• Tidak ada hasil yang ditemukan

Capaian Indikator Kinerja Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)

Dalam dokumen GAMBARAN PELAYANAN SKPD (Halaman 35-40)

ANALISIS ANGGARAN

D. Ex Pembangunan setiap tahunnya meningkat atau menurun anggarannya, capaian bagaimana

1. Capaian Indikator Kinerja Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)

Terwujudnya Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Ukuran yang dipakai adalah Indeks Pembangunan Gender (IPG), melalui IPG perbedaan pencapaian yang menggambarkan kesenjangan pencapaian antara laki-laki dan perempuan dapat terjelaskan sedangkan untuk mengukur persamaan peranan antara perempuan dan laki-laki dalam pengambilan keputusan di bidang politik maupun di bidang manajerial adalah Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). Kedua ukuran tersebut diharapkan mampu memberikan penjelasan tentang kesetaraan gender dan keadilan gender yang dicapai melalui program-program pembangunan.

Dari tabel diatas dapat digambarkan bahwa Indikator Indeks Pembangunan Gender (IPG). Pada tahun 2009 capaiannya adalah 63,48 , sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 65,11 atau naik sebesar 2,56 persen, kemudian pada tahun 2011 kembali meningkat menjadi 65,61 atau naik sebesar 0,76 persen, dan pada tahun 2012 ditargetkan sebesar 66,24 dan capaiannya sebesar 66,56. Sedangkan pada tahun 2013 ditargetkan

sebesar 67.00 dan capaiannya sebesar 67.85 dan melebihi dari target yang

telah ditetapkan.

Indikator Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). Pada tahun 2009 capaiannya adalah 60,26, sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 66,98 atau naik sebesar 11,15 persen, kemudian pada tahun 2011 capaiannya kembali meningkat menjadi 68,62 atau naik sebesar 2,45 persen dan pada tahun 2012 capaiannya sebesar 69,29 naik sebesar 0,97 persen dibandingkan capaian tahun 2011. Dan pada tahun 2013

ditargetkan sebesar 69,50 dan capaiannya sebesar 70,77 melebihi dari

target yang telah ditetapkan. Secara umum pencapaian pembangunan gender di Jawa Timur dari waktu ke waktu memperlihatkan perkembangan

Perubahan Rencana Strategis Dinas P3AK Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 – 2019 43

yang semakin membaik. Hal ini dapat diindikasikan dengan adanya peningkatan IPG dan IDG selama kurun waktu 2009 - 2013. Namun perlu diperhatikan bahwa peningkatan IPG dan IDG dalam kurun waktu tersebut belum memberikan gambaran yang menggembirakan apabila dilihat dari kerangka pencapaian persamaan status dan kedudukan menuju kesetaraan dan keadilan gender. Apabila dibandingkan antara IPM dan IPG selama kurun waktu tersebut masih belum mampu mengurangi jarak secara nyata dalam pencapaian kapabilitas dasar antara laki-laki dan perempuan. Gap antara IPM dan IPG masih terlihat tetap dan cenderung tidak berubah dari besarannya, meskipun IPG memperlihatkan perkembangan yang selalu meningkat ( Data tabel pembanding dibawah ini.

Tabel Pembanding antara IPM dan IPG tahun 2009 - 2013

Tahun IPM IPG Selisih

2009 71,06 63.48 7.58

2010 71.62 65.11 6.51

2011 72,18 65.61 6.57

2012 72,83 66,56 5.98

2013 73,54 67,85 5.69

*) Data IPM dan IPG tahun 2013 sangat sementara

Berdasarkan data selisih antara IPM dan IPG tersebut diatas dapat dilihat bahwa disparitas dalam pelaksanaan pembangunan di Jawa Timur pada periode 2009 – 2013 berfluktuasi dengan kecenderungan terus menurun secara perlahan. Dengan perkembangan terakhir telah memperlihatkan hasil yang menggembirakan, nilai selisih antara IPM dan IPG pada tahun 2013 adalah sebesar 5.69, menurun dibandingkan nilai selisih tahun sebelumnya yang mencapai 5.98.

