• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bukti re-submit dan naskah artikel hasil revisi pada Tanggal 16 Desember 2022

komentari oleh reviewer pada Tanggal 06 Desember 2022

3. Bukti re-submit dan naskah artikel hasil revisi pada Tanggal 16 Desember 2022

Analisis Implementasi Kebijakan Sosial Pencegahan Stunting di Kabupaten Malang

Hutri Agustino, Eko Rizqi Purwo Widodo

[email protected], [email protected]

1Universitas Muhammadiyah Malang

2Universitas Muhammadiyah Malang

Abstract

This study aims to analyze the Implementation of the Stunting Prevention Policy in Malang Regency based on Regent Regulation No. 33 of 2018 as a means of evaluating the level of achievement of the success of the policy program. As data from the Malang District Health Office in 2018 noted that there were at least 30,323 stunted children, who were divided into two groups, namely very short and short based on classification by measuring height. This research used a qualitative approach with a descriptive type, the subjects in this study were determined purposively with the informants being program beneficiaries who were in the Malang Regency area. The results showed that the Department of Population Control and Family Planning (DP2KB) of Malang Regency consisted of four areas, namely: (1) Field of Counseling and Mobilization of Regional Family Planning (PPKBD); (2) Population Control Sector; (3) Family Resilience and Welfare Sector; and (4) Family Planning Service Sector. The four fields each have a number of priority priority programs in preventing stunting in Malang Regency. In general, prevention activities have been going well, but there are a number of things that are felt to be not optimal, including: (1) Lack of program synergy between OPDs which specifically have slices of activities related to the prevention, control and handling of stunting cases, including the involvement of university elements The high is from NGOs concerned with the issue to relevant NGOs; and (2) the uneven distribution of programs for each DP2KB sector in all villages/kelurahans in Malang Regency, including those involving elements of educational institutions, both formal (schools) and non-formal (Ponpes) as well as various other organs that can become program partners.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Implementasi Kebijakan Pencegahan Stunting di Kabupaten Malang berdasarkan pada Peraturan Bupati No 33 Tahun 2018 sebagai sarana evaluasi tingkat capaian keberhasilan program kebijakan.

Sebagaimana data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang tahun 2018 yang mencatat terdapat sedikitnya 30.323 anak stunting tersebut, yang terbagi kedalam dua kelompok, yakni sangat pendek dan pendek berdasarkan penggolongan dengan kriteria pengukuran tinggi badan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif, subyek dalam penelitian ini di tentukan dengan purposive dengan informan adalah penerima manfaat program yang berada di wilayah Kabupaten Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten

Keywords

Implementasi, Kebijakan, Stunting,

Article History Received date Revised date Accepted date Published date

Corresponding Author Name. Postal Address. Postal Code.

Malang terdiri dari empat bidang, yakni: (1) Bidang Penyuluhan dan Penggerakan Keluarga Berencana Daerah (PPKBD); (2) Bidang Pengendalian Penduduk; (3) Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga; dan (4) Bidang Pelayanan Keluarga Berencana. Keempat bidang tersebut masing-masing memiliki sejumlah program kegiatan prioritas dalam pencegahan stunting di Kabupaten Malang. Secara umum kegiatan pencegahan sudah berjalan dengan baik, namun terdapat beberapa hal yang dirasa belum maksimal, diantaranya adalah: (1) Kurangnya sinergitas program antar OPD yang secara khusus memiliki irisan kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan, penanggulangan dan penanganan kasus stunting, termasuk pelibatan unsur Perguruan Tinggi, NGO yang concern terhadap persoalan tersebut sampai NGO yang relevan; dan (2) Belum meratanya program masing-masing bidang DP2KB di seluruh desa/ kelurahan yang ada di Kabupaten Malang termasuk yang melibatkan unsur lembaga pendidikan baik formal (sekolah) maupun non formal (Ponpes) serta berbagai organ lain yang bisa menjadi mitra program.

Pendahuluan/ Introduction (12pt, Bold, multiple 1.15 space)

Percepatan penanganan stunting tahun 2020 diperluas ke 260 kabupaten dan kota dari yang sebelumnya 160 kabupaten dan kota pada tahun 2019. Dalam RPJMN 2020-2024 penekanan angka stunting ditargetkan menjadi 19 persen pada 2024 dari yang saat ini 30,8 persen. Upaya ini harus dilakukan dengan semaksimal mungkin dengan intervensi gizi spesifik dan sensitive. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak dan memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit kronis di masa dewasanya.

Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun. UNICEF mendefinisikan stunting sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi badan di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis). Hal ini diukur dengan menggunakan standar pertumbuhan anak yang dikeluarkan oleh WHO.

