• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budidaya Cendana (Santalum album Linn.)…. 79

III. OUTPUT PENELITIAN

3.2. Teknik silvikultur intensif jenis penghasil FEMO

3.2.3. Teknik penanaman dan pemeliharaan

3.2.3.14. Budidaya Cendana (Santalum album Linn.)…. 79

Cendana adalah tanaman penghasil minyak atsiri cendana yang berbau harum, yaitu salah satu hasil hutan bukan kayu unggulan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Jenis ini merupakan andalan komoditas hutan dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

Cendana merupakan spesies asli Indonesia yang tumbuh di Propinsi NTT seperti P. Timor, P. Sumba, P. Alor, P. Solor, P. Pantar, P.

Flores, P. Roti dan pulau lainnya. Selain di NTT, cendana juga dijumpai di Gunung Kidul, Imogiri, Kulon Progo (DIY), Bondowoso (Jawa Timur), dan Sulawesi. Selain di Indonesia tanaman ini juga tumbuh di India bagian Selatan serta Australia bagian Utara dan Barat.

Tanaman cendana memerlukan inang primer dan sekunder untuk pertumbuhan. Syarat untuk inang primer adalah jenis yang tidak menyebabkan persaingan, bertajuk kecil, akar succulen, mudah tumbuh kembali setelah dipangkas, tidak berumur pendek, mudah didapat dan berfungsi membantu menyerap unsur hara. Inang primer yang biasanya digunakan adalah jenis krokot hijau (Althernanthera sp.), Desmanthus virgatus dan Crotalaria juncea. Inang sekunder ditanam setahun sebelum penanaman cendana. Ini bertujuan agar akar inang telah cukup

berkembang sehingga dapat mempercepat terjadinya kontak dengan akar cendana, selain itu juga dapat berfungsi sebagai penaung.

Bali merupakan daerah konsumsi cendana yang relatif besar, karena sebagian besar masyarakatnya memanfaatkan kayu cendana, terutama untuk kerajinan dalam rangka menunjang sektor pariwisata dan kebutuhan keagramaan. Kebutuhan kayu cendana di Bali terus meningkat seiring dengan perkembangan pariwisata, dan pertambahan jumlah penduduk. Kayu cendana selain sabagai bahan baku industri kerajinan juga dimanfaatkan sebagai bahan baku kosmetik, obat-obatan dan pembuat aneka dupa (Surata dan Idris, 2001). Untuk menjamin kesinambungan kebutuhan cendana dimasa mendatang di Bali maka perlu dilakukan pengembangan cendana di Nusa Penida dengan pertimbangan sesuai kondisi biofisik, sosial budaya, ketersediaan teknologi budidaya.

Keberhasilan demplot penanaman cendana di Nusa Penida sangat ditentukan oleh minat atau keinginan masyarakat, penguasaan teknologi dan pola tanam yang tidak mengganggu usaha tanaman pangan.

Pola tanam yang dinginkan adalah jaraknya tidak terlalu rapat (minimal 6 x 12 m atau 12 x 12 m) dan dilakukan sebagai tanaman penguat teras, sehingga aktivitas tanaman pangan masih bisa berjalan. Namun keinginan masyarakat belum diimbangi dengan teknik penanaman dan pemeliharaan yang baik oleh peserta demplot karena alasan sosialisasi teknologi belum dilakukan dan belum sepenuhnya teknologi dikuasai masyarakat.

Pengembangan cendana yang telah dilakukan masyarakat sebelumnya di Desa Tangglad dan Pejukutan hanya menunjukkan 60% tingkat keberhasilan tumbuh cendana. Namun keberhasilan pertumbuhannya terjadi hanya di 3 plot petani yaitu 2 plot di Pejukutan dan 1 plot di Tanglad. Kurangnya pengetahuan teknologi pasca pemeliharaan tanaman dan keraguan hasilnya menyebabkan kegagalan cendana.

Ujicoba pola tanam secara partisipatif pada tanaman cendana telah dilakukan di Nusa Penida, Bali pada bulan Desember 2012.

Penanaman dilakukan di cubang 30 cubang per cubang 20 pohon dan satu demplot seluas 1 ha dengan memakai inang turi, kelor dan betenu.

Pertumbuhan anakan cendana pada awal penanaman rata-rata tinggi 34,55 cm, diameter 0,54 cm. Sifat fisik dan kimia tanah di lokasi penelitian menunjukkan tekstur tanah termasuk liat berdebu bahan induk

batu kapur, solum tipis. Sifat kimia tana adalah pH tanah termasuk alkalis pH H2O 7,7- 7,9), Unsur P N, K, dan C-organik di lokasi penelitian termasuk rendah, oleh karena itu untuk penanaman perlu masukan bahan organik.

