• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pre Bunching

Pre bunching merupakan kegiatan dimana pohon-pohon yang telah ditebang dikumpulkan dengan menggunakan excavator (lengan tipe grapple) menjadi beberapa tumpukan.

.2. Extraction

Kegiatan extraction dilakukan menggunakan excavator dengan mengumpulkan kayu yang telah dibersihkan cabangnya dan diangkut sampai ke TPn (Tempat Penimbunan Sementara).

1. Pre Bunching

Elemen kerja pre bunching pada umumnya dilakukan dengan menggunakan alat berat Excavator graple denganmerk Kobelco. Pre bunching dilakukan setelah pada beberapa petak tebang telah selesai dilakukan penebangan untuk menghindari kecelakaan kerja. Dalam kegiatan pre bunching didapat sekitar

10-12 logs per bunch tergantung diameter. Jika diameternya besar maka jumlah yang digapit akan sedikit, sedangkan jika diameter kecil jumlah yang digapit akan banyak sekitar 20-30 log dalam satu grapple. Jalur yang dilalui oleh excavator pada tahap pre bunching merupakan jalan sarad cabang dan tidak terdapat jalan sarad tetap (Gambar 1).

(a) Berjalan Kosong

(b) Memuat

(c) Berjalan Bermuatan (d) Membongkar Gambar 1. Elemen Kerja Pre bunching

Kegiatan Pre bunching dimulai dengan berjalan kosong menuju areal petak tebangan, dilanjutkan dengan pengambilan pohon yang masih dalam keadaan berserakan di areal tebangan oleh excavator yang diarahkan oleh operator dan dikumpulkan kemudian alat berjalan bermuatan. Setelah alat berat (excavator) sampai pada suatu titik yang telah ditentukan secara sembarang, log yang telah diangkut diletakkan dan disusun rapi dengan pangkal batang disatukan semua.

Pengukuran waktu kerja pre bunching kayu di areal pemanenan dilakukan sebanyak 30 ulangan/trip pada kompartemen H-149 dan sebanyak 21 ulangan/trip

pada kompartemen C-002, kegiatan extraction lebih membutuhkan waktu yang banyak sehingga memiliki ulangan yang lebih besar daripada di kegiatan prebunching hasil pengamatan waktu kerja pre bunching rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan kayu pada petak pemanenan kayu dapat dilihat pada Tabel 9 sampai Tabel 12.

Tabel 1. Rata-rata Waktu Kerja Pre Bunching pada Kompartemen C-002 (Petak 1)

No Elemen Kerja Waktu Kerja Total (detik) Persen Waktu Total (%)

1 Berjalan Kosong 198,80 12,45

2 Memuat 418,80 26,24

3 Berjalan Bermuatan 303,20 18,99

4 Membongkar 87,40 5,475

5 Waktu Hilang 588,00 36,84

Jumlah 1596,2 100,00

Jadi,Waktu Kerja Efektif/jam 0,28 63,16

Iddle Time/jam 0,16 36,84

Waktu kerja Total/jam 0,44 100,00

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan untuk 10 trip proses pre bunching pada petak 1 kompatemen C-002 adalah 1596,2 detik atau 26 menit dan rata-rata waktu untuk satu trip 159,62 detik atau 2,66 menit pada jarak sarad rata-rata 22 m/trip atau 0,22 hm/trip dengan menggunakan excavator Kobelco 200/8 pc. Volume kayu yang disarad setiap trip pada petak pemanenan kayu berkisar antara 0,106m³ sampai dengan 0,186 m³ dengan volume sarad rata-rata 17,09 m³ atau 1.709 m³/trip. Pada kegiatan Pre Bunching , memuat dan berjalan bermuatan merupakan elemen yang membutuhkan waktu lama dibanding dengan elemen kerja berjalan kosong (berjalan tanpa muatan) dan membongkar.

