BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
A. Capaian Kinerja Tahun 2020
Capaian kinerja diukur dengan cara membandingkan realisasi dengan target setiap Indikator yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja. Secara keseluruhan capaian kinerja Pengadilan Negeri Pangkalan Bun Tahun 2020 dinyatakan “berhasil” dengan capaian 100% dari target yang telah ditetapkan. Rincian tingkat capaian kinerja masing-masing Indikator dapat dilihat pada tabel berikut :
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
1. Terwujudnya Proses
Peradilan yang Pasti,
Transparan, dan Akuntabel
Persentase Sisa Perkara Perdata
yang Diselesaikan
100%
2. Persentase Sisa Perkara Pidana
yang Diselesaikan
100%
3. Persentase Perkara Perdata yang
Diselesaikan Tepat Waktu
90%
4. Persentase perkara pidana yang
diselesaikan tepat waktu
90%
5. Persentase Perkara yang Tidak
Mengajukan Upaya Hukum
Banding
92%
6. Persentase Perkara Yang Tidak
Mengajukan Upaya Hukum Kasasi
45%
7. Persentase perkara yang Tidak
Mengajukan Upaya Hukum
Peninjauan Kembali
90%
8. Persentase Perkara Pidana Anak
yang Diselesaikan dengan Diversi
5%
9. Index Kepuasan Pencari Keadilan 85%
10. Peningkatan Efektivitas
Pengelolaan Penyelesaian
Perkara
Persentase Salinan Putusan
Perkara Perdata yang dikirim
kepada Para Pihak tepat waktu
100%
11. Persentase Salinan Putusan
Perkara Pidana yang dikirim
kepada Para Pihak Tepat Waktu
100%
12. Persentase Perkara yang
Diselesaikan Melalui Mediasi
10%
16
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
Dimohonkan Banding, Kasasi, dan
PK yang Diajukan Secara Lengkap
dan Tepat Waktu
14. Persentase Putusan Perkara yang
Menarik Perhatian Masyarakat
yang Dapat Diakses Secara Online
dalam Waktu 1 Hari Setelah Putus
100%
15. Meningkatnya Akses
Peradilan bagi Masyarakat
Miskin dan Terpinggirkan
Persentase Perkara Prodeo yang
Diselesaikan
NIHIL
16. Persentase Perkara yang
Diselesaikan di Luar Gedung
Pengadilan
100%
17. Persentase Pencari Keadilan
Golongan Tertentu yang
Mendapat Layanan Bantuan
Hukum (Posbakum)
100%
18. Meningkatnya Kepatuhan
terhadap Putusan
Pengadilan
Persentase Putusan Perkara
Perdata yang Ditindak lanjuti
(Dieksekusi)
50%
Secara umum terdapat beberapa keberhasilan pencapaian target indikator kinerja sasaran, namun demikian juga terdapat beberapa indikator kinerja sasaran yang belum berhasil diwujudkan pencapaian targetnya pada tahun 2020 ini. Indikator kinerja tersebut yang belum berhasil diwujudkan dilakukan beberapa analisis dan evaluasi agar terdapat perbaikan di masa yang akan datang. Berikut ini adalah penjelasaan dari masing-masing indikator kinerja pada tiap sasaran strategi.
Sasaran ini ditetapkan untuk mengukur keberhasilan Pengadilan Negeri Pangkalan Bun dalam memberikan peradilan yang pasti, transparan dan akuntabel. Sasaran ini terdiri dari 5 indikator, sebagaimana digambarkan pada tabel dibawah ini :
Sasaran : Terwujudnya Proses Peradilan Yang Pasti,
Transparan dan Akuntabel
17
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
Terwujudnya Proses Peradilan Yang Pasti, Transparan dan Akuntabel
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian
1. Terwujudnya Proses Peradilan yang Pasti, Transparan, dan Akuntabel
Persentase Sisa Perkara Perdata yang Diselesaikan
100% 100% 100%
2. Persentase Sisa Perkara Pidana yang Diselesaikan
100% 100% 100%
3. Persentase Perkara Perdata yang Diselesaikan Tepat Waktu
90% 88,59% 98,43%
4. Persentase perkara pidana yang diselesaikan tepat waktu
90% 94,32% 104,80%
5. Persentase Perkara yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Banding
92% 91,63% 99,60%
6. Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Kasasi
45% 20% 44,44%
7. Persentase perkara yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Peninjauan Kembali
90% 88% 97,78%
8. Persentase Perkara Pidana Anak yang Diselesaikan dengan Diversi
5% 0% 0%
9. Index Kepuasan Pencari Keadilan 85% 93% 109,41%
Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini sebagai berikut:
Sasaran : Terwujudnya Proses Peradilan yang Pasti, Transparan, dan Akuntabel Indikator Kinerja ke-1 : Persentase Sisa Perkara Perdata Yang Diselesaikan
Persentase sisa perkara Perdata yang diselesaikan adalah perbandingan jumlah sisa perkara Perdata yang diselesaikan dengan jumlah sisa perkara yang harus diselesaikan.