Sebagaimana telah diketahui sebelumnya bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan angka prevalensi stunting tertinggi di Asia pada 2017. Namun Nila F Moeloek di akhir masa jabatannya sebagai Menteri Kesehatan RI mengatakan bahwa pada tahun 2019 angka stunting sudah turun menjadi 27,67 persen atau berkurang 10 persen. Tapi standar WHO 20 persen. Perlu diketahui, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) secara periodik 5 tahunan melakukan riset.

Mereka riset terhadap 84.000 balita dalam bentuk Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI). SSGBI 2019 dilakukan secara terintegrasi dengan Susenas untuk mendapatkan gambaran status gizi yang meliputi underweight (gizi kurang), wasting (kurus), dan stunting (kerdil). Hasilnya, prevalensi balita underweight atau gizi kurang pada tahun 2019 berada di angka 16,29 persen. Angka ini mengalami penurunan sebanyak 1,5 persen. Kemudian prevalensi balita stunting pada tahun 2019 sebanyak 27,67 persen, turun sebanyak 3,1 persen. Sementara itu untuk prevalensi balita wasting (kurus) berada pada angka 7,44 persen.(ADMINISTRATOR, 2019).

Sumber: (P2PTM Kemenkes RI, 2018)

Sebagaimana tertuang dalam roadmap nasional, persoalan children stunting ditargetkan tuntas pada tahun tahun 2024 mendatang yang menjadi akhir dari pemerintahan periode kedua Presiden Joko Widodo sebagaimana tampak dalam gambar di bawah ini:

Sumber: (LPPA PDA Karanganyar, 2020)

Berikutnya adalah data prevalensi stunting pada tahun 2007 sampai 2019 serta target yang ingin dicapai pada tahun 2024 tampak dalam grafik di bawah ini:

Sumber:(sumarjati arjoso, 2021)

Sedangkan Roadmap penurunan stunting sampai tahun 2024 sebagaimana tampak dalam bagan di bawah ini:

Sumber: (Zainal Arif, 2020)

Memperhatikan berbagai data dan analisis di atas, maka penelitian ini akan di fokuskan untuk memahami strategi penanggulangan persoalan children stunting di Kabupaten Malang, karena wilayah ini masuk kategori yang cukup tinggi prevalensi stuntingnya sebagaimana data Dinas Kesehatan Kabupaten Malang tahun 2018 yang mencatat terdapat sedikitnya 30.323 anak stunting tersebut, yang terbagi kedalam dua kelompok, yakni sangat pendek dan pendek berdasarkan penggolongan dengan kriteria pengukuran tinggi badan.Di Kabupaten Malang prevalensi stunting sebesar 14.1 persen atau sekitar 26.700 balita dari seluruh balita di Kabupaten Malang sebanyak

189.600. Pada tahun 2020 di Jawa Timur ada 16 Kabupaten/Kota yang menjadi wilayah prioritas penggarapan stunting salah satunya adalah Kabupaten Malang.

Kerangka Teoritis/ Theoretical Framework Kebijakan Sosial

Kebijakan sosial hadir sebagai cara untuk memecahkan masalah sosial (social problem) dan memenuhi kebutuhan sosial (social needs) bagi semua golongan masyarakat yang mempermudah dan meningkatkan kemampuan mereka dalam menanggapi perubahan sosial. Ada berbagai definisi mengenai yang kebijakan sosial yang dikemukan oleh beberapa ahli seperti Marshall, Rein, Hutman, Magil, Spicker dan Hill juga yang mengartikan kebijakan sosial dalam kaitannya dengan kebijakan kesejahteraan sosial, yaitu: Kebijakan sosial adalah kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan tindakan yang memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan warga negara melalui penyediaan pelayanan sosial atau bantuan keuangan (Marshal, 1965); Kebijakan sosial adalah perencanaan untuk mengatasi biaya-biaya sosial, peningkatan pemerataan, pendistribusian pelayanan dan bantuan sosial (Rein, 1970); Kebijakan sosial adalah strategi-strategi, tindakan-tindakan atau rencana-rencana untuk mengatasi masalah sosial dan memenuhi kebutuhan sosial (Huttman, 1981); Kebijakan sosial merupakan bagian dari kebijakan publik. Kebijakan publik meliputi semua kebijakan yang berasal dari pemerintah, seperti kebijakan ekonomi, transportasi, komunikasi, pertahanan keamanan (militer), serta fasilitas-fasilitas umum lainnya (air bersih, listrik).

