• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buntu terpedo, Polejiwa,Bunga didi, Tulung Indah,Salam,Kapidi, Tolada

Risiko Sangat Tinggi

Risiko Tinggi 4

2 dan 3

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 36 Berdasarkan tabel diatas, Area berisiko sangat tinggi berada pada cluster 2 dan cluster 3,sedangkan area berisiko tinggi berada pada cluster 4. Sementara area berisiko sedang berada di cluster 1.

3.5. Pengelolaan Air Bersih Rumah Tangga

Bagian ini menyajikan informasi mengenai kondisi akses sumber air untuk minum, masak, mencuci dan gosok gigi. Hal yang dicermati terdiri dari 2 ( dua) hal utama yakni sumber air yang digunakan rumah tangga dan pengolahan, penyimpanan dan pengamanan air yang baik dan hygiene. Kedua aspek ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan tingkat risiko kesehatan bagi anggota didalam rumah tangga.

Sehubungan dengan sumber air, studi EHRA mempelajari tentang jenis sumber air untuk keperluan minum, mandi, mmemasak dan gosok gigi. Yang menggunakan air ledeng atau PAM juga ditanyakan tentang penurunan volume air yang dialami dan penurunan kualitasnya. Sementara untuk yang menggunakan air sumur gali/sumur bor/sumur pompa akan ditanyakan jarak sumber air dengan tempat penampungan tinja.

Sumber-sumber air ini memiliki tingkat keamanan yang berbeda-beda, misalnya air yang bersumber dari PAM atau ledeng, sumur gali/sumur bor/sumur pompa yang terlindungi dan berada pada jarak yang aman dari pembuangan tinja serta sumber mata air yang terlindungi, dianggap relative aman. Sementara sumber air yang dianggap beresiko kesehatan antara lain air permukaan (air sungai/kali/danau), air dari sumuber mata air yang tidak terlindungi, dan air sumur

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 37 yang tidak terlindungi.

Suplai dan kualitas air yang memadai memiki peran yang penting dalam mengurangi risiko terkena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan sanitasi buruk, seperti diare. Sejumlah studi mengkonfirmasi bahwa mereka yang memiliki suplai air yang memadai cenderung memiliki resiko rendah untuk terkena diare karena kuantitas dan kualitas air yang memadai cenderung memudahkan kegiatan higinitas. Karenanya kelangkaan air dapat menjadi salah satu factor resiko tidak langsung terjadinya kesakitan seperti gejala diare.

Lebih jauh studi EHRA juga memperhatikan penyimpanan air, tempat yang digunakan untuk menyimpan, cara mengambil air, pengolahan air sebelum diminum, cara pengolahannya, penyimpanan air setelah diolah, alat penyimpanan air setelah diolah, dan penggunaan air olahan selain untuk diminum.

Diagram 3. 25 Sumber air mana yang biasa digunakan untuk minum?

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 38 mengkonsumsi air yang memenuhi standar kesehatan untuk diminum yang berasal dari air botol kemasan, air ledeng PAM, air isi ulang, air hidran u m u m P A M , a i r k r a n u m u m P A MS I MA S / P A M, a ir s u m u r g a li terlindungi, mata air terlindungi, air sumur pompa tangan yaitu tota l p e r s e n t a s e n ya s e b e s a r 9 3 . 6 % , sementara yang menggunakan air dari sumber yang beresiko kesehatan adalah sebanyak 6,1% yaitu air yang bersumber dari sumur tidak terlindungi, mata air tidak terlindungi dan sumber lainnya.

Diagram 3. 26 Sumber air mana yang biasa digunakan untuk masak?

Untuk memasak, hasil studi menunjukkan bahwa responden menggunakan air dari sumber yang relative aman adalah sebanyak 88,9% dan sisanya 17% menggunakan air dari sumur tidak terlindungi, mata air tidak terlindungi dan sumber lainnya.

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 39

Diagram 3. 27 Sumber air yang biasa digunakan untuk cuci piring dan gelas

Dengan kriteria jenis air yang sama dengan diagram sebelumnya, sebanyak 85.4% menggunaka sumber air dari sumber yang relative aman untuk cuci piring dan gelas, sisanya 18,2% menggunakan air dari sumber yang tidak aman yaitu air dari sumur tidak terlindungi, mata air tidak terlindungi dan sumber lainnya.

Diagram 3. 28 Sumber air yang biasa digunakan untuk cuci pakaian

Diagram diatas, memperlihatkan bahwa hanya 2,7% responden yang masih menggunakan air sungai untuk mencuci pakaian, 3,9 % menggunakan air dari mata air tidak terlindungi,

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 40 dan 9,8% air dari sumur gali tidak terlindungi. Hal ini mengindikasikan resiko kesehatan yang rendah dan relative.

