• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.3. Budidaya Tebu Sistem Bongkar Ratoon Dan Sistem Rawat Ratoon

a. Persiapan Lahan

Persiapan lahan merupakan kegiatan untuk mempersiapkan tanah tempat tumbuh tanaman tebu, sehingga kondisi fisik dan kimia tanah menjadi media perkembangan perakaran tanaman tebu. Kegiatan tersebut terdiri atas beberapa jenis yang dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan cara yang digunakan. Pada prinsipnya, persiapan lahan untuk tanaman baru dan tanaman bongkaran baru adalah sama tetapi untuk bongkar ratoon kegiatan persiapan lahan tidak dapat dilaksanakan secara intensif. Hal tersebut disebabkan oleh tata letak petak kebun, topografi maupun struktur tanah pada areal yang baru dibuka masih belum sempurna sehingga kegiatan mesin atau peralatan di lapang sering terganggu. Pada areal tersebut masih terdapat sisa – sisa batang atau perakaran yang dapat mengganggu operasional mesin di lapang. (Tommy,2009).

b. Pembajakan

Pembajakan I bertujuan untuk membalik tanah serta memotong sisa – sisa kayu dan vegetasi awal yang masih tertinggal. Peralatan yang digunakan adalah alat berat seperti bulldoser untuk meratakan lahan tanah yang baru. Setelah dilakukan perataan

tanah barulah diadakan kegiatan pembajakan dimulai dari sisi petak paling kiri, kedalaman olah mencapai 25 – 30 cm dan kapasitas kerja mencapai 8 jam/ha sehingga untuk satu petak kebun (± 1 ha) dibutuhkan waktu 8 jam mesin operasi. Pembajakan dilakukan merata di seluruh areal dengan kedalaman diusahakan lebih dari 30 cm dan arah bajakan menyilang barisan tanaman tebu sekitar 450. Pembajakan II dilaksanakan sekitar tiga minggu setelah pembajakan I dengan arah memotong tegak lurus hasil pembajakan I dan kedalaman olah minimal 25 cm. Peralatan yang digunakan adalah traktor. (Tommy,2009).

b. Penggaruan

Penggaruan bertujuan untuk menghancurkan bongkahan – bongkahan tanah dan meratakan permukaan tanah. Penggaruan dilaksanakan merata pada seluruh areal dengan menggunakan alat traktor. Tujuan penggaruan adalah untuk menghancurkan bongkahan – bongkahan tanah hasil pembajakan, mencacah dan mematikan tunggul maupun tunas tanaman tebu. Penggaruan dilakukan pada seluruh areal bajakan dan menyilang dengan arah bajakan. Traktor yang digunakan adalah traktor 120 HP. (Tommy,2009).

c. Pembuatan Alur Tanam

Pembuatan alur tanam merupakan kegiatan untuk mempersiapkan tempat bibit tanaman tebu. Alur tanam dibuat menggunakan cangkul atau sejenis alat lainnya, dengan kedalaman lebih dari 30 cm dan jarak dari pusat ke pusat adalah 1,30 meter. Pembuatan alur tanam dilaksanakan setelah pemancangan ajir. Traktor berjalan

mengikuti arah ajir sehingga alur tanam dapat lurus atau melengkung mengikuti arah. (Tommy,2009).

d. Penanaman

Prinsip persiapan bibit yang ditanam di areal lahan kering sama dengan yang ditanam di sawah. Waktu tanam tebu di lahan kering terdiri dari dua periode, yaitu : Periode I, menjelang musim kemarau mei – agustus, pada daerah – daerah basah dengan 7 bulan basah dan daerah sedang yaitu 5 – 6 bulan basah, atau pada daerah yang memiliki tanah lembab. Namun dapat juga diberikan tambahan air untuk periode ini. Sedangkan periode II, menjelang musim hujan oktober – November, pada daerah sedang dan kering yaitu 3 – 4 bulan basah. Kebutuhan bibit yang akan ditanam adalah 11 mata tumbuh per meter juringan. Selain itu juga, untuk menghindari penyulaman yang membutuhkan biaya besar. Bibit ditanam dengan posisi mata disamping dan disusun secara lurus sesuai dengan aturan petani tanaman tebu. Cara penanaman ini bervariasi menurut kondisi lahan dan ketersediaan bibit, pada umumnya kebutuhan air pada lahan kering tergantung pada turunnya hujan sehingga kemungkinan tunas mati akan besar. Oleh karena itu, tunas yang hidup disebelahnya diharapkan dapat menggantikannya. (Tommy,2009).

