• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Latar Belakang Sejarah Candi Sukuh dan Candi Cetho

2. Candi Cetho

a. Latar Belakang Dibangunnya Candi Cetho

Keberadaan Candi Cetho yang terletak di sebelah Barat lereng Gunung Lawu masih diliputi banyak misteri. Para sejarawan, arkeolog berusaha menterjemahkan simbol-simbol kultural yang ada pada Candi Cetho sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing (Edy Suwiryo, 1997: 60). Pembangunan Candi Cetho sebagai kreasi budaya umat manusia sudah pasti banyak faktor yang melatarbelakanginya.

1. Aspek Politik

Menurut Stutterheim bahwa Candi Cetho dibangun pada masa kerajaan Majapahit. Dasar analisa Stutterheim adalah ditemukan lambang kerajaan Majapahit yaitu bintang persegi (Edy Suwiryo, 1997: 61). Berdasarkan observasi yang telah dilakukan memang terbukti bahwa pada teras ketujuh Candi Cetho ditemukan tiga lingkaran yang di atasnya terdapat relief bintang, dimana satu lingkaran terdapat relief bintang bersegi tujuh dan dua lingkaran lainnya terdapat relief bintang bersegi sembilan.

Kompleks percandian Cetho didirikan pada periode Indonesia Hindu terakhir yaitu abad 15 Masehi (Riboet Darmoseotopo, 1975: 116). Candi Cetho dibangun pada tahun 1475 Masehi (Stutterheim dalam Edy Suwiryo, 1997: 61). Raja Majapahit

yang berkuasa pada saat itu adalah Bhre Kertabhumi atau yang bernama lain Brawijaya V. Bhre Kertabhumi ini memegang tampuk tertinggi di lingkungan kerajaan Majapahit dari tahun 1474 sampai tahun 1478 (Slamet Mulyono, 1979:

157). Dengan demikian maka dapat diketahui bahwa pada saat dibangunnya Candi Cetho, kekuasaan politik berada di bawah Majapahit dengan raja yang berkuasa adalah Brawijaya V atau Bhre Kertabhumi.

Pada masa Majapahit ada usaha yang dilakukan para penguasa untuk melegitimasikan kekuasaannya di hadapan rakyat. Salah satu cara dengan melalui jalur budaya yaitu membuat rekayasa seni religius. Karya seni religius ditujukan untuk membuat rakyat jelata tunduk dan patuh pada perintah raja (Edy Suwiryo, 1997: 62). Dalam pola kehidupan budaya masyarakat Indonesia terindikasi adanya sifat fanatis, terutama dalam memegang unsur-unsur kehidupan yang bersifat mistis dan religius. Kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh para penguasa untuk menarik simpatik rakyat bagi kepentingan kekuasaannya. Maka para pujangga dan para seniman membuat karya-karya seni budaya yang berbau mistik dan religius. Dalam karya budaya tersebut para raja atau pembesar kerajaan ditokohkan seperti dewa.

Karya seni yang banyak digunakan untuk kepentingan politik adalah seni patung.

Raja dibuat patung dewa dan arcanya ditempatkan di candi. Sebagai contohnya Raja Rajasa diperdewa sebagai Siwa di Candi Kagenengan, Raja Anusapati juga diperdewa sebagai Siwa di Candi Kidal, Raja Wisnuwardhana diperdewa sebagai Budha di Candi Tumpang, Raja Kertanegara sebagai Wairocana Locana di Candi Segala dan Raja Kertajasa Jayawardhana sebagai Harihara di Candi Simping (Slamet Mulyono, 1979: 222).

Hal yang sama terdapat pula pada Candi Cetho, tepatnya pada sisi kanan jalan masuk teras kedua belas terdapat patung yang memakai mahkota kebesaran kerajaan.

Patung tersebut diidentifikasikan seperti patung Brawijaya V atau Bhre Kertabhumi.

Dengan demikian ada semacam usaha untuk memasukkan nilai-nilai mistis ke dalam pola kehidupan rakyat Majapahit. Nilai-nilai mistis yang berupa Kultus Dewa Raja kemudian berangsur-angsur tertanam dalam hati rakyat. Semua perintah dan larangan

Bhre Kertabhumi disamakan dengan perintah dan larangan dewa, sehingga rakyat Majapahit akan selalu mematuhi dan melaksanakan semua perintah dan larangan raja.

