Oleh: Hendrick
[Up. Vimala Dhammo / Up.Yeshe Lhagud] [email protected]
“Semua Bodhisattva yang bijak pada masa lampau terlihat bersama-sama dengan seorang istri dan seorang putra.”
(Lalitavistara)
S ddhodana berkata:u “Putraku [Pangeran Siddharta] dihiasi oleh kebajikan-kebajikan yang
agung dan pengantinnya [Yasodhara] memiliki kualitas seperti dirinya; penyatuan dari dua makhluk suci ini, bagaikan penyatuan butter dengan ghee.”
(Lalitavistara)
S ddharta berkatai : “Wanita biasa yang tidak mempunyai perilaku yang baik dan kualitas seperti
kejujuran, tidak akan cocok denganku. Wanita yang benar-benar dapat membahagiankanu hanyalah ia yang rendah hati dan sangat bersih, baik tubuh maupun kelahirannya.”
G pa [Y sodhara] berkatao a : “Brahmana, aku memiliki semua kualitas yang cocok [dengan
keinginan Pangeran Siddharta]. Semoga laki-laki muda [Siddharta] yang penuh kasih dan tampan ini menjadi suamiku! Sang pangeran telah berkata [tentang pernikahan]; janganlah ada
penundaan! Dengan wanita biasa, ia tidak dapat hidup.”
(Lalitavistara)
"Dan bagaimanakah dewa hidup dengan dewi? Di sini, O perumah tangga, sang suami adalah orang yang menjauhkan diri dari membunuh makhluk lain ... dari minuman anggur dan minuman
keras dan zat yang bersifat racun; dia luhur, berwatak baik; dia tinggal di rumah dengan hati yang bebas dari noda kekikiran; dia tidak melecehkan atau menghina petapa dan brahmana. Dan sang istri persis sama dalam semua hal. Demikianlah dewa hidup bersama dengan dewi.
Jika baik suami dan istri memiliki kedermawanan dan hidup dalam kebenaran. Saling
membahagiakan satu sama lain karena kebajikan yang melimpah, mereka hidup bersama-sama. Melihat mereka berdua sama-sama berkebajikan, musuh-musuh akan menjadi tidak senang. Mereka akan menjalankan hidup yang bahagia dan menikmati kebahagiaan surgawi setelah
kematian.”
Dari sebuah keluarga yang sempurna moralitasnya tanpa cacat, ia meminang dan mendapatkan seorang pengantin untuk [Siddharta], [pengantin] yang terkenal akan kecantikannya, kerendah
hatiannya dan kelemahlembutannya, yang dipanggil dengan nama “Yasodhara”, dewi keberuntungan. Dan sang pangeran [Siddharta], yang merupakan kesayangan ayahnya sang raja (bagaikan Sanatkumara – anak dari Brahma) bergembira dalam kumpulan putri Sakya –
seperti Indra dengan pengantinnya, Saci.
(Buddhacarita)
Aku tidak menikah dengan perempuan duniawi, namun kemudian aku menikah dengan Gadis Dharma…. Bagaimana sebagai gantinya aku mengambil, istri yang cantik, [yaitu] Dharma yang
suci. (Shabkar Yogi)
“Sang rishi muda Ekasringa tidak dapat tinggal di petapaan ini berpisah dengan Nalini. Mereka berdua (Ekasringa dan Nalini) terikat satu sama lain dengan cinta” D n kepada anaknya, rshia m da E as inga, ayahnya berkata:u k r “Anakku, Nalini, sang putri raja, telah menikah denganmu
ketika kalian memanggil deva api untuk menjadi saksi dan mengadakan ritual air yang dilaksanakan untukmu dan kalian menyatukan tangan kalian bersama. Kalian tidak dapat saling
meninggalkan satu sama lain.”
