• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. METODOLOGI PENELITIAN

3.3 Tahap Penelitian

3.3.1 Budidaya Eucheuma cottonii

Metode budidaya rumput laut yang digunakan berdasarkan kebiasaan dan pengalaman penduduk di Kabupaten Seram bagian barat, yaitu dengan sistem longline(tali permukaan). Metode budidaya sebagai berikut :

(1) Penentuan lokasi budidaya.

(2) Di lokasi terpilih dipasang tali utama yang disambungkan dengan pemberat berupa karung berisi pasir dan batu. Masing-masing sudut tali diberi pelampung tanda.

(3) Diantara tali utama dipasang tali ris yang berjumlah 6 buah dengan panjang masing-masing 25 m (Gambar 6). Pelampung yang digunakan pada tali ris berupa botol aqua.

(4) Bibit rumput laut diikat pada tali ris dengan tali nilon yang telah disimpul dengan jarak antara simpul 20 cm. Setiap tali ris dipasang 120 rumpun, masing-masing perlakuan 20 rumpun (dipasang secara acak) sehingga total rumpun adalah 720. Setiap tali ris terdiri dari 6 kombinasi perlakuan, yaitu bagian thalus ujung dengan berat bibit 50, 100, 150 g, dan bagian thalus pangkal dengan berat bibit yang sama, yang akan dipanen pada umur 40, 45, 50 dan 55 hari.

(5) Setelah semua bibit rumput laut diikat pada tali ris, tali ris diikat pada tali utama dengan jarak antara tali ris 1 m. Setiap perlakuan diberi tanda dengan tali rafia untuk memudahkan pemantauan. Desain longlineuntuk budidayacottoniidapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Desainlonglineuntuk budidayaEucheuma cottonii.

3.3.1.2 Teknik pengamatan

Setiap minggu kondisi tanaman dipantau, dibersihkan dari sampah dan biota pengganggu lainnya. Rumpun rumput laut yang hilang diganti dengan tanaman yang lain dari perlakuan yang sama. Parameter fisik dan kimia perairan diukur yaitu suhu permukaan air laut mengunakan termometer, kecepatan arus menggunakan current meter, salinitas menggunakan hand refractometer, pH

Pelampung Tali ris Tali utama Bibit rumput laut Pelampung utama Tali pemberat Tali ris 25 m 8 m 1 m Pemberat

menggunakan kertas lakmus, kecerahan menggunakan secchidisc dan kedalaman perairan menggunakan tali dan meteran. Pengukuran dilakukan sebanyak 10 kali, yaitu pada hari ke 0, 7, 14, 21, 27, 35, 40, 45, 50, dan 55, masing-masing diambil 3 titik sampel, yang dilakukan sicara langsung di lokasi penelitian (in situ).

Rumput laut dipanen sesuai dengan perlakuan umur panen, dan ditimbang untuk mengetahui bobot basahnya. Setelah dipanen rumput laut dicuci dengan menggunakan air laut, untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada rumput laut. Rumput laut kemudian dimasukkan ke dalam karung plastik untuk selanjutnya dibawa ke tempat penjemuran. Rumput laut dijemur di atas para-para selama 4 hari. Selama proses penjemuran berlangsung, rumput laut tetap dijaga terhindar dari air hujan.

3.3.2 Ekstraksi karaginan

Pada penelitian tahap ini dilakukan ekstraksi karaginan dengan menggunakan rumput laut perlakuan bagian thalus ujung (A1) dan pangkal (A2), berat bibit 50 g (B1), 100 g (B2) dan 150 g (B3), dan umur panen 40 hari, (C1), 45 hari (C2), 50 hari (C3) dan 55 hari (C4). Karaginan hasil ekstraksi kemudian dianalisis parameter rendemen, kekuatan gel, viskositas, kadar air dan kadar abu. Penentuan karaginan terbaik dipilih berdasarkan kelima parameter tersebut yang sesuai dengan standar mutu karaginan.