Tabel 2. Rata-rata Waktu Kerja Pre Bunching pada Kompartemen C-002 (Petak 2)

No Elemen Kerja Waktu Kerja Total (detik) Persen Waktu Total (%)

1 Berjalan Kosong 173,00 12,27

2 Memuat 437,00 31,04

3 Berjalan Bermuatan 307,00 21,80

4 Membongkar 103,00 7,315

5 Waktu Hilang 388,00 27,56

Jumlah 1408,0 100,00

Jadi,Waktu Kerja Efektif/jam 0,28 72,44

Iddle Time/jam 0,11 27,56

Waktu kerja Total/jam 0,39 100,00

Pada Tabel 2 total waktu yang diperlukan untuk 11 trip proses pre bunching adalah 1408 detik atau 23,5 menit dan waktu rata-rata satu trip 128 detik atau 2,1 menit pada jarak sarad rata-rata 22 m/trip atau 0,22 hm/trip, dengan volume sarad rata-rata 17,53 m³ atau 1,59 m³ menggunakan excavator Kobelco 200/8 pc. Adapun waktu hilang yang terdapat seperti memindahkan batu, terracing atau ngeruk tanah, berbicara hingga berhenti.

Tabel 3. Rata-rata Waktu Kerja Pre Bunching pada Kompartemen H-149 (Petak 1)

No Elemen Kerja Waktu Kerja Total (detik) Persen Waktu Total (%)

1 Berjalan Kosong 386,00 18,88

2 Memuat 702,00 34,34

3 Berjalan Bermuatan 406,00 19,86

4 Membongkar 120,00 5,871

5 Waktu Hilang 430,00 21,04

Jumlah 2044,0 100,00

Jadi,Waktu Kerja Efektif/jam 0,45 78,96

Iddle Time/jam 0,12 21,04

Waktu kerja Total/jam 0,57 100,00

Waktu kerja pre bunching (Tabel 3) dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan pada proses kegiatan pre bunching kompartemen H-149untuk 15 trip adalah 2044 detik atau 34menit dan waktu rata-rata 136,27 detik atau 2,27 menit dengan jarak sarad rata-rata adalah 32 m/trip atau 0,32 hm/trip. Excavator yang dipakai adalah Kobelco 200/10pc. Adapun volume sarad rata-rata sebesar 18,35 m³ atau 1,22 m³/ trip.

Tabel 4. Rata-rata Waktu Kerja Pre Bunching pada Kompartemen H-149 (Petak 2)

No Elemen Kerja Waktu Kerja Total (detik) Persen Waktu Total(%)

1 Berjalan Kosong 290,00 14,22

2 Memuat 613,00 30,05

3 Berjalan Bermuatan 449,00 22,01

4 Membongkar 145,00 7,108

5 Waktu Hilang 543,00 26,62

Jumlah 2040,0 100,00

Jadi,Waktu Kerja Efektif/jam 0,416 73,38

Iddle Time/jam 0,151 26,62

Waktu kerja Total/jam 0,567 100,00

Waktu kerja pre bunching (Tabel 4) dapat dilihat bahwa total waktu yang diperlukan pada proses kegiatan pre bunching kompartemen H-149 untuk 15 trip adalah 2040 detik atau 34 menit dan waktu rata-rata 136 detik atau 2,26 menit dengan jarak sarad rata-rata adalah 32,8 m/trip atau 0,328 hm/trip. Excavator yang dipakai adalah Kobelco 200/10 pc. Adapun volume sarad rata-rata sebesar 18,6 m³ atau 1,24 m³/ trip. Pada kegiatan pre bunching kompartemen H-149 (petak 1)

memiliki waktu hilang cukup banyak, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti membuat skid track (berupa limbah ranting dan cabang) untuk memadatkan jalan sarad sehingga memudahkan excavator berjalan menuju petak tebangan maupun ke tumpukan sementara, selain itu juga terdapat waktu hilang lain seperti mengobrol dengan kontraktor.