Diagram 3. 29 Sumber air yang biasa digunakan untuk gosok gigi

Untuk keperluan gosok gigi, responden yang menggunakan sumber air yang relative aman juga sudah sangat baik yaitu mencapai 85,1%. Sedangkan yang menggunakan sumber air yang tidak aman sebesar 14,8%.

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 41

Diagram 3. 30 Kejadian Lamanya mendapatkan Air untuk Kebutuhan sehari-hari

Dari diagram dapat dilihat bahwa responden yang tidak pernah mengalami kes ulitan air adalah sebanyak 86,8%. Sementara yang mengatakan beberapa jam sebesar 8%, sisanya 2 % menyatakan mengalami menurunny a s atu s ampai beberapa hari , 1 . 1 % m e n y a t a k a n m e n g a l a m i penurunan pasokan satu minggu dan lebih dari seminggu. Dan 0.9% menyatakan tidak tahu.

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 42

Diagram 3. 31 Jarak sumber air ke tempat penampungan tinja

Bagi responden yang menggunakan sumber air jenis sumur gali/pompa tangan/pompa mesin, jarak dengan sumber pencemar seperti tempat penampungan tinja. Jarak kurang dari 10 meter dianggap rawan tercemar. Hasil studi digambarkan pada diagram diatas yaitu 66,8% berjarak lebih dari 10 meter dan 31,2% menjawab kurang dari 10 meter. Hanya 1,8 % yang menjawab tidak tahu dari sumber pencemar. Hal ini masih mengindikasikan risiko sanitasi yang tinggi.

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 43 Diagram menunjukkan bahwa 88,9% responden menyimpan air sebelum digunakan untuk masak, minum, dll, sementara sisanya yaitu 11,1% tidak menyimpan terlebih dulu tapi langsung digunakan.

Diagram 3. 33 Tempat menyimpan air untuk minum

Diagram diatas menggambarkan b a h w a s e b a g i a n b e s a r responden menyimpan air untuk minum ditempat yang tertutup dan aman, yaitu dalam teko/ketel/ceret 36,6%, di dalam panci tertutup 31.2% dan di gallon air isi ulang,dalam botol/termos sebesar 11%. Hanya 5,4% saja yang menyimpan air di dalam panci terbuka. Sementara terdapat responden yang menjawab lainnya 1%.

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 44

Diagram 3. 34 Cara mengolah Air sebelum Diminum

Lebih jauh, juga dikaji menggenai cara pengolahan air sebelum diminum. Sebagian besar responden yang mengolah air sebelum diminum, menyatakan mereka mengolah air dengan cara direbus yaitu sebanyak 94.6%. Sisanya 0,3% mengolah air dengan menggunakan filter keramik dan 4,1% menjawab lainnya.

Tabel 8

Area Berisiko Sumber Air Berdasarkan Hasil Studi EHRA Katagori Area Berisiko Cluster Desa/Kel

Kurang Berisiko 0 Limbong

Berisiko Sedang 1,2,3 Pao dan Kasimbong, Buntu Terpedo,

Bungadidi, Polejiwa, Tulung Indah, Salama, Kapidi, Tolada

Risiko Tinggi - -

Risiko Sangat Tinggi 4 Salulemo

Dari tabel diatas, risiko sangat tinggi sumber air berdasarkan hasil studi EHRa berada pada Cluster 4 yaitu Desa Salulemo. Sedangkan yang berisiko kurang berada pada cluster 0 di Desa Limbong. Area berisiko sedang berada pada cluster 1,2 dan 3.

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 45 3.6. Perilaku Higiene dan Sanitasi

Bagian ini akan membahas prilaku hygiene/sehat yaitu dikaitkan dengan kebiasaan pemakaian sabun. Hal ini penting dikaji karena sabun adalah salah satu desinfektan yang dapat mencegah masuk dan berkembangnya kuman pathogen kedalam tubuh. Studi EHRA menanyakan kepada responden tentang pemakaian sabun hari ini atau kemarin. Kemudian juga penggunaan sabun untuk keperluan apa saja. Tempat cuci tangan dan waktu mencuci tangan bagi anggota keluarga juga menjadi perhatian disini. Berikut hasil studi selengkapnya.

