• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sasaran Strategis 2: Meningkatnya Pengendalian Penyakit

Angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) sangat berpengaruh pada status kesehatan masyarakat. Indonesia saat ini menghadapi tantangan berupa beban ganda penyakit atau burden of disease. Beban tersebut ditimbulkan dari masih tingginya kejadian penyakit menular dan pada saat yang sama kejadian penyakit tidak menular menunjukkan kecenderungan semakin meningkat. Guna menjawab tantangan permasalahan tersebut, maka Kementerian Kesehatan telah menetapkan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian penyakit. Langkah-langkah-langkah pencegahan tersebut selanjutnya dirumuskan menjadi sejumlah indikator-indikator untuk mengukur capaian kinerjanya.

Dalam kaitan dengan Sasaran Strategis ini, Kementerian Kesehatan mengidentifikasi tiga Indikator Kinerja Utama (IKU) dengan hasil capaiannya sebagaimana tergambar dalam tabel berikut:

37 Tabel 3.2 Capaian IKU pada Sasaran Strategis 2:

Meningkatnya Pengendalian Penyakit

SS2: Meningkatnya Pengendalian Penyakit

Indikator Kinerja Target Realisasi % Realisasi

2a. Persentase penurunan kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi

10% 50,26% 502,6%

2b. Persentase Kab/Kota yang mempunyai kebijakan kesiapsiagaan dalam penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat yang berpotensi wabah

46% 47,17% 102,5%

2c. Persentase penurunan prevalensi merokok pada usia ≤18 Tahun

6,4% 8,8% 62,5%

Uraian tentang keempat IKU tersebut adalah sebagai berikut:

1. Persentase penurunan kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Beberapa penyakit yang saat ini menjadi perhatian dunia dan merupakan komitmen global salah satunya adalah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). PD3I yang saat ini menjadi program prioritas pemerintah adalah Tuberculosis, Hepatitis B, Polio, Difteri, Pertusis, Tetanus, Hemophilus influenza type B serta campak, yang beberapa diantaranya sering menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) dibeberapa daerah.

Pencegahan dan pengendalian PD3I dilakukan dengan dua intervensi utama yaitu imunisasi dan surveilans. Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang terbukti sangat cost effective.

Pada tanggal 27 Maret 2014 Regio Asia Tenggara telah mendeklarasikan pernyataan bebas polio dimana Indonesia termasuk salah satu negara yang menerima sertifikat tersebut. Eradikasi polio merupakan kesepakatan internasional yang ditetapkan sebagai salah satu resolusi dalam sidang World Health Assembly (WHA) Mei 1988 untuk dicapai secara global pada tahun 2020. Selain pencapaian dalam hal eradikasi polio, Indonesia kini juga sedang bersiap menuju eliminasi campak pada tahun 2020 dan kontrol rubella/CRS tahun 2020. Pemerintah Indonesia telah menetapkan target untuk eliminasi campak dan control rubella/CRS tahun 2020 sesuai dengan target global yaitu mencapai cakupan imunisasi campak dosis pertama lebih dari 95% di tingkat nasional dan Kota/Kota, menurunkan angka insiden campak menjadi kurang dari 5 per 1.000.000 penduduk setiap tahun dan mempertahankannya, menurunkan angka kematian campak minimal 95% dan melakukan konfirmasi laboratorium campak 100% terhadap kasus-kasus klinis dari seluruh Kota/Kota.

38 Pada tahun 2016 Indonesia divalidasi oleh Tim WHO dan Unicef dalam rangka pencapaian Eliminasi Tetanus Maternal Neonatal. Hasil dari validasi Indonesia dinyatakan sudah Eliminasi Tetanus Maternal Neonatal yang dibuktikan telah terimanya sertifikat Eliminasi Tetanus Maternal Neonatal oleh Menteri Kesehatan di Srilanka.