Indikator ini bertujuan untuk mengetahui kinerja penyelesaian sisa perkara Perdata di tahun 2019.
Sisa perkara adalah perkara Perdata yang belum diputus pada saat periode pelaporan dilakukan.
18
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN
2020 2019 2018
Persentase sisa perkara Perdata
yang diselesaikan 100 % 100% 100% 100% 100%
Sisa perkara Perdata adalah jumlah perkara Perdata yang belum selesai di tahun sebelumnya. Indikator ini dihitung dengan membandingkan jumlah sisa perkara Perdata yang harus diselesaikan dengan jumlah sisa perkara Perdata yang harus diselesaikan. Jumlah sisa perkara tahun 2019 sebanyak 7 dan jumlah sisa perkara pada tahun 2019 yang sudah diselesaikan pada tahun 2020 sebanyak 7 perkara.
Jumlah Sisa Perkara yang diselesaikan
Jumlah Sisa Perkara yang Harus diselesaikan x 100% = 7
7 x 100% = 100% Tabel
Persentase Sisa Perkara Perdata Yang Diselesaikan Tahun 2018-2020
Tahun Jenis Perkara Sisa Perkara yang harus diseleisai-kan Sisa Perkara Yang Diselesai-kan Target Reali sasi Capaian (%) 2018 Perdata 9 9 100% 100% 100% 2019 Perdata 14 14 100% 100% 100% 2020 Perdata 7 7 100% 100% 100%
Sisa perkara Perdata tahun 2019 adalah sebanyak 7 perkara. Dari jumlah tersebut telah diselesaikan semuanya di tahun 2020, sehingga jumlah capaian untuk indikator persentase sisa perkara Perdata yang diselesaikan tahun 2020 sebesar 100%. Indikator kinerja ini selalu tercapai setiap tahunnya karena memang penanganan perkara tidak boleh lebih dari 5 bulan sehingga sisa perkara Perdata tahun sebelumnya pasti bisa diselesaikan tepat waktu.
19
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
Sasaran : Terwujudnya Proses Peradilan yang Pasti, Transparan, dan Akuntabel Indikator Kinerja ke-2 : Persentase Sisa Perkara Pidana Yang Diselesaikan
Persentase sisa perkara Pidana yang diselesaikan adalah perbandingan jumlah sisa perkara yang diselesaikan dengan jumlah sisa perkara Pidana yang harus diselesaikan.
Indikator ini bertujuan untuk mengetahui kinerja penyelesaian sisa perkara Pidana di tahun 2019.
Sisa perkara adalah perkara Pidana yang belum diputus pada saat periode pelaporan dilakukan
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN
2020 2019 2018
Persentase sisa perkara Pidana
yang diselesaikan 100 % 100% 100% 100% 100%
Sisa perkara Pidana adalah jumlah perkara Pidana yang belum selesai di tahun sebelumnya. Indikator ini dihitung dengan membandingkan jumlah sisa perkara Pidana yang harus diselesaikan dengan jumlah sisa perkara Pidana yang harus diselesaikan. Jumlah sisa perkara Pidana tahun 2019 sebanyak 46 dan jumlah sisa perkara Pidana pada tahun 2019 yang sudah diselesaikan pada tahun 2020 sebanyak 46 perkara.
