SEKOLAH DASAR
SEANDAINYA TIDAK TERLAMBAT BANGUN
3.5 Buku Ajar Terbitan Erlangga
Seperti halnya buku-buku ajar terbitan Intan Pariwara, Tiga Se- rangkai, dan Yudhistira, buku ajar bahasa Indonesia terbitan Erlangga yang dibahas dalam pemantauan ini juga merupakan buku pelengkap.
Artinya, buku ajar ini digunakan di sekolah hanya untuk menambah atau melengkapi buku wajib (pokok) terbitan Balai Pustaka. Buku ajar terbitan Erlangga yang berjudul Pandai Berbahasa Indonesia karya Tim Bina Karya Guru ini terdiri atas empat jilid, yaitu dua jilid untuk kelas 5 (5a dan 5b) dan dua jilid untuk kelas 6 (6a dan 6b). Jilid 5a memuat pelajaran cawu 1 dan sebagian cawu 2; jilid 5b me- muat sebagian pelajaran cawu 2 dan cawu 3 kelas 5; sedangkan jilid 6a memuat pelajaran cawu 1 dan sebagian cawu 2; dan jilid 6b me- muat sebagian pelajaran cawu 2 dan cawu 3 kelas 6. Adapun kebera- daan sastra (puisi, prosa, dan drama) dalam buku-buku ajar tersebut sebagai berikut.
3.5.1 Puisi
Berdasarkan pengamatan seksama terhadap keberadaan sastra dalam buku ajar terbitan Erlangga yang berjudul Pandai Berbahasa Indonesia dapat dikatakan bahwa materi atau bahan ajar jenis (genre) puisi tampaknya lebih ditekankan dibandingkan dengan jenis sastra lainnya (prosa dan drama). Prosa dan drama kebanyakan ditekankan sebagai bahan ajar dalam topik wacana. Di samping itu, bahan ajar dalam topik wacana lebih ditekankan pada tema-tema tertentu seperti lingkungan, kesehatan, teknologi, dan sebagainya.
Tema-tema seperti yang dicontohkan di atas memang dapat men- jadi sarana efektif untuk menggali kemampuan siswa dalam bidang kesusastraan secara umum. Akan tetapi, agar dalam buku ajar ini materi puisi tidak terkesan dipaksakan atau lebih dominan, kadang- kadang bahan ajar atau materi puisi dimodifikasi dalam bentuk lagu. Dalam buku Pandai Berbahasa Indonesia 5-A (pelajaran 4, cawu 1, hlm. 50), misalnya, terdapat bahan ajar prosa dengan topik “Ceri- ta Pak Sanip” yang disisipi puisi yang dilagukan sebagai berikut.
Pada satu pinggir sungai duduklah seorang anak yang tiada ibu bapak lagi serta menangislah ...
Satu Tuan tanyalah padanya dengan hati iba
mengapa engkau duduk menangis katakan kepadaku
Anak itu jawablah kepadanya dengan hati susah
saya ini anak yatim piatu ditinggal ibu bapak ...
Ibuku matilah lemas tinggalkan saya sendiri
lagi pula bapakku mati tenggelam di dalam sungai ini.
Di dalam topik “Cerita Pak Sanip” tersebut anak atau siswa diajak untuk mencoba menikmati puisi modern tentang kehidupan seorang anak yatim piatu. Agar siswa tidak langsung dihadapkan pada materi puisi, puisi tersebut hanya disisipkan dalam bingkai cerita prosa. Walaupun hanya sebagai sisipan, pembelajaran sastra dengan cara seperti itu merupakan salah satu metode yang efektif untuk memperkenalkan karya sastra jenis puisi.
Dilihat dari gaya ucap sastra yang diekspresikannya, puisi terse- but memang tidaklah begitu indah (bahasanya), tetapi dari gayanya puisi modern tersebut sudah dapat dimengerti sebagai puisi (sastra) karena bentuk dan pilihan kata-katanya sudah dapat dikategorikan sebagai bahasa puisi yang sederhana. Dengan puisi yang dibingkai dalam prosa tersebut, anak atau siswa diajak untuk membuka pera- saannya terhadap tema-tema kemanusiaan (humaniora). Dengan di- tampilkannya tema seperti itu, sejak dini, siswa telah diarahkan untuk mengakrabi berbagai masalah kemanusiaan yang lebih besar yang akan ditemui mereka kelak setelah mereka dewasa.
Kenyataan menunjukkan pula bahwa keberadaan sastra, khu- susnya puisi, dalam buku-buku ajar bahasa Indonesia terbitan Erlang- ga tidak hanya disampaikan dalam topik secara langsung, misalnya
topik “Memahami Puisi”, tetapi juga dimasukkan dalam topik lain, misalnya dalam topik “Menceritakan Pengalaman” (pelajaran 5, ca- wu 1, tema: kepahlawanan, hlm. 58). Puisi yang dimaksudkan itu se- bagai berikut.