Indikator Renstra Kemenkes Tahun 2015-2019 yakni persentase penurunan Kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) dihitung dengan formulasi sebagai berikut:

Jumlah kasus PD3I tertentu pada baseline tahun 2013 - jumlah kasus PD3I tertentu pada tahun berjalan

X 100% Jumlah kasus PD3I tertentu pada baseline tahun 2013

Penentuan jenis penyakit berdasarkan program yang dilaksanakan. Indikator ini telah mencapai target pada tahun 2016. Persentase penurunan kasus dihitung dari baseline data jumlah kasus tahun 2013 yakni sebanyak 17.055 kasus yang terdiri dari Difteri 775 kasus, Tetanus Neonatorum 78 kasus, Campak 11.521 kasus, dan Pertussis 4.681 kasus. Pada tahun 2016 tercatat sebanyak 8.484 kasus yang terdiri dari Difteri sebanyak 340 kasus, Tetanus Neonatorum 14 kasus, Campak 6.890 kasus dan Pertusis 1.240 kasus. Terjadi penurunan kasus sebesar 8.571 kasus dengan presentase penurunan sebesar 50,26% dibandingkan angka kasus tahun 2013.

Grafik 3.11 Kasus PD3I Tahun 2013 dan Tahun 2016

39 Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, penurunan kasus PD3I pada tahun 2015 sebesar 41.1% dari target 7% dan tahun 2016 penurunan kasus sebesar 50.26% dari target 10% maka indikator ini telah mencapai target selama 2 tahun berjalannya Renstra Kemenkes tahun 2015-2019.

Tercapainya target ini antara lain didukung dengan adanya penguatan imunisasi rutin, penguatan surveilans PD3I, penguatan jejaring dan koordinasi mekanisme kerja antar lintas program dan sektor, peningkatan kapasitas petugas surveilans PD3I dan evaluasi pelaksanaan program surveilans PD3I di daerah dengan melakukan monitoring, pertemuan evaluasi dan melakukan feedback kinerja dengan upaya yang dilaksanakan antara lain:

1) Menyelenggarakan peningkatan kapasitas petugas surveilans PD3I 2) Mempertahankan kinerja Surveilans AFP dan PD3I lainnya

3) Melakukan penguatan jejaring kerja surveilans PD3I dengan klinisi dan laboratorium.

4) Melakukan pertemuan dengan Komite ahli Eradikasi Polio, Komite Surveilans AFP dan Komite Ahli Campak dan Rubela/CRS untuk mendapatkan rekomendasi untuk pencapaian indikator.

5) Mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan kasus PD3I berbasis website.

6) Monitoring dan Evaluasi surveilans PD3I

7) Melakukan feedback ke provinsi yang ditujukan pada Kepala Daerah dengan tembusan pada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.

Disamping Upaya diatas, penurunan PD3I juga didukung dengan adanya peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap.

Meski capaian indikator berhasil tetapi beberapa tantangan perlu menjadi perhatian antara lain:

1) Cakupan imunisasi yang belum merata di semua wilayah. 2) Penggantian petugas yang tinggi sehingga belum terlatih.

3) Kurangnya komitmen dan dukungan Pemerintah Daerah baik provinsi dan kab/kota untuk program surveilans PD3I melalui penganggaran yang tidak berkelanjutan

4) Penanggulangan KLB tidak tuntas dan efektif baik di tingkat provinsi maupun kab/kota sehingga kasus PD3I tetap ada.

5) Fasilitas pelayanan kesehatan swasta belum terlibat dalam sistem pelaporan.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan telah melakukan beberapa hal sebagai berikut:

1) Penguatan/revitalisasi komitmen Pemerintah Daerah melalui advokasi pada pemerintah daerah tentang dukungan anggaran dan operasional surveilans PD3I.

2) Mendorong Kepala Dinas dan jajarannya ikut memperkuat dan memantau kemajuan Erapo di wilayahnya.

40 3) Memberikan umpan balik rutin secara berjenjang terhadap capaian

indikator penemuan kasus PD3I.