Kebijaksanaan seperti ini sangat penting sekali untuk meningkatkan loyalitas rakyat dan akhirnya akan menjamin keutuhan wilayah kerajaan Majapahit.

Dapat disimpulkan bahwa latar belakang politik dibangunnya Candi Cetho adalah untuk mempertahankan legitimasi kekuasaan raja Bhre Kertabhumi dan untuk kepentingan stabilitas serta keutuhan wilayah kerajaan Majapahit.

2. Aspek Sosial

Sekitar tahun 1475 Masehi atau pada saat kekuasaan kerajaan Majapahit berada di tangan Bhre Kertabhumi, agama Islam telah tersebar di wilayah pesisir nusantara (Slamet Mulyono, 1979: 199). Kedatangan agama Islam disambut baik oleh rakyat Majapahit, hal ini dikarenakan dalam konsep ajaran Islam digariskan suatu aturan yang memberikan perlakuan yang sama terhadap manusia. Sedangkan dalam ajaran agama Hindu membedakan stratifikasi individu berdasarkan golongan kasta.

Masing-masing kasta memiliki hak dan kewajiban yang berbeda. Semakin tinggi kasta seseorang, maka semakin banyak hak yang diterimanya dan semakin kecil kewajiban yang dilakukannya, demikian sebaliknya semakin rendah kasta seseorang, maka semakin besar kewajiban yang harus dilakukannya dan semakin kecil hak yang diterimanya.

Perkembangan agama Islam begitu pesat, sehingga akhirnya terbentuk masyarakat muslim. Diterimanya agama Islam ini ternyata membawa pengaruh bagi kestabilan dan keutuhan wilayah Majapahit. Islam mengajarkan bahwa hanya Allah SWT yang wajib disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Konsep Islam yang seperti itu sudah secara otomatis melemahkan konsep Kultus Dewa Raja. Maka lemahnya keyakinan rakyat Majapahit terhadap Kultus Dewa Raja ini berarti lemah pula kekuasaan politik Majapahit. Melihat fenomena tersebut maka Raja Majapahit yang berkuasa saat itu, yaitu Bhre Kertabhumi berusaha untuk menghambat meluasnya ajaran agama Islam. Usaha yang dilakukannya untuk tetap menjaga masyarakat yang

berpola Hinduisme adalah dengan melalui cara seni budaya. Dalam hal ini adalah dengan membuat dan melestarikan tempat-tempat peribadatan yang berlatar belakang unsur-unsur Hinduisme, seperti candi.

Menarik dari analisa di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa latar belakang sosial dibangunnya Candi Cetho yang paling dominan adalah adanya suatu upaya untuk mempertahankan sistem masyarakat yang bercorak Hinduisme. Asumsi ini dapat diperkuat oleh adanya fenomena kehidupan masyarakat sekitar Candi Cetho yang mayoritas beragama Hindu.

3. Aspek Agama

Mengacu pada struktur fisik Candi Cetho yang ditandai dengan adanya susunan bangunan yang berbentuk teras berundak dari teras I sampai dengan teras XIII. Bangunan induk Candi Cetho yang paling suci terletak pada teras yang paling tinggi dan paling belakang. Susunan fisik Candi Cetho menggambarkan perjalanan kehidupan manusia dan pada teras yang ketiga belas sebagai simbol akhir dari perjalanan manusia (Edy Suwiryo, 1997: 70). Digambarkan untuk mencapai tujuan tersebut manusia harus melewati berbagai macam rintangan dan cobaan dalam kehidupannya. Orang harus benar-benar bersih dan suci untuk mencapai tingkatan tertinggi dalam beragama Hindu.

I Gede Wijaya dalam Edy Suwiryo (1997: 71) menyatakan bahwa tujuan akhir umat Hindu, di dalam kitab suci Weda disebutkan Moksarthem Jagadita Ya Ca Ih Dharma, yang artinya bahwa tujuan akhir agama Hindu itu adalah untuk mencapai moksa atau kesejahteraan umat manusia. Moksa adalah kelepasan, kebebasan atau kemerdekaan. Adapun yang dimaksud kebebasan dalam pengertian yang dikandung dalam istilah moksa sebagai tujuan akhir dan tertinggi menurut ajaran kerohanian Hindu adalah terlepasnya roh dari pengaruh nafsu-nafsu duniawi dan dapat bertemu kembali dengan asalnya yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan mencapai kebenaran tertinggi serta mengalami kesadaran, ketentraman dan kebahagiaan kekal abadi (Persada Hindu Dharma dalam Edy Suwiryo, 1997: 71).