(Nalini Jataka, Mahavastu)
S ng B dhisatta pernah m nasehati seorang R ja bernam S tthisena:a o e a a o “Seorang istri yang penuh kasih sayang sulit ditemukan, begitu juga halnya dengan seorang suami yang baik
kepada istrinya. Istrimu adalah orang yang bajik dan penuh kasih sayang; Wahai raja, setialah
pada Sambula.” (Sambula Jataka). D kehidupan B ddha S kyam ni, S tthisena dan S m ulai u a u o a b terlahir kem ali m n adi suam istri lagi yaitu R ja P senadi dan R tu M llika. S m ula sangb e j i a a a a a b setia dan cinta pada suam nya, m skipun pasang n hidupnya tersebut terbaring sakit, sehinggi e a ia berkata pada S tthis na, suam nya itu:o e i “Semoga kebenaran menjadi pelindungku, seperti
saya yang mencintaimu melebihi siapapun. Semoga dengan kebenaran ini, penyakitmu tersembuhkan hari ini juga.
S seorang yang sifatnya baik dan ba ik adalah yange j paling cocok m n adi suam atau is ri. S dhusilae j i t a Jataka m ngisahkan tentang em at orang laki-lake p i yang hendak m m nang putri sang brahm na.e i a K em at orang tersebut m m lki kelebihan yange p e i berbeda-beda. Y ng pertam adalah pria yanga a
berkebajikan, orang kedua adalah pria yang m lia,u orang ketiga adalah orang yang tam an dan yangp keem at adalah orang yang sudah cukup um rnya.p u S ng brahm na bertanya pada S ng B dhisatta, priaa a a o m nakah yang paling cocok bagi putrinya? S nga a
B dhisatta m n aw b:o e j a
“Tampan adalah sesuatu yang bagus, mereka yang berumur menunjukkan perhatian, hal ini memang benar. Kelahiran yang mulia adalah sesuatu yang bagus, namun kebajikan – kebajikan, adalah yang aku puji.”
S telah itu sang brahm na m nikahk n putrinya pada pria yang berkebajikan, tidak dengan priae a e a yang tam an, m lia m upun yang berum r. Ini m nun ukkan bahw sifat ba ik seseorangp u a u e j a j
adalah yang paling penting. D lam m ncari pasangan hidup, ketam anan, um r dan kema e p u sem anya bersifat eksternal atau nom r dua s ja. H nya satu yang tidak bersifat eks ernal,u o a a t yaitu kebajikan. M ka dari itu carilah pasangan hidup yang m m liki sifat-sifat ba ik, dan sadaria e i j bahw ketam anan dan kem liaan hanyalah faktor sam ingan sa a.a p u p j
Nasehat Pada Istri
“Barangsiapa yang istrinya ramah, memiliki usia yang sama [seimbang], berbakti, baik, dan membesarkan banyak anak, setia, berbuat bajik dan lahir terhormat, itu adalah berkah yang muncul dalam diri para istri.” (Maha-mangala Jataka)
D lam A guttara N kaya IV, 92, S ng B ddha m m erikan daftar tu uh jenis istri, di m na ema n i a u e b j a di antaranya adalah m rupakan figur istri yang dianjurkan oleh S ng B ddha:e a u
Orang yang selalu membantu dan baik hati, yang menjaga suaminya bagaikan ibu menjaga anaknya, yang dengan cermat melindungi kekayaan yang diperoleh si suami - Istri semacam itu disebut seorang ibu. matubhariya( )
Dia yang menjunjung tinggi suaminya, bagaikan adik menjunjung saudara tuanya, yang dengan rendah hati menuruti kemauan suami - Istri semacam itu disebut seorang saudara.
(bhaginibhariya)
Orang yang bersuka cita melihat suaminya bagaikan sahabat yang menyambut sahabat lain, terdidik dengan baik, luhur, berbakti - Istri semacam itu disebut seorang sahabat. sakhibhariya( )
Orang yang tak memiliki kemarahan, yang takut dihukum, yang bertahan dengan suaminya, bebas dari kebencian, yang dengan rendah hati menuruti kemauan suami - Istri semacam itu
disebut seorang pelayan. dasibhariya( )
……
Namun istri seperti seorang ibu, saudara, sahabat, dan istri yang disebut seorang pelayan, mantap dalam keluhuran, sudah lama terkendali, bersama hancurnya tubuh akan pergi ke surga.
