• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDIDAYA TANAMAN BUAH DAN SAYUR DALAM POT SOLUSI MENANAM DI PEKARANGAN SEMPIT

Pandu Arya Prakasa1, Elfira Noor Putri Khusnul Khotimah2, Lathiifah Triana Dewi3, Zulhijjati Jayaningtyas4, Rizkya Kusuma Ardiana Safitri5

1

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini , 3Pendidikan Bahasa Jepang, 4Pendidikan Matematika, 5Pendidikan Ekonomi Koperasi,

Universitas Negeri Semarang Email: [email protected]

ABSTRAK

Pada awal tahun 2020 masyarakat di seluruh dunia dihebohkan dengan kehadiran COVID-19 yang menginfeksi jutaan orang di dunia. Hingga saat ini vaksin yang sudah dibuat belum juga belum dapat mencegah orang tertular virus ini. Sejak awal kemunculannya, COVID-19 telah memberikan dampak yang sangat besar di berbagai sektor kehidupan terutama pada sektor perekonomian. Masa pendemi COVID-19 memaksa setiap orang untuk tinggal di rumah dan melaksanakan semua aktivitas secara daring demi memutus mata rantai penyebaran virus. Hal tersebut membuat banyak masyarakat merasa jenuh karena tidak dapat melakukan banyak aktivitas di luar rumah. Kondisi tersebut memberikan kami ide untuk melaksanakan salah satu program kerja KKN yang dilaksanakan di Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang berupa pelatihan budidaya tanaman sayur yang dapat membantu menopang kebutuhan pangan rumah tangga. Sehubungan dengan hal tersebut, dikarenakan lokasi tempat KKN adalah perumahan budidaya ini kami laksanakan dengan alat dan bahan yang sederhana serta dapat dilakukan dipekarangan rumah yang tidak terlalu luas.

Pendahuluan

Keadaan yang serba sulit ini membuat masyarakat melakukan berbagai macam cara untuk bertahan hidup dan tetap menjalankan roda perekonomian. Pendemi COVID-19 yang tak kunjung berakhir membuat terciptanya kebiasaan-kebiasaan baru agar tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari, sehingga hal tersebut dikatakan sebagai penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru. Adaptasi tersebut di antaranya seperti memakai masker ketika bepergian, selalu mencuci tangan atau menggunakan handsanitizer, serta menjaga jarak dengan orang lain. Dampak dari adanya COVID-19 telah melumpuhkan berbagai sektor, khususnya di sektor ekonomi yang menjadi salah satu masalah serius akibat adanya pandemi Covid-19 karena banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaannya. Sehubungan dengan hal tersebut, dengan adanya aturan #dirumahaja untuk menekan jumlah orang yang terinfeksi virus corona telah menimbulkan rasa bosan. Dalam menyikapi permasalahan tersebut, perlu adanya kesibukan untuk dapat menghilangkan rasa bosan selama beraktivitas di rumah, salah satunya dengan kegiatan menanam dan berkebun yang juga memiliki banyak manfaat.

Pada tanggal 31 Desember 2019, suatu virus yang dikenal dengan nama The Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dilaporkan kantor WHO Cina telah mewabah di Kota Wuhan, Cina (Nahdi & Jatisunda, 2020). Coronavirus ini merupakan sekumpulan virus dari subfamili Orthocronavirinae dalam keluarga Coronaviridae dan ordo Nidovirales. Pada manusia, coronavirus menyebabkan infeksi saluran pernapasan yang umumnya ringan, seperti pilek, meskipun beberapa bentuk penyakit seperti; SARS, MERS, sifatnya lebih mematikan (Yunus & Rezki, 2020).

Adanya penyebaran virus corona ini pada awalnya sangat berdampak pada dunia ekonomi yang mulai lesu. Di Indonesia, pemerintah membuat keputusan untuk meminimalkan seluruh kegiatan. Semua bidang dibatasi tingkat operasinya mulai dari sekolah, perkantoran yang harus melaksanakan kegiatan dari rumah, pelaku usaha yang hanya boleh beroperasi sampai pukul 20.00 WIB dengan pengurangan pegawai.

Pandemi COVID-19 tak hanya mengobrak-abrik tatanan kesehatan dan ekonomi, tapi juga memicu krisis pangan dunia. Indonesia harus bersiap menghadapi dua masalah lain yaitu ketimpangan neraca pangan oleh aktivitas impor dan pembatasan pasokan dari negara eksportir.

