• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budidaya Padi Aromatik pada Saw ah I rigasi

Dalam dokumen bioindustri padi sapi 2015 (Halaman 48-53)

Pasar Puskesmas

4.4 Budidaya Padi Aromatik pada Saw ah I rigasi

Peningkatan nilai tambah dalam usahatani padi dapat dilakukan melalui perbaikan mutu beras. Hal ini akan berdampak positif bagi petani. Varietas padi mempengaruhi kualitas dan pendapatan petani. Konsumen umumnya memilih kualitas beras yang baik. Salah satu parameter yang menjadi tolak ukur pemilihan kualitas adalah aroma dan rasa nasi.

Penanaman padi aromatik dapat memberikan nilai tambah bagi petani karena harganya relatif lebih mahal dibandingkan harga padi nonaromatik. Padi varietas aromatik antara lain: Gilirang, Sintanur dan I npari 23. Adapun deskripsi darivarietas tersebut disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Deskripsi Varietas Padi Aromatik Gilirang, Sintanur dan I npari 23

Klasifikasi Varietas

Gilirang Sintanur I npari 23

Umur 116-125 hari 115-125 hari 113 hari

Bentuk tanaman Tegak Tegak Tegak

Tinggi 108-115 cm 115-125 112 cm

Kerontokan Sedang Sedang Sedang

Kerebahan Tahan Agak tahan Sedang

Kadar amilosa 18,9% 18% ± 17%

Tekstur nasi Pulen Pulen Pulen

Bobot 1000 butir 28 gram 27 gram 26 gram

Rataan hasil 6 ton/ ha 6 ton/ ha 6,9 ton/ ha Potensi hasil 7,5 ton/ ha 7 ton/ ha 9,2 ton/ ha

Dilepas 2002 2001 2012

Varietas padi aromatik yang ditanam pada kawasan model sistem pertanian bioindustri adalah I npari 23 dan Sintanur. Varietas Sintanur mempunyai umur yang lebih panjang dan ukuran gabah yang lebih besar dibandingkan dengan varietas I npari 23. Pada kawasan bioindustri telah ditanam padi dengan luasan 21 ha dalam 2 musim tanam. Musim tanam pertama 6 ha, sedangkan pada musim ke 2 ditanam dalam luasan 15 ha. Jumlah petani kooperator yang terlibat dalam kegiatan ini ada 23 orang petani.

Sebelum dilakukan pengolahan lahan dilakukan pengambilan sampel tanah awal untuk mengetahui status hara tanah. Status hara awal diperlukan untuk menyusun dosis pupuk yang akan diaplikasikan pada pertanaman padi. Semakin subur kondisi tanaman semakin rendah dosis pupuk yang diberikan, begitu juga sebaliknya. Hal ini diperlukan dalam upaya untuk mendapatkan produktivitas padi yang diharapkan (> 7 ton GKG/ ha). Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa tekstur tanah sawah irigasi di Kelurahan Rimbo Kedui termasuk dalam tekstur tanah debu berlempung dengan komposisi masing -masing pasir 2,67% , lempung 45,77% dan debu 51,56% dengan pH 5,75 (agak masam). Adapun tingkat kesuburan lahannya dapat dikategorikan cukup subur dengan indikator kandungan unsur N 0,29% , P 6,28 ppm, K 0,26 me/ 100 g, Na 0,47 me/ 100 g, Ca 2,18 me/ 100 g, dan Mg 3,65 me/ 100 g(Lampiran 2).

Pupuk kandang dan biopestisida yang digunakan berbasis limbah ternak sapi. Limbah sapi berbentuk padatan digunakan sebagai pupuk kandang sementara urine sapi dimanfaatkan sebagai biopestisida. Pupuk kandang yang

digunakan terlebih dahulu dilakukan analisis laboratorium untuk mengetahui kandungan unsur haranya.Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa pupuk kandang yang tersedia di petani mempunyai kandungan sebagai berikut: N-total 8,03% , P2O5 4,02% , K2O 0,17% , pH 7,5(Lampiran4).

