Sasaran Meningkatnya Layanan Air Bersih dapat dilihat dari sebanyak 1 indikator yaitu :
Capaian kinerja nyata indikator 1 “ Cakupan Layanan Air Bersih “ adalah sebesar 79,38 dari target sebesar 80 yang direncanakan dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2020 sehingga persentase capaian kinerjanya adalah 99,23 %, capaian ini tidak mencapai target yang diperjanjikan.
Tahun 2020 adalah tahun ke 2 renstra, capaian kinerja indikator 1 “ Cakupan Layanan Air Bersih “ tahun ini adalah sebesar 99,23 %, bila dibandingkan dengan terget Tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 2,34 %, dan bila dibandingkan dengan target akhir renstra Kota Bandung maka capaian kinerjanya mencapai 95,64 %.
1. Cakupan Layanan Air Bersih
Di Kota Bandung pada saat ini terdapat 2 jenis pelayanan air bersih, yaitu perpipaan dan non perpipaan. Jenis penyediaan air bersih perpipaan pada dasarnya merupakan air minum yang telah disediakan oleh PDAM Kota Bandung untuk melayani kebutuhan aktivitas di Kota Bandung, sedangkan penyediaan air bersih non perpipaan tidak bersumber pada PDAM melainkan dari sumber air baku yang dapat diambil dari sumur gali/bor, mata air dan lain-lain. Sasaran meningkatnya layanan air bersih dengan indikator cakupan layanan air bersih dilaksanakan secara kolaborasi dengan PDAM.
Pada tahun 2017 Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Pertanahan dan Pertamanan (DPKP3) belum memiliki target untuk indikator cakupan layanan air bersih.
Capaian layanan tahun 2018 tercapai sebesar 78,88% dari target 79%, dimana DPKP3 bertanggung jawab atas pengelolaan non perpipaan dengan jumlah yang terlayani sebanyak 37.273 SR atau 1.52% dari jumlah penduduk 2.452.179 jiwa sedangkan sisanya sebesar 77,36% merupakan kewenangan PDAM.
Capaian cakupan layanan air bersih sampai tahun 2019 tercapai sebesar 80,24% dari target 79%, dimana DPKP3 bertanggung jawab atas pengelolaan non perpipaan dengan jumlah yang terlayani sebanyak 41.793 SR atau 2,27% dari jumlah penduduk 2.452.179 jiwa sedangkan sisanya sebesar 77,97% merupakan kewenangan PDAM.
Capaian cakupan layanan air bersih sampai tahun 2020 tercapai sebesar 79,38% dari target 80%, dimana DPKP3 bertanggung jawab atas pengelolaan non perpipaan dengan jumlah yang terlayani sebanyak 41.983 SR atau 6,54% dari jumlah penduduk 2.566.641 jiwa sedangkan sisanya sebesar 72,84% merupakan kewenangan PDAM.
Pada tahun 2020 telah terlaksana sambungan non perpipaan sebanyak 190 SR dari SPAM Padat Karya dengan lokasi sebagai berikut :
• Kelurahan Cikutra sebanyak 50 SR
• Kelurahan Ciseureuh sebanyak 30 SR
• Kelurahan Cisaranten Bina Harapan sebanyak 30 SR
• Kelurahan Pasirjati sebanyak 30 SR
• Kelurahan Hegarmanah sebanyak 50 SR
Cakupan layanan air bersih dihitung dengan menggunakan formulasi sebagai berikut :
X
100
%JUMLAH SAMBUNGAN RUMAH (SR) JUMLAH JIWA
CAKUPAN LAYANAN AIR BERSIH =
Faktor pendukung dalam pencapaian kinerja cakupan layanan air bersih adalah sinergitas pembiayaan pembangunan pusat dan daerah melalui program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku).
Faktor yang menjadi penghambat dalam pencapaian kinerja adalah sebagai berikut :
• Dampak pandemi Covid-19 terhadap tingkat perekonomian masyarakat sehingga terdapat beberapa sambungan yang diputus layanannya
• Keterbatasan sumber air baku pada pelayanan air bersih perpipaan serta untuk pelayanan air bersih non perpipaan adalah terkendala status lahan lokasi yang akan dibangun bukan milik Pemerintah Kota sehingga tidak dapat dilaksanakan dikarenakan penggunaan kode rekening belanja modal
• Selain itu akses air bersih masih belum dapat memenuhi standar kelayakan dan potensial terancam oleh padatnya permukiman dan perubahan fisik lingkungan.
Solusi/upaya/implementasi kebijakan strategis pelayanan air bersih pada tahun 2020 sebagai berikut :
• Menindaklanjuti rekomendasi DPRD tahun 2018 terkait pemenuhan air bersih di perkampungan yang masih sangat minim dan Pemerintah Kota Bandung belum mempunyai data base daerah-daerah yang membutuhkan sanitasi dan daerah minim air bersih, maka pada tahun 2019 telah dilaksanakan penyusunan database rumah bersanitasi yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan penyediaan sarana air bersih di permukiman.
• Melakukan inventarisasi titik lokasi yang akan dibangun dalam penyediaan sanitasi dan air bersih.
• Menambah jumlah jaringan non perpipaan terutama untuk daerah-daerah yang belum terlayani jaringan perpipaan, yaitu dibuatkan sarana air bersih berupa sumur bor yang kemudian dibuatkan penampungannya agar dapat dialirkan ke rumah-rumah warga.
• Menyampaikan usulan perubahan kebijakan terkait lahan yang statusnya belum menjadi aset Pemerintah Kota agar pekerjaan tetap dapat dilaksanakan.
Agar pencapaian sasaran dapat terwujud, diperlukan perbaikan kinerja sebagai solusi/
rekomendasi untuk tahun yang akan datang; yaitu:
• Melakukan inventarisasi titik lokasi yang akan dibangun dalam penyediaan sanitasi dan air bersih
• Mencari terobosan terhadap kebijakan Pemerintah Kota Bandung terkait lahan-lahan yang statusnya belum menjadi aset Pemerintah Kota agar pekerjaan tetap dapat dilaksanakan
Indeks Kualitas Air Kota Bandung, pada tahun 2020 berada pada angka 45,78 poin yang menunjukkan adanya perbaikan dibandingkan tahun 2019 dan hal ini pun menunjukkan bahwa kualitas sungai Kota Bandung yang masuk ke Sungai Citarum, berada pada kondisi yang sedikit lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan sungai di Kota Bandung telah berkontribusi pada perbaikan Sungai Citarum.Apabila dilakukan analisa, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas air yaitu terdiri dari :
1. Kualitas air limbah domestik 2. Kualitas air limbah industri 3. Pengelolaan limbah B3
4. Sampah yang masuk ke sungai 5. Kuantitas air
6. Pendangkalan sungai
• Pengelolaan Air Limbah Domestik
Dilihat dari perhitungan beban pencemaran pada hasil Kajian Inventarisasi dan Identifikasi Sumber Pencemar di ruas sungai Cipamokolan dan Sungai Citepus pada Tahun
2019, diketahui bahwa pencemaran terbesar berasal dari parameter BOD5 dan COD yang berasal dari limbah domestik. Beban pencemaran dari limbah domestik ini mencapai 98%
dari total beban pencemaran yang masuk ke sungai sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebab pencemaran terbesar dari sungai yang ada di Kota Bandung adalah disebabkan oleh limbah domestik.
Tabel 3.53