BAB III DINAMIKA PERTANIAN NILAM DI DESA BONGKARAS
3.1.3 Budidaya Yang Praktis
Budidaya pertanian nilam yang dilakukan masyarakat di Desa Bongkaras terbilang masih tradisional dan sangat praktis. Selain itu, waktu panen nilam juga terbilang cepat dan dapat melakukan panen lebih dari satu kali dalam sekali
33 Wawancara, dengan H. Sihaloho, Desa Bongkaras tanggal 9 Oktober 2015.
34 Wawancara, dengan Lumat Padang, Desa Sidiangkat tanggal 15 Mei 2015.
penanaman. Penggunaan alat-alat dan pengolahan yang dilakukan dalam pertanian nilam terbilang praktis dan sangat mudah.35 Hal ini terlihat dari peralatan dan cara yang digunakan sebelum penanam nilam sampai pada proses pemanenan. Penanaman nilam biasanya dilakukan di lahan yang berbukit. Pada tahap penyiapan lahan masyarakat Desa Bongkaras membuka lahan baru di hutan yang belum pernah dikelola sebelumnya oleh mereka, dan untuk proses penanaman nilam mereka harus membersihkan rerumputan yang ada di lahan tersebut kemudian membuat gundukan-gundukan tanah (berbentuk larikan) dan dilubangi untuk menanam bibit nilam. Selain ada yang membuka lahan baru di hutan, masyarakat Desa Bongkaras ada juga yang memanfaatkan lahan bekas menanam padi untuk dijadikan lahan menanam nilam.
Kegiatan penanaman bibit nilam biasanya dilakukan pada sore hari sekitar pukul 16:00. Sementara untuk pembibitan, bibit nilam mereka mereka peroleh dengan meminta dari tetangga yang sudah menanam nilam sebelumnya namun, karena bibit yang dibutuhkan banyak maka kemudian mereka membelinya dari Pasar Kota Sidikalang dan kemudian di stek untuk persediaan bibit nilam pada penananam selanjutnya. Jarak tanam bibit nilam sekitar 50 cm x 50 cm antara bibit nilam lainnya.36
Dalam hal perawatan nilam, petani masih menggunakan cara-cara tradisional.
Sebenarnya nilam tidak membutuhkan perawatan khusus mereka hanya perlu
35 Wawancara, dengan Poni Simarmata, Desa Bongkaras tanggal 11 Desember 2015.
36 Wawancara, dengan Henry Panjaitan, Desa Parongil tanggal 7 April 2015.
membersihkan rerumputan yang tumbuh di sekitar nilam jika dirasa sudah mengganggu pertumbuhan tanaman. Alat yang digunakan untuk membersihkannya hanyalah cangkul kecil. Dari penanaman hingga pemanenan mereka tidak membutuhkan alat-alat yang modern. Pada saat pemanenan daun nilam, mereka hanya menggunakan sabit atau gunting untuk mengambil bagian atas dari tanaman nilam sedangkan pengolahan pasca panen yaitu penyulingan mereka menggunakan alat penyulingan yang terbuat dari drum-drum (ketel), pipa aluminium, serta kayu bakar dan air sebagai bahan untuk menguapkannya. Memang biaya yang dibutuhkan untuk membuat alat penyulingan ini cukup mahal, sehingga di Desa Bongkaras hanya terdapat dua alat penyulingan saja.
Tanaman nilam dapat di panen pada umur sekitar 6-7 bulan. Bagian tanaman yang dapat di panen adalah bagian daun dan batang yang masih muda atau dapat disebut hanya bagian atasnya saja. Kemudian bagian tanaman yang sudah di panen dikering-anginkan selama 2-3 hari agar kadar airnya berkurang. Setelah 3 atau 4 bulan panen pertama, pemanenan nilam kedua sudah dapat dilakukan. Nilam dapat di panen 3 sampai 4 kali setelah itu baru diremajakan atau di tanam bibit nilam yang baru lagi. Sistem panen nilam yang dapat di panen lebih dari satu kali dengan jangka waktu panen yang relatif cepat merupakan salah satu faktor pendorong minat petani mulai menanam nilam.