Kebijakan sosial merupakan satu tipe kebijakan publik yang diarahkan untuk tujuan sosial (Magil, 1986); Kebijakan sosial adalah kebijakan yang berkaitan dengan kesejahteraan (welfare), baik dalam arti luas yang menyangkut kualitas hidup manusia maupun dalam arti sempit yang menunjuk pada beberapa jenis pemberian pelayanan kolektif tertentu guna melidungi kesejahteraan rakyat (Spicker, 1995); Kebijakan sosial adalah studi mengenai peranan negara dalam kaitannya dengan kesejahteraan warganya (Hill,1996); Kebijakan sosial menunjuk pada apa yang dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia melalui pemberian beragam tunjangan pendapatan, pelayanan kemasyarakatan dan program-program tunjangan sosial lainnya (Bessant, Watts, Dalton dan Smith 2006). Dari berbagai definisi yang dikemukan oleh berbagai ahli dapat disimpulkan bahwa kebijakan sosial merupakan salah satu kebijakan publik. Kebijakan sosial merupakan ketetapan pemerintah yang dibuat untuk merespon isu-isu yang bersifat publik, yakni mengatasi masalah sosial atau memenuhi kebutuhan masyarakat banyak. Sebagai sebuah kebijakan publik, kebijakan sosial memiliki fungsi preventif (pencegahan), kuratif (penyembuhan), dan pengembangan (developmental). Sebagai wujud kewajiban negara (state obligation) dalam memenuhi hak-hak sosial warganya. Secara garis besar kebijakan sosial diwujudkan dalam tiga kategori, yakni perundang-undangan, program pelayanan sosial dan sistem perpajakan. Berdasarkan kategori ini maka dapat dinyatakan bahwa setiap perundang-undangan, hukum atau peraturan yang menyangkut masalah dan kehidupan sosial adalah wujud dari kebijakan sosial. Namun tidak semua kebijakan sosial berbentuk perundang-undangan (Kebijakan Sosial, 2010).

Stunting

Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari

anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Pemantauan Status Gizi (PSG) pada tahun 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di Indonesia masih tinggi, yakni 29,6 persen di atas batasan yang ditetapkan WHO (20 persen). Pada tahun 2015 Indonesia tertinggi ke-2 dibawah Laos untuk jumlah anak stunting. Indonesia merupakan negara nomor empat dengan angka stunting tertinggi di dunia. Lebih kurang sebanyak 9 juta atau 37 persen balita Indonesia mengalami stunting (kerdil).

Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun. Stunting memiliki gejala-gejala yang bisa Anda kenali, misalnya: wajah tampak lebih muda dari anak seusianya; pertumbuhan tubuh dan gigi yang terlambat; memiliki kemampuan fokus dan memori belajar yang buruk; masa Pubertas yang lambat; ketika menginjak usia 8-10 tahun, anak cenderung lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang sekitarnya; dan berat badan lebih ringan untuk anak seusianya.

Kementrian Kesehatan menegaskan bahwa stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas masyarakat Indonesia. Bukan hanya mengganggu pertumbuhan fisik, anak-anak juga mengalami gangguan perkembangan otak yang akan memengaruhi kemampuan dan prestasi mereka. Selain itu, anak yang menderita stunting akan memiliki riwayat kesehatan buruk karena daya tahan tubuh yang juga buruk. Stunting juga bisa menurun ke generasi berikutnya bila tidak ditangani dengan serius. Mengingat stunting adalah salah satu masalah kesehatan yang cukup membahayakan, memahami faktor penyebab stunting sangat penting untuk dilakukan. Dengan begitu, Anda bisa melakukan langkah-langkah preventif untuk menghindarinya. Berikut ini beberapa faktor penyebab stunting yang perlu di ketahui: faktor sanitasi, sakit infeksi yang berulang; gangguan mental dan hipertensi pada ibu, tidak melakukan perawatan setelah melahirkan, pola makan dan pola asuh yang buruk sehingga mengakibatkan kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Menyadari bahwa stunting adalah masalah kesehatan yang berisiko tinggi dan dapat memengaruhi pertumbuhan anak hingga dewasa, maka diperlukan berbagai upaya pencegahan mulai dari meningkatkan kebersihan, mengkonsumsi asam folat, pentingnya asupan Air Susu Ibu (ASI), melakukan pemeriksaan kesehatan secara regular, pilihan menu makanan yang beragam yang menyesuaikan dengan usia dan kebutuhan asupan gizi (Tim RSUD Blora, 2022).

