LAPORAN KINERJA TAHUN 2014
KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/
BADAN PERTANAHAN NASIONAL
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI (i) DAFTAR TABEL (ii) DAFTAR GAMBAR (iii) KATA PENGANTAR (v) IKHTISAR EKSEKUTIF (vii)
I PENDAHULUAN (1) A. Gambaran Umum (1)
B. Permasalahan dan Aspek Strategis (5) C. Metode Pengumpulan Data Kinerja (9) D. Tujuan Penulisan Pelaporan Kinerja (11)
II PERENCANAAN KINERJA (12) A. Metode Pengukuran Kinerja (12) B. Perjanjian Kinerja Tahun 2014(15) C. Target Kinerja Lainnya (17) III AKUNTABILITAS KINERJA (18)
A. Capaian Kinerja (18)
B. Analisa Efisiensi Penggunaan Sumber Daya (43) C. Akuntabilitas Keuangan (49)
D. Capaian Kinerja Lainnya (50)) IV PENUTUP (57)
LAMPIRAN
ii
Daftar
Tabel 1 Perjanjian Kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Tahun 2014 (16) Tabel 2. Rincian Target Jumlah Tanah dilegalisasi (17)
Tabel 3. Capaian Kinerja Sasaran Strategis 1 (19)
Tabel 4. Capaian Kinerja Legalisasi Asset 2014 dan selama 4 tahun terakhir (21) Tabel 5. Capaian Kinerja Sasaran Strategis 2 (24)
Tabel 6. Capaian kinerja konsolidasi tanah tahun 2014 (29) Tabel 7. Output konsolidasi tanah Tahun 2010 – 2014 (30) Tabel 8. Capaian Kinerja Konsolidasi Tanah Tahun 2014 (32) Tabel 9. Realisasi Pencapaian Kinerja 2010-2014 (34)
Tabel 10. Capaian Kinerja Penyelesaian Kasus Pertanahan Tahun 2014 (36) Tabel 11. Peningkatan cakupan Peta Dasar, Peta Tematik dan Peta Potensi (39) Tabel 12. Capaian Kinerja cakupan Peta Dasar, Peta Tematik dan Peta Potensi (39) Tabel 13. Kategorisasi Indeks Kepuasan Masyarakat (43)
Tabel 14. Jenis Program Prioritas dan Realisasi Input dan Output Tahun 2014 (46) Tabel 15. Tingkat Efisiensi Anggaran Terhadap Output Program Prioritas (47) Tabel 16. Realisasi dan Sisa pada Input dan Output Program Prioritas (48)
Tabel 17. Realisasi Anggaran Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Tahun 2014 (49) Tabel 18. Nilai Hak Tanggungan (HT) dari Produk Sertipikat HAT yang Dikeluarkan oleh BPN
selama tahun 2014 (54)
Tabel
iii
Gambar 1. Kontribusi BPN-RI dalam pencapaian Program Prioritas Nasional (1) Gambar 2. Sasaran Strategis Badan Pertanahan Nasional tahun 2014.(2) Gambar 3. Kondisi Kantor Unit Kerja (2)
Gambar 4. Kondisi Fisik Bangunan Kantor Milik BPN-RI (3) Gambar 5. Pegawai Berdasarkan Lokasi Kerja (4)
Gambar 6. Proporsi Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin (4) Gambar 7. Pegawai Menurut Tingkat Pendidikan (4)
Gambar 8. Permasalahan Pertanahan Strategis (5) Gambar 9. Sasaran Stretegis BPN-RI (7)
Gambar 10. Luas Wilayah dan Cakupan Peta (8)
Gambar 11. Cakupan Peta Dasar Pertanahan Sampai dengan Akhir 2014 (9) Gambar 12. Skematis sistem Pelaporan pada SKMPP (10)
Gambar 13. Persentase capaian kinerja legalisasi Aset tahun 2010-2014 (20) Gambar 14. Perbandingan target Renstra dan Capaian 2010-2014 (21)
Gambar 15. Persentase pencapaian legalisasi Aset berdasarkan kegiatan Tahun 2014 (21) Gambar 16. Persentase capaian legalisasi asset Rupiah Murni (RM) dan PNBP (22)
Gambar 17. Skema pencegahan dan penetapan tanah terlantar (25) Gambar 18. Kinerja usulan untuk penetapan (26)
Gambar 19. Capaian Kinerja pencegahan tanah terlantar (26)
Gambar 20. Perbandingan Target Renstra dengan Capaian 2010-2014 (27) Gambar 21. Perbandingan Capaian (%) Konsolidasi Tanah Tahun 2010-2014 (30)
Gambar 22. Perbandingan Capaian Konsolidasi Tanah Renstra dan Ketersediaan Anggaran(30) Gambar 23. Capaian Kinerja (%) Redistribusi Tanah Tahun 2010 -2014 (33)
Gambar 24. Perbandingan capaian Kinerja berupa output Redistribusi Tanah tahah sampai dengan 2014 dibandingkan Renstra (33)
Gambar 25. Penyelesaian kasus pertanahan berdasarkan katagori penyelesaian (36)
Gambar 26. Capaian Kinerja Penyelesaian Kasus Pertanahan 2010 - 2014 dibandingkan dengan Tahun 2010 – 2013 (37)
Gambar 27. Capaian Penyelesaian Kasus Pertanahan Sampai Tahun 2014 dibandingkan dengan Renstra (37)
Gambar
iv Gambar 29. Capaian Kinerja Pemetaan Dasar sampai Tahun 2014 dibandingkan dengan Renstra
(40)
Gambar 30. Realisasi Pencapaian PNBP 2010-2014 (50) Gambar 31. Realisasi PNBP (Rupiah) 2010-2014 (50)
Gambar 32. Perbandingan Legalisasi Aset 2014 Rupiah Murni dengan PNBP (51) Gambar 33. Perbandingan antara APBNP 2014 dengan Capaian Hak Tanggungan (56)
v
KATA PENGANTAR
Laporan Kinerja (LKj) atau dulu dikenal dengan Laporan Akuntabilitas Kinerja (LAKIP) sejatinya merupakan dokumen pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dan fungsi BPN-RI kurun waktu tahun 2014 kepada pemangku kepentingan (stakeholder) yaitu Masyarakat Indonesia. Laporan Kinerja ini juga dapat di upload di website BPN RI yaitu : www.bpn.go.id.
Laporan Kinerja BPN RI Tahun 2014 merupakan tahun terakhir dari Pelaksanaan Rencana Strategis (RENSTRA) BPN RI periode tahun2010-2014 sehingga secara akumulutatif capaian kinerja dari tahun 2010-2014 menggambarkan juga capaian kinerja Renstra BPN RI yang dimaksud. Dengan kata lain, asumsi-asumsi penyusunan Rencana Strategis tahun 2010-2014 telah disimpulkan benar ataukah ada yang kurang tepat. Hasil evaluasi semacam ini sangat berguna untuk merumuskan asumsi-asumsi yang relevan untuk penyusunan perencanaan yang akan datang.
Penyusunan Laporan Kinerja BPN RI Tahun 2014 telah mengacu pada Peraturan Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014. Dalam Peraturan ini penyusunan laporan kinerja tampak lebih sederhana, padat dan komunikatif dibandingkan penyusunan laporan akuntabilitas tahun-tahun sebelumnya. Hal ini Nampak dari struktur pelaporan yang secara tepat telah mampu merangkum semua capaian kinerja. Tentu saja capaian kinerja sangat berbeda dengan capaian hasil. Dalam capaian kinerja, penekanannya pada sasaran dan indikator program. Seluruh sasaran dan indikator kegiatan tentu mengarah pada capaian sasaran dan indikator program. Manfaat atau benefit tercermin dari rumusan sasaran dan indikator program di setiap level eselon satu. Dalam laporan kinerja ini menggunakan seluruh bahan-bahan yang ada dalam setiap sasaran dan indikator program baik di pusat dan Daerah.
vi Telah diupayakan dengan segala daya baik pikiran dan tenaga bahkan melalui diskusi yang hangat, penyusunan Laporan Kinerja BPN RI Tahun 2014 masih dijumpai kekurangan disana sini. Namun besar harapan, kiranya Laporan Kinerja BPN RI Tahun 2014 diapresiasi seluruh masyarakat sehingga upaya menjadikan tanah dan pertanahan bagi sebesar-besarnya kemamuran rakyat Indonesia segera terwujud. Laporan Kinerja ini juga menjadi bahan masukan yang sangat baik untuk perbaikan mutu perencanaan ke depan.
Jakarta, 2015 MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/
KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL,
FERRY MURSYIDAN BALDAN
vii
EKSEKUTIF
Indonesia merupakan salah satu dari 10 Negara di dunia yang memiliki wilayah daratan terluas.