Setelah daun dan batang muda dikering-anginkan maka proses terakhir adalah penyulingan nilam. Penyulingan minyak nilam dilakukan dengan sistem uap. Air
direbus dengan api besar hingga mendidih kemudian bagian nilam yang sudah kering diuapkan sekitar 4,5 jam. Kemudian uap yang dihasilkan dari penguapan daun nilam tersebut kemudian mengalir melalui pipa alumunium yang terhubung dengan drum yang lain sehingga didapatlah minyak nilam yang masih mengandung sedikit air.
Setelah itu, minyak nilam dipisahkan dari air yang terikut pada saat penguapan.
Penyulingan nilam dilakukan harus dengan api yang besar, air yang banyak dan membutuhkan waktu yang lama. Oleh sebab itu, petani membutuhkan banyak sekali kayu bakar untuk dapat menghasilkan api yang besar untuk merebus air. Hal ini juga berhubungan dengan lokasi tempat penyulingannya. Lokasi penyulingan biasanya terletak dekat dengan hutan agar memudahkan mereka memperoleh kayu bakar dan dekat dengan sumber air.
Di Desa Bongkaras tidak semuanya petani nilam mempunyai alat penyulingan. Petani yang tidak mempunyai alat penyulingan akan menyewa alat penyulingan dengan biaya 1 ons minyak nilam jika mereka membawa kayu bakar sendiri dan bila mereka tidak membawa kayu bakar mereka dikenai biaya 3 ons minyak nilam.37 Tetapi bagi sebagian petani, mereka juga dapat menjual daun nilam yang sudah dikering-anginkan saja dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan minyak nilam. Setelah selesai proses penyulingan dan dihasilkan minyak nilam maka minyak nilam sudah dapat dijual. Sisa bagian nilam yang sudah selesai di
37 Wawancara, dengan Poni Simarmata, Desa Bongkaras 9 Oktober 2015.
suling kemudian dikumpulkan dalam goni kemudian digunakan sebagai pupuk alami atau kompos untuk tanaman mereka.
Sistem panen yang cepat dan dapat dilakukan berkali-kali ini merupakan kelebihan dari tanaman nilam. Di atas sudah dijelaskan bagaimana pertanian nilam mulai dari penanaman hingga pemanenan yang masih menggunakan cara-cara tradisional dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Pada tahap terakhir yaitu penyulingan nilam petani memang membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan minyak nilam namun, bagi mereka yang ingin lebih praktis mereka juga dapat menjual daun yang sudah dikering-anginkan saja kepada pengepul/pengumpul.
Pengepul/pengumpul biasanya petani yang mempunyai alat penyulingan. Hal inilah yang dianggap dapat menguntungkan bagi petani.
3.2 Pertanian Nilam di Desa Bongkaras 1970-1985
Pertanian merupakan mata pencaharian mayoritas masyarakat di Desa Bongkaras. Pertanian yang dikenal dari masyarakat Desa Bongkaras adalah pertanian nilamnya. Hampir mayoritas masyarakat di Dairi kalau sudah dikatakan “nilam”
maka mereka akan menyebutkan “Bongkaras” sebagai daerah sentra penghasil minyak nilam. Begitu melekat di pikiran mereka mengenai Bongkaras yang masyarakatnya banyak yang menanam nilam. Nilam merupakan tanaman yang sudah cukup lama dikenal masyarakat di Dairi.
Tanaman nilam sudah lama dikenal dan ditanam masyarakat di Desa Bongkaras jauh sebelum pertanian nilam berkembang ditahun-tahun 1970-an. Nilam sebelumnya hanya ditemukan tumbuh liar di hutan. Sebelumnya, sangat sedikit masyarakat yang khusus menanamnya sebagai salah satu tanaman di kebun mereka.
Namun, ketika tahun 1970 tanaman nilam mulai diminati masyarakat di Desa Bongkaras untuk dibudidayakan secara khusus. Minat masyarakat untuk menanam nilam dipengaruhi oleh harga minyak nilam yang mahal di pasaran. Jumlah petani yang menanam nilam secara khusus pun, semakin bertambah di tahun 1970.
Pertanian nilam pada tahun tersebut memang semakin banyak digeluti oleh petani-petani di desa lain, hal ini mengingat harga minyak nilam yang mahal.
