B. Latar Belakang Sejarah Candi Sukuh dan Candi Cetho
1. Candi Sukuh
a. Latar Belakang Dibangunnya Candi Sukuh
Candi Sukuh merupakan candi yang dibangun pada saat kerajaan Hindu yaitu Majapahit mulai kehilangan pengaruhnya dan mulai berkembangnya kerajaan Islam di Jawa. Berdasarkan prasasti yang terdapat pada bangunan, arca dan relief, Candi Sukuh diperkirakan dibangun pada abad ke 15 Masehi (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, 2003: 5).
Hal ini dapat diketahui dari beberapa relief yang ada di Candi Sukuh. Relief yang menggambarkan seseorang dimakan raksasa. Relief ini dipahatkan pada dinding depan sebelah Utara dan diperkirakan mempunyai arti sengkalan, yang berbunyi:
”Gapura buta aban wong”, gapura = 9, buta = 5, mangan = 3, wong = 1, jadi 1359 Saka atau 1437 Masehi (Riboet Darmosoetopo, 1975: 36). Pada dinding depan sebelah Selatan terdapat relief seorang tokoh laki-laki sedang lari dan menggigit ekor ular. Di atasnya terdapat hiasan makhluk sedang melayang-layang dan paling atas terdapat hiasan seekor binatang melata. Relief ini menurut K.C. Cruca dibaca juga sebagai sengkalan yang berbunyi: ”Gapura buta nahut buntut”, gapura = 9, buta = 5, nahut = 3, buntut = 1, jadi 1359 Saka atau 1437 Masehi (Riboet Darmosoetopo, 1975:
37). Selain itu pada teras ke II, halaman sebelah Selatan terdapat relief yang menggambarkan seorang pendeta berkepala gajah (Ganesa), tangannya menangkap ekor binatang anjing. Relief ini ada yang menganggap mempunyai nilai sengkalan yang berbunyi “Gajah wiku anahut buntut”, gajah = 8, wiku = 7, anahut = 3, buntut
= 1, jadi 1378 Saka atau 1456 Masehi (Riboet Darmosoetopo, 1975: 40).
Pembuatan Candi Sukuh tidak dapat diketahui dengan pasti, namun demikian dengan diketemukannya beberapa relief dan sengkalan memet yang terdapat pada candi tersebut dapat ditafsirkan bahwa Candi Sukuh dibangun antara tahun 1437 sampai tahun 1456 Masehi. Pada tahun-tahun tersebut bersamaan dengan surutnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur, karena mulai berpengaruhnya agama Islam di pulau Jawa (Joko Priyanto, 1991: 22).
Pendirian Candi Sukuh ini tidak tertutup kemungkinan adanya kepentingan politik yang ikut melatarbelakanginya. Hal ini berdasarkan keberadaan prasasti sebanyak 8 garis yang ditulis dengan bahasa dan huruf kawi berangka tahun 1363 Saka, yang dipahatkan di belakang arca Garuda.
Adapun bunyi prasasti itu adalah : Lawese rajeg wesi du
K pinerp kapeteg de
Ne wong medang ki hempu ra Ma karubuh alabuh geni ha Rbut bumi kacaritane Babajang mara mari setra Hanag tang bango
1363
Terjemahannya :
”Lamanya Rajegwesi ketika diserang (dan) ditahan oleh orang Medang. Ki Hempu Rama terkalahkan (dan) menerjunkan (diri) ke api.
Orang saling berebutan tanah. Ceritanya babajang datang di tempat pengruwatan ada bango.
1363.
(Riboet Darmosoetopo, 1975: 77).
Rajegwesi adalah nama tempat. Di Mojokerta ada nama tempat dengan nama Pagerwesi, dulu wilayah kerajaan Majapahit. Pager (bahasa Indonesia: pagar)
memang sama artinya dengan rajeg (bahasa Indonesia: terali). Mungkin yang dimaksud Pagerwesi adalah Rajegwesi itu. Apabila penafsiran itu betul maka Rajegwesi terletak di daerah Mojokerto. Kata Medang juga berarti nama tempat, dulu merupakan nama daerah kekuasaan raja-raja pada jaman Majapahit.