Penanaman tebu bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut bibit yang telah diangkut menggunakan keranjang diecer pada guludan, agar mudah dalam mengambilnya, kemudian bibit ditanam merata pada juringan dan ditutup dengan tanah setebal bibit itu sendiri, untuk tanaman pertama pada lahan kering biasanya cenderung anakannya sedikit berkurang dibandingkan tanah sawah (reynoso),

sehingga jumlah bibit tiap juringan diusahakan lebih bila dibandingkan dengan lahan sawah (± 80 ku). (Tommy,2009).

e. Penyulaman

Penyulaman merupakan kegiatan penanaman untuk menggantikan bibit tebu yang tidak tumbuh, baik pada tanaman baru ataupun tanaman keprasan agar diperoleh populasi tebu yang optimal. Pelaksanaan penyulaman untuk bibit baru dilakukan 2 minggu dan 4 minggu setelah tanam, sedangkan untuk bibit rayungan dilakukan 2 minggu setelah tanam. Penyulaman dilaksanakan pada baris baru 2 – 3 mata sebanyak dua potong dan diletakkan pada baris tanaman yang telah dilubangi sebelumnya. Apabila penyulaman tersebut gagal, penyulaman ulang harus segera dilaksanakan. (Tommy,2009).

f. Pengendalian Gulma

Lahan kering gulma lebih beragam dan lebih berbahaya. Gulma – gulma dominan yang menjadi pesaing kuat yang berakibat merugikan terdiri atas gulma daun lebar dan merambat, gulma daun sempit dan teki-tekian. Gulma daun lebar dan merambat. Pelaksanaannya, pengendalian gulma dibagi menjadi pengendalian secara kimia, mekanis dan manual. Untuk sistem reynoso, pengendalian lebih dominan dilakukan secara manual. Sementara itu di lahan kering lebih umum pengendalian gulma secara kimia yang dibedakan menjadi tiga yaitu pra tumbuh, awal tumbuh dan setelah tumbuh. Pengendalian gulma pra tumbuh adalah pengendalian gulma yang dilakukan pada saat gulma dan tanaman tebu belum tumbuh. Dilaksanakan pada 3 – 5 hari setelah tanam. Awal tumbuh adalah pengendalian gulma yang dilakukan pada saat gulma sudah tumbuh dengan 2 – 3 daun dan tanaman tebu sudah berkecambah.

Sedangkan setelah tanam dilaksanakan pada saat gulma sudah tumbuh dan biasanya dilaksanakan 1 – 2 kali. Untuk pelaksanaannya Dilaksanakan pada saat pengemburan tanah. Pengendalian tersebut dilaksanakan pada saat tanaman berumur 45 hari setelah tanam. Pengendalian gulma secara manual dilaksanakan oleh tenaga kerja dengan mempergunakan peralatan sederhana, dilaksanakan pada saat kondisi tanaman tebu masih dalam stadia peka terhadap herbisida, gulma didominasi oleh gulma merambat, populasi gulma hanya spot – spot, ketersediaan tenaga kerja yang cukup dan herbisida yang tidak tersedia di pasaran. Kapasitas kerja pengendalian gulma berbeda tergantung pada pengendalian gulma yang dilakukan. (Tommy,2009).

