• Tidak ada hasil yang ditemukan

Capaian Kinerja Lainnya 1. Jaminan Kesehatan Nasional

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan diketahui bahwa peran Kementerian Kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan adalah mendaftarkan dan membayarkan iuran PBI kepada BPJS Kesehatan. Pada tahun 2016, Kementerian Kesehatan melalui satuan kerja Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (PPJK), telah mendaftarkan peserta PBI untuk periode tahun 2016 sesuai dengan surat Menteri Kesehatan Nomor JP.01.02/X/2805 tanggal 31 Desember 2015 dan membayarkan iuran PBI sesuai dengan Surat Tagihan Belanja Jaminan Kesehatan PBI setiap bulannya dari BPJS Kesehatan.

114 Berikut jumlah PBI yang telah dibayarkan Kementerian Kesehatan kepada BPJS Kesehatan setiap bulannya pada tahun 2016, sebagai berikut:

Gambar 3.53 Jumlah PBI yang Dibayarkan kepada BPJS Kesehatan Setiap Bulan Tahun 2016

Kementerian Kesehatan bersama dengan BPJS Kesehatan pada tahun 2016 setiap triwulannya telah melakukan pertemuan rekonsiliasi atau perhitungan kembali iuran PBI yang telah dicairkan berdasarkan realisasi data kepesertaan. Pertemuan rekonsiliasi tersebut merupakan upaya Kementerian Kesehatan dalam rangka monitoring dan evaluasi terhadap pembayaran iuran PBI agar tepat sasaran dan tepat jumlah pembayarannya. Selain itu, untuk mencapai salah satu tujuan Kementerian Kesehatan berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Tahun 2015-2019, yaitu meningkatnya daya tanggap (responsiveness) dan perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di bidang kesehatan.

Kementerian Kesehatan sebagai regulator dalam Jaminan Kesehatan Nasional, serta sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan menjamin terlaksananya pelayanan kesehatan dalam pelayanan publik, telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016 Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.

Selain hal di atas, Kementerian Kesehatan dalam rangka menjamin kendali mutu dan kendali biaya dalam penyelenggaraan JKN telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pertimbangan Klinis (Clinical Advisory). Pertimbangan Klinis adalah permasalahan yang diadukan oleh peserta JKN, fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau BPJS Kesehatan terkait masalah

115 yang menyangkut dan/atau berdampak terhadap paket manfaat dan/atau pembayaran klaim yang terjadi dalam pelayanan kesehatan pada penyelenggaraan JKN.

Grafik 3.54 Alokasi dan Realisasi PBI yang Dibayarkan kepada BPJS Kesehatan Setiap Bulan Tahun 2016

Pada grafik di atas, terlihat bahwa realisasi pembayaran PBI pada kurun waktu tahun 2014 hingga tahun 2016 berfluktuasi, dari persentase realisasi sebesar 99,062% pada tahun 2014 turun menjadi 97,687% pada tahun 2015 dan pada tahun 2016 naik menjadi 99,29%.

2. Peraturan Menteri Kesehatan tentang istitha’ah Kesehatan Jemaah Haji.

Istitha’ah kesehatan jemaah haji adalah kemampuan jemaah haji dari aspek kesehatan yang meliputi fisik dan mental yang terukur dengan pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga jemaah haji dapat menjalankan ibadahnya sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Pengaturan istithaah kesehatan haji bertujuan untuk terselenggaranya pemeriksaan kesehatan dan pembinaan kesehatan haji, selain itu penerapan istitha’ah kesehatan agar dilaksanakan pemeriksaan kesehatan sebagai dasar pelaksanaan pembinaan kesehatan Jemaah haji, dalam rangka memberikan perlindungan kesehatan kepada Jemaah haji. Pelaksanaan pembinaan kesehatan jemaah haji terintegrasi dengan program kesehatan lainnya, antara lain program Keluarga Sehat, Program pencegahan penyakit menular, Posbindu penyakit tidak menular, Pembinaan kelompok olahraga dan latihan fisik, serta pos pelayanan terpadu (Posyandu) Lansia. Pihak terkait dalam penyelenggaraan istithaah kesehatan Jemaah haji antara lain: tim penyelenggara kesehatan haji kabupaten/kota yang ditetapkan oleh bupati/walikota,

116 panitia penyelenggara ibadah haji embarkasi yang dibentuk Menteri Agama, panitia penyelenggara ibadah haji bidang kesehatan dan Komite Ahli Kesehatan Haji Nasional yang dibentuk oleh Menteri Kesehatan serta organisasi profesi (Asosiasi Kesehatan Haji Indonesia/AKHI, Perhimpunan Dokter Haji Indonesia/PERDOKHI), atau organisasi masyarakat antara lain Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).