Metode/ Methods

Penelitian lapangan ini lebih ditekankan pada pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif naratif. Secara formal, lokasi penelitian berada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang dengan kemungkinan terfokus pada beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang menjadi leading sector dalam proses implementasi Peraturan Bupati Nomor 33 Tahun 2018 tentang Upaya Pencegahan Stunting, yaitu Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB). Penentuan subjek penelitian akan dilakukan secara purposive, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu sesuai dengan prinsip nonprobability sampling. Misalnya, subjek tertentu di anggap paling mengetahui dan memiliki otoritas untuk menjelaskan beberapa hal yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini atau bisa di istilahkan sebagai tokoh kunci (key persons) pada beberapa Kepala Bidang (Kabid) di lingkungan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Malang dalam kaitan implementasi Perbup No 33 Tahun 2018.

Terkait dengan teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yang lazim di pergunakan oleh Denzin dan Lincoln adalah sebagai berikut: (a) Observasi terstruktur maksudnya Peneliti melakukan pengamatan secara langsung dalam kegiatan pelatihan, penyuluhan dan simulasi program pencegahan stunting di Kabupaten Malang. (b) Wawancara Mendalam maksudnya

Penggunaan teknik ini ditujukan untuk keperluan koleksi data sebagai berikut: (1) Bagaimana implementasi Perbup No 33 Tahun 2018 tentang pencegahan stunting oleh beberapa OPD sebagai telah tersebut di atas; (2) bagaimana tantangan dan dinamika yang dihadapi saat realisasi strategi tersebut serta hasil yang diperoleh. (c) Dokumenter maksudnya Penelitian ini tentu juga membutuhkan justifikasi data sekunder berupa dokumentasi foto, video, artikel dan kliping berita yang relevan dengan tema penelitian. (d) Focus Group Discussion (FGD) maksudnya adalah proses pengumpulan data dan informasi sistematis mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok. FGD digunakan karena alasan baik filosofis, metodologis maupun praktis. FGD dilakukan karena alasan filosofis artinya FGD dapat memberikan informasi dari berbagai perspektif sehingga dapat memperkaya temuan hasil penelitian—yang dalam konteks ini berarti bagaimana implementasi strategi pencegahan stunting oleh Pemerintah Kabupaten Malang melalui beberapa OPD terkait serta tantangan dalam proses implementasi strategi tersebut.

FGD digunakan dengan alasan praktis artinya pihak yang dilibatkan dalam FGD tidak merasa sebagai ‘objek’ namun merasa sebagai ‘subjek’ yang aktif dan bebas serta merasa benar-benar terlibat dalam penemuan hasil penelitian.

Data yang telah terkumpul melalui teknik observasi, wawancara dan dokumentasi kemudian dianalisis dengan tahapan pertama reduksi data, display data dan verifikasi atau penarikan konklusi. (1) Tahapan reduksi data adalah tahapan penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data “kasar” yang terkumpul dari catatan tertulis di lapangan. Reduksi data berlangsung terus menerus selama penelitian berlangsung bahkan dimulai sebelum peneliti memutuskan kerangka konseptual wilayah penelitian, permasalahan penelitian dan pendekatan pengumpulan data yang dipilih dalam penelitian ini. Reduksi data berlanjut terus sesudah penelitian lapangan di lokasi penelitian yaitu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang. (2) Tahapan data display atau penyajian data adalah sekumpulan informasi yang tersusun yang memungkinkan adanya penarikan kesimpulan. Penyajian yang paling sering dipakai dalam bentuk teks naratif. (3) Tahapan verifikasi atau penarikan kesimpulan adalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh.

Kesimpulan yang ada diverifikasi selama penelitian berlangsung sehingga prinsip dari tahapan analisis data ini sifatnya sirkuler.

Hasil dan Pembahasan/ Result and Discussion

Secara umum, stunting dapat didefinisikan sebagai gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan masalah gizi kronis sejak anak masih berada dalam kandungan. Umumnya, gejala stunting baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Stunting merupakan parameter pertumbuhan anak berdasarkan tinggi badan. Wasting adalah parameter pertumbuhan anak berdasarkan berat badan. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2017, Indonesia menempati urutan kelima untuk kategori negara yang memiliki jumlah kasus stunting terbanyak di dunia dengan persentase mencapai 37 persen. Upaya menurunkan jumlah kasus stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia.

