AKUNTABILITAS KINERJA
A. CAPAIAN KINERJA DITJEN BINALATTAS
Dalam rencana strategis Ditjen Binalattas telah disusun kegiatan - kegiatan utama yang telah dituangkan dalam kegiatan dari tahun 2015 - 2019. Ditjen Binalattas secara formal telah menetapkan Perjanjian Kinerja Tahun 2015 sebagai alat ukur keberhasilan dalam pencapaian kinerja pada tahun tersebut dengan capaian disajikan pada tabel 2. Pengukuran atau evaluasi kinerja Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas dilakukan dengan cara penyesuaian rencana kegiatan dengan anggaran yang tersedia. Pengukuran kinerja kegiatan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas bulan Januari sampai dengan Desember 2015, dengan dasar dan realisasi kinerja dan indikator kinerja pada setiap kegiatan sebagaimana tercantum pada lampiran form Pengukuran Kinerja dari masing-masing indikator kinerja, selanjutnya Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas dapat dilihat pada Lampiran.
Tabel 2.
Capaian Indikator Kinerja Program Ditjen Binalattas Tahun 2015
NO SASARAN
15
16
Program Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja dan Produktivitas dengan sasaran program : “Meningkatnya Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Untuk Mencetak Tenaga Kerja Yang Berdaya Saing” dengan delapan indikator program : a. IK-1 : Persentase Peningkatan Lembaga Pelatihan Yang Terakreditasi.
Yang dimaksud dengan Lembaga Pelatihan Yang Terakreditasi adalah Lembaga Pelatihan yang telah mendapatkan sertifikat akreditasi yang diterbitkan oleh Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja. Cara pengukuran untuk indikator ini adalah jumlah LPK yang terakreditasi pada tahun n di kurang jumlah LPK yang terakreditasi pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi nilai produktivitas per tenaga kerja pada tahun dasar (baseline 2014) dikali 100%).
Dari hasil pengukuran capaian kinerja pada indikator kinerja 1 persentase peningkatan lembaga pelatihan yang terakreditasi adalah sebesar 112,99 %.
Berdasarkan data pada Ditjen Binalattas pada tahun 2014 terdapat 1.943 lembaga pelatihan yang terakreditasi dan pada tahun 2015 terdapat 2.224 lembaga yang telah terakreditasi sehingga realisasi pada tahun 2015 mencapai 14,46 %. Perhitungan realisasi dilakukan dengan cara selisih lembaga pelatihan yang telah diakreditasi dibagi dengan realisasi tahun 2014. Capaian kinerja pada indikator kinerja ini melebihi target yang ada dikarenakan adanya kebijakan dari Ditjen Binalattas untuk melakukan akreditasi tidak hanya terbatas pada Lembaga Pelatihan Kerja Swasta dan Balai Latihan Kerja Luar Negeri yang diakreditasi tetapi juga Balai Latihan Kerja milik Kementerian Ketenagakerjaan maupun Balai Latihan Kerja milik Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. Hal ini dilakukan dalam rangka mencapai tujuan sasaran pembangunan nasional di bidang ketenagakerjaan yaitu meningkatkan lembaga pelatihan milik pemerintah untuk menjadi lembaga pelatihan berbasis kompetensi dari 5 % menjadi 25 %.
17
b. IK-2 : Persentase Peningkatan Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi Yang dimaksud dengan Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi adalah Peserta Pelatihan Berbasis Kompetensi yang telah mendapatkan sertifikat pelatihan yang diterbitkan oleh Balai Latihan Kerja. Cara pengukuran indikator ini adalah Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi pada tahun n di kurang Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi pada tahun dasar (baseline 2014) dikali 100%).
Capaian kinerja untuk indikator kedua yaitu Persentase Peningkatan Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi adalah sebesar 69,42 %. Realisasi untuk tahun 2015 jumlah peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak 92.236 orang sedangkan yang dinyatakan lulus pelatihan sebanyak 92.236 orang, sehingga presentase peningkatan lulusan pelatihan berbasis kompetensi menjadi 100 %. Cara penghitungan realisasi adalah lulusan pelatihan dibagi dengan jumlah peserta yang mengikuti pelatihan dikali 100 %. Capaian kinerja ini mendekati target yang telah ditetapkan sebesar 70 % karena pada tahun 2015 ini setiap satuan BLK diminta untuk menerapkan pelatihan berbasis kompetensi.