Proses ekstraksi karaginan menggunakan metode Yunizalet al.(2000), yang telah dimodifikasi. Rumput laut kering sebanyak 100 g dicuci dengan menggunakan air sampai semua kotoran yang menempel hilang. Rumput laut kemudian direndam dengan air selama 24 jam. Rumput laut diblender hingga berukuran kecil sehingga mempermudah proses ekstraksi. Ekstraksi dilakukan dengan perebusan menggunakan air dan KOH 0,5% pada suhu 90-95 oC dengan perbandingan rumput laut kering dengan air 1:30 selama 2 jam. Proses pemisahan selulosa dilakukan dengan penyaringan menggunakannylon mesh, yang dilakukan sebanyak 2 kali (ukuran 150 dan 300 mesh). Filtrat yang diperoleh diendapkan menggunakan isopropil alkohol dengan perbandingan 1:1,5, kemudian endapan dikeringkan menggunakan drum dryer selama 30 menit pada suhu 50 oC. Karaginan kering kemudian dibuat tepung karaginan. Diagram alir proses pembuatan tepung karaginan dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Proses pembuatan tepung karaginan (Yunizalet al.2000 yang telah dimodifikasi).

3.4 Laju Pertumbuhan HarianEucheuma cottonii

Suatu kegiatan budidaya rumput laut Eucheuma cottonii dikatakan baik jika laju pertumbuhan rata-rata harian minimal lebih dari 3% (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya 2005). Untuk mengetahui persentase laju pertumbuhan harian dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

Pencucian

Perendaman dengan air

Ekstraksi

Larutan KOH 0,5%, selama 2 jam pada suhu 90-95 oC

Pengendapan

(dengan IPA / isopropil alkohol)

Pengeringan Penyaringan

(2 kali, dengan nilon 150 dan 300mesh) Rumput laut kering, perlakuan bagian thalus (ujung, pangkal), berat bibit (50, 100, 150 g), dan umur panen (40, 45, 50, 55 hari)

Tepung karaginan Filtrat

Wt 1/t

G = -1 x 100%

Wo

Keterangan: G = Laju pertumbuhan harian (%) Wt = Rata-rata bobot akhir (g) Wo = Rata-rata bobot awal (g)

t = Waktu budidaya (hari)

3.5 Analisis Fisiko-Kimia

Rumput laut kering hasil budidaya sebelum diekstraksi menjadi tepung karaginan, terlebih dulu dianalisis kandungan kadar air, kadar abu dan kadar abu tidak larut asam. Tepung karaginan yang dihasilkan dari masing-masing perlakuan kemudian dianalisis rendemen, kekuatan gel, viskositas, titik jendal, titik leleh, derajat putih, kadar air, kadar abu, kadar abu tidak larut asam, kadar sulfat, dan logam berat.

(1) Rendemen (FMC Corp. 1977)

Rendemen karaginan sebagai hasil ekstraksi dihitung berdasarkan rasio antara berat karaginan yang dihasilkan dengan berat rumput laut kering yang digunakan pada masing-masing perlakuan.

Berat karaginan kering (g)

Rendemen (%) = x 100%

Berat rumput laut kering (g)

(2) Kekuatan gel (Faridahet al.2006)

Larutan karaginan 1,6% dan KCl 0,16% dipanaskan dalam air mendidih dengan pengadukan secara teratur sampai suhu 80 oC. Volume larutan dibuat sekitar 50 ml. Larutan panas dimasukkan ke dalam cetakan berdiameter kira-kira 4 cm dan dibiarkan pada suhu 10 oC selama 2 jam. Gel dalam cetakan dimasukkan kedalam alat ukur (Rheoner RE-3305), sehingga plunger yang akan bersentuhan dengan gel berada ditengahnya. Probe yang sesuai dipasang lalu tekan tombol start untuk memulai pengukuran. Evaluasi hasil pengukuran dilakukan dengan membaca grafik yang dihasilkan. Gaya tekan maksimal (gel force) dapat dibaca pada recorder.

(3) Viskositas (FMC Corp. 1977)

Viskositas adalah tahanan dari suatu cairan untuk mengalir. Satuan dari viskositas adalah poise (1 poise = 100 cP). Makin tinggi viskositas menandakan makin besarnya tahanan cairan yang bersangkutan. Larutan karaginan dengan konsentrasi 1,5% dipanaskan dalam bak air mendidih sambil diaduk secara teratur sampai suhu mencapai 75 oC. Viskositas diukur dengan viscometer brookfield. Larutan panas diatur sampai tepat, viskosimeter dihidupkan dan suhu larutan diukur. Ketika suhu larutan mencapai 75oC dan nilai viskositas diketahui dengan pembacaan viskosimeter pada skala 1 sampai 100. Pembacaan dilakukan setelah 1 menit putaran penuh untuk spindel no 1.