Empat bulan sudah dunia bekerja keras melawan serangan virus SARS-CoV-2 yang menginfeksi lebih dari 2 juta orang di 210 negara. Untuk memutus mata rantai penyebaran virus, sebagian negara melakukan karantina wilayah (lockdown). Sementara Indonesia dengan jumlah kasus infeksi lebih dari lima ribu jiwa memilih melakukan pembatasan sosial berskala besar.

Kebijakan itu kemudian menimbulkan persoalan lain yang tak kalah pelik krisis pangan. Akibat karantina atau pembatasan, sejumlah jalur distribusi pangan terputus, terjadi penimbunan bahan pangan oleh sebagian pihak, dan harga bahan pangan melonjak.

Organisasi pangan dunia (FAO) telah memperingatkan ancaman krisis pangan dunia sebagai imbas dari wabah COVID-19 yang tak kunjung usai. Negara yang pangannya bergantung impor rentan terdampak perlambatan volume perdagangan,

terutama jika mata uang mereka melemah, seperti rupiah saat ini terhadap dollar (Rp15.584 per 17 April 2020).

Kondisi tersebut bisa makin parah akibat pembatasan ekspor negara penghasil pangan. Saat ini negara seperti Vietnam dan India memilih mengamankan cadangan pangan dalam negeri. Padahal selama ini sebanyak 30 persen komoditas beras impor Indonesia dipasok Vietnam (2018). Sementara India mengirimkan bawang merah, putih, dan juga gula.

“(Kondisi ini) punya beberapa kesamaan dengan wabah Ebola 2014,” ungkap FAO dalam keterangan tertulis mereka.

Saat Ebola mewabah, rantai pasokan pertanian ikut terganggu, banyak petani tidak bisa menanam atau menjual hasil bumi mereka. Di Liberia saja, sebanyak 47 persen petani berhenti bercocok tanam. Defisit pangan kemudian mendorong harga komoditas utama naik dan memunculkan masalah gizi serta mengurangi daya beli rumah tangga.

Neraca pangan Indonesia secara umum timpang di beban impor, berkelindan dengan profesi penghasil pangan yang terus menurun. Data Kementerian Pertanian menyebut dari tahun 2003 hingga sekarang, Indonesia telah kehilangan sekitar 10 juta petani. Luas lahan sawah dari tahun 2014-2018 ikut berkurang sebanyak 1 juta hektare. “Sebelum ada COVID-19 kita sudah krisis pangan dan sampai sekarang pola konsumsi masih belum diubah,” jelas Tejo Wahyu Jatmiko, Koordinator Nasional Aliansi Untuk Desa Sejahtera kepada Tirto, Rabu, (15/4/2020).

Mayoritas rakyat Indonesia memang mengandalkan beras sebagai makanan pokok utama. Padahal pemerintah telah mengkampanyekan diversifikasi pangan karena Indonesia memiliki sumber karbohidrat lain seperti jagung, singkong, sagu dan kentang.

Pada kondisi normal, Indonesia bisa bergantung pada hasil impor dari negara lain. Tapi di situasi sekarang negara-negara eksportir tengah menghadapi pandemi yang sama. Mereka tentu lebih memprioritaskan urusan perut rakyatnya ketimbang hajat hidup negara lain.

“Sekaranglah saat yang tepat bagi pemerintah untuk menata sistem pangan, dorong masyarakat memanfaatkan kebun komunitas dan diversifikasi pangan.”

Dengan pelatihan budidaya tanaman sayur dan buah inilah kamu berusaha membantu meningkatkan pasokan pangan untuk warga secara mandiri dirumah.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini ialah dengan melakukan riset terhadap sumber-sumber yang relevan. Adapun berbagai sumber yang digunakan dapat berupa tulisan pada laman website, artikel, ataupun jurnal. Selain itu, penulisan artikel ini juga didasarkan pada pengalaman Kuliah Kerja Nyata yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Semarang dengan tajuk KKN Bersama Melawan COVID-19 UNNES 2020. Dalam serangkaian kegiatannya, mahasiswa UNNES tersebut memberi ruang kepada anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya untuk mendapatkan pendampingan belajar dari rumah.