Dari keseluruhan tabel diatas, didapat bahwa waktu kerja pada kompartemen H-149 lebih tinggi dibandingkan dengan kompartemen C-002. Hal ini menunjukkan bahwa waktu kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor kemiringan jalan, topografi serta jumlah kayu yang disarad mempengaruhi waktu kerja pada kegiatan pre bunching. Adapun hal lain yang juga mempengaruhi tingginya waktu kerja pada kegiatan pre bunching di kompartemen H-149 antara lain banyaknya waktu yang terbuang atau tidak dimanfaatkan seperti terlalu lama berhenti, mengobrol dengan mandor atau sesama operator dan membuat terracing. Sesuai dengan pernyataan Purba (2017) menyatakan bahwa hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor kelerengan, topografi, vegetasi serta tipe alat berat excavator yang digunakan, tetapi faktor yang paling mempengaruhi adalah jumlah batang pohon yang dikumpulkan dilapangan.

Pada beberapa elemen kerja, memuat atau mengumpulkan kayu di petak tebang dan berjalan bermuatan yang membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan dengan elemen kerja yang lain seperti berjalan kosong dan membongkar yang hanya melepaskan kayu dari gapit. Hal ini dikarenakan pada saat memuat, operator bertugas mengumpulkan kayu-kayu yang berserakan di sekitar petak tebang dan dikumpulkan hingga menjadi satu tumpukan. Begitu juga pada saat elemen berjalan bermuatan, alat yang sering bergerak mengambil kayu dan pada saat membawa kayu membutuhkan waktu untuk meletakkan kayu di tempat yang telah ditentukan secara sembarang.

Pada kegiatan pre bunching jarak sarad terpendek pada petak 1 kompartemen C-002 adalah 3 m dan terjauh adalah 19,5 m dengan jarak sarad rata-rata 9,5 m.

Pada petak 2 kompartemen C-002 jarak sarad terpendek 3,7 m dan terjauh 18,4 m dengan jarak sarad rata-rata 10,6 m. Sedangkan pada petak 1 kompartemen H-149 jarak sarad terpendek adalah 4,5 m dan terjauh 23 m dengan jarak sarad rata-rata

18 m dan pada petak 2 kompartemen H-149 jarak sarad terpendek 4,5 m dan terjauh 28,6 m dengan jarak sarad rata-rata 13 m.

2. Extraction

Extraction (Penyaradan kayu) merupakan kegiatan memindahkan kayu yang telah dibersihkan cabangnya dari lokasi tebangan ke tempat pengumpulan kayu (Tpn) atau ke tepi jalan angkutan. Extraction dilakukan dengan menggunakan jenis Excavator Kobelco 200 pc yang biasanya digunakan pada berbagai jenis kelerengan.

Pembuatan jalan sarad berkaitan erat dengan kegiatan extraction dimulai dengan berjalan kosong menuju tempat kayu dikumpulkan dilapangan, dilanjutkan dengan pengambilan log oleh excavator atau proses pemuatan kemudian excavator berjalan bermuatan (Gambar 2).

(a) Berjalan Kosong (b) Memuat

(c) Berjalan Bermuatan (d) Membongkar Gambar 2. Elemen Kerja Extraction

Untuk menghitung waktu kerja perlu diperhatikan setiap elemen kerja untuk mendapatkan hasil yang akurat. Setelah excavator sampai pada Tpn yang telah ditentukan, log yang telah diangkut diletakkan dan disusun rapi supaya lebih mudah dilakukan pemotongan log atau bucking dan kemudian dilanjutkan dengan loading (pengangkutan log ke atas truk). Terdapat 2 jenis kayu yang dihasilkan dalam kegiatan harvesting yaitu kayu dengan kulit dan tanpa kulit, dalam kegiatan harvesting manual kayu yang dihasilkan merupakan kayu dengan kulit, karena tidak dilakukan kegiatan pengupasan kulit. Untuk kayu tanpa kulit, sebelum dilanjutkan ke loading to truck, log yang telah di bucking terlebih dahulu dilakukan barking (pengupasan) dengan metode juspaku (julius kupas kayu).

Beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya waktu untuk extraction adalah jarak antara Tpn dengan kayu yang akan disarad, kerapatan tumbuhan bawah, serta kemiringan jalan sarad yang dilalui. Apabila jarak tempuh semakin jauh maka waktu yang dibutuhkan untuk extraction semakin besar. Rata-rata jumlah log yang di sarad dalam satu trip adalah 10-20 batang. Jalur yang dibuat dan dilalui oleh excavatoruntuk extraction merupakan jalan sarad utama.

Excavator yang digunakan pada kegiatan pre bunching ini merupakan jenis crawler skidder yang memiliki penjepit kayu yang dinamakan grapple . Sesuai dengan pernyataan Muhdi (2004) menyatakan bahwa dimana jenis wheel skidder (beroda ban) dipakai pada lokasi atau areal yang datar dan dapat digunakan dalam menyarad kayu karena memiliki pisau atau blade yang dilengkapi dengan winch dan traktor berban rantai (crawler skidder) merupakan traktor yang tidak hanya digunakan untuk menyarad kayu, juga dapat digunakan dalam pembuatan jalan/membongkar tunggak saat petak tebangan telah selesai dilakukan kegiatan pemanenan. Tetapi terdapat juga traktor yang tidak dilengkapi dengan winch, seperti crawler skidder (Eskavator) yang menggunakan grapple untuk menyarad kayu dengan menjepit kayu.

Pengukuran waktu kerja extraction kayu di areal pemanenan dilakukan sebanyak 6 ulangan/trip pada kompartemen C-002 dan 6 ulangan pada kompartemen H-149, pada setiap kompartemen hasil pengamatan waktu kerja extraction rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan kayu di Tpn dapat dilihat pada (Tabel 5) sampai (Tabel 8).

Tabel 5. Rata-rata waktu kerja Extraction kompartemen C-002 (Petak 1)

No Elemen Kerja Waktu Kerja Total (detik) Persen Waktu Total (%)

1 Berjalan Kosong 1008,80 26,24

2 Memuat 609,00 15,84

3 Berjalan Bermuatan 1148,00 29,85

4 Membongkar 490,40 12,75

5 Waktu Hilang 589,00 15,32

Jumlah 3845,20 100,00

Jadi,WaktuKerja Efektif/jam 0,7878 42,45

Iddle Time/jam 1,068 57,55

Waktu kerja Total/jam 1,812 100,00

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa pada proses extraction total waktu yang diperlukan untuk 6 trip adalah 3845,2 detik atau 1 jam 06 menit , dan rata-rata satu trip adalah 640,87 detik atau 10,68 menit dengan menggunakan excavator Kobelco 200/8 pc. Pada petak 1 (satu) kompartemen C-002 jarak sarad terpendek adalah 10,8 m dan terjauh 78 m dengan jarak sarad rata-rata 36,7 m /trip dan volume kayu yang disarad setiap trip pada petak pemanenan kayu berkisar antara 1,67 m³ sampai dengan 3,26 m³ dengan volume sarad rata-rata 2,76 m³. Pada kegiatan extraction kompartemen C-002 (petak 1) waktu hilang cukup banyak, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti kesalahan dalam pengukuran, berhenti dan mengobrol dengan mandor atau operator lain sehingga biaya pun bertambah karena saat mesin hidup otomatis bahan bakar terpakai, hal tersebut juga bisa menurunkan produktivitas. Waktu hilang yang banyak terbuang pada saat mengobrol dengan menghabiskan waktu dengan percuma sebanyak 298 detik.

