i
LAPORAN KINERJA
DITJEN BINALATTAS TAHUN 2015
Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan R.I
ii
KATA PENGANTAR
Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Tahun 2015 disusun dalam rangka pelaksanaan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Penyusunan laporan ini mengacu pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Laporan Kinerja Ditjen Binalattas merupakan gambaran capaian kinerja Ditjen Binalattas selama tahun anggaran 2015, sekaligus merupakan cerminan pelaksanaan misi Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka mencapai visi yaitu
“Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong”. Misi yang terkat dengan dengan Ditjen Binalattas adalah mewujudkan bangsa yang berdaya saing. Dalam rangka mewujudkan visi dan misi Pemerintah, Ditjen Binalattas telah menyelenggarakan agenda pembangunan prioritas yang tercantum dalam Nawa Cita yaitu meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional. Dalam rangka mencapai visi Pemerintah tersebut Ditjen Binalattas melakukan langkah pembenahan dalam rangka meningkatkan kinerja sebagai bagian dari reformasi birokrasi, karena tahun 2015 merupakan tahun awal RPJMN 2015 – 2019 sehingga perlu disampaikan capaian kinerja selama 1 tahun dalam rangka untuk memberikan gambaran kinerja yang telah dicapai dan menjadi evaluasi dalam menyusunan kegiatan pada tahun berikutnya.
Berdasarkan Permenaker Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Ketenagakerjaan Tahun 2015 - 2019, Ditjen Binalattas telah memiliki 2 Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS) dan 8 Indikator Kinerja Program (IKP) yang merupakan ukuran capaian kinerja baik secara kuantitatif dan kualitatif. Capaian kinerja indikator tersebut diatas menggambarkan Sasaran Strategis 1 Kementerian Ketenagakerjaan : Peningkatan Kompetensi dan Produktivitas Tenaga Kerja.
iii
Demikian Laporan Kinerja Ditjen Binalattas Tahun 2015 ini disusun, agar dapat menjadi bahan evaluasi pencapaian kinerja dan perbaikan untuk tahun depan sehingga dapat meningkatkan capaian kinerja Ditjen Binalattas.
iv
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ...……….………... ii
Daftar Isi ...…...……….……….………... iv
Daftar Tabel ...…...……….…..………….………... v
Daftar Gambar ...…...……….……….………... vi
Ikhtisar Eksekutif ...………... vii
BAB I PENDAHULUAN ……...……….….…. 1
A. Latar Belakang ………..…... 1
B. Tugas dan Fungsi Ditjen Binalattas ...…………..…... 2
C. Peran Strategis Bidang Pelatihan dan Produktivitas ……….. 5
D. Isu Strategis di Bidang Pelatihan dan Produktivitas ……… 7
BAB II PERENCANAAN KINERJA ……...………..……….…. 8
A. Rencana Strategis Ditjen Binalattas ….……….………….….…... 8
B. Perjanjian Kinerja Tahun 2015 ... 12
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ……...……….…... 14
A. Capaian Indikator Kinerja Ditjen Binalattas Tahun 2015 ……....… 14
B. Realisasi Anggaran ...………... 26
BAB IV PENUTUP ……...………..……….…….…... 32 LAMPIRAN – LAMPIRAN
1. Perjanjian Kinerja (PK) Ditjen Binalattas Tahun 2015 2. Pengukuran Kinerja Ditjen Binalattas Tahun 2015
v
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Perjanjian Kinerja Tahun 2015 ……….…...………... 12
Tabel 2. Capaian Indikator Kinerja Program Ditjen Binalattas Tahun 2015 …... 14
Tabel 3. Pengukuran Indikator Kinerja 1 ... 17
Tabel 4. Pengukuran Indikator Kinerja 2 ... 18
Tabel 5. Pengukuran Indikator Kinerja Penajaman ... 18
Tabel 6. Pengukuran Indikator Kinerja 3 ... 20
Tabel 7. Pengukuran Indikator Kinerja 4 ...…... 21
Tabel 8. Pengukuran Indikator Kinerja 5 ... 22
Tabel 9. Pengukuran Indikator Kinerja 6 ... 23
Tabel 10. Pengukuran Indikator Kinerja 7 ... 24
Tabel 11. Pengukuran Indikator Kinerja 8 ... 26
Tabel 12. Rekapitulasi dan Realisasi Keuangan Ditjen Binalattas Berdasarkan Satuan Kerja Tahun 2015 ... 27
Tabel 13. Rekapitulasi dan Realisasi Keuangan Ditjen Binalattas Tahun 2010 – 2015 ... 28
Tabel 14. Realisasi Anggaran Tahun 2015 ... 30
vi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Struktur Organisasi Ditjen Binalattas ….…...………... 3 Gambar 2. Profil Tenaga Kerja Indonesia …... 6 Gambar 3. Grafik Perbandingan Pagu dan Realisasi Anggaran Dengan
Realisasi Keuangan dan Fisik Tahun 2010 - 2015 ... 29
IKHTISAR
EKSEKUTIF
vii
IKHTISAR EKSEKUTIF
Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas adalah unit kerja eselon I di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan yang mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan daya saing tenaga kerja dan produktivitas. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2015 – 2019 maka salah satu sasaran strategis yang akan dicapai adalah peningkatan daya saing dan produktivitas tenaga kerja.
Untuk mencapai sasaran strategis tersebut maka agenda dan sasaran pembangunan nasional yang terkait dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas adalah meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional yang dilakukan melalui peningkatan daya saing tenaga kerja. Dengan mengacu pada agenda dan sasaran pembangunan yang telah ditetapkan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas telah menetapkan Perjanjian Kinerja (PK) Tahun 2015. Berdasarkan Perjanjian Kinerja tahun 2015, sampai dengan berakhirnya tahun anggaran 2015 capaian kinerja Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas dapat dilihat pada tabel berikut :
CAPAIAN KINERJA DITJEN BINALATTAS TAHUN 2015
NO SASARAN PROGRAM
INDIKATOR KINERJA PROGRAM
TARGET 2015
%
REALISASI 2015
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA
S.D 2015
% 1 Meningkatnya
Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Untuk
Mencetak Tenaga Kerja Yang Berdaya Saing
1 Persentase Peningkatan Lembaga Pelatihan Yang Terakreditasi
12,80 14,46 112,96 32,12 45,03
2 Persentase Peningkatan Lulusan Pelatihan Berbasis
Kompetensi
70,00 48,59 69,42 95,00 51,15
viii
NO SASARAN PROGRAM
INDIKATOR KINERJA PROGRAM
TARGET 2015
%
REALISASI 2015
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA
S.D 2015
% 3 Persentase
Peningkatan Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi
8,57 5,88 68,64 31,43 18,72
4 Persentase Peningkatan Lulusan Pemagangan
19,58 6,08 31,05 20,42 29,77
5 Persentase Peningkatan LSP Berlisensi
48,51 128,00 263,86 94,10 136,03
6 Persentase Peningkatan Tenaga Kerja Bersertifikat Kompetensi
59,70 1.481,25 2.481,16 79,87 1854,58
7 Persentase Peningkatan Lembaga Pelayanan Produktivitas
6,25 5,88 94,12 56,25 10,46
8 Persentase Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja (Nasional,
Sektoral, Daerah)
4,47 3,32 74,21 21,13 15,70
ix
Secara umum dari 8 Indikator Kinerja Program, 3 indikator kinerja program dapat tercapai melebihi target, 5 indikator kinerja program belum dapat tercapai dengan baik, hal ini dikarenakan DIPA baru diterbitkan pada bulan Mei 2015 sehingga target kegiatan banyak yang tidak terlaksana karena terkendala oleh waktu.