Sasaran dari penulisan artikel ini yakni untuk memberikan ruang berpikir kepada masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri dengan pengolahan lahan untuk membudidayakan berbagai jenis tanaman dan sayur yang dapat dikonsumsi untuk sendiri atau untuk lingkungan sekitar di masa pendemi COVID-19. Selain itu pula artikel ini juga didasarkan pada keinginan untuk mengembangkan pertanian Indonesia yang lebih baik agar mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hasil dan Pembahasan

Manfaat Berkebun dan Memelihara Tanaman bagi Kesehatan

Selama masa pandemi Covid-19, ada beragam rekomendasi kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengusir kejenuhan salah satunya dengan kegiatan berkebun dan memelihara bermacam tanaman, seperti sayuran, buah-buah, maupun tanaman hias. Menurut dr. Meva Nareza dalam blognya menyebutkan bahwa berkebun memiliki banyak manfaat khususnya bagi kesehatan.

Kegiatan berkebun merupakan kegiatan yang mudah dilakukan dan dapat dijadikan sebagai hobi yang menyenangkan. Berkebun dapat dilakukan oleh anak-anak hingga orang dewasa. Berkaitan dengan hal tersebut, tinggal di perumahan menjadi salah satu alasan orang masih enggan untuk melakukannya. Namun, kini hal tersebut sudah tidak menjadi masalah lagi. Meskipun lahan pekarangan rumah sempit, kegiatan berkebun tetap dapat dilakukan dengan gaya urban farming, yaitu praktik budidaya, pemrosesan, dan distribusi bahan pangan di atau sekitar kota. Dalam arti luas, pertanian urban mendeskripsikan seluruh sistem produksi pangan yang terjadi di perkotaan.

Pada umumnya pertanian urban dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan pendapatan atau aktivitas memproduksi bahan pangan untuk dikonsumsi keluarga dan di beberapa tempat kegiatan bercocok tanam ini dapat juga dijadikan sebagai tempat rekreasi dan relaksasi.

Pertanian urban dapat dikatakan memperpendek jarak antara produsen dan konsumen sehingga penggunaan pengawet dan proses tambahan dapat dikurangi. Hal ini memberikan nilai positif sehingga konsumen bisa mendapatkan jaminan bahan pangan yang didapatkan masih segar.

Dampak yang diberikan kepada masyarakat luas dengan adanya pertanian urban ini terjadi di berbagai bidang:

 Ekonomi

Pertanian urban memperluas basis ekonomi perkotaan melalui produksi pembenihan, pembibitan, penanaman, pemrosesan, pengemasan, dan pemasaran produk pangan. Di sisi lain, pertanian urban ini jika dikembangkan dapat menyediakan lapangan pekerjaan, tambahan pendapatan, dan akses ke bahan pangan, hal ini dapat mengurangi risiko kerawanan pangan di perkotaan. Kebun yang dimiliki setiap individu dan gabungan masyarakat dapat menghemat uang yang digunakan untuk membeli bahan pangan sehingga dapat menekan biaya pengeluaran sehari-hari.

 Sosial

Selain berdampak pada segi ekonomi, pertanian urban juga berdampak pada emosional dan sosial manusia. Survei yang telah dilakukan mengungkapkan bahwa

orang-orang yang melakukan kegiatan berkebun merasa lebih rileks dan tingkat stres yang dirasakan menjadi berkurang sehingga dapat disimpulkan bahwa berkebun dapat meningkatkan kesehatan mental karena memiliki interaksi dengan alam. Pekarangan dan kebun yang terdapat di perkotaan diketahui dapat memberikan efek relaksasi dan rasa tenang, serta dapat dijadikan sebagai tempat istirahat yang nyaman di daerah perkotaan.

Selain beberapa hal yang telah disebutkan di atas, manfaat dari berkebun di antaranya yaitu,

1. Meningkatkan daya tahan tubuh

Kegiatan berkebun merupakan aktivitas yang berhubungan dengan alam sehingga ada kedekatan yang lebih intensif ketika melakukan kegiatan menanam. Ketika berkebun, tubuh akan mendapatkan asupan untuk pembentukan vitamin D dari sinar ultraviolet yang dihasilkan oleh matahari. Vitamin D berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh dan menguatkan tulang-tulang.

