Terima kasih Pak Ketua. Jadi isu yang sekarang adalah : 1. Bagaimana penguatan Koordinasi
2. Adalah bagaimana mengaddres masalah konglomerasi dari sektor keuangan atau industri keuangan.
Menurut hemat kami, apakah itu di BI maupun di OJK menurut hemat kami apabila dua hal itu bisa diaddres diatasi, maka tempat menurut hemat kami tidak menjadi sebuah masalah. Ya, apakah di OJK atau di Bank Indonesia.
Kemudian terkait dengan UMKM. F. PDIP (H. MUSTHOFA):
Izin Pimpinan, mohon maaf.
Pak Juda Agung, MPHD. Saya ini kan tadi bertanya sejak awal nomer satu loh Pak. Nama saya Musthofa Fraksi PDI Perjuangan Anggota 180, Dapil saya sudah saya jelaskan. (rekaman tidak jelas) kami ini kan punya hak untuk(rekaman tidak jelas) panjenengan(rekaman tidak jelas) saya hadir bertanya nomer satu loh Pak. Pertanyaan nomer satu di salip yang lain, kalau memang pertanyaan saya (rekaman tidak jelas) berkualitas atau tidak (rekaman tidak jelas) sampaikan saja eh Pak Musthofa pertanyaan Saudara tidak pantas saya jawab selesai. Kami nungguin dari tadi sudah diam (rekaman tidak jelas) terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT :
Baik, silakan langsung Pak Juda
CALON DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA (JUDA AGUNG)
(rekaman tidak jelas)
Yang pertama adalah pertanyaan dari Pak Musthofa. Dalam konteks perang dagang dan sebagainya apa sih konkrit yang bisa dilakukan begitu kan?. Tentu saja bagaimana kita bisa menarik investasi Pak dari perang gang
antara Amerika dengan Cina. Karena Cina ini selama ini kan menjadi manufacturing of the world itu ya, menjadi pusat dari Industri yang sebenarnya juga investornya lebih banyak dari Amerika, Eropa dan sebagainya. Nah dengan perang dagang ini tentu saja ada peluang bagi kita untuk melakukan relokasi itu ya, kedapatan relokasi dari industri-industri yang sebelumnya berada di Cina ke Negara kita. Jadi termasuk apa yang sudah terjadi misalnya di Brebes dan sebagainya, itu adalah contoh kasus yang bagus. Di Bank Indonesia tentu saja dengan kondisi perang dagang ini tentu saja ini mempengaruhi stabilitas dari nilai tukar, stabilitas di Pasar Keuangan dan sebagainya. Ya tentu saja fokus Bank Indonesia pada bagaimana mengendalikan stabilitas dari sisi makro.
Mengenai UMKM ini juga menjawab beberapa pertanyaan tadi, apa sih sebenarnya yang bisa konkrit?. Nah kalau kita lihat 20% sekarang ini memang share dari Kredit pada UMKM itu 20%. Tetapi kalau kita lihat secara Individu, itu ada satu (rekaman tidak jelas) yang sangat besar sekali share UMKM-nya. Sementara yang lain sangat-sangat kecil bahkan ada yang tidak memberikan (rekaman tidak jelas) UMKM.
Nah kami sedang mempertimbangkan bagaimana agar semua itu berkontribusi ke dalam UMKM ini. Jadi Bank yang tidak punya ekspertis akan selalu menjadi alasan ekspertis. Bank yang tidak punya ekspertis terhadap UMKM itu bisa membeli surat berharga ataupun sertifikat Deposito kepada Bank yang bisa melakukan pemberian UMKM yang punya ekspertis. Nah ini juga di beberapa Negara diberlakukan. Jadi semacam share responsibility terhadap UMKM ini. Jadi misalnya katakanlah Bank Asing misalnya sebagai contoh, dia tidak mempunyai ekspertis UMKM tetapi dia harus membeli Surat Berharga yang diterbitkan oleh Bank yang mempunyai ekspertis dari UMKM. Jadi secara tidak langsung dia berkontribusi kepada UMKM. Nah Surat Berharga tadi ataupun saya katakanlah Sertifikat Deposito UMKM itu bisa menjadi Portofolio dia, bahwa dia sudah berkontribusi di dalam UMKM. Nah ini yang sedang kami godok, jadi diharapkan semua Bank itu akan berpartisipasi.
Nah terkait dengan Syariah. Syariah memang
F. P. NASDEM (H. RUDI HARTONO BANGUN, SE., MAP):
Interupsi Pimpinan.
