CACAT KEHENDAK
H. Cacat Kehendak dalam Hukum Islam
Sebagaimana hukum kontrak Civil Law dan Common Law, hukum kontrak Islam juga mengenal cacat kehendak yang dapat membatalkan kontrak. Cacat kehendak tersebut meliputi ikhrah (paksaan); tadlis atau taghrir (penipuan); dan ghalat (kekeliruan).
1. Ikhrah
Para fuqaha klasik menyediakan satu bab khusus untuk mengkaji paksaan baik dalam kitab fiqh maupun usul fiqh.495 Di dalam mazhab Hanafi dinyatakan bahwa, paksaan merupakan topik yang menjadi kajian khusus yang terpisah ruang lingkup fiqh karena paksaan ini merupakan gangguan primordial sebagai kesepakatan yang secara serius mempengaruhi kehendak bebas para pihak dalam pembentukan kontrak.496
Prinsip umum dalam hukum Islam adalah bahwa tidak seorang pun kepada persetujuan yang dibuat berdasarkan adanya suatu paksaan. Karenanya, sebelum melaksanakan kontrak, hukum Islam memastikan bahwa para pihak dalam
494
Henry. R. Cheeseman, op.cit, hlm 231.
495
Syamsul Anwar, op.cit, hlm 163.
496
membentuk keinginan untuk mengadakan kontrak harus secara bebas.497 Jika salah satu pihak memaksakan kehendaknya untuk mengadakan kontrak, hukum Islam menolak pelaksanaan kontrak yang dibentuk berdasarkan paksaan. Dengan perkataan lain, kontrak harus didasarkan pada kebebasan dan kesukarelaan.498 Kesepakatan berarti bahwa seseorang bebas untuk memilih dan berkehendak untuk membuat janji.499
Sarakhsi mendefinisikan paksaan sebagai suatu tindakan dilakukan seseorang yang ditujukan kepada orang lain untuk menekan kesepakatan atau merusak (meniadakan) kehendak bebas.500 Zayla menyatakan bahwa paksaan adalah tindakan yang secara langsung yang dilakukan seseorang terhadap orang lain yang merusak kesepakatannya.501
Seorang penulis kotemporer, Mustapha az Zarqa mengartikan paksaan sebagai paksaan fisik atau moral yang dilakukan seseorang agar orang lain untuk menerima atau tidak menerima suatu perbuatan hukum.502 Penulis-penulis modern menyatakan bahwa ancaman sebagai suatu paksaan moral yang merusak kesepakatan.503 Unsur utama atau substansi paksaan (ikhrah) adalah ancaman (tahdid).504
Menurut Syamsul Anwar, paksaan dalam hukum Islam diartikan sebagai tekanan atau ancaman terhadap seseorang dengan menggunakan cara-cara yang menakutkan agar orang itu terdorong untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.505 Ada juga yang mendefenisikannya sebagai penekanan tanpa alasan yang sah terhadap seseorang agar ia melakukan sesuatu tanpa persetujuannya.506
497
Abdurrahman Raden Aji Haqqi, op.cit, hlm 103.
498
Ibid.
499
Ibid.
500
Nayla Comair-Obeid, loc.cit.
501 Ibid. 502 Ibid. 503 Ibid. 504
S.E. Rayner, op.cit, hlm 245.
505
Syamsul Anwar, op.cit, hlm 163.