Sebagian besar kawasan Desa Bongkaras adalah kawasan hutan yang semak belukar. Oleh sebab itu, ketika masyarakat ingin menanam nilam mereka biasanya membuka lahan hutan karena kondisi tanahnya masih subur dan masih banyak mengandung humus. Pada tahun 1970-an lahan hutan yang mereka kelola merupakan lahan yang sudah menjadi milik keluarga atau sudah diwariskan oleh orang tua mereka terdahulu. Namun, mereka ada juga yang memperoleh lahan dari proses jual beli. Selain, membuka lahan baru untuk menanam nilam mereka juga memanfaatkan lahan bekas menanam padi untuk ditanami nilam juga. Ketika mereka sudah selesai memanen padi, lahan lalu dibersihkan untuk kemudian dikelola menjadi lahan pertanian nilam yang ditumpangsarikan dengan tanaman lain.
Banyaknya petani yang mulai menanam nilam menandakan bahwa penghasilan dari bertani nilam dapat membantu perekonomian keluarga. Penambahan jumlah petani yang menanan nilam berbanding lurus dengan luas lahan pertanian nilam di desa ini. Semakin banyak petani yang menanam nilam semakin luas pula lahan yang digunakan. Begitu juga sebaliknya. Sebelumnya, luas lahan pertanian nilam biasanya petani hanya mempunyai beberapa rante saja lahan yang ditanami nilam per Kepala Keluarga (KK). Namun, setelah masyarakat banyak menanam nilam di tahun 1970 maka luas lahan pertanian nilam pun semakin bertambah. Lahan pertanian nilam yang mereka kelola biasanya luasnya berkisar satu hektar per KK.
Lahan pertanian nilam yang satu hektar ini tidak berada di satu lokasi yang sama melainkan ini penjumlahan luas lahan pertanian nilam yang lokasinya berbeda-beda, ada yang di hutan dan ada juga yang sudah berada di lahan kebun bersamaan dengan tanaman lainnya. Oleh sebab itu, setelah masyarakat ramai menanam nilam, lokasi penanaman nilam tidak lagi hanya di hutan saja melainkan sudah ada yang berada di kebun yang dekat dengan perkampungan.
Dalam pengerjaannya mulai dari penyiapan lahan hingga perawatan tidak memerlukan tenaga bantuan. Mereka biasanya hanya menggunakan tenaga dari keluarga inti saja, setelah pulang sekolah anak-anak mereka biasanya akan pergi ke ladang untuk membantu pekerjaan orang tuanya. Namun, pada saat pemanenan mereka membutuhkan tenaga bantuan untuk membantu mereka memanen nilam.
Tenaga bantuan ini biasanya para tetangga (biasanya yang ladangnya bertetangga)
atau masyarakat yang sama-sama tinggal di desa ini. Tenaga bantuan ini sifatnya saling gotong royong dan bergantian. Maksudnya adalah ketika sedang membutuhkan bantuan di ladang, mereka dapat minta tolong untuk dibantu oleh para tetangga dan jika mereka membutuhkan tenaga bantuan, juga harus bersedia membantu pekerjaannya di ladang. Biasanya yang punya ladang hanya menyiapkan minuman dan makan siang saja untuk orang yang membantu mereka di ladang.
Pada tahun 1970-an pertanian nilam memang menarik minat petani untuk menanamnya, selain harganya yang tinggi di pasaran, sistem budidaya yang praktis dan waktu panen yang relatif singkat juga mendorong minat masyarakat untuk menanam nilam. Tanaman nilam dapat dikatakan sebagai tanaman primadona bagi masyarakat Desa Bongkaras pada periode itu. Banyak masyarakat Bongkaras yang merasakan keuntungan setelah mereka mulai menanam nilam. Mereka sudah dapat menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, merenovasi rumah, membeli emas dan juga mampu membeli hewan ternak seperti kerbau.
Memang penghasilan mereka bukan hanya dari pertanian nilam saja, mereka juga bercocok tanam tanaman lainnya sehingga penghasilan yang didapat sudah semakin meningkat. Pada tahun 1970-1985 harga rata-rata minyak nilam di Indonesia berkisar Rp.5.000,00-Rp.23.000,-/Kg, harga ini biasanya tidak jauh berbeda dengan harga yang ada di desa-desa.
