Industri Galangan Kapal Sub Klaster Jakarta Minto Basuk
NEW BUILDING PROJECT
Design (Including
Model Test) Material Productuon Performance factor
Cost factor Probability of risk occurrence Design Probability of risk occurrence Material Probability of risk occurrence Production Schedule factor Total Probability of risk occurrence Consequences of risk occurrence Total Risk
Gambar 3. Kerangka Kerja PenelitianRisk AssessmentBangunan Baru III. DASARTEORI
Untuk mengenal industri perkapalan, maka perlu diketahui sifat dan kondisi industri perkapalan. Industri perkapalan memiliki sifat dan kondisi sebagai berikut [15]:
1. Padat Modal (Capital Intensive) yaitu bahwa untuk mendirikan galangan kapal diperlukan modal yang besar. Galangan kapal yang besar masih dimiliki oleh BUMN, sedangkan galangan swasta hanya memiliki galangan yang ukurannya kecil dan menengah. Padatnya modal bukan saja modal untuk investasi fasilitas namun juga untuk modal kerja.
2. Padat Karya (Labour Intensive) yaitu bahwa industri galangan ini melibatkan banyak tenaga kerja terutama tenaga di lapangan. Dalam industri perkapalan yang padat karya diperlukan karyawan yang berkualitas standar. Rendahnya kualitas karyawan akan mengakibatkan rendahnya kualitas produksi kapal. Hal ini menyebabkan berkurangnya pesanan kapal karena kualitas rendah kurang diminati oleh pemesan.
3. Pengembalian Modal Lambat (Slow Yielding) yaitu bahwa tingkat pengembalian modal yang diinvestasikan untuk membuat galangan memerlukan waktu yang lama.
4. Pertambahan Nilai Rendah (Low Value added) dimana tingkat keuntungan yang masih rendah ini disebabkan oleh banyak hal yang saling terkait dalam kondisi industri perkapalan. Walaupun pertambahan nilainya rendah namun industri perkapalan ini dapat meningkatkan pertambahan nilai yang cukup signifikan pada aglomerasinya. Sering kali hal ini yang dilupakan oleh beberapa kalangan. Beberapa kasus di negara maju rendahnya value added ini diatasi dengan memberikan insentif kepada galangan.
5. Rantai Nilai Komplek (Complex Value Chain) yaitu bahwa industri galangan ini melibatkan banyak industri lain dalam aglomerasi Kawasan Industri Khusus (KIK) mulai industri komponen, supplier dan subkontraktor. Elemen KIK tersebar diberbagai tempat terutama kandungan import.
6. Berdaya Saing Rendah (Low Competitiveness) yaitu bahwa industri galangan ini memiliki daya saing yang masih rendah, terbukti kapasitas tahunan masih relative kecil dibanding dengan produksi dunia.
Prosiding Seminar Nasional Rekayasan Material, Sistem manufaktur dan Energi
7. Bisnis Risiko Tinggi (High Risk Business) bahwa industri galangan termasuk dalam kategori bisnis berisiko tinggi, sebab sering kali kontrak pembangunan kapal tidak menguntungkan galangan dan cenderung berisiko terkena pinalti.
8. Pesanan Kapal Sedikit (Low Demand Ship Order) bahwa jumlah pesanan kapal masih sedikit karena kondisi pelayaran yang masih lesu. Disamping itu import kapal bekas masih diminati oleh perusahaan pelayaran, hal ini menambah sulitnya galangan memperoleh pesanan kapal baru.
9. Berteknologi Tinggi (High Technology Contents) yaitu bahwa untuk pembangunan kapal besar dan canggih diperlukan fasilitas galangan yang berteknologi tinggi mulai tools disain (Computer Aided Design System), produksi (Computer Aided Manufacturing System), Logistik (Material Requirement Planning), Heavy Duty Craneberkapasitas hingga 300 T.