(4) Titik jendal dan titik leleh (Suryaningrum dan Utomo 2002)

Larutan karaginan dengan konsentrasi 6,67% (b/b) disiapkan dengan akuades dalam gelas ukur volume 15 ml. Suhu sampel diturunkan secara perlahan-lahan dengan cara menempatkan pada wadah yang telah diberi pecahan es. Titik jendal diukur pada saat larutan karaginan mulai membentuk gel dengan menggunakan termometer digitalhanna.

Larutan karaginan dengan konsentrasi 6,67% (b/b) disiapkan dengan akuades. Sampel diinkubasi pada suhu 10 oC selama ± 2 jam. Pengukuran titik leleh dilakukan dengan cara memanaskan gel karaginan dalamwaterbath. Diatas gel karaginan tersebut diletakkan gotri dan ketika gotri jatuh ke dasar gel karaginan maka suhu tersebut dinyatakan sebagai titik leleh karaginan.

(5) Derajat putih (Faridahet al.2006)

Alat yang digunakan adalah Kett Digital Whiteness meter model C-100. Alat ini untuk mengukur tingkat warna putih dari sampel. Prinsipnya melalui pengukuran indeks refleksi dari permukaan sampel dengan sensor fotodioda. Semakin putih sampel maka cahaya yang dipantulkan semakin banyak. Alat ini dikalibrasi dengan standar derajat putih yang diperoleh dari asap pembakaran pita MgO. Sampel karaginan dimasukkan dalam wadah tertentu. Wadah sampel dimasukkan ke tempat pengukuran, sehingga alat menyala. LED akan menampilkan nilai derajat putih dan nomor urutan pengukuran. BaSO4digunakan

sebagai pembanding dengan nilai derajat putih 110%. Nilai derajat putih dihitung dengan dengan rumus:

Nilai derajat putih

Derajat putih (%) = x 100%

110

(6) Kadar air (AOAC 1995)

Penentuan kadar air didasarkan pada perbedaan berat contoh sebelum dan sesudah dikeringkan. Cawan porselin yang digunakan, dikeringkan terlebih dahulu kira-kira 1 jam pada suhu 105oC, lalu didinginkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang hingga beratnya tetap (A). Contoh ditimbang kira-kira 2 g (B) dalam cawan tersebut, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 100-105 oC selama 5 jam atau beratnya tetap. Cawan yang berisi contoh didinginkan di dalam desikator selama 30 menit lalu ditimbang hingga beratnya tetap (C). Kadar air dihitung dengan rumus:

(A+B) – C

Kadar air (%) = x 100% (B)

(7) Kadar abu (AOAC 1995)

Contoh ditimbang sebanyak 2-3 g dalam cawan kering yang diketahui beratnya. Kemudian dipijarkan dalam tanur bersuhu 600oC sampai diperoleh abu yang berwarna keputih-putihan. Cawan dan abu dimasukkan ke dalam desikator dan ditimbang beratnya setelah dingin. Cawan dan abu dimasukkan kembali ke dalam oven dengan waktu 30 menit kemudian didinginkan dalam desikator. Setelah dingin cawan ditimbang kembali. Kadar abu dihitung dengan rumus:

Berat abu (g)

Kadar abu (%) = x 100%

Berat sampel (g)

(8) Kadar abu tidak larut asam (FMC Corp. 1977)

Karaginan yang telah diabukan dididihkan dengan 25 ml HCl 10% selama 5 menit. Bahan-bahan yang tidak terlarut disaring menggunakan kertas saring tak berabu, lalu didinginkan dalam desikator untuk selanjutnya ditimbang. Kadar abu tidak larut asam dihitung dengan rumus:

Berat abu (g)

Kadar abu tidak larut asam (%) = x 100% Berat sampel (g)