2. Menghilangkan rasa jenuh dan stres

Sebelum adanya pandemi COVID-19, aktivitas sehari-hari seperti bekerja dan sekolah yang sangat padat menyebabkan timbulnya rasa jenuh dan stres, begitu pula dengan adanya aturan #dirumahaja, jika terus menerus dilakukan juga akan menimbulkan rasa jenuh yang berlebihan dan tidak baik untuk kesehatan. Melalui kegiatan berkebun, akan melatih kesabaran dan kepekaan karena terus memantau pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, akan ada rasa puas dan bangga ketika tanaman tersebut sudah bisa dipanen dan tanaman-tanaman itu dapat membuat rumah lebih asri dan cantik. Pada saat terkena paparan sinar matahari, otak juga melepaskan hormon serotonin yang dapat meningkatkan suasana hati menjadi lebih bahagia.

3. Sebagai sarana latihan fisik dan olahraga

Apabila berolahraga lari begitu berat untuk dilakukan, berkebun dapat menjadi salah satu alternatif olahraga yang ringan untuk dilakukan. Ketika berkebun akan melakukan banyak hal, seperti mengolah tanah, proses pembibitan, dan perawatan tanaman.

4. Menjaga kesehatan otak

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa berkebun berpengaruh pada kesehatan, salah satunya untuk kesehatan otak karena melatih pikiran untuk fokus.

5. Melatih untuk terbiasa mengonsumsi makanan sehat

Dengan berkebun sendiri, dapat dipastikan bahwa sayuran dan buah-buahan tersebut aman untuk dikonsumsi dan tidak berbahaya bagi tubuh karena tidak menggunakan pestisida dan selain itu setiap hari dapat mengonsumsi buah dan sayur.

Mahalnya harga tanah di daerah perkotaan menjadi salah satu faktor kegiatan berkebun terkendala. Namun, berkebun tidak selalu identik dengan laha yang luas. Berkebun di pekarangan rumah yang sempit tetap dapat dilakukan, di antaranya dengan beberapa metode berikut:

1. Metode vertikultur

Vertikultur merupakan metode menanam secara vertikal atau ke arah atas. Metode ini dilakukan dengan menyusun tanaman-tanaman secara bertingkat

menyerupai tangga. Dalam menggunakan metode ini, dapat memanfaatkan pipa paralon agar lebih rapi dalam penyusunannya. Tanaman yang bisa ditanam dengan menggunakan metode vertikultur adalah kangkung, bayam, dan sawi. Untuk umbi-umbian dapat juga ditanam dengan metode ini, seperti bawang, wortel, dan kentang. Buah strawberry dan bunga mawar juga dapat ditanam dengan menggunakan metode vertikultur.

2. Menggunakan pot atau kaleng bekas

Menggunakan pot atau kaleng bekas dapat menjadi salah satu alternatif lain dalam berkebun, tetap rapi dan cantik meskipun pekarangan sempit. Ada beragam tanaman yang bisa ditanam dengan menggunakan pot atau kaleng bekas, berikan lubang di bagian bawah kaleng sebagai drainase. Agar tampilan lebih menarik, kaleng dan pot tersebut bisa dihias dengan menggunakan cat. Apabila ingin menanam tanaman buah, bisa menggunakan drum drum besar sebagai wadah. Pot-pot gantung juga bisa digunakan untuk menanam tanaman dan mempercantik rumah.

3. Metode hidroponik

Metode hidroponik adalah budidaya tanaman dengan menggunakan air sebagai media tanam, bukan lagi tanah, sehingga sangat cocok untuk pekarangan dengan

lahan minim. Dalam pemberian nutrisi pada tanaman dapat dilakukan dengan melarutkannya pada air. Kelebihan menggunakan metode hidroponik yaitu memiliki tingkat keseragaman tinggi, berkualitas baik dan dapat dipanen hingga beberapa kali. Peran Mahasiswa UNNES di Lingkungan Masyarakat

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan wadah penerapan serta pengembangan ilmu dan teknologi, yang dilaksanakan di luar kampus dalam waktu, mekanisme kerja dan syarat tertentu. Adanya pandemi COVID-19 menjadikan pelaksanaan KKN diselenggarakan di domisili masing-masing mahasiswa. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengaidan mahasiswa kepada masyarakat sekaligus untuk menekan jumlah penyebaran viru corona. Segala aturan telah ditetapkan oleh pemerintah, mulai dari Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), Work From Home (WFH), dan penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru untuk bisa menjalan roda kehidupan agar perekonomian di Indonesia tidak lumpuh. Dengan adanya wabah COVID-19, seluruh negara berupaya untuk menemukan vaksin dari virus ini. Keresahan masyarakat pun tidak bisa diabaikan. Hampir segala bidang terkena dampak dari pandemi COVID-19 salah satunya di bidang ekonomi. Oleh karena itu tujuan diselenggarakannya Kuliah Kerja Nyata Unnes Bersama Melawan COVID-19 ini, mahasiswa memiliki peran penting dalam hidup bermasyarakat diera pandemi ini. Pada dasarnya tiga fungsi pokok mahasiswa, yaitu : agent of change, social control and iron stock. Mahasiswa bisa mengabdi kepada masyarakat sebagai peranan bagian dari pengembangan kompetensi mahasiswa khususnya sosial dan kompetensi kepribadian.