4) Mengusulkan kegiatan surveilans PD3I untuk daerah melalui dana dekonsentrasi dan DAK.

5) Melibatkan praktek swasta dalam penemuan kasus secara bertahap serta mengaktifkan Surveilans Aktif Rumah Sakit (SARS) dan Hospital Record Review (HRR).

6) Meningkatkan peran jejaring organisasi profesi dalam penemuan kasus. 7) Mengadakan pertemuan validasi data di setiap tingkat.

8) Melakukan pengkajian efektifitas penanggulangan KLB. Grafik 3.12 Persentase Penurunan Kasus PD3I

Tahun 2015-2016

Grafik diatas menunjukan penurunan kasus yang sangat signifikan dari tahun 2015 dan 2016. Pada tahun 2015 ditargetkan penurunan kasus PD3I sebesar 7% capaian sebesar 41,1%. Pada tahun 2016 ditargetkan penurunan kasus PD3I sebesar 10% capaian sebesar 50,26%.

41 Grafik 3.13 Persentase Penurunan Kasus PD3I

Tahun 2015-2019

Dari grafik diatas terlihat bahwa capaian penurunan kasus PD3I tahun 2016 telah melampaui target yang ditetapkan ditahun 2019.

2. Persentase kab/kota yang mempunyai kebijakan kesiapsiagaan dalam penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat yang berpotensi wabah Kemudahan mobilisasi manusia sebagai hasil kemajuan teknologi transportasi selain memberi dampak positif, memberikan pula pengaruh negatif berupa ancaman mudahnya importasi dan eksportasi penyakit menular dari satu negara ke negara lainnya, misalnya Polio, Severe Acute Respiratory Sindrome (SARS), Flu Burung, Middle East Respiratory Syndrome (MERS), Ebola, dan sebagainya.

Pada tahun 2007, 194 negara anggota Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) telah menyetujui upaya pencegahan penyebaran penyakit lintas negara melalui pemberlakuan International Health Regulations (IHR) tahun 2005. IHR 2005 bertujuan untuk mencegah, melindungi, dan mengendalikan penyebaran penyakit lintas negara dengan melakukan tindakan sesuai dengan risiko kesehatan yang dihadapi tanpa menimbulkan gangguan yang berarti bagi lalu lintas dan perdagangan internasional. Regulasi internasional ini mewajibkan setiap negara untuk meningkatkan kapasitas inti guna mencapai tujuan IHR.

Pendekatan surveilance, preparedness, dan response harus dibangun di setiap wilayah untuk menjamin suatu negara mempunyai kemampuan tersebut. Hal itu berarti penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan di setiap pintu gerbang negara harus berjalan dengan optimal. Indonesia dinilai oleh WHO telah

42 mengimplementasikan IHR 2005 secara penuh. Sejalan dengan hal tersebut, kekarantinaan kesehatan di wilayah (provinsi, kabupaten, dan kota) harus dapat mengikuti pemberlakukan IHR tersebut. Karantina di wilayah mencakup karantina rumah, karantina rumah sakit (isolasi), karantina wilayah administratif dan pembatasan aktivitas sosial hingga skala besar harus dapat dijalankan dengan kerjasama lintas sektor. Oleh karenanya dipandang penting sekali bagi suatu daerah memiliki rencana darurat (contigency plan) dalam rangka menghadapi kedaruratan kesehatan yang potensial terjadi di wilayah masing-masing. IKU ini bertujuan untuk mengukur kesiapan wilayah (kabupaten dan kota) dalam mengatasi kedaruratan kesehatan yang pada akhirnya dapat mengurangi kejadian kesakitan dan kematian akibat penyakit menular. IKU ini akan dianggap semakin baik bila realisasinya lebih besar atau lebih tinggi dari yang ditargetkan.