(9) Kadar sulfat (FMC Corp. 1977)

Prinsip yang digunakan adalah gugus sulfat yang telah ditimbang dan dihidrolisis, diendapakan sebagai BaSO4. Contoh ditimbang sebanyak 1 g dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer yang ditambahkan 50 ml HCl 0,2 N kemudian direfluks selama 6 jam sampai larutan menjadi jernih. Larutan ini dipindahkan ke dalam gelas piala dan dipanaskan sampai mendidih. Selanjutnya ditambahkan 10 ml larutan BaCl2 di atas penangas air selama 2 jam. Endapan yang terbentuk disaring dengan kertas saring tak berabu dan dicuci dengan akuades mendidih hingga bebas klorida. Kertas saring dikeringkan ke dalam oven pengering, kemudian diabukan pada suhu 1000 oC sampai diperoleh abu berwarna putih. Abu didinginkan dalam desikator kemudian ditimbang. Perhitungan kadar sulfat adalah sebagai berikut:

P x 0,4116

Kadar sulfat (%) = x 100%

Berat sampel (g) Keterangan:

0,4116 = massa atom relatif SO4dibagi dengan massa atom relatif BaSO4 P = berat endapan BaSO4(g)

(10) Logam berat (Apriyantonoet al.1989)

Prinsip yang digunakan adalah penghilangan bahan-bahan organik dengan pengabuan kering, residu dilarutkan dalam asam encer. Larutan disebarkan dalam nyala api yang ada di dalam alat AAS sehingga absorbsi atau emisi logam dapat dianalisis dan diukur pada panjang gelombang. Jenis logam berat yang dianalisis adalah Pb, Zn, Cu, menggunakan Spektrofotometer Absorbsi Atom (AAS).

Prosedurnya: sebanyak 5-6 ml HCl 6 N ditambahkan ke dalam cawan berisi abu, kemudian dipanaskan di atas hot plate (pemanas) dengan pemanasan rendah sampai kering. Setelah itu ditambahkan 15 ml HCl 3 N, kemudian cawan dipanaskan di atas pemanas sampai mendidih. Setelah didinginkan dan disaring, filtrat dimasukkan ke dalam labu takar yang sesuai. Diusahakan padatan tertinggal sebanyak mungkin dalam cawan, dan diencerkan dengan air sampai tanda tera. Blanko disiapkan menggunakan pereaksi yang sama.

Alat AAS disiapkan, kemudian diukur larutan standar logam, blanko dan larutan sampel. Selama penetapan sampel, dilakukan pemeriksaan apakah nilai

standar tetap konstan. Kemudian dibuat kurva standar untuk masing-masing logam (nilai absorbsi/emisi vs konsentrasi logam dalamμg/ml).

3.6 Rancangan Percobaan dan Analisis Data

Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian tahap pertama adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 3 faktor utama, yaitu bagian thalus dengan 2 taraf (sebagai kelompok), berat bibit dengan 3 taraf, dan umur panen dengan 4 taraf. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 (tiga) kali dengan jumlah satuan percobaan yang diamati adalah 2x3x4x3 = 72 unit.

- Faktor bagian thalus (A) A1 = ujung thalus A2 = pangkal thalus - Faktor berat bibit (B)

B1 = 50 g B2 = 100 g B3 = 150 g

- Faktor umur panen (C) C1 = 40 hari

C2 = 45 hari C3 = 50 hari C4 = 55 hari

Penelitian tahap kedua menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor utama yaitu umur panen dengan 4 taraf. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 (tiga) kali dengan jumlah satuan percobaan yang diamati adalah 3x4 = 12 unit.