Menurut Soejono (2012), peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukanya, maka ia menjalankan suatu peranan. Sedangkan menurut Vietzal Rivai (2004), peranan diartikan sebagai perilaku yang diatur dan diharapkan seseorang dalam posisi tertentu. Dari permasalahan yang sedang terjadi di tengah masyarakat selama pandemic

COVID-19, pelaksanaan program KKN banyak dilakukan melalui daring. Apabila tatap muka harus dengan melaksanakan protokol kesehatan yang ketat. Salah satu peran mahasiswa tampak pada pelaksanaan kegiatan KKN Bersama Melawan COVID-19 yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Semarang di wilayah Kelurahan Muktiharjo Kidul dalam kegiatan pelatihan budidaya sayuran menggunakan pot sebagai solusi berkebun dengan pekarangan rumah yang sempit.

Gambar 1: melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang budidaya tanaman Dalam bidang ekonomi, mahasiswa KKN UNNES BMC-19 melakukan kegiatan pelatihan penanaman sayuran. Pelatihan ini dengan menggunakan barang-barang di sekitar yang mudah didapatkan. Kegiatan yang dilakukan oleh Tim KKN dari Kelurahan Muktiharjo Kidul yang mengangkat program kerja pelatihan budidaya tanaman buah & sayur untuk warga sekitar kelurahan dimana kegiatan ini berlokasi di lapngan Kelurahan Muktiharjo Kidul Pelatihan ini dilakukan secara langsung dengan memberi berbagai pengetahuan mengenai budidaya sayuran buah & sayur di halaman rumah yang sempit dari mulai bagaimana cara menanam menggunakan hidroponik, manfaat melakukan penanaman dengan hidroponik, bahan-bahan serta alat yang digunakan untuk hidroponik dan bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menanam menggunakan bahan2 botol bekas.

Pengenalan penanaman menggunakan hidroponik kepada warga dengan menyampaikan beberapa keuntungan menggunakan hidroponik. Keuntungan bercocok tanam sistem hidroponik yaitu kebersihan tanaman lebih mudah dijaga, tidak perlu melakukan pengolahan lahan dan pengendalian gulma, media tanam steril, tidak perlu menyiram tanaman, penggunaan air dan pupuk sangat efisien, tanaman dapat dibudidayakan tanpa tergantung musim, dapat dilakukan pada lahan yang sempit, serta terlindung dari hujan dan matahari secara langsung, produksi tanaman lebih tinggi, tanaman memberikan hasil yang kontinu, lebih mudah dikerjakan tanpa membutuhkan tenaga kasar, tanaman dapat tumbuh pada tempat yang semestinya tidak cocok, tidak ada risiko sebagai ketergantungan terhadap kondisi alam setempat, dan dapat dilakukan pada tempat-tempat yang luasnya terbatas. (Arianty, 2019).

Kreativitas warga dapat ditingkatkan dalam hal bercocok tanam melalui hidroponik. Mulai dari mendaur ulang limbah seperti botol bekas sebagai wadah untuk media tanam, pralon bekas dan lain sebagainya. Kegiatan ini dimulai dari survei lapangan. Survei lapangan dalam pelaksanaan program budidaya tanaman sayuran

hidroponik dibagi menjadi 3 tahapan. Pertama yaitu survei lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat untuk budidaya tanaman sayuran hidroponik, Kelurahan Muktiharjo Kidul . Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 24 Juli 2020.

Gambar 2 pelatihan Budidaya Sayuran Kepada Masyarakat Pelatihan budidaya tanaman sayuran hidroponik

Kegiatan pelatihan budidaya tanaman sayuran hidroponik dimulai pada tanggal 24 Juli 2020. Kegiatan diawali dengan pembelian alat dan bahan pendukung di toko tanaman terdekat seperti yang ditunjukan pada gambar. Kegiatan selanjutnya yakni mempersiapkan alat dan bahan untuk dibawa ke lapangan Kelurahan Muktiharjo Kidul. Hal ini dilakukan agar memudahkan tim KKN BMC UNNES.