U tuk m ncapai rum h tangga yang bahagia,n e a seorang istri juga harus m m u bertindaka p
sebagai ibu, pelayan, saudara dan sahabat bagi sang suam nya. D n suam nya juga dem kian, iai a i i harus m m u m n adi ayah, pelindung, saudaraa p e j dan sahabat bagi istrinya.
“Ketika para wanita yang bajik, bijak dan bagus ditemukan di dunia ini, para istri yang sejati, bersikap baik kepada ibu sang suami, seperti dalam batas kewajibannya.” [Suruci Jataka]
“Ketika ia cukup berumur, mereka mengambil seorang wanita muda dari sebuah keluarga dari Benares untuk menikahinya. Ia sungguh adalah gadis yang cerah dan cantik, secantik seorang peri, anggun bagaikan tumbuhan menjalar melingkar, menggirukan bagaikan seorang peri air. Namanya adalah Sujata, ia setia, berkebajikan dan rajin bekerja. Ia selalu menjalankan perannya dengan baik bagi suami dan kedua orang tua suaminya. Sang gadis sangat disayangi dan berharga bagi sang Bodhisattva. Maka mereka berdua hidup bersama dalam kebahagiaan, serta persatuan dan kesatuan dalam pikiran.” (Manicora Jataka)
Dalam lima cara ini, O putra kepala keluarga, seorang istri yang diperlakukan demikian oleh suaminya seperti arah Barat, mencintainya: menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik; bersikap ramah-tamah terhadap sanak-keluarga kedua belah pihak; dengan kesetiaan; dengan menjaga barang-barang yang diberikan suaminya; pandai dan rajin dalam melaksanakan segala tanggung jawabnya.
O putra kepala keluarga…. Dalam lima cara ini seorang istri mencintai suaminya. Demikianlah arah barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
(Sigalovada Sutta)
Inilah nasehat yang disam aikan oleh H rtaw n D ananjaya kepada putrinya:p a a h
“Putriku sayang, selama tinggal di rumah mertuamu, api di dalam rumah jangan dibawa ke luar rumah; api di luar rumah jangan di bawa ke dalam rumah; hanya memberi kepada dia yang memberi; tidak memberi kepada dia yang tidak memberi; beri kepada dia yang memberi dan yang tidak memberi; duduklah dengan bahagia; makanlah dengan bahagia; tidurlah dengan bahagia; jagalah api; dan hormatlah dewa-dewa yang dihormat oleh orang-orang di rumah.”
S perti contoh, ayahnya m ngatakan kepadanya:e e ‘Api di dalam jangan dibawa ke luar.’ Bagaimana kita dapat hidup tanpa memberikan api kepada para tetangga yang tinggal di ke dua sisi kita?” “Apakah yang ia katakan benar, Visakha?” “Kawan-kawan, yang dimaksud oleh ayahku bukan seperti itu. Yang dimaksudkan oleh ayahku, adalah: ‘Anakku, bilamana anak melihat kesalahan pada mertuamu atau pada suamimu, jangan katakan hal tu bila kau datang ke sini atau ke tempat lain, karena tidak ada api yang dapat dibandingkan dengan api seperti ini.”
“Saudara-saudara, bolehlah seperti itu. Tetapi ayahnya berkata kepadanya: ‘Api di luar jangan dibawa ke dalam.’ Bilamana api di dalam padam , apa lagi yang dapat kita lakukan selain membawa api dari luar.” “Apakah benar yang ia katakan, Visakha?” “Kawan-kawan, yang dimaksud oleh ayahku bukan seperti itu. Yang dimaksud oleh ayahku, adalah: ‘Bilamana para wanita dan pria di tetanggamu mengatakan kata-kata jahat tentang mertuamu atau suamimu, janganlah kau menyampaikan (bawa) apa yang kau dengar itu dengan berkata: ‘Anu dan situ mengatakan ini dan itu yang tidak baik tentangmu.” Karena tidak ada api yang dapat dbandingkan dengan api ini.”