Dengan luas daratan mencapai 191,09 juta Hektar. Luasnya wilayah daratan ini merupakan berkah dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus pekerjaan besar bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mengelolanya. Seiring dengan pertambahan penduduk dan pergeseran ke Negara IndustrI telah menyebabkan semakin strategis dan semakin rumitnya pengelolaan pertanahan di Indonesia. Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia melaksanakan sebagian tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional, regional, dan sektoral; melalui tugas dan fungsi dalam perumusan kebijakan dan pelaksanaan manajemen dan pelayanan pertanahan. Dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya ini BPN-RI harus dapat menjawab permasalahan-permasalahn strategis bidang pertanahan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini yaitu; tingginya konflik pertanahan, berlarutnya penyelesaian kasus pertanahan, rendahnya cakupan peta dasar, kurangnya SDM pengukuran, sulitnya pengadaan tanah untuk kepentingan umum, sebagian besar petani kusasi lahan dibawah setengah hektar serta permasalahan tanah adat dan tanah ulayat, berkurangnya kasus pertanahan.
Pada tahun 2010 – 2014, Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia berkonstribusi dalam pencapaian Program Prioritas Nasional yaitu Prioritas nomor 5 (penanggulangan kemiskinan), nomor 6 (infrastruktur), nomor 7 (iklim investarsi dan iklim usaha), nomor 8 (energi) dan nomor 10 (daerah tertinggal, terdepan, terluar dan pasca konflik), untuk kontribusi tersebut BPN-RI menetapkan enam sasaran stretegis yang ditetapkan pada Renstra 2010-2014, yaitu (1) terwujudnya jaminan kepastian hukum hak atas tanah (dengan indikator kinerja utama adalah jumlah bidang tanah yang dilegalisasi), (2) terkendalinya penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (dengan indikator kinerja utama; (3) terciptanya pengaturan dan penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah secara optimal(dengan indikator kinerja utama jumlah bidang tanah yang ditata melalui konsolidasi tanah dan jumlah bidang tanah yang ditata melalui redistribusi tanah),(4) berkurangnya kasus pertanahan (dengan indicator kinerja utama Jumlah kasus pertanahan yang terselesaikan) (5) terpenuhinya infrastruktur pertanahan(Jumlah cakupan peta Dasar, peta Tematik dan peta Potensi), (6) meningkatnya kualitas layanan pertanahan (dengan indikator kinerja utama Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap pelayanan legalisasi aset tanah).
Capaian kinerja BP-RI tahun 2014 terhadap kegiatan untuk mendukung sasaran trategis diuraikan sebagai berikut ; jumlah bidang tanah yang dilegalisasi dari target 866.461 bidang terealisasi sebanyak 828.830 bidang (target kinerja untuk penambahan jumlah relatif sertipikat tanah di seluruh Indonesia dari target 2,07% terealisasi 1,99% atau capaian kinerja 97,76%) terjadi peningkatan capai kinerja selama lima tahun sebelumnya masing-masing 59,83% (tahun 2010), 77,23%(tahun 2011), 86,65%(tahun 2012), 90,44%(tahun 2013). Target Renstra 2010-2014 yaitu sebanyak 4.063.430
viii untuk kegiatan legalisasi asset transmigrasi, hal ini disebabkan adanya perbedaan data subyek dan obyek tanah yang disampaikan, beberapa wilayah transmigrasi telah ditetapkan sebagai kawasan hutan.
Capaian kinerja terkendalinya penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah berupa kepustusan tanah terlantar yang ditetapkan sampai dengan akhir 2014 sebanyak 161 Surat Keputusan (SK) tercapai penambahanya sebanyak 15 SK dari target penambahan 65 SK artinya capaian kinerja 23,77%. Ada dua prespektif dalam pelaksanaan penertiban dan pendayagunaan tanah terlantar, pertama prespektif penetapan tanah terlantar yang diukur dari jumlah usulan penetapan tanah terlantar capaian kinerja sebanyak 89,13%, sedangkan prespektif pencegahan 116,67%. Besarnya pencapaian prespektif pencegahan ini diyakini telah menyebabkan para pemegang hak menjadi sangat serius dan berupaya maksimal dalam memanfaatkan lahan yang mereka kuasai sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian hak. Hal ini terlihat dari berkurangnya secara drastis luas tanah terlantar darai 7,3 juta ha (tahun 2010) menjadi 4 juta ha (akhir 2014). Jika diperhatikan maka dari tahun 2010 -2014 capaian kinerja pencegahan tanah terlantar lebih dominan. Di dalam Renstra 2010-2011 target luas untuk diindtifikasi dan diteliti 379.500 ha capaian selama 2010-2014 seluas 2.050.088 ha atau 540%. Kendala utama dalam penetapan tanah terlantar adalah adanya perlawanan hukum yang dilakukan dari pemegang hak untuk membatalkan SK penetapan tanah terlantar. Namun jumlah penetapan bukanlah otcome yang diharapkan, keberhasilan dari seluruh rangkaian kegiatan ini adalah berkurangnya luas tanah terlantar dari tahun ke tahun di Indonesia dan meyakinkan kalau semua sumberdaya lahan telah digunakan secara optimal untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
Capaian kinerja terciptanya pengaturan dan penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah secara optimal (dengan indikator kinerja utama jumlah bidang tanah yang ditata melalui konsolidasi tanah dan jumlah bidang tanah yang ditata melalui redistribusi tanah). Dari target 11.250 bidang tanah (29,97% dari rencana di Renstra 2010-2014) tercapai 4.287 bidang (11,42%) dengan capaian kineja 38,11%. Terjadi penurunan capaian kinerja dari tahun 2010-2014.
Untuk mengantisipasinya BPN-RI telah melakukan kegiatan pendukung berupa pemetaan potensi konsolidasi tanah untuk mengetahui daerah yang berpotensi sebagai lokasi kegiatan prioritas tahun berikutnya. Kegiatan redistribusi tanah dari target 154.075 bidang (6,59%) tercapai 138.181 bidang (5,91%), artinya capaian kinerja 89,68%. Secara umum capaian kinerja selama tahun 2010-2014 cukup tinggi, namun jika dibandingkan dengan rencana dalam Renstra tingkat capaianya 70,15%.
Capaian kinerja berkurangnya kasus pertanahan (dengan indikator kinerja utama jumlah kasus pertanahan yang terselesaikan, dari target 3.018 kasus (target sangat optimis 100%) dapat diselesaikan 2.910 kasus (96,42%) artinya capaian kinerja 96,42%. Capaian kinerja selama lima tahun cukup tinggi. Target Renstra 2010-2014 sebanyak 13.955 kasus yang berhasil diselesaikan sebanyak 11.736 kasus (84,09%). Keberhasilan kinerja ini terlihat dari jumlah tidak bertambahnya jumlah kasus dari tahun ketahun, kerana pasti ada kasus-kasus baru yang muncul dari waktu kewaktu. Hal terpenting adalah penambahan kasus tidak lebih banyak dari kasus yang diselesaikan.
Capaian kinerja terpenuhinya infrastruktur pertanahan (jumlah cakupan peta Dasar, peta Tematik dan peta Potensi, dari target yang ditetapkan 1.453.475 Ha (ada penambahan cakupan 3,77%
ix 2010-2014 capaiannya 277,66%.
Capaian kinerja meningkatnya kualitas layanan pertanahan (dengan indikator kinerja utama Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap pelayanan legalisasi aset tanah), target nilai A, tercapia B.
Capaian kinerja lainnya adalah legalisasi asset dari PNBP (dana dari pemohon) tahun 2014 tercapai sebanyak 1.105.552 bidang, artinya lebih banyak dari legalisasi asset yang dibiayai Rumpiah Murni.
Disamping itu dalam tahun 2014 hak tanggungan yang tercapai sebanyak 658.63 Trilium, angka yang pastastif untuk mendukung peningkatan ekonomi di Negara kita. Efisiensi penggunaan angaran rata- rata 100%, Sedangkan efisiensi SDM (Petugas Ukur ) 290% (menjadi mendesak untuk dilakukan penambahan jumlah petugas ukur). Realisasi penggunaan angaran di tahun 2014 adalah sebesar 84,74%.
1 I. PENDAHULUAN
A. Gambaran Umum
Indonesia merupakan salah satu dari 10 Negara di dunia yang memiliki wilayah daratan terluas. Dengan luas daratan mencapai 191,09 juta Hektar. Luasnya wilayah daratan ini merupakan berkah dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus pekerjaan besar bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mengelolanya. Seiring dengan pertambahan penduduk dan pergeseran ke Negara industri telah menyebabkan semakin strategis dan semakin rumitnya pengelolaan pertanahan di Indonesia. Luas wilayah Indonesia adalah lebih kurang 840 juta Ha, terdiri 191 Juta Ha daratan dan 649 juta Ha lautan. Dari luas daratan, sekitar 124,19 juta hektar (64,93%) masih berupa hutan seperti hutan lebat, hutan sejenis, dan hutan belukar. Sisanya seluas 67,08 juta hektar (35,07%) telah dibudidayakan dengan berbagai kegiatan.
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia mempunyai tugas menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang pertanahan baik secara nasional, regional dan sektoral, diatur pada Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2013.