Jenderal Sudirman
Dalam sakitnya ia berjuang Tak pernah berkeluh kesah Baginya,
Perjuangan adalah hidup atau mati Di bawah komando kebesarannya Seluruh pemuda bersatu,
Bertekad penuh semangat Merdeka atau mati ... Tak lagi peduli
Berjuta peluru memburu nyawa Berjuta sakit menyerang dada Dia pantang menyerah
Berjuang sekuat tenaga
Untuk negara dan pertiwi tercinta
R. R. Uli Bahan ajar puisi yang berjudul “Jenderal Sudirman” di atas di- sertai dengan perintah agar puisi di atas dibaca dengan intonasi yang tepat. Perintah itu dalam kerangka logika anak-anak boleh dikatakan masih atau telah sesuai. Akan tetapi, dalam kaitannya dengan pema- haman terhadap puisi tersebut, terlihat bahwa perintah-perintah lain- nya tampaknya terlalu sulit bagi siswa kelas lima sekolah dasar. Perin- tah-perintah itu selengkapnya berbunyi sebagai berikut.
1. Bacalah puisi di atas dengan intonasi yang tepat!
2. Diskusikanlah pertanyaan di bawah ini dengan teman kelompokmu! a. Berapa baris dalam setiap bait puisi di atas?
- Perjuangan adalah hidup atau mati - Bertekad penuh semangat
- Berjuta peluru memburu nyawa - Berjuta sakit menyerang dada c. Jelaskan maksud puisi di atas!
Perintah-perintah di atas, khususnya perintah (b), tentu merupa- kan perintah yang sulit untuk dipahami oleh siswa kelas 5 sekolah dasar. Kalimat seperti “Perjuangan adalah hidup atau mati” bukanlah kalimat sederhana karena kalimat itu merupakan kalimat puisi (sastra). Dengan kata lain, kalimat itu merupakan kalimat yang cara peng- ekspresiannya secara tidak langsung.
Barangkali persoalan yang dihadapi oleh siswa kelas 5 atas ka- limat itu bukan pada pengertian bahwa kalimat itu sebagai puisi, tetapi cenderung pada pemahaman bahwa kalimat tersebut sebenar- nya kalimat filosofis yang tidak sesuai dengan tingkat penalaran mere- ka. “Perjuangan adalah hidup atau mati” merupakan kalimat yang sa- ngat erat dengan dimensi yang biasa dipergunakan oleh orang-orang dewasa dengan tingkat intelektual tertentu. Dengan demikian, timbul suatu pertanyaan: apakah puisi itu sepadan dengan tingkat usia kelas 5? Apakah ketika memasukkan puisi tersebut sebagai bahan ajar sastra sudah dalam skala perhitungan yang mendalam?
Agar puisi dapat dirasakan secara lebih mendalam, salah satu cara terbaik adalah dengan mendeklamasikan. Setelah dideklamasi- kan, siswa memang dapat dirangsang daya penalarannya dengan me- tode penafsiran. Dengan metode seperti itu kepekaan sosial siswa terhadap orang lain diharapkan dapat ditampilkan. Perhatikan kutipan puisi “Jasamu Pak Satpam” (pelajaran 7, cawu 1, hlm. 88) berikut ini.
Jasamu Pak Satpam
Putih seragammu
Seputih hatimu menjalankan tugas Badanmu kuat dan tegar
Engkaulah Pak Satpam Yang selalu siap dan waspada Menjaga ketertiban dan keamanan Hujan tak jadi hambatan
Malam tak jadi rintangan Demi tugas yang suci
Kau tinggalkan keluarga tercinta Betapa besar jasamu, Pak Satpam
Dibandingkan dengan puisi yang berjudul “Jenderal Sudirman”, puisi modern berjudul “Jasamu Pak Satpam” memang lebih sederha- na, tetapi puisi ini lebih selaras dengan tingkat pengalaman, penalaran, dan daya khayal siswa kelas 5 sekolah dasar. Kata atau kalimat yang dipergunakan tidak terlampau sarat dengan kata-kata tidak langsung. Dampak dari hal itu, penafsiran siswa dapat dituntun untuk memasuki dunia yang ditampilkan dalam puisi. Mengambil dan memaksakan puisi yang tidak sepadan dengan tingkat pemahaman dapat menga- kibatkan sikap bosan siswa terhadap pelajaran sastra, khususnya puisi.
Kita tahu bahwa khazanah puisi Indonesia cukup kaya dan ber- macam-macam, baik tradisional maupun modern. Oleh karena itu, sangat tidak bijaksana apabila siswa sekolah dasar tidak diperkenal- kan dengan khazanah yang ada, baik yang tradisional maupun yang modern. Melalui perkenalan terhadap khasanah puisi yang ada di In- donesia, siswa diharapkan tidak akan merasa asing dan terputus dengan sejarah sastra. Kecenderungan ini agaknya diterapkan pula oleh penyusun buku Pandai Berbahasa Indonesia. Dinyatakan de- mikian karena selain disajikan puisi-puisi modern seperti di atas, da- lam buku ajar ini ditampilkan pula puisi tradisional. Perhatikanlah ba- han ajar syair berjudul “Bidadari Lahir” (pelajaran 18, cawu 3, tema: kesenian, hlm. 113) yang dilengkapi dengan perintahnya kepada siswa berikut ini.