Pemberantasan stunting adalah usaha berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas SDM di masa mendatang. Ini agar Indonesia dapat menghasilkan banyak SDM unggul yang memiliki daya saing hingga ke tingkat internasional. Pencegahan stunting tak hanya menjadi tanggung jawab individu atau calon orang tua, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemerintah sebagai fasilitator. Oleh sebab itu, penurunan prevalensi stunting pada balita telah menjadi agenda utama Pemerintah RI. Misalnya, Sekretariat Wakil Presiden mengkoordinasikan upaya percepatan pencegahan stunting agar konvergen, baik pada perencanaan,

pelaksanaan, termasuk pemantauan dan evaluasinya di berbagai tingkat pemerintahan, termasuk desa. Setwapres mendorong keterlibatan semua pihak dalam percepatan pencegahan stunting agar prevalensi turun hingga 14 persen pada tahun 2024 nanti. Selanjutnya, berdasarkan data yang dikumpulkan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur pada bulan Pebruari tahun 2020 prevalensi stunting di Jawa Timur adalah sebesar 13.6 persen. Namun demikian angka ini masih terhitung tinggi dan masih banyak anak mengalami stunting di Jawa Timur yaitu sekitar 380.000 balita. Di Kabupaten Malang prevalensi stunting sebesar 14.1 persen atau sekitar 26.700 balita dari seluruh balita di Kabupaten Malang sebanyak 189.600. Pada tahun 2020 di Jawa Timur ada 16 Kabupaten dan Kota yang menjadi wilayah prioritas penggarapan stunting salah satunya adalah Kabupaten Malang.

Memperhatikan data diatas, maka Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Malang sebagai leading sector utamanya dalam aksi atau tindakan pencegahan stunting memiliki berbagai program sebagaimana di sampaikan oleh Ibu Anis Waty Aziz selaku Kepala Dinas berikut ini:

“Program kami dalam mencegah bertambahnya jumlah stunting seperti edukasi pranikah, TRIBINA yaitu bina keluarga balita, bina keluarga remaja dan bina keluarga lansia kemudian juga ada UPPKSnya Upaya Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera jadi itu adalah kelompok yang terdiri dari ibu ibu saja yang ber KB yang memiliki usaha. Selanjutnya ada aplikasi kontra war aplikasi yang bisa mengetahui tentang ibu hamil dengan resiko tinggi “ (23/8).

Sedangkan Bapak Aunur Rofiq selaku Sekretaris DP2KB memaparkan lebih detail sebagai berikut ini:

“Kebijakan yang dilakukan di DPPKB yaitu terkait pengendalian penduduk dengan cara mengedukasi remaja pranikah yang kita lakukan melalui program pengendalian penduduksekolah siaga kependudukan yang berbasis masyarakat memberikan wawasan terhadap anak usia sekolah terkait aspek dampak kependudukan dalam rangka pengendalian penduduk dan peningkatan kualitas”.

Masih menurut Bpk Rofiq, bahwa dalam mendukung realisasi program—DP2KB juga berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk Perguruan Tinggi sebagaimana di sampaikan di bawah ini:

“Dalam membantu kelancaran kegiatan tersebut kami memiliki aplikasi yang bisa diakses masyarakat yaitu aplikasi “Konco Sregep” ada 13 materi dalam apliksai tersebut yang akan menilai kesehatan reproduksi. Pembuatan aplikasi ini kami bekerjasama dengan SKM UNAIR. Sedangkan terkait dengan surveillance kami memiliki aplikasi “Contra War”.

Bidang Penyuluhan dan Penggerakan Keluarga Berencana Daerah (PPKBD)

Berikutnya adalah penyampaian dari Bapak Pamuji Handoko selaku Kepala Bidang Penyuluhan dan Penggerakan di bawah ini:

“Dalam kepentingan aksi pencegahan stunting, bidang Penyuluhan dan Penggerakan adalah membantu memberikan support ke 3998 kader PPKBD (Pembantu Pembina Keluarga Berencana di Desa) yang ada di desa dalam upaya mencegah bertambahnya jumlah stunting”.

Selanjutnya terkait dengan Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) yang merupakan wadah pengelolaan dan pelaksanaan gerakan pembangunan keluarga sejahtera ditingkat Desa/ Kelurahan, dusun/RW dan RT kebawah, yaitu PPKBD, SUB PPKBD. Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) yang wilayah kerjanya setingkat Desa atau Kelurahan. dan Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (Sub PPKBD) wilayah kerjanya setingkat Dusun atau RW. Kader PPKBD dan Sub PPKBD merupakan sumber daya manusia lokal yang sangat

penting dan menjadi satu kekuatan yang dapat diandalkan untuk tetap dapat mempertahankan keberhasilan program KB di masyarakat seiring dengan perkembangan program yang terus melakukan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) tentang program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kepandudukan dan Keluarga Berencana) dengan aktif kepada masyarakat dan keluarga.