Pada tahun 2010 – 2014, Badan Pertanahan Nasional berkonstribusi dalam pencapaian Program Prioritas Nasional yaitu Prioritas nomor 5, 6, 7, 8 dan 10 :
Gambar 1. Kontribusi BPN-RI dalam pencapaian Program Prioritas Nasional
Berdasarkan, Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 (dinyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat), UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (di dalamnya dijelaskan bahwa Negara menjamin hak-hak masyarakat atas bumi,
2 air dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya), dan TAP MPR Nomor IX/2001 tentang Pembaruan Agraria, dan Pengelolaan Sumber Daya Alam yang selanjutnya menetapkan prinsip-prinsip dan arah kebijakan pembaruan agraria dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan, kegiatan Reforma Agraria telah menjadi komitmen Pemerintah Republik Indonesia dalam upaya memperbaiki permasalahan utama pada ketimpangan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (P4T).
Dalam pelaksanaan anggaran tahun 2014 Badan Pertanahan Nasional menetapkan enam sasaran strategis Sesuai Renstra 2010 – 2014, dan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 tahun 2012 dalam mencapai visi organisasi dinyatakan sebagai berikut :
Gambar 2. Sasaran Strategis Badan Pertanahan Nasional tahun 2014.
Gambar 3. Kondisi Kantor Unit Kerja
3 Terdapat 334 satker yang telah memiliki tanah dan bangunan sendiri 238 satker dalam kondisi baik, 69 satker kondisi rusak ringan dan 27 satker rusak berat,
Gambar 4. Kondisi Fisik Bangunan Kantor Milik BPN-RI
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia memiliki tugas dan fungsi pokok sebagai lembaga Pemerintah yang melakukan penataan dan pengelolaan bidang pertanahan di seluruh wilayah Republik Indonesia. (Berdasarkan mandate Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 jo Perpres Nomor 85 Tahun 2012). Wilayah kewenangan Badan Pertanahan Nasional meliputi wilayah nasional daratan non hutan seluas kurang lebih 67,08 juta Ha. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi di atas, pada akhir tahun 2014 BPN RI memiliki pegawai negeri sipil sebanyak 19.786 orang dengan rincian (1) Pegawai BPN Pusat berjumlah 1.218 orang, atau 7,14 %; (2) sebanyak 3.972 orang atau sekitar 18,39 %, tersebar di 33 Kantor Wilayah BPN Propinsi, serta (3) sebanyak 16.085 orang 74,47%. tersebar di 426 Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota dan 29 Perwakilan Kantor Pertanahan seluruh Indonesia. Perlu disampaikan bahwa pada awal tahun 2014 jumlah SDM BPN RI justru mengalami pengurangan yang cukup signifikan sehingga tinggal sekitar 19.786 orang.
4
Gambar 5. Pegawai Berdasarkan Lokasi Kerja
Gambar 6. Proporsi Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin
Gambar 7. Pegawai Menurut Tingkat Pendidikan
5 B. Permasalahan dan Aspek Strategis
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia berada dalam suatu posisi yang sejalan dengan tujuan nasional yaitu:
untuk mewujudkan tanah bagi sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat. Dengan demikian program-program yang direncanakan dan dilaksanakan merupakan langkah kongkrit dalam tahapan yang terukur dan berkesinambungan dalam mewujudkan tujuan nasional.
Isu strategis dalam pengelolaan pertanahan di Indonesia yang perlu mendapatkan perhatian serius dan ditindaklanjuti secara berkesinambungan sebagaimana disajikan pada gambar 8.
Gambar 8. Permasalahan Pertanahan Strategis
Masalah pertanahan di Indonesia tidak bisa di tangani dan diselesaikan dengan menggunakan pendekatan hukum saja, melainkan dengan pendekatan holistik (komperhensif) seperti politik, sosial budaya, ekonomi (kesejahteraan) dan ekologi. Yang tidak kalah penting adalah penanganan dan penyelesaian konflik dilapangan harus didukung oleh kelembagaan pertanahan yang kuat dan berwibawa, koordinasi antar instansi pemerintah yang efektif, administrasi pertanahan yang berbasis teknologi dan penerapan prinsip-prinsip good governance, manajemen konflik yang efektif dan efisien,
6 strategi penanganan dan penyelesaian yang cepat, tepat dan efektif ditopang sumber daya manusia yang handal, baik di pusat maupun di daerah.
Saat ini penyelesaian sengketa atau permasalahan terkait bidang pertanahan di Indonesia dapat dilakukan baik melalui jalur pengadilan maupun di luar pengadilan (mediasi). Kebijakan Pemerintah saat ini lebih mengutamakan penyelesaian di luar pengadilan terlebih dahulu, apabila tidak dapat terselesaikan melalui jalur mediasi, penyelesaian dapat dilanjutkan ke acara pengadilan. Jalur pengadilan itu dapat berupa Pengadilan Umum, Pengadilan Tata Usaha Negara (misalnya pada kasus tuntutan pembatalan sertifikat tanah), serta Pengadilan Agama dalam hal sengketa tanah warisan dan tanah wakaf. Setiap konflik pertanahan kemudian diselesaikan dalam pengadilan umum, Dalam praktiknya, tiga pengadilan yang berbeda tersebut dapat melakukan acara peradilan pada kasus yang sama dengan hasil keputusan yang berbeda-beda.
Intensitas kebutuhan pembangunan yang semakin meningkat serta kondisi makin terbatasnya ketersediaan tanah, secara signifikan berakibat pada semakin sulitnya optimalisasi pemanfaatan penggunaan tanah, khususnya bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum. Yang terjadi kemudian adalah pertentangan kepentingan antar pihak atas sebidang tanah yang sama. Akibatnya, Pemerintah pun mengalami kesulitan dalam melakukan proses pembebasan lahan, terutama terkait eksekusi pembebasan penguasaan lahan dan pembiayaannya yang menjadi sangat mahal. Itu semua terlihat melalui banyaknya kasus pembebasan lahan yang berlarut-larut. Di sisi lain, hak penduduk yang lebih membutuhkan dan mampu memanfaatkan bidang tanah tersebut tidak terpenuhi, sehingga kesejahteraan yang seharusnya akan didapat menjadi tidak terwujud.
Dari hasil evaluasi sementara, Badan Pertanahan Nasional secara ideal diharapkan memiliki kekuatan pegawai negeri sipil sebanyak 26.000 orang, dengan proporsi kompetensi ideal untuk juru ukur diharapkan 30 % dari jumlah pegawai. Saat ini jumlah sumber daya manusia juru ukur masih sangat kurang, yaitu baru mencapai sekitar 1.689 orang dari jumlah pegawai keseluruhan sebanyak 20.184 orang atau hanya 8%.
Cakupan Peta Dasar Pertanahan secara nasional saat ini hanya meliputi 40%
dari luas total wilayah daratan nasional. Ketersediaan peta dasar pertanahan menjadi penting karena merupakan dasar dalam penyusunan peta pertanahan lainnya, seperti peta pendaftaran tanah, peta zona nilai tanah, peta land use, peta neraca penggunaan tanah kesesuaian rencana, dan peta cadangan tanah.
Berdasarkan Data November 2014, jumlah total tanah yang telah bersertipikat mencapai 41.711.790 bidang atau (48,61%) dari total bidang tanah nasional ± 85.803.826 bidang.
7 Indonesia memiliki hukum pertanahan yang mengatur secara jelas mengenai tata cara baik kepemilikan maupun proses jual beli. Namun penerapan hukum pertanahan nasional tidak dapat dilakukan khususnya pada wilayah ulayat/adat terutama wilayah timur Indonesia. Adanya perbedaan penerapan hukum tanah di berbagai wilayah di Indonesia seringkali menimbulkan konflik pertanahan. Sehingga sistem tenurial dan pola kerjasama pemanfaatan berdasarkan hukum pertanahan nasional tidak dapat dilakukan dengan serta merta tanpa upaya matrikulasi penyamaan pemahaman konsep terlebih dahulu.
Dalam rangka menyikapi permasalahan strategis pertanahan dan untuk mewujudkan cita-cita rakyat Indonesia, maka Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia telah menetapkan Rencana Strategis 2010 - 2014, sebagai perwujudan dari prosedur penyelenggaraan pemerintahan yang dibebankan kepada setiap Kementerian dan atau Lembaga Pemerintah, setiap periode lima tahunan diwajibkan menyusun dokumen Rencana Strategis Pembangunan Nasional di bidang Kementerian/ Lembaga masing masing.
Dalam Rencana Strategis 2010 – 2014 telah ditetapkan capaikan kinerja yang akan dilaksanakan selama lima tahun dalam bentuk sasaran strategis yang terukur oleh Indikator Kinerja Utama (IKU), dalam penjabarannya untuk pelaksanaan tahun 2014 Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia telah menetapkan target kinerja, dengan enam sasaran strategis yang hendak dicapai, sasaran strategis yang ditetapkan sebagaimana Gambar 9.
Gambar 9. Sasaran Strategis BPN-RI
TANAH
DIPERGUNAKAN BAGI SEBESAR-BESARNYA KEMAKMURAN RAKYAT
(Pasal 33 UUD 1945)
8 Dalam hal cakupan peta dasar pertanahan, dari luasan 191.09 juta Ha wilayah daratan NKRI, komposisi data yang dimiliki BPN RI dengan dalam bentuk peta dasar dan potensi data yang dapat di sajikan pada gambar 10.