Secara rata-rata masyarakat di desa ini memiliki luas lahan berkisar satu hektar per kepala keluarga. Letak lahan penanaman nilam ini tidak berada disatu
lokasi yang sama, melainkan penjumlahan dari lahan nilam yang tempatnya berbeda-beda. Dalam 1 rante mereka dapat memperoleh daun nilam kering rata-rata 120 kg dan 3.000 kg per hektarnya. Misalnya, jika disuling daun nilam yang kering sebanyak 120 kg maka minyak nilam yang akan mereka peroleh sekitar 3 kilogram minyak nilam. Menurut hasil wawancara, dari 40 kg daun nilam (1 ketel) maka bisa diperoleh minyak sekitar 1 kg dalam sekali penyulingan. Berarti dapat diperkirakan sesuai dengan harga minyak nilam di pasaran pada tahun 1970-an yaitu Rp. 5.000,. maka mereka dapat memperoleh penghasilan sekitar Rp. 15.000,-. Penghasilan dari bertani nilam pada saat itu dapat dikatakan memang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Modal yang mereka keluarkan untuk bertani nilam tidaklah begitu besar mulai dari bibit, kayu dan air. Untuk penanaman selanjutnya, biasanya mereka akan mengambil bibit dengan cara di stek dari tanaman nilam yang sudah mereka tanam sebelumnya yang dianggap bagus untuk dijadikan bibit. Mereka dapat mengambil kayu bakar dan air dengan mudah karena masih banyak tersedia bebas di hutan sekitar mereka. Untuk menyewa alat penyulingan mereka hanya membayar 1 ons jika mereka membawa kayu sendiri dan jika kayunya disediakan oleh si pemilik alat penyulingan maka bertambah biaya menyewanya menjadi 3 ons minyak nilam.
Semenjak masyarakat di desa ini banyak yang menanam nilam, terlihat adanya perubahan yang nyata dimana mereka sudah mampu untuk merenovasi rumah, menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan sudah mempunyai aset seperti emas dan hewan ternak. Kehidupan mereka pun
terlihat semakin sejahtera dengan banyaknya masyarakat yang mampu mengecap pendidikan yang lebih tinggi lagi. Selain itu, masyarakat Bongkaras juga dikenal sebagai petani nilam yang mampu menghasilkan kualitas yang bagus yaitu kadar minyak yang tinggi dan aromanya yang khas, baik dikalangan masyarakat Dairi maupun pengekspor nilam di Indonesia dengan sebutan minyak “nilam Sidikalang”.
Hal ini juga memperlihatkan potensi sumber daya alam di Dairi yang mampu bersaing di skala nasional maupun internasional.
Namun, hal ini hanya berlangsung hanya beberapa tahun saja yaitu antara 1970-1985. Pada rentang tahun ini banyaknya petani yang menanam nilam, jumlahnya tidak selalu konsisten tetapi jumlah ini termasuk yang sudah banyak dibanding sebelum tahun 1970. Penurunan minat petani untuk menanam nilam disebabkan harga minyak nilam yang tidak konsisten atau sering mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu, minat petani untuk menanam nilam pun semakin berkurang. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 1
Jumlah Penduduk dan Petani Yang Menanam Nilam Di Desa Bongkaras
Tahun Jumlah Penduduk di Desa Bongkaras Jumlah Petani Nilam Persentasi
1970 36 KK 30 KK 83%
1975 43 KK 25 KK 58%
1980 56 KK 11 KK 20%
1985 67 KK 7 KK 10%
Sumber: Data Diolah Dari Hasil Wawancara Dengan Beberapa Narasumber
Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa jumlah petani yang menanam nilam pada tahun 1970 ada 30 KK, jumlah ini tergolong jauh lebih banyak dibandingkan jumlah petani nilam pada tahun sebelumnya yang hanya beberapa KK saja. Jumlah petani yang menanam nilam berbanding lurus dengan luas lahan dari pertanian nilam.
pSemakin banyak yang menanam nilam maka semakin luas juga lahan pertanian nilam di Desa Bongkaras begitu juga sebaliknya. Biasanya 1 KK memiliki rata-rata luas lahan pertanian nilam sekitar 1 hektar. Jumlah ini merupakan hasil penjumlahan dari luas lahan yang lokasi berbeda-beda. Untuk jumlah petani yang menanam nilam pada rentang waktu 1970-1985 setiap lima tahun terus mengalami penurunan yang diakibatkan harga minyak nilam yang fluktuatif.