Persentase kab/kota yang mempunyai kebijakan kesiapsiagaan dalam penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat yang berpotensi wabah dihitung dengan formulasi sebagai berikut:

Jumlah kabupaten/kota yang mempunyai kebijakan kesiapsiagaan dalam penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat yang berpotensi wabah

X 100% Jumlah kabupaten/kota yang memiliki pintu masuk internasional

Dari 106 Kab/Kota yang memiliki pintu masuk internasional, sebanyak 29 Kab/Kota telah memiliki rencana kontijensi pada tahun 2015 dan 21 Kab/Kota pada tahun 2016 sehingga sampai dengan tahun 2016 tercapai 50 kab/kota yang menyusun dokumen rencana kontinjensi. Capaian persentase kab/kota yang mempunyai kebijakan kesiapsiagaan dalam penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat yang berpotensi wabah pada tahun 2016 adalah sebesar 47,2%. Angka capaian ini cukup baik karena telah melebih target yang ditetapkan pada tahun 2016 sebesar 46%.

Keberhasilan meraih capaian yang cukup baik pada tahun 2016 didukung oleh sejumlah langkah atau upaya, yaitu:

1) Menyelenggarakan sosialisasi dan advokasi IHR 2005, kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap faktor risiko kedaruratan kesehatan masyarakat; 2) Melakukan penilaian capaian kapasitas inti IHR 2005 di pintu masuk negara,

wilayah dan nasional dengan melibatkan lintas sektor terkait;

3) Melaksanakan workshop penyusunan rencana kontijensi mencakup konsep pedoman penyusunan rencana kontijensi (RenKon), identifikasi potensi kedaruratan kesehatan masyarakat (KKM), membangun komitmen lintas sektor, dan pengumpulan data dasar;

4) Melaksanakan kegiatan penyusunan RenKon KKM dengan melibatkan seluruh lintas sektor Pemda terkait;

5) Review dan update dokumen kebijakan yang telah disusun di kabupaten/kota.

43 Meski hasilnya cukup baik, sejumlah tantangan masih perlu menjadi perhatian Kementerian Kesehatan. Tantangan tersebut adalah:

1) Adanya persepsi dari lintas sektor yang beranggapan bahwa dokumen kebijakan yang telah disusun bersama hanya menjadi tanggung jawab dinas kesehatan saja;

2) Kualitas dokumen kebijakan yang disusun pada tahun 2016 sangat dipengaruhi oleh komitmen dan dukungan pendanaan. Komponen anggaran penyusunan kebijakan bervariasi antar daerah. Sebagian daerah memiliki anggaran yang cukup untuk membiayai seluruh proses penyusunan kebijakan sejak dari penyusunan draft hingga sosialisasinya, namun daerah lainnya memiliki anggaran terbatas yang hanya cukup untuk membiayai penyusunan kebijakan dan sosialisasi saja. Terjadinya efisiensi anggaran menyebabkan jadwal penyusunan RenKon menjadi bergeser. Dalam menghadapi tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan telah melakukan hal-hal sebagai berikut:

1) Melakukan advokasi dan atau sosialisasi kepada Pemda untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan komitmen;

2) Mendorong Pemda kabupaten/kota agar menghilangkan hambatan administrasi untuk menjamin terlaksananya kegiatan sesuai rencana yang telah disusun, termasuk memberikan bimbingan dan pendampingan agar kabupaten/kota dapat menerapkan metoda pelaksanaan kegiatan penyusunan kebijakan yang fleksibel, termasuk menerapkan desain kegiatan yang interaktif (diskusi, table top discussion, simulasi, dan sebagainya);

3) Mendorong Pemda kabupaten/kota untuk menggali sumber daya baik manusia, dana, dan sumber daya lainnya yang diperlukan untuk kesiapsiagaan dalam penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat yang berpotensi wabah.

Bila dilihat perbandingan target dan capaian persentase kab/kota yang mempunyai kebijakan kesiapsiagaan dalam penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat yang berpotensi wabah pada tahun 2015-2106 dapat dilihat pada grafik berikut.