Gambar 10. Luas Wilayah dan Cakupan Peta
Unit kerja pusat (BPN RI) melaksanakan kegiatan pemetaan pertanahan.
Informasi spasial peta dasar pertanahan diperlukan untuk mengidentifikasi cakupan wilayah nasional yang telah memiliki peta dasar pertanahan. Total luas wilayah nasional diperkirakan mencapai sekitar 191,09 juta hektar. Dari jumlah luasan tersebut, data citra satelit yang telah tersedia mencapai 102,51 juta hektar (53,64%), sedangkan sisanya belum tersedia data citra satelit. Kemudian dari data citra satelit yang tersedia dan telah diolah menjadi Peta Dasar Pertanahan serta tersedia dengan format digital dengan cakupan seluruh wilayah nasional sampai dengan Bulan November 2013 adalah sekitar
9 25,44 juta Ha atau sekitar 13,31% dari total luas wilayah nasional secara keseluruhan (191,09 juta hektar). BPN melalui Direktorat Pemetaan Dasar telah menyusun peta dasar pertanahan tersebut pada 3 (tiga) besaran skala berbeda, yakni sekitar 19 Juta ha dipetakan pada peta skala 1:10.000, sekitar 4 Juta hektar pada peta skala 1:2.500, dan sekitar 2 Juta hektar pada skala 1:1.000. Data tersebut mencakup wilayah kabupaten/kota di seluruh Indonesia sedangkan 77,07 juta hektar sisanya belum diolah menjadi peta dasar pertanahan.
Gambar 11. Cakupan Peta Dasar Pertanahan Sampai dengan Akhir 2014
C. Metode Pengumpulan Data Kinerja
Untuk mendapatkan data kinerja dengan tingkat presisi yang memenuhi standar keakuratan dan dapat dipertangungjawabkan dalam menyusun sebuah data pelaporan yang baik dan benar, Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia telah memilki dan terus mengembangkan Sistem pelaporan Online yang berbasis Web, dan terintegrasi dengan seluruh Satuan Kerja, mulai dari Pusat, Provinsi dan Kabupaten Kota diseluruh Indonesia.
10 Sistem ini dikenal dengan nama Sistem Kendali Mutu Program Pertanahan (SKMPP), secara skematis sistem Pelaporan ini sebagaimana terlihat pada Gambar 12.
Gambar 12. Skematis sistem Pelaporan pada SKMPP
Aplikasi SKMPP adalah perangkat lunak yang dibangun dan dikembangkan sebagai instrumen dalam rangka pengendalian pelaksanaan program pertanahan dan kinerja yang terintegrasi di dalam infrastruktur jaringan komunikasi Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. Program yang dipantau dalam aplikasi SKMPP saat ini berjumlah 49 kegiatan pertanahan, diantara kegiatan tersebut, beberapa ditetapkan sebagai kegiatan prioritas Sesuai dengan Renstra Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, Indikator Kinerja Utama (IKU) serta Indikator Kinerja Kegiatan (IKK).
Tujuan SKMPP ini adalah terwujudnya Sistem Informasi Eksekutif tentang Program Pertanahan yang mudah digunakan, sebagai sistem Informasi yang cepat, akurat, dan up to date, serta sebagai sistem pengendalian. Secara eksplisit mereka yang ditugaskan dalam pengelolaan SKMPP ditetapkan dalam Surat Keputusan secara berjenjang, yaitu sebagai penagungjawab di Tingkat Pusat Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama, di Provinsi Kepala Bagian Tata Usaha Kator Wilayah dan di tingkat Kabupaten/Kota Kepala Sub.Bagian Tata Usaha Kantor Pertanahan, sedangkan petugas yang melakukan entri data masing-masing tingkatan ditunjuk admin. Untuk menjamin keakuratan data sistem ini mengharuskan menyampaikan eviden (bukti) atas semua rangkaian laporan kinerja yang disampaikan.
11 Disamping itu untuk lebih menjamin akurasi data, maka Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia secara periodik melakukan monitoring langsung ke lapangan atas kebenaran data yang disampaikan, termasuk melakukan validasi data kepada masyarakat dan pihak lainnya yang berhubungan dengan kegiatan yang dilaporkan.
D. Tujuan Penulisan Pelaporan Kinerja
Laporan Kinerja tahun 2014 Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia ini disusun dengan tujuan (1). Memberikan informasi kinerja yang terukur kepada pemberi mandat dalam hal ini Presiden Reupublik Indonesia atas kinerja yang telah dan seharusnya dicapai selama tahun 2014, (2). Sebagai upaya perbaikan berkesinambungan (continuous improvement) bagi Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia untuk meningkatkan kinerjanya di masa yang akan datang.
Dengan system SKMPP, pemerintah Indonesia melalui Kementerian ATR/BPN telah menjadi salah satu Negara di dunia yang memiliki system pemantauan, pengendalian dan pelaporan pelaksanaan dan kendala program pertanahan, yang berbasis web dan terintegrasi antara ukuran kinerja input, proses dan output.
12 II. PERENCANAAN KINERJA
A. Metode Pengukuran Kinerja
Indikator Kinerja Utama (IKU) yang digunakan untuk mengukur capaian kinerja disusun agak fleksibel, karena hasil kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia cukup sulit untuk ditetapkan dalam periode satu tahun, hal ini disebabkan capaian dan outcomenya merupakan akumulasi dan salalu berhubungan dari capaian kinerja sejak berdirinya NKRI sampai dengan akhir tahun pelaporan. Misalnya dalam hal jumlah bidang tanah yang dilegalisasi penghitungan kinerjanya berupa penambahan bidang tanah yang terdaftar dalam satu tahun anggaran dibandingkan dengan total jumlah bidang tanah yang terdaftar, demikian juga dengan infrastruktur pertanahan, dalam hal sengketa pertanahan umumnya sengketa mulai timbul dan terselesaikan memakan waktu lebih dari satu tahun, bahkan puluhan tahun, itupun banyak sekali pihak yang berperan dalam penyelesaiannya, terhadap indikator penyelasaian sengketa ukuran kinerja dibuat dalam dua prespektif pertama dalam hal pencegahan munculnya masalah baru dan kedua dalam hal upaya penyelesaian masalah.
Dalam hal penenetapan tanah sebagai tanah terlantar juga harus dipandang dalam dua prespektif yaitu kinerja dalam hal pencegahan dan kinerja penetapan sebagai tanah terlantar berupa pembatalan hak, oleh karena itu dalam menghitung capaian kinerja agak spesifik dibandingkan kinerja instansi pemerintah yang lain. Cara dalam penghitungan kinerja yang berbasis Outcome dan persamaan yang digunakan akan diuraikan lebih lanjut untuk masing-masing sasaran strerategis diuraikan sebagai berikut:
1. Terwujudnya Jaminan Kepastian Hukum Hak Atas Tanah
Diukur dengan indikator bertambahnya Jumlah bidang tanah yang dilegalisasi, dengan asumsi semakin bertambahnya jumlah bidang tanah yang bersertipikat maka akan terjadi juga peningkatan jaminan kepastian hukum hak atas tanah, penambahanya sendiri dapat diukur dari dua pendekatan, yaitu berapa penambahan jumlah bidang tanah yang bersertifikat dari awal berdirinya negara kesatuan republik indonesia dibandingkan capaiaan selama tahun 2014. Persamaan yang digunakan dalam asumsi ini adalah
13 Sedangkan pendekatan kedua adalah membandingkan capaian kinerja Selama 5 Tahun (sesuai Renstra 2010 - 2014) dengan capaian kinerja yang dicapai selama tahun 2014, persamaan yang digunakan sebagai berikut:
2. Terkendalinya penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah Penatapan tanah indikasi terlantar memiliki dua makna strategis hubungannya dengan kinerja, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2010 tentang Penertiban dan Pedndayagunaan Tanah Terlantar, bahwa tujuan pengendalian dan pendayagunaan tanah terlantar tidak hanya penertiban tapi juga pencegahan terjadinya tanah terlantar. Untuk mengukur kinerja dari penetapan Surat Keputusan Tanah terlantar digunakan persamaan sebagai berikut:
Untuk mengukur kinerja dalam prespektif pencegahan terjadinya tanah terlantar digunakan persamaan sebagai berikut:
Prespektif pencegahan ini merupakan capaian kinerja, karena setelah dilakukan tahapan awal yaitu identifikasi tanah terlantar, Panitia C dan Peringatan-peringatan, telah memacu pemegang hak yang diindikasikan memiliki tanah terlantar melakukan upaya maksimal untuk segera memanfaatkan lahan yang diindikasikan terlantar, sehingga tidak diusulkan untuk ditetapkan sebagai tanah terlantar. Upaya pencegahan ini tentunya sangat besar manfaatnya terutama dalam mencegah kerugian yang ditimbulkan baik kerugian ekonomi, sosial, politik kerana adanya tanah terlantar.