g. Pembumbunan dan penggemburan

Pembumbunan bertujuan untuk menutup tanaman dan menguatkan batang, sehingga pertumbuhan anakan dan pertumbuhan batang lebih kokoh. Di lahan sawah pembumbunan dilakukan tiga kali selama umur tanaman. Pelaksanaan pembumbunan dilakukan secara manual atau dengan semi mekanis. Di lahan kering pembumbunan sekaligus dilakukan dengan penggemburan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengendalikan gulma, menggemburkan dan meratakan tanah, memutuskan perakaran tebu khususnya tanaman tebu ratoon dan membantu aerasi pada daerah perakaran. Pengemburan pada tanaman diperlukan peralatan terutama untuk mengendalikan gulma. Penggemburan dilaksanakan pada tanaman berumur 45 hari setelah tanam sebelum pemupukan II dengan kedalaman 20 cm dan hanya dilakukan satu kali dalam satu musim tanam. Untuk tanaman ratoon diperlukan alat yang bisa membantu menggemburkan tanah dan mengendalikan gulma. Dilaksanakan dua kali dalam satu musim tanam. (Tommy,2009).

h. Klentek

Klentek adalah suatu kegiatan membuang daun tua tebu yang dilakukan secara manual. Tujuan klentek adalah untuk merangsang pertumbuhan batang, memperkeras kulit batang, mencegah tebu roboh, dan mencegah kebakaran. Kegiatan ini umum dilakukan pada sistem reynoso di Wilayah Kecamatan Prambon. Untuk tebu lahan kering tidak dilakukan klentek. Untuk itu dalam salah satu seleksi varietas dicari yang daun keringnya lepas jika terkena angin. Sebagai konsekuensinya tebu lahan kering harus dibakar jika akan ditebang. Hal ini juga menjadi kriteria varietas tebu lahan kering, yaitu tahan bakar. (Tommy,2009).

i. Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit pada budidaya tanaman tebu bertujuan untuk mencegah semakin meluasnya serangan hama dan penyakit pada areal perkebunan tebu. Hal ini sangat berkaitan erat dengan salah satu upaya peningkatan produktivitas tebu. Beberapa hama yang umum menyerang antara lain: hama penggerek pucuk tebu, penggerek batang tebu. Penggerek batang tebu gejala bercak – bercak putih bekas gerekan pada daun kulit luar tidak tembus, lorong gerekan pada bagian dalam pelepah, lorong gerekan pada ruas-ruas, titik tumbuh mati sehingga daun muda layu dan mati. Satu batang biasanya lebih dari satu penggerek. Pencegahan, memilih bibit yang bebas penggerek, menanam varietas tahan, menjaga kebersihan kebun, dan pergiliran tanaman. Hama lain yang umumnya ada yaitu: kutu putih, tikus, ulat grayak, tetapi serangannya relatif kecil sekali sehingga pengendaliannya cukup dengan sanitasi kebun. Beberapa wilayah tanaman tebu dalam pengendaliannya masih mengutamakan dengan sanitasi lingkungan, musuh alami, dan menggunakan

varietas tahan terhadap semua hama, sedangkan penggunaan bahan kimia jarang dilakukan karena tingkat serangannya rata – rata masih dibawah 5%. (Tommy,2009).

j. Pemupukan

Dosis pupuk yang dianjurkan untuk tebu lahan kering tanaman pertama adalah 8 ku ZA, 2 ku SP36 dan 3 ku KCl per hektar dengan aplikasi 2 kali. Pemupukan pertama dilakukan pada saat tanam. Pemupukan 2 dilakukan pada saat tanaman berumur sekitar 1,5 bulan yaitu pada awal musim hujan. Aplikasi pupuk dilakukan dengan mengalurkan ditepi tanaman kemudian ditutup dengan tanah. Pengaplikasian pupuk dengan bantuan traktor tangan sudah dikembangkan terutama untuk pembukaan dan penutupan alur sekaligus pembumbunan. (Tommy,2009).

k. Pemanenan

Panen dilaksanakan pada musim kering yaitu sekitar bulan April sampai Oktober. Hal tersebut berkaitan dengan masalah kemudahan transportasi tebu dari areal ke pabrik serta tingkat kemasakan tebu akan mencapai optimum pada musim kering. Kegiatan pemanenan diawali dengan tahap persiapan yang dilaksanakan sekurang-kurangnya tiga bulan sebelum panen dimulai. Tahap persiapan meliputi kegiatan estimasi produksi tebu, pembuatan program tebang, penentuan kemasakan tebu, rekrutmen kontraktor dan tenaga tebang, persiapan peralatan tebang dan pengangkutan, serta persiapan sarana dan prasarana tebang. (Tommy,2009).

