BAB II. DESKRIPSI TEORITIS DAN
A. Deskripsi Teoritis
2) Budaya Masyarakat Jawa
Masyarakat Jawa memiliki ragam budaya yang unik diantaranya adalah sebagai berikut :
a) Agama
Masyarakat Jawa sebagian besar adalah pemeluk agama Islam. Tetapi faktanya ada dua kategori agama Islam yang dianut oleh
8
Ibid. h. 38.
9
Franz Magnis- Suseno Sj, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, (Jakarta: Gramedia, 1985), h.9-11
masyarakat Jawa, yaitu agama Islam orang Jawa yang bersifat sinkretis dan agama Islam Puritan.
Bentuk agama Islam orang Jawa yang sifatnya sinkretis diwujudkan dalam bentuk Agami Jawi atau Kejawen yaitu suatu kompleks keyakinan yang diadopsi dari konsep-konsep Hindu-Budha yang cenderung ke arah mistik. Sedangkan bentuk agama Islam yang
bersifat puritan diwujudkan dalam Varian Agami Islam Santri, “Yaitu
suatu ajaran yang lebih menekankan pada dogma-dogma ajaran Islam
yang sebenarnya tetapi juga terdapat sedikit unsur Hindhu Budha”.10
Masyarakat Jawa juga banyak yang menganut agama selain agama Islam seperti agama Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Jumlah penganut agama Katolik melebihi satu juta orang, dan mereka pada umumnya terpusat di daerah pusat kebudayaan Jawa. Orang jawa yang beragama Protestan dalam tahun 1967 berjumlah lebih dari 250.000. Penganut agama Budha dan Hindu hanya kecil sekali jumlanya, dan pada
umumnya berasal dari daerah sekitar kota Yogyakarta.11
b) Bahasa
Masyarakat Jawa adalah orang yang bahasa ibunya bahasa Jawa sehingga orang Jawa merupakan penduduk asli bagian tengah dan timur pulau Jawa yang berbahasa Jawa dalam berbahasa sehari-hari.
Bahasa orang Jawa tergolong sub-keluarga Hesperonesia dari keluarga bahasa Malayo-Polinesia. Bahasa Jawa memiliki suatu sejarah kesusasteraan yang dimulai pada abad ke-8, dan berkembang melalui beberapa fase yang dapat dibeda-bedakan atas dasar beberapa ciri idiomatik yang khas dan beberapa lingkungan kebudayaan yang berbeda-beda dari tiap pujanngganya. Fase-fase tersebut adalah sebagai berikut:
10
Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), h. 312.
11Ibid
1) Bahasa Jawa Kuno, yang dipakai dalam prasasti-prasasti keraton pada zaman antara abad ke-8 dan ke-10, dipahat pada batu atau diukir pada perunggu, dengan bahasa yang seperti dipergunakan dalam karya-karya kesusasteraan kuno abad ke-10 hingga ke-14. Hanya sebagian kecil dari naskah-naskah Jawa kuno yang kita miliki sekarang dibuat di Jawa Tengah; bagian terbesar ditulis di Jawa Timur.
2) Bahasa Jawa Kuno yang dipergunakan dalam kesusasteraan Jawa-Bali. Kesusasteraan ini ditulis di Bali dan di Lombok sejak abad ke-14. Kemudian dengan tibanya Islam di Jawa Timur, kebudayaan Hindu-Jawa pindah ke Bali dimana kebudayaan itu menjadi mantap dalam abad ke-16. Bahasa kesusasteraan ini hidup terus sampai abad ke-20, tetapi ada perbedaan yang pokok dengan bahasa yang dipakai sehari-hari di Bali sekarang.
3) Bahasa yang dipergunakan dalam kesusasteraan Islam di Jawa Timur. Kesusateraan ini ditulis di zaman berkembangnya kebudayaan Islam yang menggantikan kebudayaan Hindu- Jawa di daerah aliran Sungai Brantas dan daerah hilir Sungai Bengawan Solo dalam abad ke-16 dan ke-17.
4) Bahasa kesusasteraan kebudayaan Jawa-Islam di daerah Pesisir. Kebudayaan yang berkembang di pusat-pusat agama di kota pantai utara Pulau Jawa dalam abad ke-17 dan ke-18, oleh orang Jawa sendiri disebut Kebudayaan Pesisir. Orang Jawa juga membedakan antara kebudayaan Pesisir yang lebih muda, yang berpusat di kota pelabuhan Cirebon, dan suatu kebudayaan Pesisir Timur yang lebih tua yang berpusat di kota-kota Demak, Kudus, dan Gresik.