Jumlah Sisa Perkara yang diselesaikan
Jumlah Sisa Perkara yang Harus diselesaikan x 100% = 4646 x 100% = 100% Tabel
Persentase Sisa Perkara Pidana Yang Diselesaikan Tahun 2018-2020
Tahun Jenis Perkara Sisa Perkara yang harus diseleisai-kan Sisa Perkara Yang Diselesai-kan Target Reali sasi Capaian (%) 2018 Pidana 72 72 100% 100% 100% 2019 Pidana 62 62 100% 100% 100% 2020 Pidana 46 46 100% 100% 100%
20
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
Sisa perkara Pidana tahun 2019 adalah sebanyak 46 perkara. Dari jumlah tersebut telah diselesaikan semuanya di tahun 2020, sehingga jumlah capaian untuk indikator persentase sisa perkara Pidana yang diselesaikan tahun 2020 sebesar 100%. Indikator kinerja ini selalu tercapai setiap tahunnya karena memang penanganan perkara tidak boleh lebih dari 5 bulan sehingga sisa perkara Pidana tahun sebelumnya pasti bisa diselesaikan tepat waktu.
Sasaran : Terwujudnya Proses Peradilan yang Pasti, Transparan, dan Akuntabel Indikator Kinerja ke-3 : Persentase Perkara Perdata Yang Diselesaikan Tepat Waktu
Indikator ini dihitung dengan membandingkan jumlah perkara Perdata yang diselesaikan tepat waktu dengan jumlah perkara Perdata yang harus diselesaikan. Sisa perkara Perdata tahun 2019 sebanyak 7 perkara dan perkara Perdata masuk pada tahun 2020 sebanyak 142 perkara. Perkara Perdata yang diselesaikan pada tahun 2020 sebanyak 132 perkara. Dimana sumber data yang digunakan adalah Laporan Pelaksanaan Kegiatan. Detail perolehan Persentase perkara Perdata yang diselesaikan tepat waktu sebagai berikut :
Jumlah Perkara yang diselesaikan tahun berjalan
Jumlah Perkara yang ada x 100% = (142+7)132 x 100% = 132
149 x 100% = 88,59%
Berdasarkan Surat Edaran Sekretaris Mahkamah Agung No. 2 Tahun 2014, jangka waktu penanganan perkara untuk pengadilan tingkat pertama adalah maksimal 5 (lima) bulan. Untuk itu jumlah perkara yang harus diselesaikan adalah perkara yang masuk dari bulan Agustus tahun sebelumnya sampai dengan bulan Juli di tahun berjalan, karena perkara yang masuk di bulan Agustus s.d Desember di tahun berjalan memiliki batas waktu penyelesaian perkara hingga tahun berikutnya sehingga akan lebih tepat jika dihitung sebagai kinerja di tahun berikutnya.
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN
2020 2019 2018
Persentase perkara Perdata yang
21
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
Capaian kinerja pada indikator kinerja ini dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2020 sedikit mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan proses penyelesaian perkara Perdata bisa lebih cepat karena adanya SIPP dan MIS sehingga monitoring dan evaluasi perkara menjadi lebih mudah dan tidak ada penyelesaian perkara yang melebihi 5 bulan.
Tabel :
Persentase Perkara Perdata Yang Diselesaikan Tepat Waktu
Tahun Jenis Perkara Perkara Yang Harus Diselesaikan Perkara Yang Diselesaikan Tepat Waktu
Target Realisasi Capaian (%)
2018 Perdata 172 158 90% 91,86% 102,07%
2019 Perdata 136 129 90% 94,85% 105,39%
2020 Perdata 149 132 90% 88,59% 98,43%
Perkara Perdata yang diselesaikan tepat waktu di tahun 2020 adalah sebanyak 132 perkara, perkara yang harus diselesaikan adalah sebanyak 149 perkara. Sehingga realisasi persentase perkara Perdata yang diselesaikan tepat waktu adalah sebesar 88,59% dan capaiannya sebesar 98,43%. Jumlah ini sedikit mengalami penurunan dari tahun 2019 karena realisasinya menurun dari 94,85% menjadi 88,59%. Adapun capaian juga mengalami penurunan dibandingkan dengan capaian tahun 2018 sebesar 102,07% dan tahun 2019 sebesar 105,39%.