18
Untuk tahun 2015 ini selain indikator kinerja sebagaimana tersebut diatas juga dilakukan pengukuran untuk indikator persentase lulusan pelatihan berbasis kompetensi yang mendapatkan sertifikat uji kompetensi. Pada tahun 2015 jumlah lulusan pelatihan yang mengikuti uji kompetensi sebanyak 4.726 orang yang dinyatakan kompeten dan mendapatkan sertifikat kompetensi adalah sebanyak 3.961 orang. Maka realisasi untuk tahun 2015 adalah 83,81 % dengan cara perhitungan lulusan pelatihan yang mendapatkan sertifikat kompetensi dibagi dengan lulusan pelatihan yang mengikuti sertifikasi/uji kompetensi dikali 100 %. Capaian kinerja ini sebesar 119,73 % melebihi dari target yang telah ditetapkan karena modul pelatihan yang digunakan sesuai dengan skema sertifikasi yang diujikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi. Persentase Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi Yang
Mendapat Sertifikat Kompetensi
70 83,81 119,73
19
c. IK-3 : Persentase Peningkatan Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi
Yang dimaksud dengan Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi adalah perusahaan penyelenggara pemagangan yang telah mendapatkan ijin menyelenggarakan pemagangan dari Direktorat Bina Pemagangan. Cara pengukuran indikator ini adalah jumlah Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi pada tahun n dikurang Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi jumlah Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi pada tahun dasar (baseline 2014) dikali 100%).
Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan perusahaan penyelenggara pemagangan sebesar 68,64 %. Realisasi untuk tahun 2015 adalah sebanyak 1 perusahaan yang diverifikasi sedangkan realisasi tahun 2014 sebanyak 17 perusahaan. Jumlah perusahaan yang diverifikasi adalah jumlah perusahaan penyelenggara pemagangan ke luar negeri (sending organization) yang mengajukan ijin pengiriman pemagangan ke luar negeri.
Perhitungan untuk realisasi tahun 2015 adalah selisih realisasi 2015 dan 2014 dibagi realisasi tahun 2014 dikali 100 % sehingga diperoleh angka sebesar 5,88 %. Capaian kinerja untuk indikator ini adalah sebesar 68,61 % dan tidak mencapai target yang telah ditetapkan karena proses verifikasi yang dilaksanakan membutuhkan waktu dan DIPA baru dapat digunakan pada bulan Juni 2015 sehingga waktu yang dibutuhkan tidak mencukupi untuk pelaksanaan kegiatan tersebut.
20
d. IK-4 : Persentase Peningkatan Lulusan Pemagangan
Yang dimaksud dengan Lulusan Pemagangan adalah peserta yang telah selesai mengikuti pemagangan dan mendapatkan sertifikat pemagangan dari perusahaan. Cara menghitung indikator ini jumlah lulusan pemagangan pada tahun n dikurangi dengan jumlah lulusan pemagangan pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi jumlah lulusan pemagangan pada tahun dasar (baseline 2014) dikali 100%).
Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan lulusan pemagangan adalah sebesar 31,05 %. Realisasi capaian persentase peserta pemagangan sebanyak 6,08 % dengan realisasi jumlah peserta yang mengikuti pemagangan sebanyak 29.905 orang dari target yang telah ditetapkan 19,58%. Pada tahun 2015 yang mengikuti Pemagangan Dalam Negeri sebanyak 8.040 orang, Pemagangan Luar Negeri sebanyak 5.478 orang dan Pemagangan Mandiri sebanyak 16.387 orang. Pemagangan Luar Negeri dilaksanakan oleh IM Japan, LPKS, Shikamachi dan Pemagangan Mandiri oleh perusahaan nasional. Capaian kinerja dengan indikator persentase peningkatan lulusan pemagangan tidak mencapai target hal ini dikarenakan dana dekonsentrasi mengalami keterlambatan
21
dikarenakan adanya perubahan nomenklatur Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menjadi Kementerian Ketenagakerjaan. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi hambatan tersebut yaitu, melakukan efisensi anggaran.