- Faktor umur panen (A) A1 = umur panen 40 hari A2 = umur panen 45 hari A3 = umur panen 50 hari A4 = umur panen 45 hari

Data hasil pengamatan diolah dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda jarak berganda Duncan (Steel dan Torrie 1993). Data diolah dengan program SPSS 15 pada tingkat kepercayaan 95%. Model rancangan percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut :

1. Yijk = µ + Bi+ Cj+ BCij+ Kkijk

Dimana:

Yijk = Nilai pengamatan pada faktor berat bibit taraf ke-i, faktor umur panen taraf ke-j, dan kelompok bagian thalus taraf ke-k

µ = Nilai tengah umum

Bi = Pengaruh berat bibit taraf ke-i Cj = Pengaruh umur panen taraf ke-j

BCij = Pengaruh interaksi berat bibit taraf ke-i dengan umur panen taraf ke-j

Kk = Pengaruh kelompok bagian thalus taraf ke-k εijk = Pengaruh acak/galat percobaan

i = 1,2,3 (berat bibit 50, 100, 150 g)

j = 1,2,3,4 (umur panen 40, 45, 50, 55 hari)

k = 1,2 (bagian thalus ujung dan bagian thalus pangkal)

2. Yi j = µ + Aiij

Dimana:

Yij = Nilai pengamatan pada faktor umur panen taraf ke-i µ = Nilai tengah umum

Ai = Pengaruh umur panen taraf ke-i εij = Pengaruh acak/galat percobaan i = 1,2,3,4 (40, 45, 50, 55 hari)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Lokasi Penelitian Lapangan 4.1.1 Gambaran umum

Dusun Wael merupakan salah satu dari 8 Dusun nelayan yang berada di Teluk Kotania Seram Barat. Secara geografis Dusun Wael terletak di 3003’ 90’’ LS dan 128003’ 90’’ BT atau ujung barat bagian utara Pulau Seram, sebelah barat berbatasan dengan Dusun Lupesy, sebelah timur dengan Dusun Kotania Pantai, sebelah selatan dengan Gunung Wael dan sebelah utara dengan Dusun Pulau Osi. Secara administratif Dusun Wael termasuk dalam Desa Piru Kecamatan Seram Barat Kabupaten Seram bagian barat Provinsi Maluku. Dilihat dari bentuk perairan dan geomorfologi pantai kawasan budidaya rumput laut di dusun Wael berada pada perairan teluk yang relatif tenang dan terlindung. Kondisi pantai landai dengan vegetasi mangrove yang lebat dan terdapat 7 muara sungai kecil. Kabupaten Seram bagian barat memiliki tipe iklim laut tropis dan iklim musim. Musim Barat terjadi pada Desember sampai Pebruari, musim Pancaroba pertama pada Maret sampai Mei, musim Timur terjadi pada Juni sampai Agustus, dan musim Pancaroba kedua terjadi pada September sampai Nopember.

4.1.2 Perkembangan usaha budidaya rumput laut di Dusun Wael (a) Kepemilikan usaha budidaya dan sistem pengelolaan

Sebagian besar penduduk Dusun Wael mempunyai unit usaha budidaya rumput laut. Terdapat 172 KK pembudidaya rumput laut dimana tiap KK rata-rata mempunyai 5 unit rakit longline, total keseluruhannya adalah 860 unit dengan luas kepemilikan lahan 50 x 150 m2 tiap KK. Selain itu terdapat juga 3 kelompok pembudidaya yaitu kelompok budidaya Mitra Bahari, jumlah anggota 13 orang, kelompok budidaya Mae Topo Asa, jumlah anggota 31 orang, dan kelompok budidaya BSN, jumlah anggota 10 orang. Pengelolaan usaha budidaya rumput laut di Dusun Wael umumnya dengan sistem kekeluargaan. Suami biasanya yang merencanakan lokasi budidaya, penyiapan sarana budidaya, penempatan sarana budidaya di lokasi budidaya, penanaman bibit, sedangkan pemilihan bibit dan pengikatan bibit dilakukan oleh istri, anak-anak, dan kerabat yang lain.

Perawatan dan penyiangan tanaman melibatkan seluruh keluarga, suami, istri dan anak-anak, begitu pula dengan panen dan pascapanen.

(b) Teknologi budidaya, panen dan pascapanen

Terdapat 3 metode budidaya yang telah digunakan oleh pembudidaya rumput laut di Dusun Wael, yaitu metode lepas dasar, rakit, dan rakit longline, namun perawatan, teknik budidaya, teknologi panen dan pascapanen kurang mendapat perhatian. Selain itu produk rumput laut yang dihasilkan penjualannya terbatas hanya pada rumput laut kering saja dan belum ada diversifikasi produk olahan lain.