Dari kinerja keuangan, Ditjen Binalattas masih perlu melakukan perbaikan kinerja. Pada tahun 2015 penyerapan anggaran secara keseluruhan mencapai 84,19 %. Dikarenakan pada tahun 2015 DIPA APBNP Tahun 2015 baru diterbitkan pada tanggal 15 Mei 2015. Dengan waktu efektif pelaksanaan hanya 6 bulan maka akan sangat sulit untuk dapat merealisasikan target kinerja sebagaimana yang tercantum dalam DIPA.
Solusi yang dilakukan adalah dengan melakukan penjadwalan ulang kembali semua kegiatan agar dapat diprediksi penyerapan sampai dengan bulan Desember 2015, melakukan identifikasi terhadap kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan dan bila memungkinkan dilakukan revisi sehingga anggaran yang tersedia dapat diserap secara optimal. Penyerapan anggaran dibawah 90% karena ada beberapa kegiatan yang tidak dapat dilakukan mengingat waktu pelaksanaan yang tidak mencukupi.
Tindak lanjut yang telah dilakukan dengan cara membuat jadwal pelaksanaan kegiatan yang realistis tetapi dari sisi waktu yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan semua kegiatan, sehingga realisasi keuangan yang dicapai hanya sebesar 84,19%.
Mengingat pada tahun 2015 adalah tahun pertama pelaksanaan RPJMN tahun 2015 - 2019, maka tahun 2015 ini menjadi titik awal dari pencapaian target RPJMN tahun 2015 - 2019. Capaian kinerja tahun 2015 ini menjadi indikasi bahwa pelaksanaan program peningkatan kompetensi tenaga kerja dan produktivitas telah memberikan kontribusi bagi tenaga kerja dalam upaya meningkatan kompetensinya, kendati masih memiliki berbagai kekurangan.
BAB II BABPERE BAB I
PENDAHULUAN
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2015 – 2019 bahwa sasaran strategis yang akan dicapai adalah peningkatan daya saing tenaga kerja agar dapat bersaing dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN. Untuk itu maka agenda dan sasaran pembangunan di bidang ketenagakerjaan merupakan bagian dari agenda dan sasaran pembangunan nasional, pembangunan bidang ekonomi, pembangunan lintas bidang dan pembangunan wilayah demi terwujudnya 9 Agenda Pembangunan Nasional 2015 – 2019.
Agenda Pembangunan Nasional 2015 – 2019 yang terkait dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas adalah meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional yang dilakukan melalui peningkatan daya saing tenaga kerja dengan sasaran meningkatkan kualitas dan keterampilan pekerja melalui pelaksanaan pelatihan tenaga kerja dari 1.921.283 orang pada tahun 2014 menjadi 2.170.377 orang pada tahun 2019, memperbesar proporsi jumlah tenaga kerja yang kompeten dan diakui secara nasional dan internasional melalui serangkaian proses sertifikasi tenaga kerja berkeahlian tinggi dari 8,4 % menjadi 14 % dan tenaga kerja berkeahlian menengah yang kompeten dari 30 % menjadi 42 %, sertifikasi untuk tenaga kerja dari 576.887 orang pada tahun 2014 menjadi 863.819 orang pada tahun 2019 serta meningkatkan kinerja lembaga pelatihan milik pemerintah untuk menjadi lembaga pelatihan berbasis kompetensi dari 5 % menjadi 25 %.
2
Dalam upaya perwujudan tujuan di atas maka keberadaan organisasi Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan didasarkan pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2015 tentang Kementerian Ketenagakerjaan yang diperkuat dengan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Ketenagakerjaan RI, harus dapat dirasakan lebih nyata oleh masyarakat sebagaimana tertuang dalam Nawa Cita yaitu meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional melalui pelatihan kerja.
Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Ditjen Binalattas) sebagai salah satu Direktorat Teknis di Kementerian Ketenagakerjaan mengemban tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan daya saing tenaga kerja dan produktivitas. Dengan peran dan tugas tersebut, diharapkan organisasi Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas mampu menghasilkan kebijakan-kebijakan dibidang pelatihan dan produktivitas yang berkualitas dan implementatif.
B. TUGAS DAN FUNGSI DITJEN BINALATTAS
Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas sebagai salah satu unit eselon I di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan, merupakan unsur pelaksana pemerintah yang mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan daya saing tenaga kerja dan produktivitas. Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas dipimpin oleh seorang Dirjen yang bertanggung jawab kepada Menteri Ketenagakerjaan.
3 Gambar 1
Struktur Organisasi Ditjen Binalattas
Untuk melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, Direktorat Jenderal
Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas didukung oleh 2 (dua) Sekretariat dan 5 (lima) Direktorat setingkat Eselon II A. Disamping itu, terdapat 19
(sembilan belas) Unit Pelaksana Teknis Pusat (UPTP) di lingkungan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas.
Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, Ditjen Binalattas mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut :
4 1. Tugas
Ditjen Binalattas mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peningkatan daya saing tenaga kerja dan produktivitas.
2. Fungsi
Untuk melaksanakan tugas tersebut, Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas menyelenggarakan fungsi :
a. Perumusan kebijakan di bidang standardisasi kompetensi dan pelatihan kerja, kelembagaan pelatihan, instruktur dan tenaga pelatihan, pemagangan, dan produktivitas;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang penyelenggaraan pelatihan kerja dan peningkatan mutu pengelolaan lembaga pelatihan;
c. Penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria di bidang standardisasi kompetensi dan pelatihan kerja, kelembagaan pelatihan, instruktur dan tenaga pelatihan, pemagangan dan produktivitas;
d. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang standardisasi kompetensi dan pelatihan kerja, kelembagaan pelatihan, instruktur dan tenaga pelatihan, pemagangan, dan produktivitas;
e. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang standardisasi kompetensi dan pelatihan kerja, kelembagaaan pelatihan, instruktur dan tenaga pelatihan, pemagangan dan produktivitas;
f. Pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas;dan
g. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Menteri.
