• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ganitri (Elaeocarpus ganitrus)

III. OUTPUT PENELITIAN

3.2. Teknik silvikultur intensif jenis penghasil FEMO

3.2.1. Informasi fenologi dan perbenihan jenis-jenis kayu

3.2.1.10. Ganitri (Elaeocarpus ganitrus)

Masa berbunga dan berbuah ganitri di Kebumen-Jawa Tengah pada tahun 2010 – 2011 berlangsung selama 5-6 bulan. Pembungaan terlihat pada bulan April dan buah masak bulan September 2010. Pada

Oktober/Nopember 2010 terjadi pembungaan kembali (late flowering) namun dengan jumlah sedikit dan buah masak bulan April/Mei 2011.

Jumlah bunga dan buah ganitri yang tumbuh di Desa Donosari, Kebumen lebih banyak daripada yang tumbuh di Cisarua (Jawa Barat), masing-masing dengan ratio buah/bunga (fruit set) berkisar antara 15%- 48% dan 4% - 35%.

3.2.1.11. Kilemo (Litsea cubeba L. Persoon)

Periode berbunga hingga berbuah tanaman kilemo di beberapa lokasi pengramatan menunjukkan masa yang relatif pendek (3-4 bulan) dan berkesinambungan, sehingga pembungaan dan pembuahan khususnya di Cikole-Jawa Barat tampak terus terjadi. Di Aek nauli pembungaan terlihat pada bulan Februari-Maret dan buah masak pada bulan Juli-Agustus 2010 yang ditandai dengan warna kulit buah hitam.

Jumlah rata-rata malai bunga per ranting di Aek nauli (68 malai) dan buah per malai (180 butir) lebih banyak daripada yang berasal dari Cikole. Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan kandungan kadar air benih segar sebesar 9%, dengan kemurnian 99%, berat seribu butir 37,8 g, jumlah benih per kg 26.430 butir, jumlah benih per liter 7.300 butir dan daya berkecambah 71%.

3.2.1.12. Kemenyan (Styrax benzoin)

Siklus reproduksi tanaman kemenyan di arboretum BPK Aek Nauli-Pematang Siantar berlangsung selama 8 – 9 bulan yang diawali dari terlihatnya bakal bunga kemenyan pada pertengahan bulan Juni hingga Juli dan bunga mekar terjadi pada akhir Agustus hingga September, bunga rontok dan pembesaran pada ovarium pada bulan September.

Perkembangan menjadi buah muda kecil pada bulan September-Oktober.

Buah tua siap panen terjadi pada bulan Februari-Maret. Ratio bunga menjadi buah (fruit set) tanaman kemenyan yang tumbuh pada cabang ranting di bagian Barat berkisar antara 9%-17% dan di bagian Timur antara 4%-16%. Ukuran buah kemenyan pada ranting bagian barat dan timur cenderung tidak jauh berbeda yaitu berturut-turut berkisar antara 2,63-2,89cm diameter dan 1,98-2,22cm panjang serta diameter 2,56 -3,06 cm dan panjang 2,09-2,25 cm.

Buah kemenyan yang masak disukai oleh tupai, rusa dan babi hutan.

Oleh karena itu sulit untuk mendapatkan biji sebagai bahan tanaman

dalam jumlah besar. Biji kemenyan berjumlah ± 366 butir/kg. Benih kemenyan mempunyai kadar air sebesar 44%, sehingga benih dikatagorikan sebagai benih semi rekalsitran sehingga tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama di ruang terbuka. Teknik ekstraksi buah kemenyan dilakukan dengan cara membuang kulit buahnya terlebih dahulu, setelah itu dilakukan pengeluaran bijinya. Biji kemenyan yang telah dibersihkan harus segera dikecambahkan. Perlakuan pendahuluan sebelum dikecambahkan adalah dengan cara rendam jemur selama ± 3 hari hingga kulit biji terlihat retak. Benih kemenyan mempunyai kadar air sebesar 44%, sehingga benih dikatagorikan sebagai benih semi rekalsitran sehingga tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama di ruang terbuka.

Teknik ekstraksi buah kemenyan dilakukan dengan cara membuang kulit dan daging buahnya dengan menggunakan pisau terlebih dahulu sampai daging buah terlepas semua. setelah itu dilakukan pengeluaran bijinya.