Tabel 6. Rata-rata waktu kerja Extraction kompartemen C-002 (Petak 2)

No Elemen Kerja Waktu Kerja Total (detik) Persen Waktu Total (%)

1 Berjalan Kosong 1164,00 30,29

2 Memuat 607,00 15,8

3 Berjalan Bermuatan 1266,00 32,94

4 Membongkar 471,00 12,26

5 Waktu Hilang 335,00 8,72

Jumlah 3843,00 100,00

Jadi,Waktu Kerja Efektif/jam 0,744 41,08

Iddle Time/jam 1,068 58,92

Waktu kerja Total/jam 1,812 100,00

Pada Tabel 6 dapat dilihat bahwa pada proses Extraction di kompartemen C-002 total waktu yang diperlukan untuk 6 trip adalah 3843 detik atau 1 jam 06 menit 7 detik dan waktu rata-rata untuk satu trip 640,5 detik atau 0,178 jam dengan menggunakan excavator Kobelco 200/8 pc. Pada petak 2 kompartemen C-002 jarak sarad terpendek adalah 31,1 m dan terjauh 62,4 m dengan jarak sarad

rata-rata 45,5 m /trip dan volume kayu yang disarad setiap trip berkisar antara 1,8 m³ sampai dengan 3,3 m³ dengan volume sarad rata-rata 3,03 m³. Elemen kerja berjalan kosong dan berjalan bermuatan pada kegiatan extraction di petak 2 kompartemen C-002 menmbutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan elemen kerja lainnya seperti memuat dan membongkar. Hal ini dikarenakan jarak yang ditempuh saat berjalan kosong dan berjalan bermuatan yang cukup jauh.

Tabel 7. Rata-rata waktu kerja Extraction kompartemen H-149 (Petak 1)

No Elemen Kerja Waktu Kerja Total(detik) Persen Waktu Total (%)

1 Berjalan Kosong 1135,00 26,73

2 Memuat 738,00 17,38

3 Berjalan Bermuatan 1233,00 29,04

4 Membongkar 447,00 10,53

5 Waktu Hilang 693,00 16,32

Jumlah 4246,00 100,00

Jadi,Waktu Kerja Efektif/jam 0,987 83,68

Iddle Time/jam 1,058 16,32

Waktu kerja Total/jam 1,856 100,00

Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa pada proses Extraction di kompartemen H-149 dengan total waktu yang diperlukan untuk 6 trip adalah 4246 detik atau 1 jam 17 menit 9 detik dan waktu rata-rata untuk satu trip 707,7 detik atau 0,196 jam dengan menggunakan excavator Kobelco 200/10 pc. Pada petak 1 kompartemen H-149 jarak sarad terpendek adalah 16,8 m dan terjauh 64,2 m dengan jarak sarad rata-rata 39,7 m /trip dan volume kayu yang disarad setiap trip berkisar antara 0,9 m³ sampai dengan 7,02 m³ dengan volume sarad rata-rata 3,22 m³.

Tabel 8. Rata-rata waktu kerja Extraction kompartemen H-149 (Petak 2) No Elemen Kerja Waktu Kerja Total (detik) Persen Waktu Total (%)

1 Berjalan Kosong 1168,00 27,89

2 Memuat 715,00 17,02

3 Berjalan Bermuatan 1294,00 30,81

4 Membongkar 469,00 11,17

Waktu kerja Total/jam 1,167 100,00

Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa pada proses Extraction di kompartemen H-149 dengan total waktu yang diperlukan untuk 6 trip adalah 4200 detik atau 1 jam 16 menit dan waktu rata-rata untuk satu trip 700 detik atau 0,194 jam dengan menggunakan excavator Kobelco 200/10 pc. Pada petak 2 kompartemen H-149

jarak sarad terpendek adalah 20,3 m dan terjauh 53,5 m dengan jarak sarad rata-rata 38,1 m /trip dan volume kayu yang disarad setiap trip berkisar antara 0,8 m³ sampai dengan 2,56 m³ dengan volume sarad rata-rata 2,31 m³. Pada kegiatan extraction kompartemen H-149 (petak 1) memiliki waktu hilang cukup banyak, hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti berhenti menunggu kayu di bucking, dan mengobrol dengan pengawas dan operator, dan waktu yang paling banyak yaitu untuk membuat terracing (membuka jalan dengan mengeruk tanahuntuk memudahkan excavator berjalan).