Diagram 3. 35. Cuci Tangan pakai Sabun di Lima Waktu Penting

Ada 5 (lima) waktu penting mencuci tangan memakai sabun, yaitu setelah buang air besar/menceboki anak, sebelum makan, sebelum menyiapkan m a s a k a n , s e t e l a h m e m e g a n g sesuatu/memegang hewan, dan sebelum menyuapi anak. Berdasarkan hasil studi, responden yang melakukan cuci tangan Pakai Sabun di Lima waktu penting hanya sebesar 4,1% dan yang tidak melakukan cuci tangan pakai sabun sebesar 95,9%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa perilaku cuci tangan pakai sabun masih sangat kurang sehingga perilaku masih sangat berisiko terjadinya berbagai penyakit berbasis lingkungan.

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 46

Diagram 3. 36. Waktu Cuci Tangan Pakai Sabun

2,5 19,5 64,1 74,5 44,8 8,6 14,1 22,7 16,8 8,2 0 10 20 30 40 50 60 70 80 sebelum ketoilet setelah menceboki/bayi/anak setelah buang air besar sebelum makan setelah makan sebelum memberi menyuapi anak sebelum menyiapkan masakan setelah memegang hewan sebelum sholat lainnya

Berdasarkan hasil studi, responden yang mencuci tangan pakai sabun sebelum makan a d a l a h 7 4 , 5 % , S e t e l a h B u a n g a i r b e s a r 6 4 , 1 % , s e t e l a h m a k a n s e b e s a r 4 4 , 8 % , s e t e l a h m e m e g a n g h e w a n s e b e s a r 2 2 , 7 % , s e t e l a h menceboki bayi/anak hanya 19,5%, sebelum sholat sebesar 16,8%, sebelum menyiapkan masakan hanya 14,1%, sebelum memberi menyuapi anak 8,6%, sebelum ketoilet 2,5% dan Lainnya sebesar 8,2%. Hal ini menunjukkan masih ada resiko kesehatan yang tinggi terkait kebiasaan mencuci tangan sebelum menyiapkan masakan, sebelum menyuapi anak dan setelah menceboki anak.

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 47

Diagram 3. 37. Tempat Cuci tangan bagi anggota Keluarga

Tempat cuci tangan yang ideal adalah di tempat yang terdapat air mengalir dan sabun. Dari diagram 62 diatas dapat dilihat bahwa persentase terbesar responden mencuci tangan di kamar mandi, di tempat cuci piring,sumur dan didapur. Di ke empat tempat tersebut besar kemungkinan terdapat air mengalir dan sabun.

Tabel 9

Area Berisiko Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Berdasarkan Hasil Studi EHRA Katagori Area Berisiko Cluster Desa/Kel

Kurang Berisiko 4 dan3 Salulemo, Salama, Kapidi, Tolada

Berisiko Sedang 1 Pao dan Kasimbong

Risiko Tinggi 2 Buntu Terpedo, Polejiwa, Bungadidi, Tulung Indah

Risiko Sangat Tinggi 0 Limbong

Pada tabel diatas, menunjukkan bahwa are berisiko PHBS untuk sangat risiko sangat tinggi berada pada cluster 0 (Desa limbong), risiko tinggi berada pada cluster 2 yaitu Desa Buntu terpedo,Polejiwa,bungadidi, tulung indah, dan yang berisiko sedang

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 48 berada pada cluster 1 yaitu Desa Pao dan kasimbong. Sedangkan area kurang berisiko berada pada cluster 4 dan 3 yaitu Desa Salulemo,Salam, Kapidi dan tolada.

3.7 Kejadian Penyakit Diare

Mencuci tangan memakai sabun diwaktu yang tepat dapat mencegah masuknya pathogen penyebab diare. Pencemaran tinja adalah sumber utama dari virus, bakteri dan pathogen penyebab diare. Menurut Wagner & Lanoix, 1958, jalur pencemaran yang diketahui sehingga cemaran dapat sampai kemulut manusia, termasuk balita adalah melalui 4F, yaitu fluids (cairan), fields (tanah), flies (lalat) dan fingers (jari/tangan). Cuci tangan pakai sabun adalah cara pencegahan yang paling efektif dan efisien.

Seperti sudah dibahas pada bagian sebelumnya, waktu-waktu penting cuci tangan pakai sabun yaitu dalam 5 (lima) waktu penting tersebut harus sangat diperhatikan oleh ibu/pengasuh. Berikut akan ditampilkan data studi EHRA mengenai kejadian diare yang dialami.