(c) Kapasitas produksi dan pemasaran

Produksi total rumput laut kering Kabupaten Seram bagian barat yang diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Seram bagian barat, dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Produksi total rumput laut kering Kabupaten Seram bagian barat

Tahun Produksi (ton) Nilai (Rp)

2003 15,0 75.000.000

2004 17,5 100.000.000

2005 230,2 783.000.000

2006 1.676,8 5.028.300.000

Pemasaran rumput laut di Dusun Wael, biasanya pembudidaya menjual produknya langsung pada pedagang pengumpul yang telah ada atau datang langsung di Dusun Wael. Harga pembelian biasanya Rp. 3.250-Rp. 4250/kg pada 2003-2007.

4.1.3 Permasalahan usaha budidaya rumput laut di Dusun Wael (a) Aspek penataan kawasan

Belum tertatanya penggunaan lahan oleh masyarakat, dimana masih terjadi tumpang tindih penggunaan lahan antara pembudidaya, nelayan penangkap dan pengguna jasa transportasi laut. Hal ini sering memunculkan permasalahan seperti kerusakan fasilitas sarana budidaya oleh pengguna jasa transportasi laut (katintin dan speed boat). Selain itu akibat belum adanya penataan kawasan sesuai peruntukannya, sering penangkap ikan melakukan penangkapan pada lokasi

budidaya rumput laut bahkan kadang dengan meggunakan bom dan potasium, akibatnya rumput laut disekitarnya menjadi rusak.

(b) Aspek teknis, panen dan pascapanen

Penguasaan terhadap teknologi budidaya oleh pembudidaya masih terbatas hanya pada metode budidaya sedangkan aspek lain seperti pemeliharaan dan teknik budidaya yaitu pemakaian bibit dan waktu panen yang belum efektif, penggunaan bibit yang sangat heterogen baik itu berat bibit maupun bagian thalus, sedangkan pemanenan dalam waktu yang sama. Semuanya ini belum dipandang sebagai bagian yang penting dari teknologi budidaya rumput laut. Permasalahan yang muncul adalah rendahnya kapasitas produksi rumput laut. Penguasaan terhadap teknologi panen dan pascapanen juga masih rendah. Panen dan pascapanen dilakukan seadanya saja, belum memperhatikan cara-cara panen dan pascapanen yang benar.

(c) Hama dan penyakit

Hama yang biasa menyerang rumput laut adalah ikan beronang, penyu dan lain-lain. Selain itu yang menjadi salah satu kendala terhadap perkembangan usaha budidaya rumput laut di Dusun Wael adalah adanya penyakit ice-ice. Akibat dari penyakit ice-ice, dapat membuat kerusakan rata-rata 70-75% rumput laut yang ada di Dusun Wael. Biasanya penyakit ice-ice ini muncul pada musim pancaroba baik pada saat pancaroba pertama pada Maret sampai Mei, maupun pancaroba kedua pada September sampai Nopember.

4.2 Faktor Lingkungan Perairan (a) Suhu permukaan laut

Pengaruh suhu terhadap sifat fisiologi organisme perairan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fotosintesis disamping cahaya dan konsentrasi fosfat (Odum 1971). Perbedaan suhu terjadi karena adanya perbedaan energi matahari yang diterima oleh perairan. Suhu akan naik dengan meningkatnya energi matahari yang masuk ke dalam perairan. Hal ini dapat meningkatkan kecepatan fotosintesis sampai pada radiasi tertentu. Hasil pengukuran suhu permukaan laut di lokasi penelitian berkisar antara 28-30oC. Sulistijo (1994) menyatakan kisaran

suhu perairan yang baik untuk rumput laut Eucheuma adalah 27–30 oC. Kisaran suhu yang baik untuk pertumbuhan Eucheuma cottonii adalah 24-31oC (Sugiarto 1984 diacu dalam Eidman 1991). Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi suhu perairan di Dusun Wael Desa Piru Kabupaten Seram bagian barat Provinsi Maluku, sesuai untuk pertumbuhan rumput laut Eucheuma cottonii.