Latar Belakang adalah Permasalahan penduduk yang semakin kompleks membutuh perhatian dari berbagai pihak, sehingga perlu dilakukan pemetaan wilayah berdampak agar program pemerintah lebih tepat sasaran; Pentingnya skala prioritas permasalahan, untuk mengetahui tingkat urgensi atau mendesaknya suatu permasalahan untuk segera ditangani; Pentingnya dukungan dari berbagai sektor atau komponen bidang lain dalam mendukung keberhasilan program BANGGA KENCANA apalagi dengan dikeluarkannya Prepres nomor 72 tahun 2021 tentang Pecepatan Penurunan Stunting, yang menjadi tanggung jawab dari BKKBN untuk mengawal penurunnan stunting. Pola pembinaan PPKBD dalam memberikan KIE kepada masyarakat pedesaan:

Pola 1. PPKBD langsung ke Keluarga Pola 2. PPKBD ke Sub PPKBD ke Keluarga

Pola 3. PPKBD ke Sub PPKBD ke Kelompok KB ke Keluarga

Pola 4. PPKBD ke Sub PPKBD ke Kelompok KB ke Dasa Wisma Keluarga

Pola 5.PPKBD ke Sub PPKBD ke Kelompok KB ke Dasa Wisma Keluarga ke keluarga Lain

REKAP PPKBD DAN SUB PPKBD SEKABUPATEN MALANG DINAS PENGENDALIAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA

KABUPATEN MALANG TAHUN ANGGARAN 2021

NO KECAMATAN JUMLAH PPKBD DAN SUB PPKBD

KET

PPKBD SUB PPKBD

1 DONOMULYO 10 105

2 PAGAK 8 69

3 BANTUR 10 95

4 SUMBERMANJING

WETAN 15 165

5 DAMPIT 12 153

6 AMPELGADING 13 103

7 PONCOKUSUMO 17 165

8 WAJAK 13 119

9 TUREN 17 161

10 GONDANGLEGI 14 104

11 KALIPARE 9 91

12 SUMBERPUCUNG 7 68

13 KEPANJEN 18 115

14 BULULAWANG 14 91

15 TAJINAN 12 94

16 TUMPANG 15 113

17 JABUNG 15 100

18 PAKIS 15 156

19 PAKISAJI 12 95

20 NGAJUM 9 83

21 WAGIR 12 116

22 DAU 10 78

23 KARANGPLOSO 9 101

24 SINGOSARI 17 222

25 LAWANG 12 119

26 PUJON 10 101

27 NGANTANG 13 130

28 KASEMBON 6 87

29 GEDANGAN 8 76

30 TIRTOYUDO 13 91

31 KROMENGAN 7 70

32 WONOSARI 8 77

33 PAGELARAN 10 95

JUMLAH 390 3,608 3,998

Sumber: DPPKB Kab Malang, 2021.

Selanjutnya, terdapat 6 (enam) peran Bakti bagi kader IMP yang terdiri dari:

4. Pengorganisasian

Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) Sebagai Wadah Berbagai Kegiatan Di Tingkat Desa/

Kelurahan Kebawah Memerlukan Kepengurusan.

c) Kepengurusan Tunggal - PPKBD

d) Kepengurusan Kolektif - Sub PPKBD, Kelompok KB 5. Pertemuan

Dilakukan oleh Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP), baik antar pengurus institusi, pengurus dengan PLKB/PKB maupun dengan petugas lain yang terkait dengan pengelolaan KB. Wadah untuk penyampaian Informasi/Data, Bimbingan Pembinaan, Evaluasi, Pemecahan Masalah Dan Perencanaan Kegiatan Program BANGGA KENCANA Ditingkat Lini Lapangan di antaranya pembahasan tentang deteksi dini kasus stunting.

6. Kie Dan Konseling

h) Mendorong peningkatan kesertaan masyarakat dalam ber-KB yang semakin mandiri dan lestari

i) Mendorong peran serta dan kepedulian masyarakat untuk memberikan perhatian kepada kesehatan dan keselamatan ibu dan keluarganya

j) Meningkatkan kesadaraan dan kepedulian keluarga terhadap kesehatan reproduksi dalam rangka membina keharmonisan keluarga

k) Meningkatkan ketahanan keluarga yang meliputi aspek keagamaan, pendidikan, sosial budaya, cinta kasih dan perlindungan dalam rangka mewujudkan keluarga berkualitas.

l) Meningkatkan kesadaran keluarga tentang perlunya menerapkan pola asuh anak dengan memperhatikan tumbuh kembang anak balita secara optimal

m) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga lansia dan keluarga yang memiliki anggota keluarga berusia diatas 60 tahun keatas

n) Meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan orang tua dan anggota keluarga lain dan membina tumbuh kembang anak dan remaja secara seimbang melalui komunikasi efektfi antara orang tua dan anak remaja