5
C. PERAN STRATEGIS BIDANG PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS
Jumlah penduduk Indonesia yang bekerja sebanyak 128,30 juta orang sebagian besar bekerja di lapangan usaha pertanian 33,20% serta berpendidikan
< SD sebanyak 44,15%, sementara penduduk bekerja dengan pendidikan Sarjana ke atas hanya sebesar 8,25%. Struktur lapangan pekerjaan tidak mengalami perubahan, Sektor Pertanian, Sektor Perdagangan, Sektor Jasa Kemasyarakatan dan Sektor Industri masih menjadi penyumbang penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Ini yang menjadi tantangan pembangunan nasional di bidang ketenagakerjaan khususnya dalam rangka peningkatan kompetensi tenaga kerja dan produktivitas untuk mewujudkan tenaga kerja yang kompeten dan berdaya saing di pasar global.
Dari sisi kualitas tenaga kerja, lemahnya kemampuan yang dicerminkan dari rendahnya tingkat pendidikan dan produktivitas pekerja dirasakan sebagai hambatan utama bagi penciptaan usaha baru dalam membuka investor baru masuk. Sejauh ini struktur pekerja kedepan masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan rendah dan kompetensi yang terbatas. Hal ini akan menjadi hambatan utama dalam upaya meningkatkan daya saing nasional.
Kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam pengembangan perekonomian kedepan. Pengembangan sumber daya manusia yang memiliki skill dan kompetensi membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai. Balai latihan kerja yang dikembangkan Kementerian Ketenagakerjaan merupakan salah satu sarana dalam meningkatkan kompetensi dan skill pekerja.
Namun, saat ini keberadaan balai latihan kerja tersebut masih belum optimal.
6
Gambar 2
Profil Tenaga Kerja Indonesia
Dengan kondisi tersebut peran program peningkatan kompetensi tenaga kerja dan produktivitas menjadi sangat penting dalam pengembangan kompetensi tenaga kerja. Maka langkah strategis yang kami lakukan adalah pengembangan standar kompetensi kerja, peningkatan kompetensi kerja sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, peningkatan kapasitas kelembagaan, pengembangan kompetensi instruktur, pengembangan sistem sertifikasi profesi serta peningkatan produktivitas tenaga kerja.
7
Dalam rangka ASEAN Economic Community maka pemerintah dituntut untuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing di pasar kerja global. Untuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing diperlukan komitmen dari semua pihak baik dari pemerintah maupun swasta.
D. Isu Strategis Di Bidang Pelatihan dan Produktivitas
Dalam rangka penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), maka pemerintah harus berupaya untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia agar dapat bersaing di pasar kerja global. Sampai dengan saat ini kesiapan Indonesia menghadapi MEA pada 12 sektor prioritas masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Isu strategis yang terkait dengan bidang pelatihan dan produktivitas dalam menghadapi MEA adalah infrastruktur pelatihan dan produktivitas masing-masing sektor belum semuanya ada sehingga dampak dari MEA adalah tenaga kerja Indonesia tidak dapat memanfaatkan peluang untuk bersaing di pasar kerja global karena kompetensi yang dimiliki masih rendah.
BAB II
PERENCANAAN
KINERJA
8
BAB II
PERENCANAAN KINERJA
A. RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN
Pada dasarnya arah kebijakan dan strategi Kementerian Ketenagakerjaan selaras dan mendukung agenda, sasaran dan arah kebijakan pembangunan nasional, pembangunan bidang ekonomi, pembangunan wilayah, serta pembangunan bidang aparatur negara. Adapun arah kebijakan dan strategi Kementerian Ketenagakerjaan dijabarkan dalam Peningkatan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja untuk memasuki pasar tenaga kerja :
1. Harmonisasi, standarisasi dan sertifikasi kompetensi melalui kerjasama lintas sektor, lintas daerah dan lintas negara mitra bisnis dalam kerangka keterbukaan pasar, dilakukan melalui strategi:
a. Percepatan Penetapan Standar Kompetensi seluruh Sektor (K/L) dengan menyusun Rencana Induk Pengembangan Standar Kompetensi, Peta Kompetensi, Standar Kompetensi dan Pemaketan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI);
b. Percepatan akreditasi Lembaga Pelatihan;
c. Percepatan Penerapan Pelatihan Berbasis Kompetensi dengan mendorong semua lembaga pelatihan untuk menerapkan pelatihan berbasis kompetensi mengacu pada kualifikasi dan okupasi;
d. Percepatan Sertifikasi Tenaga Kerja dan lulusan pelatihan dengan mendorong Badan Nasional Sertifikasi Profesi untuk membangun infrastruktur sertifikasi di setiap daerah;
9
e. Peningkatan kompetensi dan daya saing tenaga kerja nasional yang mampu menempatkan dan menyalurkan tenaga kerja berkualitas di dalam dan luar negeri yang mendukung skilled based industries;
f. Peningkatan produktivitas dan kompetensi tenaga kerja nasional melalui sistem sertifikasi kompetensi tenaga kerja serta penerapannya yang didukung peningkatan jumlah dan kapasitas asesor berbasis kerangka kualifikasi nasional indonesia untuk mendorong perubahan struktur tenaga kerja secara bertahap dari sektor/sub sektor lapangan usaha yang produktivitasnya rendah ke sektor/sub sektor yang produktivitasnya tinggi;
g. Peningkatan kebijakan pemerintah untuk memperkuat sumber-sumber pendanaan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas keahlian tenaga kerja khususnya dalam penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja yang mendukung skilled based industries;
h. Peningkatan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pelatihan tenaga kerja yang mendukung skilled based industries untuk mendorong perubahan struktur tenaga kerja secara bertahap dari sektor/sub sektor lapangan usaha yang produktivitasnya rendah ke sektor/sub sektor yang produktivitasnya tinggi melalui standarisasi lembaga pelatihan berbasis kompetensi dalam kerangka Pasar Bebas AEC (ASEAN Economic Community) sehingga meningkatkan jumlah tenaga kerja terampil yang siap menghadapi keterbukaan pasar;
i. Peningkatan jumlah pekerja yang berpendapatan menengah ke pendapatan menengah tingkat atas melalui Transformasi Struktur Tenaga Kerja yang dilandasi oleh peningkatan produktivitas;
j. Peningkatan penyelenggaraan pelatihan keterampilan bagi pekerja rentan agar dapat memasuki pasar tenaga kerja.
