Tempat dan Waktu Penelitian
Kegiatan Penelitian ini dilaksanakan di PT. Toba Pulp Lestari Sektor Habinsaran, Provinsi Sumatera Utara yang terletak di 02° 7’ 00” LU - 2° 2’ 00”
dan 99° 05’ 00” BT - 99° 18’ 00” BT. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2020 - Maret 2020.
Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Excavator Grapple sebagai alat yang digunakan untuk kegiatan penyaradan, klinometer digunakan untuk mengukur kelerengan, alat tulis yang digunakan untuk menulis setiap kegiatan di lapangan, meteran kain digunakan untuk mengukur diameter pohon, stop wacth digunakan untuk menghitung berapa lama setiap alat yang bergerak, tali tambang digunakan untuk mengukur panjang jarak penyaradan kayu, laptop sebagai alat untuk mengerjakan laporan dan data, personal use (sepatu lapangan, helm, masker) untuk melindungi diri dari bahaya dalam bekerja dan kamera digital digunakan untuk mendokumentasikan setiap kegiatan penyaradan di PT.
Toba Pulp Lestari Sektor Habinsaran, Provinsi Sumatera Utara.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku ukur/tally sheet digunakan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian beserta daftar rincian biaya produksi seperti harga alat untuk mempermudah dalam pengecekan harga, pemakaian bahan bakar digunakan untuk mengisi bahan bakar alat yang akan digunakan dan pelumas untuk melicinkan alat-alat agar bekerja dengan baik serta peta topografi di HTI PT. Toba Pulp lestari.
Prosedur Penelitian 1. Pengumpulan Data
Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung ke lapangan berupa data alat yang digunakan, jumlah alat, bahan bakar alat, lama kerja alat serta lama kerja pemanenan mulai dari penebangan sampai pengangkutan. Jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam satu kompartemen adalah 2 operator serta ditanya gaji operator tersebut. Data sekunder diperoleh dengan mengutip data dari perusahaan atau literatur-literatur yang ada yang meliputi data keadaan umum lokasi penelitian, potensi hutan tanaman, data
produksi, dan data biaya-biaya yang digunakan dalam pemanenan di PT Toba Pulp Lestari.
Melakukan pengambilan data secara langsung di lapangan dilakukan dengan cara mengamati setiap tahapan penyaradan yakni dari mengukur volume kayu, waktu pada saat alat Excavator berjalan tanpa muatan menuju kayu (jalan kosong) ditambah waktu memuat kayu di areal tebangan (memuat), ditambah waktu menyarad kayu sampai TPn (jalan bermuatan) hingga waktu membongkar kayu di tempat pengumpulan kayu (TPn). Pada saat kayu yang sudah disusun rapi di TPn, kegiatan bucking dilakukan oleh operator chainsaw dengan memotong kayu menjadi sortimen yang lebih kecil sebesar 4,2 meter di TPn (Tempat Pengumpulan Kayu). Pada kayu yang berukuran diameter kecil pemotongan log sepanjang 2,4 meter dan ditata secara mendatar mengikuti lebar truk di dalam truk. Pengupasan kulit kayu dilakukan dengan metode Juspaku (Julius Kupas Kayu). Dalam metode ini, excavator mengambil kayu yang telah dibagi menjadi sortimen dan ditata di dalam wadah besi bergerigi (juspaku/orgos).
Dengan menggunakan grapple, kayu digaruk pada gerigi wadah besi untuk mengelupas kulitnya. Kayu-kayu yang telah bersih kulitnya selanjutnya ditata di truk pengangkut dengan menggunakan excavator. Kayu ditata hingga batas yang sudah ditandai pada truk. Kayu yang diangkut ke dalam truk terbagi menjadi 2 yaitu kelompok kayu yang melalui proses pengupasan untuk kayu berdiameter besar dan kelompok kayu yang tidak dikupas untuk kayu berdiameter kecil.