3. Terciptanya pengaturan dan penataan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah secara optimal
Indikator yang digunakan adalah Jumlah bidang tanah yang ditata melalui Konsolidasi Tanah dan Jumlah bidang tanah yang ditata melalui Redistribusi Tanah, Persamaan yang digunakan dalam mengukur kinerja untuk konsolidasi tanah sebagai berikut:
14
Sedangkan untuk mengukur kinerja redistribusi tanah dengan persamaan sebagai berikut :
4. Berkurangnya Kasus Pertanahan
Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja yaitu Jumlah kasus pertanahan yang terselesaikan, menggunakan persamaan sebagai berikut:
5. Terpenuhinya infrastruktur pertanahan
Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja yaitu Jumlah cakupan Peta Dasar, Jumlah cakupan Peta Tematik dan Jumlah cakupan Peta Potensi. Persamaan yang digunakan untuk pengukuran kinerja sebagai berikut:
6. Meningkatnya kualitas layanan pertanahan
Badan Pertanahan Nasional melakukan kajian indeks kepuasan masyarakat secara rutin, dengan harapan mampu memberikan gambaran mengenai kualitas pelayanan masyarakat. Indeks tersebut diperoleh berdasarkan pendapat masyarakat terhadap pelayanan legalisasi aset tanah, dalam hal ini diprioritaskan untuk kegiatan prona.
Pengolahan data indeks kepuasan masyarakat mengikuti petunjuk dalam keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/25/M.PAN/2/2004
15 tanggal 24 Februari 2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah.
Pada tahun 2014, pengukuran IKM dilaksanakan dalam 2 (dua) tahap, tahap I dilakukan pada bulan Maret di 32 Provinsi dan tahap II di 31 provinsi dengan mengambil sampel 1 (satu) kantor pertanahan kabupaten/kota di setiap provinsi. IKM terhadap pelayanan legalisasi aset tanah dinilai dari 13 unsur sebagimana lampiran 5. Untuk mengukur indeks kepuasan masyarakat secara nasional menggunakan persamaan sebagai berikut:
Menggunakan persamaan-persamaan di atas dalam mengukur keberhasilan pencapaian sasaran strategis dan agar indikator kinerja memenuhi kriteria spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, relevan, dan sesuai dengan kurun waktu tertentu. Penetapan kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Tahun 2014.
Disamping penelitian terhadap indeks kepuasan masyarakat oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, pada bagian analisa juga disajikan beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan pihak lain (Skripsi, Tesis, dan hasil penelitian lainnya) terhadap kepuasan masyarakat terhadap layanan yang diberikan.
B. Perjanjian Kinerja Tahun 2014
Perjanjian kinerja (dikutip dari penetapan kinerja Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, tanggal 12 Maret 2014) yang merupakan dokumen berisikan pernyataan dari Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dalam rangka pelaksanaan program selama tahun 2014, yang memuat indikator kinerja. Dalam pelaksanaan perjanjian kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia melaksanakannya secara berjenjang. Pimpinan Eselon I melakukan perjanjian kinerja kepada Kepala Badan, Pimpinan Eselon II di Lingkungan BPN RI melakukan perjanjian kinerja dengan Para Deputi, Pimpinan Eseleon II di Wilayah (Kepala Kantor Wilayah) membuat perjanjian kinerja dengan Sekretaris Utama. Perjanjian ini terus berjenjang dari Kakanwil ke Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.
Dari perjanjian yang disusun secara hirarki tersebut maka setiap unit kerja dapat secara pasti mengetahui kinerja yang diharapkan. Dalam melaksanakan tugas dan fungsi perihal komitmen, evaluasi, penilaian keberhasian dan kegagalan, pemberian
16 penghargaan dan sanksi, monitoring, evaluasi dan supervisi serta penetapan sasaran kinerja pegawai. Perjanjian kinerja tahun 2014 disajikan pada tabel 1.
Tabel 1. Perjanjian Kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Tahun 2014
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
(1) (2) (3) (4)
1. Terwujudnya Jaminan Kepastian Hukum Hak Atas Tanah
Jumlah bidang tanah yang dilegalisasi
866.491 2,07
Bidang %
2. Terkendalinya
penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah
Jumlah keputusan
penetapan tanah terlantar yang ditetapkan
161 Penetapan Pencegahan
SK 60 % 40 %
3. Terciptanya pengaturan dan penataan
penguasaan, pemilikan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah secara optimal
Jumlah bidang tanah yang ditata melalui Konsolidasi Tanah
11.250 29,97
Bidang
%
Jumlah bidang tanah yang ditata melalui Redistribusi Tanah
154.075 6,59
Bidang %
4. Berkurangnya Kasus Pertanahan
Jumlah kasus pertanahan yang terselesaikan
3.018 100
Kasus
% 5. Terpenuhinya infrastruktur
pertanahan
a. Jumlah cakupan Peta Dasar
259.475 Ha
3,77 % b. Jumlah cakupan
Peta Tematik
495.000 Ha
c. Jumlah cakupan Peta Potensi
699.000 Ha
6. Meningkatnya kualitas layanan pertanahan
Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap pelayanan legalisasi aset tanah dengan nilai Sangat Baik (A)
A
17 Sasaran strategis 1 Terwujudnya Jaminan Kepastian Hukum Hak Atas Tanah, dengan indikator kinerja utama Jumlah bidang tanah yang dilegalisasi dan target sebanyak 866.491 bidang ditetapkan capaian kinnerjanya target capaian 2,07 % pada tahun 2014 (artinya jika tercapai target 866.491 bidang maka terjadi peningkatan jumlah tanah yang dilegalisasi di seluruh NKRI sebanyak 2,07 % dibandingkan pencapaian sampai dengan akhir 2013) terdiri dari beberapa kegiatan sertipikasi, namun produk akhirnya sama-sama legalisasi aset berupa sertipikasi tanah, dirinci berdasarkan Indikator Kinerja Kegiatan sebagai mana tabel 2.
Tabel 2. Rincian Target Jumlah Tanah dilegalisasi
NO PROGRAM/ KEGIATAN TARGET
( Bidang )
1 Prona 757.552
2 Petani 24.234
3 Transmigrasi 33.244
4 UKM 19.392
5 Nelayan 24.549
6 Menpera (MBR) 7.500
JUMLAH 866.491
C. Target Kinerja Lainnya
Kinerja lain yang dilaksanakan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yang merupakan kegiatan yang sifatnya sangat strategis yaitu :
- Kegiatan Legalisasi Asset yang didukung oleh Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),
- Peran Produk pertanahan dalam memberikan EVA (economic value added) Pembangunan
Kegiatan diatas merupakan kegiatan yang juga sangat berhubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap dalam pencapaian Program Prioritas Nasional.
18 III. AKUNTABILITAS KINERJA
Akuntabilitas Kinerja merupakan perwujudan kewajiban Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia untuk mempertangungjawabkan keberhasilan maupun kegagalan pelaksanaan Program dan Kegiatan yang telah dilaksanakan selama tahun 2014. Sebagai bahan evaluasi kinerja juga dibandingkan dengan kinerja empat tahun sebelumnya serta kinerja yang diharapkan pada rencana strategis yang telah disusun yaitu tahun 2010-2014.
Pada bagian ini juga akan diuraikan tentang Akuntabilitas dalam penggunaan anggaran serta Capaian Kinerja lainnya yang dicapai Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agraria/pertanahan dan tata ruang untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan, dalam hal mewujudkan Kehadiran Negara dalam Kebijakan Pertanahan Sebagai Ruang Hidup Rakyat
A. Capaian Kinerja
Capaian kinerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Tahun 2014, diuraikan masing-masing tiap sasaran strategis dan indikator kinerja, meliputi; capaian kinerja tahun 2014, perbandingan antara capaian kinerja tahun 2014 dengan empat tahun sebelumnya (2010,2011,2012, dan 2013), membandingkan kinerja sampai dengan tahun 2014 dengan target Renstra BPN-RI 2010-2014, analisa kegagalan dan keberhasilan.
Sedangkan analisa efisiensi terhadap pemanfaatan sarana prasarana, sumberdaya manusia dan sumberdaya dana/anggaran disampaian secara umum pada lingkup BPN RI yang dihubungnkan dengan kegiatan yang dilaksanakan. Berikut disampaikan uraian capaian kinerja:
19 Percepatan legalisasi aset merupakan sebuah keharusan untuk mewujudkan fokus dari arah pembangunan nasional di bidang pertanahan. Masih banyaknya bidang tanah yang belum terdaftar dan diberikan legalitas asetnya berupa sertipikat hak atas tanah, akan berpengaruh terhadap kepastian hukum atas tanah, baik bagi masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Terwujudnya jaminan kepastian hukum hak atas tanah yang dilaksanakan pada tahun 2014 berdasarkan penetapan kinerja terdiri dari enam kegiatan yaitu Prona, Petani, Transmigrasi, UKM, Nelayan dan Menpera dengan target sebagaimana disajikan pada tabel 2. Capaian legalisasi asset sebagaimana disajikan pada tabel 4.
