• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syarat Perjanjian dalam Sistem Common Law

Dalam dokumen Buku Hukum Perikatan 2013 (Halaman 146-153)

SYARAT SAHNYA KONTRAK

E. Syarat Perjanjian dalam Sistem Common Law

Persyaratan keabsahan kontrak di negara-negara Civil Law, seperti di Perancis dan Indonesia ditentukan dalam Code Civil. Di negara-negara Common Law, seperti Inggris dan Amerika Serikat yang tidak memiliki kodifikasi (dalam makna kodifikasi

Hukum Kontrak Indonesia dalam Perspektif Perbandingan Oleh

Ridwan Khairandy

146 yang dianut di negara-negara Civil Law), ketentuan persyaratan keabsahan kontrak tersebut ditafsirkan oleh para sarjana (doktrin) dari putusan-putusan pengadilan (case law). Akibatnya terjadi perbedaan dalam menafsirkan persyaratan keabsahan kontrak tersebut. Ada perbedaan penekanan unsur-unsur persyaratan keabsahan tersebut.

Roger LeRoy Miller dan Gaylord A. Jentz menyebutkan adanya 4 (empat) persyaratan bagi keabsahan perjanjian di dalam sistem Common Law, khususnya Anglo America, yaitu:361

1. agreement; 2. consideration;

3. contractual capacity; dan 4. legality

Raymod Youngs menyebutkan bahwa, ada 3 (tiga) persyaratan bagi keabsahan kontrak yang berlaku dalam hukum kontrak Common Law, khususnya di Inggris, yaitu: 362

1. agreement;

2. an intention to create legal relation; and 3. consideration

Ad. 1. Agreement

Agreement adalah unsur utama dalam pembentukan kontrak. Para pihak harus sepakat terhadap semua isi kontrak, Agreement sendiri bermakna sebagai pertemuan dua atau lebih atau kehendak terhadap isi kontrak. Kesepakatan dibuktikan dari dua kejadian, yakni penawaran (offer) dan penerimaan (acceptance). Pihak yang satu menawarkan sesuatu kepada pihak lainnya yang menerima penawaran tersebut. Pihak yang membuat penawaran disebut offeror dan pihak yang melakukan penerimaan disebut offeree.

Dalam pembentukan kontrak diperlukan penawaran dan penerimaan. Suatu penawaran adalah suatu indikasi suatu keinginan satu pihak untuk mengadakan kontrak

361

Roger LeRoy Miller dan Gaylord A. Jentz, op.cit, hlm 182 – 183.

362

Raymod Youngs, English, French, German Comparative Law (London: Routledge-Cavendish, 2007), hlm 510.

dengan pihak lainnya, dan penerimaan merupakan suatu kesepakatan terhadap isi atau persyaratan dari penawaran. Misalnya: Saya seorang penjual mobil (car dealer) dan mengatakan kepada anda, maukah anda mobil seharga f 100 ? Saya mengindikasikan keinginan saya untuk mengadakan kontrak untuk menjual mobil kepada anda, dan saya bermaksud agar kontrak sesegara mungkin lahir, dan anda menyetujui tawaran dan persyaratan yang saya ajukan. Jika anda membalas bahwa anda juga menyenangi tawaran tersebut, anda setuju terhadap isi atau persyaratan penawaran saya, dan terbentuk kontrak diantara kita. 363

Singkatnya, penawaran ini adalah suatu janji (promise) atau komitmen untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan satu beberapa perbuatan tertentu pada waktu yang akan datang.

Ada tiga elemen yang diperlukan agar suatu penawaran di dalam kontrak menjadi efektif, yakni:364

1. penawaran yang dilakukan offeror harus merupakan kehendak serius dan objektif; 2. isi penawaran tersebut harus sesuatu yang rasional dan tertentu, sehingga para

pihak dan pengadilan dapat mengetahui isi kontrak; dan 3. penawaran harus dikomunikasikan dengan pihak offeree.

Adapun penerimaan, secara singkat dirumuskan sebagai indikasi yang jelas dari offeree bahwa ia setuju terhadap isi atau persyaratan penawaran yang diajukan pihak offeror.

Bilamana penawaran yang efektif itu dibuat itu dan pihak offeree menerima penawaran tersebut, maka lahir kontrak yang secara hukum mengikat para pihak dalam kontrak.

Ad. 2. Consideration

Doktrin consideration merupakan satu ciri khusus hukum kontrak dalam sistem Common Law. Para pihak dalam kontrak secara hukum tidak dapat melaksanakan kontrak, jika kontrak tersebut tidak mengandung consideration.

363

Janet O’Sullivan dan Jonathan Hilliard, The Law of Contract (Oxford: Oxford University Press,. 2006), hlm 12.

364

Hukum Kontrak Indonesia dalam Perspektif Perbandingan Oleh

Ridwan Khairandy

148 Sebenarnya, consideration ini tidak hanya ada dalam sistem Common Law, hukum kontrak Islam memiliki hukum yang serupa, yakni iwad.

