Bunyi konsonan dalam setiap bahasa memiliki perbedaan termasuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Menurut Marsono, (1999:60) konsonan secara umum dibedakan menjadi:
1) Cara dihambat (cara artikulasi). 2) Tempat hambatan (tempat artikulasi).
3) Hubungan posisional antara penghambat-penghambatnya atau hubungan antara artikulator aktif dengan pasif (striktur).
4) Bergetar tidaknya pita suara.
Untuk lebih jelas dijabarkan pada penjelasan di bawah ini. 1) Konsonan Hambat Letup (Stops, Plosives)
Konsonan hambat letup ialah konsonan yang terjadi dengan hambatan penuh arus udara kemudian hambatan ini dilepaskan secara tiba-tiba. Jadi strikturnya rapat kemudian dilepaskan tiba-tiba. Striktur rapat yang pertama disebut hambatan, sedangkan striktur pelepasan yang kedua disebut letupan Marsono, (1999:60). Menurut tempat hambatannya (artikulasinya) konsonan dapat dibedakan menjadi:
1) Konsonan hambat letup bilabial
Konsonan hambat letup blabial terjadi bila penghambat artikulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah bibir atas, seperti bunyi: [p, b]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan. Bibir bawah menekan rapat pada bibir atas, sehingga udara yang dihembuskan dari paru-paru terhambat untuk beberapa saat. Bibir bawah yang menekan rapat pada bibir atas itu kemudian secara tiba-tiba dilepaskan. Terjadilah letupan udara keluar dari rongga mulut. Perbedaan di antara keduanya ialah [p] sebagai konsonan keras tak bersuara, sedangkan [b] adalah lunak bersuara. (Marsono, 1999:61)
2) Konsonan hambat letup apiko-dental
Konsonan hambat letup apiko-dental terjadi bila penghambat artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah gigi atas. Bunyi yang dihasilkan ialah [t,d]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan. Ujung lidah menekan rapat pada gigi atas bagian dalam, sehingga udara yang dihembuskan dari paru-paru terhambat untuk beberapa saat. Ujung lidah yang menekan rapat gigi atas itu kemudian secara tiba-tiba dilepaskan. Terjadilah letupan udara keluar dari rongga mulut. Bunyi dental [t] adalah konsonan keras bersuara, sedangkan [d] adalah lunak bersuara dan hambatannya lebih pendek daripada [t]. (Marsono, 1999:63-64)
3) Konsonan hambat letup apiko-alveolar
Konsonan hambat letup apiko-alveolar terjadi bila penghambat artikulator aktifnya adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya adalah gusi. Bunyi yang terjadi adalah [t,d]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan. Ujung lidah menekan rapat pada gusi, sehingga udara yang dihembuskan dari paru-parunterhambat untuk beberapa saat. Ujung lidah yang menekan rapat pada gusi itu kemudian secara tiba-tiba dilepaskan. Terjadlah letupan udara keluar dari rongga mulut. Perbedaan antara alveolar [t] dengan [d], [t] adalah konsonan keras bersuara, sedangkan [d] adalah konsonan lunak bersuara dan lebih pendek hambatannya. (Marsono, 1999:65-66)
4) Konsonan hambat letup apiko-palatal
Konsonan hambat letup apiko-palatal terjadi bila artikulasi aktifnya adalah ujung lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras. Bunyi yang terjadi ialah [t,d]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan. Ujung lidah menekan rapat pada langit-langit keras, sehingga udara yang dihembuskan dari paru-paru terhambat untuk beberapa saat. Ujung lidah yang menekan rapat pada langit-langit keras. Bunyi yang terjadi adalah [t,d]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan. Ujung lidah menekan rapat pada langit-langit keras, sehingga udara yang dihembuskan dari paru-paru terhambat untuk beberapa saat. Ujung lidah yang menekan rapat pada langit-langit keras itu kemudian secara tiba-tiba dilepaskan. Terjadilah letupan udara keluar dari rongga mulut. Perbedaan di antara kedua bunyi itu ialah [t] konsonan keras tak bersuara, sedangkan [d] adalah lunak bersuara. (Marsono, 1999:66-67)