3.2.1.13. Massoi (Cryptocarya massoya)

Musim berbunga dan berbuah massoi dalam satu tahun sebanyak dua kali, yaitu pada bulan Agustus dan Desember. Bunga massoi berbentuk majemuk berwarna kuning hijau dengan enam buah mahkota bunga yang berbentuk elips, mempunyai 15 benang sari pada tiga tangkai sari, berbentuk malai, keluar dari ketiak daun. Karakter biji/ buah massoi berbentuk bulat dengan sedikit terdapat tonjolan tanjam pada suatu sisi.

Tonjolan tersebut menyerupai tonjolan yang dimiliki oleh buah kelapa.

Pada waktu masih muda, buah berwarna hijau dan pada waktu masak berwarna hitam. Buah massoi termasuk dalam kelompok buah buni.

Buah massoi terdiri atas dua lapisan, yaitu kulit luar yang lunak (daging buah tipis) dan kulit bagian dalam yang keras seperti kulit kelapa atau pinang. Kedua lapisan kulit tersebut melindungi daging buah yang digunakan sebagai cadangan makanan. rata-rata berat biji sebesar 1.643 gram.

3.2.2. Teknik pembibitan jenis-jenis kayu energi dan FEMO 3.2.2.1. Weru (Albizia procera)

Pada tingkat semai, tanaman masih memerlukan input teknologi untuk menghasilkan bibit berkualitas. Bibit weru umur 5 bulan, menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik setelah mendapat perlakuan yaitu penggunaan media tanah dengan arang sekam padi 3:1 (v:v) dan

naungan 25 %. Diperoleh pertumbuhan tinggi 16,7 cm, diameter 1,23 mm, jumlah daun 8.81 helai, IMB 0.12 dan luas daun 22.5 sq cm.

Tanaman weru dapat diperbanyak secara vegetatif dengan metode stek pucuk. Stek memberikan respon pertumbuhan yang baik setelah diberi larutan IBA dosis 600 ppm. Perlakuan ini menghasilkan biomassa akar 0,21 g dengan persen berakar 9,9 %, jumlah akar 9,2 buah, panjang akar 6 cm, persen bertunas 11,1 dan jumlah tunas 2,5 buah.

3.2.2.2. Pilang (Acacia leucophloea)

Penggunaan media campuran antara tanah dengan arang sekam padi 3:1 (v:v) pada bibit pilang umur 5 bulan tanpa naungan menghasilkan pertumbuhan bibit tertinggi dibanding dengan media lainnya yaitu tinggi 11,7 cm, diameter 1,84 mm, jumlah daun 20,84 helai, berat kering 1,47 g dengan IMB 0,19. Apabila menggunakan media tanah sub soil, inokulasi mikoriza 5 g dengan pupuk NPK 0,5 g pada bibit pilang dapat menghasilkan peningkatan relatif kolonisasi akar sebesar 123,07 % dibanding kontrol dan peningkatan relatif serapan unsur P sebesar 36 % dibanding kontrol dengan TR ratio 2,96.

3.2.2.3. Akor (Acacia auriculiformis A.Cunn)

Inokulasi mikoriza 2,5 g per bibit dengan rhizobium hasil isolasi pada bibit akor umur 3 bulan menghasilkan peningkatan relatif jumlah nodul 112 %, serapan unsur P 3,57 %, tinggi 129,35 %, diameter 119,44 % dan berat kering 357,89% dibanding kontrol. Akor dapat diperbanyak secara vegetatif dengan metode stek. Pada stek umur 2 bulan, dengan menggunakan media campuran kokopit + arang sekam padi ditambah dengan ZPT IBA 250 ppm memberikan hasil yaitu jumlah akar 5,9 buah, jumlah daun 9,1 helai, berat kering akar 0,16 g, ratio tunas dengan akar 3,07, persen tumbuh 90 %, C total 41,88 % dan N total 3,02 %.

3.2.2.4. Kaliandra (Calliandra calothyrsus)

Penggunaan mikoriza 2 g per bibit tanpa rhizobium pada bibit kaliandra umur 5 bulan memberikan pertumbuhan paling baik yaitu dengan tinggi 33,6 cm, diameter 2,67 mm dan berat kering 7,70 g dengan persen hidup 97,7 %, jumlah nodul 0,3 dan kolonisasi akar 42,77 %.

