• Tidak ada hasil yang ditemukan

ﺎﺟﺎﻫﻭ Matahari adalah sumber cahaya bagi bulan

A. Manfaat Bulan

1. Bulan Sebagai Penggerak Pasang Surut Air Laut

Pasang surut adalah bagian dari kekuatan bumi yang berfungsi untuk memecah batu karang pantai, dan membentuk beragam jenis endapan batu karang yang terdapat pada sepanjang pantai. Ini adalah sedikit dari sejumlah bentuk

48

Etty Indriati, dan Yasman, Ensiklopedia Sains dan Teknologi (Jakarta:Lentera Abadi, 2007), h. 40.

49

Wahyudi Priyono Suwarso, dkk, Ensiklopedia IPA: Visual Fisika, Kimia, Biologi dan

61

penundukan yang telah ditentukan oleh kehendak Allah SWT. dengan hikmah yang luar biasa, agar matahari dan bulan menjadi asal usul yang bermanfaat dalam struktur alam semesta dan dalam pengaturan gerak kehidupan di atas permukaan bumi.50

Allah menjelaskan dalam firman-Nya:

























































“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”51

Dalam tafsir Ilmi Tim Kementrian Agama RI bahwa pemeliharaan Allah begitu teliti sehingga benda-benda langit yang berjumlah miliaran tetap kokoh pada posisinya dan tidak berjatuhan walau tanpa tiang penyangga. Dengan gerakan pada poros dan peredaran pada orbitnya, masing-masing benda langit itu tetap mantap pada tempatnya. Pemeliharaan Allah dengan penciptaan gaya

gravitasi telah daAllah yang demikian saksama langit dan semua benda yang ada

diruang angkasa tetap kokoh.52

50

Zaghloul Ragheb Mohamed El-Naggar, Selekta dari Tafsir Ayat-Ayat Kosmos dalam

Al-Qur an Al-Karim, Jilid 1 (Jakarta ; Shorouk International Bookshop, 2010), h. 89.

51

Sûrah al- ajj/22:65. 52

Lajnah Pentashian Mushaf Al-Qur an Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Manfaat Benda-Benda Langit Dalam

Menurut Quraish Shihab bahwa kata (ﺮّﺨﺳ) sakhara dalam ayat ini artinya menundukkan sesuatu agar dimanfaatkan. Kata ءﺎّﻤﺴﻟا( ) as-sam dipahami dalam arti langit, namun pada konteks ini adalah benda-benda langit. Penundukan pada benda langit yang dimaksud disini, yaitu bulan yang mengalami fenomena pasang surut ait laut. Semua itu terjadi oleh gaya gravitasi dan kekuatan yang dimiliki bulan. Sifat kasih sayang Allah kepada hamba-Nya diperlihatkan dengan adanya atmosfer yang mengandung zat-zat yang diperlukan untuk kehidupan dan sebagai pelindung bumi untuk menahan benda-benda langit di angkasa agar tidak berjatuhan ke bumi.53

Adapun menurut Hamka bahwa nahkoda kapal yang berlayar di lautan telah memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi tentang pasang surut air laut dan peredaran angin serta cuaca. Karena Allah telah menahan benda-benda langit agar tidak berjatuhan ke bumi, artinya Allah telah mengatur keseimbangan alam tersebut. Bintang yang terlihat di langit pada malam hari yang besarnya 1000 kali besar bumi juga mempunyai garis keseimbangan yang telah diatur sedemikian rapi. Semua itu dapat terjadi tidak lain karena izin dari Allah.54

Menurut al-Mar ghi bahwa Allah telah menundukkan segala apa yang ada di muka bumi agar manusia memanfaatkannya dalam berbagai kemaslahatan dan kebutuhannya, serta mempergunakannya dalam berbagai urusan penghidupan yang dikehendakinya. Dia menundukkan bagi kalian bahtera-bahtera yang

53

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Vol. 8 (Jakarta: Lentera Hati, 2002),h.277. 54

63

berlayar di lautan sambil mengangkut barang-barang, hewan dan manusia yang kalian kehendaki dari belahan bumi dan jarak yang jauh.

Allah menahan planet-planet seperti matahari, bulan dan bintang-bintang dengan sistem gaya tarik, karena Dia menjadikan bagi masing-masing planet itu orbit khusus yang tidak pernah dilanggarnya. Planet-planet itu akan tetap ada di dalam kehidupan dunia ini hingga kiamat nanti. Sekiranya tidak karena sistem yang khusus ini, niscaya sebagian planet yang besar akan berbenturan dengan sebagian yang lain, alam bumi ini akan rusak, dan tidak ada satu manusia atau binatang pun yang hidup di muka bumi ini.55

Fenomena pasang surut air laut pada bulan yang menjadi penggeraknya, disebabkan karena gaya gravitasi yang dimilikinya. Posisi bulan yang jaraknya tepat tidak terlalu dekat dan jauh dengan bumi yang memiliki lautan membuat terjadinya fenomena pasang surut air laut. Karena garis lurus antara bulan dan lautan di bumi menjadi tertarik, maka permukaan air laut menjadi pasang. Demikian apabila surut di laut, maka air laut dan bulan tidak tertarik garis lurusnya.