10
2. Pengembangan program kemitraan antara pemerintah dengan dunia usaha/
industri dan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah untuk peningkatan kualitas tenaga kerja, dilakukan melalui strategi :
a. Pengembangan standar kompetensi oleh pihak pengguna terutama asosiasi industri/profesi dan bersifat dinamis sesuai perkembangan iptek dan kebutuhan industri;
b. Pengembangan program pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi menggunakan kurikulum/modul pelatihan mengacu kepada standar kompetensi yang dikembangkan industri;
c. Sertifikasi kompetensi melalui uji kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang dilisensi oleh BNSP, dan memiliki masa berlaku (validitas) sesuai ketentuan.
3. Pengembangan Pola Pendanaan Pelatihan, melalui:
a. Penguatan koordinasi antar pelaku kepentingan, pemerintah yang diwakili Kementerian/Lembaga, dunia usaha, pekerja, serta pemerintah daerah;
b. Menjaga transparansi dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan dana pelatihan dengan pola matching fund melalui pembentukan lembaga yang independen untuk mengelola dana pelatihan.
4. Penataan lembaga pelatihan berbasis kompetensi melalui pengelolaan program pelatihan yang komprehensif dengan mengembangkan lembaga pelatihan di tingkat pusat sebagai tempat pelatihan unggulan, dan pendampingan bagi lembaga pelatihan provinsi, serta lembaga pelatihan provinsi menjadi unggulan dan pendampingan bagi lembaga pelatihan kabupaten/kota, melalui:
a. Promosi program penjangkauan (outreach) dalam rangka menjalin hubungan kerjasama dengan pemberi kerja dan lembaga pelatihan swasta;
11
b. Pembangunan jejaring dan komunikasi intensif dengan masyarakat sekitar lembaga pelatihan di daerah
c. Pemberian sistem insentif berdasarkan kinerja untuk mendorong hasil pelatihan yang sesuai kebutuhan industri;
d. Peningkatan kinerja dan efisiensi lembaga pelatihan dengan memberikan otonomi/kewenangan penuh penyelenggara pelatihan.
5. Peningkatan kualitas sistem tata kelola program pelatihan untuk mempercepat sertifikasi pekerja memerlukan strategi sosialisasi program pelatihan secara lebih intensif dan ekstensif agar kualitas angkatan kerja siap memasuki pasar tenaga kerja. Selain itu, diperlukan pengelolaan program pelatihan yang komprehensif dari tingkat pusat sampai kabupaten/kota, agar lembaga pelatihan yang ada menjadi tempat pelatihan unggulan, sekaligus melakukan dapat melakukan fungsi pendampingan pelatihan bagi lembaga pelatihan di tingkat bawahnya.
6. Identifikasi dan memilih sektor/sub sektor yang nilai tambah dan penyerapan tenga kerja tinggi, sehingga menjadi fokus untuk dikembangkan, dilakukan melalui strategi :
a. Perluasan skala ekonomi ke arah sektor/sub sektor yang produktivitasnya tinggi juga diperlukan untuk menyediakan lapangan kerja yang besar dalam rangka mengantisipasi berlangsungnya bonus demografi;
b. Realokasi tenaga kerja ke sektor/sub sektor tertentu, memudahkan pemetaan kompetensi industri dan penetapan standar kompetensi;
c. Standar kompetensi industri yang telah ditetapkan menjadi dasar penyusunan program pelatihan meliputi : kurikulum/bahan ajar, penyiapan tenaga instruktur dan asesor serta sarana prasarana pendukung program pelatihan;
d. Mempercepat pelaksanaan perjanjian saling pengakuan (MRA) yang belum dapat direalisasikan;
12
e. Harmonisasi program pendidikan dan pelatihan;
f. Pengembangan kerangka standard kompetensi regional (regional competency standard framework);
g. Mendorong lembaga pelatihan untuk mencapai KKNI (Kerangka Kerja Nasional Indonesia) dan penerapan KKNI.
B. PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015
Perjanjian Kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang mempresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun tertentu dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelolanya.
Tabel 1.
Perjanjian Kinerja Tahun 2015 PERJANJIAN KINERJA
Unit Organisasi Eselon I : Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas
Tahun Anggaran : 2015
No Sasaran Program Indikator Kinerja Program Target
1 Meningkatnya Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Untuk Mencetak Tenaga Kerja Yang Berdaya Saing
1 Persentase Peningkatan Lembaga Pelatihan Yang Terakreditasi
12,80 %
2 Persentase Peningkatan Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi
70,00 %
3 Persentase Peningkatan Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi
8,57 %
4 Persentase Peningkatan Lulusan Pemagangan
19,58 %
5 Persentase Peningkatan LSP Berlisensi 48,51 % 6 Persentase Peningkatan Tenaga Kerja
Bersertifikat Kompetensi
59,70 %
13
No Sasaran Program Indikator Kinerja Program Target
7 Persentase Peningkatan Lembaga Pelayanan Produktivitas
6,25 %
8 Persentase Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja (Nasional, Sektoral, Daerah)
4,47 %
Program Anggaran
Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja dan Produktivitas Rp.1.632.812.823.000,-
Dalam rangka penajaman indikator kinerja maka untuk indikator nomor 2 dirubah menjadi presentase lulusan pelatihan yang mendapat sertifikat kompetensi, dengan cara pengukuran lulusan pelatihan yang mendapat sertifikat kompetensi dibagi dengan lulusan pelatihan yang mengikuti uji kompetensi dikali 100 %. Indikator ini berperan sangat penting mengingat tolok ukur dari keberhasilan pelatihan dibuktikan dengan sertifikat kompetensi.
BAB
IVPENUTUP BAB III
AKUNTABILITAS
KINERJA
14
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
A. CAPAIAN KINERJA DITJEN BINALATTAS
Dalam rencana strategis Ditjen Binalattas telah disusun kegiatan - kegiatan utama yang telah dituangkan dalam kegiatan dari tahun 2015 - 2019. Ditjen Binalattas secara formal telah menetapkan Perjanjian Kinerja Tahun 2015 sebagai alat ukur keberhasilan dalam pencapaian kinerja pada tahun tersebut dengan capaian disajikan pada tabel 2. Pengukuran atau evaluasi kinerja Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas dilakukan dengan cara penyesuaian rencana kegiatan dengan anggaran yang tersedia. Pengukuran kinerja kegiatan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas bulan Januari sampai dengan Desember 2015, dengan dasar dan realisasi kinerja dan indikator kinerja pada setiap kegiatan sebagaimana tercantum pada lampiran form Pengukuran Kinerja dari masing-masing indikator kinerja, selanjutnya Perjanjian Kinerja Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas dapat dilihat pada Lampiran.