5) Konsonan hambat letup medio-palatal
Konsonan hambat letup medio-palatal terjadi bila artikulator aktifnya adalah tengah lidah dan artikulator pasifnya langit-langit keras. Bunyi yang dihasilkan ialah [c,d]. Tengah lidah menekan rapat pada langit-langit keras. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan sehingga udara tidak bisa keluar melalui rongga hidung sehingga udara yang dihembuskan dari paru-paru terhambat. Secara tiba-tiba tengah lidah yang menekan rapat kemudian dilepaskan, terjadilah letupan sehingga udara keluar dari mulut. Perbedaan antara bunyi [c] dengan [j] ialah [c] sebagai konsonan keras bersuara, sedangkan [j] adalah konsonan lunak bersuara. (Marsono, 1999:68-69)
6) Konsonan hambat letup dorso-velar
Konsonan hambat letup dorso-velar terjadi bila articulator aktifnya ialah pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak. Bunyi yang dihasilkan ialah [k,g]. Pangkal lidah menekan rapat pada langit-langit lunak. Langit-langit lunak beserta ank tekaknya dinaikkan, sehingga udara yang dihembuskan dari paru-paru terhambat untuk beberapa saat. Secara tiba-tiba pangkal lidah yang menekan rapat itu kemudian dilepaskan, terjadilah letupan sehingga udara keluar dari rongga mulut. Perbedaan antara [k] dengan [g] ialah [k] sebagai konsonan keras tak bersuara, sedangkan [g] adalah konsonan lunak bersuara. (Marsono, 1999:70-71)
7) Konsonan hamzah (glottal plosive, glottal stop)
Konsonan hamzah terjadi dengan menekan rapat yang satu terhadap yang lain pada seluruh panjangnya pita suara, langit-langit lunak beserta anak tekaknya dikeataskan, sehingga arus udara terhambat untuk beberapa saat. Dengan merapatnya sepasang pita suara maka glotis dalam keadaan tertutup rapat. Secara tiba-tiba kedua selaput pita suara itu dipisahkan, terjadilah letupan udara keluar, dan terdengarlah bunyi [?].(Marsono, 1999:72)
2) Konsonan Nasal (Nasals)
Konsonan nasal (sengau) ialah konsonan yang dibentuk dengan menghambat rapat (menutup) jalan udara dari paru-paru melalui rongga mulut, jadi strikturnya rapat. Bersama dengan itu langit-langit lunak beserta anak tekaknya diturunkan, sehingga udara keluar melalui rongga hidung. Menurut tempat hambatannya (artikulasinya) konsonan jenis ini dapat diperinci lagi menjadi:
1) Konsonan nasal bilabial
Konsonan nasal bilabial terjadi bila penghambat artikulator aktifnya ialah bibir bawah dan artikulator pasifnya ialah bibir atas. Nasal yang terjadi ialah [m]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya diturunkan. Bibir bawah menekan rapat pada bibir atas sehingga jalannya udara dari paru-paru melalui rongga mulut terhambat dan keluar melalui rongga hidung. Pita suara ikut bergetar. Karena pita suar ikut bergetar maka nasal [m] termasuk konsoan bersuara. (Marsono, 1999:74)
2) Konsonan nasal apiko-alveolar
Konsonan nasal apiko-alveolar terjadi bila penghambat artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah gusi. Nasal yang terjadi ialah [n]. langit-langit lunak beserta anak tekaknya diturunkan. Bersama dengan itu lidah ditekankan rapat pada gusi sehingga jalannya udara melalui rongga mulut terhambat dan keluar melalui rongga hidung. Pita suara ikut bergetar. Karena pita suara ikut bergetar maka nasal [n] adalah konsonan bersuara. (Marsono, 1999:75-76)
3) Konsonan nasal medio-palatal
Konsonan nasal medio-palatal terjadi bila penghambat artikulator aktifnya ialah tengah lidah dan artikulator pasifnya adalah langit-langit keras. Nasal yang dihasilkan ialah [ñ]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya diturunkan. Bersama dengan itu tengah lidah ditekankan rapat pada langit-langit keras. Oleh karena itu maka jalannya udara melalu rongga mult terhambat dan keluar melalui rongga hidung. Pita suara ikut bergetar. Karena pita suara ikut bergetar maka [ñ] juga konsonan bersuara. (Marsono, 1999:76-77)