Berdasarkan cakupan hasil pemeriksaan, hasil istithaah kesehatan jemaah haji : 1. Memenuhi Syarat sebesar 71,45%

2. Memenuhi Syarat dengan pendampingan sebesar 28,5% 3. Tidak Memenuhi syarat sementara sebesar 0,03% 4. Tidak Memenuhi Syarat sebesar 0,006%

Grafik 3.55 Penilaian Istithaah Kesehatan Jemaah Haji dari Hasil Pemeriksaan Kesehatan

Tahun 2016

3. Peran Kementerian Kesehatan dalam penanggulangan bencana

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, terdapat tiga kelompok kegiatan dalam upaya tanggap darurat, yaitu kegiatan siaga darurat, tanggap darurat, dan pemulihan darurat. Kementerian Kesehatan, baik secara mandiri maupun bekerja lintas sektor memiliki peranan dalam kegiatan tanggap darurat untuk merespon krisis kesehatan.

Pada prinsipnya, keterlibatan Pemerintah Pusat dalam penanggulangan krisis kesehatan harus memenuhi minimal dua kriteria, yaitu:

a. Intensitas, durasi, luas, dan dampak krisis kesehatan yang terjadi, dan

b. Kemampuan (sumber daya manusia, sarana dan prasarana, anggaran, perencanaan) yang dimiliki daerah dalam merespon krisis kesehatan.

117 Keterlibatan Kementerian Kesehatan dalam kegiatan tanggap darurat selaku subklaster kesehatan, mencakup kegiatan sebagai berikut:

a. Mobilisasi Tim Bantuan Kesehatan.

b. Mobilisasi logistik Pelaksanaan Penanggulangan Krisis Kesehatan.

c. Menyelenggarakan rapat koordinasi teknis penanggulangan krisis kesehatan. d. Memberikan pendampingan kaji cepat bidang kesehatan, dan

e. Memberikan pendampingan penilaian kerusakan, kerugian, dan kebutuhan sumber daya kesehatan dan penyusunan rencana aksi.

Peranan Kementerian Kesehatan dalam upaya tanggap darurat penanggulangan krisis kesehatan pada tahun 2016 adalah sebagai berikut:

a. Mendistribusikan bantuan berupa kaporit, PAC, dan lem lalat pada peristiwa banjir di Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau pada tanggal 15 Februari 2016.

b. Mengirimkan bantuan berupa Makan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) sebanyak 10 ton pada peristiwa banjir bandang di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi pada tanggal 25 Februari 2016.

c. Menerjunkan Tim Rapid Health Assesment (RHA) ke lokasi pada peristiwa banjir di Kabupaten Nabire Provinsi Papua pada tanggal 21 Maret 2016.

d. Menerjunkan Tim Rapid Health Assesment (RHA) ke lokasi pada peristiwa banjir di Kabupaten Keerom Provinsi Papua pada tanggal 21 Maret 2016.

e. Menerjunkan Tim Rapid Health Assesment (RHA) ke lokasi pada peristiwa banjir di Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 18 Juni 2016.

f. Mobilisasi Tim Rapid Health Assesment (RHA), tim kesehatan jiwa, Public Health Rapid Response Team, mengirimkan bantuan logistik berupa kantung mayat, obat-obatan, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Ibu hamil, PMT Anak Sekolah, Makanan Pendamping ASI, logistik kesehatan lingkungan, kit kesehatan reproduksi dan kit individu pada peristiwa banjir bandang di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat pada tanggal 20 September 2016.

g. Mengirimkan bantuan logistik berupa PMT Bumil, PMT Anak Sekolah dan MP-ASI pada peristiwa tanah longsor di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat pada tanggal 20 September 2016.

h. Mobilisasi Tim RHA, tim kesehatan jiwa, Public Health Rapid Response Team, tim Damage and Loss Assessment, mengirimkan bantuan logistik berupa obat-obatan, implant orthopedi, PMT Bumil, PMT Anak Sekolah, MPASI, logistik kesehatan lingkungan dan kit individu pada peristiwa gempa bumi di Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh pada tanggal 7 Desember 2016.

i. Mobilisasi Tim RHA, Public Health Rapid Response Team, mengirimkan bantuan logistik berupa obat-obatan, PMT Bumil, MPASI, logistik kesehatan lingkungan, sanitarian kit, dan kit individu pada peristiwa banjir bandang di Kota Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tanggal 21 Desember 2016.

Pada tingkat internasional, Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis Kesehatan telah menyandang predikat sebagai World Health Organization Collaborating Centre (WHO CC) untuk Pelatihan dan Penelitian dalam Pengurangan Risiko Bencana pada bulan November tahun 2012 dan akan berlaku hingga bulan November tahun 2016.