Tabel 3. Capaian Kinerja Sasaran Strategis 1 No
.
Indikator Kinerja Target Kinerja Realisasi Capaian Kinerja
1 Persen penambahan jumlah bidang tanah yang dilegalisasi
2,07 % (866.491 Bidang)
1,99%
(828.830 Bidang)
95,76%
Kinerja tahun 2014 juga dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya yaitu tahun 2010, 2011, 2012, dan 2013 dengan maksud untuk mengkaji trend peningkatan atau penurunan kinerja yang dilakukan BPN-RI, harapan yang ingin dicapai organisasi tentu saja jika masih rendah capaiannya akan diupayakan meningkat, jika sudah tinggi capaiannya harus dipertahankan. Perbandingan Kinerja ini disajikan pada tabel 4 dan grafik perbandingan capaian kinerja dari empat tahun sebelumnya disajikan pada gambar 13.
20
Tabel 4. Capaian Kinerja Legalisasi Asset 2014 dan selama 4 tahun terakhir
NO TAHUN
TARGET (Bidang)
REALISASI (Bidang)
CAPAIAN KINERJA (%)
1 2014 865.491 828.830
% Peningkatan 2,07 1,99 95,76
2 2013 928.693 839.918
% Peningkatan 2,27 2,06 90,44
3 2012 1,077.655 933.821
% Peningkatan 2,70 2,34 86,65
4 2011 1,848.488 1.427.501
% Peningkatan 4,80 3,71 77,23
5 2010 1,632.740 976.824
% Peningkatan 4,35 2,60 59,83
Jumlah 6.353.067 5.006.894 78,81
Gambar 13. Persentase capaian kinerja legalisasi Aset tahun 2010-2014
Bahwa target kinerja tahunan merupakan sub sistem dari rencana kinerja selama lima tahun yang tertuang dalam Renstra, untuk mengukur apakah kinerja yang dicapai telah mengarah pada rencana lima tahunan yang ditetapkan maka di sajikan data capaian kinerja sampai akhir 2014 dibandingkan dengan target kinerja pada renstra.
21 Target Kinerja yang direncanakan pada Rencana Strategis 2010-2014 yaitu bertambahnya bidang tanah yang dilegalisasi sebanyak 4.063.430 bidang, sedangkan penambahan yang berhasil dilakukan sampai dengan akhir 2014 sebanyak 5.006.894 bidang (capaian 123,22%). Penambahan ini sebagaimana gambar 14. Sedangkan capaian kinerja masing-masing kegiatan terlihat pada gambar 15.
Gambar 14. Perbandingan target Renstra dan Capaian 2010-2014
Gambar 15. Persentase pencapaian legalisasi Aset berdasarkan kegiatan Tahun 2014
Disamping legalisasi asset berasal dari Rupiah Murni (RM) sebagaimana diuraikan sebelumnya Badan Pertanahan Nasional juga melakukan legalisasi aset melalui kegiatan PNBP yang dananya bersumber dari pemohon. Pada tahun 2014 legalisasi output asset melalui PNBP sebanyak 1.105.552 Bidang, jika diakumulasi capaian
22 legalisasi asset yang dilakukan BPN sebanyak, 1.844.382 Bidang selama tahun 2014, Proporsi legalisasi asset berdasarkan sumberdana ini dapat dilihat pada gambar 16.
Gambar 16. Persentase capaian legalisasi asset Rupiah Murni (RM) dan PNBP
Ukuran Capaian kinerja legalisasi asset selama tahun 2014 tentunya tidak hanya dilihat dari penetapan kinerja tahun 2014 saja, karena penghitungan terhadap peningkatan jaminan kepastian hukum hak atas tanah merupakan akumulasi dari jumlah total bidang tanah yang dilegalisasi dari berbagai sumber dana (Rupiah Murni dan PNBP), jika digabungkan maka BPN-RI selama tahun 2014 berhasil meningkatkan persentase bidang tanah yang dilegalisasi sebanyak 4,42 % atau sebanyak 1.844.382 Bidang.
Gambar 15 menunjukkan ada kegiatan yang capaian kinerjanya masih rendah yaitu kegiatan legalisasi aset transmigrasi (52,46%), berapa faktor yang berhasil diidentifikasi sebagai rendahnya capaian kinerja ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Transmigrasi :
Subjek dan obyek kegiatan ditentukan oleh instansi yang membidangi Transmigrasi tanpa memperhitungkan kondisi terakhir sumbyek dan objek tanah
Ketika pengukuran ternyata sebagian obyek masuk kawasan hutan, hal ini disebabkan karena penetapan batas kawasan hutan dilakukan setelah lokasi dijadikan Transmigrasi.
2. Prona:
Masyarakat enggan membayar Bea Perolehan Hak Atas Tanah (BPHTB) karena dianggap memberatkan
23 3. UKM
Ketika pengukuran ternyata sebagian obyek masuk kawasan hutan, untuk dialihkan ke lokasi lain sudah tidak ada obyeknya lagi
Subyek dan obyek tidak disertakan oleh SKPD yang membidangi UKM
Pengumpulan data/berkas dari SKPD sangat sulit dilakukan
Meskipun banyak hambatan dan masalah yang dihadapi dalam kegiatan legalisasi asset dalam rangka meningkatkan jaminan kepastian hukum hak atas tanah yang dilakukan BPN RI selama tahun 2014, ternyata dengan usaha keras dan semangat pengabdian yang baik, telah membuat capaian kinerja total (RM dan PNBP) bisa mencapai 123,22%. Selama lima tahun terakhir, hal ini tidak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan. Banyak upaya yang ditempuh namun yang dianggap signifikan dalam menentukan keberhasilan diidentifikasi sebagai berikut :
- Melakukan perencanaan pekerjaan teknis dan keuangan secara baik, sehingga dapat diterapkan diseluruh wilayah NKRI dengan kondisi wilayah yang berbeda-beda;
- Terus menerus meningkatkan kemampuan teknis terhadap SDM yang berkaitan langsung dengan kegiatan legalisasi aset;
- Menambahkan sentuhan teknologi yang dapat mendukung percepatan dan akurasi produk yang dihasilkan;
- Secara intensif melakukan koordinasi dan sinkronisasi dengan pihak lain di luar BPN-RI dalam pelaksanaan kegiatan;
- Terus menerus memberikan pemahaman yang dibutuhkan masyarakat terhadap kegiatan yang dilakukan;
- Dilakukan monitoring dan evaluasi secara periodik terhadap pelaksanaan kegiatan di lapangan;
- Memanfaatkan SKMPP secara optimal untuk mengetahui capaian kinerja yang up to date.
24 Yang dimaksud dengan “tanah yang terindikasi terlantar” adalah tanah hak atau dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan, tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya yang belum dilakukan identifikasi dan penelitian. Untuk memperoleh data tanah terindikasi terlantar dilaksanakan kegiatan inventarisasi
Dalam pengukuran kinerja penetapan tanah terlantar ditargetkan sampai dengan akhir tahun 2014 sebanyak 161 Surat Keputusan Penetapan Tanah Terlantar dari Kepala BPN-RI. Sampai dengan akhir 2013 telah berhasil ditetapkan sebanyak 96 SK, artinya untuk mencapai target 161 SK dalam tahun 2014 akan ditetapkan sebanyak 65 SK.
Selama tahun 2014 berhasil ditetapkan sebanyak 15 SK. Maka capaian kinerja selama tahun 2014 sebagaimana tabel 5.
Tabel 5. Capaian Kinerja Sasaran Strategis 2
No. Indikator Kinerja Target Kinerja Realisasi Kinerja 1 Jumlah keputusan
penetapan tanah terlantar yang ditetapkan
161 SK – 96 SK = 65 SK 15 SK 23,77 %
Meskipun capaian kinerja penetapan tanah terlantar relatif kecil, namun berbanding terbalik dengan capaian kinerja pencegahan penelantaran tanah, secara skematis capain kedua kinerja tersebut diilustrasikan pada skema berikut :
25 Skema pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2011
KINERJA PENCEGAHAN KINERJA PENETAPAN
Gambar 17. Skema pencegahan dan penetapan tanah terlantar
Dalam pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar yang merupakan dasar dalam pelaksanaan kegiatan penertiban
Identifikasi dan penelitian
Panitia C
Peringatan I
Peringatan II
Peringata III
PEMEGANG HAK TELAH MENGGUNAKAN SESUAI
MAKSUD DAN TUJUAN PEMBERIAN HAK
TIDAK DIUSULKAN SEBAGAI TANAH TERLANTAR
Identifikasi dan penelitian
Panitia C
Peringatan I
Peringatan II
Peringatan III
Usulan Penetapan Tanah Terlantar
PENETAPAN TANAH TERLANTAR
TANAH CADANGAN UNTUK NEGARA
(TCUN)
OPTIMALISASI PEMANFAATAN SUMBER DAYA LAHAN
26
tanah terlantar, dijelaskan bahwa ada dua prospektif dalam penertiban pertama untuk ditetapkan sebagai tanah terlantar dan kedua adalah mencegah terjadinya tanah terlantar. Prespektif pertama outputnya adalah pemerintah mendapatkan tanah dengan luasan tertentu sebagai tanah yang dikuasai pemerintah dalam hal ini BPN-RI, Prespektif kedua outputnya adalah pemegang hak sesegera mungkin dalam masa peringatan I, Peringatan II dan Peringatan III untuk memanfaatkan tanahnya sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian haknya, sehingga jumlah total luas tanah terlantar secara nasional menjadi berkurang. Kedua prespektif ini menguntungkan pemerintah dalam mewujudkan sasaran strategis kedua yaitu Terkendalinya penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah. Capaian kinerja penatapan tanah terlantar berdasarkan usulan penetapan dan capaian kinerja pencegahan tanah terlantar selama tahun 2010-2014 masing-masing terlihat pada gambar 18 dan 19.