Pada intinya prasasti tersebut bercerita tentang upaya seseorang yaitu penguasa Rajegwesi yang berusaha merebut kembali daerahnya yang dikuasai musuh yaitu penguasa Medang, dengan cara mencari kekuatan spiritual yaitu dengan membangun Candi Sukuh yang memuat cerita ruwatan. Berdasarkan isi prasasti tersebut maka dapat disimpulkan adanya kepentingan politik yang ikut melatarbelakangi pendirian Candi Sukuh, yaitu pada saat terjadi peperangan antar dua orang raja yaitu raja Rajegwesi dan raja Medang yang saling memperebutkan daerah kekuasaan. Pada peperangan tersebut raja Rajegwesi akhirnya kalah dan menyingkir ke wilayah Jawa Tengah yang kemudian mendirikan daerah kekuasaan baru. Di daerah kekuasaan barunya ini raja Rajegwesi menyusun kekuatan agar dapat merebut kembali daerah kekuasaannya yang direbut oleh raja Medang. Di daerah kekuasaan barunya inilah raja Rajegwesi mendirikan Candi Sukuh yang dimaksudkan untuk mendapatkan air suci agar dapat menebus kekalahan perang dari raja Medang dan bebas dari kekuasaannya (Riboet Darmosoetopo, 1975: 78).
Pembangunan Candi Sukuh ini tidak lagi memperoleh pengaruh kuat dari budaya Hindu, namun terlihat bahwa bangunan cenderung kembali pada konsep unsur Indonesia asli dari masa prasejarah. Situs purbakala Candi Sukuh mengungkapkan keperluan akan munculnya agama baru, yang tidak ada hubungan lagi dengan Hinduisme (Denys Lombard, 2005: 25). Menurut Von Heine Geldern, pembangunan candi-candi di Indonesia merupakan refleksi dari bangunan megalitik.
Geldern menyatakan bahwa tradisi megalitik turut menentukan bentuk susunan percandian di Indonesia (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, 2003: 6).
Kompleks Candi Sukuh yang berbentuk teras berundak, dan didirikan di atas gunung, mengingatkan pada bentuk punden berundak serta kepercayaan yang
mendasari pendirian bangunan megalitik. Punden berundak mempunyai fungsi sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang, sedang gunung dianggap sebagai pusat segala potensi. Berdasarkan anggapan tersebut, maka diperkirakan latar belakang dibangunnya Candi Sukuh ini adalah didorong adanya kepentingan religius atau kepercayaan yaitu sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang. Hal ini diperkuat dengan arca-arca yang mempunyai bentuk sederhana yang mengingatkan pada patung-patung sederhana dari masa megalitik. Patung-patung tersebut mempunyai fungsi sebagai alat pemujaan arwah nenek moyang (Riboet Darmosoetopo, 1975: 30).
Selain kepercayaan mengenai pemujaan terhadap roh nenek moyang, ada suatu anggapan, bahwa pendirian suatu bangunan megalitik bertujuan untuk memohon perlindungan, kekuatan gaib serta kesuburan dari nenek moyang.
Berpangkal pada kepercayaan tersebut, maka kemungkinan latar belakang pendirian Candi Sukuh adalah adanya keinginan untuk memohon kekuatan gaib serta kesuburan dari nenek moyang. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya relief serta patung-patung yang dianggap sebagai lambang kesuburan, antara lain relief phallus, penggambaran sex yang menonjol (phallus yang dihadapkan pada kemaluan wanita).
Di samping itu relief phallus dianggap mempunyai kekuatan gaib yang dapat mengusir roh-roh jahat (Riboet Darmosoetopo, 1975: 31).
Berdasarkan relief-relief yang menceritakan kisah Sudhamala dan Garudeya diperkirakan bahwa pendirian Candi Sukuh berhubungan dengan upacara pelepasan atau ruwatan. Upacara pelepasan tersebut berhubungan dengan kepercayaan arwah leluhur yang tampak pada susunan bangunan teras-teras berundak yang mirip bangunan punden berundak pada masa pra sejarah. Hal ini juga terlihat pada Candi Sukuh yang menggunakan konsep bahwa bangunan yang paling suci terletak di tempat paling atas, masing halaman dikelilingi oleh tembok batu dan masing-masing penjuru mempunyai pintu gerbang (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, 2003: 7).
b. Fungsi Keberadaan Candi Sukuh
Menilik fungsi pembangunan Candi Sukuh, maka secara keseluruhan bangunan itu lebih banyak dipengaruhi oleh kepercayaan asli yang ada. Adapun secara umum keberadaan Candi Sukuh ini memiliki tiga fungsi, yaitu :