Permasalahan :

- Kurangnya kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) dalam pengolahan data yaitu mulai dari pengumpulan, pengolahan, analisa dan penyajian data;

Perubahan Rencana Strategis Dinas P3AK Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 – 2019 44

- Kurangnya koordinasi antar pemangku kepentingan dalam pelaksanaan percepatan pelaksanaan pembangunan gender untuk mewujudkan Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG);

- Masih kurangnya kapasitas bagi perencana di SKPD untuk paham dalam

perencanaan dan penganggaran program/kegiatan dengan

menggunakan analisa gender dan Pernyataan Anggaran Gender (GBS) untuk mewujudkan kesetaraan gender di semua bidang pembangunan; - SDM belum memahami isu-isu gender dalam penyusunan PPRG;

- Belum optimalnya para anggota focal point gender SKPD dalam melaksanakan tugas dan fungsinya karena banyaknya tugas lainnya; - Belum tersedianya tenaga fasilitator PPRG di masing-masing SKPD; - Dalam melakukan analisis para perencana SKPD belum memiliki data

terpilah gender sebagai data pembuka wawasan;

- Sumber pendanaan dan kreatifitas penggalian sumber daya dan dana secara kontinyu serta konsistensi belum optimal;

- Masih kurangnya ketrampilan perempuan dalam meningkatkan usaha ekonomi poduktif ketrampilan;

- Masih kurangnya peranan perempuan untuk mewujudkan dan mengembangkan keluarga sehat sejahtera dan bahagia dalam pembangunan.

Meskipun dalam mencapai kesetaran dan keadilan gender

masih terdapat beberapa kendala/permasalahan yang harus ditindak lanjuti, namun dalam pelaksanaan tugas, pokok dan fungsinya BPPKB mampu meraih penghargaan tingkat Nasional Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2013 dalam bidang Pengarusutamaan Gender (PUG) dari Presiden RI yaitu ANUGERAH PARAHITA EKAPRAYA (APE) delapan kali secara berturut-turut :

1. Tahun 2006 ANUGERAH PARAHITA EKAPRAYA (APE) TINGKAT UTAMA; 2. Tahun 2007 ANUGERAH PARAHITA EKAPRAYA (APE) TINGKAT UTAMA; 3. Tahun 2008 AUGERAH PARAHITA EKAPRAYA (APE) TINGKAT UTAMA; 4. Tahun 2009 AUGERAH PARAHITA EKAPRAYA (APE) TINGKAT UTAMA; 5. Tahun 2010 ANUGERAH PARAHITA EKAPRAYA (APE) TINGKAT PURNA

Perubahan Rencana Strategis Dinas P3AK Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 – 2019 45

6. Tahun 2011 ANUGERAH PARAHITA EKAPRAYA (APE) TINGKAT UTAMA BIDANG KESETARAAN GENDER DAN PERLINDUNGAN ANAK;

7. Tahun 2012 ANUGERAH PARAHITA EKAPRAYA (APE) TINGKAT UTAMA TINGKAT PROVINSI BIDANG PENGARUSUTAMAAN GENDER (PUG). 8. Tahun 2013 ANUGERAH PARAHITA EKAPRAYA (APE) TINGKAT UTAMA

BIDANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

2. Capaian Indikator Kinerja Jumlah Korban Kasus KDRT, Non KDRT, dan Trafiking yang melapor, ditangani, dan diselesaikan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT)

Sesuai dengan salah satu tujuan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi jawa Timur yaitu Perlindungan Perempuan dan Anak dari berbagai tindak kekerasan dan perdagangan orang, maka salah satu sasaran yang dilakukan adalah meningkatkan pelayanan penanganan korban kekerasan dan perdagangan orang. Pelayanan tersebut meliputi penanganan kasus pengaduan, penanganan kesehatan, rehabilitasi sosial, penegakan dan bantuan hukum, pemulangan dan reintegrasi. Banyaknya korban tindak kekerasan dan perdagangan terhadap perempuan dan anak dijelaskan pada indikator ini.