Pelatihan yang dilakukan dari mulai menyiapkan media yang harus digunakan, langkah-langkah menanam menggunakan hidroponik, pembuatan nutrisi hidroponik serta perawatan tanaman hidroponik yang sudah ditanam. Proses pelatihan budidaya tanaman sayuran hidroponik ini memakan waktu seharian, karena sebelum itu kita harus memotong rockwool sesuai ukuran yang ditentukan kemudian melubanginya dengan sedotan. Bersamaan dengan proses memotong rockwool dilaksanakan juga proses pemasukkan benih pakchoy harus dimasukan satu-satu kedalam rockwool yang sudah dilubangi dengan sedotan aqua. Setelah itu jika semua benih sudah dimasukkan ke dalam rockwool tersebut yang diletakkan ke dalam nampan kami menutupnya dengan plastik hitam, supaya benih cepat tumbuh. Serangkaian tahap ini dilakukan oleh tim dan masyarakat yang selesai pada tanggal 24 Juli2020.

Gambar 4. Persiapan benih tanaman hidroponik

Gambar 5. Bibit Tanaman

Gambar 6. Hasil penenaman hidroponik

Kesimpulan

Sejak awal munculnya COVID-19 dan dengan ditetapkannya status pandemi COVID-19 oleh WHO, kecemasan sangat dirasakan oleh semua orang di seluruh penjuru dunia. Adanya pandemi ini berdampak pada segala aspek dalam kehidupan manusia. Salah satu bidang yang terkena dampak paling serius adalah ekonomi. Adanya Pemutusan Hubungan Kerja yang dilakukan dalam skala besar, telah membuat banyak orang kehilangan pekerjaannya. Biaya yang dikeluarkan untuk kehidupan sehari-hari diatur sebaik mungkin supaya tetap bisa bertahan hidup. Hal tersebut dapat berakibat pada kesehatan.

Adanya aturan #dirumahaja juga memicu meningkatnya rasa stres. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, kegiatan bercocok tanam dapat menjadi sala satu alternatif untuk menghilangkan rasa jenuh. Selain itu dengan diadakannya pertanian urban dapat menjadi salah satu wadah untuk menampung tenaga kerja dan menyediakan lapangan pekerjaan. Meskpun lahan pekarangan sempit, hal tersebut tidak lagi menjadi masalah. Ada beragam metode yang bisa digunakan untuk tetap bisa berkebun di rumah. Tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak dalam kegiatan berkebun. Menggunakan barang-barang di sekitar seerti kaleng bekas dan pot tetap bisa membuat kegiatan berkebun terasa menyenangkan.

Selain mempercantk dan memberikan kesan asri pada rumah, kegiatan berkebun juga mempunyai banyak manfaat lainnya, seperti meningkatkan daya tahan tubuh, menghilangkan rasa jenuh dan stres, menjadi saran melatih fisik, menjaga kesehatan otak, dan melatih untuk mengonsumsi makan sehat setiap hari.

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan dapat membantu masyarakat untuk menghilangkan rasa jenuh dan melakukan kegiata berkebun di rumah masing-masing. Adanya keberagaman dalam bercocok tanam diharapkan dapat terjadinya interaksi dan saling tolong- menolong untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dengan adanya kegiatan saling berbagi ini, diharapkan dapat meminimalisasi kecemasan masyarakat atas krisis ekonomi yang sedang melanda di masa pandemi COVID-19. Dan dengan pelatihan menggunakan barang-barang yang mudah ditemukan d sekita kita, diharapkan tidak menyulitkan warga dalam melakukan kegiatan berkebun di rumah masing-masing.

Daftar Pustaka

Adha, I. A. N., & Virianita, R. (2010). Sikap dan Intensi Pemanfaatan Internet dalam Kegiatan Bisnis. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 4(3).

Hesty (2020). Analisis Peran Mahasiswa sebagai Social Control dalam

Pencegahan COVID-19 melalui KKN Tematik.

https://www.kompasiana.com/hestyprtw/5f090d45097f36

25104c50d2/peran-mahasiswa-sebagai-social-control-dalam-pencegahan-COVID-19?page=4. diakses