Sistem Upah Penyaradan

Seluruh operasional pekerjaan dalam kegiatan harvesting dilakukan oleh kontraktor. Kontraktor memiliki seorang pengawas lapangan yang tugasnya memantau atau mengawasi setiap pekerjaan yang dilakukan oleh seluruh operator, baik operator chainsaw maupun excavator, serta memberi upah harian kepada operator. Sistem upah yang diterapkan pada proses pemanenan di areal hutan tanaman industri TPL adalah sistem borongan berdasarkan jumlah volume kayu yang disarad ke Tpn. Sistem upah ditentukan oleh pihak kontaktor dimana pembayaran dilakukan sekali sebulan kepada pengawas atau operator alat. Besarnya upah untuk penyarad adalah Rp 6.000.000/bulan dan upah helper Rp 1.000.000,00/bulan. Harga alat Excavator sebesar Rp 1,3 miliar dan harga bekas Rp 400 juta. Penggunaan bahan bakar 200 liter/hari, jam kerja pertahun adalah 2205 jam, biaya ganti oli Rp.800 ribu , Biaya perawatan seperti nge-press spring sebesar Rp 500 ribu dan ngelas grapple sebesar Rp 200 ribu. Pada penelitian Basari dan Dulsalam (2011) Hasil observasi di lapangan dan pengutipan data dari kantor perusahaan menunjukan bahwa harga berikut tungkai crane sebesar Rp 2 milliar dan harga bekas Rp 1 miliar. Upah pekerja (operator) mesin dan helper (masing-masing Rp. 2.000.000,-/bulan dan Rp.1.000.000,-/bulan).

Penggunaan bahan bakar 200 liter/hari, penggunaan oli pelumas 1 liter/hari, jam kerja dalam 1 tahun 1000 jam, biaya pemeliharaan alat dalam 1 tahun 1 % dari harga alat bekas.

Volume Pohon

Data volume pohon yang diambil dari lapangan dengan metode purposive sampling yang terbagi atas 2 Compartment yaitu compartment C-002 dan Compartment H-149. Adapun rata-ratanya adalah yang disajikan pada (tabel 9).

Tabel 9. Rata-rata volume pohon pada setiap kompartemen

Compartment Tinggi Pohon (m) Diameter Pohon (m) Volume Pohon (m3)

C-002 12,52 0,12 0,15

H-149 13,62 0,10 0,12

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa volume kayu pada kedua kompartemen tidak jauh berbeda. Hal tersebut disebabkan karena keadaan topografi yang tidak jauh berbeda dan masih berada pada satu sektor dimana kontur, tekstur tanah serta suhu dan kelembaban masih relatif sama. Salah satu yang menjadiperbedaan pada kedua kompartemen ini adalah pada tinggi pohon dan diameter pohon, dimana tinggi pohon rata–rata pada kompartemen C-002 sebesar 12,52 m yang memiliki diameter terkecil 10 m dan diameter terbesar 26 m. Pada kompartemen H-149 tinggi pohon rata-rata didapat sebesar 13,62 m serta memiliki diameter terkecil 8 m dan diameter terbesar 24 m. Kecilnya diameter yang didapat pada kedua kompartemen ini dikarenakan hampir seluruh pohon di areal HTI Sektor Habinsaran mengalami penurunan diameter akibat terserang hama penyakit sudah sejak 5 tahun lalu.

Volume Sarad

Data volume sarad dapat diketahui dari perkalian antara volume pohon dikalikan dengan jumlah pohon yang disarad. Adapun data dari volume sarad yaitu data pre bunching dan data extraction. Data yang diambil dari tiap petak pemanenan adalah 15 ulangan. Volume sarad kayu dapat dilihat pada (Tabel 10) dan (Tabel 11).