Diagram 3. 38 Waktu paling dekat anggota keluarga terkena diare

Diagram diatas menunjukkan bahwa 70% responden menjawab bahwa anggota keluarga mereka tidak pernah terkena diare, 8,6% menyatakan terkena diare dalam 6 bulan

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 49 terakhir. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa tidak banyak responden yang mengalami kejadian diare. Untuk responden yang mengalami kejadian diare ini, lebih lanjut akan dilihat anggota keluarga terakhir yang terkena diare. Berikut datanya ditampilkan pada diagram dibawah ini.

Diagram 3. 39 Anggota Keluarga Terakhir Terkena Diare

Diagram diatas menggambarkan bahwa persentase tertinggi yang terkena diare adalah orang perempu an d e was a sebanyak 31,1%, hal ini terkait dengan kebiasaan cuci tangan pakai sabun, setelah menceboki anak, atau setelah memegang peralatan/hewan yang masih rendah. Kemudian anak-anak balita sebesar 25 % dan 19,7% orang dewasa laki-laki yang memang rentan terhadap diare.

3.8 Indeks Risiko Sanitasi

Risiko sanitasi berfokus pada fasilitas sanitasi dan perilaku masyarakat, Fasilitas sanitasi yang dimaksud adalah sumber air minum, Layanan Pembuangan sampah, Jamban, Saluran pembuangan air limbah. Dan perilaku yang dilihat adalah yang terkait dengan higienis dan sanitasi dengan mengacu pada STBM; Buang air besar, cuci tangan pakai sabun, Pengelolaan air minum rumah tangga, pengelolaan sampah dengan 3 R dan Pengelolaan air limbah rumah tangga. Indeks Risiko Sanitasi berikut ini merupakan gambaran kondisi Kabupaten luwu utara.

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 50

Diagram 3.40 Indeks Risiko Sanitasi Kabupaten

Grafik diatas, memberikan gambaran kondisi sanitasi berdasarkan studi EHRA. Sumber air merupakan risiko sanitasi , yang tertinggi berada pada cluster 4, dan risiko terendah berada pada cluster 0. Air limbah domestik merupakan risiko sanitasi, yang tertinggi berada pada cluster 3 dan risiko terendah berada pada cluster 3. Persampahan merupakan risiko sanitasi , yang tertinggi berada pada cluster cluster 3 dan cluster 0. Genangan air yang tertinggi risiko berada pada cluster 3 dan risiko terendah berada pada cluster 0. Perilaku hidup bersih dan sehat risiko tertinggi berada pada cluster 0 dan risiko terendah berada pada cluster 4.

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 51

BAB IV

PENUTUP

Studi Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan (Environmental Health Risk Assesment=EHRA) adalah sebuah survei partisipatif di Kabupaten Luwu utara untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higienitas serta perilaku-perilaku masyarakat pada skala rumah tangga. Data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi termasuk advokasi di tingkat pengambil kebijakan sampai dengan kelurahan. Data yang dikumpulkan dari studi EHRA akan digunakan Pokja AMPL sebagai salah satu bahan untuk menyusun Buku putih sanitasi, penetapan are berisiko dan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK).

Studi EHRA dipandang perlu dilakukan oleh Kabupaten karena : pembangunan sanitasi membutuhkan pemahaman kondisi wilayah yang akurat, data terkait dengan sanitasi dan higiene terbatas dan data sanitasi umumnya tidak bisa dipecah sampai kelurahan/Desa serta data tidak terpusat melainkan berada di berbagai kantor yang berbeda. Isu sanitasi juga masih dipandang kurang penting sebagaimana terlihart dalam prioritas usulan melalui musrenbang.

EHRA secara tidak langsung memberi amunisi bagi stakeholders dan masyarakat di desa/kelurahan untuk melakukan kegiatan advokasi ke tingkat yang lebih tinggi maupun advokasi secara horizontal ke sesama masyarakat atau stakeholders kelurahan/desa.

Untuk pelaksanaan Studi EHRA kali ini sebagai bahan pembelajaran dan untuk kegiatan selanjutnya perlu dilakukan studi EHRA secara berkala sehingga di ketahui kondisi sanitasi dan perilaku masyarakat dari waktu ke waktu setelah dilakukan intervensi di masyarakat.

Demikianlah Hasil studi EHRa kali ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi pengambil kebijakan dan masyakat pada umumnya

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 52

LAMPIRAN

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 53 Gambar 3.2

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 54 Gambar 3.3

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 55 Gambar 3.4

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 56 Gambar 3.5

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 57 Gambar 3.6

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 58 Gambar 3.7

Kelompok Kerja PPSP Kab. Luwu Utara Tahun 2013

| Laporan Studi EHRA Kab. Luwu Utara 59 Gambar 3.8

Dokumen terkait