Menentukan periode kemasakan optimal tebu dan sekaligus untuk memperkirakan waktu yang tepat penebangan tebu, dilaksanakan analisis kemasakan tebu. Pada saat tanaman menginjak umur delapan bulan. Kegiatan tersebut dimulai dengan pengambilan tanaman contoh yang diawali, batang contoh ditentukan

minimal 15 meter dari tepi dan 30 baris dari barisan pinggir. Tanaman contoh diberi tanda untuk mempermudah pengambilan contoh berikutnya. Setiap kali analisis dibutuhkan 15 – 20 batang atau sebanyak dua rumpun tebu, kemudian dilakukan penghitungan jumlah dan pengukuran tinggi batang, serta penggilingan untuk memperoleh nira tebu. Selanjutnya dilakukan pengukuran persen brix, pol dan purity dari setiap contoh. Data pol yang diperoleh dipetakan pada peta kemasakan tebu yang akan digunakan sebagai informasi untuk lokasi tebu yang sudah layak panen. Prioritas penebangan dilakukan dengan memperhatikan faktor lain selain kemasakan, yaitu jarak kebun dari pabrik, kemudahan transportasi, keamanan tebu, kesehatan tanaman, dan faktor tenaga kerja. (Tommy,2009).

l. Pelaksanaan Tebang

Metode penebangan yaitu tebu hijau. Metode tebu hijau adalah menebang tebu dalam kondisi tanpa ada perlakuan pendahuluan. Tebu di Wilayah Kecamatan Prambon dilakukan metode penebangan tebu hijau. Tebang dilakukan dengan

menggunakan sistem tebangan yaitu tebu ikat. Tebu Ikat tebangan ini dilaksanakan

secara manual, baik pada saat penebangan maupun pemuatan tebu ke dalam truk. pengangkutan tebu dari areal ke pabrik dilakasanakan mulai jam 5.00 – 22.00 WIB dengan menggunakan truk. Truk yang digunakan terdiri atas truk kecil dengan kapasitas angkut 6 – 8 ton dan truk besar dengan kapasitas angkut 10 – 12 ton. Saat pemuatan tebu ke dalam truk dalam kondisi lahan tidak basah, truk masuk ke areal dan lintasan truk tidak memotong barisan tebu. Perjalanan truk dari areal ke pabrik sesuai dengan rute yang telah ditetapkan. Pembongkaran muatan dilaksanakan

ditempat penampungan tebu sebelum giling, setelah penimbangan, dengan menggunakan patok beton atau langsung ke meja tebu. (Tommy,2009).

2.3.2. Budidaya Tebu Sistem Rawat Ratoon. a. Tebu Rawat Ratoon

Tebu rawat ratoon yaitu Menumbuhkan kembali bekas tebu yang telah ditebang, baik bekas tebu giling atau tebu bibitan. Kebun yang akan dikepras harus dibersihkan dari kotoran bekas tebangan yang lalu. Sebelum mengepras sebaiknya tanah yang terlalu kering di airi dulu. Kepras petak petak tebu secara berurutan, setelah dikepras dilakukan pemeliharaan menggunakan herbisida supaya tanaman tebu tetap sehat dan jauh dari hama dan penyakit dan harmonik pada umur 1,2 dan 3 bulan dengan dosis seperti diatas. Pemeliharaan selanjutnya sama dengan tanam tebu pertama. (Anggraeni, P, 2007).

b. Tindakan Perawatan

Untuk tanaman tebu rawat ratoon hampir sama dengan perawatan tanaman baru diantaranya adalah pengendalian gulma, turun tanah, klentek dan pemberian air. Khusus untuk perawatan gulma diintensifkan, karena jumlah tunas keprasan sangat berkurang akibat persaingan gulma yang tumbuh di barisan tebunya. Penyiangan gulma dikerjakan secara manual tiga kali yakni pada umur 1,2 dan 3 bulan setelah tebu ditanam. Penggunaan herbisida sebagai pengganti tenaga penyiang yang mulai sulit diperoleh, tetapi dalam hal ini maka dilakukan penyemprotan campuran – campuran herbisida yang telah ditentukan. (Anggraeni, P, 2007).