Gambar 18. Kinerja usulan untuk penetapan
Gambar 19. Capaian Kinerja pencegahan tanah terlantar
27 Jika dibandingkan antara target luas tanah yang dilakukan identifikasi dan penelitian
pada Renstra 2010-2014 dibandingkan dengan capaian sampai dengan akhir 2014, terlihat ada capaian realisasi yang melebih target, dimana adanya capaian identifikasi dan penelitian sebanyak 540,20 %. Luas yang berhasil dilakukan identifikasi dan penelitian dibandingkan target Renstra sebagaimana gambar 20.
Gambar 20. Perbandingan Target Renstra dengan Capaian 2010-2014
Mekipun uraian diatas menunjukkan masih rendahnya capaian kinerja penetapan tanah terlantar, namun hal yang sangat menggembirakan dalam pelaksanaan Peraturan Pemerintah nomor 11 tahun 2010 ini telah berhasil melakukan pencegahan terhadap terjadinya tanah terlantar dan secara signifikan berhasil mengurangi luas tanah yang diduga diterlantarkan oleh pemegang hak atas tanah.
Untuk menjawab pertanyaan apakah pelaksanaan Peraturan Pemerintah nomor 11 tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar akan mempengaruhi sasaran strategis ke dua yang telah ditetapkan pada renstra dan penetepan kinerja yaitu Terkendalinya penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah, digunakan dua pendekatan yang menyebabkan keberhasilan pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini yaitu:
Pertama; pemegang hak atas tanah, terutama hak atas tanah skala besar (Hak Guna Usaha) akan terpacu untuk memanfaatkan sumberdaya yang mereka miliki untuk sesegera mungkin memanfaatkan sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian hak terhadap seluruh luas tanah yang telah mereka kuasai, jika tidak ada ancaman pembatalan dari Pemerintah dalam hal ini BPN-RI. Pendekatan pertama ini hasilnya
28 sangat signifikan terlihat dari berkurangnya luas tanah yang diindikasikan terlantar di indonesia dari 7,3 (tahun 2010) juta hektar hanya menjadi 4 juta hektar (tahun 2014),
Kedua ; Pemerintah mendapatkan tanah sebagai hasil penetapan suatu bidang tanah yang telah ditetapkan sebagai tanah terlantar yaitu Tanah Cadangan Untuk Negara (TCUN) yang sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.
Dalam pelaksanaanya kegiatan ini tak terlepas dari hambatan dan kendala diantaranya perlawanan hukum yang dilakukan oleh pemegang hak yang tanahnya ditetapkan sebagai tanah terlantar, data tanah terlantar, koodinasi dengan pihak lain di luar BPN-RI (Panitia C) untuk usulan penetapan tanah terlantar. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini diataranya :
Pertama: dalam penetapan sebagai tanah terlantar diperlukan kehati-hatian dan dasar hukum yang tepat, untuk mengantisipasi jika pemegang hak melakukan upaya perlawana hukum dan menggagalkan keputusan penetapan sebagai tanah terlantar melalui Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN)
Kedua: meningktatkan keakuratan database tanah terlantar melalui up dating terus menerus diseluruh wilayah secara berjenjang (kabupaten, Propinsi dan Nasional) untuk mengatisipasi perubahan penggunaan dan pemanfaatan tanah indikasi terlantar di lapangan, sehingga tiadak ada satu bidang tanahpun (skala besar) yang tidak terpantau penggunaan dan pemanfaatanya setelah 3 tahun pemberian hak atas tanah.
Ketiga; melakukan koordinasi secara sistematis kepada semua pihak, terutama panitia C dan Pemegang Hak, baik yang terindikasi menelantarkan tanah maupun yang tidak terindikasi sebagai upaya pencegahan.
29 Untuk pencapaian sasaran strategis ini, Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia mengusulkan 2 (dua) indikator kinerja utama (IKU), yaitu, Jumlah bidang tanah yang ditata melalui Konsolidasi Tanah dan Jumlah bidang tanah yang ditata melalui Redistribusi Tanah.
1. Jumlah Bidang Tanah Yang Ditata Melalui Konsolidasi Tanah
Penyelenggaraan konsolidasi tanah merupakan kebijaksanaan pertanahan mengenai penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T) sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah serta usaha penyediaan tanah untuk kepentingan pembangunan dalam rangka untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumberdaya alam dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Capaian kinerja konsolidasi tanah tahun 2014 disajikan pada tabel 6.
Tabel 6. Capaian kinerja konsolidasi tanah tahun 2014
No Indikator Kinerja Target Kinerja Realisasi Kinerja
1
Jumlah bidang tanah yang ditata melalui Konsolidasi Tanah
29,97 % (11.250 Bidang)
11,42 % (4.287 Bidang)
38,11 %
Capaian kinerja selama tahun 2014 dibandingkan dengan tahun 2010, 2011, 2012 dan 2013 disajikan pada tabel 7 dan gambar 21.
30
Tabel 7. Output konsolidasi tanah Tahun 2010 – 2014 Capaian Tahun
2010
Tahun 2011
Tahun 2012
Tahun 2013
Tahun 2014
Target 9.200 10.000 2.663 4.430 11.250
Realisasi 8.790 7.912 2.020 2.656 4.287
Gambar 21. Perbandingan Capaian (%) Konsolidasi Tanah Tahun 2010-2014
Gambar 22. Perbandingan Capaian Konsolidasi Tanah Renstra dan Ketersediaan Anggaran
31 Pencapaian kinerja selama tahun 2014 relatif kecil yaitu hanya 38,11 %, dan capaian kinerja dari tahun 2010-2014 terjadi penurunan dari tahun ke tahun, sedangkan perbandingan antara capaian 2010-2014 dibandingkan renstra adalah 39,48 %, sedangkan jika di bandingkan dengan ketersediaan dana pada DIPA adalah sebesar 68,36 %. Kondisi capaian ini diidentifikasi penyebab utamanya adalah:
Pertama; kegiatan konsolidasi berupa penataan posisi bidang-bidang tanah menyebabkan perubahan posisi dan letak tanah dari posisi sebelum dilakukan konsolidasi tanah, yang ditetapkan melalui kegitan musyawarah penetapan kaveling baru, umumnya musyawarah sulit mencapai kata sepakat, dan berpacu dengan tahun anggaran.
Kedua; kegiatan konsolidasi mengharuskan adanya disumbangkan tanah secara bersama-sama untuk kepentingan umum, misalnya tanah untuk jalan, saluran dan fasilitas lainnya, konsekuensinya adalah berkurangnya luas tanah peserta setelah dilakukan konsolidasi tanah, hal ini membutuhkan kesepakatan yang kadang-kadang berlarut-larut.
Ketiga; Belum diketahui secara pasti potensi konsolidasi tanah pada suatu wilayah berupa ketersediaan lokasi, dukungan masyarakat dan dukungan Pemerintah Daerah serta dukungan pemangku kepentingan lainnya.
Untuk mengatasi permasalahan ini telah dilakukan upaya-upaya secara sistematis dan terencana, untuk mendukung pelaksanaan kegiatan konsolidasi tanah ini, diantaranya telah dilakukan pemetaan potensi konsolidasi tanah dengan satuan kabupaten/kota untuk mengetahui lokasi potensial untuk konsolidasi tanah pada masa-masa berikutnya. Disamping itu secara terus-menerus dan berjenjang dilakukan sosialisasi dan promosi kegiatan konsolidasi tanah untuk mendapatkan dukungan yang diperlukan dalam pelaksanaan konsolidasi tanah.
2. Jumlah Bidang Tanah Yang Ditata Melalui RedistribusiTanah
Salah satu program utama landreform adalah redistribusi tanah obyek landreform atau biasa dikenal redistribusi tanah. Redistribusi tanah adalah pembagian tanah terhadap tanah-tanah yang dikuasai langsung oleh Negara sebagai obyek landreform dengan hak milik kepada petani penggarap yang memenuhi syarat menurut ketentuan Pasal 8 dan 9 PP No. 224 Tahun 1961 jo. PP No. 41 tahun 1964.