Disebut (rekaman tidak jelas) orangnya yang nanya gitu. CALON DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA (JUDA AGUNG):
Ini masih Pak Musthofa Pak, terkait dengan Syariah, apa yang di bayangkan. Kalau kita lihat Bank Syariah memang tadi sharenya masih relatif stagnan gitu ya. Memang ini di luar Bank Indonesia sebagai Otoritas yang mengembangakan lebih pada Ekonomi Syariahnya bukan pengembangan Perbankan. Kalau pengembangan Perbankan Syariah itu di OJK Pak. Tapi peran Bank Indonesia dalam konteks ini adalah bagaimana mendorong dari sisi permintaannya Pak dengan industri halal itu.
Jadi permintaan terhadap Keuangan Syariah semakin meningkat. Sementara ini kan lebih banyak yang ditangani adalah dari sisi supply-nya, dari sisi bagaimana Bank bisa memberikan Kredit Syariah. Tetapi demand-nya ini industrinya sendiri belum dikembangkan. Nah ini Bank Indonesia akan mengembangkan ke arah situ bagaimana supaya demand untuk permintaan terhadap Keuangan Syariah itu bisa meningkat.
Dan yang kedua, instrumen-instrumen yang di luar (rekaman tidak jelas) misalnya Wakaf, Zakat, itu mungkin bisa di re-engineering supaya dia bisa menjadi instrumen Keuangan Syariah Pak Sarmuji. Tadi terkait dengan apa saja yang bila Undang-Undang BI itu direvisi, apa saja yang bisa masuk ke dalam mandat atau pun di amandemen gitu ya. Tadi sudah kami sampaikan bagaimana peran Bank Indonesia dalam kondisi-kondisi tertentu, misalnya dalam kondisi krisis itu bisa berperan seperti yang seperti yang sekarang terjadi. Karena ini tentu saja ini memberikan sebuah (rekaman tidak jelas) yang sangat baik bagi bagi kita semua, bagaimana peran Bank Central dalam Pembiayaan dalam kondisi di mana Defisit Fiskal nya meningkat secara signifikan.
Yang kedua adalah kalau menurut hemat kami, tadi mengenai UMKM nya. Sementara ini bangsa Indonesia lebih banyak Pengembangan UMKM kan lebih baik dari sisi advisenya gitu ya, lebih di sisi memberikan advice, memberikan bantuan teknis kepada UMKM dan juga memberikan contoh-contoh misalnya cluster dan sebagainya di beberapa Daerah. Sementara peran yang lebih luas lagi ini belum ada di dalam Undang-Undang kita. Dan di beberapa negara seperti Malaysia, itu Peran Bank Central di dalam pengembangan SMI atau UMKM ini lebih lebih kuat, lebih strong di dalam mandatnya. Nah yang ketiga, menurut hemat kami adalah Makro Prudensial. Yang selama ini Bank Indonesia menggunakan Undang-Undang OJK sebagai basis di dalam melakukan kebijakan Makro Prudensial. Itu untuk Pak Sarmuji.
Untuk Pak Gus Irawan, tadi berkaitan dengan Bank Syariah baru 5% bagaimana ini didorong?. Tadi dari Bank Indonesia tentu saja dari sisi demand-nya kalau bukan dari sisi supply-demand-nya, karena supply-demand-nya atau dari sisi Perbankannya itu dibawah OJK. Nah dari sisi demand tadi sudah kami sampaikan bagaimana mendorong industri halal dan sebagainya. Mengenai burden sharing kalau terkait dengan tadi sepanjang kita bisa membalance antara upaya kita untuk upaya Centre Bank di dalam menjaga Pemulihan Ekonomi atau mempertahankan Pertumbuhan Ekonomi, tapi di sisi lain ini tidak berdampak pada Inflasi. Tentu saja ini menurut hemat kami di dalam kondisi krisis seperti sekarang ini sangat justified.
Kemudian Pak Rudi Bangun, nah ini terkait dengan OJK, tadi kami sudah jawab Bapak ya. Koordinasi dan bagaimana meng-address masalah konglomerasi ini menurut hemat kami, ini baik, di BI atau di OJK asal dua hal itu bisa di-address menurut hemat kami (rekaman tidak jelas) bisa di BI atau bisa di OJK. Yang kedua, burden sharing apakah sudah tepat?. Tadi kami sampaikan sepanjang kita bisa masih bisa melihat bahwa ada inflasinya ini tetap terkendali tetap tidak kemudian inflasi tahun depan meningkat secara
signifikan, maka independensi dari sisi kebijakan Bank Indonesia ini menurut hemat kami ini masih dalam koridor yang benar.