Waktu kerja dilakukan terhadap kegiatan harvesting dengan alat berat yang diamati. Perhitungan waktu dilakukan menggunakan stopwatch dengan metode null- stop. Perhitungan terhadap waktu dilakukan dalam setiap kegiatan dengan mengamati satu orang operator alat berat yang melakukan kegiatan pemanenan. Waktu kerja penyaradan kayu dibagi menjadi dua bagian yaitu waktu kerja efektif dan waktu kerja tidak efektif. Waktu kerja efektif merupakan waktu kerja yang berasal dari elemen kerja yang telah ditentukan untuk melakukan semua elemen dalam kegiatan penyaradan kayu, yang termasuk kedalam waktu kerja efektif ialah berjalan kosong, memuat atau mengapit kayu, berjalan bermuatan atau menyarad kayu dan membongkar (melepaskan log dari capit) setelah di Tpn. Sedangkan waktu kerja tidak efektif merupakan waktu hilang atau waktu terbuang yang terjadi diluar waktu kerja efektif dan sifatnya tidak ditentukan.
2. Pengolahan Data
Rumus-rumus yang digunakan dalam pengolahan data adalah sebagai berikut:
- Perhitungan produktivitas P = V
W
Keterangan: P = produktivitas (m³/jam);
V= volume kayu (m³ );
W= waktu efektif (jam) - Volume kayu
V = ¼ π D2 x L
Keterangan: V= volume kayu (m³ );
D= diameter rata-rata kayu (m);
L= panjang kayu (m) - Analisis biaya
Untuk menghitung biaya dibedakan menjadi dua, yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap (variabel), yaitu sebagai berikut:
a. Biaya tetap
• Depresiasi; merupakan biaya penyusutan dengan rumus sebagai berikut:
(Ruslim et al., 2008) D = (M–R) / N x t
Dimana : D = depresiasi tahunan (Rp/thn) M = harga alat (Rp)
R = nilai rongsokan (Rp) N = masa pakai (thn)
t = waktu kerja alat dalam setahun (jam/tahun).
• Biaya bunga modal (Sitohang et al., 2016)
B = ((M−R)(N+1)
2 + R) x 0,0p N x t
Keterangan :
B = Bunga modal (Rp/jam) 0,0p = suku bunga/tahun (18%)
• Biaya Pajak (Sitohang et al., 2016)
Pj = ((M−R)(N+1)
2N + R) x 0,02 t
Keterangan : Pj = Pajak (Rp/jam);
0,02 = persentase pajak (2%)
•
Biaya Asuransi (Sitohang et al., 2016)A =((M−R)(N+1)
2N + R) x 0,05 t
Keterangan :A = Asuransi (Rp/jam);
0,05 = persentase asuransi (5%) sebagai upaya untuk merawat alat agar dapat memperpanjang masa pakai alat dengan membagi besarnya biaya yang dikeluarkan selama satu tahun dengan jam kerja peralatan per tahun sehingga diperoleh rata-rata biaya pemeliharaan per jam.
Biaya bahan bakar dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:(Sitohang et al., 2016)
Bbk =Jumlah pemakaian Bbk x Harga/liter Waktu kerja alat
Keterangan :Bbk = Biaya bahan bakar (Rp/jam).
• Biaya oli dan pelumas (Bo) dalam satuan (Rp/jam) dihitung dari penjumlahan keseluruhan biaya pemakaian oli dalam setahun yang dibutuhkan dibagi dengan waktu kerja alat selama periode penggunaan.
Jumlah biaya variabel (BV) dalam satuan (Rp/jam) dihitung dengan rumus:
(Sitohang dkk, 2016) BV = BPr + Bbk + Bo
- Biaya mesin, dihitung dengan rumus:(Sitohang et al., 2014) Bm = BT + BV
Keterangan: Bm = Biaya mesin (Rp/jam).
