119.878,4 5 805,15 14,44 2400 27.903.278,4 Cash in Flow 6%

3. Pendapatan = Pendapatan x (P/A, 6%,5) = Rp. 346.560.000/ tahun x 4,2124 = Rp. 1.459.849.344/tahun

4. Nilai akhir = Nilai akhir x (P/F, 6%,5)

= Rp 500.000 x 0,7473

= Rp. 373.650 Jumlah CIF = Rp. 1.460.222.994

Cash out Flow 6%

3. Investasi = Rp. 5.000.000

4. Pembiayaan = Pembiayaan × (P/F, 6%,n) Tabel perhitungan pembiayaan

Tahun (n) Biaya (P/F, 6%, n) Pembiayaan (Rp)

1 31.382.740,8 0,9434 30.049.875,67 2 29.205.997,47 0,89 25.993.337,72 3 28.481.687,04 0,8396 24.215.480,44 4 28.119.878,4 0,7921 22.273.755,68 5 27.903.278,4 0,7473 20.852.119,95 Total 123.384.569,5 Jumlah COF = Rp. 5.000.000 + Rp. 123.384.569,5 = Rp. 128.626.396,13

NPV 6% = CIF – COF

= Rp. 1.460.222.994 - Rp. 128.384.569,5 = Rp. 1.331.838.425

Jadi besarnya NPV 6% adalah Rp. 1.331.838.425> 0 maka usaha ini layak untuk dijalankan.

Lampiran 13. Internal Rate of Return (Keripik Biji Durian)

Internal rate of return (IRR) ini digunakan untuk memperkirakan kelayakan lama (umur) pemilikan suatu alat atau mesin pada tingkat keuntungan tertentu. Internal rate of return (IRR) adalah suatu tingkatan discount rate, dimana diperoleh B/C ratio = 1 atau NPV = 0. Berdasarkan harga dari NPV = X (positif) atau NPV= Y (positif) dan NPV = X (positif) atau NPV = Y (negatif), dihitunglah harga IRR dengan menggunakan rumus berikut :

IRR = p% +

�+� x (q% - p%) (positif dan negatif) dan

IRR = q% +

�−� x (q% - p%) (positif dan positif)

Dimana: p = suku bunga bank paling atraktif q = suku bunga coba-coba ( > dari p) X = NPV awal pada p

Y = NPV awal pada q

Suku bunga bank paling atraktif (p) = 6% Suku bunga coba-coba ( > dari p) (q) = 8%

Cash in Flow 8%

3. Pendapatan = Pendapatan × (P/A, 8%,5) = Rp. 346.560.000 × 3,9927

= Rp. 1.383.710.112

4. Nilai akhir = Nilai akhir × (P/F, 8%,5) = Rp. 500.000 × 0,6806 = Rp. 340.300

69

Jumlah CIF = Rp. 1.383.710.112 + Rp. 340.300 = Rp. 1.384.050.412

Cash out Flow 8%

3. Investasi = Rp. 5.000.000

4. Pembiayaan = Pembiayaan × (P/A, 8%,5) Tabel perhitungan pembiayaan

Tahun (n) Biaya (P/A, 8%, n) Pembiayaan (Rp)

1 31.382.740,8 0,9259 29.057.279,71 2 29.205.997,44 0,8573 25.038.301,61 3 28.481.687,04 0,7938 22.608.763,17 4 28.119.878,4 0,7350 20.668.110,62 5 27.903.278,4 0,6806 18.990.971,28 Total 116.363.426,4 Jumlah COF = Rp. 5.000.000 + Rp. 116.363.426,4 = Rp. 121.363.426,4 NPV 8% = CIF – COF = Rp. 1.384.050.412 – Rp. 121.363.426,4 = Rp. 1.262.686.986

Karena nilai X dan Y adalah positif maka digunakan rumus: IRR = q% + � �−� x (q% - p%) = 8% + 1.331.838.425 1.331.838.425−1.262.686.986 × (8% - 6%) = 8% + (19,26 × 2%) = 46,52%

Lampiran 14. Biaya Pemakaian Alat (Keripik Biji Nangka)

Analisis ekonomi digunakan untuk menentukan besarnya biaya yang harus dikeluarkan saat produksi menggunakan suatu alat. Dengan analisis ekonomi dapat diketahui seberapa besar biaya produksi sehingga keuntungan alat dapat diperhitungkan.