Tabel 2.
Capaian Indikator Kinerja Program Ditjen Binalattas Tahun 2015
NO SASARAN PROGRAM
INDIKATOR KINERJA PROGRAM
TARGET 2015
%
REALISASI 2015
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA S.D
2015
% 1 Meningkatnya
Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Untuk
Mencetak
1 Persentase Peningkatan Lembaga Pelatihan Yang Terakreditasi
12,80 14,46 112,96 32,12 45,03
15
NO SASARAN PROGRAM
INDIKATOR KINERJA PROGRAM
TARGET 2015
%
REALISASI 2015
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA S.D
2015
% Tenaga Kerja
Yang Berdaya Saing
2 Persentase Peningkatan Lulusan Pelatihan Berbasis
Kompetensi
70,00 48,59 69,42 95,00 51,15
3 Persentase Peningkatan Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi
8,57 5,88 68,64 31,43 18,72
4 Persentase Peningkatan Lulusan Pemagangan
19,58 6,08 31,05 20,42 29,77
5 Persentase Peningkatan LSP Berlisensi
48,51 128,00 263,86 94,10 136,03
6 Persentase Peningkatan Tenaga Kerja Bersertifikat Kompetensi
59,70 1.481,25 2.481,16 79,87 1854,58
7 Persentase Peningkatan Lembaga Pelayanan Produktivitas
6,25 5,88 94,12 56,25 10,46
8 Persentase Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja (Nasional,
Sektoral, Daerah)
4,47 3,32 74,21 21,13 15,70
16
Program Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja dan Produktivitas dengan sasaran program : “Meningkatnya Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Untuk Mencetak Tenaga Kerja Yang Berdaya Saing” dengan delapan indikator program : a. IK-1 : Persentase Peningkatan Lembaga Pelatihan Yang Terakreditasi.
Yang dimaksud dengan Lembaga Pelatihan Yang Terakreditasi adalah Lembaga Pelatihan yang telah mendapatkan sertifikat akreditasi yang diterbitkan oleh Lembaga Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja. Cara pengukuran untuk indikator ini adalah jumlah LPK yang terakreditasi pada tahun n di kurang jumlah LPK yang terakreditasi pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi nilai produktivitas per tenaga kerja pada tahun dasar (baseline 2014) dikali 100%).
Dari hasil pengukuran capaian kinerja pada indikator kinerja 1 persentase peningkatan lembaga pelatihan yang terakreditasi adalah sebesar 112,99 %.
Berdasarkan data pada Ditjen Binalattas pada tahun 2014 terdapat 1.943 lembaga pelatihan yang terakreditasi dan pada tahun 2015 terdapat 2.224 lembaga yang telah terakreditasi sehingga realisasi pada tahun 2015 mencapai 14,46 %. Perhitungan realisasi dilakukan dengan cara selisih lembaga pelatihan yang telah diakreditasi dibagi dengan realisasi tahun 2014. Capaian kinerja pada indikator kinerja ini melebihi target yang ada dikarenakan adanya kebijakan dari Ditjen Binalattas untuk melakukan akreditasi tidak hanya terbatas pada Lembaga Pelatihan Kerja Swasta dan Balai Latihan Kerja Luar Negeri yang diakreditasi tetapi juga Balai Latihan Kerja milik Kementerian Ketenagakerjaan maupun Balai Latihan Kerja milik Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. Hal ini dilakukan dalam rangka mencapai tujuan sasaran pembangunan nasional di bidang ketenagakerjaan yaitu meningkatkan lembaga pelatihan milik pemerintah untuk menjadi lembaga pelatihan berbasis kompetensi dari 5 % menjadi 25 %.
17 Tabel 3.
Pengukuran Indikator Kinerja 1
INDIKATOR KINERJA
TARGET
%
REALISASI
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA S.D
2015
% Persentase Peningkatan
Lembaga Pelatihan Yang Terakreditasi
12,80 14,46 112,99 32,12 45,03
b. IK-2 : Persentase Peningkatan Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi Yang dimaksud dengan Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi adalah Peserta Pelatihan Berbasis Kompetensi yang telah mendapatkan sertifikat pelatihan yang diterbitkan oleh Balai Latihan Kerja. Cara pengukuran indikator ini adalah Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi pada tahun n di kurang Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi pada tahun dasar (baseline 2014) dikali 100%).
Capaian kinerja untuk indikator kedua yaitu Persentase Peningkatan Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi adalah sebesar 69,42 %. Realisasi untuk tahun 2015 jumlah peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak 92.236 orang sedangkan yang dinyatakan lulus pelatihan sebanyak 92.236 orang, sehingga presentase peningkatan lulusan pelatihan berbasis kompetensi menjadi 100 %. Cara penghitungan realisasi adalah lulusan pelatihan dibagi dengan jumlah peserta yang mengikuti pelatihan dikali 100 %. Capaian kinerja ini mendekati target yang telah ditetapkan sebesar 70 % karena pada tahun 2015 ini setiap satuan BLK diminta untuk menerapkan pelatihan berbasis kompetensi.
18 Tabel 4.
Pengukuran Indikator Kinerja 2
INDIKATOR KINERJA TARGET
%
REALISASI
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA
S.D 2015
% Persentase Peningkatan
Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi
70 % 48,59 % 69,42 95,00 51,15
Untuk tahun 2015 ini selain indikator kinerja sebagaimana tersebut diatas juga dilakukan pengukuran untuk indikator persentase lulusan pelatihan berbasis kompetensi yang mendapatkan sertifikat uji kompetensi. Pada tahun 2015 jumlah lulusan pelatihan yang mengikuti uji kompetensi sebanyak 4.726 orang yang dinyatakan kompeten dan mendapatkan sertifikat kompetensi adalah sebanyak 3.961 orang. Maka realisasi untuk tahun 2015 adalah 83,81 % dengan cara perhitungan lulusan pelatihan yang mendapatkan sertifikat kompetensi dibagi dengan lulusan pelatihan yang mengikuti sertifikasi/uji kompetensi dikali 100 %. Capaian kinerja ini sebesar 119,73 % melebihi dari target yang telah ditetapkan karena modul pelatihan yang digunakan sesuai dengan skema sertifikasi yang diujikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi.