506
Hukum Kontrak Indonesia dalam Perspektif Perbandingan Oleh
Ridwan Khairandy
198 Menurut Syamsul Anwar, paksaan yang dimaksud dalam konteks cacat kehendak adalah paksaan melalui ancaman, bukan paksaan fisik yang bersifat langsung.507
Di dalam hukum Islam, dilihat dari segi ringan-beratnya, paksaan dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Pertama, paksaan berat (al-ikrah al-mulji) atau paksaan sempurna, dan Kedua, paksaan ringan (al-ikrah ghair al-muhji) atau paksaan tidak sempurna.508
Paksaan berat adalah yang sangat menekan di mana seseorang tidak memiliki lagi pilihan selain melakukan apa yang dipaksakan kepadanya. Misalnya orang yang dipaksa itu diancam akan dibunuh atau dicederai atau dimusnahkan seluruh harta bendanya. Adapun paksaan ringan atau tidak sempurna adalah paksaan dengan tidak menggunakan ancaman untuk membunuh atau mencederai atau merusak harta bendanya. Ancaman tersebut misalnya berupa ancaman untuk dipukul atau ancaman untuk dibuka rahasianya.509
Hal penting untuk menentukan kondisi yang diminta fuqaha untuk paksaan yang menjadi penyebab pembatalan kontrak. Semua mazhab dengan suara bulat menyatakan ada tiga penyebab paksaan ditentukan oleh alasan yang mempengaruhi kebebasan kehendak para pihak, yaitu:510 Pertama, paksaan tersebut tidak dibenarkan hukum; Kedua, paksaan tersebut berasal dari orang yang memiliki kekuatan untuk melakukan ancaman; dan Ketiga, paksaan tersebut merupakan hal yang menimbulkan suatu pengaruh terhadap korban.
Lebih rinci Syamsul Anwar mengemukakan persyaratan terjadi paksaan sebagai cacat kehendak dalam hukum Islam sebagai berikut:511
1. orang yang mengancam memiliki kemampuan melaksanakan ancamannya; 2. orang yang terancam mengetahui atau menduga bahwa ancaman tersebut pasti
akan dilaksanakan apabila jika ia tidak menuruti ancaman tersebut;
3. ancaman itu adalah sedemikian rupa di mana dirasa berat sehingga tidak sanggup dipikul atau kalau sanggup dipikul, tetapi sangat memberatkan;
507
Ibid.
508
Syamsul Anwar, op.cit, hlm 164.
509
Ibid, hlm 165.
510
Nayla Comair-Obeid, op.cit, hlm 96.
511
4. ancaman itu bersifat segera dimana pihak yang terancam merasa tidak memiliki kesempatan untuk lepas dari ancaman tersebut.; dan
5. ancaman itu adalah tanpa hak dan merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan hukum.
Pihak yang menyatakan atau menuduh mitra atau lawan kontraknya atau pihak ketiga melakukan paksaan harus membuktikan bahwa orang yang dituduh melakukan paksaan itu mampu melaksanakan ancaman tersebut. Berikutnya korban paksaan harus memberikan bukti yang cukup bahwa pihak yang mengancamnya tersebut melakukan intimidasi terhadap korban.512
2. Tadlis atau Taghrir
Cacat kehendak yang kedua dalam hukum Islam adalah penipuan (tadlis atau taghrir). Menurut Mohd Ali Baharum, kata yang sangat umum digunakan oleh fuqaha untuk menyebut penipuan adalah taghrir. Istilah tadlis juga digunakan oleh fuqaha yang lain seperti fuqaha dari hukum mazhab Hanafi. Tidak ada perbedaan diantara keduanya. Sebagai tambahan dari kedua istilah itu digunakan juga istilah gharur sebagai padanan istilah penipuan. Kata taghrir dan gharur aslinya berakar dari kata gharra yang berarti menipu. Umumnya fuqaha tradisional lebih banyak menggunakan istilah gharur daripada taghrir, namun di lain pihak pada era modern ahli hukum lebih cenderung menggunakan istilah taghrir.513
Tadlis sendiri secara umum bukan murni berasal dari hukum Islam.514 Istilah tadlis adalah bentuk jamak dari kata benda dari kata yang berakar dari Dallasa yang berarti “penipuan atau penipu.” Istilah tersebut menurut Coulson diambil oleh bahasa Arab dari Dolos dalam bahasa Yunani Byzantium yakni Dolus. Menurut Schacht, istilah bahasa Arab dallas, menyembunyikan suatu kesalahan atau cacat yang diderivasi dari bahasa Latin, yakni dolus. Kata tersebut menjadi bahasa Arab melalui praktik perdagangan, tetapi istilah tersebut tidak
512
S.E. Rayner, loc.cit.
513
Mohd Ali Baharum, Misrepresentation: A Study of English and Islamic Contract Law, Al-Rahmaniah, Kualalumpur, 1988, hlm 10.
514