4) Konsonan nasal dorso-velar
Konsonan dorso-velar terjadi bila proses penghambat artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya ialah langit-langit lunak. Nasal yang dihasilkan ialah [ŋ]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya diturunkan. Bersama dengan itu pangkal lidah dinaikkan ditekankan rapat pada langit-langit lunak. Oleh karena itu, maka jalannya udara melalui rongga mulut terhambat dan keluar melalui rongga hidung. Pita suara ikut bergetar. Karena pita suara ikut bergetar maka [ŋ] juga termasuk konsonan bersuara. Seperti pada kata: ngarai, langit, dan senang. (Marsono, 1999:77-78)
3) Konsonan Paduan (Affricates)
Konsonan paduan adalah konsonan hambat jenis khusus. Proses terjadinya dengan menghambat penuh arus udara dari paru-paru, kemudian hambatan itu dilepaskan secara bergeser pelan-pelan. Jadi strikturnya ialah rapat kemudian dilepaskan pelan-pelan. Tempat artikulasinya ialah ujung lidah dan gusi bagian belakang (langit-langit keras bagian depan atau prepalatal). Bunyi yang terjadi ialah paduan apiko-prepalatal [tʃ, dʒ]. Ujung lidah menyentuh rapat pada gusi bagian belakang, langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan, sehingga arus udara yang dihembuskan dari paru-paru terhambat untuk sementara. Ujung lidah yang menyentuh rapat itu kemudian dilepaskan secara bergeser pelan-pelan dalam posisi seperti mengucapkan [ʃ, ʒ]. Geseran dalam mengucapkan [tʃ, dʒ] tidak sedemikian panjang seperti pada geseran bunyi [ʃ, ʒ]. Perbedaan antara kedua paduan itu ialah [tʃ] paduan keras tak bersuara, sedangkan [dʒ] adalah
paduan lunak bersuara dan hambatannya lebih pendek seperti pada kata chin, riches, dan rich. (Marsono, 1999:79-80)
4) Konsonan Sampingan (Laterals)
Konsonan sampingan dibentu dengan menutup arus udara di tengah rongga mulut sehingga udara keluar melalui kedua samping atau sebuah samping saja. Latera dlam bahasa Latin berarti „samping-samping‟. Jadi strikturnya adalah renggang lebar. Tempat artikulasinya ujung lidah dengan gusi. Bunyi yang dihasilkan disebut sampingan apiko alveolar. Bunyi itu adalah [l]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan. Ujung lidah menyentuh rapat pada gusi, sehingga arus udara melalui tengah mulut terhalang. Karena udara melalui tenah mulut terhalang maka udara yang dihembuskan dari paru-paru keluar melalui kedua (salah satu) sisi lidah yang tidak bersentuhan dengan langit-langit. Pita suara ikut bergetar. Karena pita suara ikut bergetar maka [l] adalah konsonan bersuara. Seperti pada kata: lama, pula, asal, look, holiday, oil. (Marsono, 1999:80-81)
5) Konsonan Geseran atau Frikatif (Frikatives, Frictions)
Konsonan geseran atau frikatif ialah konsonan yang dibentuk dengan menyempitkan jalannya arus udara yang dihembuskan dari paru-paru, sehingga jalannya udara terhalang dan keluar dengan bergeser. Jadi strikturnya tidak rapat seperti pada konsonan letup tetapi renggang. Menurut tempat artikulasinya konsonan geseran dapat dibedakan menjadi:
1) Konsonan geseran labio-dental
Konsonan geseran labio-dental terjadi bila artikulator aktifnya ialah bibir bawah dan artikulator pasifnya ialah gigi atas. Bunyi yang terjadi ialah [f,v]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan, udara tidak keluar melalui rongga hidung dan terpaksa keluar lewat mulut. Bibir bawah ditekankan pada gigi depan atas, dengan demikian penyempitan jalan arus udara terjadi. Karena jalannya arus udara disempitkan maka udara keluar secara bergeser melalui sela-sela bibir dengan gigi dan melalui lubang-lubang di antara gigi. Perbedaan di antara kedua bunyi geseran itu ialah [f] sebagai konsonan keras bersuara, sedangkan [v] adalah konsoan lunak bersuara. Seperti pada kata: fajar, nafas, taraf, valuta, devisa, fan, sofa, life, van, cover, live (Marsono, 1999:82-83)