Tabel 5.
Pengukuran Indikator Kinerja Penajaman
INDIKATOR KINERJA TARGET
%
REALISASI
%
CAPAIAN KINERJA
% Persentase Lulusan Pelatihan Berbasis Kompetensi Yang
Mendapat Sertifikat Kompetensi
70 83,81 119,73
19
c. IK-3 : Persentase Peningkatan Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi
Yang dimaksud dengan Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi adalah perusahaan penyelenggara pemagangan yang telah mendapatkan ijin menyelenggarakan pemagangan dari Direktorat Bina Pemagangan. Cara pengukuran indikator ini adalah jumlah Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi pada tahun n dikurang Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi jumlah Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi pada tahun dasar (baseline 2014) dikali 100%).
Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan perusahaan penyelenggara pemagangan sebesar 68,64 %. Realisasi untuk tahun 2015 adalah sebanyak 1 perusahaan yang diverifikasi sedangkan realisasi tahun 2014 sebanyak 17 perusahaan. Jumlah perusahaan yang diverifikasi adalah jumlah perusahaan penyelenggara pemagangan ke luar negeri (sending organization) yang mengajukan ijin pengiriman pemagangan ke luar negeri.
Perhitungan untuk realisasi tahun 2015 adalah selisih realisasi 2015 dan 2014 dibagi realisasi tahun 2014 dikali 100 % sehingga diperoleh angka sebesar 5,88 %. Capaian kinerja untuk indikator ini adalah sebesar 68,61 % dan tidak mencapai target yang telah ditetapkan karena proses verifikasi yang dilaksanakan membutuhkan waktu dan DIPA baru dapat digunakan pada bulan Juni 2015 sehingga waktu yang dibutuhkan tidak mencukupi untuk pelaksanaan kegiatan tersebut.
20 Tabel 6.
Pengukuran Indikator Kinerja 3
INDIKATOR KINERJA TARGET
%
REALISASI
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA
S.D 2015
% Persentase Peningkatan
Perusahaan Penyelenggara
Pemagangan Terverifikasi
8,57 5,88 68,64 31,43 18,72
d. IK-4 : Persentase Peningkatan Lulusan Pemagangan
Yang dimaksud dengan Lulusan Pemagangan adalah peserta yang telah selesai mengikuti pemagangan dan mendapatkan sertifikat pemagangan dari perusahaan. Cara menghitung indikator ini jumlah lulusan pemagangan pada tahun n dikurangi dengan jumlah lulusan pemagangan pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi jumlah lulusan pemagangan pada tahun dasar (baseline 2014) dikali 100%).
Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan lulusan pemagangan adalah sebesar 31,05 %. Realisasi capaian persentase peserta pemagangan sebanyak 6,08 % dengan realisasi jumlah peserta yang mengikuti pemagangan sebanyak 29.905 orang dari target yang telah ditetapkan 19,58%. Pada tahun 2015 yang mengikuti Pemagangan Dalam Negeri sebanyak 8.040 orang, Pemagangan Luar Negeri sebanyak 5.478 orang dan Pemagangan Mandiri sebanyak 16.387 orang. Pemagangan Luar Negeri dilaksanakan oleh IM Japan, LPKS, Shikamachi dan Pemagangan Mandiri oleh perusahaan nasional. Capaian kinerja dengan indikator persentase peningkatan lulusan pemagangan tidak mencapai target hal ini dikarenakan dana dekonsentrasi mengalami keterlambatan
21
dikarenakan adanya perubahan nomenklatur Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menjadi Kementerian Ketenagakerjaan. Upaya yang dilakukan dalam mengatasi hambatan tersebut yaitu, melakukan efisensi anggaran.
Tabel 7.
Pengukuran Indikator Kinerja 4
INDIKATOR KINERJA TARGET
%
REALISASI
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA
S.D 2015
% Persentase Peningkatan
Lulusan Pemagangan
19,58 6,08 31,05 20,42 29,77
e. IK-5 : Persentase Peningkatan LSP Berlisensi
Yang dimaksud dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi adalah lembaga sertifikasi yang telah mendapatkan lisensi yang diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Cara mengukur indikator ini adalah Jumlah LSP Yang telah dilisensi sampai tahun n dibagi dengan total jumlah LSP terlisensi sesuai target renstra dikali 100%. Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan LSP sebesar 263,86 %. Pada tahun 2015 LSP yang diberi lisensi sebanyak 228 LSP yang terdiri dari LSP baru sebanyak 184 dan relisensi sebanyak 44 lembaga. Untuk tahun 2014 LSP yang diberi lisensi sebanyak 100 LSP sehingga untuk realisasi tahun 2015 adalah sebesar 128 % yang dihitung dengan cara selisih LSP yang diberi lisensi dibagi dengan jumlah LSP yang diberi lisensi tahun 2014 dikali 100 %.
Capaian kinerja melebihi target yang telah ditetapkan karena ada kebijakan untuk melakukan percepatan sertifikasi kompetensi dalam rangka pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Salah satu cara yang harus dilakukan dalam rangka percepatan sertifikasi kompetensi adalah dengan membangun infrastruktur sertifikasi di semua wilayah Indonesia
22
dimana salah satu infrastruktur tersebut adalah keberadaan Lembaga Sertifikasi Profesi.
Tabel 8.
Pengukuran Indikator Kinerja 5
INDIKATOR KINERJA
TARGET
%
REALISASI
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA
S.D 2015
% Persentase Peningkatan
LSP Berlisensi
48,51 128 263,86 94,10 136,03
f. IK-6 : Persentase Peningkatan Tenaga Kerja Bersertifikat Kompetensi Yang dimaksud dengan Tenaga Kerja Bersertifikat Kompetensi adalah tenaga Kerja yang telah mengikuti uji kompetensi dinyatakan kompeten serta mendapatkan sertifikat kompetensi yang diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Cara pengukuran indikator ini adalah jumlah tenaga kerja yang memiliki sertifikat kompetensi pada tahun n dibagi jumlah tenaga kerja yang memiliki sertifikat kompetensi sesuai total target renstra dikali 100%.
Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan tenaga kerja bersertifikat kompetensi adalah sebesar 2.481,16 %. Pada tahun 2015 yang dinyatakan kompeten dan mendapatkan sertifikat kompetensi sebanyak 158.315 orang sedangkan pada tahun 2014 yang mendapatkan sertifikat kompetensi sebanyak 10.012 orang. Realisasi untuk tahun 2015 sebesar 1.481,25 % yang diperoleh dari perhitungan selisih tenaga kerja bersertifikat kompetensi dibagi tenaga kerja yang bersertifikat kompetensi pada tahun 2014 dikali 100 %. Capaian realisasi ini melebihi dari target yang ditetapkan sebanyak 59,70 % karena adanya kebijakan percepatan sertifikasi dalam rangka menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN sehingga pada saat diturunkan tambahan anggaran melalui APBNP maka target tenaga kerja yang disertifikasi menjadi prioritas utama.