Tabel 10. Volume Sarad Kegiatan Pre Bunching

Compartment Volume Pohon (m3) Jumlah Pohon Volume Sarad (m3)

Dari data Tabel 10 diatas dapat dilihat bahwa volume sarad terbesar yaitu pada kompartemen H-149 petak 2 yaitu 18,59 m³ dengan rata-rata satu trip adalah 3,09 m³. Pada kompartemen H-149 excavator yang digunakan adalah excavator Kobelco 200/10 pc. Volume yang terkecil terdapat pada kompartemen C-002 petak 1 yaitu 17,09 /m³ dengan rata-rata satu trip adalah 2,85 m³. Pre bunching pada kompartemen C-002 menggunakan excavator Kobelco 200/8 pc. Selain topografi, jumlah pohon yang disarad juga sangat mempengaruhi volume sarad dari suatu petak tebang. Jika volume dan jumlah pohon tinggi, maka volume kayu yang disarad akan semakin tinggi pula, begitu juga sebaliknya. Jumlah pohon juga dipengaruhi oleh diameter dan panjang kayu. Pada kompartemen H149, rata–rata kayu yang dihasilkan tergolong kedalam kayu yang memiliki diameter kecil dansedang sehingga kayu yang disarad semakin banyak. Sedangkan kayu yang dihasilkan dari kompartemen C002 tergolong kedalam kayu yang memiliki diameter besar dan sedang sehingga kayu yang disarad hanya sedikit. Penyaradan kayu yang berdiameter besar akan menyebabkan waktu kerja semakin bertambah , produksi yang dihasilkan dalam sehari sedikit dan lama waktu kerja pada satu areal tebangan akan selesai lebih lama serta membutuhkan banyak pengeluaran sedangkan produksi yang dikeluarkan tidak sebanding dengan yang telah dikeluarkan.

Tabel 11. Volume Sarad Kegiatan Extraction

Compartment Volume Pohon(m3) Jumlah Pohon Volume Sarad (m3)

C-002 (petak 1) 0,146 117 17,09

C-002 (petak 2) 0,146 120 17,53

H-149 (petak 1) 0,124 148 18,35

H-149 (petak 2) 0,124 150 18,59

Pada Tabel 11 diatas dapat dilihat bahwa volume sarad terbesar yaitu pada kompartemen H-149 petak 2 yaitu 18,59 m³ dengan rata-rata satu trip adalah 3,09 m³. Pada kompartemen H-149 menggunakanexcavator Kobelco200/10 pc.

Volume yang terkecil terdapat pada kompartemen C-002 petak 1 yaitu 17,09 /m³ dengan rata-rata satu trip adalah 2,85 m³. Kegiatan extraction pada kompartemen C-002 menggunakan excavator Kobelco 200/8 pc. Dari hasil ini, dapat dilihat bahwa volume sarad pada kegiatan extraction di kompartemen H-149 lebih besar dari kompartemen C-002. Hal ini dipengaruhi oleh diameter pohon dan jumlah kayu yang disarad. Pada kompartemen H-149, diameter kayu yang disarad

tergolong kecil sehingga jumlah kayu yang disarad lebih banyak daripada di kompartemen C-002 yang diameter kayu yang disarad tergolong besar.