2) Konsonan geseran apiko-dental
Konsonan geseran apiko-dental terjadi bila artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah gigi atas. Bunyi yang dihasilkan ialah [θ,ð]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dikeataskan sehingga udara tidak keluar melalui rongga hidung tetapi terpaksa keluar melalui rongga mulut. Ujung lidah ditekankan pada gigi depan atas, sehingga penyempitan jalan udara terjadi. Karena jalannya arus udara disempitkan maka udara keluar dengan bergeser melalui sela-sela ujung lidah dan gigi. Perbedaan di antara kedua bunyi itu ialah [θ] sebagai konsonan keras tak bersuara hambatannya lebih panjang, sedangkan [ð] adalah konsonan lunak bersuara hambatannya lebih pendek. Seperti pada kata: thank, nothing, both. (Marsono, 1999:83-84)
3) Konsonan geseran apiko-palatal
Konsonan geseran apiko-palatal terjadi bila articulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah langit-langit keras. Bunyi yang dihasilkan ialah [r]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan sehingga udara tidak keluar melalui rongga hidung tetapi terpaksa keluar melalui rongga mulut. Lidah membentuk lengkungan dengan ujung lidah mengarah pada langit-langit tetapi ada sela-sela sempit yang menyebabkan jalannya udara bergeser. Bibir agak dibulatkan, khususnya jika [r] itu ada pada awal kata. Pita suara ikut bergetar sehingga [r] termasuk konsonan bersuara. (Marsono, 1999:85-86)
4) Konsonan geseran lamino-alveolar
Konsonan geseran lamino-alveolar terjadi bila artikulator aktifnya ialah daun lidah dan ujung lidah sedangkan artikulator pasifnya ialah gusi. Bunyi yang tejadi ialah [s, z]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan sehingga udara tidak keluar melalui rongga hidung tetapi terpaksa keluar melalui rongga mulut. Daun lidah dan ujung lidah ditekankan pada gusi, sehingga ruangan jalannya udara antara daun lidah dengan gusi itu sempit sekali yang menyebabkan keluarnya udara yang bergeser. Gigi atas dan gigi bawah dirapatkan. Mulut tidak terbuka lebar. Perbedaan di antara kedua konsonan lamino-alveolar itu ialah [s] sebgai konsonan keras tak bersuara lebih panjang hambatannya, sedangkan [z] adalah konsonan lunak bersuara lebih pendek hambatannya. Jika dibandingkan dengan geseran [f,v] dan [θ,ð] maka geseran untuk bunyi lamino-alveolar ini khususnya [s] lebih kuat. (Marsono, 1999:86-87)
5) Konsonan geseran apiko-prepalatal
Konsonan geseran apiko-prepalatal terjadi bila artikulator aktifnya ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah gusi bagian belakang atau langit-langit keras depan (prepalatal). Bunyi yang terjadi ialah [ʃ, ʒ]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan sehingga udara tidak keluar melalui rongga hidung tetapi terpaksa keluar melalui rongga mulut. Ujung lidah atau beserta daun lidah ditekankan pada gusi bagian belakang (langit-langit keras depan). Ruangan jalannya udara antara ujung lidah dengan gusi bagian belakang sempit sekali yang menyebabkan keluarnya udara bergeser. Ruangan di antara ujung lidah dengan gusi itu jika dibandingkan dengan [s] lebih besar], sebaliknya jalan udara di antara bagian utama lidah dengan langit-langit lebih sempit. Lidah depan lebih tinggi daripada untuk [s,z]. Bibir bulat ramping. Gigi atas dengan gigi bawah sangat berdekatan. Perbedaan di antara kedua geseran apiko-prepalatal itu ialah [ʃ] sebagai bunyi geseran apiko-prepalatal keras tak bersuara lebih panjang hambatannya, sedangkan [ʒ] adalah lunak bersuara lebih pendek hambatannya. Seperti pada kata: shop, nation, wash. (Marsono, 1999:88-89)
6) Konsonan geseran dorso-velar