23 Tabel 9.
Pengukuran Indikator Kinerja 6
INDIKATOR KINERJA
TARGET
%
REALISASI
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA
S.D 2015
% Persentase Peningkatan
Tenaga Kerja
Bersertifikat Kompetensi
59,70 1.481,25 2.481,16 79,87 1854,58
g. IK-7 : Persentase Peningkatan Lembaga Pelayanan Produktivitas
Yang dimaksud dengan lembaga pelayanan produktivitas adalah lembaga yang memberikan pelayanan dalam rangka meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Cara mengukur indikator ini adalah jumlah Lembaga Pelayanan Produktivitas pada tahun n di kurang jumlah Lembaga Pelayanan Produktivitas pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi jumlah Perusahaan Penyelenggara Pemagangan Terverifikasi pada tahun dasar (baseline 2014) dikali 100%).
Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan lembaga pelayanan produktivitas adalah 94,08 %. Pada tahun 2015 yang dapat dilaksanakan sebanyak 18 lembaga. Meningkat 1 lembaga dibandingkan tahun 2014 sebanyak 17 lembaga. Lembaga tersebut adalah ATC, merupakan lembaga yang dibentuk oleh APINDO yang difokuskan pada peningkatan produktivitas pada perusahaan di lingkungan binaan APINDO baik di tingkat pusat dan daerah. Lembaga ini melaksanakan program pelatihan peningkatan produktivitas, promosi produktivitas, bimbingan peningkatan produktivitas, kajian kajian dan survey peningkatan produktivitas. Realisasi untuk tahun 2015 adalah sebesar 5,88 % yang diperoleh dari perhitungan selisih lembaga pelayanan produktivitas dibagi dengan jumlah lembaga pelayanan produktivitas tahun 2014 dikali 100 %. Capaian indikator ini hanya sebesar
24
94,12 % karena kurangnya pemahaman tentang arti pentingnya membangun atau membentuk Lembaga Pelayanan Produktivitas
Tabel 10.
Pengukuran Indikator Kinerja 7
INDIKATOR KINERJA
TARGET
%
REALISASI
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA
S.D 2015
% Persentase Peningkatan
Lembaga Pelayanan Produktivitas
6,25 5,88 94,12 56,25 10,46
h. IK-7 : Persentase Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja (Nasional, Sektoral, Daerah)
Yang dimasud dengan Produktivitas Tenaga Kerja (Nasional, Sektoral dan Daerah) adalah Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja yang merupakan kontribusi tenaga kerja terhadap penciptaan nilai tambah melalui proses produksi barang dan jasa dengan cara pengukuran nilai produktivitas per tenaga kerja dihitung dengan rumus PDB/jumlah tenaga kerja setiap tahun.
Untuk menghitung peningkatan produktivitas digunakan rumus nilai produktivitas per tenaga kerja pada tahun ke n di kurang nilai produktivitas pada tahun dasar (baseline 2014) dibagi nilai produktivitas per tenaga kerja pada tahun dasar (baseline 2014 dikali 100%).
Capaian kinerja untuk indikator persentase peningkatan produktivitas tenaga kerja sebesar 74,27 %. Pada tahun 2015 pengukurannya adalah terkait pertumbuhan pada tahun 2014, artinya kegiatan pengukuran produktivitas nasional pada tahun 2015 adalah untuk melihat tren pertumbuhan pada tahun 2009 s.d 2014, sehingga untuk pengukurannya
kita lakukan untuk pertumbuhan antara tahun 2013 dengan 2014,
25
Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja pada tahun 2015 adalah terkait pertumbuhan perekonomian Indonesia. Pertumbuhan perekonomian Indonesia mengalami peningkatan, namun pertumbuhannya selama kurun waktu tahun 2011-2014 terus melambat dari 6,17 persen di tahun 2011 menjadi 5,02 persen pada tahun 2014. Walaupun pertumbuhannya melambat, tetapi jumlah tenaga kerja terus bertambah, dimana pada tahun 2011 ada sebanyak 107,4 juta orang dan di tahun 2014 menjadi 114,6 juta.
Produktivitas tenaga kerja selama kurun waktu yang sama, juga terus mengalami peningkatan dari 67,84 juta per pekerja per tahun pada tahun 2011 menjadi 74,75 juta per pekerja per tahun di tahun 2014, yang mengindikasikan bahwa kualitas tenaga kerja di Indonesia juga terus meningkat (gambar 5.1). Tinggi atau rendahnya produktivitas tenaga kerja dapat dikaitkan dengan pendidikan tenaga kerja. Semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja, makin tinggi produktivitas yang mungkin bisa dicapainya. Seperti yang ditunjukkan pada gambar 5.1, tenaga kerja yang berpendidikan SMA keatas meningkat dari 31,73 persen pada tahun 2011 menjadi 35,17 persen di tahun 2014 nilainya.Hal yang sama juga terjadi pada produktivitas tenaga kerja, dimana pada tahun 2011 sebesar 67,84 juta per pekerja per tahun meningkat menjadi 74,75 juta per pekerja per tahun di tahun 2014. Selain perkembangan produktivitas tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja menurut kategori usaha, kategori usaha dengan produktivitas tertinggi tahun 2014 adalah usaha Real Estat (kategori L) sebesar 961,4 juta per pekerja per tahun. Sedangkan yang terendah adalah usaha jasa lainnya (kategori RSTU) sebesar 20,67 juta per pekerja per tahun. Selain kategori real estat, masih ada 8 kategori usaha lagi yang produktivitasnya di atas nasional, yaitu: kategori usaha Informasi dan Komunikasi (J); Pertambangan dan Penggalian (B); Pengadaan Listrik dan Gas (D); Jasa Keuangan dan Asuransi (K); Industri Pengolahan (C);
Konstruksi (F); Jasa Perusahaan (MN); dan Administrasi Pemerintahan,
26
Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib (O), sedangkan sisanya dibawah produktivitas nasional. Diatas usaha jasa lainnya; kategori usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (A) mempunyai produktivitas terendah kedua, yaitu sebesar Rp 28,95 juta per tenaga kerja per tahun. Capaian kinerja hanya tercapai sebesar 74,21 % tergantung dari PDB sesuai dengan data dari BPS. Apabila PDB naik dan jumlah penduduk tetap maka tingkat produktivitas akan naik.