Pemberian zpt 750 ppm dapat meningkatkan jumlah akar stek kaliandra dari 5 akar menjadi 25 akar. Konsentrasi IBA sebesar 1500 ppm

menyebabkan penurunan persentase stek berakar dari 88,75% menjadi 72,5% (P<0,05).

3.2.2.5. Malapari (Pongramia pinnata (L.) Pierre)

Pembibitan Generatif dilakukan dengan penambahan inokulasi mikoriza. Ternyata inokulasi mikoriza 5 gram dan pupuk NPK 0,5 gram per bibit pada bibit malapari umur 5 bulan menghasilkan peningkatan relatif kolonisasi akar 46,45 % dibanding kontrol dan peningkatan relatif serapan unsur P 13,55 % dibanding kontrol dengan tinggi 17,0 cm; diameter 3,3 mm; % hidup 77,2 %; berat kering 2,7 gram; TR ratio 1,64 dan IMB 2,62.

3.2.2.6. Ganitri (Elaeocarpus ganitrus)

Pembibitan generatif ganitri menggunakan media tanah + kompos organik + arang sekam padi 3:1:1 (v:v:v) tanpa naungan. Bibit ganitri umur 4 bulan asal cabutan memberikan hasil terbaik dengan berat kering yaitu 3,69 gram, tinggi 25,9 cm dan diameter 3,75 mm, menghasilkan persen hidup 78 %, TR ratio 1,81 dan IMB 0,39.

Pembibitan vegetatif yang dilakukan dengan stek. Bahan stek yang terbaik adalah bagian bawah anakan alam dengan IBA 500 memberikan pertumbuhan stek yang terbaik, yaitu menghasilkan persen tumbuh 100 %, biomasa akar 0,14 g, persen berakar 100 % dengan jumlah akar 11,46 buah, di mana panjang akar yang dihasilkan 4,57 cm dan jumlah tunas 5 buah.

3.2.2.7. Kilemo (Litsea cubeba L. Persoon)

Stek yang tidak menggunakan maupun menggunakan zpt IBA 750 ppm dan ditumbuhkan pada media pasir menghasilkan panjang tunas yang tidak berbeda (P>0,05) masing-masing sebesar 10,3 cm dan 12,5 cm.

Penggunaan konsentrasi IBA 1500 ppm menekan pertumbuhan panjang tunas hingga 8,4 cm. Media perakaran stek kilemo yang terbaik adalah campuran cocopeat dan sekam padi.

3.2.2.8. Kemenyan (Styrax benzoin)

Biji kemenyan yang telah dibersihkan harus segera dikecambahkan. Benih kemenyan memiliki kulit benih yang keras sehingga perlu diberi perlakuan pendahuluan sebelum dikecambahkan yaitu dengan cara rendam jemur selama ± 3 hari hingga kulit biji terlihat retak.

Penyapihan dilakukan pada semai yang telah memiliki minimal sepasang daun (46 hari setelah penaburan benih). Setelah semai berumur 3 bulan dan telah berdaun dua, maka semai dipindahkan ke dalam polybag Teknik persemaian yang tepat untuk pembibitan kemenyan adalah dengan menggunakan kombinasi perlakuan sebagai berikut:

1. Kombinasi media tanah + kompos organik + arang sekam padi 1:2 (v:v) dengan intensitas naungan 25 % menunjukkan hasil berat Kering 1,96 g, tinggi 15,6 cm, diameter 2,39 mm, persen hidup 62,0 % dan IMB 0,13.

2. Kombinasi inokulasi mikoriza endomikoriza (Fungi Mikoriza Arbuskula / FMA) campuran dari jenis Glomus sp + Acaulospora + Gigaspora.dosis 5 g pada media sub soil dengan tanpa pupuk NPK dapat meningkatkan infeksi akar sebesar 9232 % dibanding kontrol dan TR ratio 2,14.

Teknik pembibitan melalui setek yang tepat adalah dengan beberapa perlakuan yaitu: Penggunaaan bahan setek pucuk dari bibit umur 2 bulan yang diberi ZPT IBA 750 ppm menghasilkan rata-rata persentase berakar sebesar 74,98 % dan panjang tunas 3,98 cm dalam kurun waktu 3 bulan. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa bahan stek kemenyan dari bibit umur 2 bulan memiliki kecukupan kandungan hormon endogen dan karbohidrat yang menjadikan setek mampu bertahan selama masa inisiasi akar primordial, sehingga bahan stek mampu menumbuhkan tunas dan akar walaupun tanpa diberi zat pengatur tumbuh dari luar.