Konsonan geseran dorso-velar terjadi bila artikulator aktifnya pangkal lidah dan artikulator pasifnya langit-langit lunak. Bunyi yang terjadi ialah [x]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan sehingga udaa tidak keluar melalui rongga hidung tetapi terpaksa melalui rongga mulut. Pangkal lidah ditekankan pada langit-langit lunak sehingga ruangan jalannya udara antara pangkal lidah dengan langit-langit lunak menjadi sempit. Karena ruangan jalannya udara sempit
maka udara keluar dengan bergeser. Pita suara tidak ikut bergetar maka bunyi [x] tidak bersuara. (Marsono, 1999:90-91)
7) Konsonan geseran laringal
Konsonan geseran laringal atau geseran glottal terjadi bila artikulatornya adalah sepasang pita suara. Udara yang dihembuskan dari paru-paru pada waktu melewati glottis digeserkan. Glotis dalam posisi terbuka. Posisi terbuka ini lebih sempit daripada posisi terbuka. Posisi terbuka ini lebih sempit daripada posisi glottis terbuka lebar dalam bernafas normal. Terjadilah bunyi [h], karena pita suara tidak ikut bergetar maka [h] adalah konsonan tidak bersuara. (Marsono, 1999:92)
6) Konsonan Getar (Trills, Vibrants)
Konsonan getar atau geletar ialah konsonan yang dibentuk dengan menghambat jalannya arus udara yang dihembuskan dari paru-paru secara berulang-ulang dan cepat. Jadi strikturnya rapat renggang, yaitu dirapatkan kemudian direnggangkan atau dilepaskan (dihambat-dilepskan) berkali-kali dengan cepat. (Marsono, 1999:93) Menurut tempat artikulasinya konsonan getar ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Konsonan getar apiko-alveolar
Konsonan getar apiko-alveolar terjadi bila artikulator aktif yang menyebabkan proses menggetar itu ialah ujung lidah dan artikulator pasifnya ialah gusi. Bunyi yang dihasilkan ialah [r]. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan sehingga udara tidak keluar melalui rongga hidung tetapi keluar melalui rongga mulut. Lidah membentak lengkungan dengan ujung lidah merapat kemudian
merenggang (melepas) secara berkali-kali pada gusi belakang sehingga menyebabkan jalannya udara bergetar. (Marsono, 1999:93)
2) Konsonan getar uvular
Konsonan getar uvular terjadi bila artikulator aktif yang menyebabkan bergetarnya udara itu ialah pangkal lidah (lidah belakang) dan artikulator pasifnya ialah anak tekak. Bunyi yang terjadi ialah [R]. Langit-langit luank terangkat ke atas menutup jalannya udara melalui rongga hidung. Udara keluar melalui rongga mulut. Pangkal lidah merapat kemudian merenggang (melepas) secara berkali-kali pada anak tekak sehingga menyebabkan jalannya udara bergetar. (Marsono, 1999:94-95)
7) Konsonan Sentuhan (Tap)
Konsonan sentuhan ialah konsonan yang pembentukkannya hampir sama dengan getar tetap proses bergetar itu hanya terjadi satu kali. Penghalangan udara terjadi menyentuhkan artikulator aktif pada artikulator pasif satu kali. Jadi strikturnya rapat renggang pendek sekali. Tempat artikulasinya ialah ujung lidah dengan gusi belakang atau langit-langit. Bunyi yang dihasilkan disebut sentuhan (tap) apiko-alveolar, dilambangkan dengan [r]. (Marsono, 1999:95)
8) Konsonan Sentuhan Kuat (Flap)
Konsonan sentuhan kuat ialah konsonan yang pembentukannya pada prinsipnya sama dengan konsonan sentuhan (tap). Perbedaannya, pada sentuhan kuat sebeum artikulator aktif disentuhkan pada artikulator pasif disertai ancang-ancang lebih dahulu sehingga proses sentuhannya lebih kuat, dan disebut sentuhan kuat. Strikturnya rapat renggang pendek kuat. Tempat artikulasinya sama dengan
konsonan sentuhan (tap), yaitu ujung lidah dengan gusi belakang atau langit-langit. Ujung lidah sebagai artikulator aktif disentuhkan kuat-kuat pada gusi belakang atau langit-langit sehingga menyebabkan arus udara terhambat dan bergetar satu kali. Bunyi yang dihasilkan disebut sentuhan kuat apiko-aveolar dilambangkan dengan [r].