Persentase korban kasus kekerasan dan perdagangan orang selama kurun waktu 5 (lima) tahun 2009 - 2013 capaiannya yang melapor, dan diselesaikan oleh Pusat Pelayanan Terpadu sebesar 100 % data dapat dilihat pada tabel tersebut diatas. Pada tahun 2009 target jumlah korban yang mengadu dan diselesaikan oleh PPT sebesar 100% atau sebanyak 379 orang, dari target tersebut semuanya dapat ditangani dan diselesaikan kasusnya sehingga capaian kinerja mencapai 100%. Pada tahun 2010 jumlah korban yang melapor sebanyak 324 orang atau mengalami penurunan kasus, dari target semua kasusnya dapat terselesaikan atau capaian 100 %. Pada tahun 2011 jumlah korban yang terlayani dan diselesaikan kasusnya sebanyak 359 orang atau naik 35 orang, dari 359 kasus tersebut semuanya dapat diselesaikan dengan baik atau realisasi dari target sebesar 100%. Pada tahun 2012 jumlah

Perubahan Rencana Strategis Dinas P3AK Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 – 2019 46

korban yang mengadu turun menjadi 357 orang, realisasi penyelesaian sebesar 100%. Pada tahun 2013 jumlah korban yang mengadu naik menjadi 399 orang atau 11.76 %, realisasi penyelesaian sebesar 100% atau capaiannya kinerja baik sebesar 100%. Peningkatan kasus kekerasan dan perdagangan perempuan dan anak biasanya dipengaruhi karena pertumbuhan kasus. Tapi bisa juga karena banyaknya korban yang sudah berani melapor, karena masyarakat sudah mulai memahami tentang bahaya serta dampak KDRT, Trafiking dan ESA, Sosialisasi berbagai produk hukum yang berkaitan dengan kasus KDRT, Non KDRT dan Traffiking juga terus dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya, dan untuk Penanganan Pelayanan korban yang melapor di Pusat Pelayanan Terpadu juga sudah dilayani dan ditangani sesuai dengan SPM. Untuk tahun-tahun kedepan diharapkan korban kasus kekerasan dan perdagangan orang lebih berani lagi untuk melapor ke pihak yang berwenang, sehingga kasus-kasus tersebut akan lebih transparan dan dapat dimonitor oleh Pemerintah khususnya Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Timur melalui Pusat Pelayanan Terpadu.

Permasalahan :

- Banyaknya materi-materi bermuatan pornografi yang membawa dampak buruk bagi masyarakat terutama generasi muda sehingga berpotensi terjadinya kekerasan seksual dan dekadensi moral di masyarakat;

- Belum maksimalnya pelaksanaan kesetaraan dan keadilan gender dari fungsi reproduksi (maternal) mengakibatkan perempuan bekerja mengalami kesulitan dalam pemberian ASI;

- Rendahnya komitmen dan pemahaman dari lintas sektor dan masyarakat umum tentang tindak kekerasan dan perdagangan orang;

- Kurangnya komitmen dan pemahaman dari sebagian Kab/Kota tentang hak-hak anak dan pembentukan forum anak di tingkat Kab/Kota;

Perubahan Rencana Strategis Dinas P3AK Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 – 2019 47

- Pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI) di daerah belum maksimal karena kondisi dan lingkungan pada masing-masing daerah tidak sama;

3. Capaian Indikator Kinerja Persentase Pelayanan Pemasangan Alat

Dalam dokumen GAMBARAN PELAYANAN SKPD (Halaman 35-40)

Dokumen terkait