5) Bahasa kesusasteraan di kerajaan Mataram. Bahas ini adalah bahasa yang dipakai dalam karya-karya kesusasteraan karangan para pujangga keraton Kerajaan Mataram abad ke-18 dan ke-19,
yang terletak didaerah aliran Sungai Bengawan Solo di tengah komplek Pegunungan Merapi-Merbabu-Lawu di Jawa Tengah, dimana bertemu juga lembah Sungai Opak dan Praga.
6) Bahasa Jawa masakini, adalah bahasa yang dipaki dalam percakapan sehari-hari dlam mayarakat orang Jawa dan dalam buku-buku serta surat-surat kabar berbahasa Jawa dalm abd ke-20 ini.12
c) Sikap Hidup Orang Jawa
Didalam Serat Sasangka Djati, dituliskan delapan sikap dasar
manusia yang terdiri dari dua pedoman hidup yakni Tri-Sila dan Panca-Sila. Tri-Sila merupakan pokok yang harus dilaksanakan setiap hari dalam hubungannya dengan Tuhan yaitu pertama, berbakti kepada Tuhan yang Maha Esa, kedua adalah percaya kepada semua Utusan Tuhan dan
ketiga, taat dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.13
Sebelum manusia dapat melaksanakan Tri-Sila tersebut maka sesorang harus memiliki watak dan tingkah laku yang disebutkan dalam Panca-Sila yaitu:
a. Pertama, rila adalah keiklasan hati sewaktu menyerahkan segalah
miliknya, kekuasaannya, dan seluruh hasil karyanya kepada Tuhan, dengan tulus iklas, dengan mengingat bahwa semua itu ada pada kekuasaan-Nya.
b. Kedua, narimo adalah tidak menginginkan milik orang lain, serta
tidak iri hati terhadap apa yang dimiliki orang lain. Dengan begitu
orang narimo adalah orang yang selalu bersyukur terhadap apa yang
diberikan oleh Tuhan.
12
Ibid., hal. 17-18.
13
c. Ketiga, temen adalah perilaku yang selalu menepati janji atau ucapannya sendiri. Baik janji yang diucapkan dengan lisan atau janji dalam hati. Sedangkan orang yang tidak menepati kata hatinya berarti ia menipu dirinya sendiri.
d. Keempat, sabar adalah merupakan tingkah laku terbaik, yang harus
dimiliki setiap orang. Karena sabar itu berarti momot, kuat terhadap segalah cobaan, tetapi bukan berarti putus asa.
e. Kelima, budi luhur adalah selalu berusaha untuk menjalankan
hidupnya dengan segalah tabiat dan sifat-sifat yang dimiliki oleh
Tuhan Yang Maha Esa.14
Dari delapan sikap dasar manusia diatas dapat disimpulkan bahwa sikap hiduporang Jawa bersifat religius yaitu selalu mengaitkan segala sesuatunya kepada Tuhan serta menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan kehidupan antar sesama.
d)Sistem Kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan pada masayarakat Jawa dapat dilihat dari dua pengklasifikasian lapisan sosial yang ditinjau dari segi sosial-ekonomis dan kegamaannya.
Dari segi sosial-ekonomis, terdapat dua golongan sosial yaitu, Wong cilik atau orang kecil, merupakan lapisan masyarakat paling rendah terdiri dari sebagian besar petani dan orang-orang
yang berpendapatan rendah di kota, dan kaum priyayi,
merupakan lapisan masyarakat yang menduduki tingkat teratas, terdiri dari kaum pegawai dan orang-orang intelektual. Sedangkan dari segi religiunitasnya terdapat golongan santri dan abangan. Santri merupakan golongan yang berusaha hidup sesuai dengan ajaran agama Islam sedangkan abangan merupakan
14Ibid
sekelompok orang yang hidup dengan tradisi-tradisi pra-Islam
dan dipengaruhi dengan unsur-unsur animisme.15
e) Sistem Pemerintahan
Desa merupakan tempat pemukiman menetap bagi masyarakat
Jawa yang terdiri dari beberapa dukuh atau dusun. Desa menjadi wilayah
hukum dan sekaligus sebagai pusat pemerintahan tingkat daerah paling rendah. Wilayah administratif diatas desa adalah kecamaatan, yaitu suatu
kumpulan dari 15 sampai 25 desa yang dikepalai oleh seorang camat.16
Secara administratif, suatu desa di Jawa disebut kelurahan yang dikepalai seorang lurah. Lurah dipilih oleh dan dari penduduk desa sendiri, dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi calon yang dipilih atau yang memilih. Dalam organisasi pemerintahan sekaligus sebagai badan pimpinan rakyat, seorang lurah diwajibkan untuk mengangkat pembantu- pembantu yang disebut sebagai pamong desa yang meliputi (1) carik, yang bertindak sebagai pembantu umum dan sekretaris desa, (2) sosial, yang memelihara kesejahteraan penduduk baik rohani maupu
jasmani,(3) kemakmuran, yang mempunyai kewajiban memperbesar
produksi pertanian, (4) keamanan, yang bertanggung jawab atas
ketentraman lahir dan batin penduduk desa. (5) kaum, yakni yang
mengurus soal-soal mengenai nikah, talak dan rujuk, kegiatan keagamaan
serta kematian.17
Dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah didesa dilakukan secara demokratis, terbuka, jujur dan biasanya dilakukan di tempat terbuka seperti pekarangan rumah atau di tengah lapang.