Penundukan bulan yang dijelaskan ayat di atas merupakan kuasa Allah SWT. yang telah menahan benda langit agar tidak terjatuh ke bumi kita. Ayat Qur’an di atas telah mengandung isyarat ilmiah jauh sebelum penelitian ilmiah tentang fenomena pasang surut air laut ditemukan oleh para ilmuan. Hal tersebut seharusnya kita pahami dan renungkan bahwa begitu hebat semua yang telah

55

Ahmad Mus af Al-Mar ghi, Tafsir Al-Mar ghi, Juz 17 (Mesir : Mustafa Al-Bab Al-Halab, 1394 H), h. 24.

Allah SWT. ciptakan untuk kita sebagai manusia yang memiliki kemampuan akal untuk berfikir.

Bulan “bertanggung jawab” atas fenomena pasang surut air laut. Pasang adalah meningkatnya ketinggian air laut beberapa meter dan kemudian menurun lagi. Hal ini terjadi sebanyak dua kali dalam sehari. Ketika bulan purnama tiba, pengaruh bulan terhadap fenomena pasang surut semakin besar. Naik turunnya ketinggian air laut pada saat purnama lebih tinggi. Misalnya, adalah setengah meter di tengah laut, sementara di pantai perbedaaanya mencapai dua meter. Bulan sangat mendukung kehidupan kita di muka bumi ini, dengan menyebabkan air laut pasang sehingga nutrient-nutrien bumi bercampur dengan lautan.

Seandainya jarak antara bumi dan bulan terlalu dekat, tentu bulan akan tertarik oleh gaya gravitasi bumi. Hal itu akan menyebabkan bulan menabrak bumi dan musnahlah kehidupan di bumi. Namun, seandainya bulan menjauh dari bumi dan jarak diantara keduanya bertambah lebar, tentu tidak akan terjadi fenomena pasang surut air laut di muka bumi dan bulan akan tertarik oleh daya gravitasi planet yang lain. Selain itu, bumi akan berotasi hanya dalam waktu 4 jam untuk sekali siklus rotasi sehingga panjang malam hanya 2 jam dan panjang siang pun hanya 2 jam.56

Begitu dahsyat Allah SWT. menerapkan hukum alam yang terjadi pada bulan terhadap fenomena pasang surut air laut dan memberikan manfaat yang sangat berpengaruh untuk kehidupan manusia di bumi, khususnya memudahkan

56

65

para nelayan dan nahkoda kapal yang berlayar untuk mengetahui pergerakan ombak yang terjadi di lautan.

Bulan memiliki gaya tarik yang mempengaruhi posisi air laut, contohnya adalah fenomena pasang surut air laut. Apabila kedua benda langit ini terlalu dekat, maka akan mengalami benturan yang sulit dihindarkan. Tetapi Allah telah menundukkan benda langit tersebut dengan aturan yang sedemikian rupa sehinngga semuanya menjadi mutlak (sine qua non) dan berjalan beraturan.57

Ada dua jenis pasang di sini, yaitu pasang purnama dan pasang perbani. Pasang purnama terjadi saat bulan purnama, dan pasang perbani terjadi terjadi saat bulan berada dalam posisi kuadratur timur ataau barat. Akibat dari gaya pasang surut air laut dengan gaya gravitasi bumi, bulan mengalami gempa hingga kedalaman 1000 km dari permukaannya dan berlangsung secara teratur setiap bulan. Terdapat juga gempa dengan hiposenter yang lebih dangkal (100 km) dan tampaknya ini tidak terkait gaya pasang surut.58

Demikianlah salah satu dari fenomena alam yang muncul sebagai akibat dari pergerakan bulan. Hal-hal yang terjadi akibat perubahan keadaan dan posisi bulan merupakan ketetapan yang telah di tentukan Allah dalam hukum alam. Inilah aturan Allah yang selalu akan terjadi setiap saat sesuai dengan apa yang telah diciptakannya.

57

Maurice Bucaille, Bibel, Qur an, Dan Sains Modern, Penerjemah. M Rasjidi (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2001), h. 183.

58

A. Gunawan Admiranto, Menjelajah Tata Surya, cet ke-2 (Yogyakarta: Kanisius, 2009), h. 206