Sasaran : Terwujudnya Proses Peradilan yang Pasti, Transparan, dan Akuntabel Indikator Kinerja ke-4 : Persentase Perkara Pidana Yang Diselesaikan Tepat Waktu
Indikator ini dihitung dengan membandingkan jumlah perkara Pidana yang diselesaikan tepat waktu dengan jumlah perkara Pidana yang harus diselesaikan. Sisa perkara Pidana tahun 2019 sebanyak 46 perkara dan perkara Pidana masuk pada tahun 2020 sebanyak 359 perkara. Perkara Perdata yang diselesaikan pada tahun 2020 sebanyak 382 perkara. Dimana sumber data yang digunakan adalah Laporan Pelaksanaan Kegiatan. Detail perolehan Persentase perkara Perdata yang diselesaikan tepat waktu sebagai berikut :
22
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
Jumlah Perkara yang diselesaikan tahun berjalan
Jumlah Perkara yang ada x 100% = (359+46)382 x 100% = 382
405 x 100% =94,32 %
Berdasarkan Surat Edaran Sekretaris Mahkamah Agung No. 2 Tahun 2014, jangka waktu penanganan perkara untuk pengadilan tingkat pertama adalah maksimal 5 (lima) bulan. Untuk itu jumlah perkara yang harus diselesaikan adalah perkara yang masuk dari bulan Agustus tahun sebelumnya sampai dengan bulan Juli di tahun berjalan, karena perkara yang masuk di bulan Agustus s.d Desember di tahun berjalan memiliki batas waktu penyelesaian perkara hingga tahun berikutnya sehingga akan lebih tepat jika dihitung sebagai kinerja di tahun berikutnya.
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN
2020 2019 2018
Persentase perkara Pidana yang
diselesaikan tepat waktu 90 % 94,32 % 104,80% 99,59% 99,57%
Capaian kinerja pada indikator kinerja ini dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2020 cenderung mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan proses penyelesaian perkara Perdata bisa lebih cepat karena adanya SIPP dan MIS sehingga monitoring dan evaluasi perkara menjadi lebih mudah dan tidak ada penyelesaian perkara yang melebihi 5 bulan.
Tabel :
Persentase Perkara Pidana Yang Diselesaikan Tepat Waktu
Tahun Jenis Perkara Perkara Yang Harus Diselesaikan Perkara Yang Diselesaikan Tepat Waktu
Target Realisasi Capaian (%)
2018 Pidana 597 535 90% 89,61% 99,57%
2019 Pidana 444 398 90% 89,63% 99,59%
2020 Pidana 405 382 90% 94,32 % 104,80%
Perkara Pidana yang diselesaikan tepat waktu di tahun 2020 adalah sebanyak 382 perkara, perkara yang harus diselesaikan adalah sebanyak 405 perkara. Sehingga
23
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
realisasi persentase perkara Pidana yang diselesaikan tepat waktu adalah sebesar 94,32% dan capaiannya sebesar 104,80%, Jumlah ini meningkat dari tahun 2019 karena realisasinya meningkat dari 89,63% menjadi 104,80%. Adapun capaian juga mengalami peningkatan yang sangat baik dibandingkan dengan capaian pada tahun 2018 sebesar 99,57% dan 2019 sebesar 99,59%, sehingga capaian mengalami peningkatan setiap tahun mulai dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2020.
Terkait dengan Persentase Perkara Yang Diselesaikan Tepat Waktu baik Pidana maupun Perdata secara kumulatif setiap tahunnya mengalami peningkatan. Persentase Perkara Yang Diselesaikan Tepat Waktu pada tahun 2020 ini mencapai 92,78% secara kumulatif dengan jumlah perkara yang diselesaiakan 514 dari perkara yang harus diselesaikan sebanyak 554. Tahun 2019 dan Tahun 2020 rasio penanganan perkara pada Pengadilan Negeri Pangkalan Bun mencapai lebih dari 90% atau sudah berwarna hijau yang berarti sangat baik.
Sasaran : Terwujudnya Proses Peradilan yang Pasti, Transparan, dan Akuntabel Indikator Kinerja ke-5 : Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum
Banding
Indikator ini dihitung dengan membandingkan jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum banding dengan jumlah perkara yang sudah diputus.
90,12% 90,86% 92,78% 88,50% 89,00% 89,50% 90,00% 90,50% 91,00% 91,50% 92,00% 92,50% 93,00% 2018 2019 2020
24
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
Dalam memberikan penilaian Indikator Kinerja Persentase perkara yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Banding adalah dengan membandingkan jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum dengan jumlah perkara putus. Jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum sebanyak 471 dan yang mengajukan banding sebanyak 43 dari jumlah perkara yang putus sebanyak 514 perkara.