Jadi ia tidak bersalah dalam hal ini, begitu pula dengan hal-hal lain. Inilah arti sebenarnya dari nasehat-nasehat yang tersisa: “Berikan kepada dia yang memberi,” artinya seseorang memberikan hanya kepada mereka yang mengembalikan barang yang dipinjam. “Tidak memberi kepada yang tidak memberi,” artinya seseorang tidak memberi kepada mereka yang tidak mengembalikan barang yang dipinjam. “Memberi kepada yang memberi dan kepada yang tidak memberi,” artinya bilamana kerabat atau kawan miskin memerlukan bantuan, kita harus memberikan kepada mereka, apakah mereka dapat membayarnya (mengembalikannya) atau tidak.
“Duduklah dengan bahagia,” artinya bilamana seorang istri melihat ibu mertua, ayah mertua atau suami, ia harus berdiri dan tidak boleh duduk saja. “Makanlah dengan bahagia,” artinya seorang istri belum boleh makan sebelum ayah-ibu mertua dan istri makan. Ia harus melayani mereka dahulu, dan bilamana ia yakin bahwa mereka sudah siap semua untuk makan, maka barulah ia makan. “Tidurlah dengan bahagia,” artinya serang istri tidak pergi tidur sebelum ayah-ibu mertua atau suaminya tidur. Ia harus melakukan pekerjaan besar kecil yang harus dia kerjakan, setelah ia mengerjakannya barulah ia berbaring untuk tidur.
“Jagalah api,” artinya seorang istri memandang ayah-ibu mertua atau suami bagaikan nyala api atau raja naga. “Hormatlah apa yang dihormati oleh orang-orang di rumah,” artinya seorang istri harus memperhatikan ayah-ibu mertuanya dan suaminya sebagai yang perlu dihormatinya.
(Visakhayavatthu, Dhammapada Atthakatha)
Kewajiban seorang istri adalah: mengorganisir pekerjaan rumah tangganya dengan efisien, memperlakukan pembantunya dengan sopan, berusaha keras untuk menyenangkan suaminya, merawat apa yang suaminya dapatkan, mengembangkan sisi spiritual yang baik, memiliki
tindakan yang berbudi, baik hati, liberal. (Anguttara Nikaya IV: 271)
Janganlah mengambil seorang istri yang [suka] memukul para pelayan, jangan sampai engkau berakhir dengan wanita yang kejam dan suka berkelahi. (Shabkar Yogi)
Bahkan jika sang istri bijaksana dalam memberikan nasehat, maka lebih baik apabila sang suami yang memutuskan. (Shabkar Yogi)
“Mulai hari ini, Yang Mulia, …. Saya (Mallika) tidak akan dengki, cemburu.”
(Anguttara Nikaya V. 197)
Istri yang setia pada suam nya, bahkan pantas apabila dinikahkan deng n seorang raja ataui a suam yang baik, seperti kata-kata S ng B dhisatta pada kisah S cca a Jataka:i a o u j “Terkenal
sebagai istri yang tiada taranya, berbagi kesenangan dan kesusahan hidup, selalu (bersikap) sama pada kedua jenis keadaan itu, memang cocok bersanding dengan raja.”
S orang istri yang bijak dan sem urna adalah seorang m khluk agung seperti yang Se p a , katakan pada asura yang ingin m rebut S m ula dari S tthisena:e a b o “Jika kamu memakan dirinya, wahai raksasa, kepalamu akan terpecah menjadi tujuh bagian. Jadi jangan melukainya;
lepaskanlah dirinya, karena ia adalah seorang istri yang setia.” (Sambula Jataka). K set iaane S m ula juga terbukti lew t ucapannya pada sang asura:a b a “Tidak ada penderitaan bagiku jika harus menjadi mangsa dari raksasa yang penuh dengan kebencian ini. Akan tetapi adalah penderitaan bagiku bahwa suami terkasihku harus berpisah denganku.” S am atau is ri yangu i t saling m ncintai, bahkan lebih m ngasihi pasang nnya ketim ang dirinya sendiri.e e a b
“Seorang wanita [istri] yang mengenakan pakaian pria, yang meminum minuman memabukkan, yang sering bersenang-senang di tempat hiburan, taman, tepi sungai, mengunjungi rumah teman atau orang lain, yang berdiri di depan pintunya dengan pandangan kosong, terjebak dalam sembilan jalan demikian, ia berada jauh dari jalan kebajikan.”