3.2.3.15. Pola tanam campuran kemiri, kesambi, kenari, mimba, saga, ganitri, malapari

Plot Uji Coba Penanaman Mimba, Saga, Kenari, Kemiri dan Kesambi berada di KHDTK Sobang, Banten. Lokasinya sendiri berada pada ketinggian 200 – 250 m dpl. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak lengkap dengan 3 perlakuan pupuk NPK yaitu dosis 25, 75 dan 125 g/tanaman. Kelima jenis tersebut ditanam pada tahun 2008 dengan luas masing-masing 1 ha dengan jarak tanam 3 x 5 m.

Pemeliharaan yang dilakukan adalah pembabadan, roundup jalur, pendangiran. Parameter yang diamati adalah Persen tumbuh dan diameter pohon.

Hasil pengramatan pertumbuhan jenis Mimba, Saga, Kenari, Kemiri dan Kesambi yang mendapat berbagai perlakuan dosis pupuk NPK dapat dilihat pada Tabel 3.18. terlihat bahwa pemberian pupuk NPK dengan dosis yang berbeda pada kelima jenis tanaman HHBK menghasilkan pertumbuhan yang berbeda pula. Pada jenis Mimba, kenari dan kesambi ternyata pemberian 125 g pupuk NPK/tanaman menghasilkan pertumbuhan yang paling baik, sedangkan pada jenis Saga dengan pupuk 25 g/tanaman. Dari 5 jenis HHBK (obat, energi dan pangan) yang telah berumur 4 tahun, maka pemilihan jenis untuk lahan di Sobang adalah jenis yang tahan terhadap kondisi iklim di wilayah banten namun dapat tetap meningkatkan pertambahan diameter dan tingginya. Dosis pupuk NPK yang dianjurkan untuk tanaman saga adalah 25g/tanaman, sedangkan mimba, kenari dan kesambi dianjurkan menggunakan dosis 125 g pupuk NPK/tanaman.

Tabel 3.18. Data pertambahan tinggi dan diameter Mimba, Saga, Kenari, Kesambi dan Kemiri umur 4 tahun yang mendapat perlakuan berbagai dosis pupuk NPK

Jenis tanaman

Rata-rata pertambahan tinggi dan diameter (cm)

P0 P1 P2 P3 masing jenis tanaman Malapari (Pongramia pinnata), Nyamplung (Calophyllum inophyllum) dan Ganitri (Elaeocarpus ganitrus) adalah rancangan acak lengkap dengan masing2 jenis mendapat perlakuan pemupukan NPK dengan dosis 0, 50, 75 dan 125 gram/tanaman. Ketiga jenis tanaman tersebut ditanam pada tahun 2010/2011 dengan masing-masing jenis seluas 1 ha dengan jarak tanam 5 x 5 m. Pemeliharaan yang dilakukan adalah pembabadan, roundup jalur dan pendangiran. Hasil pengramatan pertumbuhan tinggi dan diameter pohon jenis Nyamplung Malapari dan Ganitri dapat dilihat pada Tabel 3.19.

Tabel 3.19. Data rata-rata persen tumbuh dan pertambahan tinggi dan diameter jenis-jenis tanaman Nyamplung, Malapari dan Ganitri umur 2 tahun tanaman Nyamplung menghasilkan persen tumbuh yang paling tinggi yaitu 91,50%, Malapari 82,75% dan Ganitri 51,25%. Sedangkan rata-rata pertambahan tinggi adalah Ganitri 17,15 ± 8,75, disusul oleh Malapari (16.77± 2,70) dan Nyamplung (13.06 ± 1,72). Sedangkan rata-rata pertambahan diameter paling tinggi dihasilkan oleh tanaman Malapari (0.19± 0,03 ), kemudian Nyamplung (0.18 ± 0,03) dan yang paling rendah adalah Ganitri (0.16 ± 0,10). Dari hasil perhitungan standar deviasi ketiga

jenis tanaman tersebut terlihat bahwa tanaman Ganitri menghasilkan standar deviasi yang paling tinggi. Hal ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan Ganitri tidak seragram dan berbeda jauh satu sama lain.

Grambar ketiga jenis tanaman tersebut dapat dilihat pada Grambar 3.17.

Grambar 3.17. Jenis tanaman Nyamplung, Malapari dan Ganitri umur 2 tahun di KHDTK Sobang