e. IK-5 : Persentase Peningkatan LSP Berlisensi
Yang dimaksud dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi adalah lembaga sertifikasi yang telah mendapatkan lisensi yang diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Cara mengukur indikator ini adalah Jumlah LSP Yang telah dilisensi sampai tahun n dibagi dengan total jumlah LSP terlisensi sesuai target renstra dikali 100%. Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan LSP sebesar 263,86 %. Pada tahun 2015 LSP yang diberi lisensi sebanyak 228 LSP yang terdiri dari LSP baru sebanyak 184 dan relisensi sebanyak 44 lembaga. Untuk tahun 2014 LSP yang diberi lisensi sebanyak 100 LSP sehingga untuk realisasi tahun 2015 adalah sebesar 128 % yang dihitung dengan cara selisih LSP yang diberi lisensi dibagi dengan jumlah LSP yang diberi lisensi tahun 2014 dikali 100 %.
Capaian kinerja melebihi target yang telah ditetapkan karena ada kebijakan untuk melakukan percepatan sertifikasi kompetensi dalam rangka pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Salah satu cara yang harus dilakukan dalam rangka percepatan sertifikasi kompetensi adalah dengan membangun infrastruktur sertifikasi di semua wilayah Indonesia
22
dimana salah satu infrastruktur tersebut adalah keberadaan Lembaga Sertifikasi Profesi.
f. IK-6 : Persentase Peningkatan Tenaga Kerja Bersertifikat Kompetensi Yang dimaksud dengan Tenaga Kerja Bersertifikat Kompetensi adalah tenaga Kerja yang telah mengikuti uji kompetensi dinyatakan kompeten serta mendapatkan sertifikat kompetensi yang diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Cara pengukuran indikator ini adalah jumlah tenaga kerja yang memiliki sertifikat kompetensi pada tahun n dibagi jumlah tenaga kerja yang memiliki sertifikat kompetensi sesuai total target renstra dikali 100%.
Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan tenaga kerja bersertifikat kompetensi adalah sebesar 2.481,16 %. Pada tahun 2015 yang dinyatakan kompeten dan mendapatkan sertifikat kompetensi sebanyak 158.315 orang sedangkan pada tahun 2014 yang mendapatkan sertifikat kompetensi sebanyak 10.012 orang. Realisasi untuk tahun 2015 sebesar 1.481,25 % yang diperoleh dari perhitungan selisih tenaga kerja bersertifikat kompetensi dibagi tenaga kerja yang bersertifikat kompetensi pada tahun 2014 dikali 100 %. Capaian realisasi ini melebihi dari target yang ditetapkan sebanyak 59,70 % karena adanya kebijakan percepatan sertifikasi dalam rangka menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN sehingga pada saat diturunkan tambahan anggaran melalui APBNP maka target tenaga kerja yang disertifikasi menjadi prioritas utama.
23
g. IK-7 : Persentase Peningkatan Lembaga Pelayanan Produktivitas
Yang dimaksud dengan lembaga pelayanan produktivitas adalah lembaga yang memberikan pelayanan dalam rangka meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Cara mengukur indikator ini adalah jumlah Lembaga Pelayanan Produktivitas pada tahun n di kurang jumlah Lembaga Pelayanan Produktivitas pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi jumlah Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi pada tahun dasar (baseline 2014) dikali 100%).
Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan lembaga pelayanan produktivitas adalah 94,08 %. Pada tahun 2015 yang dapat dilaksanakan sebanyak 18 lembaga. Meningkat 1 lembaga dibandingkan tahun 2014 sebanyak 17 lembaga. Lembaga tersebut adalah ATC, merupakan lembaga yang dibentuk oleh APINDO yang difokuskan pada peningkatan produktivitas pada perusahaan di lingkungan binaan APINDO baik di tingkat pusat dan daerah. Lembaga ini melaksanakan program pelatihan peningkatan produktivitas, promosi produktivitas, bimbingan peningkatan produktivitas, kajian kajian dan survey peningkatan produktivitas. Realisasi untuk tahun 2015 adalah sebesar 5,88 % yang diperoleh dari perhitungan selisih lembaga pelayanan produktivitas dibagi dengan jumlah lembaga pelayanan produktivitas tahun 2014 dikali 100 %. Capaian indikator ini hanya sebesar
24
94,12 % karena kurangnya pemahaman tentang arti pentingnya membangun atau membentuk Lembaga Pelayanan Produktivitas
Tabel 10.
