Capaian kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Tahun 2014, diuraikan masing-masing tiap sasaran strategis dan indikator kinerja, meliputi; capaian kinerja tahun 2014, perbandingan antara capaian kinerja tahun 2014 dengan empat tahun sebelumnya (2010,2011,2012, dan 2013), membandingkan kinerja sampai dengan tahun 2014 dengan target Renstra BPN-RI 2010-2014, analisa kegagalan dan keberhasilan.
Sedangkan analisa efisiensi terhadap pemanfaatan sarana prasarana, sumberdaya manusia dan sumberdaya dana/anggaran disampaian secara umum pada lingkup BPN RI yang dihubungnkan dengan kegiatan yang dilaksanakan. Berikut disampaikan uraian capaian kinerja:
19 Percepatan legalisasi aset merupakan sebuah keharusan untuk mewujudkan fokus dari arah pembangunan nasional di bidang pertanahan. Masih banyaknya bidang tanah yang belum terdaftar dan diberikan legalitas asetnya berupa sertipikat hak atas tanah, akan berpengaruh terhadap kepastian hukum atas tanah, baik bagi masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Terwujudnya jaminan kepastian hukum hak atas tanah yang dilaksanakan pada tahun 2014 berdasarkan penetapan kinerja terdiri dari enam kegiatan yaitu Prona, Petani, Transmigrasi, UKM, Nelayan dan Menpera dengan target sebagaimana disajikan pada tabel 2. Capaian legalisasi asset sebagaimana disajikan pada tabel 4.
Tabel 3. Capaian Kinerja Sasaran Strategis 1 No
.
Indikator Kinerja Target Kinerja Realisasi Capaian Kinerja
1 Persen penambahan jumlah bidang tanah yang dilegalisasi
2,07 % (866.491 Bidang)
1,99%
(828.830 Bidang)
95,76%
Kinerja tahun 2014 juga dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya yaitu tahun 2010, 2011, 2012, dan 2013 dengan maksud untuk mengkaji trend peningkatan atau penurunan kinerja yang dilakukan BPN-RI, harapan yang ingin dicapai organisasi tentu saja jika masih rendah capaiannya akan diupayakan meningkat, jika sudah tinggi capaiannya harus dipertahankan. Perbandingan Kinerja ini disajikan pada tabel 4 dan grafik perbandingan capaian kinerja dari empat tahun sebelumnya disajikan pada gambar 13.
20
Tabel 4. Capaian Kinerja Legalisasi Asset 2014 dan selama 4 tahun terakhir
NO TAHUN
TARGET (Bidang)
REALISASI (Bidang)
CAPAIAN KINERJA (%)
1 2014 865.491 828.830
% Peningkatan 2,07 1,99 95,76
2 2013 928.693 839.918
% Peningkatan 2,27 2,06 90,44
3 2012 1,077.655 933.821
% Peningkatan 2,70 2,34 86,65
4 2011 1,848.488 1.427.501
% Peningkatan 4,80 3,71 77,23
5 2010 1,632.740 976.824
% Peningkatan 4,35 2,60 59,83
Jumlah 6.353.067 5.006.894 78,81
Gambar 13. Persentase capaian kinerja legalisasi Aset tahun 2010-2014
Bahwa target kinerja tahunan merupakan sub sistem dari rencana kinerja selama lima tahun yang tertuang dalam Renstra, untuk mengukur apakah kinerja yang dicapai telah mengarah pada rencana lima tahunan yang ditetapkan maka di sajikan data capaian kinerja sampai akhir 2014 dibandingkan dengan target kinerja pada renstra.
21 Target Kinerja yang direncanakan pada Rencana Strategis 2010-2014 yaitu bertambahnya bidang tanah yang dilegalisasi sebanyak 4.063.430 bidang, sedangkan penambahan yang berhasil dilakukan sampai dengan akhir 2014 sebanyak 5.006.894 bidang (capaian 123,22%). Penambahan ini sebagaimana gambar 14. Sedangkan capaian kinerja masing-masing kegiatan terlihat pada gambar 15.
Gambar 14. Perbandingan target Renstra dan Capaian 2010-2014
Gambar 15. Persentase pencapaian legalisasi Aset berdasarkan kegiatan Tahun 2014
Disamping legalisasi asset berasal dari Rupiah Murni (RM) sebagaimana diuraikan sebelumnya Badan Pertanahan Nasional juga melakukan legalisasi aset melalui kegiatan PNBP yang dananya bersumber dari pemohon. Pada tahun 2014 legalisasi output asset melalui PNBP sebanyak 1.105.552 Bidang, jika diakumulasi capaian
22 legalisasi asset yang dilakukan BPN sebanyak, 1.844.382 Bidang selama tahun 2014, Proporsi legalisasi asset berdasarkan sumberdana ini dapat dilihat pada gambar 16.