10. Berkeahlian Tinggi (High Skilled Ship Design & Fabrication) yaitu bahwa industri galangan memerlukan SDM yang ahli dibidang galangan termasuk disain kapal dan produksi kapal. Pekerjaan pembangunan kapal memerlukan ketelitian dan keakuratan yang tinggi sesuai dengan tuntutan mutu klasifikasi kapal.
11. Kandungan impor tinggi dan kandungan lokal rendah (High Import Contents and Low Local Contents) yaitu bahwa industri galangan memerlukan kandungan import yang tinggi dan kandungan local rendah. Dalam beberapa kasus kandungan import mencapai 80 % sedangkan kandungan lokal hanya 20 % termasuk tenaga kerja. 12. Kurangnya Pengalaman (Low Experience) bahwa dengan
sedikitnya pesanan kapal baru mengakibatkan semakin berkurangnya pengalaman membangun kapal baru. Pengalaman yang lampau akan sia-sia bila tidak dilakukan secara berkelanjutan. Pengalaman untuk membangun kapal besar misal yang lebih dari 50.000 DWT belum pernah dilakukan. Maka bila ingin mengembangkan galangan dengan ukuran lebih besar diperlukan belajar dari pengalaman yang bisa diperoleh dari tenaga ahli asing maupun dengan mengirim tenaga ahli untuk magang di galangan besar di luar negeri.
13. Lamanya waktu penyelesaian (Long term ship delivery) bahwa industri galangan ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan bangunan baru. Hal ini disebabkan antara lain lamanya waktu untuk memesan komponen impor dan rendahnya produktivitas galangan. Rendahnya produktivitas dipengaruhi oleh kapasitas produksi dan fasilitas serta ketrampilan SDM. Fasilitas produksi yang sudah tua menjadikan turun kemampuan produktivitasnya.
Melihat sifat dan kondisi industri perkapalan diatas, maka dalam pengelolaannya harus menggunakan prinsip kehati- hatian. Banyak kondisi ketidakpastian yang akan terjadi, karena industi galangan kapal, dari hulu sampai hilir banyak tergantung pada industri lain, termasuk juga ketergantungan terhadap material import yang masih tinggi. Kondisi ini akan sangat berpengaruh sekali pada galangan kapal nasional, karena ketergantungan terhadap barang impor masih sangat tinggi sekali, disamping itu, dukungan dari pemerintah dalam rangka pengembangan industri galangan kapal nasional masih
sangat sedikit sekali. Factor lain yang juga perlu diperhatikan antara lain: kemampuan industri pendukung yang belum berkembang dengan baik, dukungan SDM yang perlu ditingkatkan, teknologi, kondisi internal perusahaan galangan kapal, belum sinergi antar galangan kapal nasional.
Industri galangan kapal adalah industri yang padat modal dan tingkat pengembaliannya yang cukup lama (slow yielding), sehingga dalam operasionalnya harus menggunakan prinsip kehati-hatian. Untuk meminimalkan cost operasionalnya, galangan kapal salah satunya dapat memanage melalui pengelolaan tingkat risiko yang dihadapi dalam operasionalnya [9], demikian juga pengelolaan dengan memasukan faktor eksternal [10].
Beberapa risk assessment pada industri perkapalan telah dilakukan, antara lain Asok et al. [5] dengan schedule risk menggunakan pendekatan model matematis, analisis yang dilakukan dengan pengurangan schedule risk pada management proyek berdasarkan persamaan matematis: module join time, module construction timesertatime rework, menggunakan database. Atua [2] menggunakancost risk dan schedule riskdalam analisis risiko menggunakan pendekatan deterministic, evaluasi risiko dilakukan pada proses produksi kapal dengan menggunakan pendekatan CPM (Critical Path Method) dan PERT (Program Evaluation and Review Technique). Dalam proses pembangunan kapal ada unsur ketidakpastian, maka diperlukan sebuah upaya dari manajer, untuk menyusun kembali jadwal dan menyusun project task serta menyediakan sumber daya pendukung. Dampak ketidakpastian ini adalah terjadinya penyimpangan dari jadwal dan terjadinya sebuah risiko terlambatnya proyek pembangunan kapal.