Penggunaan bahan setek pucuk dari bibit umur 4 bulan tanpa pemberian ZPT IBA juga dapat dijadikan alternatif sebagai bahan setek kemenyan karena menghasilkan rata-rata persentase berakar yang tinggi (83,54 %) dalam kurun waktu 3 bulan. Berdasarkan pengramatan kualitas perakaran stek yang dihasilkannya cenderung lebih kokoh dengan batang stek yang lebih besar serta kondisi akar yang lebih tebal dan kaku. Bentuk perakaran setek tersebut juga merupakan modal penting yang harus diperhatikan terutama dalam kaitannya dengan proses aklimatisasi dan pertumbuhan bibit selanjutnya. Selain itu bahan setek dari bibit umur 4 bulan diharapkan relatif dapat lebih banyak menyediakan bibit untuk penanaman mengingat potensi nilai persentase tumbuh seteknya yang lebih besar dibandingkan bahan setek dari bibit umur 2 bulan.

3.2.2.9. Rotan Jernang (Daemonorops sp.)

Pembibitan rotan dilakukan dengan cara penyapihan benih setelah ± 2,5 bulan berkecambah yang ditandai dengan tumbuhnya tunas (panjang ± 5 cm) dan akar (minimal 3 helai akar).

Grambar 3.10. Kecambah rotan jernang siap sapih

Daun rotan mulai mengembang setelah 1 bulan di sapih dengan warna awal daun coklat kekuningan, kemudian berubah menjadi hijau setelah 1-2 minggu. Daya hidup bibit rotan sampai umur 2 bulan untuk semua perlakuan media sebesar 100%. Pertumbuhan tinggi dan jumlah daun yang tumbuh disajikan pada Tabel 3.9.

Tabel 3.9. Persentase hidup dan pertumbuhan bibit rotan jernang umur 2 bulan

Media Tinggi (cm) Jumlah daun

M0 = media tanah:serbuk gergaji= 4:0 (v/v) 5,70 5,75 M1 = media tanah:serbuk gergaji= 3:1 (v/v) 6,89 6 M2 = media tanah:serbuk gergaji = 1:1(v/v) 6,01 5,83 M3 = media tanah:serbuk gergaji = 1:3 (v/v) 5,98 5,92 M4 = media tanah:serbuk gergaji = 0:4 (v/v) 6,17 5,83

Perlakuan media dari serbuk gergaji cenderung menghasilkan pertumbuhan tinggi dan jumlah daun yang lebih baik dari media tanah masing-masing sebesar 6,17 cm dan 5,83 helai daun. Serbuk gergaji merupakan limbah organik yang selain ringan, dapat meningkatkan aerasi dan porositas media, kapasitas pertukaran kation, dan aktivitas mikroorganisme dalam media. Mikroorganisme bertugas mengurai bahan-bahan organik menjadi ion-ion yang dapat diserap oleh akar tanaman untuk pertumbuhannya. Serbuk gergaji merupakan bahan potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan semai karena dapat menyokong pertumbuhan akar dan mengandung unsur-unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Limbah serbuk gergaji mengandung unsur hara C (50%), N (0,25%), dan P (0,20%) (Mindawati,

dkk., 1998). Media dari kompos gergajian mempunyai kandungan bahan organik (62,94%), nisbah C/N sebesar 19,52 dan nitrogen total (1,87%).

Tingginya kandungan bahan organik berpengaruh terhadap aktivitas mikrobia tanah terutama di daerah rhizosfer maupun rhizosplane yang sangat berperan terhadap pertumbuhan perakaran bibit tanaman. Media tersebut dapat digunakan sebagai media pembibitan sebaik tanah atasan karena mempunyai indeks mutu yang nisbi sama dengan media tanah atasan untuk pertumbuhan bibit Santalum album umur 8 bulan (Putri, 2008). Selain itu, pemakaian serbuk gergaji dapat menurunkan bobot media sampai 80% sehingga mempermudah pengangkutan dan menghemat biaya angkut bibit, membentuk sistem perakaran semai yang kompak dan kokoh (Fakuara, dkk., 1998 dalam Armin, 2001), serta mempunyai kemampuan menyimpan air yang lebih tinggi dibanding tanah atasan (Putri, 2008).