Ada 3 inovasi teknologi budidaya yang diterapkan dalam model sistem pertanian bioindustri di Kelurahan Rimbo Kedui Kabupaten Seluma. Ke 3 inovasi teknologi budidaya tersebut adalah teknologi budidaya padi organik, teknologi budidaya padi ramah lingkungan, dan teknologi budidaya padi dengan pendekatan PTT (Tabel 8). Jenis dan dosis pemupukan pada inovasi teknologi budidaya padi aromatik ditentukan berdasarkan analisis laboratorium terhadap tanah awal dan kompos/ pupuk kandang yang digunakan dalam pengkajian.

Tabel 8. I novasi Teknologi Budidaya Padi Aromatik yang Diterapkan pada Model Sistem Pertanian Bioindustri di Kabupaten Seluma Tahun 2015.

I novasi Teknologi Budidaya Padi

Jenis dan Dosis Pupuk Pestisida

Organik Pupuk Kandang: 7.200 kg/ ha Biopestisida

Ramah Lingkungan Pupuk Kandang: 3.600 kg/ ha Phonska: 150 kg/ ha Urea: 100 kg/ ha Biopestisida (Biourine) Pendekatan PTT Phonska: 300 kg/ ha Urea: 200 kg/ ha Pestisida Sintetik

Penanaman padi aromatik dilakukan dengan menggunakan sistem tanam jajar legowo 2: 1. Untuk mempercepat adopsi jajar legowo 2: 1 didistribusikan caplak roda jajar legowo 2: 1 kepada kelompok tani di Gapoktan Rimbo Jaya (Lampiran 5). Penggunaan sistem tanam jajar legowo telah dikenal dan diadopsi oleh petani di Kelurahanm Rimbo Kedui. Sistem tanam jajar legowo 2: 1 diyakini lebih unggul dalam hal meningkatkan produktivitas melalui peningkatan populasi tanaman yang sangat nyata. I novasi teknologi ini diyakini dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.

Penanaman padi aromatik mempunyai tantangan dan resiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas non aromatik. Varietas aromatik yang tersedia di BB padi hanya ada 3 varietas yaitu Gilirang, Sintanur dan I npari 23. Berbeda dengan varietas non aromatik yang mempunyai ratusan pilihan varietas yang spesifik lokasi. Varietas aromatik lebih disukai oleh Organisme Pengganggu

Tanaman (OPT) karena mempunyai daya tarik tersendiri, di mana aromanya sudah dapat tercium mulai dari fase vegetatif.

Salah satu tantangan dalam budidaya padi aromatik, khususnya dengan teknologi budidaya organik dan semi organik/ ramah lingkungan adalah adanya serangan blast yang sudah dimulai sejak fase vegetatif. Penyakit ini mudah sekali menyerang dengan adanya stimulasi cuaca. Penyakit ini menyerang jika mendapatkan lingkungan yang sesuai yaitu lingkungan dengan kelembaban tinggi dan suhu yang tinggi. Pertanaman padi aromatik varietas I npari 23 dengan teknologi organik dan semi organik/ ramah lingkungan terkena serangan blast cukup berat, sedangkan dengan teknologi organik Varietas Sintanur dan I npari 23 tidak terserang blast. Kondisi ini membuka peluang untuk melaksanakan kajian yang lebih mendalam mengenai metode pengendalian blast yang efektif, efisien baik melalui penggunaan pestisida maupun culture teknis misalnya dengan varietas maupun jenis dan dosis pupuk yang digunakan.Serangan penyakit blast sangat berbahaya pada fase vegetatif maupun generatif. Penyakit ini dapat menyebabkan gagal panen (Lampiran6). Melalui pengamatan dan pemilihan racun/ pestisidayang tepat penyakit ini mampu dikendalikan dengan baik. Pencegahan dan persedian fungisida sangat penting untuk mencegah maupun mengendalikan penyakit ini.

Memberikan keyakinan pada petani untuk menggunakan teknologi budidaya secara organik dan semi organik juga cukup sulit. Para petani belum yakin dan belum terbiasa bahwa pupuk kandang dan biopestisida dalam jumlah yang cukup juga dapat memberikan produktivitas yang sebanding dengan kualitas yang lebih baik. Secara umum petani belum bersedia menerapkan karena resikonya yang cukup tinggi dari menurunnya produktivitas hingga kemungkinan gagal panen. Ketersediaan pasar beras organik dan kesediaan masyarakat untuk membeli (Willingness to Pay: WTP) juga menjadi pertimbangan petani dalam mengadopsi teknologi budidaya organik dan semiorganik. Dalam kegiatan ini juga akan dilakukan penciptaan pasar dan promosi keunggulan produk organik kepada masyarakat menengah ke atas. Saat ini para petani masih memilih untuk mengadopsi teknologi budidaya semiorganik dan pendekatan PTT.