Dengan pendekatan statistik, evaluasi risiko telah dikemukan oleh: Basuki dan Widjaja [9], Basuki dkk [14], Basuki dan Suardi [16], Lee et al. [8], Lu et al. [1], Moyst et al. [6]. Basuki dan Widjaja [9] telah mengusulkan perlunya proses mitigasi risiko dalam analysis riskdengan pendekatan kualitatif dandeterministic. Analisis risiko dengan pendekatan deterministic telah dilakukan oleh beberapa peneliti, antara lain: Basuki dan Setyoko [11], Basuki dan Novendi [13], Basuki dan Choirunisa [17], Basuki dan Prasetyo [18], Basuki dan Kurniawan [19], Robu [3], Vassalos et al. [7]. Analisis dengan pendekatan optimasi dalam evaluasi risiko telah dilakukan oleh Lee et al. [12].
Basuki dan Widjaja [9] telah melakukan evaluasi risiko pada proses pembangunan kapal dengan pendekatan statitistik mulai tahap awal proses produksi sampai tahap erection. Evaluasi risiko pada tahap desain sampai delivery telah dilakukan Basuki dan Setyoko [11] dan Basuki dan Novendi [13], Basuki dan Choirunisa [17], Basuki dan Kurniawan [19], dengan analisis standar Australia. Asok and Aoyama [5] melakukan evaluasi risiko pada proses pembangunan kapal pada tahap assembly sampai erection dengan schedule risk dengan menggunakan model matematis. Lee et al [8] melakukan evaluasi risiko pada industri galangan kapal dari tahap kontrak sampai delivery dengan pendekatan statistik, masing-masing phase dilakukan risk assessment. Evaluasi risiko dengan Bayesian network sudah dilakukan oleh Lee et al [12] pada proses pembangunan kapal. Atua [2] melakukan evaluasicost riskdanschedule riskproses pembangunan kapal pada industri galangan kapal.
Prosiding Seminar Nasional Rekayasan Material, Sistem manufaktur dan Energi
IV. HASILDANPEMBAHASAN
Untuk mensederhanakan penyelesaian dan berdasarkan data lapangan yang diperoleh, bahwa pada dasarnya proses pembangunan kapal dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu: proses desain, proses pengadaan material dan proses produksi. Pada masing-masing proses tersebut juga ada subproses yang dijalankan. Proses desain, proses pengadaan material dan proses produksi beserta sub prosesnya akan memunculkan risiko yang berbeda. Keterkaitan antar proses dan subproses dianalisis hazard potensial yang muncul untuk dipetakan besaran nilai probabilitas serta dampak yang ada, dalam bentuk jejaring untuk mengetahui hubungan antar titik simpul. Model jejaring dikembangkan, karena pekerjaan bangunan baru, antara satu proses dengan proses yang lainnya sangat berhubungan sekali, bahkan antara subproses satu dengan subproses yang lainnya juga sangat berhubungan. Antara subproses dengan proses juga memiliki keterkaitan serta hubungan. Apabila satu proses atau satu subproses terhambat dan terlambat, maka akan berpnegaruh terhadap proses yang lainnya. Model jejaring yang dikembangkan dibagi menjadi model jejaring utama dan model jejaring untuk masing- masing proses serta subprosesnya. Data yang dipakai dasar untuk analisis dalam studi kasus ini adalah data proses pembangunan kapal tunda 2 x 1600 HP milik PT. Pelindo I dengan nomor pembangunan 308 yang dibangun di PT. Daya Radar Utama Jakarta.