Pemeliharaan bibit dilakukan secara teratur yang meliputi:

pembersihan gulma, penyemprotan fungisida, pemberantasan hama dan penyakit serta penyiraman. Berdasarkan pengramatan, penyakit yang menyerang bibit rotan jernang adalah bercak daun. Penyakit ini ditandai dengan adanya warna bintik hitam kecil pada daun, kemudian semakin luas menyebar dan akhirnya daun menjadi kering. Bila tidak segera ditanggulangi, bisa menyebabkan daun rontok dan bibit mati. Upaya pengendalian yang dilakukan meliputi: penyemprotan fungisida Dithane - 45 dengan dosis 2 g/10 ml air, memotong daun yang terkena serangan dan mengisolasinya, pengaturan kelembaban karena lingkungan yang terlalu lembab akan berpeluang terkena serangan jamur.

Grambar 3.11. Bibit rotan penghasil jernang di persemaian

3.2.3. Teknik penanaman dan pemeliharaan

3.2.3.1. Teknik penanaman dan pemeliharaan Mimba (Azadirachta indica A. Juss)

Mimba sudah dikenal mempunyai banyak kegunaan sebagai bahan obat, pestisida, sumber biodiesel dan pupuk organik, termasuk pohon yang mampu beradaptasi di daerah marginal. Di Bali, mimba dikenal dengan nama intaran dan pada umumnya jenis ini tumbuh pada lahan kering yang banyak dijumpai tumbuh alami di pesisir Bali utara.

Tanaman ini relatif cepat tumbuh dan mudah perawatannya. Tingkat adaptasi pohon mimba pada lahan-lahan kritis ditunjukkan oleh perakarannya yang kuat dan dalam, sehingga proses penyerapan unsur hara untuk pertumbuhan tanaman masih tetap dapat berlangsung (Winrock International, 1997). Semakin kering tempat tumbuh mimba, semakin tinggi zat aktif (azadirachtin) yang dikandung. Berdasarkan karakteristik fisiologis tanaman mimba tersebut, maka penanaman jenis ini di lahan kritis memiliki dua keuntungan yaitu mendukung kegiatan rehabilitasi lahan kritis sekaligus memperoleh manfaat dari tanaman ini untuk bahan baku obat dan kosmetika.

Walaupun pemanfaatan mimba untuk bahan baku obat dan kosmetik cukup potensial, namun pembudidayaannya sampai saat ini masih dalam skala terbatas. Oleh karena itu dalam upaya meningkatkan produktivitas lahan, maka diperlukan penerapan teknik silvikultur intensif.

Penanaman dengan tujuan mendapatkan produksi tinggi dapat dicapai melalui penyediaan bibit yang bermutu tinggi (unggul), pemanfaatan lahan secara optimal dan manipulasi tempat tumbuh yang diterapkan pada saat pelaksanaan penanaman dan pemeliharaan guna menghasilkan produksi secara lestari (Bustomi et al., 2006).

Berdasarkan data sampai dengan tahun 2007, luas lahan kritis di Indonesia baik di dalam kawasan hutan maupun luar kawasan hutan mencapai 77.806.880 ha (Dephut, 2009). Dengan begitu besarnya luas lahan kritis di Indonesia, maka lahan-lahan kritis yang ada perlu dikembalikan kondisinya sehingga dapat menjalankan fungsinya baik sebagai fungsi produksi atau ekologi.

Manipulasi lingkungan sebagai aspek dari silvikultur intensif dipandang perlu guna meningkatkan produktivitas lahan terutama

lahan-lahan marginal/kritis seperti di Nusa Penida. Oleh sebab itu dilakukan uji efektifitas upaya perbaikan kondisi kimia fisik tanah dalam rangka meningkatkan produktivitas tanah melalui pemberian pupuk kandang dengan pembuatan guludan, hydrogel dengan pembuatan guludan.