Kemudian apa yang mendorong untuk berambisi menjadi Deputi Gubernur. Ya ini memang kalau di Bank Indonesia kan ini pencalonannya kan selalu ini Pak ya, apa namanya, kita tak bisa mencalonkan kita secara pribadi tidak bisa mencalonkan, ini dicalonkan oleh Anggota Dewan Gubernur. Jadi kalau ambisi tentu saja bagi kami adalah bagaimana kita lebih dapat berperan lebih di dalam menjaga sebagai Bank Indonesia menjaga Stabilitas Ekonomi Makro di Indonesia, untuk mendorong Pertumbuhan Ekonomi yang lebih (rekaman tidak jelas) Mengenai fasilitas, mohon maaf saya sendiri juga tidak tahu persis Pak berapa fasilitasnya seperti apa. Tapi menurut kami itu (rekaman tidak jelas) objektif dari dari kami. (rekaman tidak jelas) kinerja (rekaman tidak jelas) mengenai pengalihan fungsi Pengawasan dari OJK ke Bank Indonesia.
Pak Marwan, Pertumbuhan Ekonomi 6,71% di 2021, beliau ingin di yakinkan apakah ini masih visibel. Nah kalau menurut hemat kami 6,71% ini memang didasarkan pada asumsi bahwa Penanganan Covid ataupun grafik dari Covid itu sudah melandai di tahun ini. Sehingga tahun depan diperkirakan ini ekonomi sudah mulai bergerak sejalan dengan akselerasi ataupun pemulihan di masing-masing sektor. Dan mengapa terkesan ini sangat tinggi dibandingkan dengan priode-priode sebelumnya yang kita tumbuh hanya sekitar 5%. Memang ini ada unsur (rekaman tidak jelas) ada unsur pembandingnya karena pertumbuhan ekonomi itu kan year on year dari tahun 2001 dibandingkan tahun 2020. Ketika tahun 2020 itu anjlok maka pertumbuhan 6,71% sebenarnya secara rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kemudian mengenai Pembiayaan dari Bank Indonesia bisa masuk ke Pasar Primer apa konsekuensinya?. Memang kita di Bank Indonesia ketika ada Perpu 1 2020 atau Undang-Undang 2 2020, di mana BI bisa membeli di Pasar Primer, kita juga sudah hitung itu ya. Implikasi dari Pembiayaan dari Moneter kepada Fiskal ini sudah kita hitung bagaimana konsekuensinya terhadap inflasi terutama.
Sehingga kita dengan hitungan-hitungan itu kita masih percaya bahwa Pembiayaan sebesar sekitar Rp.500 Triliun itu tidak menimbulkan dampak yang signifikan pada Inflasi. Kalau Infalsi memang sudah mulai meningkat, tentu saja ini proses normalisasi kebijakan perlu segera dilakukan misalnya di akhir tahun depan atau di awal tahun 2022.
F. P. GOLKAR (H. MUKHAMAD MISBAKHUN, SE., MH):
Ketua, saya ingin interupsi sedikit Pak Ketua. Pak, saya ingin interaktif Pak. Tadi Bapak (rekaman tidak jelas) mengenai itung-itungan ini kita ngomong teknikal ya Pak. Pada 500, 200, 397 dan 177 Bapak (rekaman tidak jelas) bahwa itu tidak memberikan dampak terhadap Inflasi dan itu masih bisa dicover oleh Bank Sentral ya kan (rekaman tidak jelas) sama pundaknya Bank Sentral.
Pak, di situasi ini kalau Bapak bisa menghitung berapa kita Inflasinya nanti saya ingin tanya, sebab tadi Bapak ngomong itung-itungannya.
CALON DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA (JUDA AGUNG):
Kalau tahun ini kami perkirakan belum terlalu besar Pak, karena kan ekonomi sedang anjlok. Ketika recovery di tahun depan nah itu baru kemungkinan muncul masalah supply-demand-nya (rekaman tidak jelas) apa namanya mungkin dari sisi demandnya sudah mulai meningkat. Sehingga kami perkirakan di tahun depan lah yang yang Inflasi akan lebih tinggi daripada target rata-rata 3%.
F. PDIP (SIHAR SITORUS):
Interupsi Pimpinan.