Gambar 16. Persentase capaian legalisasi asset Rupiah Murni (RM) dan PNBP
Ukuran Capaian kinerja legalisasi asset selama tahun 2014 tentunya tidak hanya dilihat dari penetapan kinerja tahun 2014 saja, karena penghitungan terhadap peningkatan jaminan kepastian hukum hak atas tanah merupakan akumulasi dari jumlah total bidang tanah yang dilegalisasi dari berbagai sumber dana (Rupiah Murni dan PNBP), jika digabungkan maka BPN-RI selama tahun 2014 berhasil meningkatkan persentase bidang tanah yang dilegalisasi sebanyak 4,42 % atau sebanyak 1.844.382 Bidang.
Gambar 15 menunjukkan ada kegiatan yang capaian kinerjanya masih rendah yaitu kegiatan legalisasi aset transmigrasi (52,46%), berapa faktor yang berhasil diidentifikasi sebagai rendahnya capaian kinerja ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Transmigrasi :
Subjek dan obyek kegiatan ditentukan oleh instansi yang membidangi Transmigrasi tanpa memperhitungkan kondisi terakhir sumbyek dan objek tanah
Ketika pengukuran ternyata sebagian obyek masuk kawasan hutan, hal ini disebabkan karena penetapan batas kawasan hutan dilakukan setelah lokasi dijadikan Transmigrasi.
2. Prona:
Masyarakat enggan membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah (BPHTB) karena dianggap memberatkan
23 3. UKM
Ketika pengukuran ternyata sebagian obyek masuk kawasan hutan, untuk dialihkan ke lokasi lain sudah tidak ada obyeknya lagi
Subyek dan obyek tidak disertakan oleh SKPD yang membidangi UKM
Pengumpulan data/berkas dari SKPD sangat sulit dilakukan
Meskipun banyak hambatan dan masalah yang dihadapi dalam kegiatan legalisasi asset dalam rangka meningkatkan jaminan kepastian hukum hak atas tanah yang dilakukan BPN RI selama tahun 2014, ternyata dengan usaha keras dan semangat pengabdian yang baik, telah membuat capaian kinerja total (RM dan PNBP) bisa mencapai 123,22%. Selama lima tahun terakhir, hal ini tidak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan. Banyak upaya yang ditempuh namun yang dianggap signifikan dalam menentukan keberhasilan diidentifikasi sebagai berikut :
- Melakukan perencanaan pekerjaan teknis dan keuangan secara baik, sehingga dapat diterapkan diseluruh wilayah NKRI dengan kondisi wilayah yang berbeda-beda;
- Terus menerus meningkatkan kemampuan teknis terhadap SDM yang berkaitan langsung dengan kegiatan legalisasi aset;
- Menambahkan sentuhan teknologi yang dapat mendukung percepatan dan akurasi produk yang dihasilkan;
- Secara intensif melakukan koordinasi dan sinkronisasi dengan pihak lain di luar BPN-RI dalam pelaksanaan kegiatan;
- Terus menerus memberikan pemahaman yang dibutuhkan masyarakat terhadap kegiatan yang dilakukan;
- Dilakukan monitoring dan evaluasi secara periodik terhadap pelaksanaan kegiatan di lapangan;
- Memanfaatkan SKMPP secara optimal untuk mengetahui capaian kinerja yang up to date.
24 Yang dimaksud dengan “tanah yang terindikasi terlantar” adalah tanah hak atau dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan, tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya yang belum dilakukan identifikasi dan penelitian. Untuk memperoleh data tanah terindikasi terlantar dilaksanakan kegiatan inventarisasi
Dalam pengukuran kinerja penetapan tanah terlantar ditargetkan sampai dengan akhir tahun 2014 sebanyak 161 Surat Keputusan Penetapan Tanah Terlantar dari Kepala BPN-RI. Sampai dengan akhir 2013 telah berhasil ditetapkan sebanyak 96 SK, artinya untuk mencapai target 161 SK dalam tahun 2014 akan ditetapkan sebanyak 65 SK.
Selama tahun 2014 berhasil ditetapkan sebanyak 15 SK. Maka capaian kinerja selama tahun 2014 sebagaimana tabel 5.
Tabel 5. Capaian Kinerja Sasaran Strategis 2
No. Indikator Kinerja Target Kinerja Realisasi Kinerja 1 Jumlah keputusan
penetapan tanah terlantar yang ditetapkan
161 SK – 96 SK = 65 SK 15 SK 23,77 %
Meskipun capaian kinerja penetapan tanah terlantar relatif kecil, namun berbanding terbalik dengan capaian kinerja pencegahan penelantaran tanah, secara skematis capain kedua kinerja tersebut diilustrasikan pada skema berikut :
25 Skema pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2011