Beberapa perlakuan diberikan pada tanaman mimba diantaranya Kontrol, Pupuk kandang, Pupuk kandang + gulud, Pupuk kandang + hydrogel dan Gulud + hydrogel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman mimba yang diberi perlakuan pupuk kandang dan hydrogel menghasilkan pertumbuhan terbaik (47,7 cm dan 5,96 mm), sedangkan yang terkecil adalah perlakuan kontrol (17,9 cm dan 2,62 mm. Lebar tajuk rata-rata terbesar adalah pada perlakuan yang diberi pupuk kandang dan hydrogel (36,9 cm) dan yang terkecil pada kontrol (17,2 cm). Secara keseluruhan pertumbuhan mimba di lokasi penelitian termasuk lambat karena menurut Ahmed dan Idris (1997) tinggi tanaman mimba pada umur 3 tahun dapat mencapai 4 – 7 m, sedangkan di lokasi penelitian sampai tahun ketiga yang tertinggi adalah 298 cm dan terendah adalah 6 cm.

Secara statistik, nilai signifikansi dari varian baris menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata terhadap parameter tinggi dan diameter.

Hal ini menggrambarkan bahwa perbedaan baris mampu mempangaruhi pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman mimba. Dari hasil uji lanjut DMRT nampak bahwa tanaman mimba pada baris 1 memiliki pertumbuhan tinggi dan diameter paling besar diantara baris yang lain. Beberapa faktor yang diduga menyebabkan perbedaan tersebut adalah berdasarkan pengramatan di lapangan pada baris 1 dan 2 memiliki ketebalan tanah yang lebih tebal daripada baris 3, 4, dan 5. Selain itu pada baris 3, dan 5 terdapat beberapa pohon besar yang meskipun tidak sepenuhnya menaungi tanaman mimba namun dirasa cukup menghalangi intensitas cahaya matahari yang sampai pada tanaman mimba.

Hasil analisa tanah menunjukkan sifat kimia, fisika dan biologi tanah secara umum adalah sama yang ditunjukkan oleh kesamaan harkat.

Rata-rata produksi seresah selama tahun 2012 yang terbesar pada perlakuan yang diberi pupuk kandang dan hydrogel yaitu 5,48 gram sedangkan yang terkecil pada perlakuan guludan tanah dan pemberian hydrogel yaitu 0,19 gram. Sifat kimia tanah yang berupa C-organik dan K20 pada perlakuan pupuk kandang + hydrogel mempunyai nilai tertinggi

dibandingkan dengan perlakuan lain. Sedangkan perlakuan pupuk kandang + gulud mempunyai nilai N-Total dan KTK tertinggi dibandingkan perlakuan lain pada akhir 2012. Baik perlakuan P2 maupun pupuk kandang + hydrogel merupakan perlakuan dengan menggunakan input pupuk kandang. Namun demikian, penurunan nilai dan harkat kandungan C-organik mengindikasikan bahwa masih diperlukan input pupuk kandang agar kebutuhan bahan organik dalam tanah dapat tercukupi. Penambahan pupuk kandang ini sangat penting karena dari berbagai hasil penelitian terbukti pupuk kandang dapat memperbaiki struktur tanah, menentukan tingkat perkembangan struktur tanah, berperan pada pembentukan agegat tanah, meningkatkan daya simpan lengas karena pupuk kandang mempunyai kapasitas menyimpan lengas yang tinggi (Stevenson, 1982 dalam Jamilah, 2003). Pada perlakuan dengan menggunakan hydrogel, hasil analisis menunjukkan bahwa keduanya mempunyai kadar air tertinggi, sedangkan untuk parameter biologi tanah, perlakuan yang diterapkan tidak dapat menunjukkan pola penambahan yang khas.

Selain itu pengembangan mimba di lahan kritis atau marginal di NTB menggunakan teknik budidaya khususnya penyiapan lahan. Aspek penyiapan lahan mencakup pekerjaan pembersihan lapang dan pengolahan lahan. Hal ini dikarenakan lahan kritis di NTB pada umumnya mempunyai factor pembatas yaitu permasalahan ketersediaan air dan kandungan unsur hara tanah. Pemilihan sistem penyiapan lahan juga hendaknya disesuaikan dengan vegetasi asal, jenis tanaman pokok yang akan ditanam, topogafi, kondisi lapangan dan pengaruhnya terhadap lingkungan dan biaya (Hendromono, 2001). Berdasarkan hal tersebut untuk mendukung penanaman mimba pada lahan marginal atau lahan kritis dengan faktor pembatas berupa ketersediaan sumberdaya air dan unsur hara, maka perlu dilakukan ujicoba penyiapan lahan dalam rangka mendukung keberhasilan penanaman mimba.