Saya ingin menyambung apa yang disampaikan Pak Misbakhun tadi. Banyaknya dana yang kita kucurkan saat ini kan berarti menambah peredaran uang. Sementara kita asumsikan bahwa produk yang kita hasilkan sama atau di bawah dari tahun lalu. (rekaman tidak jelas) tentunya kalau tidak ada perubahan dalam produk kita atau produksi (rekaman tidak jelas) Pertanyaan saya adalah bagaimana kita bisa melakukan pendalaman terhadap industri sektoral yang ada saat ini untuk (rekaman tidak jelas) dana yang (rekaman tidak jelas) nanti membaik dana ini akan jadi banjir gitu. Memasuki pasar yang membutuhkan dana tidak sebanyak ini kalau kita bercermin kepada Pra Covid dengan Covid itu menjadi banjar??.
Kemudian ekonomi pulih, produksi juga seharusnya mendekati yang di 2019. Pertanyaannya adalah untuk menghindari Inflasi yang akan naik di 2021 akibat (rekaman tidak jelas) antara uang yang beredar dengan produksi, pendalaman apa yang bisa kita lakukan sehingga uang ini pun bisa mengalir agak jauh ke dalam rangkaian produksi (rekaman tidak jelas) dan memoderasi Inflasi.
Terima kasih Pak.
CALON DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA (JUDA AGUNG):
Terima kasih Pak Sihar.
Memang kalau kita lihat misalnya kita sering di FGD kami dengan Bank ya, melihat misalnya dengan Tambahan Likuiditas dan sebagainya gimana sih Bank itu apa namanya (rekaman tidak jelas) untuk menyalurkan Kredit. Emang kalau di tahun ini sangat masih sangat rendah, jadi itu terus mengapa tahun ini kelihatannya artinya kalau transmisinya kan Likuiditas itu kemudian kepada sektornya melalui Perbankan gitu Pak ya.
Ya mungkin ada juga yang melalui langsung dari Pemerintah tapi kalau yang non government expenditure kan mestinya lewat Bank. Tahun depan kalau ekonomi misalnya seperti ini tumbuh 6,71% memang Kredit bisa tumbuh
kalau perkiraan kami bisa sekitar 9% Pak ya itu (rekaman tidak jelas) rendah Pak ya tahun ini ya. Sehingga mungkin kalau memang skenario ini kita semua ini kan dengan asumsi-asumsi bahwa Covid sudah selesai tahun ini dan sebagainya.
Kalau skenario ini sudah jalan ya, berarti kan sudah mulai Kredit itu merambah di sektor-sektor, memang demand-nya ada gitu. Mungkin ada perubahan-perubahan, ini perubahan-perubahan yang akan mendapatkan Kredit gitu ya. Kami juga diskusi dengan Bank-bank misalnya sektor Pariwisata ternyata sekarang ini masih dihindari. Dan sektor-sektor yang misalnya Industri Kelapa Sawit dan sebagainya itu justru masih menarik bagi mereka.
Kemudian juga Industri makanan, terus kemudian juga Industri-industri yang memang (rekaman tidak jelas) misalnya itu ke depan akan menjadi favorit bagi Perbankan dalam menyalurkan Kredit. Jadi barangkali memang kita perlu lebih spesifik Pak, saya sependapat dengan Bapak lebih spesifik kira-kira sektor-sektor mana dengan ke depan dengan Ekonomi Baru ini yang yang bisa didorong dari Dana-dana yang ada. Tapi tentunya kalau misalnya 2021 akhir misalnya dengan Pertumbuhan Ekonomi seperti itu dengan kredit yang tumbuh 9%, kemudian Inflasi sudah menunjukkan tanda-tanda peningkatan tentu saja daya jual normalization itu mungkin bisa kita pertimbangkan tentu saja.
F. P. GOLKAR (H. MUKHAMAD MISBAKHUN, SE., MH):
Pak Ketua, izin Pak Ketua.