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑔𝑎𝑗𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑈𝑝𝑎𝑦𝑎 𝐻𝑢𝑘𝑢𝑚
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑢𝑠 x 100% = 471514 x 100% = 91,63%
Secara hukum semakin sedikit yang mengajukan upaya hukum,maka semakin puas atas putusan pengadilan. Rasio upaya hukum banding 8,37% dan tingkat akseptabilitas terhadap putusan pengadilan sebesar 91,63%.
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN
2020 2019 2018
Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Banding
92% 91,63% 99,60% 97,85% 98,66%
Tabel
Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Banding
Tahun Perkara Putus Perkara Yang Mengajukan Banding Perkara Yang Tidak Mengajukan Banding
Target Realisasi Capaian (%)
2018 686 43 643 95% 93,73% 98,66%
2019 526 37 489 95% 92,96% 97,85%
2020 514 43 471 92% 91,63% 99,60%
Pada tahun 2020 jumlah perkara yang tidak mengajukan banding adalah sebanyak 471 perkara dan jumlah perkara putus adalah sebanyak 514 perkara. Persentase perkara yang tidak mengajukan upaya hukum banding adalah sebesar 91,63%, maka capaiannya adalah sebesar 99,60%. Jumlah ini menurun dari tahun 2019 karena realisasinya menurun dari 92,96% menjadi 91,63%. Namun untuk capaian
25
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
mengalami peningkatan yang sangat baik dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya karena target pada tahun 2020 diturunkan dari 95% pada tahun 2019 menjadi 92% pada tahun 2020 sehingga capaian mengalami peningkatan setiap tahun mulai dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2020.
Sasaran : Terwujudnya Proses Peradilan yang Pasti, Transparan, dan Akuntabel Indikator Kinerja ke-6 : Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum
Kasasi
Indikator ini dihitung dengan membandingkan jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum kasasi dengan jumlah perkara banding yang sudah diputus.
Dalam memberikan penilaian Indikator Kinerja Persentase perkara yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Kasasi adalah dengan membandingkan jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum kasasi dengan jumlah perkara banding putus. Jumlah perkara banding yang tidak mengajukan upaya hukum kasasi sebanyak 7 dan yang mengajukan kasasi sebanyak 28 dari jumlah perkara yang putus sebanyak 35 perkara.
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑔𝑎𝑗𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑈𝑝𝑎𝑦𝑎 𝐻𝑢𝑘𝑢𝑚
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑢𝑠 x 100% = 357 x 100% = 20%
Secara hukum semakin sedikit yang mengajukan upaya hukum,maka semakin puas atas putusan pengadilan. Rasio upaya hukum kasasi 80% dan tingkat akseptabilitas terhadap putusan tingkat banding sebesar 20%.
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI
CAPAIAN
2020 2019 2018
Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Kasasi
26
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
Tabel :
Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Kasasi
Tahun Jumlah Perkara Diputus Pengadilan Tingkat Banding Perkara Yang Mengajukan Kasasi Perkara Yang Tidak Mengajukan Kasasi
Target Realisasi Capaian (%)
2018 52 34 18 95% 34,61% 36,43%
2019 30 17 13 95% 43,33% 45,61%
2020 35 28 7 45% 20% 44,44%
Pada tahun 2020 jumlah perkara yang tidak mengajukan kasasi adalah sebanyak 7 perkara dan jumlah perkara diputus pengadilan tingkat banding adalah sebanyak 35 perkara. Persentase perkara yang tidak mengajukan upaya hukum banding adalah sebesar 20%, maka capaiannya adalah sebesar 44,44%. Jumlah ini menurun dari tahun 2019 karena realisasinya menurun dari 43,33% menjadi 20%. Untuk capaian juga mengalami penurunan dibandingkan dengan capaian pada tahun 2019. Adapun permohonan kasasi pada tahun 2020 juga mengalami kenaikan akan tetapi dilihat dari perbandingan jumlah permohonan kasasi dengan perkara yang diputus pengadilan tingkat banding masih jauh dari target sehingga target masih tidak tercapai.