118 Pada tahun 2016, predikat ini telah diperpanjang untuk masa kerja 4 (empat) tahun hingga bulan November tahun 2020.

WHO CC merupakan institusi yang ditunjuk oleh WHO Director General untuk bersama-sama membentuk jaringan kolaborasi internasional serta menjalankan aktivitas yang mendukung program-program WHO. Kerjasama tahap awal akan berakhir setelah 4 tahun dan setelah itu dapat dilakukan proses penunjukan ulang atau re-designation. Dengan adanya kolaborasi tersebut, WHO mendapatkan manfaat karena telah dibantu oleh institusi-institusi terbaik di seluruh dunia untuk menjalankan program-program yang telah dimandatkan pada WHO. Begitu pula dengan institusi-institusi yang berkolaborasi, penunjukan sebagai WHO CC membuat program kesehatan institusi-institusi tersebut semakin mendapatkan perhatian dari para pemegang kebijakan dan masyarakat, juga mendapatkan kesempatan untuk bertukar informasi serta mengembangkan kerjasama teknis dengan insitusi-institusi lainnya di seluruh dunia. Keuntungan lainnya adalah institusi tersebut memiliki kesempatan untuk mendapatkan bantuan sumber-sumber daya yang dibutuhkan dari pihak donor

4. Penyelenggaraan Pemeriksaan Executive Brain Assesment atau EBA

Instrumen Executive Brain Assesment atau EBA adalah karya unik Kementerian Kesehatan yang telah dicatatkan sebagai Hak Kekayaan Intetektual di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tahun 2014. EBA merupakan suatu tes identifikasi potensi otak individu yang mendasari kapasitas SDM dan kepemimpinan seseorang dalam aktivitasnya di organisasi. Hasil pemeriksaan EBA mampu memberikan “potret” kekuatan sumber daya manusia bagi organisasi, untuk memberikan dasar yang kuat dalam menyusun dan mengevaluasi langkah-langah strategis membangun organisasi.

Sepanjang tahun 2016, Kementerian Kesehatan telah menyelenggarakan pemeriksaan EBA di berbagai tempat, sebagai berikut:

a. Pemeriksaan EBA pada 32 Tunas Integritas dan 51 Tunas Integritas di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

b. Pemeriksaan EBA pada 251 pejabat struktural dan pejabat fungsional senior di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten.

c. Pemeriksaan EBA pada 18 pejabat eselon II di lingkungan Pemerintah Kota Bandung.

d. Pemeriksaan EBA pada 168 Mandiri Best Employee PT Bank Mandiri.

e. Pemeriksaan EBA pada Tunas Integritas KLOP di Komisi Pemberantasan Korupsi. f. Pemeriksaan EBA pada 24 manajer dan 22 manajer PT Angkasa Pura 2.

g. Pemeriksaan EBA pada 309 pejabat struktural dan pejabat fungsional RS Paru Rotinsulu Bandung.

h. Pemeriksaan EBA dalam rangka capacity building di unit kerja Kementerian Kesehatan.

i. Pemeriksaan EBA pada 10 RS vertikal, yaitu: 1) RS Jiwa Lawang Dr. Radjiman Wediodiningrat; 2) RS Mata Cicendo Bandung; 3) RS Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang; 4) RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang; 5) RSUP Dr Kariadi

119 Semarang; 6) RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado; 7) RS Ortopedi Prof. DR R. Soeharso Surakarta; 8) RSUP Sanglah Denpasar; 9) RSUPN DR. Cipto Mangunkusumo; dan 10) RS Paru Dr. H. A Rotinsulu Bandung.

5. Pengelolaan Pelayanan Publik di Unit Pelaksana Teknis Vertikal (UPT Vertikal)

a. Penyelenggaraan pelayanan publik di bawah pembinaan Ditjen Pelayanan Kesehatan.

Hingga tahun 2016 terdapat 49 UPT Vertikal yang pengelolaannya, termasuk penyediaan sumber dayanya dibebankan kepada Ditjen Pelayanan Kesehatan. Dari total anggaran Rp18.511.935.411.000 yang dialokasikan ke Ditjen Pelayanan Kesehatan, Rp17.490.126.754.000 diantaranya diserahkan kepada UPT Vertikal Ditjen Pelayanan Kesehatan. Jumlah tersebut setara dengan 94,48% dari keseluruhan anggaran yang diterima Ditjen Pelayanan Kesehatan. Besarnya alokasi ke UPT Vertikal tersebut merupakan wujud komitmen Kementerian Kesehatan untuk terus meningkatkan mutu layanan kepada masyarakat, khususnya dalam rangka mendukung pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional, mendukung akreditasi JCI, serta mewujudkan pelayanan kesehatan jarak jauh atau telemedicine. Dana tersebut digunakan untuk meningkatkan sarana dan prasarana selain mendukung operasional penyelenggaraan UPT Vertikal dimaksud. Ditilik dari jenis belanja, maka alokasi terbesar digunakan untuk Belanja Barang sebesar Rp11.231.918.663.000 atau 64,22%, diikuti dengan Belanja Modal senilai Rp3.974.219.011.000 atau 22,72%, dan Belanja Pegawai senilai Rp2.283.989.080.000 atau 13,06%.