Tabel 2
Rata-rata Luas Lahan Pertanian Nilam Di Desa Bongkaras
No. Tahun Rata-Rata Luas Lahan Pertanian Nilam (Ha)
1. 1970 30
2. 1975 25
3. 1980 11
4. 1985 7
Sumber: Data Diolah Dari Hasil Wawancara Dengan Beberapa Narasumber
Harga minyak nilam yang fluktuatif diakibatkan oleh munculnya negara produsen minyak nilam lain yang menjadi pesaing Indonesia dalam mengekspor minyak nilam. Republik Rakyat Cina (yang sekarang Tiongkok) merupakan negara produsen minyak nilam yang ikut mengekspor minyak nilam sehingga permintaan minyak nilam ke Indonesia juga semakin menurun karena munculnya produsen baru.
Selain munculnya produsen baru yaitu RRC (Republik Rakyat Cina), industri pembuatan sabun yang juga menggunakan bahan minyak nilam sebagai bahan pewanginya pada pertengahan 1970-1980 mengurangi pemakaian minyak nilam karena dianggap terlalu mahal. Oleh sebab itu, harga minyak nilam turun seiring berkurangnya permintaan pasar terhadap minyak nilam Indonesia. Minat para petani di Desa Bongkaras dalam bertani nilam pun lama-kelamaan menurun dikarenakan harga yang tidak menentu di pasaran. Mereka juga telah memperhitungkan berapa
modal dan tenaga yang dikeluarkan untuk bertanam nilam mulai dari keperluan bibit hingga proses penyulingan tidak lagi menguntungkan apabila harga minyak nilam turun drastis.38 Hingga pada tahun 1985 jumlah petani tinggal 7 KK lagi yang masih menanam nilam, hal ini memperlihatkan berkurangnya minat petani untuk menanam nilam.
38 Wawancara, dengan Henry Panjaitan, Desa Parongil 7 April 2015.
39 Titik Sudaryani dan Endang Sugiharti, Budidaya dan Penyulingan Nilam, Jakarta: Penerbit
Dalam hal ini dapat kita lihat (tabel II) dimana harga minyak nilam pada tahun 1979 berkisar Rp. 18.000,-, namun harga ini tidak berlangsung lama pada tahun 1980 harga minyak nilam turun drastis hampir 50% dari harga sebelumnya menjadi Rp.
9.000,-. Oleh sebab itu, petani yang menanam nilam juga semakin sedikit karena harga minyak nilam tidak lagi dianggap menguntungkan bagi mereka.
Tabel 4
Rata-rata Jumlah Produksi Daun Nilam dan Minyak Nilam di Desa Bongkaras
No. Tahun Luas Lahan (Ha) Daun Nilam (Ton) Minyak Nilam (Ton)
1. 1970 30 90 2,25
2. 1975 25 75 1,875
3. 1980 11 33 0,825
4. 1985 7 21 0,525
Sumber: Data Diolah Dari Hasil Wawancara Dengan Beberapa Narasumber
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa pada tahun 1970 luas lahan pertanian 30 Hektar dapat menghasilkan 90 Ton daun nilam (1 hektar dapat menghasilkan 3 Ton daun nilam), kemudian dari 90 Ton daun nilam tersebut dapat menghasilkan minyak nilam sekitar 2,25 Ton (40 Kg daun nilam kering dapat menghasilkan 1 Kg minyak nilam). Pada tahun 1985 luas pertanian nilam hanya 7 Hektar yang dapat menghasilkan 21 Ton daun nilam dan 0,525 Ton minyak nilam. Dari tabel ini dapat dilihat penurunan produksi baik daun nilam maupun minyak nilam dari tahun 1970 ke
tahun 1985. Berkurangnya minat petani dalam pertanian nilam ini nampaknya bukan hanya terjadi di Desa Bongkaras melainkan di daerah lain di Sumatera Utara. Hal ini dapat dilihat dari luas areal lahan pertanian nilam di Sumatera Utara tahun 1975-1981 dan jumlah produksi minyak nilam di Sumatera Utara tahun 1975-1981 yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun pada tabel berikut ini:
Tabel 5
Luas Areal Lahan Pertanian Nilam di Sumatera Utara 1975-1981
No. Tahun Luas Areal Pertanian Nilam (Ha)
1. 1975 4.281
2. 1976 3.508
3. 1977 1.870
4. 1978 1.114
5. 1979 1.208
6. 1980 924
7. 1981 766
Sumber: Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 1981
Tabel 6
Jumlah Produksi Nilam di Sumatera Utara 1975-1981
No. Tahun Jumlah Produksi Nilam (Ton)
1. 1975 344
2. 1976 269
3. 1977 158
4. 1978 109
5. 1979 116
6. 1980 120
7. 1981 73
Sumber: Sumatera Utara Dalam Angka Tahun 1981
Dalam pertanian memang sering terjadi hal seperti ini dimana satu jenis tanaman memiliki masa-masa primadonanya ada yang bertahan beberapa tahun ada juga sampai berpuluh tahun. Hal ini tergantung berapa besar keuntungan yang diperoleh petani dari komoditi tersebut. Pola pikir petani pun terus mengikuti perubahan harga komoditi-komoditi pertanian di pasaran. Memang prinsip demikian membantu petani untuk dapat terus bertahan mengandalkan penghasilan pertanian sebagai salah satu sumber penghasilan untuk keperluan sehari-hari. Harga memang faktor pertama yang dianggap petani paling menentukan apakah komoditi ini menguntungkan atau tidak untuk ditanam, namun ada beberapa hal yang juga
mempengaruhi minat petani untuk menanam nilam yaitu munculnya tanaman baru yang memungkinkan untuk dikembangkan.