Sasaran : Terwujudnya Proses Peradilan yang Pasti, Transparan, dan Akuntabel Indikator Kinerja ke-7 : Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum
Peninjauan Kembali
Indikator ini dihitung dengan membandingkan jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum peninjauan kembali dengan jumlah perkara kasasi yang sudah diputus.
Dalam memberikan penilaian Indikator Kinerja Persentase perkara yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Peninjauan Kembali adalah dengan membandingkan jumlah perkara yang tidak mengajukan upaya hukum peninjauan kembali dengan jumlah perkara kasasi putus. Jumlah perkara kasasi yang tidak mengajukan upaya hukum
27
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
peninjauan kembali sebanyak 22 dan yang mengajukan peninjauan kembali sebanyak 3 dari jumlah perkara yang putus sebanyak 25 perkara.
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑔𝑎𝑗𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑈𝑝𝑎𝑦𝑎 𝐻𝑢𝑘𝑢𝑚
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑎 𝑃𝑢𝑡𝑢𝑠 x 100% = 22
25 x 100% = 88%
Secara hukum semakin sedikit yang mengajukan upaya hukum,maka semakin puas atas putusan pengadilan. Rasio upaya hukum peninjauan kembali 12% dan tingkat akseptabilitas terhadap putusan tingkat kasasi sebesar 88%.
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI
CAPAIAN
2020 2019 2018
Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Peninjauan Kembali
90% 88% 97,77% 98,68% 78,94%
Tabel
Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Peninjauan Kembali
Tahun Perkara Putus dalam Tingkat Kasasi Perkara Yang Mengajukan PK Perkara Yang Tidak Mengajukan PK
Target Realisasi Capaian
(%)
2018 28 7 21 95% 75% 78,94%
2019 16 1 15 95% 93,75% 98,68%
2020 25 3 22 90% 88% 97,77%
Pada tahun 2020 jumlah perkara yang tidak mengajukan peninjauan kembali adalah sebanyak 22 perkara dan jumlah perkara putus pada tingkat kasasi adalah sebanyak 25 perkara. Persentase perkara yang tidak mengajukan upaya hukum peninjauan kembali adalah sebesar 88%, maka capaiannya adalah sebesar 97,77%. Jumlah ini menurun dari tahun sebelumnya karena perkara yang mengajukan peninjauan kembali meningkat dengan kata lain akseptabilitas terhadap putusan tingkat kasasi semakin meningkat. Perbandingan dari perkara yang mengajukan kasasi setiap
28
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
tahunnya selalu naik turun sehingga target indikator kinerja Persentase Perkara Yang Tidak Mengajukan Upaya Hukum Peninjauan Kembali sulit untuk dicapai.
Sasaran : Terwujudnya Proses Peradilan yang Pasti, Transparan, dan Akuntabel Indikator Kinerja ke-8 : Persentase Perkara Pidana Anak Yang Diselesaikan
Dengan Diversi
Diversi diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dan Penanganan Anak yang Belum Berumur 12 (Dua Belas) Tahun (“PP 65/2015”).
Pengertian diversi dalam UU Nomor 11 Tahun 2012 yaitu sebuah bentuk pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Proses diversi wajib diupayakan dalam setiap tahapan sistem peradilan pidana anak dimulai pada tahap penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Syarat Diversi pada Pasal 7 UU SPPA:
(1) Pada tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan perkara Anak di pengadilan negeri wajib diupayakan Diversi.
(2) Diversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam hal tindak pidana yang dilakukan:
a. diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun; dan b. bukan merupakan pengulangan tindak pidana.
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN
2020 2019 2018
Persentase Perkara Anak Yang
29
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
Tabel
Persentase Perkara Anak Yang Diselesaikan Dengan Diversi
Tahun
Jumlah Perkara Anak
Diselesaikan
Secara Diversi Target Realisasi Capaian (%)
2018 12 2 5% 16,67% 333,4%
2019 8 0 7% 0% 0%
2020 14 0 5% 0% 0%
Tahun 2020 jumlah perkara anak adalah sebanyak 14 perkara dan yang diselesaikan secara diversi sebanyak 0 perkara, sehingga realisasi dari indikator persentase perkara anak yang diselesaikan secara diversi adalah sebesar 0 %. Target tahun 2020 sebesar 5% tidak tercapai sehingga realisasi dari indikator persentase perkara anak yang diselesaikan secara diversi mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2018. Pada tahun 2018 perkara anak yang diselesaikan secara diversi sebanyak 2 perkara dari 12 perkara realisasinya 16,67%. Pada tahun 2020 tidak ada perkara anak yang diselesaikan secara diversi. Perkara pidana anak yang diterima di pengadilan adalah perkara anak yang telah terlebih dahulu di diversi pada tingkat kepolisian atau tingkat kejaksaaan sehingga perkara pidana anak yang diterima sudah tidak didiversi lagi.