Model Jejaring Utama
Model jejaring utama dirumuskan seperti pada gambar 4 berikut:
Gambar 4. Model Jejaring Utama
Nilai probability of risk occurrence dihitung berdasarkan probabilitas untuk masing-masing titik simpul Value at Risk (VaR) dan disusun dalam tabel berikut:
Tabel 1.Nilai Probabilitas VaR Jejaring Utama
Komponen Probabilitas VaR
Desain (termasuk tes model kapal) 0,0058
Material 0,1348
Produksi 0,1893
Total 0,333
Model Jejaring Desain
Model jejaring desain dirumuskan seperti pada gambar 5 berikut:
Gambar 5. Model Jejaring Desain
Nilai probability of risk occurrence dihitung berdasarkan probabilitas untuk masing-masing titik simpul Value at Risk (VaR) dan disusun dalam tabel berikut:
Tabel 2.Nilai Probabilitas VaR Jejaring Desain
Komponen Probabilitas VaR
Design and Engineering 0,001157
Model Kapal & Model 3D 0,000007
Uji Model Kapal 0,000694
Total 0,001928
Model Jejaring Material
Model jejaring material dirumuskan seperti pada gambar 6 berikut:
Gambar 6. Model Jejaring Material
Nilai probability of risk occurrence dihitung berdasarkan probabilitas untuk masing-masing titik simpul Value at Risk (VaR) dan disusun dalam tabel berikut:
Tabel 3.Nilai Probabilitas VaR Jejaring Material
Komponen Probabilitas VaR
Lambung 0,006573
Perlengkapan Lambung 0,007483
Permesinan 0,01217
Kelistrikan 0,007484
Total 0,03371
Model Jejaring Produksi
Model jejaring produksi dirumuskan seperti pada gambar 7 berikut:
Prosiding Seminar Nasional Rekayasan Material, Sistem manufaktur dan Energi
Gambar 7. Model Jejaring Produksi
Nilai probability of risk occurrence dihitung berdasarkan probabilitas untuk masing-masing titik simpul Value at Risk (VaR) dan disusun dalam tabel berikut:
Tabel 3.Nilai Probabilitas VaR Jejaring Produksi
Komponen Probabilitas VaR
Lambung 0,01396 Perlengkapan Lambung 0,01292 Permesinan 0,00753 Kelistrikan 0,01292 Total 0,04733 V. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut: pada model utama probabilitas terbesar penyebab keterlambatan adalah kegiatan produksi. Kegiatan design and engineering adalah penyebab terbesar keterlambatan proses bangunan baru pada model desain. Pada model material, probabilitas terbesar penyebab keterlambatan adalah kegiatan machinery/permesinan. Pada model produksi, kegiatan hull construction/pekerjaan lambung mempunyai probabilitas terbesar penyebab keterlambatan bangunan baru. Aktifitas produksi harus mendapat perhatian, karena mempunyai risiko besar penyebab keterlambatan bangunan baru kapal tunda 2 x 1600 HP dengan nomer pembangunan 308.
UCAPANTERIMAKASIH
Penelitian ini adalah bagian dari laporan penelitian Fundamental. Terima kasih kepada Direktur DP2M atas bantuan pembiayaan, sehingga penelitian ini bisa terselenggara.
REFERENSI
[1] Lu, BZ and Tang A.S.T., 2000, China Shipbuilding Management Chalenges in the 1980s, Maritime Policy & Management, Volume 27, Number 1, pp. 71-78.
[2] Atua, KI, 2003, Schedule Risk Assessment in Planning Ship Production, Alexandria Engineering Journal, Volume. 42, Number 5.
[3] Robu, B., Gavrilescu, M., and Macoveanu, M., 2003, Risk Assessment for a Shipyard From Romanian Black Sea Coast, Environmental Engineering and Management Journal, Volume 2, Number 4, pp. 303-316.
[4] Suryohadiprojo, A, 2004, Prospek Pengembangan Industri Galangan Kapal, Majalah BKI, Jakarta.