1. Fungsi religi atau yang berhubungan dengan kepercayaan.
Fungsi religi di sini lebih berkaitan erat dengan pengaruh kepercayaan asli yang ada. Fungsi yang menampakkan pengaruh asli tersebut antara lain :
(a) Tempat meruwat dari malapetaka
Meruwat dalam kepercayaan Jawa adalah suatu upacara yang dimaksudkan untuk melindungi seseorang dari malapetaka. Meruwat di sini bisa juga diartikan upacara pembersihan atau pelepasan dari pengaruh buruk. Beberapa relief yang ada hubungannya dengan fungsi ruwat ini antara lain: kisah Sudhamala dan Garudeya. Sampai saat ini upacara ruwatan masih sering diadakan di Candi Sukuh. Biasanya ruwatan ini ditujukan kepada anak tunggal, anak dua laki-laki semua/wanita semua, anak tiga di mana perempuan berada di tengah (sendang kapit pancuran) dan sebaliknya anak tiga di mana laki-laki berada di urutan kedua (pancuran kapit sendang). Kaitannya dengan upacara pembersihan atau pelepasan, yang sampai saat ini masih diadakan adalah upacara Grebeg Sukuh, yaitu merupakan peringatan bersih desa yang diselenggarakan dalam rangka melestarikan tradisi budaya dan adat masyarakat desa Berjo, kecamatan Ngargoyoso. Grebeg Sukuh ini biasanya diperingati tiap hari Jum’at Kliwon bulan Mulud (Rabiul Awal) (Wawancara dengan Bp.
Nugroho, 4 April 2006).
(b) Tempat upacara berhubungan dengan kesuburan dan memohon kekuatan gaib.
Candi Sukuh sebagai tempat upacara kesuburan dapat diketahui dari relief pada lantai pintu pertama candi, yang berupa phallus (kemaluan laki-laki) berhadapan dengan kemaluan wanita. Di samping itu relief phallus juga
diyakini mempunyai kekuatan gaib yang dapat mengusir roh-roh jahat (Riboet Darmosoetopo, 1975: 31).
(c) Tempat pemujaan roh nenek moyang
Kompleks Candi Sukuh yang berbentuk teras berundak, dan didirikan di atas gunung, mengingatkan pada bentuk punden berundak serta kepercayaan yang mendasari pendirian bangunan megalitik. Punden berundak mempunyai fungsi sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang, sedang gunung dianggap sebagai pusat segala potensi.
Berdasarkan hal tersebut, maka fungsi Candi Sukuh adalah sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang. Hal ini diperkuat dengan arca-arca yang mempunyai bentuk sederhana yang mengingatkan pada patung-patung sederhana dari masa megalitik. Patung-patung tersebut mempunyai fungsi sebagai alat pemujaan arwah nenek moyang (Riboet Darmosoetopo, 1975:
30). Sebagai fungsi pemujaan terhadap roh nenek moyang bisa pula dilihat dari bentuk kura-kura yang pada bagian atasnya dibuat datar, yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan sesaji. Fungsi semacam ini juga merupakan peninggalan tradisi megalitik yang biasa disebut dolmen (meja batu untuk sesaji) (Joko Priyanto, 1991: 58).
2. Fungsi pendidikan
Keberadaan Candi Sukuh dapat dimanfaatkan sebagai sarana kegiatan belajar mengajar bagi para pelajar, baik mereka yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun mereka yang sudah duduk di bangku perkuliahan. Kegiatan pembelajaran yang mereka lakukan biasanya adalah dengan mengunjungi situs Candi Sukuh ini dengan maksud untuk lebih memperjelas dan memperdalam materi bidang sejarah, khususnya yang berhubungan dengan Candi Sukuh, yang telah mereka terima secara teori di kelas.
Mereka yang sudah duduk di bangku kuliah (mahasiswa), di samping untuk memperjelas materi, biasanya tujuan mereka ke Candi Sukuh adalah melakukan
penelitian untuk kepentingan tugas yang ada kaitannya dengan Candi Sukuh (Wawancara dengan Bp. Nugroho, 4 April 2006).
Selain itu tujuan kunjungan pelajar ke Candi Sukuh ini adalah agar mereka bisa mengambil nilai-nilai atau unsur-unsur filosofis dan kesejarahan yang terkandung di dalamnya, karena ternyata banyak nilai yang bisa kita ambil dari Candi Sukuh ini. Misalnya bangunan candi yang berbentuk piramid terpotong menggambarkan ketidak sempurnaan manusia. Manusia memang hebat tetapi terbatas, karenanya manusia tidak boleh sombong. Manusia bisa saja mencapai langit, memiliki cita-cita tinggi, tetapi kenyataannya semuanya serba terbatas (Karanganyar Tenteram, 09 September 2003: 24). Ornamen tapal kuda yang menceritakan tentang asal-usul manusia yang diawali dari terjadinya embrio dalam rahim perempuan.