Pemberian pupuk tanah pada tanaman tebu lahan kering hanya dilakukan dua kali yaitu sebelum pemupukan kedua pada umur 1 – 1,5 bulan dan pada umur 2,5 – 3

bulan atau dapat dilakukan sekali pada umur 2 – 3 bulan sebelum tebang. Pemeliharaan drainase terutama diperlukan selama musim hujan untuk menjaga kelancaran pengeluaran air yang berlebih. Pemupukan untuk lahan kering tidak diberikan sekaligus, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan untuk mencegah kehilangan pupuk. Untuk tebu rawat ratoon, disamping pemeliharaan sebagaimana tanaman pertama dilakukan pola pengaturan pembersihan diantara barisan tebu dilakukan untuk mencegah melebarnya rumpun tebu keprasan, agar penebangan dengan mesin tebang tidak mengalami kesulitan. (Anggraeni, P, 2007).

Rawat ratoon biasanya mampu menderita akibat cekaman air. Tetapi penggenangan air dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan kematian perakaran tebu, besarnya gangguan oleh genangan air terhadap pertumbuhan tebu, tergantung pada saat dan lama kondisi anaerob berlangsung. Di Indonesia khususnya dimana banyak tebu keprasan tumbuh dimusim kemarau dan berada di lahan tegalan, pemberian air sampai setengah kapasitas lapangannya akan meningkatkan pertumbuhan tebu keprasan sampai 174 % dari pada kondisi kekurangan air. Berarti hasil panen keprasan dapat ditingkatkan, hanya dengan meningkatkan ketersediaan air samapai kondisi dibawah kebutuhan optimal.(Anggraeni, P, 2007).

c. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dua kali yaitu pertama saat tanaman tebu mulai tumbuh berumur 7 hari dengan dosis 7 gram urea, 8 gram TSP dan 35 gram KCL per tanaman (120 kg urea, 160 kg TSP dan 300 kg KCL/ha) dan yang kedua 30 hari setelah pemupukan ke satu dengan 10 gram urea per tanaman atau 200 kg per hektar. Pupuk diletakkan di lubang pupuk (dibuat dengan tugal) sejauh 7 – 10 cm dari bibit

dan ditimbun tanah. Setelah pemupukan semua petak segera disiram supaya pupuk tidak keluar dari daerah perakaran tebu. Pemupukan dan penyiraman harus selesai dalam satu hari. Agar rendemen tebu tinggi digunakan zat pengatur tumbuh. (Anggraeni, P, 2007).

d. Kriteria Panen

Ciri dan umur panen tergantung dari jenis tebu. Varietas tebu masak optimal 14 bulan, panen dilakukan pada bulan agustus pada saat rendemen (persentase gula tebu) maksimal dicapai. (Anggraeni, P, 2007).

e. Cara Panen

1. Mencangkul tanah di sekitar rumpun tebu

sedalam 20 cm.

2. Pangkal tebu dipotong dengan arit jika

tanaman akan ditumbuhkan kembali, batang dipotong dengan menyisahkan 3 buku dari pangkal batang.

3. Mencabut batang tebu sampai ke akarnya

jika kebun akan di bongkar, potong akar batang dan 3 buku dari permukaan pangkal batang.

4. Pucuk dibuang.

5. Batang tebu diikat menjadi satu (30 – 50

batang/ikatan) untuk dibawa ke pabrik untuk segera digiling panen dilakukan satu kali di akhir musim tanam.(Anggraeni, P, 2007).

Dokumen terkait