9) Semi-vokal
Bunyi semi vokal secara praktis termasuk konsonan tetapi karena waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni, maka bunyi-bunyi itu disebut semi-vokal. Hubungan posisional antar penghambat (artikulator) dalam mengucapkan semi-vokal adalah renggang terbentang atau renggang lebar. Menurut tempat hambatannya (artikulasinya) ada dua jenis semi-vokal, yaitu:
1) Semi-vokal bilabial dan labio-dental
Semi-vokal bilabial terjadi bila artikulator aktifnya adalah bibir bawah dan artikulator pasifnya adalah bibir atas, bunyi yang terjadi ialah [w] bilabial. Dapat juga bibir bawah bekerja sama dengan gigi atas, yang terjadi adalah [w] labio-dental. Langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan sehingga udara tidak keluar melalui rongga mulut. Pangkal lidah dinaikkan mendekati langit-langit lunak, ketinggiannya sama dengan posisi pengucapan vokal [u]. Oleh karena itu, maka udara yang keluar dari paru-paru sedikit terhambat. Posisi kedua bibir hampir sama dengan pembentukan vokal [u]. Perbedaan-perbedaannya, dalam mengucapkan [u], posisi bibir bulat. Dalam [w] ini posisi kedua bibir itu agak terbentang. Pita-pita suara ikut bergetar sehingga [w] adalah bunyi bersuara. (Marsono, 1999:97)
2) Semi-vokal medio-palatal
Semi-vokal medio-palatal terjadi bila artikulator aktifnya ialah tengah lidah dan artikulator pasifnya ialah langit-langit keras. Bunyi yang terjadi ialah [y]. langit-langit lunak beserta anak tekaknya dinaikkan sehingga udara tidak keluar melalui rongga hidung tetapi keluar melalui rongga mulut. Tengah lidah menaik mendekati langit-langit keras, tetapi tidak sampai rapat. Ketinggian lidah ini, jika dibandingkan dengan [i], [y] sedikit lebih tinggi, tetapi lebih rendah daripada [j]. Oleh karena itu, maka udara yang keluar dari paru-paru sedikit terhambat. Pita-pita suara ikut bergetar maka bunyi [y] termasuk bunyi bersuara. (Marsono, 1999:99) Untuk lebih jelasnya bunyi konsonan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.6 Bunyi Konsonan Bahasa Indonesia
Hubungan posisional antar penghambat (striktur) Cara dihambat (cara artikulasi) B er sua ra da n tak be rs ua ra
Tempat hambatan (tempat artikulasi)
B il abial L abio -de ntal Apiko-de ntal Apiko-al ve olar Apiko prepa lata l Apiko-pa lata l L ami no -alveola r L ami no -pa tala l M edio -pa lata l Dor so -ve la r Uvula r L ar in ga l Glotal ha mza h Rapat lepas
tiba-tiba Hambat letup
T p p- t t- c k k- ?
B b d j g
Rapat lepas
tiba-tiba Nasal (sengau) B m n n ŋ T Rapat lepas pelan-pelan Paduan (afrikat) B Renggang lebar Sampingan (lateral) B l Renggang Geseran (frikatif) T f s ʃ x h B v z Rapat
renggang Getar (tril) r
Renggang
lebar Semi-vokal B w y
(Marsono, 1999:101) Keterangan:
Tabel 2.7 Bunyi Konsonan Bahasa Inggris Hubungan posisional antar penghambat (striktur) Cara dihambat (cara artikulasi) B er sua ra da n tak be rs ua ra
Tempat hambatan (tempat artikulasi)
B il abial L abio -de ntal Apiko-de ntal Apiko-alveola r Apiko pr epa lata l Apiko-pa lata l L ami no -a lveola r L ami no -pa tala l M edio -pa lata l Dor so -ve lar Uvula r L ar ingal Glotal ha mza h
Rapat lepas tiba-tiba Hambat letup T p ph t th k kh ? B b d g
Rapat lepas
tiba-tiba Nasal (sengau) B m n ŋ
Rapat lepas pelan-pelan Paduan (afrikat) T tʃ B dʒ Renggang lebar Sampingan (lateral) B l Renggang Geseran (frikatif) T f θ ʃ s x h B v ð ʒ r z
Rapat renggang Getar (tril) R*)
Rapat renggsng 1 x Sentuhan (tap) B r*)
Rapat renggsng 1 x kuat
Sentuhan kuat
(flap) r*)
Renggang lebar Semi vokal B w y
(Marsono, 1999:106) Keterangan:
T = Tidah bersuara B= Bersuara *)= Tidak ada dalam bahasa Indonesia Bunyi Segmental
Bunyi segmental ialah bunyi yang dihasilkan oleh pernafasan, alat ucap dan pita suara. Bunyi Segmental ada empat macam yaitu:
1) Konsonan
Konsonan adalah bunyi yang terhambat oleh alat ucap. 2) Vokal
Vokal adalah bunyi yang tidak terhambat oleh alat ucap. 3) Diftong
Diftong adalah dua vokal yang dibaca satu bunyi, misalnya: [ai] dalam sungai, [au] dalam [kau]
4) Kluster
Kluster adalah dua konsonan yang dibaca satu bunyi.