Membicarakan doktrin consideration dalam hukum Inggris adalah sesuatu kata yang salah (misnomer). Tidak ada satu pun doktrin yang rasional dan koheren yang berkaitan dengan consideration, tetapi doktrin itu lebih merupakan seperangkat norma yang merupakan evolusi dari pandangan pengadilan di Inggris yang meletakkan sejumlah pembatasan untuk dapat dilaksanakannya kontrak.365

Consideration, secara teknis mengacu kepada apakah satu pihak dalam suatu perjanjian memberikan janji atau berjanji, dan apakah pertukaran balik yang diberikan atau dijanjikan dari pihak lainnya.366 Consideration dapat juga didefenisikan sebagai harga (price) janji yang harus dilaksanakan. Consideration, lazimnya berbentuk suatu keuntungan bagi promisee yang diberikan kepada promisor atau suatu kerugian yang diderita promisee sebagai timbal balik (bilateral) dari yang diterima. Ini penting untuk merealisasikan hak tersebut, dalam suatu kontrak timbal balik, para pihak harus meletakkan kewajiban berdasarkan kontrak atau perjanjian dan harus menentukan consideration.367 Karena itu, di dalam suatu kontrak timbal balik consideration dilengkapi oleh keduabelah pihak.368 Di dalam kontrak sepihak (unilateral) hanya satu pihak yang memberikan suatu janji yang menjadi consideration.369

Misalnya dalam suatu kontrak, A menjual 10 (sepuluh) karung padi dengan harga f 100 kepada B. Apakah di sini ada consideration? A melakukan pengalihan kepemilikan padi kepada B. Dalam consideration ini, B membayar f 100. 370 Hal tersebut adalah suatu hal yang timbal-balik yang menciptakan perjanjian yang secara hukum dapat dilaksanakan. Dari contoh ini terlihat bahwa, di sana ada consideration dari keduabelah pihak dalam perjanjian.

365

D.G. Craknelll, Obligations: Contract Law (London: Old Bailey Press, 2003), hlm 40.

366

Richard Stone, Principles of Contract Law (London: Cavendish Publishing Limited. 2002,) hlm 40.

367

Lim kit-Wye dan Victor Yeo, op.cit, 45.

368

Ibid.

369

Ibid, hlm 46.

370

Kalau B berjanji membayar kepada A f 100, di sini tidak ada kontrak. Ini adalah transaksi hibah dan secara hukum tidak dilaksanakan.371 Di Indonesia hibah adalah bagian dari perjanjian, tetapi di dalam sistem Common Law, hibah bukan merupakan kontrak atau perjanjian karena di dalamnya tidak ada consideration. Pengaturan hibah dalam sistem Common Law terdapat dalam hukum benda.

Contoh lain, Jerry mengatakan kepada anaknya: “Kalau kamu selesai mencat garasi, saya akan bayar kamu US $ 100.” Anak Jerry kemudian mencat garasi. Tindakan untuk mencat garasi tersebut adalah consideration yang menciptakan kewajiban kontraktual Jerry untuk membayar kepada anaknya sebesar US $ 100.372

Dalam setiap sistem hukum, beberapa janji dapat dilaksanakan dan beberapa janji lain tidak dapat dilaksanakan. Fakta sederhana, bahwa satu pihak berjanji, tidak berarti janji itu dapat dilaksanakan. Di dalam Common Law, dasar utama supaya suatu janji dapat dilaksanakan harus didasarkan consideration. Consideration biasanya didefenisikan sebagai the value given in return for a promise. Pengadilan selalu memperhatikan consideration dari dikotomi keuntungan (benefit) promisor, atau kerugian (detriment) promise.373 Persyaratan ini adalah persyaratan alternatif.

Dikotomi keuntungan atau kerugian memiliki dua makna yang terpisah. Pertama, kata itu digunakan untuk dalam arti suatu tindakan, suatu janji yang bernilai ekonomis (keuntungan atau kerugian nyata). Kedua, kata itu digunakan dalam arti untuk tindakan, suatu janji pelaksanaan yang belum didasarkan hukum (keuntungan atau kerugian hukum, legal benefit/detriment).374 Pengadilan tidak pernah secara konsisten menarik perbedaan di atas, tetapi yang akan terlihat, sejumlah kasus dimana ada keuntungan atau kerugian nyata yang tidak diragukan, tetapi diputuskan tidak ada consideration.375

Biasanya consideration dibagi dalam dua bagian, yaitu (1) sesuatu yang secara hukum bernilai yang harus diberikan persetujuan dalam pertukaran janji; dan (2) ada sesuatu yang disetujui untuk suatu pertukaran. Lim Kit-Wye dan Victor Yeo

371

Ibid.

372

Roger Le Roy dan Gaylord A. Jenzt, op.cit, hlm 198.