15
Koentjaraningrat op. cit., h.12. 16
Koentjaraningrat: Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, (Jakarta: Djambatan,1985), h.59
17
f) Mata pencaharian
Sumber utama penghasilan masyarakat Jawa yang notabennya wilayah pedesaan adalah bertani. Di daerah dataran tinggi, seperti pegunungan masyarakat memanfaatkan lahannya untuk dijadikan sebagai tegalan atau lahan kering yang ditanami sayur mayur, buah-buahan dan jenis pohon lainnya. Sedangkan untuk daerah dataran rendah dibuka lahan persawahan dan palawija. Bagi orang desa yang tidak memiliki sawah mereka bekerja sebagai buruh tani yaitu menggarap sawah orang lain dengan sistem yang disepakati oleh kedua pihak.
Selain dari sektor pertanian, sumber pendapatan masyarakat diperoleh dari hasil berdagang, menjadi tukang, dan menjadi seorang pegawai seperti guru, PNS, pamong desa, lurah, camat dan lain sebagainya.
g) Kesehatan
Dalam bidang kesehatan, dalam hal ini pengobatan, masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah mengenal pengobatan-pengobatan secara tradisioanal.
Pengobatan tradisioanal disini terdiri dari 3 jenis yaitu (1) pengobatan tradisional yang menggunakan ramuan obat traadisional atau jamu yang dapat dikerjakan setiap induvidu baik dengan menggunakan ramuan tradisional yang telah diproduksi oleh pabrik atau perusahaan, maupun suatu ramuan yang dibuat sendiri berdasarkan pengetahuan yang dimiliki dari tanaman obat yang ada disekitarnya, (2) pengobatan tradisioanal dengan keterampilan khusus yaitu urut/ pijit, persalinan dan tusuk jarum, (3) pengobatan tradisional paranormal. Yaitu dikerjakan para pengobat atas
kepercayaan indra keenam.18
18
Orang Jawa memanfaatkan pekarangan mereka untuk ditanami jenis-jenis tanaman yang memiliki khasiat pengobatan. Selain obat tradisional, masyarakat ini juga memakai obat dan pengobatan secara medikal ketika penyakit yang diderita bersifat serius dan memerlukan penanganan medis.
h)Kesenian
Masyarakat Jawa memiliki keberagaman seni budaya diantaranya adalah seni peran, seni tari,seni musik, dan seni membatik.
Seni peran pada masyarakat Jawa memiliki beragam versi. Di Jawa Tengah seni peran dikenal dengan sebutan ketoprak yang ditemukan pada akhir tahun 1923, di Surabaya
terkenal dengan ludruk, sedangkan di Jawa Barat dikenal
dengan istilah sandiwara lelucon. Bentuk dari seni peran yang populer di Jawa adalah pertunjukan seni wayang baik wayang wong, golek, ataupun wayang kulit. Wayang dimainkan oleh seorang dalang yang berada dibelakang layar. Sebagian besar cerita yang diangkat dalam pewayangan adalah cerita Mahabarata dan Ramayana. Seni pertunjukan ini sebagian besar
dipengaruhi oleh unsur agama Hindu-Budha.19
Seni batik merupakan metode pembuatan design tekstil dengan teknik pencelupan menggunakan bahan dasar lilin. Batik memiliki beragam corak dan warna corak yang paling populer yaitu tumbuh-tumbuhan dan hewan. Produksi batik merupakan industri penting di Jawa. Pusat-pusat batik yang terkenal di Jawa adalah batik khas Yogyakarta, Solo, Pekalongan dan Surabaya.
Seni tari pada masyarakat Jawa terdiri dari dua kelompok yaitu tarian putri klasik dan tarian yang modern. Tarian putri klasik
terdiri dari srimpi dan bedaya keduanya merupakan tarian kelompok
yang ditarikan oleh para gadis yang berjumlah 4 atau 9 orang.
19
Sedangkan tarian modern biasanya ditarikan oleh kedua jenis kelamin
yang dikenal dengan wayang wong. Semua jenis tarian memiliki
makna yang berbeda-beda.20
3. Kehamilan