UPT tersebut memberikan layanan berupa: 1) melayani pasien rawat inap, rawat jalan, dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RS, Unit Pelayanan Kesehatan, dan Balai Kesehatan Masyarakat sebanyak 6.854.986 orang; 2) melakukan pemeriksaan laboratorium di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) sebanyak 1.040.144 pemeriksaan; dan 3) melakukan pengujian kalibarasi alat kesehatan sebanyak 85.306 alat kesehatan di Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) dan Loka Pengamanan Fasilitas Kesehatan (LPFK).

Rincian kegiatan yang dilaksanakan oleh UPT di bawah pembinaan Ditjen Pelayanan Kesehatan dapat dilihat pada tabel-tabel berikut.

120 Tabel 3.19 Daftar UPT Pasien Rawat Inap, Rawat Jalan, dan IGD di RS, UPK, dan

Balai Kesehatan Masyarakat (UPT Vertikal).

RAWAT JALAN RAWAT INAP IGD JUMLAH

1 RS. Adam Malik 232,321 22,805 22,835 277,961 2 RS. M. Djamil 170,212 17,478 32,104 219,794 3 RS. Stroke 44,921 7,949 9,251 62,121 4 RS. M. Hoesin 242,624 35,291 23,505 301,420 5 RS. Rivai Abdullah 17,980 2,425 3,776 24,181 6 RS. Sitanala 36,145 8,381 10,412 54,938 7 RS. Dharmais 111,501 92,183 7,326 211,010 8 RSJP Harkit 122,090 12,598 11,098 145,786 9 RSAB Harkit 154,584 12,665 14,167 181,416 10 RSCM 651,836 249,748 33,441 935,025 11 RS PON 38,661 3,194 4,604 46,459 12 RSKO 34,989 657 2,406 38,052 13 RSPI 69,370 5,083 12,511 86,964 14 RS Fatmawati 329,622 40,645 38,669 408,936 15 RS. Persahabatan 291,028 25,965 3,723 320,716 16 RSJ. Soeharto Herdjan 59,004 2,468 3,266 64,738 17 RS. Marzoeki Mahdi 136,316 8,952 17,786 163,054 18 RSP Goenawan P 65,010 8,304 18,082 91,396 19 RS.Hasan Sadikin 355,272 52,638 43,348 451,258 20 RSP Rotinsulu 21,343 4,190 4,342 29,875 21 RS. Cicendo 161,034 9,904 5,540 176,478 22 RS.Sardjito 404,385 26,958 25,357 456,700 23 RS. Kariadi 525,884 42,373 35,032 603,289 24 RSJ. Soerojo 78,417 9,163 12,439 100,019 25 RS. Soeradji 187,555 23,561 26,134 237,250 26 RS. Ario W 27,963 7,861 9,864 45,688 27 RSOP Soeharso 67,683 5,067 5,606 78,356 28 RSJ Radjiman 47,583 4,819 4,918 57,320 29 RS. Sanglah 194,461 31,631 44,865 270,957 30 RS.Kandou 172,453 55,918 35,873 264,244 31 RS. Ratatotok 3,627 1,041 2,533 7,201 32 RS. Tadjuddin C 18,955 3,860 5,204 28,019 33 RS. Wahidin 145,855 36,334 28,488 210,677 34 BBKPM Makassar 17,884 1,248 1,262 20,394 35 BBKPM Bandung 52,856 262 868 53,986 36 BBKPM Surakarta 36,482 524 1,538 38,544 37 BKMM Makassar 55,622 - - 55,622 38 BKMM Cikampek 15,102 - - 15,102 39 Unit Pelayanan Kesehatan 19,932 - 108 20,040

5,418,562

874,143 562,281 6,854,986 JUMLAH PASIEN

NO UPT

121 Tabel 3.20 Pelayanan yang dilakukan BBLK, BPFK, dan LPFK Tahun 2016.

No. Satker Pemeriksaan

Laboratorium

1 BBLK Palembang 407,206