Berdasarkan Keputusan Kepala BPN RI Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Permohonan Penegasan Tanah Negara menjadi Obyek Pengaturan Penguasaan Tanah/Landreform, khususnya Pasal 1 menyebutkan bahwa Tanah Negara Lainnya yang akan ditegaskan menjadi obyek pengaturan penguasaan tanah/landreform oleh Kepala BPN meliputi: (a) Tanah Negara Bebas, (b) Tanah-tanah bekas Hak Erpacht,
32 (c) Tanah-tanah bekas Hak Guna Usaha yang telah berakhir waktu dan tidak perpanjang oleh pemegang hak atau telah dicabut/dibatalkan oleh Pemerintah, (d) Tanah-tanah Kehutanan yang telah digarap/dikerjakan oleh rakyat dan telah dilepaskan haknya oleh Instansi yang bersangkutan, (e) Tanah-tanah bekas Gogolan, dan (f) Tanah-tanah bekas Hak Adat/Ulayat.
Selain itu, Tanah-tanah Obyek Landreform Lama (SK Kinag) harus segera diidentifikasi dan diredistribusikan kepada penggarap yang memenuhi persyaratan.
Pelaksanaan redistribusi tanah tidak hanya berhenti pada pembagian tanah tetapi harus ditindaklanjuti dengan bina penerima manfaat/akses reform yang sampai saat ini belum maksimal dilaksanakan.
Sasaran strategis ini (SS3) bertujuan agar pelaksanaan redistribusi tanah semakin maksimal dengan obyek yang berasal dari TOL Baru maupun TOL Lama, serta potensi obyek lainnya.
Jumlah Bidang Tanah yang diberikan kepada Penerima Manfaat melalui Kegiatan Redistribusi Tanah merupakan salah satu indikator untuk menilai hasil pelaksanaan landreform, yaitu jumlah bidang yang telah diredistribusikan.Direktorat Landreform sebagai pengemban kegiatan landreformdiharapkan mampu meningkatkan jumlah redistribusi tanah dalam rangka mengurangi ketimpangan penguasaan pemilikan tanah, kemiskinan sertameningkatkan kesejahteraan petani.
Jumlah bidang tanah yang telah di redistribusi dari tahun 1961 – 2013 adalah sebanyak 2.337.096 bidang, Sedangkan yang berhasil di redistribusi di tahun 2014 adalah sebanyak 138.181 bidang, artinya ada penambahan sebanyak 5,91% bidang tanah yang diredistribusikan kepada masyarakat dari total pencapaian dari tahun 1961-2013. capaian kinerja disajikan pada tabel 9.
Tabel 8. Capaian Kinerja Redistribusi Tanah Tahun 2014
No. Indikator Kinerja Target Kinerja Realisasi Kinerja 1 Persentase
peningkatan bidang tanah yang ditata melalui Konsolidasi Tanah
6,59 % (154.075 Bidang)
5,91 % (138.181 Bidang)
89,68 %
33
Tabel 9. Realisasi Pencapaian Kinerja 2010-2014
2010 2011 2012 2013 2014
Target 210.500 181.825 132.155 175.500 154.075 Realisasi 193.111 146.187 132.155 159.480 138.181
Gambar 23. Capaian Kinerja (%) Redistribusi Tanah Tahun 2010 -2014
Gambar 24. Perbandingan capaian Kinerja berupa output Redistribusi Tanah tahah sampai dengan 2014 dibandingkan Renstra
Dalam upaya untuk meningkatan capain kinerja tahun 2014 Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia akan menempuh langkah-langkah sebgaia berikut :
Pertama : melakukan identifikasi lokasi potensi TOL (Tanah Obyek Landreform) lebih awal atau sebelum tahun angran dimulai.
34 Kedua : mengidentifikasi SK TOL Lama (SK Kinag) yang tanahnya belum diredistribusikan untuk segera diredistribusikan.
Ketiga : Mencari sumber-sumber potensi obyek landreform baru, misalnya obyek hasil penyelesaian sengketa/pertanahan, tanah negara bekas tanah terlantar atau tanah Negara bekas kawasan Hutan/Pertambangan.
Telah dilakukan Kegiatan Kajian Implikasi Pelaksanaan Redistribusi TOL yang merupakan penunjang capaian kinerjanya untuk perbaikan tahun-tahun berikutnya.
Implikasi Pelaksanaan Redistribusi Tol bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat khususnya bekas pemilik tanah yang terkena ketentuan landreform terhadap besaran ganti rugi sesuai ketentuan atau peraturan yang berlaku. Hasil kajian ini bermanfaat untuk masukan perumusan kebijakan teknis landreform
Berapa faktor yang berhasil diidentifikasi sebagai rendahnya capaian kinerja ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama : penguasaan tanah masyarakat di lokasi kegiatan belum didukung dengan bukti yuridis yang memenuhi persyaratan, sehingga dalam kegiatan pendataan memerlukan ketelitian dan memerlukan waktu yang relatif lama
Kedua : petunjuk batas/pemilik tanah tidak berdada di tempat pada saat pelaksanaan pengukuran dan sebagian masyarakat tidak mau diukur tanahnya sehingga tidak dapat diikutsertakan menjadi peserta
Ketiga : lokasi sebagian masuk kawasan hutan
Keempat : usul penegasan TOL maupun pernerbitan keputusan TOL sering mengalami keterlambatan, sehingga mengakibatkan keterlambatan proses pendaftaran hak,
Kelima : adanya penolakan dari masyarakat di beberapa tempat terhadap program redis terkait adanya ketentuan larangan pengalihan hak selama 10 tahun
Keenam : subyek penerima manfaat pada SK TOL tidak dapat diproses karena sudah berubah pemilikannya, bukan tanah pertanian, tanahnya telah disertipikatkan melalui kegiatan lain
35 Dalam rangka menindaklanjuti mandat Presiden Republik Indonesia kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia pada bulan Agustus 2012 yang antara lain agar menuntaskan kasus-kasus pertanahan di Indonesia. Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia telah mengambil langkah strategis untuk mendorong jajaran Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia melakukan peningkatan dan percepatan penanganan dan penyelesaian sengketa, konflik dan perkara pertanahan.
Dalam melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa, konflik dan perkara pertenahan, telah ditetapkan beberapa keriteria terhadap kasus pertanahan yang dinyatakan selesai sebagaimana disebutkan dalam Pasal 72 Peraturan Kepala Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pengkajian dan Penanganan Kasus Pertanahan, yaitu:
a. Kriteria Satu (K-1) berupa penerbitan Surat Pemberitahuan Penyelesaian Kasus Pertanahan dan pemberitahuan kepada semua pihak yang bersengketa;
b. Kriteria Dua (K-2) berupa Penerbitan Surat Keputusan tentang pemberian hak atas tanah, pembatalan sertipikat hak atas tanah, pencatatan dalam buku tanah, atau perbuatan hukum lainnya sesuai Surat Pemberitahuan Penyelesaian Kasus Pertanahan;
c. Kriteria Tiga (K-3) berupa Surat Pemberitahuan Penyelesaian Kasus Pertanahan yang ditindaklanjuti mediasi oleh BPN sampai pada kesepakatan berdamai atau kesepakatan yang lain; disetujui oleh para pihak;
d. Kriteria Empat (K-4) berupa Surat Pemberitahuan Penyelesaian Kasus Pertanahan yang intinya menyatakan bahwa penyelesaian kasus pertanahan akan melalui proses perkara di pengadilan, karena tidak adanya kesepakatan untuk berdamai;
36 e. Kriteria Lima (K-5) berupa Surat Pemberitahuan Penyelesaian Kasus Pertanahan yang menyatakan bahwa penyelesaian kasus pertanahan yang telah ditangani bukan termasuk kewenangan BPN dan dipersilakan untuk diselesaikan melalui instansi lain.
Selama tahun 2014, jumlah kasus pertanahan yang masuk ke Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia mencapai 5.878 kasus, yang terdiri dari sisa kasus tahun 2013 yang belum diselesaikan sebanyak 1.927 kasus serta kasus baru sebanyak 3.906 kasus. Jumlah kasus yang telah selesai sebanyak 2.910 kasus atau 57,92% dari seluruh kasus yang masuk yang tersebar di 33 Provinsi seluruh Indonesia. Jika dibandingkan dengan target penanganan dan penyelesaian kasus pertanahan tahun 2014 sebanyak 3.018 kasus sebagaimana yang tercantum dalam Penetapan Kinerja tahun 2014, maka kasus-kasus yang telah diselesaikan adalah sebanyak 2.910 kasus atau 96,42 % dari yang ditargetkan (capaian kinerja tahun 2014 disajikan pada tabel 10). Penyelesaian kasus pertanahan tersebut dapat dirinci berdasarkan kriteria penyelesaian, sebagai berikut:
Gambar 25. Penyelesaian kasus pertanahan berdasarkan katagori penyelesaian.
Tabel 10. Capaian Kinerja Penyelesaian Kasus Pertanahan Tahun 2014
IndikatorKinerja Target Kinerja
Realisasi
Kinerja Kinerja%
Jumlah kasus pertanahan yang terselesaikan
3.018 Kasus (100%)
2.910 Kasus
(96,42%) 96,42 %