Pak Juda, tadi Bapak bicara tentang pertumbuhan (rekaman tidak jelas) tahun depan Pak ya, (rekaman tidak jelas) kepada pertumbuhan yang rendah saat ini. Kita kan belum bisa memperkirakan (rekaman tidak jelas) ini akan seperti apa tapi semua orang akan meramalkan akan negatif, tinggal seberapa besar dalamnya negatif itu, itu kan masalah itu. Kalau saya mempunyai pemikiran yang berbeda Pak, kenapa kita mempunyai sedikit anomali dibandingkan Krisis 98. 98 kita mengalami pertumbuhan negatif 13%, tetapi kita mempunyai Inflasi sampai 72%. Artinya apa, pada saat itu demand itu kan tinggi Pak, tinggal masalah apa ini kan (rekaman tidak jelas) demand ini kan, cuma masalahnya kan supply-nya yang kemudian tidak tersalurkan, ini kan masalah logistik dan produksi. Ketika demand-nya yang tinggi dan menyebabkan inflasi yang tinggi (rekaman tidak jelas) terpenuhi dan produksinya terpenuhi akan menjadi pertumbuhan Pak (rekaman tidak jelas) menjadi pertumbuhan jadi yang negatif itu terangkat.
Tetapi kita sekarang kita menghadapi negative root tapi Inflasi kita itu juga melalui sangat rendah yang tidak bisa kita transfer menjadi pertumbuhan, yang tidak bisa kita transfer menjadi pertumbuhan.
Jadi fase-fase kita tahapan kita untuk menjadi 6,1 atau sekian ini akan menjadi fase yang harus kita konsolidasikan secara keseluruhan, kita dorong dari mana gitu. Karena apa, kalau kita lihat ekonomi kita itu (rekaman tidak jelas) itu dari (rekaman tidak jelas) consumption rumah tangga. (rekaman tidak jelas) rumah tangga paling besar itu dari mana ya kan. Kita ada kelompok A,
B, C, D kelompok (rekaman tidak jelas) miskin (rekaman tidak jelas) ini semuanya terpukul.
Nah kita belum membangun sebuah program yang (rekaman tidak jelas) demand kecuali dengan Bansos dan sebagainya untuk kelompok C dan D, kelompok B inikan sedang kita perbaiki dan kelompok A new normal. Saya kepingin sebuah penjelasan yang komprehensif yang kita bisa menjelaskan mentransmisikan pemikiran kita untuk bisa menjelaskan 6,1 ini kita (rekaman tidak jelas) dengan cara apa. Itu Pak
CALON DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA (JUDA AGUNG):
Ya, terima kasih Pak. Jadi ya memang dalam kondisi seperti ini yang perubahan yang kita belum pernah mengalami ini memang kita harus humble Pak, saya terus terang kita harus humble juga di dalam proyeksi dan sebagainya. Memproyeksi Inflasi, Pertumbuhan dan sebagainya, ya, ya ini dengan asumsi-asumsi kita memang perlu perdalam Pak. Ya, semuanya kita semua harus humble di dalam keyakinan-keyakinan terhadap ekonomi ke depan.
F. PDIP (INDAH KURNIA):
Pimpinan, izin Pimpinan.
Pak Juda, ini kita santai aja Pak Juda, Anggota tinggal kami yang di sini, jadi kita Pak Juda nggak usah ini tanpa tegang kita santai aja kita istilahnya kita tuh apa, memikirkan-memikirkan. Bagaimana ini tadi saya baca di materi Bapak tadi di halaman 8 ini kan Pertumbuhan Ekonomi Sosial meningkatnya kemiskinan dan kesenjangan ekonomi setelah Covid. Bapak bilang, ini kan sekaligus jawaban Bapak itu cara menjawab meskipun mungkin tidak terjawab 100% tapi terus yang merupakan bagian dari penilaian kami terhadap seorang Juda. Bagaimana kalau Juda nanti jadi Deputi itu yang bisa dilakukan, meskipun mungkin belum tentu bisa langsung mempengaruhi Keputusan Dewan Gubernur. Tetapi tidak pemikiran-pemikiran dan cara-cara Bapak tadi saya katakanlah humble saja kondisi ini kan tidak terprediksi sebelumnya. Tapi kan ini udah terjadi Pak mau ndak mau kita hadapi. Tetapi yang menarik adalah di point yang 24 itu Bapak mengatakan bahwa yang punya aktivitas usaha UMKM berdampak pada sektor dan aspek lainnya.
Nah jelas di sini bahwa kontribusi UMKM terhadap Ekonomi Indonesia itu menyerap tinggal 89% dari total tenaga kerja. Itu kan menjadi materi pertanyaan saya tadi, bagaimana membuat UMKM ini menjadi domestik (rekaman tidak jelas) untuk supply chain. Kemudian menyediakan hingga 99% dari total lapangan kerja loh Pak ya, menyumbang 60,30% dari total PDB Nasional, menyumbang 17% dari Total Ekspor, menyumbang 58% dari Total Investasi. Nah kalau Bapak bilang bahwa (rekaman tidak jelas) akan berdampak pada sektor dan aspek lainnya, kalau saya ambil yang sisi positifnya tidak terganggu.