Secara umum struktur bangunan Candi Cetho yang berbentuk punden berundak dan semakin ke belakang, semakin tinggi, serta banyaknya arca yang ditemukan, maka susunan bangunan dapat dianggap suatu kontinuitas atau mungkin mendapat pengaruh dari punden berundak masa prasejarah yaitu masa megalitik. Dari sini maka dapat diketahui fungsi dan tujuan pendirian Candi Cetho adalah untuk pemujaan arwah nenek moyang. Sedangkan arca phallus diperkirakan bertujuan untuk menangkis pengaruh jahat (Riboet Darmoseotopo, 1975: 29). Relief kura-kura, belut, mimi dan ketam merupakan lambang kesuburan. Konsep bangunan Candi Cetho ini merupakan perpaduan unsur budaya Hinduisme dengan pengaruh budaya asli (Riboet Darmosoetopo, 1975: 32).

Dapat diambil kesimpulan bahwa latar belakang agama dibangunnya Candi Cetho adalah dalam upaya untuk membentuk rakyat Majapahit agar memiliki pola perilaku yang berlandaskan ajaran agama Hindu. Dalam arti bahwa melalui pembangunan tempat peribadatan Hindu tersebut akan mendorong rakyat Majapahit untuk taat dalam melaksanakan ajaran agama Hindu agar dapat mencapai tingkat tertinggi yaitu Moksa. Selain itu juga dengan adanya kepercayaan terhadap arwah nenek moyang, maka dengan dibangunnya Candi Cetho ini diharapkan mereka akan selalu mendapat perlindungan dari nenek moyang mereka, agar mereka terhindar dari pengaruh roh-roh jahat.

b. Fungsi Keberadaan Candi Cetho

Melihat susunan bentuk serta letak Candi Cetho yang dibangun seperti punden berundak dengan teras semakin ke belakang semakin tinggi, ditambah dengan adanya arca-arca yang digambarkan secara sederhana, maka dapat diketahui bahwa fungsi dan tujuan pendirian Candi Cetho adalah untuk pemujaan arwah nenek moyang.

Dugaan ini diperkuat oleh K. C. Cruca, yang mengatakan bahwa pemujaan arwah nenek moyang dapat dihubungkan dengan adanya relief kadal pada teras ke VII (Riboet Darmosoetopo, 1975: 32). Disamping itu di Candi Cetho juga terdapat arca phallus, relief binatang lambang kesuburan, antara lain: kura-kura, belut, mimi dan

ketam. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi dari pendirian Candi Cetho tidak berbeda dengan fungsi pendirian Candi Sukuh (Riboet Darmosoetopo, 1975: 32).

Seperti halnya Candi Sukuh, Candi Cetho ini secara umum juga memiliki tiga fungsi, yaitu :

1. Fungsi religi atau yang berhubungan dengan kepercayaan.

Fungsi religi di sini lebih berkaitan erat dengan pengaruh kepercayaan asli yang ada. Fungsi yang menampakkan pengaruh asli tersebut antara lain :

(a) Tempat upacara berhubungan dengan kesuburan dan memohon kekuatan gaib.

Candi Cetho sebagai tempat upacara kesuburan dapat diketahui dari relief yang berupa phallus (kemaluan laki-laki), relief binatang lambang kesuburan seperti kura-kura, belut, mimi dan ketam (Riboet Darmosoetopo, 1975: 32). Di samping itu relief phallus juga diyakini mempunyai kekuatan gaib yang dapat mengusir roh-roh jahat (Riboet Darmosoetopo, 1975: 31).