Sasaran : Terwujudnya Proses Peradilan yang Pasti, Transparan, dan Akuntabel Indikator Kinerja ke-9 : Indeks Responden Pencari Keadilan Yang Puas Terhadap
Layanan Peradilan
Nilai Indeks Kepuasan Pencari Keadilan diperoleh dari hasil konversi atas survei kepuasan masyarakat yang dilakukan secara berkala terhadap pelayanan pengadilan di Pengadilan Negeri Pangkalan Bun. Survei dilakukan dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2017 Tentang Pedoman Penyusunan Survei Kepuasan Masyarakat Unit Penyelenggara Pelayanan Publik dengan Nilai persepsi minimal 3,6 dengan nilai konversi interval IKM Index harus ≥ 80.
30
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN
2019 2018 2017
Indeks Responden Pencari Keadilan Yang Puas Terhadap Layanan Pengadilan
85 % 93% 109,41% 98,97% 99,81%
Survei Kepuasan Masyarakat ini dilakukan dalam 2 periode yaitu Januari-Juni dan Juli-Desember sehingga perhitungan nilai dihitung dari rata-rata 2 periode Laporan Survei Indeks Kepuasan Masyarakat.
Periode Jumlah Responden Survei Nilai
Januari-Juni 51 89,25
Juli-Desember 58 96,74
Total 109 Rata-Rata :
93,00
Berikut ini hasil survei Kepuasan Masyarakat pada Pengadilan Negeri Pangkalan Bun :
Tabel :
Indeks Kepuasan Pencari Keadilan
Tahun Jumlah Responden
Survei Target Realisasi Capaian
2017 300 85% 84,125% 98,97%
2018 300 85% 82,65% 97,23%
2020 109 85% 93% 109,41%
Realisasi tahun 2020 adalah sebesar 93% dengan capaian 109,41%. Dilihat dari capaiannya mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2019 dan tahun 2018. Pada tahun 2020 realisasi sebesar 93% dengan jumlah responden 109 untuk nilai periode Januari-Juni sebesar 89,25 dan nilai periode Juli-Desember sebesar 96,74. Nilai Indeks Kepuasan Pencari Keadilan nilai sudah lebih dari 80 seperti standar dari pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Republik
31
LkjIP Tahun 2020 Pengadilan Negeri Pangkalan Bun
Indonesia Nomor 14 Tahun 2017, yang berarti pelayanan pada Pengadilan Negeri Pangkalan Bun masih dalam kategori “Baik” akan tetapi masih perlu untuk ditingkatkan pelayanan publik untuk tahun berikutnya.
Sasaran ini ditetapkan untuk mengukur keberhasilan Pengadilan Negeri Pangkalan Bun dalam mengelola penyelesaian perkara. Sasaran ini terdiri dari 4 indikator, sebagaimana digambarkan pada tabel dibawah ini :
Peningkatan Efektivitas Pengelolaan Penyelesaian Perkara
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
10. Peningkatan Efektivitas Pengelolaan Penyelesaian Perkara
Persentase Salinan Putusan Perkara Perdata yang dikirim kepada Para Pihak tepat waktu
100%
11. Persentase Salinan Putusan Perkara
Pidana yang dikirim kepada Para Pihak Tepat Waktu
100%
12. Persentase Perkara yang Diselesaikan
Melalui Mediasi
10%
13. Persentase Berkas Perkara yang
Dimohonkan Banding, Kasasi, dan PK yang Diajukan Secara Lengkap dan Tepat Waktu
100%
14. Persentase Putusan Perkara yang
Menarik Perhatian Masyarakat yang Dapat Diakses Secara Online dalam Waktu 1 Hari Setelah Putus
100%
Tabel :
Peningkatan Efektivitas Pengelolaan Penyelesaian Perkara