(Kunala Jataka)
M ngunjungi rum h tem n atau orang lain terlalu sering dapat m m ncing kecem uruan sange a a e a b suam , selian itu apabila tem n atau orang lain tersebut adalah law n jenis, m ka dikhawi a a a a
akan m n adi pendorong terjadinya perzinahan. S orang w nita yang m ngenakan pria,e j e a e m ngingatkan kita pada kaum lesbian, yang sam dengan gay, m nurut agam B ddhae a e a u m rupakan tindakan sek ual yang m nyim ang.e s e p
M nurut K nala Jatak , seorang is ri seharusnya m ngem angkan tindak n-tindakan seperti inie u a t e b a untuk m nun ukkan kebaikan seorang istri:e j
“Ia gem ira ketika suam nya ada, ia bersedih ketika suam nya pergi, ia gem ira m lihatb i i b e suam nya pulang ia m ngatakan hal-hal baik untuk m m ji suam nya, ia m nguntungk ni , e e u i e a suam nya, ia m m erhatikan kesuk an suam nya, ia tidur di sam ing suam nya dangan wi e p a i p i tidak dipalingkan, tidak ribut dan tenang, m ndengarkan dengan penuh perhatian, tidak suke keluyuran entah ke m na, tidak lebih akrab terhadap orang lain daripada suam nya, iaa i
m lakuk n apa yang seharusnya dilakukan, ia m ngenakan ba u tidurnya dengan tidak lengke a e j ketika tidur dengan suam nya, ia tidak m lakukan tindakan yang tidak senonoh.”i e
Janganlah kasar terhadap suam , terhadap orang yang kita kasihi haruslah dapat mi e dengan kata-kata yang m nis, seperti yang diucapkan oleh istri S ng B dhisatta:a a o “ Suam iku, bukan dewa bukit [gunung], namun engkau adalah pemimpin para dewa-dewaku! Maka untuk
mengormatimu pertamanya aku akan mempersembahkan bunga-bunga liar dan berjalan mengelilingimu dengan penuh hormat, menjagamu untuk tetap di kanan dan memujimu: dan setelah itu aku akan membuat persembahanku pada dewa-dewa gunung.” (Culla Paduma Jataka)
S orang is ri yang m nc ntai suam nya adalah ia yang m nghorm ti sang suam lebih daripadae t e i i e a i segalanya, bahk n dew -dew sekalipun. K rena baginya sang suam adalah ra a dana a a a i j
pem m in para dew , yang tertinggi dii p a antara sem a dew .u a
“Sungguh beruntung engkau, orang baik; sungguh beruntung engkau mempunyai istri [Nakulamata] yang begitu baik yang telah menasehatimu dan menjadi gurumu, dan batinnya penuh kasih sayang serta hasrat yang tulus untuk kesejahteraanmu…’” (Nakulapita Sutta, Anguttara Nikaya VI )
M njaga keperaw nan sam ai akhirnya m nikah adalah yang terbaik dalam sebuah pernikahan:e a p e
Perawan adalah yang terbaik dari para istri...Perempuan yang taat adalah yang terbaik dari para istri. (Samyutta Nikaya I.6)
Dhaniya: Gopi, istriku, bukanlah orang sembarangan dan dia patuh padaku. Sudah lama dia tinggal bersamaku dengan bahagia. Mengenai dirinya, aku tidak mendengar apapun yang jahat.