Mendorong keluarga agar mau dan mampu meningkatkan pendapatan keluarga melalui pemberdayaan ekonomi keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga sejahtera

Bidang Pengendalian Penduduk

Berikutnya adalah yang di sampaikan oleh Bapak Yudiono selaku Kepala Bidang Pengendalian Penduduk berikut ini:

“Program yang berkaitan dengan stunting yaitu Sekolah Siaga Kependudukan dimana akan memberikan penguatan pengetahuan kepada remaja yang akan menikah. Dalam program ini sekolah harus memasukkan kurikulum yang akan memberikan materi tentang kesehatan reproduksi dan kesejahteraan keluaraga. Saat pelatihaan bagaimana semua materi masuk dalam semua mata pelajaran disekolah sehingga materi pelajaran akan menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan kependudukan”.

Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) mengintegrasikan pendidikan kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga ke dalam beberapa mata pelajaran (Mapel) dan atau muatan lokal khusus kependudukan. Disamping itu juga, edukasi diselenggarakan melalui kegiatan kesiswaan dan Pojok Kependudukan. Adapun tujuan dari SSK adalah sebagai berikut: (a) Peserta didik memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan tentang peduli kependudukan; (b) Peserta didik berperilaku yang mencerminkan keluarga berkualitas; (c) Peserta didik memiliki pengetahuan yang utuh tentang masalah dan manfaat kependudukan setempat (local genius); (d) Peserta didik mampu menyajikan data mikro kependudukan dalam bentuk peta, grafik atau digital untuk dianalisa sederhana; (e) Mengurangi drop out (putus sekolah) dan kasus lainnya yang banyak terjadi di sekolah; dan (f) Meningkatkan pengetahuan tenaga pendidik dan peserta didik akan manfaat dan dampak dari kependudukan. Sampai dengan saat ini, sudah terdapat 7 SSK di Kabupaten Malang dengan rincian di bawah ini: SMAN 1 Kepanjen, SMAN 1 Turen, SMPN 5 Karangploso, SMPN 5 Kepanjen, SMPN 1 Wajak, SMPN 1 Tirtoyudo dan MTS Babusalam Pagelaran. Berikut ini beberapa dokumentasi kegiatan SSK di Kabupaten Malang

Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga (K3)

Selanjutnya adalah penyampaian dari Ibu Ida Sari Wardani selaku Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga (K3) berikut ini:

“Terdapat program “Kids Siap Nikah Anti Stunting” merupakan program yang masih baru yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada remaja yang akan menikah melalui berbagai modul yang disediakan, untuk bina keluarga balita ada program pola pengasuhan yang menyasar para orangtua sebagai bentuk pencegahan bertambahnya angka stunting”.

Lebih lanjut, masih menurut ibu Ida bahwa terdapat beberapa program kegiatan strategis yang sudah dan akan di laksanakan, diantaranya adalah sebagai berikut: (a) Operasional Ketahanan

Keluarga Berbasis Kelompok Kegiatan BKB; (b) Penyuluhan Tentang Pengasuhan 1000 HPK Bagi Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB); (c) Operasional Penanganan Stunting – Edukasi Pengasuhan 1000 HPK bagi Ibu dan Keluarga; dan (d) Pemahaman Kespro dan Stunting Bagi Calon Pengantin.

Bidang Pelayanan Keluarga Berencana

Menurut ibu Dewi Indriati selaku Kasie Pembinaan Kesertaan Ber KB terdapat beberapa program pokok di bidang Pelayanan Keluarga Berencana, antara lain: (a) Penyuluhan Bagi Calon Peserta Keluarga Berencana dan Penyuluhan Bagi PUS Risti merupakan Komunikasi, Edukasi kepada Keluarga dan masyarakat tentang Keluarga Berencana dan Kesehatnn Reproduksi, Keikutsertaan ber KB yang bertujuan pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan, penundaan usia kehamilan serta menjarangkan kehamilan dengan sasaran adalah Pasangan Usia Subur (PUS) dan PUS Resiko Tinggi untuk ber Keluarga Berencana (KB) sehingga menekan resiko Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) serta Angka Kelahiran Bayi Stunting; (b) Salah satu strategi dari pelaksanaan Program KB sendiri adalah dengan Pelayanan KB yang memakai Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti IUD (Intra Uterine Devices), Tubektomi (MOW), Vasektomi (MOP, dan Implant serta Metode Kontrasepsi Non Jangka Panjang seperti Suntik, Pil dan Kondom; (c) Dengan tersedianya Alat dan Obat Kontrasepsi bagi Fasilitas Kesehatan baik yang Pemerintah ataupun Swasta di 33 Kecamatan wilayah Kabupaten Malang.