44 Grafik 3.14 Persentase Kabupaten/Kota yang Mempunyai Kesiapsiagaan

dalam Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Berpotensi Wabah Tahun 2015-2016

29 27.4 46 47.2

2015 2016

PERSENTASE KABUPATEN/KOTA YANG MEMPUNYAI KESIAPSIAGAAN DALAM PENANGGULANGAN KEDARURATAN KESEHATAN MASYARAKAT YANG

BERPOTENSI WABAH

Target Capaian

Bila dilihat perbandingan target dan capaian persentase kab/kota yang mempunyai kebijakan kesiapsiagaan dalam penanggulangan kedaruratan kesehatan masyarakat yang berpotensi wabah pada tahun 2015-2019 dapat dilihat pada grafik berikut.

Grafik 3.15 Persentase Kabupaten/Kota yang Mempunyai Kesiapsiagaan dalam Penanggulangan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Berpotensi Wabah

45

3. Persentase penurunan prevalensi merokok pada usia ≤18 Tahun

Merokok merupakan salah satu faktor risiko bersama (common risk factor) yang dapat menyebabkan Penyakit Tidak Menular (PTM). Namun merokok merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Bila prevalensi merokok dapat diturunkan, diharapkan angka prevalensi PTM dapat diturunkan pula. IKU ini bertujuan untuk menggambarkan upaya pengendalian PTM dan faktor risikonya dengan melihat tingkat keparahan kondisi konsumsi rokok di masyarakat. Usia anak-anak dan remaja dipilih sebagai ukuran karena usia tersebut rentan terpengaruh oleh kebiasaan merokok orang dewasa, dan merokok pada usia tersebut mempercepat dampak buruk merokok bagi kesehatan. IKU akan dianggap baik bila realisasinya lebih rendah atau lebih kecil dari yang ditargetkan.

Persentase penurunan prevalensi merokok pada usia ≤18 Tahun dihitung dengan formulasi sebagai berikut:

Jumlah anak di Indonesia yang berusia 10-18 tahun yang diketahui sebagai perokok melalui pengambilan data faktor risiko baik berupa survei atau metoda lainnya

X 100% Jumlah semua anak Indonesia yang berusia 10-18 tahun di Indonesia yang terdata di tahun

tersebut (data BPS)

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan terdapat 90 juta jiwa atau 36,3% penduduk di Indonesia adalah perokok. Dari jumlah tersebut, 12% diantaranya adalah perokok usia remaja (13-15 tahun). Sedangkan perokok usia 10-14 tahun meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Dari data yang ada diketahui 239.000 perokok adalah anak-anak berusia kurang dari 10 tahun. Survei yang dilaksanakan pada tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi merokok pada usia ≤18 tahun mencapai 7,2%. Data tersebut telah dijadikan baseline oleh Kementerian Kesehatan dalam menetapkan target capaiannya pada tahun 2015 sebesar 6,9% dan pada akhir tahun 2019 sebesar 5,4%.

Berdasarkan hasil survei yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan pada tahun 2016, prevalensi merokok pada usia ≤18 tahun sebesar 8,8%. Jika dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi merokok mencapai 7.2%, yang berarti terjadi peningkatan prevalensi merokok pada usia ≤18 tahun. Jika dibandingkan dengan target tahun 2016 sebesar 6,4%, maka indikator prevalensi merokok pada usia ≤18 tahun tidak mencapai target.

46 Grafik 3.16 Persentase penurunan prevalensi merokok pada usia ≤ 18 tahun

Tahun 2016-2019

Capaian yang tidak mencapai target disebabkan oleh hal sebagai berikut: 1) Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan bahayanya konsumsi rokok; 2) Belum maksimalnya advokasi dan sosialisasi tentang pengendalian

konsumsi tembakau;

3) Belum optimalnya koordinasi lintas program dan lintas sektor untuk mengendalikan konsumsi tembakau;

4) Masih terbatasnya daerah yang memiliki dan mengimplementasikan kebijakan KTR.