[5] Asok, K.A, and Aoyama, K, 2005, Risk Management in Modular Ship Hull Construction Cinsidering Indefinite Nature of Task, Paper ICCAS, Busan South Korea, 23-24 August.
[6] Moyst, H and Das, B, 2005, Factors Affecting Ship Design and Construction Lead Time and Cost, Journal Ship Production, Volume 21, Number 3, pp. 186-194. [7] Vassalos, D., Guarin, J., and Konovessis, D., 2006,Risk-
Based Ship Design: Concept, Methodology and Framework, 3rd International ASRANet Colloquium [8] Lee, E., Shin, J.G. and Park, Y, 2007, A Statistical
Analysis of Engineering Project Risk in the Korean Shipbuilding Industry, Journal Ship Production, Volume 23, Number 4, pp. 223-230.
[9] Basuki, M dan Widjaja, S, 2008, Studi Pengembangan Model Manajemen Risiko Usaha Bangunan Baru Pada Industri Galangan Kapal, Prosiding Seminar Nasional Teknologi Produksi, Jurusan Teknik Perkapalan, FTMK ITATS.
[10]Basuki, M,2009,A Concept Risk Management Model for Ship Construction Process with Externality Factors, Proceeding Seminar Nasional Applied Technology and Arts, LPPM ITS.
[11]Basuki, M dan Setyoko, T, 2009, Risiko Operasional Pada Proses Pembangunan Kapal FPB 38 Dengan Material Aluminium di PT. PAL Indonesia, Prosiding Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan (SENTA) 2009, FTK, ITS.
[12]Lee, E., Park, Y., and Shin, J.G., 2009, Large Engineering Project Risk Management Using a Bayesian Belief Network, Expert Systems with Applications: An Journal International, Volume 36, Issue 3, pp. 5880-5887. [13]Basuki, M. dan Novendi, I, 2010, Analisa Risiko
Operasional Pada Proses Konversi Workboat Menjadi Supply Vessel Kapal MV. Sam Prosper I di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya, Prosiding SENTA 2010, FTK, ITS. [14]Basuki, M., Artana, I.K.B., Nugroho, S., dan
Dinariyana, A.A.B.,2010,Probabilistic Risk Assessment Pada Industri Galangan Kapal, Prosiding SENTA 2010, FTK, ITS.
[15]Deperindag Jawa Timur, 2010, Laporan Akhir Kajian Industri Perkapalan di Jawa Timur.
[16]Basuki, M dan Suardi, A.T,2012,Analisis Risiko Proses Bangunan Baru Pada Industri Galangan Kapal Skala Besar, Jurnal Saintek, Volume 9, Nomor 1, Juni 2012, pp. 44-47, Kopertis VII Surabaya.
[17]Basuki, M. dan Choirunisa, B, 2012, Analisa Risiko Proses Pembangunan Kapal Baru 3.500 LTDW White Product Oil Tanker – Pertamina di PT. Dumas Tanjung Perak Surabaya, Jurnal Neptunus, Volume 18, Nomor 2, pp. 97-109, Edisi Juli 2012, Fakultas Teknik UHT.
[18]Basuki, M dan Prasetyo, D, 2012,Analisa Risiko Pada Pekerjaan Bangunan Baru di PT. Ben Santosa, Penelitian tidak dipublikasikan, Jurusan Teknik Perkapalan, FTMK, ITATS.
[19]Basuki, M., dan Kurniawan, I., 2013, Analisis Risiko Pembangunan Kapal Baru 6.500 LTWD Product Oil Tanker–Pertamina di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya
Prosiding Seminar Nasional Rekayasan Material, Sistem manufaktur dan Energi
(Persero), Penelitian tidak dipublikasikan, Jurusan Teknik Perkapalan, Oktober 2013, ITATS.
Prosiding Seminar Nasional Rekayasan Material, Sistem Manufaktur dan Energi