Tabel 11.
Pengukuran Indikator Kinerja 8
INDIKATOR KINERJA
TARGET
%
REALISASI
%
CAPAIAN KINERJA
%
TARGET RENSTRA
2019
%
PENCAPAIAN TARGET RENSTRA
S.D 2015
% Persentase Peningkatan
Produktivitas Tenaga Kerja (Nasional, Sektoral, Daerah)
4,47 3,32 74,21 21,13 15,70
B. REALISASI ANGGARAN
Guna mendukung seluruh kegiatan operasional Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas pada Tahun Anggaran 2015, memperoleh anggaran (setelah revisi) sebesar : Rp. 1.339.189.714.000,- (Satu trilyun tiga ratus tiga puluh sembilan milyar seratus delapan puluh sembilan juta tujuh ratus empat belas ribu rupiah). Untuk penyerapan anggaran sampai dengan 31 Desember 2015 realisasi keuangan sebesar Rp. 1.127.443.756.040,- (Satu trilyun seratus dua puluh tujuh milyar empat ratus empat puluh tiga juta tujuh ratus lima puluh enam ribu empat puluh ribu rupiah) atau 84,19 % sedangkan realisasi fisik sebesar 96,51 %. Hal ini disebabkan karena DIPA baru terbit pada bulan Mei 2015 sehingga banyak
27
kegiatan yang tidak dapat terlaksana karena terkendala oleh waktu. Adapun rincian realisasi keuangan dan fisik adalah sebagaimana tabel berikut :
Tabel 12.
Rekapitulasi dan Realisasi Keuangan Ditjen Binalattas Berdasarkan Satuan Kerja
NO UNIT KERJA
ALOKASI ANGGARAN
(setelah REVISI) REALISASI ANGGARAN
(Rp.) (Rp.) %
1 Setditjen Binalattas 52.570.799.000 45.167.586.788 85,92 2 Dit. Bina Stankomlatker 61.083.375.000 48.576.855.294 79,53 3 Dit. Bina Kelembagaan Pelatihan 305.331.976.000 270.898.457.873 88,66
4 Dit. Bina Intala 33.353.114.000 25.528.311.536 76,54
5 Dit. Bina Pemagangan 5.035.243.000 4.705.101.539 93,44
6 Dit. Bina Produktivitas 8.179.062.000 7.993.682.572 97,73 7 Sekretariat BNSP 201.876.054.000 121.951.753.459 60,41
8 BBPP 17.459.766.000 16.631.363.932 95,26
9 BBPLK Medan 36.101.920.000 33.253.497.203 92,11
10 BBPLK Serang 40.721.466.000 36.005.916.606 88,42
11 BBPLK Bekasi 61.077.261.000 51.673.374.813 84,60
12 BBPLK Bandung 46.057.250.000 43.289.246.592 93,99
13 BBPLK Semarang 38.666.828.000 36.024.153.940 93,17
14 BLK Banda Aceh 23.287.692.000 20.769.947.820 89,19
15 BLK Padang 23.805.188.000 20.114.227.688 84,50
16 BLK Surakarta 48.213.253.000 41.767.758.844 86,63
17 BLK Samarinda 24.610.732.000 20.109.150.138 81,71
18 BLK Makassar 32.863.793.000 30.674.994.554 93,34
19 BLK Kendari 20.780.034.000 16.775.430.844 80,73
20 BLK Ternate 18.077.500.000 15.828.482.307 87,56
21 BLK Ambon 19.034.136.000 18.339.864.165 96,35
22 BLK Sorong 22.669.730.000 19.384.448.740 85,51
23 BLK Lembang - - -
24 BLK Lombok Timur - - -
28
NO UNIT KERJA
ALOKASI ANGGARAN
(setelah REVISI) REALISASI ANGGARAN
(Rp.) (Rp.) %
25 BLK Bantaeng - - -
23 BPP Kendari 7.263.253.000 7.016.779.008 96,61
24 BBPLK Jakarta 4.333.725.000 4.330.452.952 99,92
25 BBLK Yogyakarta 3.604.153.000 3.600.002.919 99,88
26 Balatrans Pekanbaru 1.931.144.000 1.927.188.550 99,80
27 Balatrans Banjarmasin 1.442.980.000 1.443.479.895 99,34
28 Balatrans Makassar 1.748.183.000 1.746.479.895 99,89
29 Balatrans Denpasar 1.536.750.000 1.536.732.300 100,00
30 Dana Dekonsentrasi 33 Provinsi 176.273.354.000 160.485.042.914 91,04 TOTAL 1.339.189.714.000 1.127.443.756.040 84,19
Tabel 13.
Rekapitulasi dan Realisasi Keuangan Ditjen Binalattas Tahun 2010 – 2015
NO. TAHUN
PAGU REALISASI KEUANGAN FISIK
(Rp) (Rp) % %
1 2010 732.963.845.000 638.820.272.413 87,16 96,09
2 2011 1.313.059.591.000 1.000.436.805.738 76,16 91,74
3 2012 886.429.146.000 805.487.910.517 90,87 96,24
4 2013 1.034.554.843.000 912.933.070.820 88,24 96,09
5 2014 782.266.499.000 684.953.084.990 87,56 91,65
6 2015 1.339.189.716.000 1.127.443.756.040 84,19 96,51
29
Jika diuraikan per tahunnya realisasi anggaran Ditjen Binalattas dapat dilihat pada grafik di bawah ini :
Gambar 3
Grafik Perbandingan Pagu dan Realisasi Anggaran dengan Realisasi Keuangan dan Fisik Tahun 2010 – 2015
732.963.845.000
1.313.059.591.000
886.429.146.000
1.034.554.843.000
782.266.499.000
1.339.189.714.000
638.820.272.413
1.000.436.805.738
805.487.910.517 912.933.070.820
684.953.084.990
1.127.443.756.040 87,16%
76,19%
90,87%
88,24%
87,56%
84,19%
96,09%
91,74% 96,24% 96,09%
91,65%
96,51%
0,00%
10,00%
20,00%
30,00%
40,00%
50,00%
60,00%
70,00%
80,00%
90,00%
100,00%
0 200.000.000.000 400.000.000.000 600.000.000.000 800.000.000.000 1.000.000.000.000 1.200.000.000.000 1.400.000.000.000 1.600.000.000.000
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Pagu Revisi
Realisasi Keuangan
% Realisasi Keuangan
%Realisasi Fisik