Perlakuan yang diberikan adalah penyiapan lahan (sistem lorong dan babat habis), pemberian hidrogel (hidrogel dan non hidrogel) serta pemberian pupuk (pupuk organik dan non pupuk). Ada 8 perlakuan yang diberikan yaitu LHP (sistem lorong, diberi hidrogel dan pupuk organik), LHNP (sistem lorong, diberi hidrogel dan non pupuk), LNHP (sistem lorong, non hidrogel dan pupuk organik), LNHNP (sistem lorong, non hidrogel dan

non pupuk), BHP (babat habis, diberi hidrogel dan pupuk organik), BHNP (babat habis, diberi hidrogel dan non pupuk), BNHP (babat habis, non hidrogel dan pupuk organik), dan BNHNP (babat habis, non hidrogel dan non pupuk).

Perlakuan yang mempunyai diameter rata dan tinggi rata-rata terbesar adalah BHP (babat habis, diberi hidrogel dan pupuk organik).

Walaupun perlakuan ini mempunyai tinggi dan diameter tertinggi, namun mempunyai keragraman relatif besar yang ditandai oleh besarnya nilai standar deviasi. Perlakuan yang mempunyai nilai rata-rata diameter dan tinggi terendah adalah perlakuan LNHP (sistem lorong, non hidrogel dan pupuk organik). Perlakuan BHP juga merupakan perlakuan yang mempunyai pertumbuhan baik diameter maupun tinggi yang paling besar sampai dengan umur tanaman 3 tahun. Selain itu, berdasarkan data tersebut juga terdapat kecendrungan dimana perlakuan kombinasi hidrogel dan pupuk atau pupuk saja (BHP, BNHP, LHP dan LNHP), mempunyai pertumbuhan tinggi dan diameter lebih besar dari perlakuan lainnya.

Unsur N dalam tanah pada umumnya berasal dari bahan organik baik halus maupun kasar. N dalam tanah berfungsi dalam proses pertumbuhan vegetatif tanaman dan pembentukan protein. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa kandungan unsur N pada tiap perlakuan berkisar antara 0,1% - 0,14%, dimana nilai ini termasuk kategori sangat rendah sampai rendah (Pusat penelitian Tanah, 2005). Apabila kandungan unsur N ini dibandingkan dengan kondisi awal (2010) maka kondisinya masih sama berkisar antara sangat rendah-rendah. Begitu pula halnya dengan kandungan C-organik, perlakuan yang diberikan belum mampu meningkatkan kandungan C-organik secara signifikan. Namun demikian perlakuan yang menggunakan pupuk dan hidrogel mempunyai kandungan N dan C-organik yang lebih besar dari perlakuan lainnya. Unsur P pada semua perlakuan berdasarkan hasil analisis tanah termasuk kategori sangat tinggi (>60 mg/100g). Bila dibandingkan dengan kondisi awal, maka telah terjadi perubahan yang cukup signifikan dimana pada kondisi awal unsur P di lokasi penelitian termasuk kategori rendah. Hasil analisis juga menunjukkan perlakuan pupuk mempunyai nilai unsur P yang lebih besar dari perlakuan lainnya.Peningkatan bahan organik melalui penambahan pupuk organik diharapkan dapat memperbaiki kondisi tanah dan unsur

hara yang diperlukan tanaman.Penambahan pupuk organik ini sangat penting karena dari berbagai hasil penelitian terbukti pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah, menentukan tingkat perkembangan struktur tanah dan berperan pada pembentukan agegat tanah (Stevenson, 1982 dalam Jamilah, 2003).

Hasil analisis tanah untuk unsur K dan KTK, tidak terdapat perbedaan dengan kondisi awal penelitian yaitu termasuk kategori sangat tinggi untuk unsur K dan sedang sampai tinggi untuk KTK.Unsur K dalam tanah bermanfaat dalam pembentukan pati, pengaktifan enzim, penyerapan unsur-unsur lain dan mempertinggi daya tahan terhadap kekeringan dan penyakit. Nilai KTK berkaitan erat dengan kesuburan tanah, dimana tanah dengan nilai KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik dari pada tanah dengan nilai KTK rendah.

Sifat tanah lainnya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah

Sifat tanah lainnya yang dianalisis dalam penelitian ini adalah