(b) Tempat pemujaan roh nenek moyang

Kompleks Candi Cetho yang berbentuk teras berundak, semakin ke belakang semakin tinggi, mengingatkan pada bentuk punden berundak serta kepercayaan yang mendasari pendirian bangunan megalitik. Punden berundak mempunyai fungsi sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang. Berdasarkan hal tersebut, maka fungsi Candi Cetho adalah sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang. Hal ini diperkuat dengan arca-arca yang mempunyai bentuk sederhana yang mengingatkan pada patung-patung sederhana dari masa megalitik. Patung-patung tersebut mempunyai fungsi sebagai alat pemujaan arwah nenek moyang. Dugaan ini diperkuat dengan pendapat K. C. Cruca yang mengatakan bahwa

pemujaan arwah nenek moyang dapat dihubungkan dengan adanya relief kadal pada teras ke VII (Riboet Darmosoetopo, 1975: 32).

(c) Tempat peruwatan atau tempat untuk membebaskan orang dari kutukan karena kesalahannya.

Melalui simbol-simbol yang ditampilkan dari arca-arcanya, misal arca garuda dan kura-kura dimaksudkan untuk menjelaskan cerita Garudeya yang mengisahkan tentang kutukan dan pembebasannya, maka fungsi Candi Cetho dapat dijelaskan sebagai tempat peruwatan. Setelah diruwat, orang terbebas dari kutukan dan menjadi suci kembali seperti baru dilahirkan (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, 2005).

(d) Tempat meditasi dan permohonan

Saat ini keberadaan Candi Cetho masih digunakan sebagai tempat meditasi bagi sebagian orang. Mereka meyakini bahwa dengan meditasi di Candi Cetho sambil mengucapkan permohonan atau keinginannya, maka keinginannya itu akan terwujud. Sebagian besar permohonan orang yang melakukan meditasi di Candi Cetho adalah untuk mendapatkan jabatan dan kedudukan yang tinggi dalam pekerjaan. Biasanya mereka yang berkeinginan untuk melakukan permohonan atau sesaji akan datang pada malam Jum’at Kliwon dan malam Selasa Kliwon. Lamanya mereka melakukan meditasi juga tergantung pada niat mereka masing-masing, ada yang meditasi di Candi Cetho selama 3 hari, ada yang 1 minggu, bahkan ada yang sampai 1 bulan (Wawancara dengan Bp. Parno, 4 Mei 2006).

Orang-orang yang datang ke Candi Cetho untuk tujuan inipun tidak hanya datang dari Kabupaten Karanganyar saja, tetapi ada yang datang dari Ponorogo, Blora, Cepu dan Sragen (Wawancara dengan para pengunjung, 4 Mei 2006).

(e) Tempat ibadah bagi umat Hindu

Candi Cetho ini merupakan bangunan suci bagi umat Hindu. Sebagian masyarakat di sekitar Candi Cetho mayoritas memang menganut agama

Hindu. Sampai saat inipun Candi Cetho digunakan untuk tempat upacara hari raya Nyepi dan Galungan. Oleh karena itu bagi para pengunjung yang datang diharapkan tetap menjaga kesucian tingkah laku dan perkataan di Candi Cetho untuk menghormati mereka yang masih menggunakan tempat ini sebagai tempat ibadah (Wawancara dengan Bp. Parno, 4 Mei 2006).

2. Fungsi pendidikan

Seperti halnya Candi Sukuh, keberadaan Candi Cetho juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana kegiatan belajar mengajar bagi para pelajar, baik mereka yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun mereka yang sudah duduk di bangku perkuliahan. Kegiatan pembelajaran yang mereka lakukan biasanya adalah dengan mengunjungi situs Candi Cetho ini dengan maksud untuk lebih memperjelas dan memperdalam materi bidang sejarah, khususnya yang berhubungan dengan Candi Cetho. Mereka yang sudah duduk di bangku kuliah (mahasiswa), disamping untuk memperjelas materi, biasanya tujuan mereka ke Candi Cetho adalah melakukan penelitian untuk kepentingan tugas yang ada kaitannya dengan Candi Cetho (Wawancara dengan Bp. Nugroho, 4 April 2006).