Produktivitas Penyaradan Kayu

Produktivitas merupakan salah satu unsur utama dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan suatu proses kegiatan. Jika produktivitas dapat tercapai sesuai target maka kerugian dapat dihindari. Untuk menjalankan suatu perusahaan yang baik maka diperlukan upaya dalam melakukan perhitungan yang baik dalammenghitung produktivitas pada kegiatan harvesting dapat dilakukan dalam beberapa tahap, selain dari pengukuran volume kayu yang disarad dan jarak sarad, salah satunya adalah menghitung waktu kerja dengan mencatat waktu dari setiap elemen kerja dengan menggunakan metode null-stop. Adapun data dari produktivitas yaitu data pre bunching dan data extraction. Basari dan Dulsalam (2011) , Produktivitas alat dihitung mulai saat mesin dihidupkan dimana alat dalam keadaan kosong, kemudian alat berjalan menuju tumpukan kayu yang berada di tempat tebangan, melakukan pemuatan dan selanjutnya melakukan penyaradan kayu ke TPn yang berada di pinggir jalan 10–30 cm.

Data yang diambil dari tiap petak pemanenan adalah 15 ulangan. Ulangan dari kegiatan prebunching lebih banyak dibandingkan dengan kegiatan extraction yang masing–masing dalam tiap petak dilakukan sebanyak 6 ulangan (trip). Hasil produktivitas sarad dapat dilihat pada (Tabel 12) dan (Tabel 13).

Tabel 12. Produktivitas pada kegiatan Pre Bunching Compartment Volume Sarad (m3) Waktu Kerja

(jam) Produktivitas Pohon (m3/jam)

C-002 (Petak 1) 17,09 0,44 38,84 produktivitas kayu yang tertinggi terdapat pada petak 2 kompartemen C-002 yaitu 44,95 m³ dengan rata-rata satu trip produktivitasnya 4,086 m³ dengan waktu 1408 detik atau 23,46 menit, dengan jangka waktu rata-rata satu trip 128 detik atau 2,13

menit. Sedangkan produktivitas terendah terdapat pada petak 1 kompartemen H-149 yaitu 32,76 m³ dengan waktu 2044 detik atau 34,06 menit dengan rata-rata satu trip produktivitasnya 2,184 m³. dan rata-rata waktu satu trip 136,3 detik atau 2,27 menit. Perbedaan hasil produktivitas pada kedua kompartemen dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kontur, topografi serta banyaknya vegetasi dalam areal petak pemanenan, sehingga waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan pohon berbeda. Dalam menghadapi vegetasi yang rapat excavator harus maju mundur untuk membuat jalan sarad cabang, berbeda dengan vegetasi yang jarang, excavator hanya berjalan menuju tempat tebangan. Produktivitas kegiatan extraction disajikan pada (Tabel 13).

Tabel 13. Produktivitas pada kegiatan Extraction Compartment Volume Pohon

(m3)

Waktu

Kerja Produktivitas Pohon (m3/Jam)

C-002 (Petak 1) 17,09 1,06 16,12

Dari Tabel 13 dapat dilihat bahwa pada proses extraction produktivitas kayu yang tertinggi terdapat pada petak 1 kompartemen C-002 petak 2 yaitu 16,43 m³/jam dengan rata-rata satu trip produktivitasnya 2,738 m³ dengan waktu 3843 detik atau 1 jam 4 menit 5 detik, dengan jangka waktu rata-rata satu trip 640,5 detik atau 10,67 menit. Sedangkan produktivitas terendah terdapat pada petak 1 kompartemen H-149 yaitu 15,55 m³ dengan waktu 4200 detik atau 1 jam 16 menit 7 detik. Dengan rata-rata satu trip produktivitasnya 2,591 m³, dan rata-rata waktu satu trip 700 detik atau 11,7 menit. Perbedaan hasil produktivitas dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kontur, topografi serta banyaknya vegetasi dalam areal petak pemanenan, sehingga waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan pohon berbeda. Semakin jauh jarak antara kayu yang disarad dengan Tpn maka waktu yang dibutuhkan semakin besar. Pada kegiatan extraction, waktu kerja yang dibutuhkan lebih tinggi daripada kegiatan pre bunching. Ini disebabkan pada saat kegiatan extraction , untuk mencapai ke tempat pengumpulan kayu (TPn) dilakukan beberapa kali penumpukan sementara menuju TPn tidak langsung

Dokumen terkait