(Sutta Nipata)
S orang istri yang setia dan ba ik, ak n dipuji banyak orang dan disenangi suame j a , K bahagiaan adalah m lik m reka.e i e
D lam A guttara N kaya III : 36-37 disebutkan bahw kepada g dis-gadis yang ingina n i a a berkeluarga, B ddha m nga arkan kew jiban seorang istri yaitu:u e j a
1. istri harus bangun lebih dahulu dari suam ; dengan sukarela m nolong. suam ; bertingkahi e i laku m nyenangkan dan berbicara secara bersahabate
2. m nghorm ti orang-orang yang dihorm ti oleh suam , seperti orang tua dan orang-orange a a i suci, m nerim nya kalau m reka datang ke rum h;e a e a
3. teram il dan cekatan dalam pekerjaan suam , m m elajari seluk-beluknya, dan mp i e p m ngatur, m laksanak n dan m nyelesaikannyae e a e
4. m m u m ngolah rum h-tangga beserta seluruh penghuninya, agar kebutuhan ma p e a m sing terpenuhi atau s tiap orang m ndapat sesuai dengan bagiannyaa e e
5. dapat m ngam nkan harta kek yaan dan pendapatan suam , dan tidak berbuat sepertie a a i peram ok, pencuri atau penggelap.p
Nasehat Pada Suami
O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang istri harus diperlakukan oleh suaminya seperti arah Barat: dengan menghormati; dengan bersikap ramah-tamah; dengan kesetiaan; dengan menyerahkan kekuasaan rumah tangga kepadanya; dengan memberi barang-barang perhiasan kepadanya.
O putra kepala keluarga, dalam lima cara inilah seorang suami memperlakukan istrinya seperti arah Barat….Demikianlah arah barat ini dilindungi, diselamatkan dan diamankan olehnya.
(Sigalovada Sutta)
D lam kitab Jataka kita dapat m m aca bahw agar seorang suam tidak dibenci oleh isterinyaa e b a i m ka ia w jib ra in bekerja agar tidak jatuh m skin, w jib m m lihara kesehatan agar tidak sakit-a a j i a e e sakitan, w jib m nghindarkan m num n keras ag r tidak m buk-m bukan, w jib banyak belaa e i a a a a a agar tidak bodoh, w jib bersikap telaten dan perduli agar tidak m ngabaikan isterinya, jangana e terlalu sibuk dan dapat m m agi w ktunya untuk isteri, w jib berhem t dan tidak m ng ame b a a a e h ham urkan uang.b
“Jika miskin atau sakit atau tua, mabuk, atau bodoh, jika ceroboh atau terlalu banyak mengurusi urusan dengan penuh perhatian atau mengabaikan kewajiban [pada istrinya] – seorang istri tidak akan menghormati suami yang demikian” (Kunala Jataka)
K tahaka Jataka m nasihati seorang suam hendaknya m njaga ucapannya, tidak berkata-kataa e i e buruk pada is rinya. S lain itu seorang suam s bagai kepala keluarga dan tulang punggungt e i e keluarga, bekerja ses ai dengan D am a, akan m m ahagiakan pasangan hidupnya danu h m e b anak-anaknya:
Menyokong istri dan memberi walaupun sedikit, adalah lebih baik daripada membuat seribu sampai seratus ribu pengorbanan.” (Satullapakayika Vaggo, Samyutta Nikaya)
Lagi, Mahanama, dengan kekayaan yang telah diperoleh lewat usaha yang penuh semangat, dikumpulkan dengan kekuatan tangannya, didapatkan dengan keringat di dahinya, ia dengan hormat merawat istrinya dan anak-anaknya….. Istri dan anak-anak…. ketika dirawat dan dihormati, dengan welas asih mengharapkannya umur panjang. Welas asih mereka ditujukan pada peningkatan putra dari laki-laki klan tersebut. (Licchavikumara Sutta, Anguttara Nikaya V)
Karena dia memberi dengan penuh hormat, di mana pun hasil dari pemberian itu masak, dia menjadi kaya dan berkelimpahan, harta kekayaannya besar, dan anak istrinya, budaknya, persuruh dan pekerjanya patuh, mendengarkan dia dan menggunakan pikirannya untuk memahami dia.