373 D.G. Craknell, loc.cit. 374 Ibid, hlm 41. 375 Ibid,.

Hukum Kontrak Indonesia dalam Perspektif Perbandingan Oleh

Ridwan Khairandy

150 menggambarkan terjadi pertukaran janji dan consideration di dalam perjanjian timbal balik (bilateral contract) dan kontrak sepihak (unilateral contract) melalui alur di bawah ini:376

Consideration dalam Kontrak Timbal Balik

Consideration dalam Kontrak Sepihak

Ad.3. Contractual Capacity

Keduabelah pihak yang membuat kontrak harus memiliki kecakapan kontraktual (contractual capacity) atau kecakapan untuk membuat kontrak. Hukum mengakui mereka sebagai orang yang memiliki karakteristik yang dikualifikasikan sebagai pihak yang kompeten untuk mengadakan kontrak.377 Kecakapan untuk membuat kontrak adalah kemampuan untuk membuat kontrak atau kemampuan untuk mengadakan suatu hubungan kontraktual.

376

Lim kit-Wye dan Victor Yeo, op.cit, hlm 46.

377

Roger Le Roy dan Gaylord A. Jenzt, op.cit, hlm 183.

A

B

Promise No. 1

Consideration for promise No. 2

Promise No. 2

Consideration for promise No. 1

A Promise B

Ketidakcakapan untuk mengadakan kontrak diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) klasifikasi, pertama anak di bawah umur (minor), orang yang menderita gangguan mental (mental disability), dan pemabuk (intoxication).

Henry R. Cheeseman menjelaskan bahwa di dalam sistem Common Law, khususnya Anglo America, seseorang dikatakan belum dewasa jika belum berumur 18 (delapanbelas) tahun (bagi wanita) dan 21 duapuluh satu) tahun (bagi pria). Dalam perkembangannya, umumnya negara-negara bagian di Amerika Serikat telah mengatur bahwa kedewasaan tersebut ditentukan jika seseorang telah berumur 18 (delapanbelas) tahun yang berlaku baik bagi wanita maupun pria.378 Di Inggris, kecakapan untuk membuat kontrak pada saat seseorang berumur 18 (delapanbelas) tahun. Batasan umur tersebut didasarkan pada Section 1 English Family Law Act 1969.

Kecakapan kontraktual juga menjadi masalah jika kontrak dibentuk oleh orang dinyatakan sebagai pemabuk pada waktu kontrak dibuat. Ketentuan umum (general rule) menyatakan bahwa kalau seseorang yang mabuk tidak memiliki kapasitas mental untuk mengadakan kontrak. Kontrak yang dibuatnya menjadi kontrak yang dapat dibatalkan. Terhadap kontrak yang dapat dibatalkan itu. Harus dibuktikan bahwa jika pikiran dan pengambilan putusan orang yang pemabuk itu tidak dapat memahami akibat hukum yang timbul dari kontrak yang bersangkutan,379

Terhadap orang yang dinyatakan menderita gangguan mental oleh pengadilan, maka harus ditunjuk seorang pengampu (guardian). Ini serupa dengan orang yang ditempatkan di bawah pengampuan (onder curatele) yang dimaksud KUHPerdata. Orang yang berada di bawah pengampuan ini tidak memiliki kapasitas atau kecakapan untuk membuat kontrak. Segala perbuatan hukum orang menderita gangguan mental harus diwakilii oleh pengampunya.

Ad. 4. Legality

Kausa hukum yang halal di dalam sistem Common Law dikenal dengan istilah legality yang dikaitkan dengan public policy. Tujuan kontrak harus sesuai atau

378

Henry R. Cheeseman, op.cit, hlm 197.

379

Roger Le Roy dan Gaylord A. Jenzt, op.cit, hlm 217. Di Inggris, pengaturan ketidakcakapan kontraktual bagi pemabuk ini terdapat dalam Artikel 3 Sale of Goods Act 1979.

Hukum Kontrak Indonesia dalam Perspektif Perbandingan Oleh

Ridwan Khairandy

152 memenuhi tujuan hukum dan tidak bertentangan dengan public policy. Suatu kontrak dapat menjadi tidak sah (illegal) jika bertentangan dengan public policy. Walaupun, sampai sekarang belum ada definisi public policy yang diterima secara luas, pengadilan memutuskan bahwa suatu kontrak bertentangan dengan public policy jika berdampak negatif pada masyarakat atau mengganggu keamanan dan kesejahteraan masyarakat (public’s safety and welfare)380

Menurut J.G. Castel, ketentuan ketertiban umum (public policy) dapat dijumpai dalam konstitusi dan undang-undang secara menyeluruh yang mencerminkan nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan umum (public welfare). 381

Di dalam sistem hukum kontrak yang berlaku di Amerika Serikat, kontrak tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan federal dam negara bagian. Jika konsep legality ini digabungkan dengan consideration memiliki kesamaan dengan konsep kausa hukum yang halal yang dimaksud butir keempat Pasal 1320.

Dalam dokumen Buku Hukum Perikatan 2013 (Halaman 146-153)