Pada kajian ini diperoleh hasil bahwa penggunaan kompos atau bahan organik dan biopestisida mampu memberikan hasil yang cukup tinggi dan hampir

sebanding dengan penggunaan pupuk anorganik dan pestisida sintetik. Produktivitas padi varietas I npari 23 dengan budidaya organik, semiorganik dan pendekatan PTT berturut-turut adalah 7,56; 7,66; 8,62 t GKP/ ha (Tabel 9).

Tabel 9. Keragaan Pertumbuhan dan Hasil Varietas Padi Aromatik di Kabupaten Seluma pada Tahun 2015.

Budidaya Padi Tinggi Tan. (cm) Jumlah Anakan Hasil

(GKP t/ ha) K.A. Gabah (% ) HI (% ) 28 HST 45 HST 28 HST 45 HST Organik Semiorganik PTT 75,29 74,64 68,68 103,20 112,00 106,34 13,29 12,27 12,11 8,87 10,89 10,48 7,56 7,66 8,62 19,36 19,15 20,89 41,70 34,14 30,77

Tabel 9 menunjukkan bahwa teknologi budidaya padi aromatik dengan pendekatan PTT memberikan hasil yang paling tinggi dan diikuti oleh teknologi budidaya semiorganik dan organik. Hal ini didukung oleh data komponen pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Pada tanaman padi dengan t eknologi organik pada awalnya mempunyai jumlah anakan yang tinggi, yaitu 13,29 anakan per rumpun tetapi jumlahnya menurun dengan drastis pada umur 45 HST menjadi 8,87 anakan/ rumpun. Kondisi ini berkaitan dengan kemampuan dari tanah dalam menyediakan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Teknologi budidaya padi organik dan semiorganik mempunyai produktivitas yang hampir sama yaitu 7,56 dan 7,66 GKP t/ ha, sedangkan teknologi budidaya dengan pendekatan PTT mempunyai pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta hasil yang jauh lebih baik yaitu 8,62 GKP t/ ha. Hal ini berkaitan dengan tingkat ketersediaan unsur hara makro, khususnya N yang relatif rendah (Tabel 10)dan tingginya tingkat serangan hama dan penyakit tanaman.

Tabel 10. Kandungan Unsur Hara Tanah setelah Panen pada Lahan yang Diperlakukan dengan 3 Teknologi Budidaya Padi di Kabupaten Seluma pada Tahun 2015.

Teknologi

Budidaya pH

Kandungan Unsur Hara Makro

% Me/ 100 g N P K Na Ca Mg Organik Semi organik Pendekatan PTT 5,60 5,10 5,80 0,13 0,26 0,24 26,61 29,27 21,78 1,13 1,36 1,35 0,16 0,16 0,51 2,14 2,06 1,67 5,95 3,99 4,95

Tabel 10 menunjukkan bahwa pH dan kandungan unsur hara setelah panen pada lahan yang diperlakukan dengan 3 teknologi budidaya padi hampir sama, kecuali unsur hara N dan K. Pada Tabel 10 menunjukkan bahwa kandungan unsur hara N berkisar antara 0,13 - 0,26% , dengan kriteria rendah sampai dengan sedang dengan nilai pH berkisar antara 5,10 - 5,80 (agak masam). Rendahnya kandungan unsur nitrogen dan kalium dalam tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman khususnya jumlah anakan aktif dan produktif serta menurunnya kemampuan tanaman dalam pengisian gabah yang berakibat pada rendahnya produktifitas. Jumlah anakan produktif dan jumlah gabah isi per malai merupakan komponen hasil utama yang menentukan produktivitas tanaman padi.

Dalam dokumen bioindustri padi sapi 2015 (Halaman 48-53)

Dokumen terkait