Karena UMKM ini kita dukung rame-rame dengan kebijakan yang tulus Pak, tidak abal-abal hanya di atas kertas. Kebijakan yang benar-benar membumi dan bisa dirasakan oleh mereka. Itu tentu akan menjadi jawaban kita bersama untuk membangun ekonomi sosial yang sejahtera, yang bahagia masyarakatnya. Kemudian dengan UMKM di solving problemnya tentu saja akan mengatasi 3 sisi sekaligus, Pengangguran, Kemiskinan, Pemerataan Pendapatan.
Pak Juda, tips apa atau di sini nya Bapak itu apa yang ada untuk bener-bener membantu Indonesia dari sektor UMKM ini Pak. Kalau dia terselesaikan masalahnya seperti pertanyaan saya tadi (rekaman tidak jelas) kan dia kredit yang mudah yang murah, terus teknologi soal Akuntansi nya soal pemasarannya kan (rekaman tidak jelas) dari produksinya, kualitas produknya mereka dipesenin 1.000 mungkin oke. Nah begitu ada pesanan 10.000 Nggak semuanya oke, packaging-nya bagaimana mereka menghadapi tantangan ke depan dengan apa (rekaman tidak jelas) isinya nah itu loh Pak. Maksud saya kira-kira nanti dalam jawaban yang merangkum dengan semua jenis pertanyaan kawan-kawan tadi disisipkan jawaban untuk pertanyaan saya terhadap UMKM.
Terima kasih Pimpinan.
CALON DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA (JUDA AGUNG):
Terima kasih Ibu Indah.
Kalau boleh kami langsung jawab Bu mengenai UMKM ini. Dari sisi Pembiayaan menurut hemat kami, Penjaminan itu sebuah keharusan. Karena Bank dalam kondisi seperti sekarang ini melihat risiko yang tinggi pasti UMKM nomor 2 itu. Jadi harus ada Penjaminan dari Kredit Modal Kerja yang disalurkan ke UMKM, jadi itu mengurangi risiko dari Bank dalam menyalurkan kredit. Nah kemudian dari sisi gambaran besar tadi yang Ibu sampaikan bagaimana meningkatkan peran dari UMKM. Nah ini sebenarnya ada di, ada di sini Bu, mengenai Korporatisasi = bagaimana meningkatkan kapasitas produksi. Nah di memang peran Bank Indonesia sekarang ini memang sangat bisa dikatakan agak terbatas juga. Tapi kita bisa memberikan contoh-contoh konkrit dari perspektif di dalam UMKM membentuk korporat begitu Bu.
F. PDIP (INDAH KURNIA):
Izin Pimpinan sedikit saja.
Pak Juda saya ingatkan nanti kalau Bapak jadi Deputi di situ itu merupakan satu Tim, yang akan melakukan Rapat Kerja yang rutin dengan KSSK Pak dan ekonomi kita kan di drive oleh KSSK itu Pak di situ. Jadi kalau misalnya Bapak di situ dengan pemikiran-pemikiran yang baik dan membumi Pak yang realistis dilaksanakan itu akan menjawab. Karena kalau cuma hanya di atas kertas dengan program-program kebijakan yang sangat di awang-awang tapi kenyataannya di lapangan mereka kesulitan.
Termasuk perpajak, termasuk kemudahan izin, termasuk gangguan-gangguan lain pada saat mau memulai usaha, bagaimana kode-kode di dalam pekerjaan itu sendiri, itu kan banyak sekali bebannya mereka Pak. Itu yang mungkin perlu benar-benar dipikirkan dengan membuat kebijakan yang tulus dan realistis untuk dilaksanakan.
CALON DEPUTI GUBERNUR BANK INDONESIA (JUDA AGUNG):
Terima kasih Bu.
Saya kira memang arahnya ke sana memang dalam konteks peningkatan kapasitas tadi. Termasuk juga untuk digital ini memang pemasaran itu menjadi kunci bagi UMKM. Dengan ada yang digital maka ada program-program dari Bank Indonesia untuk UMKM go digital itu kan konteksnya adalah untuk meningkatkan pemasaran. Tapi tentu saja apa yang Ibu sampaikan beberapa hal tadi terkait dengan pajak dan sebagainya merupakan masukan yang bagus Bu.