h. IK-7 : Persentase Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja (Nasional, Sektoral, Daerah)
Yang dimasud dengan Produktivitas Tenaga Kerja (Nasional, Sektoral dan Daerah) adalah Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja yang merupakan kontribusi tenaga kerja terhadap penciptaan nilai tambah melalui proses produksi barang dan jasa dengan cara pengukuran nilai produktivitas per tenaga kerja dihitung dengan rumus PDB/jumlah tenaga kerja setiap tahun.
Untuk menghitung peningkatan produktivitas digunakan rumus nilai produktivitas per tenaga kerja pada tahun ke n di kurang nilai produktivitas pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi nilai produktivitas per tenaga kerja pada tahun dasar (baseline 2014 dikali 100%).
Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan produktivitas tenaga kerja sebesar 74,27 %. Pada tahun 2015 pengukurannya adalah terkait pertumbuhan pada tahun 2014, artinya kegiatan pengukuran produktivitas nasional pada tahun 2015 adalah untuk melihat tren pertumbuhan pada tahun 2009 s.d 2014, sehingga untuk pengukurannya
kita lakukan untuk pertumbuhan antara tahun 2013 dengan 2014,
25
Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja pada tahun 2015 adalah terkait pertumbuhan perekonomian Indonesia. Pertumbuhan perekonomian Indonesia mengalami peningkatan, namun pertumbuhannya selama kurun waktu tahun 2011-2014 terus melambat dari 6,17 persen di tahun 2011 menjadi 5,02 persen pada tahun 2014. Walaupun pertumbuhannya melambat, tetapi jumlah tenaga kerja terus bertambah, dimana pada tahun 2011 ada sebanyak 107,4 juta orang dan di tahun 2014 menjadi 114,6 juta.
Produktivitas tenaga kerja selama kurun waktu yang sama, juga terus mengalami peningkatan dari 67,84 juta per pekerja per tahun pada tahun 2011 menjadi 74,75 juta per pekerja per tahun di tahun 2014, yang mengindikasikan bahwa kualitas tenaga kerja di Indonesia juga terus meningkat (gambar 5.1). Tinggi atau rendahnya produktivitas tenaga kerja dapat dikaitkan dengan pendidikan tenaga kerja. Semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja, makin tinggi produktivitas yang mungkin bisa dicapainya. Seperti yang ditunjukkan pada gambar 5.1, tenaga kerja yang berpendidikan SMA keatas meningkat dari 31,73 persen pada tahun 2011 menjadi 35,17 persen di tahun 2014 nilainya.Hal yang sama juga terjadi pada produktivitas tenaga kerja, dimana pada tahun 2011 sebesar 67,84 juta per pekerja per tahun meningkat menjadi 74,75 juta per pekerja per tahun di tahun 2014. Selain perkembangan produktivitas tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja menurut kategori usaha, kategori usaha dengan produktivitas tertinggi tahun 2014 adalah usaha Real Estat (kategori L) sebesar 961,4 juta per pekerja per tahun. Sedangkan yang terendah adalah usaha jasa lainnya (kategori RSTU) sebesar 20,67 juta per pekerja per tahun. Selain kategori real estat, masih ada 8 kategori usaha lagi yang produktivitasnya di atas nasional, yaitu: kategori usaha Informasi dan Komunikasi (J); Pertambangan dan Penggalian (B); Pengadaan Listrik dan Gas (D); Jasa Keuangan dan Asuransi (K); Industri Pengolahan (C);
Konstruksi (F); Jasa Perusahaan (MN); dan Administrasi Pemerintahan,
26
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib (O), sedangkan sisanya dibawah produktivitas nasional. Diatas usaha jasa lainnya; kategori usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (A) mempunyai produktivitas terendah kedua, yaitu sebesar Rp 28,95 juta per tenaga kerja per tahun. Capaian kinerja