Kemudian mengenai relief tokoh yang sedang memperebutkan bayi mengandung pengertian bahwa sejak embrio, calon manusia yang tinggal dalam rahim atau rumah memperoleh perawatan atau pemeliharaan fisik dari sang ibu, setelah lahir dan tumbuh dewasa, embrio ini akan menjadi manusia dewasa dan akan di bawah pengaruh atau tarik menarik antara karma baik (subakarma) dan karma buruk (asubakarma). Manusia ini sendirilah yang akan menentukan pilihannya dan tidak lagi berada di bawah pengaruh sang ibu. Ornamen tapal kuda ini juga dapat diambil nilainya, yaitu bahwa manusia harus mampu memilih jalan hidup yang baik, harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Relief yang menceritakan kisah Garudeya yang mampu membebaskan ibunya (dewi Winata) dari perbudakan dewi Kadru, dapat diambil nilai dan maknanya, yaitu bahwa seorang anak harus berbakti pada orang tuanya. Demikian, karena Candi Sukuh ini banyak mengandung nilai-nilai filosofis yang berguna, maka candi ini dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan.
3. Fungsi pariwisata
Keberadaan Candi Sukuh memiliki fungsi pariwisata, yaitu sebagai obyek wisata budaya. Hal ini jelas tidak dapat dipisahkan dengan pembangunan sektor pariwisata yang menjadi salah satu andalan Kabupaten Karanganyar di samping
sektor industri dan pertanian. Keberadaan Candi Sukuh yang dekat dengan obyek wisata lainnya seperti Candi Planggatan, kebun teh Kemuning dan air terjun Jumok membuat wisatawan yang berkunjung ke sini rasanya belum lengkap kalau belum mengunjungi Candi Sukuh, karena memang candi ini dikenal dengan relief-reliefnya yang terlalu vulgar dan bersifat erotis (Wawancara dengan Bp. Nugroho, 4 April 2006).
Jalan menuju candi yang berkelok-kelok dan di kanan-kiri jalan yang mulus terhampar pemandangan indah, hamparan lahan pertanian yang menghijau, lekuk liku bukit-bukit kecil yang tergolek menambah indahnya pemandangan, dan tentu saja ini mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke lokasi ini. Wisatawan yang berkunjung ke Candi Sukuhpun dari berbagai kalangan dan dengan tujuan yang beragam pula. Ada dari mereka yang mengunjungi Candi Sukuh karena memang dengan tujuan mengadakan penelitian, namun banyak juga mereka yang berkunjung ke candi ini hanya sekedar ingin melihat-lihat saja, membuktikan sendiri seperti apa sebenarnya relief yang terkesan erotis itu (Wawancara dengan Adi, 1 Mei 2006).
Candi Sukuh ini ramai dikunjungi oleh wisatawan pada hari Minggu atau hari-hari libur (Wawancara dengan Pak Kemis, 1 Mei 2006). Selain melihat bangunan candi, wisatawan yang datang bisa juga melihat atraksi-atraksi lokal yang setiap saat ditampilkan berdasarkan permintaan wisatawan, kalau ada wisatawan yang datang dalam jumlah besar (rombongan), misalnya atraksi reog, rebana, klenengan, tek-tek bambu dan seni tradisional kotekan lesung (Wawancara dengan Bp. Nugroho, 4 April 2006).
Di Candi Sukuh sendiri sering diadakan event-event yang mampu menarik kunjungan wisatawan, seperti yang sudah pernah diadakan adalah Gelar Budaya, Sendratari Tundhung Kala Durga dan Upacara Bayu Ruci. Upacara Bayu Ruci dan Bayu Aji yang diberi judul “Making Love With The Winds of Solo” merupakan salah satu bentuk sinergi budaya Jawa dan Jepang. Sinergi budaya Jawa dan Jepang ini mampu menarik kunjungan wisatawan ke Candi Sukuh. Selain itu juga pernah diadakan upacara Grebeg Sukuh, yaitu upacara peringatan bersih desa yang
diselenggarakan dalam rangka melestarikan tradisi budaya dan adat masyarakat Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso yang diperingati tiap hari Jum’at Kliwon bulan Mulud (Rabiul Awal), selain sebagai upacara tradisional, Grebeg Sukuh ini juga mampu menarik kunjungan wisatawan yang ingin menyaksikan bagaimana prosesi upacara tersebut (Wawancara dengan Bp. Nugroho, 4 April 2006).
Terlepas dari itu semua keberadaan Candi Sukuh sebagai fungsi pariwisata ini memiliki tujuan selain untuk melestarikan budaya juga sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat (Wawancara dengan Bp. Nugroho, 4 April 2006).