Munculnya tanaman baru yang menarik minat petani di Desa Bongkaras memang salah satu penyebab berkurangnya minat mereka menanam nilam. Pada akhir-akhir tahun 1980 petani mulai beralih dari menanam nilam menjadi menanam tanaman coklat, kopi khususnya arabika, dan tanaman durian. Beralihnya minat mereka ke 3 jenis tanaman ini disebabkan harga tanaman-tanaman ini lebih stabil dan cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hal itu diakibatkan banyaknya permintaan pasar terhadap coklat, kopi maupun durian sehingga harganya juga semakin meningkat. Oleh sebab itu, petani akhirnya lebih memilih menanam tanaman coklat, kopi, dan durian. Walaupun demikian, tidak semua petani di Desa Bongkaras enggan untuk menanam nilam. Petani yang sudah mempunyai banyak modal biasanya tetap bertani nilam, namun mereka tidak langsung menjual minyak nilam jika harga minyak nilam di pasaran rendah. Setelah mereka selesai melakukan penyulingan, minyak nilam kemudian dikemas kedalam drum agar dapat disimpan ke dalam gudang sembari menunggu harga minyak nilam kembali tinggi. Minyak nilam yang disimpan dalam jangka waktu lama tidak akan berubah kualitasnya.
BAB IV
SISTEM BUDIDAYA PERTANIAN NILAM DI DESA BONGKARAS
Tanaman nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak asiri yang dikenal dengan minyak nilam (Patchouly Oil).40 Minyak nilam merupakan bagian yang diinginkan dari tujuan menanam nilam. Salah satu hal yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas produksi minyak nilam adalah sistem budidaya pertanian yang diterapkan. Budidaya adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk memberikan hasil dan manfaat. Dalam budidaya pertanian nilam yang ada di daerah lain di Indonesia maupun di Desa Bongkaras masih terbilang tradisional. Teknik-teknik budidaya nilam yang dilakukan oleh petani hampir sama di setiap daerah yang juga menanam nilam.
Budidaya nilam yang biasa dilakukan masyarakat Desa Bongkaras adalah penyiapan lahan dan pembibitan, penanaman dan perawatan, pemanenan, dan proses pasca panen. Semua tahapan-tahapan itu dilakukan oleh petani dengan bantuan dari keluarga inti mereka saja kecuali, terkadang mereka menggunakan tenaga bantuan dalam hal memanen. Dalam pertanian nilam tidak begitu dibutuhkan modal yang besar. Pada tahun 1970-an mereka belum menggunakan pupuk organik untuk membantu pertumbuhan nilam, karena tanah yang digunakan sebagai lahan pertanian nilam masih banyak humusnya. Mereka juga memanfaatkan sisa-sisa dari
40 Andri Daniel, Prospek Bertanam Nilam:Wangi Baunya, Mudah Budidayanya, Nyata Untungnya, Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2012, hlm. 93.
penggilingan padi untuk dijadikan pupuk alami bagi nilam. Mereka berusaha sebisa mungkin memanfaatkan yang tersedia agar mengurangi modal yang digunakan dalam bertani nilam. Selain itu, mereka juga menggunakan alat-alat sederhana untuk membantu mereka dalam bertani nilam.
4.1 Penyiapan Lahan dan Pembibitan
4.1 Penyiapan Lahan dan Pembibitan