5) belum maksimalnya pemberian edukasi, diseminasi informasi, serta dukungan kebijakan dari jajaran pemerintahan.

Tren realisasi dan target Persentase penurunan prevalensi merokok pada usia ≤18 belum dapat disajikan karena pada tahun 2015 tidak diperoleh data capaiannya. Namun berdasarkan data hasil survei pada tahun 2013 bila dibandingkan dengan hasil survei pada tahun 2016 telah terjadi peningkatan prevalensi merokok pada usia ≤18 dari 7,2% pada tahun 2013, meningkat menjadi 8,8% pada tahun 2016. Untuk menurunkan prevalensi merokok pada usia ≤18 pada akhir tahun 2019 sebesar 5,4% sesuai yang ditargetkan perlu komitmen dan kerja keras dari semua elemen di pemerintahan dan masyarakat.

Dalam rangka mengetahui kinerja Persentase penurunan prevalensi merokok pada usia ≤18 Tahun, Kementerian Kesehatan menetapkan dua indikator rutin guna memantau kemajuan upaya yang mendukung penurunan prevalensi merokok pada usia ≤18 Tahun, yaitu: 1) persentase kab/kota yang memiliki peraturan tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR); dan 2) persentase kab/kota yang melaksanakan kebijakan KTR minimal 50% di sekolah.

Perkembangan kemajuan indikator persentase kab/kota yang memiliki peraturan tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) pada tahun 2015 dan 2016 terlihat pada grafik berikut.

47 Grafik 3.17 Persentase Kab/Kota yang Memiliki Peraturan tentang KTR

Tahun 2015-2016

Perkembangan kemajuan indikator persentase kab/kota yang melaksanakan kebijakan KTR minimal 50% di sekolah pada tahun 2015 dan 2016 terlihat pada grafik berikut.

Grafik 3.18 Persentase Kab/Kota yang Melaksanakan Kebijakan KTR Minimal 50% di Sekolah

Tahun 2015-2016

Meskipun perkembangan capaian kinerja kedua indikator rutin tersebut menunjukkan tren positif namun belum cukup untuk mendukung pencapaian target Persentase penurunan prevalensi merokok pada usia ≤18 Tahun. Masih kurang dari 50% kabupaten atau kota di Indonesia yang memiliki peraturan tentang KTR dan melaksanakan kebijakan KTR minimal 50% di sekolah.

Kementerian Kesehatan telah mengupayakan langkah-langkah untuk mengatasi kendala-kendala dalam mencapai target IKU ini, antara lain dengan:

48 1) Meningkatkan pemberian edukasi dan penyebaran informasi kepada

masyarakat melalui berbagai media cetak maupun elektronik;

2) Me-review dan mengevaluasi implementasi KTR di daerah yang telah memiliki peraturan KTR;

3) Melakukan sosialisasi dan tindak lanjut hasil review implementasi KTR; 4) Mendorong lintas sektor terkait untuk melakukan penegakan hukum (law

enforcement) secara konsisten di daerah yang telah memiliki kebijakan dan peraturan terkait;

5) Mendorong pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian dampak rokok dan implementasi KTR;

6) Meningkatkan kapasitas tenaga, baik tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan guna implementasi KTR di sekolah;

7) Menyediakan dan meningkatkan kapasitas layanan Quit Line (layanan konsultasi jarak jauh upaya berhenti merokok);

8) Mendorong peningkatan komitmen daerah untuk mendukung pengendalian konsumsi tembakau;

9) Menyusun pedoman survailans KTR, pedoman penyakit dampak rokok, dan sebagainya;

10) Mensinergikan kegiatan pengendalian tembakau melalui Strategis MPOWER (6 langkah kongkrit dalam pengendalian tembakau dan mencegah kematian akibat tembakau), yang mencakup monitoring konsumsi produk tembakau dan perlindungan terhadap paparan asap rokok.

3) Sasaran Strategis 3: Meningkatnya Akses dan Mutu Fasilitas Pelayanan Kesehatan