(b) Kecepatan arus

Rumput laut merupakan organisme yang memperoleh makanan melalui aliran air yang melewatinya. Gerakan air yang cukup akan membawa nutrien yang cukup pula dan sekaligus mencuci kotoran yang menempel pada thalus. Besarnya kecepatan arus yang ideal antara 15-50 cm/det (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya 2005). Kecepatan arus selama penelitian berkisar antara 22-48 cm/det. Pergerakan air mempengaruhi bobot, bentuk thalus dan produksi bahan-bahan hidrokoloid Eucheuma (Doty 1987). Dengan demikian maka kecepatan arus selama penelitian cukup baik untuk pertumbuhan Eucheuma cottonii. Arus dan ombak yang berkekuatan besar dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman seperti patah, atau terlepas dari tali pengikat atau substratnya. Selain itu penyerapan unsur hara kurang optimal karena belum sempat diserap oleh rumput laut telah dibawa kembali oleh arus. Arus dan ombak yang besar di perairan pantai juga menyebabkan perairan menjadi keruh sehingga mengganggu proses fotosintesis tanaman. Kecepatan arus yang lambat dapat menyebabkan kotoran yang menempel pada thalus tidak seluruhnya dapat dibersihkan, dan pasokan unsur hara semakin terhambat karena pergerakan air yang kurang optimal.

(c) Salinitas

Eucheuma cottoniiadalah rumput laut yang bersifat stenohaline, yaitu tidak tahan terhadap fluktuasi salinitas yang tinggi. Salinitas yang baik berkisar antara 30-37 ppt (Kadi dan Atmaja 1988). Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar dari sungai dapat menyebabkan pertumbuhan rumput lautEucheumasp. menurun. Salinitas hasil pengukuran di lokasi penelitian berkisar antara 33-35 ppt. Berdasarkan hal ini, maka perairan Dusun Wael Desa Piru Kabupaten Seram bagian barat Propinsi Maluku sesuai untuk pembudidayaan rumput laut

Eucheuma cottonii. Pertumbuhan rumput laut maksimum apabila salinitas di perairan tempat budidaya cukup tinggi. Menurut Parker (1974) pertumbuhan alga Eucheuma cottonii optimum pada salinitas diatas 34 ppt. Hasil penelitian Iksan (2005) melaporkan bahwa kadar karaginan maksimum pada minggu keempat budidaya, dimana terjadi peningkatan salinitas sampai pada 35 ppt.

(d) pH

pH merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan alga laut, sama halnya dengan faktor-faktor lainnya. Kisaran pH perairan selama penelitian berkisar antara 7,5-8,0. Nilai pH perairan selama penelitian cukup baik untuk budidayaEucheuma cottonii. Aslan (1998) menyatakan bahwa kisaran pH untuk kehidupan organisme laut adalah 6,5-8,5. Chapman dan Chapman (1980) menyatakan bahwa hampir seluruh alga menyukai kisaran pH 6,8–9,6, sehingga pH bukanlah masalah dalam pertumbuhannya. Hasil penelitian Zatnika dan Angkasa (1994) melaporkan bahwa derajat keasaman (pH) yang baik bagi pertumbuhan rumput laut jenis Eucheuma adalah antara 7-9 dengan kisaran optimum 7,3-8,2.

(e) Kecerahan

Cahaya matahari merupakan sumber energi dalam proses fotosintesis. Dalam proses fotosintesis terjadi pembentukan bahan organik yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Kecerahan perairan berhubungan erat dengan penetrasi cahaya matahari. Kecerahan perairan yang ideal adalah lebih dari 1 m. Air yang keruh, biasanya mengandung lumpur dan dapat menghalangi tembusnya cahaya matahari di dalam air sehingga proses fotosintesis menjadi terganggu. Disamping itu kotoran dapat menutupi permukaan thalus dan menyebabkan thalus tersebut menjadi busuk atau patah. Secara keseluruhan kondisi ini akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan rumput laut. Hasil pengukuran kecerahan pada lokasi penelitian berkisar antara 2,50-5,25 m. Dapat disimpulkan bahwa kecerahan pada lokasi penelitian masih memungkinkan untuk pertumbuhan rumput lautEucheuma cottonii.

(f) Kedalaman perairan

Kedalaman perairan yang baik untuk budidaya rumput laut

Dokumen terkait