- Upah tenaga kerja, dihitung dengan rumus:(Sitohang et al., 2016) Up =Gaji (Rp per bulan)
Hr x W
Keterangan : Up = Upah tenaga kerja (Rp/jam) Hr = Hari kerja rata-rata per bulan W = Jam kerja per hari (jam/hari) Analisis Data
Analisis data yang digunakan berupa analisis regresi linier, dimana perbandingan yang dibuat untuk melihat pengaruh jarak dan volume kayu terhadap produktifitas penyaradan. Model persamaan regresi berganda menurut Muhdi dkk, (2006) digunakan untuk mengetahui pengaruh jarak, volume kayu, dan kelerengan kayu terhadap produktivitas penyaradan yaitu:
Y = βo+ β1.X1 + β2 .X2 + β3.X3
Keterangan:
Y = Produktivitas penyaradan βo= Konstanta
β1= Koefisien regresi jarak sarad
β2= Koefisien regresi volume kayu yang disarad β3= Koefisien regresi kemiringan lapangan X1 = Jarak sarad
X2= Volume kayu yang disarad X3 = Kemiringan jalan sarad
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian tentang analisis biaya dan produktivitas penyaradan kayu serta kemiringan jalan sarad dilakukan pada areal tebangan eucalyptus pada kompartemen C002 dan kompartemen H149, Kawasan Toba Pulp Lestari (TPL) Sektor Habinsaran. Sektor Habinsaran memiliki luasan sebesar 26.765 Ha yang termasuk luasan konsesi Habinsaran dengan hutan tanaman Eucalytus hybrid.
Jumlah kompartemen dengan status Plantable sebanyak 1241 kompartemen.
Sedangkan kompartemen yang berstatus HTI HIP (Harvest in Progress) sebanyak 36 kompartemen dengan luasan sebesar 510 ha. Pada kompartemen C002 memiliki luasan sebesar 16 ha dengan jenis tanaman eukaliptus Clone IND-71 yang memiliki keadaan topografi pada areal datar sedangkan kompartemen H149
dengan luas 29,4 ha dengan jenis tanaman eukalyptusClone IND-73 yang memiliki keadaan topografi pada areal yang landai dengan jarak tanam 2 x 3 m2 dan sistem tebang habis tanam Indonesia.
Kegiatan harvesting di PT. Toba Pulp Lestari (TPL) memiliki sistem dimana perusahaan bekerjasama dengan kontraktor yang bertanggung jawab sebagai penyedia alat dan pekerja. Kontraktor bertanggung jawab dalam kegiatan pemanenan di lapangan dan berhak memiliki seorang pengawas yang ditugaskan untuk memantau setiap pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja serta memberikan upah setelah pekerja selesai bekerja. Kegiatan harvesting ini juga diawasi oleh manajer Estate Harvestingselaku bagian dari perusahaan. Setiap kontraktor memegang 1 Compartment atau lokasi tebangan. Kegiatan penyaradan dilakukan oleh operator dan dibantu dengan helper. Kegiatan harvesting yang dilakukan di Compartment H149 ditanggungjawabi oleh CV Manumpak Sahala, sedangkan pada Compartment C002 seluruh hasil kayu yang didapat ditanggungjawabi oleh CV Junior (JJM). Kawasan ini termasuk hutan produksi yang digolongkan kepada jenis tanaman pokok. Iklim pada sektor Habinsaran menurut Schmid Ferguson yaitu memiliki curah hujan tertinggi 367,40 mm dan curah hujan terendah 127,48 mm.
Kondisi topografi di sektor Habinsaran pada beberapa klasifikasi lereng yaitu Datar (0-8%) seluas 12,155 ha (45,4%), Landai (8-15%) seluas 12,243 ha (45,7%), agak curam (15-25%) seluas 641 ha, curam (25-40%) seluas 596 ha, dan sangat curam (>40%) seluas 1.130 ha (4,2 Ha). Ketinggian Sektor Habinsaran adalah 900-1700 mdpl. Letak Das Sektor Habinsaran yaitu diantara Das Batang Toru, Das Bilah, dan Das Kualu.
Jenis tanah pada sektor Habinsaran yaitu didominasi oleh Dystrandent, Hydrantdepts. Troporthod, Andosol Coklat tua, Andosol coklat kekelabuan sekitar 35,8%. Tipe tanah memiliki kandungan mineral yang lebih banyak dibanding tipe tanah gambut yang tidak ada. Formasi geologi tanah yang ada pada sektor ini yaitu formasi geologi Sibolga.
Salah satu jenis cepat tumbuh yang banyak ditanam adalah tanaman ekaliptus (Eucalyptus grandis W. Hill ex Maiden). Di Amerika Serikat jenis ini telah dimanfaatkan untuk kayu serpih, kayu energi, dan vinir kayu lapis. Di dataran tinggi Toba ekaliptus telah ditanam sejak tahun 1989 terutama untuk memenuhi kebutuhan industri kayu serpihPT. Toba Pulp Lestari (TPL) Tbk.