3. Fungsi pariwisata

Keberadaan Candi Cetho memiliki fungsi pariwisata. Hal ini jelas tidak dapat dipisahkan dengan pembangunan sektor pariwisata yang menjadi salah satu andalan Kabupaten Karanganyar di samping sektor industri dan pertanian. Didukung dengan panorama pegunungan yang indah di sekelilingnya, udara yang sejuk dan letaknya yang berdekatan dengan obyek-obyek wisata yang lain seperti Candi Sukuh, kebun teh Kemuning dan air terjun Jumok, kompleks Candi Cetho mempunyai daya tarik tinggi untuk dikunjungi sebagai obyek wisata budaya. Apalagi sekarang di kompleks Candi Cetho terdapat obyek wisata baru yaitu Puri Taman Saraswati yang berada di sebelah Timur Candi Cetho. Puri Taman Saraswati ini merupakan obyek wisata baru yang diresmikan pada tanggal 28 Mei 2004, oleh Bupati Karanganyar, Hj. Rina Iriani

Sriratnaningsih, SPd, Mhum dan Bupati Gianyar, A.A. GDE Agung Bharata, sebagai wujud tali persaudaraan antara masyarakat sekitar Candi Cetho dan masyarakat Gianyar, Bali yang mempunyai persamaan spiritual dan budaya agama Hindu. Arca Dewi Saraswati ini merupakan bantuan Bupati Gianyar untuk menyokong pengembangan kawasan Candi Cetho, sebagai kawasan spiritual dan budaya (Wawancara dengan Bp. Nugroho, 4 April 2006).

Puri Taman Saraswati ini bagi umat Hindu setempat berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada Sang Hyang Aji Saraswati. Perayaannya dilakukan setiap 6 bulan sekali pada Hari Saraswati yang jatuh pada Sabtu (Saniscara) Umanis Wuku Watugunung. Hari Saraswati dirayakan sebagai hari Pawedalan Hyang Aji Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan suci. Dalam pengarcaan (ikonografi), Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang Dewi cantik berkulit putih bersih, dengan perilaku yang lemah lembut, berbusana putih gemerlapan. Dewi Saraswati bersinggasana di atas padma (teratai) yang diapit oleh angsa dan merak. Dewi Saraswati juga digambarkan bertangan empat, yang masing-masing memegang Wina (kecapi), Aksmala (tasbih), Damaru (kendang kecil) dan Pustaka suci. Keberadaan Puri Taman Saraswati ini juga mampu menarik wisatawan yang berkunjung ke Candi Cetho lebih banyak.

Jalan menuju candi yang berkelok-kelok dan di kanan-kiri jalan yang mulus terhampar pemandangan indah, hamparan lahan pertanian yang menghijau, lekuk liku bukit-bukit kecil yang tergolek di sana-sini menambah indahnya pemandangan, dan tentu saja ini mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke lokasi ini. Selama perjalanan dari Candi Sukuh ke Candi Cetho wisatawan akan melalui keindahan hamparan hijau kebun teh yang berbukit-bukit dengan hawa yang sejuk dan segar.

Wisatawan yang berkunjung ke candi inipun dari berbagai kalangan dan dengan tujuan yang beragam pula. Ada dari mereka yang mengunjungi Candi Cetho dengan tujuan mengadakan penelitian, melakukan meditasi dan permohonan, namun banyak juga mereka yang berkunjung ke candi ini hanya sekedar ingin melihat-lihat saja (Wawancara dengan Bp. Parno, 4 Mei 2006). Candi Cetho ini ramai dikunjungi oleh wisatawan pada hari Minggu atau hari-hari libur, lebih ramai kalau pada malam tahun

baru dan malam bulan Syura (Wawancara dengan bu Endang, 1 Mei 2006). Selain melihat bangunan candi, wisatawan yang datang bisa juga melihat atraksi-atraksi lokal yang setiap saat dapat ditampilkan berdasarkan permintaan wisatawan, kalau ada wisatawan yang datang dalam jumlah besar (rombongan), misalnya atraksi kesenian cokekan, jatilan dan seni tradisional kotekan lesung yang disajikan oleh masyarakat sekitar (Wawancara dengan Bp. Nugroho, 4 April 2006).

Di Candi Cetho sendiri sering diadakan event-event yang mampu menarik kunjungan wisatawan, seperti yang sudah pernah diadakan adalah upacara peringatan hari Saraswati. Terlepas dari itu semua keberadaan Candi Cetho sebagai fungsi pariwisata ini memiliki tujuan selain untuk melestarikan budaya juga sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat (Wawancara dengan Bp. Nugroho, 4 April 2006).

Dokumen terkait