Tersebut diatas adalah Sebagai Amanat Undang undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga tercantum dalam pasal 20 bahwa untuk mewujudkan kependudukan tumbuh seimbang dan keluarga berkwalitas, Pemerintah perlu menetapkan kebiijakan Keluarga berencana melalui penyelenggaraan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan keluarga berencana (Bangga Kencana) bertujuan mencapaipemenuhan Visi BKKBN yaitu terwujudnya Keluarga Ber Kualitas dan Pertumbuhan Penduduk Seimbang. Berdasarkan hasil FGD di atas, maka dapat di sajikan secara ringkas dalam bagan pencegahan stunting oleh DP2KB Kabupaten Malang di bawah ini:

Sumber: diolah dari hasil penelitian, 2021.

Kesimpulan/ Conclusion

Secara umum implementasi kebijakan sosial pencegahan stunting di Kabupaten Malang telah berjalan dengan baik—namun terdapat beberapa hal yang menjadi catatan bagi peneliti, diantaranya adalah:

a. Kurangnya sinergitas program antar OPD yang secara khusus memiliki irisan kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan, penanggulangan dan penanganan kasus stunting, termasuk pelibatan unsur Perguruan Tinggi, NGO yang concern terhadap persoalan tersebut sampai NGO yang relevan;

b. Belum meratanya program masing-masing bidang DP2KB di seluruh desa/ kelurahan yang ada di Kabupaten Malang termasuk yang melibatkan unsur lembaga pendidikan baik formal (sekolah) maupun non formal (Ponpes) serta berbagai organ lain yang bisa menjadi mitra program.

Referensi/ References

ADMINISTRATOR. (2019). Kementerian Kesehatan Fokus pada Pencegahan Stunting.

Indonesia.Go.Id. https://indonesia.go.id/narasi/indonesia-dalam-angka/sosial/kementerian-kesehatan-fokus-pada-pencegahan-stunting

Kebijakan Sosial. (2010). DEFINISI KEBIJAKAN SOSIAL. Menuju Kebijakan Sosial Yang Berpihak Pada Kaum Marjinal.

https://kebijakansosial.wordpress.com/2010/01/29/definisi-kebijakan-sosial/

LPPA PDA Karanganyar. (2020). Fakta Stunting di Indonesia. Pimpinan Daerah ’Aisyiyah (PDA) Karanganyar. http://karanganyar.aisyiyah.or.id/en/berita/fakta-stunting-di-indonesia.html P2PTM Kemenkes RI. (2018). 1 dari 3 Balita Indonesia Derita StuntingNo Title. DIREKTORAT

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT TIDAK MENULAR

DIREKTORAT JENDERAL PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT.

Pencegahan Stunting oleh DP2KB Kab Malang

1. Kabid Penyuluhan dan Penggerakan (Support kepada 3998 kader PPKBD

(Pembantu Pembina KB Desa)

2. Kabid Pengendalian Penduduk (Sekolah Siaga Kependudukan, Pendataan

Keluarga Sehat, Sistem Keluarga Sejahtera dan Sinkronisasi Kebijakan dalam

penyusunan grand design kependudukan)

3. Kabid Pelayanan Keluarga Berencana (penyuluhan

calon peserta KB, ketersedian alat dan obat KB,

varian metode KB yang bisa dilakukan )

4. Kabid Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga (Pilot

project penanaman beras Zinc di Desa Sidorejo Kec Jabung, KIT Siap nikah Anti Stunting, Tribina Keluarga:

Balita, Remaja, Lansia)

https://p2ptm.kemkes.go.id/tag/1-dari-3-balita-indonesia-derita-stunting sumarjati arjoso. (2021). Cegah Stunting untuk Indonesia Emas. Media Indonesia.

https://mediaindonesia.com/opini/378697/cegah-stunting-untuk-indonesia-emas Tim RSUD Blora. (2022). Mengenal Stunting, Penyebab Hingga Cara Pencegahannya. RSUD Dr. R

Soetijono Blora. https://rsudblora.blorakab.go.id/2022/12/15/mengenal-stunting-penyebab-hingga-cara-pencegahannya/

Zainal Arif. (2020). 5 Daerah Jatim Ini Berisiko Stunting Tinggi, Wagub Emil Sorot Kedisiplinan Masyarakat: PR Bersama. Tribunjatim.Com. https://jatim.tribunnews.com/2020/08/02/5- daerah-jatim-ini-berisiko-stunting-tinggi-wagub-emil-sorot-kedisiplinan-masyarakat-pr-bersama

4. Bukti konfirmasi re-submit dengan status

Dokumen terkait