3. Unsur Produksi

25. Biaya Pembuatan Alat (P) = Rp. 5.000.000 26. Umur ekonomi (n) = 5 tahun 27. Nilai akhir alat (S) = Rp. 500.000 28. Jam kerja = 8 jam/hari 29. Produksi/hari = 115,76 kg/hari

30. Biaya operator = Rp. 80.000/ hari (1 jam=Rp. 10.000) 31. Biaya listrik = Rp. 1.149/ jam

32. Biaya perbaikan = Rp. 22,5/ jam 33. Bunga modal dan asuransi = Rp. 240.000/ tahun 34. Biaya sewa gedung = Rp. 50.000/ tahun 35. Pajak = Rp. 100.000 / tahun

36. Jam kerja alat per tahun = 2400 jam/tahun ( asumsi 300 hari efektif berdasarkan tahun 2015)

71

Lampiran 15. Biaya Produksi (Keripik Biji Durian) 7. Biaya tetap (BT)

5. Biaya penyusutan (D)

Dt = (P−S)(A F⁄ . i, n)(F P⁄ , i, t−1)

Tabel perhitungan biaya penyusutan dengan metode sinking fund

Akhir Tahun Ke (P-S) (Rp) (A/F, 6%, n) (F/P, 6%, t-1) Dt

0 - - - - 1 4.500.000 1 1 4.500.000 2 4.500.000 0,4854 1,06 2.315.358 3 4.500.000 0,3141 1,1236 1.588.152,42 4 4.500.000 0,2286 1,191 1.225.181,7 5 4.500.000 0,1774 1,2625 1.007.853,75

6. Bunga modal dan asuransi (I)

Bunga modal pada bulan Agustus 6% dan Asuransi 2%

I =i(P)(n + 1) 2n

I =8%(Rp 5.000.000)(5 + 1)

2(5) I = Rp 240.000/tahun

Tabel perhitungan biaya tetap tiap tahun

Tahun D (Rp) I (Rp)/tahun Biaya tetap (Rp)/tahun

1 4.500.000,00 240.000 4.740.000,00

2 2.315.358,00 240.000 2.555.358,00

3 1.588.152,42 240.000 1.828.152,42

4 1.225.181,70 240.000 1.465.181,70

5 1.007.853,75 240.000 1.247.853,75

8. Biaya tidak tetap (BTT)

7. Biaya perbaikan alat (reparasi) Biaya reparasi = 1,2%(P−S)

X

Biaya reparasi = 1,2%(Rp .5.000.000−Rp .500.000)

2400 jam

Biaya reparasi = Rp. 22,5/jam 8. Biaya listrik

Motor listrik 1 HP = 0.75 KW

Biaya listrik = 0.75 KW x Rp. 1532/KWH Biaya listrik = Rp.1.149/H

Biaya listrik = Rp.1.149/jam 9. Biaya operator

Biaya operator = Rp. 10.000/jam

Total biaya tidak tetap = Rp. 11.149/jam

9. Biaya Produksi Pembuatan Keripik Biji Nangka

Biaya pokok =

[

BT

x + BTT

]

C

Tabel perhitungan biaya pokok tiap tahun

Tahun BT (Rp/tahun) X (jam/tahun) BTT

(Rp/jam) C (jam/kg) BP (RP/kg) 1 4.740.000,00 2.400 11.149 0,07 918,68 2 2.555.358,00 2.400 11.149 0,07 854,96 3 1.828.152,42 2.400 11.149 0,07 833,75 4 1.465.181,70 2.400 11.149 0,07 823,16 5 1.247.853,75 2.400 11.149 0,07 816,82

Gambar 2. Grafik Biaya Pokok Alat Pencetak Keripik Biji-bijian 750,00 800,00 850,00 900,00 950,00

Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V

Biaya Pokok (Rp/kg)

75

Lampiran 16. Break even point (Keripik Biji Nangka)

Break even point atau analisis titik impas (BEP) umumnya berhubungan dengan proses penentuan tingkat produksi untuk menjamin agar kegiatan usaha yang dilakukan dapat membiayai sendiri (self financing), dan selanjutnya dapat berkembang sendiri (self growing). Dalam analisis ini, keuntungan awal dianggap sama dengan nol.

N = BT (R−BTT ) Biaya tetap (BT)

Tahun Biaya Tetap (Rp)/tahun Biaya Tetap (Rp)/jam Biaya Tetap (Rp)/kg

1 4.740.000,00 1975,00 1091,91

2 2.555.358,00 1064,73 588,65

3 1.828.152,42 761,73 421,13

4 1.465.181,70 610,49 337,52

5 1.247.853,75 519,94 287,46

Biaya tidak tetap (BTT) = Rp. 11.149/jam (1 jam = 14,47 kg)

= Rp. 770,49/kg

Penerimaan setiap kg produksi (R) = Rp. 10.000/kg

Alat akan mencapai break even point jika alat telah menghasilkan emping sebanyak :

Tahun Biaya Tetap (Rp)/tahun BEP (kg/tahun)

1 4.740.000,00 513,57

2 2.555.358,00 276,86

3 1.828.152,42 198,07

4 1.465.181,70 158,75

Gambar 3. Grafik BEP Alat Pencetak Keripik Biji-bijian 0 100 200 300 400 500 600

Tahun I Tahun II Tahun III Tahun IV Tahun V

BEP (kg/tahun)

77

Dokumen terkait