(Anguttara Nikaya V, 148)
"Dengan kekayaan yang telah diperoleh lewat usaha yang penuh semangat, dikumpulkan dengan kekuatan tangannya, didapatkan dengan keringat di dahinya, kekayaan benar yang telah diperoleh secara benar, siswa yang luhur membuat dirinya sendiri bahagia dan senang, dan secara benar dia mempertahankan kebahagiaannya sendiri … dia membuat istri dan anak-anaknya … bahagia dan senang, dan secara benar dia mempertahankan kebahagiaan mereka; Inilah kasus pertama tentang kekayaan yang digunakan untuk hal-hal baik, yang diterapkan
dengan penuh manfaat dan dipakai untuk tujuan yang luhur. (Pattakama Sutta, Anguttara Nikaya IV, 61)
Membantu ayah dan ibu, menunjang anak dan istri, dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Itulah berkah utama (Mangala Sutta)
K pala keluarga w jib m m liki (1) ke ujuran dan selalu m nepati janji k pada orang laine a e i j e e
(2) pengendalian pikiran yang baik (dama), (3) k sabaran dalam m nghadapi setiap persoalane e sulit ( khant i), (4) k m rahan hati terhadap m rek yang pantas untuk diberie u e a (caga) ( Sam yut t a Nikaya .I.215)
Hubungan Suami Istri dalam Ikatan Pernikahan
D atas kita telah m ng tahui bahw hubungan seks yang tidak m langgar sila ketiga adalahi e e a e hubungan sek antara pasangan yang telah m nikah. S ks yang dilakukan dalam ikatans e e
pernikahan antara dua insan yang saling m ncintai akan m m aw pada akhir yang diinginkan.e e b a Lantas bagaim nakah kehidupan seks antara P ngeran S ddharta dan Y sodhara dalama a i a
pernikahan m reka? D sebutkan dalam kitab V naya:e i i
“Orang-orang akan berkata bahwa Pangeran Sakyamuni bukanlah seorang pria dan ia meninggalkan keduniawian tanpa memperhatikan Yasodhara…., [oleh karena itu] sekarang aku [Siddharta] akan bercinta dengan Yasodhara” Ia melakukannya dan Yasodhara menjadi hamil.”
(Mulasarvastivada Vinaya)
M nurut buku R d T read, disebutkan bahw ternyata ada anggapan bahw P ngerane e h a a a
S ddharta m m elajari berbagai m tode rahasia T ntrik S ks dari istrinya G pa (G pika) ataui e p e a e o o Y sodhara. D n dalam C andam haros ana T ntra disebutkan bahw P ngeran S ddhartaa a h a h a a a i dan G pa (Y sodhara) m lakukan hubung n seksual (penyatuan vajra dan teratai) dano a e a
m ngalam kebahagiaan yang m rupakan sebab bagi ke-B ddhaan. D katakan pada saate i e u i hubungan sek ual dengan is rinya [G pa/Y sodhara] tersebut, di m na S ng B ddha ms t o a a a u
belum m ninggalkan istana yaitu sebagai P ngerane a S ddharta, S ng B ddha m ncapai pencerahan. A ai a u e d ikonografi T ntrik di m na S kyam ni B ddha dan G paa a a u u o [Y sodhara] saling berangkulan dalam posisi m ithuna,a a atau hubungan seks yang ditujuk n untuk pencerahan.a D lam N spannayogavali di m na di sana disebutkana i a em nasi M havairocana B ddha yang bertubuh em sa a u a , bernam S i S kyasim a yang tak lain adalah S kyam nia r a h a u B ddha. D lam M havairocana T ntra, disebutkanu a a a
seorang B dhisattva w nita yang bernam Y sodharao a a a yang bertubuh em s yang m m gang kem liaan kualitasa e e u
B ddha, berada di baris n A alokitesvara. D ri T juh M nushi [N ram nakaya] B ddha, dikenalu a v a u a i a u T juh S akti M nushi B ddha. S kyasim a [S kyam ni] B ddha m m liki S akti [P ajna]u h a u a h a u u e i h r